WhatsApp Icon
15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah

KEHIDUPAN yang baik dan penuh berkah merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Kehidupan yang berkah juga tercermin dari hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Untuk mewujudkannya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, bekerja dengan jujur, menyayangi keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

Kebiasaan baik tersebut tidak harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Berikut 15 tips Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menjaga Salat Lima Waktu

Salat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang memenuhi ketentuan syariat. Menjaga salat tepat waktu menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasakan menunaikan salat ketika waktunya tiba. Jika memungkinkan, persiapkan diri lebih awal agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang dan khusyuk.

Selain menjaga pelaksanaannya, usahakan memahami bacaan dan menghayati maknanya. Dengan demikian, salat tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga pengingat untuk menjaga perilaku dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.

2. Membiasakan Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca, memahami, dan berusaha mengamalkan ajarannya dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang untuk mulai membaca Al-Qur'an. Sisihkan beberapa menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau sebelum tidur.

Bagi yang belum lancar membaca Al-Qur'an, belajarlah secara bertahap dengan bimbingan guru yang kompeten. Sementara itu, mereka yang sudah lancar dapat memperdalam pemahaman melalui terjemahan dan tafsir.

Konsistensi menjadi hal penting dalam membangun kebiasaan ini. Mulailah dengan target yang realistis agar membaca Al-Qur'an dapat menjadi bagian dari rutinitas harian.

3. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa dan zikir membantu seorang Muslim mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, doa menjadi sarana memohon pertolongan. Saat memperoleh kebahagiaan, zikir dan doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Kebiasaan ini dapat dimulai dengan membaca zikir pagi dan petang, beristigfar, berdoa setelah salat, serta membaca doa sebelum tidur.

Meski demikian, doa dan zikir perlu berjalan beriringan dengan usaha nyata. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, misalnya, seorang Muslim tetap perlu mencari solusi, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki cara bekerja sembari memohon pertolongan Allah SWT.

4. Membiasakan Diri Bersyukur

Bersyukur membantu seseorang menghargai nikmat yang telah dimiliki. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain secara berlebihan justru dapat membuat seseorang lupa terhadap berbagai kebaikan yang telah diterimanya.

Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya.

Syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat untuk tujuan yang baik. Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta membantu sesama, dan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Mulailah dengan menghargai hal-hal sederhana, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, makanan, dan tempat tinggal. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menghargai apa yang dimiliki sambil terus memperbaiki keadaan.

5. Mencari Rezeki yang Halal dan Baik

Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki melalui cara yang halal. Rezeki yang baik tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjaga kejujuran, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati hak orang lain. Hindari penipuan, kecurangan, dan tindakan yang merugikan pihak lain.

Bagi yang menjalankan usaha, sampaikan informasi produk atau jasa secara jujur. Sementara itu, dalam mengelola penghasilan, dahulukan kebutuhan pokok, hindari utang konsumtif yang tidak perlu, dan sisihkan sebagian harta untuk sedekah sesuai kemampuan.

Rezeki yang berkah tidak selalu berarti kekayaan berlimpah. Keberkahan juga dapat tercermin dari kecukupan, ketenangan dalam menggunakannya, serta manfaat yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat.

6. Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 23.

Berbakti dapat diwujudkan melalui perkataan yang sopan, kesediaan mendengarkan nasihat yang baik, membantu kebutuhan mereka, serta meluangkan waktu untuk menemani dan memperhatikan keadaan mereka.

Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi melalui telepon atau melakukan kunjungan secara berkala dapat menjadi bentuk perhatian.

Jika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik dengan mendoakan mereka, menjaga hubungan dengan kerabat, dan melakukan kebaikan yang dibenarkan dalam Islam.

Namun, berbakti tidak berarti harus memenuhi permintaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap perlu menjaga adab dan memperlakukan orang tua dengan baik.

7. Menjaga Silaturahmi dan Hubungan Baik dengan Sesama

Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang baik dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan sekaligus sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperlakukan sesama dengan baik. Karena itu, usahakan menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang tenang dan menghindari perkataan yang menyakiti.

Belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan orang lain ketika mereka berusaha memperbaiki diri. Menghormati perbedaan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial.

Dengan membangun komunikasi yang sehat, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan dipenuhi sikap saling menghormati.

8. Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama

Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyumbangkan pakaian yang layak, atau membagikan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kebaikan.

Sesuaikan sedekah dengan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga. Jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan.

Membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama dapat melatih kepedulian dan mengurangi sikap berlebihan dalam mencintai harta. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam juga dapat berkontribusi dalam membantu mustahik serta masyarakat yang membutuhkan.

9. Menjaga Lisan dan Akhlak

Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Biasakan berbicara jujur, menghindari perkataan kasar, tidak menghina, dan tidak menyebarkan fitnah. Sebelum berbicara, pertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Menjaga lisan juga berlaku ketika menggunakan media sosial. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menulis komentar yang merendahkan orang lain, atau terlibat dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.

Jika melakukan kesalahan, akui dan perbaiki. Meminta maaf merupakan bagian dari tanggung jawab atas perilaku sendiri sekaligus langkah untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

10. Menuntut Ilmu dan Terus Memperbaiki Diri

Menuntut ilmu membantu seorang Muslim memahami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Luangkan waktu untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dasar, dan akhlak. Selain ilmu agama, tingkatkan pula keterampilan yang relevan dengan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab masing-masing.

Pilih sumber belajar yang dapat dipercaya. Dalam urusan agama, pelajari penjelasan dari ulama dan lembaga keislaman yang kompeten agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.

Selain menambah pengetahuan, biasakan mengevaluasi diri. Periksa kembali apakah ibadah telah terjaga, pekerjaan dilakukan dengan jujur, dan hubungan dengan keluarga dipelihara dengan baik.

Perbaikan diri merupakan proses berkelanjutan. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan.

11. Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Amanah

Tubuh merupakan amanah yang perlu dijaga. Kondisi fisik dan mental yang baik membantu seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Terapkan kebiasaan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menjaga waktu tidur. Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan dan jangan mengabaikan keluhan yang membutuhkan pertolongan profesional.

Menjaga kesehatan juga berarti memahami batas kemampuan diri. Istirahat yang cukup bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kemampuan untuk menjalani aktivitas dengan baik.

Dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim dapat berusaha menjalankan berbagai amanah kehidupan secara lebih optimal.

12. Mengelola Waktu dengan Bijaksana

Waktu merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Karena itu, gunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, keluarga, maupun pengembangan diri.

Buatlah jadwal harian sederhana yang memprioritaskan kewajiban utama. Sisihkan waktu untuk salat, bekerja, belajar, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat berarti.

Namun, mengelola waktu bukan berarti harus selalu sibuk. Istirahat, berolahraga, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga juga merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.

13. Bersabar dan Bertawakal kepada Allah SWT

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Seseorang dapat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau ujian kesehatan.

Dalam keadaan tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menunggu pertolongan tanpa melakukan apa pun.

Seorang Muslim perlu berusaha mencari jalan keluar, berdoa kepada Allah SWT, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya. Ketika mengalami kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Jika menghadapi persoalan yang berat, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau tenaga profesional yang sesuai.

Setiap orang memiliki ujian dan proses kehidupan yang berbeda. Karena itu, hindari mengukur keberhasilan diri hanya dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain.

14. Membiasakan Istigfar dan Bertobat

Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa berusaha memperbaiki diri.

Membaca istigfar merupakan salah satu cara memohon ampun kepada Allah. Namun, istigfar hendaknya disertai kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki perilaku.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, upayakan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai keadaan.

Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, gunakan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dengan membiasakan istigfar dan bertobat, seorang Muslim belajar bersikap rendah hati serta menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan ampunan dan bimbingan Allah SWT.

15. Membiasakan Doa agar Hidup Penuh Berkah

Selain melakukan berbagai ikhtiar, seorang Muslim dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca sehari-hari.

“Ya Allah, berkahilah kehidupanku, keluargaku, pekerjaanku, dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku. Bimbinglah aku agar senantiasa berada di jalan yang benar. Jadikanlah aku hamba yang rajin beribadah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan ikhlas dalam melakukan kebaikan. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari keburukan, serta berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan langsung dari Al-Qur'an atau hadis. Seorang Muslim dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dengan tetap memperhatikan tuntunan syariat.

Biasakan berdoa bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga ketika keadaan sedang baik. Dengan demikian, doa menjadi bagian dari kebiasaan untuk memohon petunjuk sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT.

Contoh Rutinitas Islami dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar berbagai kebiasaan baik di atas lebih mudah diterapkan, mulailah dengan rutinitas sederhana yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Pagi hari:

  • Bangun dan menunaikan salat Subuh.

  • Membaca Al-Qur'an atau zikir pagi.

  • Berdoa sebelum memulai aktivitas.

  • Menentukan prioritas pekerjaan dan tanggung jawab hari itu.

Siang hingga sore:

  • Menjaga salat lima waktu.

  • Bekerja atau belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh.

  • Menjaga perkataan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

  • Menyempatkan diri membantu keluarga atau orang yang membutuhkan.

Malam hari:

  • Menunaikan salat Isya.

  • Meluangkan waktu bersama keluarga.

  • Mengevaluasi perilaku dan aktivitas sepanjang hari.

  • Membaca doa sebelum tidur serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Rutinitas tersebut bukan aturan wajib yang harus diikuti dengan susunan persis seperti di atas. Jadikanlah sebagai panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing.

Menjalani Hidup dengan Iman, Ikhtiar, dan Rasa Syukur

Kehidupan yang penuh berkah tidak selalu ditandai dengan kelimpahan materi atau terbebas dari berbagai ujian. Keberkahan juga dapat hadir melalui hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang saling mendukung, serta kesempatan untuk terus berbuat baik.

Menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersyukur, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, dan membantu sesama merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memperkuat kualitas kehidupan seorang Muslim.

Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah dilakukan, kemudian pertahankan secara konsisten dan tingkatkan secara bertahap.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!

MENJAGA hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita dan dapat menjadi pihak terdekat untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, hubungan bertetangga perlu dibangun atas dasar saling menghormati, kepedulian, dan sikap menjaga hak satu sama lain.

Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik. Ajaran tersebut mencakup menjaga perkataan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain, berbagi makanan, memberikan pertolongan, serta memelihara hubungan baik meskipun terdapat perbedaan atau kesalahpahaman.

Adab bertetangga juga tidak terbatas pada orang yang memiliki hubungan dekat atau seagama. Seorang Muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, latar belakang, maupun kebiasaan, selama tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam.

Lantas, apa saja adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut lima di antaranya.

1. Menghormati dan Berbuat Baik kepada Tetangga

Adab pertama adalah menghormati dan memperlakukan tetangga dengan baik. Islam menempatkan hubungan dengan tetangga sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, dan golongan lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya.

Ajaran tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa ketika berpapasan, berbicara dengan sopan, menghargai privasi, dan tidak mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa alasan yang tepat.

Ketika tetangga mengadakan acara keluarga, misalnya, kita dapat menunjukkan sikap saling menghormati dengan menjaga ketertiban dan membicarakan persoalan yang muncul melalui komunikasi yang baik.

Selain itu, hindari membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status ekonomi, kedudukan sosial, atau latar belakang seseorang. Dengan membiasakan sikap saling menghormati, hubungan bertetangga dapat terjalin lebih harmonis dan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman.

2. Tidak Mengganggu atau Menyakiti Tetangga

Adab berikutnya adalah menjaga diri agar tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Pesan ini menegaskan bahwa keimanan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya sendiri, tetapi juga perlu menjaga hak dan kenyamanan orang lain. Beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan bertetangga antara lain:

  • Memutar musik atau menghasilkan suara keras hingga mengganggu waktu istirahat.

  • Membiarkan sampah menumpuk atau menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah.

  • Memarkir kendaraan hingga menghalangi jalan atau akses rumah tetangga.

  • Membicarakan keburukan tetangga dan menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya.

  • Menggunakan atau mengambil barang milik tetangga tanpa izin.

  • Melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan lingkungan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Apabila tanpa sengaja menimbulkan gangguan, sebaiknya segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tindakan sederhana, seperti mengecilkan volume suara pada malam hari atau memastikan kendaraan tidak menghalangi akses rumah orang lain, merupakan bentuk kepedulian terhadap kenyamanan bersama.

Menjaga tetangga dari gangguan bukan hanya menciptakan lingkungan yang tertib, tetapi juga menjadi wujud nyata akhlak yang baik.

3. Berbagi Makanan dan Saling Memberi

Berbagi makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial dan tidak bersikap egois terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar agar memperbanyak kuah ketika memasak dan memperhatikan tetangganya dengan membagikan sebagian makanan tersebut.

Nasihat ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian yang besar. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana sesuai kemampuan masing-masing.

Ketika memasak dalam jumlah lebih, misalnya, kita dapat berbagi makanan dengan tetangga. Berbagi juga dapat dilakukan dengan memberikan buah dari kebun atau mengirimkan hidangan sederhana pada kesempatan tertentu.

Jika tetangga sedang sakit, kita bisa menawarkan bantuan untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sementara itu, ketika mereka mengalami musibah, perhatian dan dukungan sederhana dapat membantu meringankan beban yang dirasakan.

Meski demikian, berbagi tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga sendiri. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk memaksakan diri di luar kemampuannya.

Dengan membiasakan berbagi, hubungan bertetangga tidak sekadar terjalin karena tinggal berdekatan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang dilandasi kepedulian dan kebersamaan.

4. Menolong Tetangga Ketika Mengalami Kesulitan

Seorang Muslim hendaknya tidak bersikap acuh ketika mengetahui tetangganya membutuhkan pertolongan. Hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi sumber dukungan, terutama ketika seseorang menghadapi situasi sulit.

Pertolongan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan tenaga dan dukungan moral hingga bantuan materi sesuai kemampuan.

Ketika tetangga sedang sakit, misalnya, kita dapat menjenguk, menanyakan kebutuhannya, atau membantu mengurus keperluan mendesak. Saat terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir, kita dapat membantu proses evakuasi, menyediakan makanan, atau menghubungkan mereka dengan pihak yang mampu memberikan bantuan.

Perhatian juga dapat diberikan kepada tetangga lanjut usia yang tinggal sendiri. Menanyakan kabar atau membantu membawa barang belanjaan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Dalam memberikan pertolongan, penting untuk tetap menghormati privasi dan menjaga martabat orang yang dibantu. Bantuan sebaiknya diberikan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian atau mengungkit kebaikan pada kemudian hari.

Menolong tetangga menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memaafkan Kesalahan Tetangga

Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bertetangga. Perbedaan kebiasaan, persoalan batas tanah, kebisingan, atau masalah parkir dapat memicu perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan baik.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga komunikasi, bersikap sabar, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Kebiasaan menyapa, mengunjungi ketika diperlukan, serta menghindari permusuhan berkepanjangan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat hubungan dengan tetangga.

Pertama, menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang sopan. Jika ada tindakan yang mengganggu, sampaikan keberatan secara baik-baik tanpa menghina atau mempermalukan pihak lain.

Kedua, tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, cari penjelasan secara langsung dengan cara yang santun.

Ketiga, belajar memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Selama persoalan masih dapat diselesaikan secara wajar, sikap lapang dada dapat membantu mencegah konflik berkepanjangan.

Keempat, tidak memperbesar perselisihan. Hindari menyebarkan masalah kepada orang lain apabila hal tersebut justru memperburuk keadaan.

Meski demikian, menjaga hubungan baik tidak berarti membiarkan tindakan yang membahayakan atau melanggar hak. Jika terjadi ancaman, kekerasan, atau pelanggaran serius, kita tetap dapat meminta bantuan pihak berwenang melalui cara yang tepat.

Dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan tanpa harus merusak hubungan bertetangga.

Manfaat Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam

Menerapkan adab bertetangga memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sikap saling menghormati membantu mengurangi gangguan dan perselisihan.

  2. Mempererat hubungan sosial. Tetangga yang saling mengenal lebih mudah membangun komunikasi dan kerja sama.

  3. Menumbuhkan kepedulian. Kebiasaan saling membantu membuat masyarakat lebih siap menghadapi kesulitan bersama.

  4. Menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik membantu menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi perselisihan besar.

  5. Mengamalkan ajaran Islam. Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika setiap orang berusaha memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Kita tidak perlu menunggu semua tetangga bersikap baik terlebih dahulu untuk mulai menunjukkan akhlak terpuji.

Membangun Lingkungan yang Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri

Adab bertetangga bukan hanya tentang menghindari perselisihan, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati orang lain, menjaga perkataan, berbagi makanan, menolong ketika dibutuhkan, dan memaafkan kesalahan merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat kebersamaan.

Keteladanan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akhlak mulia perlu tercermin dalam hubungan dengan sesama, termasuk dengan orang-orang yang tinggal paling dekat dengan kita.

Karena itu, membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian dapat dimulai dari rumah masing-masing. Dengan menjaga hak tetangga dan membiasakan diri untuk berbuat baik, kita turut menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi

SETIAP orang tua Muslim tentu mendambakan anak yang saleh dan salehah, beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama. Anak bukan hanya anugerah yang membawa kebahagiaan dalam keluarga, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan orang tua adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT memberikan petunjuk, menguatkan keimanan, memudahkan anak dalam beribadah, serta membimbing mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa.

Al-Qur'an mengajarkan sejumlah doa untuk memohon keturunan yang baik. Beberapa di antaranya merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS, serta doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati.

Lantas, apa saja doa memohon anak saleh dan salehah yang dapat diamalkan? Berikut bacaan, arti, dan maknanya, beserta ikhtiar mendidik anak agar tumbuh dalam kebaikan.

1. Doa dalam Surah Al-Furqan Ayat 74

Salah satu doa yang dapat diamalkan untuk memohon keluarga dan keturunan yang baik terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk hati serta agar diri sendiri dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bacaan latin:

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Makna Doa

Doa ini mengandung harapan agar keluarga tumbuh dalam keimanan, ketaatan, dan akhlak yang baik. Anak yang menjadi penyejuk hati bukan semata-mata anak yang membanggakan orang tua, tetapi juga anak yang berusaha menjalankan ajaran agama dan menghadirkan kebaikan di lingkungannya.

Selain memohon keturunan yang baik, orang tua juga memohon agar dirinya menjadi teladan dalam ketakwaan. Artinya, harapan memiliki anak saleh dan salehah perlu disertai usaha memperbaiki diri, mulai dari menjaga salat, berkata jujur, bersikap sabar, hingga menghormati orang lain.

Doa ini dapat dibaca setelah salat atau ketika bermunajat kepada Allah SWT. Tidak ada keharusan menetapkan jumlah bacaan tertentu untuk mengamalkannya.

2. Doa Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa singkat untuk memohon keturunan yang termasuk golongan orang saleh. Doa ini terdapat dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Bacaan latin: Rabbi hab li minas salihin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100).

Makna Doa 

Doa ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan bukan satu-satunya harapan. Nabi Ibrahim AS juga memohon agar keturunannya menjadi bagian dari orang-orang yang saleh.

Kesalehan merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang saleh dan salehah diharapkan memiliki keimanan yang kuat, menjaga ibadah, berperilaku baik, serta mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah.

Bagi pasangan yang sedang menantikan kehadiran buah hati, doa ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keturunan kepada Allah SWT. Bagi orang tua yang telah memiliki anak, doa yang sama dapat diamalkan untuk memohon agar anak-anak senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.

Doa juga menjadi wujud penghambaan dan tawakal. Karena itu, orang tua hendaknya terus memohon kepada Allah SWT sembari melakukan ikhtiar yang baik dan tidak kehilangan harapan ketika keinginan belum terwujud sesuai waktu yang diharapkan.

3. Doa Nabi Zakaria AS 

Al-Qur'an juga mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika memohon keturunan yang baik. Doa tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 38.

Bacaan latin:

Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan tayyibatan innaka sami'ud du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Pelajaran dari doa Nabi Zakaria 

Kisah Nabi Zakaria AS mengajarkan tentang ketekunan dalam berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Beliau memohon keturunan yang baik, mengingatkan umat Islam bahwa Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya.

Keturunan yang baik tidak hanya diukur dari kesehatan fisik atau keberhasilan duniawi. Keimanan, akhlak, dan perilaku yang terpuji juga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang diharapkan orang tua.

Doa ini dapat diamalkan oleh pasangan yang mendambakan keturunan maupun orang tua yang memohon kebaikan bagi anak-anaknya. Permohonan juga dapat disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami, selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Doa Keturunan Rajin Mendirikan Salat

Anak yang saleh dan salehah diharapkan tidak hanya memiliki perilaku yang baik, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mendirikan salat.

Dalam Surah Ibrahim ayat 40, terdapat doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan salat.

Bacaan latin: Rabbij'alni muqimas salati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Mengapa doa ini penting?

Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. Dengan memohon agar diri sendiri dan keturunan senantiasa mendirikan salat, orang tua diingatkan bahwa pendidikan agama perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak untuk salat, tetapi juga memberikan contoh melalui kebiasaan beribadah secara konsisten. Ketika anak melihat orang tuanya menjaga salat, ia dapat belajar dari keteladanan yang nyata.

Selain itu, ajarkan salat secara bertahap sesuai usia anak. Pendekatan yang lembut, penjelasan yang mudah dipahami, dan suasana keluarga yang mendukung dapat membantu anak mengenal ibadah dengan lebih baik.

Doa ini sekaligus mengingatkan orang tua untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sendiri sebelum berharap anak mengikuti jalan kebaikan tersebut.

5. Doa agar Anak Saleh dan Mendapat Keberkahan

Selain mengamalkan doa-doa dari Al-Qur'an, orang tua dapat memohon kepada Allah SWT menggunakan kalimat yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, memohon agar anak diberikan kesehatan, dilindungi dari keburukan, dibimbing dalam ketaatan, dan dimudahkan untuk berbuat baik kepada sesama.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat diamalkan sebagai doa pribadi.

Bacaan doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang saleh dan salehah. Jadikanlah mereka hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga salat. Lindungilah mereka dari perbuatan buruk, pergaulan yang menyesatkan, serta segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari jalan-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati di dunia dan bekal kebaikan bagi kami di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis. Orang tua dapat menyesuaikan susunan kata dan menyebut nama anak dalam doanya.

Hal terpenting bukan panjangnya rangkaian kalimat, melainkan ketulusan hati, keyakinan kepada Allah SWT, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar yang baik.

6. Kapan Waktu Baik Membaca Doa Anak Saleh?

Pada dasarnya, doa untuk memohon kebaikan anak dapat dipanjatkan kapan saja. Tidak ada ketentuan bahwa doa memohon anak saleh dan salehah hanya boleh dibaca pada waktu tertentu.

Meski demikian, ada beberapa kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah salat wajib

Setelah menunaikan salat wajib, orang tua dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa. Selain memohon ampunan serta kebaikan dunia dan akhirat, orang tua dapat memohon agar anak-anak diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam.

Mendoakan anak secara rutin dapat menjadi pengingat bahwa mendidik mereka merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan pertolongan Allah SWT.

Saat salat malam

Salat malam, termasuk tahajud, dapat menjadi kesempatan untuk bermunajat dengan lebih khusyuk. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan keutamaan berdoa kepada Allah pada sepertiga malam terakhir.

Orang tua dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memohon kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan keteguhan iman bagi anak-anaknya.

Ketika sujud

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa.

Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon kebaikan bagi anak-anaknya dengan tetap memperhatikan ketentuan doa dalam salat sesuai tuntunan fikih yang diikuti.

Ketika anak menghadapi kesulitan

Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak sedang sehat, berprestasi, atau menunjukkan perilaku yang membanggakan. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, menghadapi masalah pergaulan, atau sedang berusaha memperbaiki diri, orang tua juga perlu mendoakannya.

Rasa kecewa hendaknya tidak membuat orang tua berhenti berharap kepada Allah SWT. Sebaliknya, doa dapat menjadi penguat kesabaran sekaligus dorongan untuk mencari cara terbaik dalam mendampingi anak.

7. Cara Mendidik Anak agar Tumbuh Saleh

Doa merupakan ikhtiar spiritual yang penting, tetapi perlu disertai pendidikan, keteladanan, dan usaha nyata. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, melainkan juga lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Islam.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.

1. Memberikan teladan yang baik

Anak banyak belajar melalui apa yang dilihat setiap hari. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam menjalankan ibadah, menjaga perkataan, bersikap jujur, dan menghormati orang lain.

Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menjaga salatnya sendiri. Jika ingin anak berkata jujur, biasakan kejujuran dalam keluarga. Keteladanan membantu anak memahami bahwa ajaran Islam bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup.

2. Mengenalkan Al-Qur'an dan ajaran Islam sejak dini

Orang tua dapat mengenalkan Al-Qur'an, doa sehari-hari, kisah para nabi, serta dasar-dasar akhlak Islam sesuai usia anak. Lakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan.

Seiring bertambahnya usia, ajak anak memahami makna ibadah, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

3. Membiasakan ibadah dalam keluarga

Keluarga dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan tertentu.

Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika mereka melakukan kesalahan.

4. Menanamkan akhlak mulia

Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dengan perilaku terhadap sesama manusia. Ajarkan anak menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata sopan, menepati janji, meminta maaf ketika bersalah, dan membantu orang yang membutuhkan.

5. Memperhatikan lingkungan pergaulan

Lingkungan dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak. Orang tua perlu mengenal teman-teman anak, memperhatikan aktivitasnya, dan membangun komunikasi yang terbuka.

Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang bertanggung jawab, bukan pengawasan berlebihan. Ajarkan anak memilih pergaulan yang baik serta berani menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.

6. Menasihati tanpa merendahkan

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan nasihat dan konsekuensi yang sesuai. Namun, hindari melabeli anak sebagai nakal, gagal, atau tidak berguna.

Tegurlah perilakunya tanpa merendahkan martabatnya. Terus doakan kebaikannya, termasuk ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

7. Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian

Orang tua dapat mengajarkan tanggung jawab melalui tugas sederhana, seperti merapikan barang, menjaga kebersihan, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membantu anggota keluarga.

Ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia memahami akibat perbuatannya dan memperbaikinya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengakui kesalahan serta bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.

8. Keutamaan Memiliki Anak Saleh

Anak yang saleh dan salehah merupakan salah satu karunia berharga dalam Islam. Kesalehan anak tidak hanya membawa harapan akan kebaikan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan manfaat yang dapat terus dirasakan orang tua setelah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mendidik anak agar mengenal Allah SWT, menjalankan ajaran agama, dan terbiasa mendoakan orang tuanya.

Meski demikian, kesalehan anak bukan sesuatu yang dapat dijamin hanya melalui satu doa. Anak tumbuh melalui berbagai proses, pengalaman, dan pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu terus memberikan pendidikan terbaik sembari memohon pertolongan Allah SWT.

Anak yang saleh dan salehah juga diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, membantu sesama, maupun menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, tujuan mendidik anak bukan semata-mata agar orang tua merasa bangga, tetapi agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

9. Pertanyaan Umum tentang Doa Anak Saleh

Apakah doa anak saleh boleh dibaca setiap hari?

Ya. Orang tua boleh mendoakan kebaikan anak setiap hari. Beberapa doa yang dapat diamalkan antara lain doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Surah Ali Imran ayat 38, Surah As-Saffat ayat 100, dan Surah Ibrahim ayat 40.

Tidak ada ketentuan umum bahwa doa-doa tersebut harus dibaca dengan jumlah tertentu agar permohonan dikabulkan.

Apakah ibu dan ayah sama-sama boleh mendoakan anak?

Tentu. Ibu dan ayah sama-sama dapat memohon agar anak menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan serta keteladanan yang baik.

Bolehkah berdoa agar anak menjadi penghafal Al-Qur'an?

Boleh. Orang tua dapat memohon agar anak mencintai Al-Qur'an, dimudahkan menghafalnya, memahami ajarannya, serta mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Permohonan tersebut hendaknya disertai pendampingan yang baik, pembelajaran sesuai kemampuan anak, dan penghargaan terhadap proses belajarnya.

Bagaimana jika anak belum menunjukkan perilaku saleh?

Jangan langsung berputus asa. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Orang tua dapat mengevaluasi pendekatan pendidikan, membuka komunikasi yang baik, memberikan nasihat secara bijaksana, dan terus mendoakan kebaikannya.

Jika masalah yang dihadapi cukup berat, orang tua juga dapat mencari bantuan dari guru, konselor, atau pembimbing agama yang kompeten.

Apakah pasangan yang belum memiliki anak boleh membaca doa memohon keturunan?

Boleh. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Zakaria AS dalam Surah Ali Imran ayat 38 atau doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Di samping berdoa, pasangan dapat melakukan ikhtiar yang sesuai, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Belum hadirnya keturunan bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa doa seseorang tidak diterima Allah SWT.

Doa Bagian dari Pendidikan Anak

Memohon anak yang saleh dan salehah merupakan harapan yang dapat terus dipanjatkan oleh setiap orang tua Muslim. Al-Qur'an telah mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan untuk memohon keturunan yang baik, keluarga yang menenteramkan, serta anak-anak yang senantiasa menjaga ibadah.

Namun, doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Keteladanan orang tua, pendidikan agama, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Semoga Allah SWT menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, menjadikan keluarga sebagai penyejuk hati, serta membimbing anak-anak agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Amin ya Rabbal alamin.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan

MENGELOLA keuangan bukan hanya soal memastikan pemasukan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan. Bagi seorang Muslim, harta merupakan amanah dari Allah SWT yang perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik.

Karena itu, kelola keuangan Islam tidak hanya memperhatikan jumlah pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga sumber rezeki, prioritas kebutuhan, kewajiban terhadap keluarga, serta kepedulian kepada sesama.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir dalam menggunakan hartanya. Prinsip ini dapat menjadi dasar dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

1. Pastikan Penghasilan Sumber Halal

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber penghasilan. Sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, seorang Muslim perlu memastikan bahwa pekerjaan, usaha, perdagangan, maupun investasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memperoleh makanan dari hasil usaha sendiri. Dalam Sunan Ibn Majah 2137 disebutkan bahwa makanan terbaik yang dikonsumsi seseorang adalah yang berasal dari hasil usahanya sendiri.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja perlu menjalankan tanggung jawab dengan amanah, sedangkan pelaku usaha harus menghindari penipuan, kecurangan, menyembunyikan cacat barang, maupun mengurangi timbangan.

Ketika menemukan transaksi yang meragukan, jangan terburu-buru mengejar keuntungan. Memahami akad, risiko, dan ketentuannya terlebih dahulu dapat membantu menjaga harta tetap berada dalam koridor yang baik.

2. Susun Anggaran dan Dahulukan Kebutuhan

Setelah memastikan sumber pendapatan, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaannya. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan.

Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan keluarga perlu menjadi prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah alokasi untuk keperluan lainnya disesuaikan dengan kemampuan.

Membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Membeli sesuatu karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda promosi atau ingin mengikuti tren.

Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Catatan di buku, spreadsheet, maupun aplikasi keuangan sudah cukup untuk membantu mengevaluasi pola pengeluaran dan menemukan pos yang dapat dikurangi.

3. Hindari Pemborosan dan Utang Konsumtif

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam menggunakan harta. Karena itu, pembelian impulsif dan gaya hidup berlebihan perlu dihindari.

Diskon atau promosi memang dapat menghemat pengeluaran jika barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, membeli sesuatu hanya karena harganya sedang murah tetap dapat membuat keuangan menjadi tidak sehat.

Penggunaan utang juga perlu dipertimbangkan dengan matang. Seorang Muslim perlu memahami akad dan konsekuensi finansial sebelum mengambil utang, terutama jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya berada di luar kemampuan.

Hidup sesuai kemampuan bukan berarti harus mengurangi seluruh kenyamanan. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, seseorang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih tenang tanpa terbebani pengeluaran yang tidak perlu.

4. Siapkan Tabungan dan Dana Darurat

Selain memenuhi kebutuhan hari ini, pengelolaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan di masa depan. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dapat membantu menghadapi berbagai keperluan yang sudah direncanakan.

Dana darurat juga penting untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendesak.

Perencanaan jangka panjang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, misalnya untuk pendidikan anak, tempat tinggal, maupun kebutuhan masa pensiun. Tidak perlu memulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.

5. Sisihkan Harta untuk Zakat, Infak, dan Sedekah

Harta dalam Islam tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban dan kepedulian sosial yang perlu diperhatikan, termasuk zakat bagi harta yang telah memenuhi ketentuannya.

Zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, nisab, haul, kadar, serta golongan penerima. Karena itu, perhitungannya perlu dilakukan sesuai ketentuan syariat.

Selain zakat, infak dan sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan sesuai kemampuan. Kebiasaan berbagi mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Dengan memasukkan zakat, infak, dan sedekah dalam perencanaan keuangan, pengelolaan harta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ibadah.

6. Bangun Komunikasi Keuangan dalam Keluarga

Pengelolaan keuangan juga berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami dan istri dapat membicarakan pemasukan, kebutuhan, kewajiban, tabungan, serta tujuan finansial keluarga secara terbuka.

Setiap keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tidak ada satu pola anggaran yang harus diterapkan oleh semua orang. Yang penting adalah menjaga prinsip halal, bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan.

Anak juga dapat dikenalkan dengan kebiasaan finansial sejak dini. Misalnya dengan mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta mengenalkan pentingnya berbagi.

Evaluasi sederhana setiap bulan dapat membantu keluarga mengetahui kondisi keuangannya. Periksa kembali pemasukan, pengeluaran terbesar, jumlah tabungan, kewajiban yang telah dibayarkan, dan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pada akhirnya, kelola keuangan Islam bukan semata-mata tentang bagaimana memiliki lebih banyak uang. Lebih dari itu, pengelolaan harta diarahkan agar kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara yang halal, keluarga tetap terjaga, dan sebagian rezeki dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Dengan mengatur pemasukan secara bijak, menghindari pemborosan, mempersiapkan masa depan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, harta dapat dikelola sebagai amanah sekaligus menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim

DALAM Islam, adab dan akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah kepada Allah SWT juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga masyarakat di sekitarnya.

Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam hal akhlak. Beliau mengajarkan kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang dalam berinteraksi dengan sesama. Karena itu, menjaga perilaku bukan sekadar menunjukkan kepribadian yang baik, tetapi juga bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Adab dan Akhlak dalam Islam

Menjaga adab berarti berusaha menempatkan perkataan, sikap, dan tindakan sesuai dengan tuntunan Islam. Hal tersebut dapat dimulai dari perkara sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak, serta membantu mereka yang membutuhkan.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang menjaga lisannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman untuk saling mengejek, mencela, maupun memanggil orang lain dengan gelar yang buruk.

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara. Perkataan yang kasar, hinaan, fitnah, atau ucapan yang menyakiti orang lain dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Menjaga adab juga berarti mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Saat marah atau berbeda pendapat, seseorang perlu berusaha menahan emosi agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Kedudukan Penting Akhlak Baik

Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang membiasakan perkataan keji.

Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara sederhana, melainkan memiliki nilai besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan rasa aman, bukan justru menimbulkan kerugian atau ketakutan bagi orang lain.

Dengan demikian, akhlak yang baik tidak cukup hanya terlihat dalam aktivitas ibadah. Nilainya perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

Menerapkan Adab dalam Kehidupan

Di lingkungan keluarga, menjaga adab dapat dimulai dengan menghormati orang tua, memperlakukan pasangan dan saudara dengan baik, serta membangun komunikasi tanpa penghinaan maupun kekerasan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak dapat diwujudkan dengan menghormati tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan menghargai perbedaan.

Begitu pula di tempat kerja atau sekolah. Bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, menjaga amanah, serta tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari penerapan akhlak Islam.

Adab juga berlaku di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Menjaga perilaku di media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak dalam kehidupan modern.

Membiasakan Diri Berakhlak Baik

Menjaga adab membutuhkan latihan dan konsistensi. Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki niat. Berbuat baik kepada orang lain seharusnya dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian.

Kebiasaan menjaga lisan juga perlu dilatih. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Mempelajari kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi cara lain untuk memahami bagaimana akhlak diterapkan dalam berbagai situasi. Keteladanan beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, maupun orang yang berbeda pendapat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi diri juga penting. Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Pada akhirnya, menjaga adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam perilaku nyata.

Meneladani Rasulullah SAW berarti terus berusaha menjadi pribadi yang jujur, sabar, lembut, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain. Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk menjaga lisan, memperbaiki perilaku, menghormati sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01

Artikel Terbaru

15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah
15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah
KEHIDUPAN yang baik dan penuh berkah merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Kehidupan yang berkah juga tercermin dari hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Untuk mewujudkannya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, bekerja dengan jujur, menyayangi keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam. Kebiasaan baik tersebut tidak harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Berikut 15 tips Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 1. Menjaga Salat Lima Waktu Salat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang memenuhi ketentuan syariat. Menjaga salat tepat waktu menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Biasakan menunaikan salat ketika waktunya tiba. Jika memungkinkan, persiapkan diri lebih awal agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang dan khusyuk. Selain menjaga pelaksanaannya, usahakan memahami bacaan dan menghayati maknanya. Dengan demikian, salat tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga pengingat untuk menjaga perilaku dan menjalankan tanggung jawab dengan baik. 2. Membiasakan Membaca Al-Qur'an Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca, memahami, dan berusaha mengamalkan ajarannya dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama. Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang untuk mulai membaca Al-Qur'an. Sisihkan beberapa menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau sebelum tidur. Bagi yang belum lancar membaca Al-Qur'an, belajarlah secara bertahap dengan bimbingan guru yang kompeten. Sementara itu, mereka yang sudah lancar dapat memperdalam pemahaman melalui terjemahan dan tafsir. Konsistensi menjadi hal penting dalam membangun kebiasaan ini. Mulailah dengan target yang realistis agar membaca Al-Qur'an dapat menjadi bagian dari rutinitas harian. 3. Memperbanyak Doa dan Zikir Doa dan zikir membantu seorang Muslim mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, doa menjadi sarana memohon pertolongan. Saat memperoleh kebahagiaan, zikir dan doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan. Kebiasaan ini dapat dimulai dengan membaca zikir pagi dan petang, beristigfar, berdoa setelah salat, serta membaca doa sebelum tidur. Meski demikian, doa dan zikir perlu berjalan beriringan dengan usaha nyata. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, misalnya, seorang Muslim tetap perlu mencari solusi, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki cara bekerja sembari memohon pertolongan Allah SWT. 4. Membiasakan Diri Bersyukur Bersyukur membantu seseorang menghargai nikmat yang telah dimiliki. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain secara berlebihan justru dapat membuat seseorang lupa terhadap berbagai kebaikan yang telah diterimanya. Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya. Syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat untuk tujuan yang baik. Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta membantu sesama, dan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Mulailah dengan menghargai hal-hal sederhana, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, makanan, dan tempat tinggal. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menghargai apa yang dimiliki sambil terus memperbaiki keadaan. 5. Mencari Rezeki yang Halal dan Baik Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki melalui cara yang halal. Rezeki yang baik tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjaga kejujuran, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati hak orang lain. Hindari penipuan, kecurangan, dan tindakan yang merugikan pihak lain. Bagi yang menjalankan usaha, sampaikan informasi produk atau jasa secara jujur. Sementara itu, dalam mengelola penghasilan, dahulukan kebutuhan pokok, hindari utang konsumtif yang tidak perlu, dan sisihkan sebagian harta untuk sedekah sesuai kemampuan. Rezeki yang berkah tidak selalu berarti kekayaan berlimpah. Keberkahan juga dapat tercermin dari kecukupan, ketenangan dalam menggunakannya, serta manfaat yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat. 6. Berbakti kepada Orang Tua Berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 23. Berbakti dapat diwujudkan melalui perkataan yang sopan, kesediaan mendengarkan nasihat yang baik, membantu kebutuhan mereka, serta meluangkan waktu untuk menemani dan memperhatikan keadaan mereka. Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi melalui telepon atau melakukan kunjungan secara berkala dapat menjadi bentuk perhatian. Jika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik dengan mendoakan mereka, menjaga hubungan dengan kerabat, dan melakukan kebaikan yang dibenarkan dalam Islam. Namun, berbakti tidak berarti harus memenuhi permintaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap perlu menjaga adab dan memperlakukan orang tua dengan baik. 7. Menjaga Silaturahmi dan Hubungan Baik dengan Sesama Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang baik dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan sekaligus sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperlakukan sesama dengan baik. Karena itu, usahakan menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang tenang dan menghindari perkataan yang menyakiti. Belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan orang lain ketika mereka berusaha memperbaiki diri. Menghormati perbedaan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial. Dengan membangun komunikasi yang sehat, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan dipenuhi sikap saling menghormati. 8. Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan. Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyumbangkan pakaian yang layak, atau membagikan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kebaikan. Sesuaikan sedekah dengan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga. Jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan. Membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama dapat melatih kepedulian dan mengurangi sikap berlebihan dalam mencintai harta. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam juga dapat berkontribusi dalam membantu mustahik serta masyarakat yang membutuhkan. 9. Menjaga Lisan dan Akhlak Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain. Biasakan berbicara jujur, menghindari perkataan kasar, tidak menghina, dan tidak menyebarkan fitnah. Sebelum berbicara, pertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik. Menjaga lisan juga berlaku ketika menggunakan media sosial. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menulis komentar yang merendahkan orang lain, atau terlibat dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat. Jika melakukan kesalahan, akui dan perbaiki. Meminta maaf merupakan bagian dari tanggung jawab atas perilaku sendiri sekaligus langkah untuk menjaga hubungan baik dengan sesama. 10. Menuntut Ilmu dan Terus Memperbaiki Diri Menuntut ilmu membantu seorang Muslim memahami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Luangkan waktu untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dasar, dan akhlak. Selain ilmu agama, tingkatkan pula keterampilan yang relevan dengan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab masing-masing. Pilih sumber belajar yang dapat dipercaya. Dalam urusan agama, pelajari penjelasan dari ulama dan lembaga keislaman yang kompeten agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru. Selain menambah pengetahuan, biasakan mengevaluasi diri. Periksa kembali apakah ibadah telah terjaga, pekerjaan dilakukan dengan jujur, dan hubungan dengan keluarga dipelihara dengan baik. Perbaikan diri merupakan proses berkelanjutan. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan. 11. Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Amanah Tubuh merupakan amanah yang perlu dijaga. Kondisi fisik dan mental yang baik membantu seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga. Terapkan kebiasaan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menjaga waktu tidur. Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan dan jangan mengabaikan keluhan yang membutuhkan pertolongan profesional. Menjaga kesehatan juga berarti memahami batas kemampuan diri. Istirahat yang cukup bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kemampuan untuk menjalani aktivitas dengan baik. Dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim dapat berusaha menjalankan berbagai amanah kehidupan secara lebih optimal. 12. Mengelola Waktu dengan Bijaksana Waktu merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Karena itu, gunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, keluarga, maupun pengembangan diri. Buatlah jadwal harian sederhana yang memprioritaskan kewajiban utama. Sisihkan waktu untuk salat, bekerja, belajar, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga. Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat berarti. Namun, mengelola waktu bukan berarti harus selalu sibuk. Istirahat, berolahraga, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga juga merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup. 13. Bersabar dan Bertawakal kepada Allah SWT Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Seseorang dapat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau ujian kesehatan. Dalam keadaan tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menunggu pertolongan tanpa melakukan apa pun. Seorang Muslim perlu berusaha mencari jalan keluar, berdoa kepada Allah SWT, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya. Ketika mengalami kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya. Jika menghadapi persoalan yang berat, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau tenaga profesional yang sesuai. Setiap orang memiliki ujian dan proses kehidupan yang berbeda. Karena itu, hindari mengukur keberhasilan diri hanya dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain. 14. Membiasakan Istigfar dan Bertobat Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa berusaha memperbaiki diri. Membaca istigfar merupakan salah satu cara memohon ampun kepada Allah. Namun, istigfar hendaknya disertai kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki perilaku. Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, upayakan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai keadaan. Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, gunakan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dengan membiasakan istigfar dan bertobat, seorang Muslim belajar bersikap rendah hati serta menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan ampunan dan bimbingan Allah SWT. 15. Membiasakan Doa agar Hidup Penuh Berkah Selain melakukan berbagai ikhtiar, seorang Muslim dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan yang baik dan penuh keberkahan. Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca sehari-hari. “Ya Allah, berkahilah kehidupanku, keluargaku, pekerjaanku, dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku. Bimbinglah aku agar senantiasa berada di jalan yang benar. Jadikanlah aku hamba yang rajin beribadah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan ikhlas dalam melakukan kebaikan. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari keburukan, serta berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.” Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan langsung dari Al-Qur'an atau hadis. Seorang Muslim dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dengan tetap memperhatikan tuntunan syariat. Biasakan berdoa bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga ketika keadaan sedang baik. Dengan demikian, doa menjadi bagian dari kebiasaan untuk memohon petunjuk sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT. Contoh Rutinitas Islami dalam Kehidupan Sehari-hari Agar berbagai kebiasaan baik di atas lebih mudah diterapkan, mulailah dengan rutinitas sederhana yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Pagi hari: Bangun dan menunaikan salat Subuh. Membaca Al-Qur'an atau zikir pagi. Berdoa sebelum memulai aktivitas. Menentukan prioritas pekerjaan dan tanggung jawab hari itu. Siang hingga sore: Menjaga salat lima waktu. Bekerja atau belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh. Menjaga perkataan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain. Menyempatkan diri membantu keluarga atau orang yang membutuhkan. Malam hari: Menunaikan salat Isya. Meluangkan waktu bersama keluarga. Mengevaluasi perilaku dan aktivitas sepanjang hari. Membaca doa sebelum tidur serta memohon ampun kepada Allah SWT. Rutinitas tersebut bukan aturan wajib yang harus diikuti dengan susunan persis seperti di atas. Jadikanlah sebagai panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing. Menjalani Hidup dengan Iman, Ikhtiar, dan Rasa Syukur Kehidupan yang penuh berkah tidak selalu ditandai dengan kelimpahan materi atau terbebas dari berbagai ujian. Keberkahan juga dapat hadir melalui hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang saling mendukung, serta kesempatan untuk terus berbuat baik. Menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersyukur, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, dan membantu sesama merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memperkuat kualitas kehidupan seorang Muslim. Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah dilakukan, kemudian pertahankan secara konsisten dan tingkatkan secara bertahap. Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL13/10/2026 | MBL-01
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!
MENJAGA hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita dan dapat menjadi pihak terdekat untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, hubungan bertetangga perlu dibangun atas dasar saling menghormati, kepedulian, dan sikap menjaga hak satu sama lain. Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik. Ajaran tersebut mencakup menjaga perkataan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain, berbagi makanan, memberikan pertolongan, serta memelihara hubungan baik meskipun terdapat perbedaan atau kesalahpahaman. Adab bertetangga juga tidak terbatas pada orang yang memiliki hubungan dekat atau seagama. Seorang Muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, latar belakang, maupun kebiasaan, selama tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam. Lantas, apa saja adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut lima di antaranya. 1. Menghormati dan Berbuat Baik kepada Tetangga Adab pertama adalah menghormati dan memperlakukan tetangga dengan baik. Islam menempatkan hubungan dengan tetangga sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, dan golongan lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya. Ajaran tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa ketika berpapasan, berbicara dengan sopan, menghargai privasi, dan tidak mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa alasan yang tepat. Ketika tetangga mengadakan acara keluarga, misalnya, kita dapat menunjukkan sikap saling menghormati dengan menjaga ketertiban dan membicarakan persoalan yang muncul melalui komunikasi yang baik. Selain itu, hindari membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status ekonomi, kedudukan sosial, atau latar belakang seseorang. Dengan membiasakan sikap saling menghormati, hubungan bertetangga dapat terjalin lebih harmonis dan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman. 2. Tidak Mengganggu atau Menyakiti Tetangga Adab berikutnya adalah menjaga diri agar tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Pesan ini menegaskan bahwa keimanan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya sendiri, tetapi juga perlu menjaga hak dan kenyamanan orang lain. Beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan bertetangga antara lain: Memutar musik atau menghasilkan suara keras hingga mengganggu waktu istirahat. Membiarkan sampah menumpuk atau menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah. Memarkir kendaraan hingga menghalangi jalan atau akses rumah tetangga. Membicarakan keburukan tetangga dan menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya. Menggunakan atau mengambil barang milik tetangga tanpa izin. Melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan lingkungan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain. Apabila tanpa sengaja menimbulkan gangguan, sebaiknya segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tindakan sederhana, seperti mengecilkan volume suara pada malam hari atau memastikan kendaraan tidak menghalangi akses rumah orang lain, merupakan bentuk kepedulian terhadap kenyamanan bersama. Menjaga tetangga dari gangguan bukan hanya menciptakan lingkungan yang tertib, tetapi juga menjadi wujud nyata akhlak yang baik. 3. Berbagi Makanan dan Saling Memberi Berbagi makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial dan tidak bersikap egois terhadap orang-orang di sekitarnya. Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar agar memperbanyak kuah ketika memasak dan memperhatikan tetangganya dengan membagikan sebagian makanan tersebut. Nasihat ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian yang besar. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana sesuai kemampuan masing-masing. Ketika memasak dalam jumlah lebih, misalnya, kita dapat berbagi makanan dengan tetangga. Berbagi juga dapat dilakukan dengan memberikan buah dari kebun atau mengirimkan hidangan sederhana pada kesempatan tertentu. Jika tetangga sedang sakit, kita bisa menawarkan bantuan untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sementara itu, ketika mereka mengalami musibah, perhatian dan dukungan sederhana dapat membantu meringankan beban yang dirasakan. Meski demikian, berbagi tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga sendiri. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk memaksakan diri di luar kemampuannya. Dengan membiasakan berbagi, hubungan bertetangga tidak sekadar terjalin karena tinggal berdekatan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang dilandasi kepedulian dan kebersamaan. 4. Menolong Tetangga Ketika Mengalami Kesulitan Seorang Muslim hendaknya tidak bersikap acuh ketika mengetahui tetangganya membutuhkan pertolongan. Hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi sumber dukungan, terutama ketika seseorang menghadapi situasi sulit. Pertolongan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan tenaga dan dukungan moral hingga bantuan materi sesuai kemampuan. Ketika tetangga sedang sakit, misalnya, kita dapat menjenguk, menanyakan kebutuhannya, atau membantu mengurus keperluan mendesak. Saat terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir, kita dapat membantu proses evakuasi, menyediakan makanan, atau menghubungkan mereka dengan pihak yang mampu memberikan bantuan. Perhatian juga dapat diberikan kepada tetangga lanjut usia yang tinggal sendiri. Menanyakan kabar atau membantu membawa barang belanjaan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat bagi mereka. Dalam memberikan pertolongan, penting untuk tetap menghormati privasi dan menjaga martabat orang yang dibantu. Bantuan sebaiknya diberikan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian atau mengungkit kebaikan pada kemudian hari. Menolong tetangga menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal. 5. Menjaga Silaturahmi dan Memaafkan Kesalahan Tetangga Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bertetangga. Perbedaan kebiasaan, persoalan batas tanah, kebisingan, atau masalah parkir dapat memicu perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan baik. Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga komunikasi, bersikap sabar, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Kebiasaan menyapa, mengunjungi ketika diperlukan, serta menghindari permusuhan berkepanjangan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat hubungan dengan tetangga. Pertama, menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang sopan. Jika ada tindakan yang mengganggu, sampaikan keberatan secara baik-baik tanpa menghina atau mempermalukan pihak lain. Kedua, tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, cari penjelasan secara langsung dengan cara yang santun. Ketiga, belajar memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Selama persoalan masih dapat diselesaikan secara wajar, sikap lapang dada dapat membantu mencegah konflik berkepanjangan. Keempat, tidak memperbesar perselisihan. Hindari menyebarkan masalah kepada orang lain apabila hal tersebut justru memperburuk keadaan. Meski demikian, menjaga hubungan baik tidak berarti membiarkan tindakan yang membahayakan atau melanggar hak. Jika terjadi ancaman, kekerasan, atau pelanggaran serius, kita tetap dapat meminta bantuan pihak berwenang melalui cara yang tepat. Dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan tanpa harus merusak hubungan bertetangga. Manfaat Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam Menerapkan adab bertetangga memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Beberapa di antaranya adalah: Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sikap saling menghormati membantu mengurangi gangguan dan perselisihan. Mempererat hubungan sosial. Tetangga yang saling mengenal lebih mudah membangun komunikasi dan kerja sama. Menumbuhkan kepedulian. Kebiasaan saling membantu membuat masyarakat lebih siap menghadapi kesulitan bersama. Menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik membantu menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi perselisihan besar. Mengamalkan ajaran Islam. Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW. Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika setiap orang berusaha memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Kita tidak perlu menunggu semua tetangga bersikap baik terlebih dahulu untuk mulai menunjukkan akhlak terpuji. Membangun Lingkungan yang Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri Adab bertetangga bukan hanya tentang menghindari perselisihan, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati orang lain, menjaga perkataan, berbagi makanan, menolong ketika dibutuhkan, dan memaafkan kesalahan merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat kebersamaan. Keteladanan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akhlak mulia perlu tercermin dalam hubungan dengan sesama, termasuk dengan orang-orang yang tinggal paling dekat dengan kita. Karena itu, membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian dapat dimulai dari rumah masing-masing. Dengan menjaga hak tetangga dan membiasakan diri untuk berbuat baik, kita turut menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL13/10/2026 | MBL-01
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi
SETIAP orang tua Muslim tentu mendambakan anak yang saleh dan salehah, beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama. Anak bukan hanya anugerah yang membawa kebahagiaan dalam keluarga, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang. Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan orang tua adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT memberikan petunjuk, menguatkan keimanan, memudahkan anak dalam beribadah, serta membimbing mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa. Al-Qur'an mengajarkan sejumlah doa untuk memohon keturunan yang baik. Beberapa di antaranya merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS, serta doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati. Lantas, apa saja doa memohon anak saleh dan salehah yang dapat diamalkan? Berikut bacaan, arti, dan maknanya, beserta ikhtiar mendidik anak agar tumbuh dalam kebaikan. 1. Doa dalam Surah Al-Furqan Ayat 74 Salah satu doa yang dapat diamalkan untuk memohon keluarga dan keturunan yang baik terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk hati serta agar diri sendiri dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa. Bacaan latin: Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama. Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74). Makna Doa Doa ini mengandung harapan agar keluarga tumbuh dalam keimanan, ketaatan, dan akhlak yang baik. Anak yang menjadi penyejuk hati bukan semata-mata anak yang membanggakan orang tua, tetapi juga anak yang berusaha menjalankan ajaran agama dan menghadirkan kebaikan di lingkungannya. Selain memohon keturunan yang baik, orang tua juga memohon agar dirinya menjadi teladan dalam ketakwaan. Artinya, harapan memiliki anak saleh dan salehah perlu disertai usaha memperbaiki diri, mulai dari menjaga salat, berkata jujur, bersikap sabar, hingga menghormati orang lain. Doa ini dapat dibaca setelah salat atau ketika bermunajat kepada Allah SWT. Tidak ada keharusan menetapkan jumlah bacaan tertentu untuk mengamalkannya. 2. Doa Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa singkat untuk memohon keturunan yang termasuk golongan orang saleh. Doa ini terdapat dalam Surah As-Saffat ayat 100. Bacaan latin: Rabbi hab li minas salihin. Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100). Makna Doa Doa ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan bukan satu-satunya harapan. Nabi Ibrahim AS juga memohon agar keturunannya menjadi bagian dari orang-orang yang saleh. Kesalehan merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang saleh dan salehah diharapkan memiliki keimanan yang kuat, menjaga ibadah, berperilaku baik, serta mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah. Bagi pasangan yang sedang menantikan kehadiran buah hati, doa ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keturunan kepada Allah SWT. Bagi orang tua yang telah memiliki anak, doa yang sama dapat diamalkan untuk memohon agar anak-anak senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Doa juga menjadi wujud penghambaan dan tawakal. Karena itu, orang tua hendaknya terus memohon kepada Allah SWT sembari melakukan ikhtiar yang baik dan tidak kehilangan harapan ketika keinginan belum terwujud sesuai waktu yang diharapkan. 3. Doa Nabi Zakaria AS Al-Qur'an juga mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika memohon keturunan yang baik. Doa tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 38. Bacaan latin: Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan tayyibatan innaka sami'ud du'a. Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38). Pelajaran dari doa Nabi Zakaria Kisah Nabi Zakaria AS mengajarkan tentang ketekunan dalam berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Beliau memohon keturunan yang baik, mengingatkan umat Islam bahwa Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya. Keturunan yang baik tidak hanya diukur dari kesehatan fisik atau keberhasilan duniawi. Keimanan, akhlak, dan perilaku yang terpuji juga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang diharapkan orang tua. Doa ini dapat diamalkan oleh pasangan yang mendambakan keturunan maupun orang tua yang memohon kebaikan bagi anak-anaknya. Permohonan juga dapat disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami, selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. 4. Doa Keturunan Rajin Mendirikan Salat Anak yang saleh dan salehah diharapkan tidak hanya memiliki perilaku yang baik, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mendirikan salat. Dalam Surah Ibrahim ayat 40, terdapat doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan salat. Bacaan latin: Rabbij'alni muqimas salati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du'a. Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40). Mengapa doa ini penting? Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. Dengan memohon agar diri sendiri dan keturunan senantiasa mendirikan salat, orang tua diingatkan bahwa pendidikan agama perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak untuk salat, tetapi juga memberikan contoh melalui kebiasaan beribadah secara konsisten. Ketika anak melihat orang tuanya menjaga salat, ia dapat belajar dari keteladanan yang nyata. Selain itu, ajarkan salat secara bertahap sesuai usia anak. Pendekatan yang lembut, penjelasan yang mudah dipahami, dan suasana keluarga yang mendukung dapat membantu anak mengenal ibadah dengan lebih baik. Doa ini sekaligus mengingatkan orang tua untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sendiri sebelum berharap anak mengikuti jalan kebaikan tersebut. 5. Doa agar Anak Saleh dan Mendapat Keberkahan Selain mengamalkan doa-doa dari Al-Qur'an, orang tua dapat memohon kepada Allah SWT menggunakan kalimat yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, memohon agar anak diberikan kesehatan, dilindungi dari keburukan, dibimbing dalam ketaatan, dan dimudahkan untuk berbuat baik kepada sesama. Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat diamalkan sebagai doa pribadi. Bacaan doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang saleh dan salehah. Jadikanlah mereka hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga salat. Lindungilah mereka dari perbuatan buruk, pergaulan yang menyesatkan, serta segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari jalan-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati di dunia dan bekal kebaikan bagi kami di akhirat. Amin.” Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis. Orang tua dapat menyesuaikan susunan kata dan menyebut nama anak dalam doanya. Hal terpenting bukan panjangnya rangkaian kalimat, melainkan ketulusan hati, keyakinan kepada Allah SWT, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar yang baik. 6. Kapan Waktu Baik Membaca Doa Anak Saleh? Pada dasarnya, doa untuk memohon kebaikan anak dapat dipanjatkan kapan saja. Tidak ada ketentuan bahwa doa memohon anak saleh dan salehah hanya boleh dibaca pada waktu tertentu. Meski demikian, ada beberapa kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Setelah salat wajib Setelah menunaikan salat wajib, orang tua dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa. Selain memohon ampunan serta kebaikan dunia dan akhirat, orang tua dapat memohon agar anak-anak diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam. Mendoakan anak secara rutin dapat menjadi pengingat bahwa mendidik mereka merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan pertolongan Allah SWT. Saat salat malam Salat malam, termasuk tahajud, dapat menjadi kesempatan untuk bermunajat dengan lebih khusyuk. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan keutamaan berdoa kepada Allah pada sepertiga malam terakhir. Orang tua dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memohon kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan keteguhan iman bagi anak-anaknya. Ketika sujud Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa. Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon kebaikan bagi anak-anaknya dengan tetap memperhatikan ketentuan doa dalam salat sesuai tuntunan fikih yang diikuti. Ketika anak menghadapi kesulitan Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak sedang sehat, berprestasi, atau menunjukkan perilaku yang membanggakan. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, menghadapi masalah pergaulan, atau sedang berusaha memperbaiki diri, orang tua juga perlu mendoakannya. Rasa kecewa hendaknya tidak membuat orang tua berhenti berharap kepada Allah SWT. Sebaliknya, doa dapat menjadi penguat kesabaran sekaligus dorongan untuk mencari cara terbaik dalam mendampingi anak. 7. Cara Mendidik Anak agar Tumbuh Saleh Doa merupakan ikhtiar spiritual yang penting, tetapi perlu disertai pendidikan, keteladanan, dan usaha nyata. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, melainkan juga lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua. 1. Memberikan teladan yang baik Anak banyak belajar melalui apa yang dilihat setiap hari. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam menjalankan ibadah, menjaga perkataan, bersikap jujur, dan menghormati orang lain. Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menjaga salatnya sendiri. Jika ingin anak berkata jujur, biasakan kejujuran dalam keluarga. Keteladanan membantu anak memahami bahwa ajaran Islam bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup. 2. Mengenalkan Al-Qur'an dan ajaran Islam sejak dini Orang tua dapat mengenalkan Al-Qur'an, doa sehari-hari, kisah para nabi, serta dasar-dasar akhlak Islam sesuai usia anak. Lakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan. Seiring bertambahnya usia, ajak anak memahami makna ibadah, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. 3. Membiasakan ibadah dalam keluarga Keluarga dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan tertentu. Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika mereka melakukan kesalahan. 4. Menanamkan akhlak mulia Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dengan perilaku terhadap sesama manusia. Ajarkan anak menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata sopan, menepati janji, meminta maaf ketika bersalah, dan membantu orang yang membutuhkan. 5. Memperhatikan lingkungan pergaulan Lingkungan dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak. Orang tua perlu mengenal teman-teman anak, memperhatikan aktivitasnya, dan membangun komunikasi yang terbuka. Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang bertanggung jawab, bukan pengawasan berlebihan. Ajarkan anak memilih pergaulan yang baik serta berani menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral. 6. Menasihati tanpa merendahkan Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan nasihat dan konsekuensi yang sesuai. Namun, hindari melabeli anak sebagai nakal, gagal, atau tidak berguna. Tegurlah perilakunya tanpa merendahkan martabatnya. Terus doakan kebaikannya, termasuk ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri. 7. Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian Orang tua dapat mengajarkan tanggung jawab melalui tugas sederhana, seperti merapikan barang, menjaga kebersihan, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membantu anggota keluarga. Ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia memahami akibat perbuatannya dan memperbaikinya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengakui kesalahan serta bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya. 8. Keutamaan Memiliki Anak Saleh Anak yang saleh dan salehah merupakan salah satu karunia berharga dalam Islam. Kesalehan anak tidak hanya membawa harapan akan kebaikan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan manfaat yang dapat terus dirasakan orang tua setelah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mendidik anak agar mengenal Allah SWT, menjalankan ajaran agama, dan terbiasa mendoakan orang tuanya. Meski demikian, kesalehan anak bukan sesuatu yang dapat dijamin hanya melalui satu doa. Anak tumbuh melalui berbagai proses, pengalaman, dan pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu terus memberikan pendidikan terbaik sembari memohon pertolongan Allah SWT. Anak yang saleh dan salehah juga diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, membantu sesama, maupun menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, tujuan mendidik anak bukan semata-mata agar orang tua merasa bangga, tetapi agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan. 9. Pertanyaan Umum tentang Doa Anak Saleh Apakah doa anak saleh boleh dibaca setiap hari? Ya. Orang tua boleh mendoakan kebaikan anak setiap hari. Beberapa doa yang dapat diamalkan antara lain doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Surah Ali Imran ayat 38, Surah As-Saffat ayat 100, dan Surah Ibrahim ayat 40. Tidak ada ketentuan umum bahwa doa-doa tersebut harus dibaca dengan jumlah tertentu agar permohonan dikabulkan. Apakah ibu dan ayah sama-sama boleh mendoakan anak? Tentu. Ibu dan ayah sama-sama dapat memohon agar anak menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan serta keteladanan yang baik. Bolehkah berdoa agar anak menjadi penghafal Al-Qur'an? Boleh. Orang tua dapat memohon agar anak mencintai Al-Qur'an, dimudahkan menghafalnya, memahami ajarannya, serta mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Permohonan tersebut hendaknya disertai pendampingan yang baik, pembelajaran sesuai kemampuan anak, dan penghargaan terhadap proses belajarnya. Bagaimana jika anak belum menunjukkan perilaku saleh? Jangan langsung berputus asa. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Orang tua dapat mengevaluasi pendekatan pendidikan, membuka komunikasi yang baik, memberikan nasihat secara bijaksana, dan terus mendoakan kebaikannya. Jika masalah yang dihadapi cukup berat, orang tua juga dapat mencari bantuan dari guru, konselor, atau pembimbing agama yang kompeten. Apakah pasangan yang belum memiliki anak boleh membaca doa memohon keturunan? Boleh. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Zakaria AS dalam Surah Ali Imran ayat 38 atau doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100. Di samping berdoa, pasangan dapat melakukan ikhtiar yang sesuai, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Belum hadirnya keturunan bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa doa seseorang tidak diterima Allah SWT. Doa Bagian dari Pendidikan Anak Memohon anak yang saleh dan salehah merupakan harapan yang dapat terus dipanjatkan oleh setiap orang tua Muslim. Al-Qur'an telah mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan untuk memohon keturunan yang baik, keluarga yang menenteramkan, serta anak-anak yang senantiasa menjaga ibadah. Namun, doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Keteladanan orang tua, pendidikan agama, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Semoga Allah SWT menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, menjadikan keluarga sebagai penyejuk hati, serta membimbing anak-anak agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Amin ya Rabbal alamin.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL13/10/2026 | MBL-01
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan
MENGELOLA keuangan bukan hanya soal memastikan pemasukan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan. Bagi seorang Muslim, harta merupakan amanah dari Allah SWT yang perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik. Karena itu, kelola keuangan Islam tidak hanya memperhatikan jumlah pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga sumber rezeki, prioritas kebutuhan, kewajiban terhadap keluarga, serta kepedulian kepada sesama. Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir dalam menggunakan hartanya. Prinsip ini dapat menjadi dasar dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat. 1. Pastikan Penghasilan Sumber Halal Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber penghasilan. Sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, seorang Muslim perlu memastikan bahwa pekerjaan, usaha, perdagangan, maupun investasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat. Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memperoleh makanan dari hasil usaha sendiri. Dalam Sunan Ibn Majah 2137 disebutkan bahwa makanan terbaik yang dikonsumsi seseorang adalah yang berasal dari hasil usahanya sendiri. Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja perlu menjalankan tanggung jawab dengan amanah, sedangkan pelaku usaha harus menghindari penipuan, kecurangan, menyembunyikan cacat barang, maupun mengurangi timbangan. Ketika menemukan transaksi yang meragukan, jangan terburu-buru mengejar keuntungan. Memahami akad, risiko, dan ketentuannya terlebih dahulu dapat membantu menjaga harta tetap berada dalam koridor yang baik. 2. Susun Anggaran dan Dahulukan Kebutuhan Setelah memastikan sumber pendapatan, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaannya. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan. Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan keluarga perlu menjadi prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah alokasi untuk keperluan lainnya disesuaikan dengan kemampuan. Membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Membeli sesuatu karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda promosi atau ingin mengikuti tren. Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Catatan di buku, spreadsheet, maupun aplikasi keuangan sudah cukup untuk membantu mengevaluasi pola pengeluaran dan menemukan pos yang dapat dikurangi. 3. Hindari Pemborosan dan Utang Konsumtif Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam menggunakan harta. Karena itu, pembelian impulsif dan gaya hidup berlebihan perlu dihindari. Diskon atau promosi memang dapat menghemat pengeluaran jika barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, membeli sesuatu hanya karena harganya sedang murah tetap dapat membuat keuangan menjadi tidak sehat. Penggunaan utang juga perlu dipertimbangkan dengan matang. Seorang Muslim perlu memahami akad dan konsekuensi finansial sebelum mengambil utang, terutama jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya berada di luar kemampuan. Hidup sesuai kemampuan bukan berarti harus mengurangi seluruh kenyamanan. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, seseorang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih tenang tanpa terbebani pengeluaran yang tidak perlu. 4. Siapkan Tabungan dan Dana Darurat Selain memenuhi kebutuhan hari ini, pengelolaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan di masa depan. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dapat membantu menghadapi berbagai keperluan yang sudah direncanakan. Dana darurat juga penting untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendesak. Perencanaan jangka panjang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, misalnya untuk pendidikan anak, tempat tinggal, maupun kebutuhan masa pensiun. Tidak perlu memulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten. 5. Sisihkan Harta untuk Zakat, Infak, dan Sedekah Harta dalam Islam tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban dan kepedulian sosial yang perlu diperhatikan, termasuk zakat bagi harta yang telah memenuhi ketentuannya. Zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, nisab, haul, kadar, serta golongan penerima. Karena itu, perhitungannya perlu dilakukan sesuai ketentuan syariat. Selain zakat, infak dan sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan sesuai kemampuan. Kebiasaan berbagi mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan. Dengan memasukkan zakat, infak, dan sedekah dalam perencanaan keuangan, pengelolaan harta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ibadah. 6. Bangun Komunikasi Keuangan dalam Keluarga Pengelolaan keuangan juga berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami dan istri dapat membicarakan pemasukan, kebutuhan, kewajiban, tabungan, serta tujuan finansial keluarga secara terbuka. Setiap keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tidak ada satu pola anggaran yang harus diterapkan oleh semua orang. Yang penting adalah menjaga prinsip halal, bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan. Anak juga dapat dikenalkan dengan kebiasaan finansial sejak dini. Misalnya dengan mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta mengenalkan pentingnya berbagi. Evaluasi sederhana setiap bulan dapat membantu keluarga mengetahui kondisi keuangannya. Periksa kembali pemasukan, pengeluaran terbesar, jumlah tabungan, kewajiban yang telah dibayarkan, dan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan. Pada akhirnya, kelola keuangan Islam bukan semata-mata tentang bagaimana memiliki lebih banyak uang. Lebih dari itu, pengelolaan harta diarahkan agar kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara yang halal, keluarga tetap terjaga, dan sebagian rezeki dapat memberikan manfaat bagi sesama. Dengan mengatur pemasukan secara bijak, menghindari pemborosan, mempersiapkan masa depan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, harta dapat dikelola sebagai amanah sekaligus menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL08/10/2026 | MBL-01
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim
DALAM Islam, adab dan akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah kepada Allah SWT juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga masyarakat di sekitarnya. Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam hal akhlak. Beliau mengajarkan kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang dalam berinteraksi dengan sesama. Karena itu, menjaga perilaku bukan sekadar menunjukkan kepribadian yang baik, tetapi juga bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Adab dan Akhlak dalam Islam Menjaga adab berarti berusaha menempatkan perkataan, sikap, dan tindakan sesuai dengan tuntunan Islam. Hal tersebut dapat dimulai dari perkara sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak, serta membantu mereka yang membutuhkan. Islam juga memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang menjaga lisannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman untuk saling mengejek, mencela, maupun memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara. Perkataan yang kasar, hinaan, fitnah, atau ucapan yang menyakiti orang lain dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar. Menjaga adab juga berarti mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Saat marah atau berbeda pendapat, seseorang perlu berusaha menahan emosi agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Kedudukan Penting Akhlak Baik Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang membiasakan perkataan keji. Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara sederhana, melainkan memiliki nilai besar dalam kehidupan seorang Muslim. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan rasa aman, bukan justru menimbulkan kerugian atau ketakutan bagi orang lain. Dengan demikian, akhlak yang baik tidak cukup hanya terlihat dalam aktivitas ibadah. Nilainya perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain. Menerapkan Adab dalam Kehidupan Di lingkungan keluarga, menjaga adab dapat dimulai dengan menghormati orang tua, memperlakukan pasangan dan saudara dengan baik, serta membangun komunikasi tanpa penghinaan maupun kekerasan. Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak dapat diwujudkan dengan menghormati tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan menghargai perbedaan. Begitu pula di tempat kerja atau sekolah. Bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, menjaga amanah, serta tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari penerapan akhlak Islam. Adab juga berlaku di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Menjaga perilaku di media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak dalam kehidupan modern. Membiasakan Diri Berakhlak Baik Menjaga adab membutuhkan latihan dan konsistensi. Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki niat. Berbuat baik kepada orang lain seharusnya dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian. Kebiasaan menjaga lisan juga perlu dilatih. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik. Mempelajari kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi cara lain untuk memahami bagaimana akhlak diterapkan dalam berbagai situasi. Keteladanan beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, maupun orang yang berbeda pendapat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi diri juga penting. Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan. Pada akhirnya, menjaga adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam perilaku nyata. Meneladani Rasulullah SAW berarti terus berusaha menjadi pribadi yang jujur, sabar, lembut, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain. Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk menjaga lisan, memperbaiki perilaku, menghormati sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL08/10/2026 | MBL-01
Mendidik Anak agar Saleh, Ini Perlu Dibiasakan Orang Tua!
Mendidik Anak agar Saleh, Ini Perlu Dibiasakan Orang Tua!
ANAK merupakan amanah yang dititipkan Allah SWT kepada orang tua. Karena itu, pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan akidah, ibadah, akhlak, dan kepribadian. Dalam Islam, proses tersebut perlu dibangun sejak dini melalui keteladanan, kasih sayang, pembiasaan, serta doa. Anak tidak hanya belajar dari nasihat yang disampaikan orang tua, tetapi juga dari sikap dan kebiasaan yang mereka lihat setiap hari. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6 agar orang-orang beriman menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Ayat tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab orang tua dalam membimbing dan menjaga keluarganya. Berikut sejumlah hal yang dapat dilakukan orang tua agar anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh. 1. Tanamkan Tauhid Sejak Dini Pendidikan anak dapat dimulai dengan mengenalkan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Pengenalan tersebut tidak harus melalui penjelasan yang rumit. Orang tua dapat mengajak anak mengenali kebesaran Allah melalui hal-hal sederhana di sekitarnya. Ketika melihat langit, tumbuhan, hewan, atau makanan, misalnya, orang tua dapat mengajak anak memahami bahwa semua itu merupakan ciptaan dan nikmat dari Allah SWT. Al-Qur'an juga memberikan contoh pendidikan tauhid melalui nasihat Luqman kepada anaknya agar tidak mempersekutukan Allah. Pesan tersebut menunjukkan bahwa keimanan menjadi fondasi penting dalam pendidikan seorang anak. Pembiasaan sederhana seperti mengucapkan basmalah sebelum makan, hamdalah setelah memperoleh nikmat, serta menghafalkan doa sehari-hari juga dapat membantu anak mengenal Allah dalam aktivitasnya. Yang terpenting, pendidikan tauhid perlu disertai keteladanan. Nasihat akan lebih mudah diterima ketika anak melihat orang tuanya juga menjalankan ibadah dan mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari. 2. Jadilah Teladan bagi Anak Anak banyak belajar dengan meniru. Perkataan, kebiasaan, cara menyelesaikan masalah, hingga cara orang tua memperlakukan orang lain dapat menjadi contoh yang mereka ikuti. Jika ingin anak terbiasa salat, misalnya, orang tua perlu menunjukkan bahwa salat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Begitu pula dengan akhlak. Kebiasaan mengucapkan terima kasih, meminta maaf, berbicara sopan, menepati janji, dan menghormati orang lain dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Sebaliknya, perkataan kasar, kebiasaan berbohong, mudah marah, atau mencela orang lain juga berpotensi ditiru anak. Orang tua tentu tidak harus selalu sempurna. Ketika melakukan kesalahan, meminta maaf kepada anak dan berusaha memperbaikinya justru dapat mengajarkan tanggung jawab, kerendahan hati, dan keberanian mengakui kesalahan. 3. Biasakan Anak Melaksanakan Salat Salat perlu dikenalkan kepada anak secara bertahap sesuai usia dan kemampuannya. Rasulullah SAW memberikan petunjuk agar orang tua memerintahkan anak melaksanakan salat ketika berusia tujuh tahun. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai hasan sahih oleh Al-Albani. Pembiasaan dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti mengajak anak berwudu, salat berjamaah, menyediakan perlengkapan salat, serta memberikan apresiasi atas usaha mereka. Anak juga perlu memahami bahwa salat bukan semata-mata kewajiban yang dilakukan karena takut hukuman. Jelaskan bahwa salat merupakan bentuk penghambaan dan komunikasi seorang Muslim kepada Allah SWT. Kemampuan setiap anak berbeda. Ada yang cepat menghafal bacaan salat, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama. Kesabaran orang tua akan membantu membentuk kebiasaan tersebut tanpa membuat anak merasa tertekan. 4. Dekatkan Anak dengan Al-Qur'an dan Doa Rumah dapat menjadi tempat pertama bagi anak untuk mengenal Al-Qur'an. Orang tua dapat membacakan Al-Qur'an, mengajak anak menghafal surat-surat pendek, serta menjelaskan makna ayat dengan bahasa yang sesuai usia. Belajar Al-Qur'an tidak harus selalu dilakukan dalam suasana formal. Anak dapat belajar melalui cerita, permainan, pengulangan, atau sesi singkat yang dilakukan secara rutin. Doa-doa sehari-hari juga penting dikenalkan sejak kecil, seperti doa sebelum dan sesudah makan, sebelum tidur, bangun tidur, masuk dan keluar rumah, serta ketika belajar. Kegiatan membaca Al-Qur'an bersama, misalnya setelah Magrib, dapat menjadi kebiasaan keluarga sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Namun, pendidikan Al-Qur'an sebaiknya tidak hanya berorientasi pada jumlah hafalan. Anak perlu dibimbing memahami bahwa Al-Qur'an merupakan petunjuk kehidupan dan nilai-nilainya perlu diterapkan dalam keseharian. 5. Ajarkan Akhlak dan Adab Kesalehan anak tidak hanya terlihat dari banyaknya hafalan atau ibadah, tetapi juga dari perilakunya terhadap orang lain. Ajarkan anak untuk berkata jujur, mengucapkan salam, meminta izin, berterima kasih, meminta maaf, menghormati orang yang lebih tua, serta menyayangi yang lebih muda. Nilai kasih sayang juga dapat dikenalkan melalui hal-hal sederhana, seperti berbagi makanan, membantu orang yang membutuhkan, tidak menyakiti hewan, dan menjaga kebersihan lingkungan. Orang tua sebaiknya tidak hanya mengoreksi ketika anak melakukan kesalahan, tetapi juga memberikan apresiasi ketika mereka menunjukkan perilaku baik. Pujian, pelukan, atau ucapan terima kasih dapat menjadi bentuk penghargaan yang membuat anak memahami bahwa kebaikan memiliki nilai. 6. Bangun Hubungan yang Penuh Kasih Sayang Pendidikan akan lebih mudah diterima ketika anak merasa aman, dicintai, dan didengarkan. Karena itu, orang tua perlu menyediakan waktu untuk berbicara dengan anak, mengetahui aktivitas mereka, serta memahami hal-hal yang membuat mereka senang maupun menghadapi kesulitan. Mendengarkan juga merupakan bagian dari pendidikan. Tidak setiap cerita anak harus langsung dijawab dengan nasihat panjang. Terkadang, mereka hanya membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan dan memahami perasaannya. Kasih sayang dapat ditunjukkan melalui perhatian dan sentuhan yang wajar, seperti memeluk atau menggandeng anak. Namun, kasih sayang tetap perlu disertai batasan. Anak harus memahami bahwa ada perilaku yang boleh dilakukan dan ada pula yang tidak diperbolehkan. Ketegasan dapat diberikan tanpa merendahkan atau menghilangkan rasa aman anak di dalam keluarga. 7. Dampingi Pertemanan dan Penggunaan Teknologi Lingkungan anak kini tidak hanya berasal dari rumah dan sekolah. Internet, media sosial, video, permainan, serta berbagai konten digital turut memengaruhi cara mereka berpikir dan bersikap. Orang tua perlu mengetahui lingkungan pertemanan anak sekaligus memahami konten yang mereka konsumsi. Pengawasan bukan berarti selalu mencurigai anak, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga mereka dari pengaruh yang tidak baik. Aturan penggunaan gawai dapat dibuat secara jelas, misalnya mengenai durasi penggunaan, jenis konten yang boleh diakses, serta waktu tanpa perangkat elektronik seperti saat makan dan menjelang tidur. Anak juga perlu dibimbing memahami bahwa tidak semua informasi di internet benar. Agar lebih mudah diterapkan, orang tua dapat menyediakan kegiatan alternatif seperti membaca, berolahraga, membantu pekerjaan rumah, bermain bersama keluarga, mengikuti kegiatan keagamaan, atau melakukan aktivitas kreatif. 8. Jangan Lupakan Doa Orang Tua Mendidik anak membutuhkan ikhtiar, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Karena itu, doa menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan anak. Orang tua dapat memohon agar anak diberikan keimanan, akhlak yang baik, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, serta dijauhkan dari pergaulan dan perbuatan yang buruk. Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak menghadapi masalah. Ketika keadaan mereka baik pun, orang tua dapat memohon agar kebaikan tersebut dijaga dan terus berkembang. Setiap anak memiliki karakter dan proses pertumbuhan yang berbeda. Ketika perkembangan mereka belum sesuai harapan, orang tua perlu tetap bersabar dan tidak mudah berputus asa. Mendidik Anak adalah Proses Panjang Mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh bukanlah proses instan. Dibutuhkan ilmu, keteladanan, pembiasaan, kasih sayang, kesabaran, dan doa yang terus dilakukan. Orang tua tidak harus menjadi sempurna untuk memberikan pendidikan yang baik. Yang terpenting adalah terus berusaha menciptakan lingkungan keluarga yang mengenalkan anak kepada Allah SWT, membiasakan ibadah, menanamkan akhlak, serta membimbing mereka menghadapi perkembangan zaman. Dengan pendidikan yang dilakukan secara konsisten dan penuh kasih sayang, setiap kebiasaan baik yang ditanamkan sejak kecil dapat menjadi bekal bagi anak dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang Muslim.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL08/10/2026 | MBL-01
Rabiul Akhir, Momentum Memperkuat Ibadah dan Menebar Kebaikan
Rabiul Akhir, Momentum Memperkuat Ibadah dan Menebar Kebaikan
PERGANTIAN bulan Hijriah dapat menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki kualitas ibadah. Salah satunya adalah Rabiul Akhir, bulan keempat dalam kalender Hijriah setelah Rabiul Awal dan sebelum Jumadil Awal. Rabiul Akhir tidak memiliki amalan khusus yang secara langsung ditetapkan syariat. Karena itu, keberkahannya tidak perlu dicari melalui ritual tertentu yang tidak memiliki landasan. Sebaliknya, bulan ini dapat diisi dengan berbagai amal saleh yang memang dianjurkan dalam Islam, seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, bersedekah, menjaga silaturahmi, dan memperbaiki akhlak. Memahami Keberkahan Rabiul Akhir Keberkahan tidak selalu berarti bertambahnya harta atau kemudahan dalam urusan dunia. Hati yang lebih tenang, kesehatan yang digunakan untuk kebaikan, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk istiqamah dalam beribadah juga merupakan bentuk keberkahan. Karena itu, Rabiul Akhir dapat menjadi pengingat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus meningkatkan kepedulian kepada sesama. Amal yang dilakukan pun tidak hanya dinilai dari banyaknya aktivitas, tetapi juga dari keikhlasan dan kualitasnya. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Allah melihat hati dan amal manusia. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih Muslim. Pesan ini mengajarkan bahwa ibadah seharusnya dilakukan dengan niat yang tulus, bukan sekadar mengejar penampilan atau pujian dari orang lain. Mengisi Rabiul Akhir dengan Amal Saleh Ada banyak cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengisi bulan ini dengan kebaikan. Salah satunya dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an. Tidak harus langsung dengan target yang besar, beberapa ayat atau halaman setiap hari dapat menjadi kebiasaan baik jika dilakukan secara konsisten. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit. Hadis tersebut tercantum dalam Sahih al-Bukhari 6464. Selain membaca Al-Qur'an, waktu sehari-hari dapat diisi dengan memperbanyak dzikir dan doa. Doa dapat dipanjatkan untuk memohon ampunan, kesehatan, rezeki yang halal, ilmu yang bermanfaat, keteguhan iman, serta kebaikan dunia dan akhirat. Tidak perlu menetapkan doa tertentu sebagai doa khusus Rabiul Akhir tanpa dasar yang jelas. Sedekah juga dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan keberkahan. Tidak harus dalam jumlah besar, berbagi makanan, membantu orang yang kesulitan, menyisihkan sebagian rezeki, maupun memberikan waktu dan tenaga untuk membantu sesama merupakan bentuk kebaikan yang bernilai. Memperbaiki Akhlak dan Menjaga Istiqamah Keberkahan juga dapat diupayakan dengan memperbaiki hubungan dengan sesama. Menjaga ucapan, menghindari ghibah dan fitnah, menepati amanah, menghormati orang tua, serta mempererat silaturahmi merupakan bagian dari akhlak yang perlu terus dijaga. Di era media sosial, menjaga lisan juga berarti berhati-hati dalam menulis dan membagikan informasi. Jangan sampai keinginan melakukan kebaikan justru disertai dengan menyebarkan berita yang belum diketahui kebenarannya. Yang tidak kalah penting, kebaikan yang dimulai pada Rabiul Akhir sebaiknya tidak berhenti ketika bulan berganti. Membaca Al-Qur'an secara rutin, berdzikir, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan keluarga dapat terus dipertahankan sesuai kemampuan. Pada akhirnya, Rabiul Akhir bukanlah bulan dengan ritual khusus, tetapi dapat menjadi momentum untuk kembali mengingat Allah SWT dan memperbaiki diri. Dengan amal yang memiliki landasan, niat yang ikhlas, serta konsistensi dalam kebaikan, semoga bulan ini membawa keberkahan yang tidak hanya dirasakan sesaat, tetapi juga menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL07/10/2026 | MBL-01
Sedekah Subuh di Rabiul Akhir, Membiasakan Berbagi Sejak Pagi
Sedekah Subuh di Rabiul Akhir, Membiasakan Berbagi Sejak Pagi
BULAN Hijriah dapat menjadi kesempatan bagi seorang Muslim untuk melakukan muhasabah dan meningkatkan amal saleh. Salah satunya dengan membangun kebiasaan bersedekah, termasuk sedekah yang dilakukan pada pagi hari setelah salat Subuh. Rabiul Akhir merupakan bulan keempat dalam kalender Hijriah, setelah Rabiul Awal dan sebelum Jumadil Ula. Bulan ini tidak memiliki ketentuan khusus yang menjadikan sedekah subuh sebagai ibadah dengan keutamaan tertentu. Namun, bersedekah tetap merupakan amal yang dianjurkan dalam Islam dan dapat dilakukan kapan saja sesuai kemampuan. Karena itu, sedekah subuh di Rabiul Akhir dapat dijadikan sebagai sarana melatih keikhlasan, kepedulian, dan kebiasaan berbagi. Tujuannya bukan menetapkan ibadah baru, melainkan menjadikan pergantian bulan sebagai pengingat untuk memperbanyak kebaikan. Memahami Sedekah Subuh Secara sederhana, sedekah subuh merupakan kebiasaan memberikan sedekah pada pagi hari, khususnya setelah menunaikan salat Subuh. Bentuknya tidak terbatas pada uang, tetapi dapat berupa makanan, bantuan, tenaga, maupun kebaikan lain yang memberikan manfaat. Sedekah juga tidak harus dilakukan dalam jumlah besar. Seseorang dapat menyisihkan sebagian rezekinya sesuai kemampuan tanpa mengabaikan kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Konsistensi dan keikhlasan lebih penting daripada mengejar nominal tertentu. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari disebutkan bahwa setiap pagi dua malaikat turun. Salah satunya berdoa agar Allah memberikan ganti kepada orang yang berinfak, sedangkan yang lain mendoakan kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya. Al-Qur'an juga memberikan gambaran mengenai besarnya balasan bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Dalam QS Al-Baqarah ayat 261, Allah menggambarkan infak seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji. Sedekah Subuh Bukan Amalan Khusus Penting untuk membedakan antara anjuran bersedekah dengan klaim mengenai keutamaan khusus. Tidak terdapat dasar yang kuat untuk menyatakan bahwa sedekah subuh memiliki pahala tertentu hanya karena dilakukan pada bulan Rabiul Akhir. Sedekah tetap menjadi amal yang dianjurkan sepanjang waktu. Begitu pula Rabiul Akhir dapat diisi dengan berbagai amal saleh lainnya, seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, memperbanyak ibadah sunnah, dan membantu sesama. Karena itu, tidak perlu menetapkan angka, bacaan, atau tata cara tertentu sebagai kewajiban dalam sedekah subuh apabila tidak memiliki dasar syariat yang jelas. Yang terpenting adalah niat karena Allah, kemampuan untuk berbagi, serta memastikan bantuan diberikan dengan cara yang baik. Sedekah juga perlu dijaga dari sikap menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti hati penerimanya. Berbagi seharusnya menjadi bentuk ibadah dan kepedulian, bukan sarana mencari pujian atau pengakuan. Cara Membiasakan Sedekah Subuh Sedekah subuh dapat dimulai dengan langkah sederhana. Setelah salat Subuh, seseorang dapat menyisihkan sejumlah uang sesuai kemampuan untuk kemudian disalurkan kepada pihak yang membutuhkan. Bagi yang ingin membangun kebiasaan, menyediakan kotak sedekah di rumah dapat menjadi pilihan. Dana yang terkumpul kemudian dapat diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, lembaga sosial terpercaya, masjid, atau pihak lain yang membutuhkan. Sedekah juga dapat dilakukan melalui layanan donasi digital. Namun, pastikan lembaga atau kanal yang digunakan resmi, transparan, dan dapat dipercaya agar dana yang diberikan benar-benar sampai kepada penerima manfaat. Jika kondisi keuangan sedang terbatas, tidak perlu memaksakan nominal tertentu. Memberikan makanan, membantu orang tua, menolong tetangga, atau memberikan tenaga dan waktu juga merupakan bentuk kebaikan yang dapat dilakukan. Menjadikan Sedekah sebagai Kebiasaan Nilai penting dari sedekah subuh bukan hanya pada pemberian yang dilakukan, tetapi juga pada kebiasaan baik yang dibangun. Bersedekah secara rutin dapat melatih seseorang menjadi lebih dermawan, bersyukur, dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari nominal kecil dan realistis. Mengaitkannya dengan rutinitas setelah salat Subuh juga dapat membantu agar sedekah lebih mudah dilakukan secara konsisten. Yang tidak kalah penting adalah menjaga niat. Sedekah dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan sebagai jaminan bahwa seluruh masalah kehidupan akan langsung hilang. Setelah berikhtiar dan bersedekah, seorang Muslim tetap perlu bekerja, berdoa, serta menjalankan kewajiban lainnya. Pada akhirnya, Rabiul Akhir dapat menjadi momentum untuk memulai kebiasaan baik, termasuk membiasakan diri berbagi sejak pagi. Sedekah subuh bukan amalan khusus yang hanya berlaku pada bulan ini, tetapi kebiasaan sederhana yang dapat terus dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya. Semoga setiap sedekah yang diberikan dengan ikhlas menjadi keberkahan bagi muzaki sekaligus menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL07/10/2026 | MBL-01
Zakat Wujud Kepedulian Sosial, Bantu Mustahik hingga Dukung Pemberdayaan
Zakat Wujud Kepedulian Sosial, Bantu Mustahik hingga Dukung Pemberdayaan
ZAKAT tidak hanya menjadi kewajiban bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Di tengah masih adanya masyarakat yang menghadapi keterbatasan pangan, pendidikan, kesehatan, maupun akses ekonomi, zakat dapat menjadi salah satu bentuk kepedulian yang diwujudkan dalam bantuan nyata. Ketika dikelola secara amanah dan disalurkan sesuai ketentuan, zakat dapat membantu meringankan beban mustahik sekaligus mendukung upaya peningkatan kesejahteraan. Manfaatnya pun tidak selalu berhenti pada bantuan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi dapat dikembangkan melalui berbagai program pemberdayaan. Zakat dan Peranannya bagi Mustahik Dalam syariat Islam, mustahik merupakan orang atau kelompok yang berhak menerima zakat. Terdapat delapan golongan penerima zakat sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 60, yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharim, fisabilillah, dan ibnu sabil. Bagi mereka yang berada dalam kondisi sulit, zakat dapat menjadi penopang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Bantuan pangan, misalnya, dapat membantu keluarga melewati masa ketika penghasilan belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, pendayagunaan zakat juga dapat diarahkan untuk membantu mustahik membangun kemandirian. Dukungan pendidikan, layanan kesehatan, modal usaha, pelatihan keterampilan, hingga program kemanusiaan dapat menjadi bagian dari pemanfaatan dana zakat sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan pendekatan tersebut, zakat tidak hanya menjawab kebutuhan sesaat, tetapi juga membuka peluang bagi mustahik untuk memperbaiki kondisi kehidupannya. Zakat sebagai Instrumen Kepedulian Sosial Kesenjangan sosial tidak hanya terlihat dari perbedaan pendapatan. Akses terhadap pendidikan, kesehatan, pangan, tempat tinggal, dan kesempatan ekonomi juga turut menentukan kualitas hidup seseorang. Islam menempatkan zakat sebagai salah satu instrumen yang menghubungkan kewajiban ibadah dengan kepedulian terhadap kondisi sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka dengan zakat itu...” Ayat tersebut menunjukkan dimensi penyucian dalam kewajiban zakat. Pada saat yang sama, harta yang ditunaikan oleh muzaki dapat memberikan manfaat kepada golongan yang telah ditetapkan sebagai penerima zakat. Karena itu, zakat memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar perpindahan sebagian harta dari muzaki kepada mustahik. Jika dikelola secara profesional, dana zakat dapat mendukung berbagai program sosial dan pemberdayaan yang disusun berdasarkan kebutuhan penerima manfaat. Program pendidikan dapat membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan belajar. Layanan kesehatan dapat meringankan beban pengobatan, sementara program ekonomi dapat membantu mustahik memiliki sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan. Pendekatan tersebut membuat zakat dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk mengurangi kesenjangan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat. Dari Zakat Menjadi Manfaat Setiap zakat yang ditunaikan membawa amanah untuk dikelola dan disalurkan kepada pihak yang berhak. Karena itu, pengelolaan zakat yang tepat sasaran menjadi hal penting agar dana yang dihimpun benar-benar menjawab kebutuhan mustahik. Zakat dapat hadir dalam berbagai bentuk manfaat, mulai dari membantu memenuhi kebutuhan pangan hingga membuka akses pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan bantuan kemanusiaan. Di sinilah zakat memperlihatkan kekuatan sosialnya. Kepedulian seorang muzaki dapat bertemu dengan kebutuhan seorang mustahik dan kemudian diwujudkan dalam program yang memberikan manfaat nyata. Menunaikan zakat pun bukan hanya tentang mengeluarkan sebagian harta, tetapi juga tentang menjalankan kewajiban kepada Allah SWT sekaligus mengambil bagian dalam membantu sesama. Tunaikan zakat melalui kanal resmi BAZNAS dan jadikan sebagian rezeki sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL05/10/2026 | MBL-01
Sedekah untuk Sesama, Dari Kebaikan Kecil jadi Manfaat Lebih Luas
Sedekah untuk Sesama, Dari Kebaikan Kecil jadi Manfaat Lebih Luas
SEDEKAH merupakan salah satu bentuk kepedulian yang dapat dilakukan untuk membantu orang lain. Dalam Islam, sedekah tidak terbatas pada pemberian uang dalam jumlah besar. Makanan, tenaga, ilmu, maupun berbagai bentuk kebaikan lainnya juga dapat menjadi bagian dari sedekah. Bagi penerima, sedekah dapat membantu meringankan kebutuhan sehari-hari. Bagi pemberi, sedekah menjadi salah satu bentuk ibadah sekaligus sarana menumbuhkan rasa syukur dan empati. Ketika dilakukan bersama-sama, kebiasaan berbagi juga dapat memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. BAZNAS menjelaskan bahwa sedekah merupakan harta atau nonharta yang dikeluarkan di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Artinya, ruang untuk bersedekah sangat luas dan dapat dilakukan siapa saja sesuai kemampuan. Di tengah berbagai persoalan sosial dan ekonomi, kontribusi yang diberikan secara rutin dapat dikumpulkan menjadi dukungan yang lebih besar. Dana tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, maupun program kemanusiaan. Sedekah Tidak Harus Menunggu Berlebih Salah satu hal penting dalam bersedekah adalah tidak perlu menunggu memiliki kelebihan harta dalam jumlah besar. Nilai manfaatnya tidak semata-mata ditentukan oleh nominal yang diberikan, tetapi juga oleh ketepatan sasaran dan konsistensi dalam berbagi. Bagi keluarga yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi, bantuan sederhana dapat memiliki arti yang besar. Begitu pula dengan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak dari keluarga kurang mampu, dukungan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan, atau modal bagi pelaku usaha kecil. Karena itu, sedekah dapat dimulai dari jumlah yang ringan dan disesuaikan dengan kemampuan. Menyisihkan sebagian rezeki secara rutin dapat menjadi kebiasaan sederhana untuk membangun kepedulian sekaligus menghadirkan manfaat bagi orang lain. Dampak Sedekah bagi Masyarakat Jika dihimpun dan dikelola dengan baik, sedekah dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Bentuknya pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang menerima bantuan. 1. Meringankan Beban Ekonomi Sedekah dapat membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga. Bagi keluarga yang penghasilannya terbatas atau sedang menghadapi kondisi tertentu, bantuan tersebut dapat menjadi penopang untuk melewati masa sulit. 2. Mendukung Pendidikan Sedekah juga dapat dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan, mulai dari biaya sekolah hingga perlengkapan belajar. Dukungan semacam ini dapat membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan akses pendidikan. Dalam jangka panjang, pendidikan menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang yang lebih baik. 3. Membantu Akses Kesehatan Kondisi ekonomi terkadang membuat sebagian masyarakat kesulitan mendapatkan layanan kesehatan. Program sosial yang bersumber dari dana sedekah dapat menjadi salah satu bentuk dukungan bagi mereka yang membutuhkan. Bantuan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan kesehatan yang mendesak. 4. Mendorong Kemandirian Ekonomi Sedekah juga dapat disalurkan dalam bentuk program pemberdayaan. Salah satunya melalui dukungan usaha bagi masyarakat yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk mengembangkan sumber penghasilan. Bantuan modal dapat digunakan untuk membeli bahan baku, menambah perlengkapan usaha, atau mengembangkan kegiatan ekonomi. Ketika usaha mulai berkembang, penerima memiliki peluang untuk memperoleh penghasilan yang lebih mandiri. 5. Memperkuat Kepedulian Sosial Kebiasaan berbagi dapat menumbuhkan empati dan mempererat hubungan antarmanusia. Ketika semakin banyak orang terbiasa menyisihkan sebagian yang dimiliki untuk membantu sesama, kepedulian sosial pun dapat tumbuh menjadi gerakan bersama. Kebaikan Kecil Terhimpun jadi Manfaat Besar Dampak sedekah tidak selalu terlihat dari nominal yang diberikan oleh satu orang. Sedekah dalam jumlah kecil, apabila dilakukan secara rutin dan dihimpun bersama, dapat menjadi sumber manfaat yang lebih besar. Misalnya, dana yang terkumpul dapat digunakan untuk membantu kebutuhan pendidikan seorang anak dari keluarga kurang mampu. Bantuan tersebut dapat membuatnya tetap bersekolah dan memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik. Hal serupa dapat terjadi pada pelaku usaha kecil. Dukungan modal yang mungkin terlihat sederhana bagi pemberi dapat membantu penerima membeli bahan baku atau perlengkapan usaha. Jika kegiatan ekonominya berkembang, bantuan tersebut dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian. Karena itu, tidak ada alasan untuk menunggu memiliki harta berlebih sebelum mulai berbagi. Sedekah dapat dimulai dari kemampuan yang ada, dilakukan secara konsisten, dan disalurkan melalui pihak yang amanah. Sedekah Lebih Mudah dengan Layanan Digital Perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah menyalurkan ZIS tanpa harus datang langsung ke kantor lembaga amil. BAZNAS menyediakan layanan pembayaran digital yang dapat digunakan masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, maupun sedekah. Kemudahan ini juga tersedia melalui website BAZNAS Provinsi Lampung. Masyarakat dapat mengakses layanan pembayaran secara online, memilih jenis dana yang ingin disalurkan, kemudian menyelesaikan transaksi menggunakan metode pembayaran yang tersedia. Cara Menyalurkan Sedekah melalui Website BAZNAS Provinsi Lampung Berikut langkah yang dapat dilakukan: 1. Buka website BAZNAS Provinsi Lampung Akses lampung.baznas.go.id, kemudian pilih layanan pembayaran ZIS yang tersedia. 2. Pilih jenis dana Pilih sedekah atau jenis dana yang ingin ditunaikan sesuai kebutuhan. 3. Tentukan nominal Masukkan nominal sedekah sesuai kemampuan. Tidak perlu menunggu jumlah besar untuk memulai. 4. Pilih metode pembayaran Gunakan metode pembayaran yang tersedia pada layanan BAZNAS Provinsi Lampung dan ikuti petunjuk transaksi. 5. Periksa kembali data pembayaran Pastikan nominal dan informasi pembayaran sudah sesuai sebelum transaksi diselesaikan. 6. Simpan bukti transaksi Setelah pembayaran berhasil, simpan bukti transaksi sebagai dokumentasi. Dengan layanan digital, sedekah dapat ditunaikan dengan lebih praktis dari mana saja. Dana yang dihimpun kemudian dikelola melalui lembaga resmi untuk disalurkan dalam berbagai program sesuai kebutuhan masyarakat dan ketentuan yang berlaku. Dari Sedekah jadi Gerakan Kepedulian Sedekah bukan hanya tentang berapa banyak yang diberikan, tetapi tentang kemauan untuk berbagi dan menjaga kepedulian terhadap sesama. Dari kontribusi kecil yang dilakukan secara rutin, terkumpul kekuatan yang dapat membantu lebih banyak orang. Manfaatnya dapat hadir dalam bentuk makanan untuk keluarga yang membutuhkan, dukungan pendidikan bagi anak-anak, layanan kesehatan, bantuan kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi. Karena itu, tidak perlu menunggu memiliki lebih untuk berbuat baik. Sisihkan sebagian rezeki sesuai kemampuan dan salurkan melalui lembaga yang terpercaya. Sedekah melalui layanan resmi BAZNAS Provinsi Lampung dapat menjadi langkah sederhana untuk berbagi sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL05/10/2026 | MBL-01
Kepedulian Sosial dalam Islam, Wujudkan melalui Zakat, Infak, dan Sedekah
Kepedulian Sosial dalam Islam, Wujudkan melalui Zakat, Infak, dan Sedekah
KEPEDULIAN sosial merupakan sikap peka terhadap kondisi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan bantuan. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan individualistis, kepedulian terhadap sesama menjadi nilai penting agar hubungan antarmanusia tetap terjaga. Dalam Islam, kepedulian sosial tidak hanya berkaitan dengan nilai kemanusiaan, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah. Seorang Muslim tidak hanya memiliki hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah), tetapi juga dituntut menjaga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian tersebut adalah melalui zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Ketiganya memberikan ruang bagi umat Islam untuk berbagi sesuai ketentuan dan kemampuan masing-masing. Mengapa Kepedulian Sosial Penting dalam Islam? Islam memberikan perhatian besar terhadap kehidupan sosial. Banyak ajaran yang mendorong umat untuk membantu fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa, serta orang lain yang berada dalam kesulitan. Kepedulian terhadap sesama juga berkaitan dengan keimanan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seseorang belum sempurna imannya hingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dalam kehidupan bermasyarakat, kepedulian tersebut dapat membantu mengurangi kesenjangan antara mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik dengan masyarakat yang berada dalam keterbatasan. Bantuan yang diberikan pun tidak harus selalu dalam jumlah besar. Ketika dilakukan secara konsisten, kontribusi dari banyak orang dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Karena itu, kepedulian sosial dalam Islam tidak berhenti pada rasa iba. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang dapat membantu memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Zakat, Infak, dan Sedekah sebagai Wujud Kepedulian Zakat, infak, dan sedekah menjadi bagian penting dalam membangun kepedulian sosial. Meski sama-sama berkaitan dengan berbagi, ketiganya memiliki ketentuan yang berbeda. Zakat, Kewajiban bagi Muzaki Zakat merupakan kewajiban bagi Muslim yang telah memenuhi syarat sesuai ketentuan syariat, termasuk terpenuhinya nisab dan, untuk jenis harta tertentu, haul. Dana zakat disalurkan kepada mustahik atau golongan yang berhak menerimanya. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat memiliki peran sosial karena sebagian harta yang ditunaikan muzaki dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan. Pengelolaan yang tepat memungkinkan zakat tidak hanya digunakan untuk kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung berbagai program pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kemanusiaan sesuai ketentuan yang berlaku. Infak, Berbagi Sesuai Kemampuan Infak memiliki ruang yang lebih fleksibel. Berbeda dengan zakat yang memiliki ketentuan khusus, infak dapat diberikan sesuai kemampuan dan kebutuhan. Infak dapat diarahkan untuk berbagai kepentingan, termasuk pendidikan, kesehatan, pembangunan fasilitas sosial, hingga bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana. Fleksibilitas tersebut membuat infak dapat menjadi salah satu kebiasaan berbagi yang dilakukan secara rutin tanpa harus menunggu jumlah harta tertentu. Sedekah, Kebaikan dalam Berbagai Bentuk Sedekah memiliki cakupan yang luas dan tidak selalu berupa harta. Memberikan ilmu, tenaga, waktu, maupun bantuan kepada orang lain juga dapat menjadi bentuk sedekah. Sedekah dalam bentuk materi pun dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan. Besarnya manfaat tidak selalu ditentukan oleh nominal, tetapi juga oleh ketepatan bantuan dan konsistensi dalam melakukannya. Ketiga bentuk amal tersebut dapat menjadi sarana untuk melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Kebiasaan berbagi membuat seseorang tidak hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri, tetapi juga melihat kondisi orang lain. Dari Kepedulian Menjadi Manfaat Nyata Kepedulian sosial akan lebih berarti ketika diwujudkan dalam tindakan yang tepat. ZIS yang dihimpun secara bersama dapat menjadi sumber dukungan bagi berbagai kebutuhan masyarakat. Bantuan pendidikan dapat membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu melanjutkan sekolah. Program kesehatan dapat meringankan beban masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan. Sementara itu, dukungan ekonomi produktif dapat membuka kesempatan bagi mustahik untuk membangun sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan. Dalam situasi bencana, dana sosial juga dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan masyarakat terdampak, mulai dari pangan hingga bantuan kemanusiaan lainnya. Artinya, satu bentuk kepedulian dapat berkembang menjadi manfaat yang lebih luas ketika dikelola dengan baik dan disalurkan kepada penerima yang tepat. Empat Langkah Menumbuhkan Kepedulian Sosial Kepedulian sosial tidak harus dimulai dari tindakan besar. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. 1. Mulai dari lingkungan terdekat Perhatikan kondisi keluarga, tetangga, teman, maupun masyarakat di sekitar. Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain merupakan langkah awal untuk membangun kepedulian. 2. Berbagi sesuai kemampuan Tidak perlu menunggu memiliki kelebihan harta. Zakat ditunaikan sesuai ketentuan, sementara infak dan sedekah dapat diberikan sesuai kemampuan. 3. Salurkan melalui lembaga terpercaya Menyalurkan ZIS melalui lembaga resmi seperti BAZNAS dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin dana yang diberikan dikelola secara terorganisasi dan disalurkan melalui program yang sesuai. 4. Jadikan kebiasaan Kepedulian sosial akan lebih kuat jika dilakukan secara konsisten. Menyisihkan sebagian rezeki secara rutin dapat membentuk kebiasaan berbagi, bukan hanya dilakukan ketika terjadi peristiwa tertentu. Tunaikan ZIS melalui BAZNAS Provinsi Lampung Bagi masyarakat Lampung yang ingin menunaikan zakat, infak, atau sedekah secara praktis, pembayaran dapat dilakukan melalui layanan resmi BAZNAS Provinsi Lampung. Masyarakat dapat mengakses layanan pembayaran ZIS melalui website lampung.baznas.go.id. Pilih layanan pembayaran yang tersedia, tentukan jenis dana dan nominal yang ingin ditunaikan, kemudian ikuti petunjuk pembayaran hingga transaksi selesai. Dengan memanfaatkan layanan digital BAZNAS Provinsi Lampung, masyarakat dapat menunaikan ZIS tanpa harus datang langsung ke kantor. Kemudahan tersebut dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan berbagi sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui layanan resmi BAZNAS Provinsi Lampung. Mulai dari yang mampu diberikan, lakukan secara konsisten, dan jadikan kepedulian sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL05/10/2026 | MBL-01
BAZNAS Dorong Penyaluran Zakat Lebih Tepat Sasaran untuk Atasi Kemiskinan
BAZNAS Dorong Penyaluran Zakat Lebih Tepat Sasaran untuk Atasi Kemiskinan
KEMISKINAN tidak selalu memiliki kondisi dan penyebab yang sama. Karena itu, upaya penanggulangannya membutuhkan pemahaman yang lebih menyeluruh agar bantuan yang diberikan sesuai dengan persoalan dan kebutuhan masyarakat. Setidaknya terdapat empat kondisi kemiskinan yang perlu menjadi perhatian, yakni kemiskinan natural, struktural, kultural, dan situasional. Masing-masing memiliki latar belakang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang juga berbeda. Empat Kondisi Kemiskinan Pertama, kemiskinan natural. Kondisi ini dialami seseorang sejak lahir karena berasal dari keluarga dan lingkungan dengan keterbatasan ekonomi maupun fasilitas. Mereka tidak memilih kondisi tersebut sehingga membutuhkan perlindungan dan keberpihakan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar serta memperoleh kesempatan untuk berkembang. Kedua, kemiskinan struktural. Kondisi ini dapat terjadi pada seseorang yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk berkembang, tetapi terbatas oleh akses, modal, maupun kesempatan. Persoalannya bukan semata-mata kemampuan, melainkan belum tersedianya jalan yang memungkinkan potensi tersebut berkembang. Ketiga, kemiskinan kultural. Kemiskinan dalam kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kebiasaan atau pola hidup yang kurang produktif. Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan memiliki aset yang sebenarnya dapat dikembangkan, tetapi belum mampu mengelolanya secara optimal untuk meningkatkan kehidupan ekonomi keluarga. Keempat, kemiskinan situasional. Kondisi ini dapat dialami seseorang yang sebelumnya berada dalam keadaan mampu, tetapi kemudian mengalami perubahan ekonomi secara tiba-tiba akibat pemutusan hubungan kerja (PHK), sakit, bencana, kehilangan pencari nafkah, maupun keadaan lain yang tidak direncanakan. Keempat kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan tidak dapat ditangani dengan satu bentuk bantuan yang sama. Karena itu, pemetaan atau mapping penerima manfaat zakat menjadi penting agar bantuan dapat diberikan kepada orang yang tepat dengan bentuk intervensi yang sesuai. Pemetaan Mustahik Menentukan Bentuk Bantuan Dalam pengelolaan zakat, BAZNAS perlu mengetahui secara lebih rinci siapa yang akan dibantu, persoalan yang dihadapi, kebutuhan mereka, serta bantuan yang sebelumnya telah diterima. Pemetaan tersebut diperlukan agar bantuan tidak tumpang tindih. Jangan sampai seseorang menerima bantuan yang sama dari pemerintah atau lembaga lain, sementara pada saat yang sama masih ada masyarakat yang belum mendapatkan dukungan. Hal tersebut bukan sekadar persoalan mengenai siapa yang lebih dahulu menerima bantuan. Lebih jauh, pemetaan berkaitan dengan bagaimana amanah umat dikelola agar memberikan manfaat yang optimal kepada masyarakat. Karena karakteristik penerima manfaat berbeda, bentuk intervensinya pun perlu disesuaikan. Mereka yang mengalami kemiskinan natural dapat membutuhkan perlindungan sosial. Sementara kemiskinan struktural dapat ditangani melalui pembukaan akses terhadap modal dan kesempatan. Pada kemiskinan kultural, pendampingan dan perubahan pola pikir (mindset) menjadi bagian yang penting. Adapun mereka yang mengalami kemiskinan situasional membutuhkan pertolongan agar dapat segera memenuhi kebutuhan mendesak sekaligus kembali membangun kemandirian. Zakat Tidak Berhenti pada Pemberian Pendekatan tersebut menempatkan zakat bukan sekadar sebagai bantuan untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Zakat juga memiliki peran dalam mendorong pemberdayaan sehingga mustahik memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya. Dalam kemitraan dengan pesantren, misalnya, BAZNAS dapat memberikan beasiswa kepada santri berprestasi. Banyak santri berasal dari keluarga menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan ekonomi. Membayar iuran pondok saja dapat menjadi tantangan, terlebih ketika mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk ke luar negeri yang membutuhkan biaya besar. Program semacam ini menunjukkan pentingnya melihat kebutuhan penerima manfaat secara lebih luas. Bantuan pendidikan tidak hanya menyelesaikan persoalan biaya dalam satu waktu, tetapi dapat membuka akses terhadap pendidikan dan kesempatan yang lebih baik di masa depan. Karena itu, penyaluran zakat membutuhkan dua hal sekaligus, yaitu ketepatan sasaran dan ketepatan intervensi. Bantuan perlu diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan dan dalam bentuk yang sesuai dengan persoalan yang dihadapi. Dari Mustahik Menuju Kemandirian Tujuan penyaluran zakat tidak semata-mata membuat seseorang mampu bertahan untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Lebih dari itu, zakat diharapkan dapat menjadi jalan bagi mustahik untuk memiliki kehidupan yang lebih baik pada masa mendatang. Pendekatan pemberdayaan memungkinkan zakat tidak berhenti pada hubungan antara pemberi dan penerima bantuan. Zakat dapat menjadi instrumen untuk membuka akses pendidikan, meningkatkan kemampuan ekonomi, memberikan perlindungan sosial, maupun membantu seseorang bangkit setelah mengalami kondisi sulit. Pada akhirnya, filantropi, khususnya zakat, bukan hanya berbicara mengenai seberapa banyak harta yang dikeluarkan. Zakat juga berbicara tentang sejauh mana harta tersebut mampu mengangkat martabat manusia. Dari mustahik menuju kemandirian, dari penerima manfaat menuju pemberi manfaat, di situlah zakat menemukan makna sosialnya. Pengelolaan yang tepat sasaran dan intervensi yang sesuai diharapkan dapat membuat manfaat zakat terus berkembang dan memberikan perubahan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL29/09/2026 | MBL-01
Ke Mana Zakat Disalurkan? Ini 13 Program Prioritas BAZNAS 2026–2031
Ke Mana Zakat Disalurkan? Ini 13 Program Prioritas BAZNAS 2026–2031
SETIAP zakat yang ditunaikan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dikelola untuk memberikan manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan. Penyaluran zakat tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan agar masyarakat dapat berkembang dan mencapai kemandirian. Melalui 13 Program Prioritas BAZNAS 2026–2031, penyaluran zakat diarahkan pada berbagai bidang, mulai dari pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, perumahan, ekonomi, ketahanan pangan, lingkungan, hingga dakwah dan kemanusiaan. Pengelolaan yang terarah juga memungkinkan dana zakat disalurkan sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan syariat. Dengan memahami ke mana zakat disalurkan, muzaki dapat melihat berbagai bentuk manfaat yang dihadirkan melalui dana yang mereka tunaikan. Mengapa Penyaluran Zakat Perlu Diketahui? Penyaluran zakat merupakan bagian penting dalam pengelolaan dana umat. Melalui lembaga resmi, zakat dihimpun dan disalurkan kepada mustahik sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Pemanfaatannya tidak hanya berupa bantuan langsung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Zakat juga dapat digunakan dalam program pemberdayaan produktif, seperti pendidikan, penguatan ekonomi, layanan kesehatan, perbaikan rumah, hingga pengembangan ketahanan pangan. Pendekatan tersebut memungkinkan zakat memberikan manfaat dalam jangka pendek sekaligus mendukung perubahan sosial dan ekonomi dalam jangka panjang. Transparansi dalam pengelolaan dan penyaluran juga menjadi bagian dari tanggung jawab BAZNAS kepada muzaki. Dana yang dihimpun diarahkan untuk berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat di berbagai sektor. 13 Program Prioritas BAZNAS 2026–2031 Berikut 13 program prioritas yang menjadi fokus penyaluran zakat BAZNAS periode 2026–2031: 1. BAZNAS Siaga Kemiskinan Program ini memberikan bantuan dan perlindungan sosial secara langsung kepada masyarakat yang berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem. Dukungan diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan mendasar penerima manfaat. 2. BAZNAS Tanggap Bencana BAZNAS Tanggap Bencana berfokus pada respons cepat terhadap bencana alam dan krisis kemanusiaan. Bentuk dukungannya meliputi aksi tanggap darurat, evakuasi, serta bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak. 3. Beasiswa Cendekia BAZNAS Program pendidikan ini memberikan dukungan kepada pelajar dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Bantuan mencakup biaya pendidikan, perlengkapan belajar, serta pembinaan karakter. 4. Rumah Sehat dan Kartu Sehat BAZNAS Program ini menyediakan akses layanan kesehatan bagi mustahik melalui layanan kesehatan gratis maupun terjangkau. Dukungan kesehatan diberikan untuk membantu masyarakat memperoleh pelayanan yang dibutuhkan. 5. Rumah Layak Huni BAZNAS Rumah Layak Huni BAZNAS diarahkan untuk membantu memperbaiki dan merenovasi rumah tidak layak huni. Hunian penerima manfaat diupayakan menjadi lebih sehat, aman, dan layak ditempati. 6. Bantuan Permodalan BAZNAS Berbasis Masjid dan Majelis Taklim Program ini mendukung penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan wirausaha mikro berbasis syariah. Pelaksanaannya berpusat pada komunitas masjid dan majelis taklim sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat. 7. Rumah Terang BAZNAS Rumah Terang BAZNAS memberikan dukungan berupa sarana penerangan dan akses listrik bagi wilayah terpencil serta rumah tangga yang belum mendapatkan akses penerangan yang memadai. 8. BAZNAS Balai Ternak Program Balai Ternak berfokus pada pemberdayaan ekonomi peternak mustahik secara berkelompok. Dukungan dapat berupa bibit ternak, sarana kandang, serta pendampingan teknis untuk mengembangkan usaha peternakan. 9. Lumbung Pangan BAZNAS Program ini mendukung petani mustahik melalui penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan. Bentuk dukungan meliputi pendampingan serta bantuan modal usaha tani. 10. Mualaf Center BAZNAS Mualaf Center BAZNAS memberikan pendampingan kepada mualaf melalui pembinaan akidah dan keagamaan. Dukungan juga dapat mencakup bantuan sosial dan ekonomi sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. 11. Sekolah dan Pesantren Layak Belajar BAZNAS Program ini diarahkan untuk meningkatkan serta memperbaiki fasilitas, sarana, dan prasarana pendidikan di sekolah dan pesantren yang membutuhkan. Tujuannya mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih layak bagi peserta didik dan santri. 12. Air Bersih BAZNAS BAZNAS turut menghadirkan dukungan bagi masyarakat yang menghadapi kekeringan atau krisis air melalui penyediaan infrastruktur air bersih maupun distribusi air kepada wilayah yang membutuhkan. 13. Bank Sampah BAZNAS Program Bank Sampah BAZNAS menggabungkan pemberdayaan masyarakat dengan kepedulian terhadap lingkungan. Pengelolaan sampah dilakukan secara terpadu sekaligus diarahkan agar memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Kebutuhan Hari Ini dan Kemandirian Esok Ke-13 program tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan zakat tidak hanya berkaitan dengan bantuan untuk kebutuhan sesaat. Penyaluran juga diarahkan pada program yang dapat memperkuat kapasitas masyarakat, baik melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, pangan, lingkungan, maupun pemberdayaan. Dengan pengelolaan yang terarah, zakat dapat hadir dalam berbagai kondisi kehidupan mustahik. Dari membantu memenuhi kebutuhan dasar hingga membuka akses yang memungkinkan penerima manfaat meningkatkan kualitas hidupnya. Pada akhirnya, zakat bukan hanya tentang harta yang ditunaikan oleh muzaki, tetapi juga tentang manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Melalui berbagai program prioritas tersebut, BAZNAS terus mengelola dana zakat agar dapat memberikan kebermanfaatan sekaligus mendukung upaya menuju kemandirian mustahik.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL29/09/2026 | MBL-01
Rabiul Akhir Jadi Momentum Meningkatkan Kualitas Ibadah dan Kepedulian Sosial
Rabiul Akhir Jadi Momentum Meningkatkan Kualitas Ibadah dan Kepedulian Sosial
BULAN Rabiul Akhir dapat menjadi momentum untuk menjaga semangat beribadah sekaligus meningkatkan kualitas amal dalam kehidupan sehari-hari. Setelah melewati Rabiul Awal, semangat memperbanyak kebaikan tidak berhenti pada satu momentum, tetapi dilanjutkan melalui ibadah yang konsisten dan kepedulian terhadap sesama. Meningkatkan kualitas ibadah bukan semata-mata menambah jumlah amalan. Hal yang tak kalah penting adalah memperbaiki niat, menjaga kekhusyukan, serta menghadirkan nilai-nilai ibadah dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, ibadah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga membentuk pribadi yang semakin dekat kepada Allah SWT dan peka terhadap kondisi di sekitarnya. Memulai dari Ibadah Wajib Upaya meningkatkan kualitas ibadah dapat dimulai dari memperbaiki pelaksanaan ibadah wajib. Salat lima waktu, misalnya, bukan hanya tentang menunaikannya tepat waktu, tetapi juga berusaha menjalankannya dengan kesadaran dan kekhusyukan. Setelah ibadah wajib terjaga, amalan sunnah dapat ditambahkan sesuai kemampuan. Membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, memperbanyak istighfar, serta melaksanakan salat sunnah merupakan beberapa amalan yang dapat dilakukan secara bertahap. Niat juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas ibadah. Ketika ibadah dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT, setiap amalan memiliki makna yang lebih dalam dan tidak sekadar menjadi kebiasaan yang dilakukan berulang. Pengaruh ibadah pun semestinya terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kesungguhan dalam beribadah dapat tercermin melalui sikap jujur, amanah, sabar, menjaga lisan, serta menghormati dan memenuhi hak orang lain. Zakat dan Sedekah sebagai Ibadah Sosial Kualitas ibadah tidak hanya tercermin dalam hubungan seorang Muslim dengan Allah SWT, tetapi juga dalam hubungannya dengan sesama. Zakat dan sedekah merupakan bentuk ibadah sosial yang dapat memperkuat kepedulian sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Zakat menjadi kewajiban bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat. Sebagian harta yang ditunaikan kemudian disalurkan kepada golongan yang berhak menerimanya atau mustahik. Karena itu, zakat memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial, sebab pelaksanaannya turut membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara itu, sedekah memiliki ruang yang lebih luas. Kebaikan tidak selalu harus berupa pemberian harta. Membantu orang lain, berbagi makanan, memberikan kemudahan, atau melakukan perbuatan baik juga dapat menjadi bentuk sedekah. Menunaikan zakat dan memperbanyak sedekah dapat menjadi sarana untuk mensyukuri nikmat sekaligus menumbuhkan kepedulian. Ketika dikelola dan disalurkan dengan tepat, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Menjaga Konsistensi Ibadah Kualitas ibadah tidak terbentuk dalam waktu singkat. Konsistensi menjadi kunci agar semangat beribadah tidak hanya muncul pada momentum tertentu, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang terus dijaga. Salah satu langkah sederhana adalah membuat target ibadah yang realistis. Misalnya, menyediakan waktu khusus untuk membaca Al-Qur'an setiap hari, menjaga salat tepat waktu, memperbanyak dzikir dan doa, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk zakat dan sedekah. Evaluasi secara berkala juga dapat membantu menjaga kebiasaan tersebut. Setiap Muslim dapat melihat kembali amalan yang sudah berjalan dan menentukan bagian yang masih perlu diperbaiki. Perubahan pun tidak harus dimulai dari target yang besar. Kebaikan kecil yang dilakukan secara rutin dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki diri. Rabiul Akhir dapat menjadi kesempatan untuk melanjutkan kebiasaan baik dari bulan sebelumnya sekaligus membangun rutinitas ibadah yang lebih konsisten. Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui ibadah personal maupun kepedulian sosial di lingkungan sekitar. Tunaikan Zakat melalui BAZNAS Bagi umat Islam yang telah memenuhi kewajiban zakat, menunaikannya dapat menjadi bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas ibadah sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan. BAZNAS menyediakan berbagai kanal untuk memudahkan masyarakat menunaikan zakat. Dana zakat yang dihimpun kemudian dikelola dan disalurkan kepada mustahik melalui berbagai program sesuai dengan ketentuan syariah. Dengan menjaga ibadah personal sekaligus memperkuat kepedulian sosial, Rabiul Akhir dapat menjadi momentum untuk membangun kebiasaan baik yang terus berlanjut. Bukan sekadar memperbanyak amalan, tetapi juga menghadirkan nilai ibadah dalam sikap, kepedulian, dan kebermanfaatan bagi sesama.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL29/09/2026 | MBL-01
Sedekah Tak Hanya Berpahala, Ini Manfaatnya bagi Kehidupan Sosial
Sedekah Tak Hanya Berpahala, Ini Manfaatnya bagi Kehidupan Sosial
SEDEKAH merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam. Selain menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, sedekah juga mencerminkan kepedulian terhadap sesama melalui kesediaan berbagi sebagian rezeki dengan orang yang membutuhkan. Keutamaan sedekah tidak hanya berkaitan dengan balasan di akhirat. Dalam kehidupan sosial, kebiasaan berbagi dapat membantu meringankan beban masyarakat, menumbuhkan kepedulian, mempererat hubungan antarsesama, hingga membangun semangat gotong royong. Besarnya sedekah pun tidak selalu ditentukan oleh nominal. Islam membuka kesempatan bagi setiap orang untuk berbuat baik sesuai dengan kemampuannya. Keikhlasan niat dan manfaat yang diberikan menjadi bagian penting dalam amalan tersebut. Dalil tentang Keutamaan Sedekah Anjuran untuk menginfakkan harta di jalan Allah SWT salah satunya terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” Ayat tersebut menggambarkan besarnya balasan yang Allah SWT berikan bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya. Sedekah juga dapat menjadi bentuk syukur atas rezeki yang diterima sekaligus melatih keikhlasan dalam berbagi tanpa mengharapkan pujian atau imbalan dari manusia. Kebiasaan bersedekah juga mengajarkan seorang Muslim untuk tidak berlebihan dalam mencintai harta. Sebagian rezeki yang dimiliki dapat digunakan untuk memberikan manfaat kepada orang lain, sehingga harta tidak hanya dinikmati untuk kepentingan pribadi. Sedekah pun tidak terbatas pada pemberian materi. Berbagai bentuk kebaikan dapat menjadi sedekah. Dengan demikian, kesempatan untuk berbagi terbuka bagi siapa saja, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan secara finansial. Lima Manfaat Sedekah Selain memiliki nilai ibadah, sedekah dapat memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. Ketika kebiasaan berbagi tumbuh secara luas, hubungan sosial dan kepedulian antarmasyarakat juga dapat semakin kuat. 1. Meringankan beban sesama Sedekah dapat membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pendidikan, maupun kebutuhan lainnya. Bagi pemberi, nominal yang diberikan mungkin sederhana, tetapi bagi penerima manfaatnya dapat berarti besar. 2. Menumbuhkan kepedulian sosial Kebiasaan berbagi mendorong seseorang untuk lebih peka terhadap kondisi di sekitarnya. Kepedulian tersebut membuat masyarakat tidak hanya berfokus pada kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki perhatian terhadap orang lain yang membutuhkan bantuan. 3. Mempererat hubungan antarmasyarakat Saling membantu dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas. Ketika seseorang menghadapi kesulitan dan mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitarnya, hubungan sosial pun dapat menjadi lebih kuat dan harmonis. 4. Mendorong pemerataan manfaat ekonomi Sedekah dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang membutuhkan. Apabila dikelola dan disalurkan dengan tepat, dana sedekah juga dapat mendukung berbagai program sosial dan pemberdayaan sehingga manfaatnya tidak berhenti pada bantuan sesaat. 5. Membangun semangat gotong royong Kebiasaan berbagi dapat berkembang menjadi gerakan bersama. Semakin banyak masyarakat yang mengambil bagian, semakin besar pula kemampuan untuk membantu mereka yang membutuhkan, termasuk ketika terjadi bencana atau kondisi darurat. Karena itu, manfaat sedekah tidak hanya dirasakan oleh pemberi dan penerima. Kebiasaan tersebut juga dapat memperkuat solidaritas serta membangun lingkungan sosial yang lebih peduli. Sedekah Semakin Mudah Perkembangan teknologi membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk menunaikan sedekah. Salah satunya melalui kanal pembayaran resmi BAZNAS yang memungkinkan sedekah dilakukan secara daring. Masyarakat dapat mengakses halaman pembayaran, mengikuti petunjuk yang tersedia, kemudian memilih jenis donasi atau sedekah yang ingin ditunaikan. Kemudahan tersebut dapat membantu menjadikan berbagi sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sedekah juga tidak harus menunggu seseorang memiliki rezeki berlebih. Setiap orang dapat berbagi sesuai kemampuan dengan tetap menjaga keikhlasan. Di sisi lain, memilih lembaga penyalur yang terpercaya menjadi hal penting agar dana yang diberikan dapat dikelola dan disalurkan sesuai peruntukannya. Dengan menyalurkan sedekah melalui BAZNAS, masyarakat turut mendukung pengelolaan dana umat agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi mereka yang membutuhkan. Pada akhirnya, nilai sedekah tidak hanya terlihat dari pahala yang dijanjikan Allah SWT, tetapi juga dari kepedulian, rasa syukur, keikhlasan, dan tanggung jawab sosial yang tumbuh melalui kebiasaan berbagi. Tidak perlu menunggu memiliki banyak untuk bersedekah. Sesuai kemampuan, dilakukan dengan ikhlas dan konsisten, kebaikan yang diberikan dapat menjadi manfaat bagi sesama sekaligus menguatkan kepedulian di tengah masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL29/09/2026 | MBL-01
Puasa di Bulan Rabiul Akhir, Bolehkah? Ini Penjelasannya
Puasa di Bulan Rabiul Akhir, Bolehkah? Ini Penjelasannya
BULAN Rabiul Akhir merupakan salah satu bulan dalam kalender Hijriah yang dapat diisi dengan berbagai amal kebaikan. Salah satu pertanyaan yang mungkin muncul adalah mengenai hukum puasa di bulan Rabiul Akhir. Apakah umat Islam diperbolehkan berpuasa dan adakah puasa khusus pada bulan ini? Pada dasarnya, puasa di bulan Rabiul Akhir diperbolehkan. Namun, tidak terdapat ketentuan mengenai puasa sunnah yang secara khusus ditetapkan hanya untuk bulan Rabiul Akhir. Umat Islam tetap dapat menjalankan puasa sunnah yang memiliki dasar dalam syariat, seperti puasa Senin Kamis dan Ayyamul Bidh. Memahami ketentuan tersebut penting agar ibadah dilakukan berdasarkan tuntunan yang tepat. Berikut beberapa hal yang perlu diketahui mengenai puasa di bulan Rabiul Akhir. 1. Puasa di Bulan Rabiul Akhir Hukumnya Boleh Rabiul Akhir bukan termasuk bulan yang dilarang untuk berpuasa. Karena itu, umat Islam diperbolehkan menjalankan puasa sunnah pada bulan ini selama dilakukan pada hari-hari yang memang diperbolehkan dalam syariat. Puasa sunnah dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus melatih kesabaran dan pengendalian diri. Dengan demikian, Rabiul Akhir dapat diisi dengan kebiasaan ibadah yang dilakukan secara konsisten sepanjang tahun. 2. Tidak Ada Puasa Khusus Rabiul Akhir Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak ada ketentuan mengenai puasa khusus bulan Rabiul Akhir yang ditetapkan berdasarkan keutamaan khusus bulan tersebut. Hal ini berbeda dengan Ramadan yang memiliki kewajiban puasa bagi umat Islam yang memenuhi syarat. Rabiul Akhir tidak memiliki ketentuan puasa wajib maupun puasa sunnah khusus yang dikaitkan secara spesifik dengan bulannya. Karena itu, umat Islam dapat berpuasa di Rabiul Akhir dengan menjalankan jenis puasa sunnah yang memang memiliki tuntunan dalam syariat, bukan karena menganggap terdapat kewajiban atau keutamaan khusus pada bulan tersebut. 3. Puasa Senin Kamis dan Ayyamul Bidh Tetap Bisa Dilakukan Salah satu puasa sunnah yang dapat dikerjakan pada bulan Rabiul Akhir adalah puasa Senin Kamis. Puasa ini tidak terikat pada bulan tertentu sehingga dapat dilakukan sepanjang tahun pada hari Senin dan Kamis. Selain itu, umat Islam juga dapat menjalankan puasa Ayyamul Bidh, yaitu puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Menjalankan puasa sunnah secara rutin dapat menjadi bagian dari upaya menjaga konsistensi ibadah. Rabiul Akhir pun dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat kebiasaan tersebut. 4. Luruskan Niat dalam Menjalankan Puasa Puasa sunnah di bulan Rabiul Akhir hendaknya diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT, bukan karena menganggap bulan tersebut memiliki kewajiban puasa tertentu. Puasa juga bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ibadah ini melatih kesabaran, pengendalian diri, serta mendorong seseorang untuk meningkatkan ketakwaan dan kepedulian kepada sesama. Karena itu, puasa dapat dilengkapi dengan amal kebaikan lainnya, seperti membaca Al-Qur'an, berdoa, berdzikir, bersedekah, dan membantu masyarakat yang membutuhkan. 5. Puasa Dapat Menjadi Momentum Memperbanyak Amal Menjalankan puasa juga dapat menjadi pengingat untuk lebih peduli terhadap kondisi orang lain. Rasa lapar dan haus yang dirasakan selama berpuasa dapat menumbuhkan empati kepada masyarakat yang menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai amal sosial, termasuk zakat dan sedekah. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” Ayat tersebut menggambarkan besarnya nilai kebaikan dari harta yang dikeluarkan di jalan Allah. Karena itu, semangat memperbanyak ibadah dapat berjalan seiring dengan kepedulian untuk membantu sesama. Bolehkah Puasa di Bulan Rabiul Akhir? Jawabannya, boleh. Tidak ada larangan untuk menjalankan puasa sunnah di bulan Rabiul Akhir. Namun, tidak terdapat puasa sunnah khusus Rabiul Akhir yang ditetapkan secara khusus. Umat Islam dapat menjalankan puasa yang memiliki dasar dalam syariat, seperti Senin Kamis dan Ayyamul Bidh. Selain menjaga ibadah, momentum tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL25/09/2026 | MBL-01
7 Amalan di Rabiul Akhir untuk Memperkuat Ibadah dan Kepedulian
7 Amalan di Rabiul Akhir untuk Memperkuat Ibadah dan Kepedulian
BULAN Rabiul Akhir menjadi momentum bagi umat Islam untuk melanjutkan semangat beribadah dan memperkuat kedekatan kepada Allah SWT. Memasuki bulan keempat dalam kalender Hijriah ini, tidak ada amalan khusus yang secara spesifik ditetapkan hanya untuk Rabiul Akhir. Namun, berbagai ibadah yang memiliki landasan dalam ajaran Islam tetap dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas spiritual sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. 1. Menjaga Salat Sunah Rawatib dan Dhuha Selain menjalankan salat fardu sebagai kewajiban utama, umat Islam dapat melengkapinya dengan salat sunah rawatib. Salat Dhuha juga dapat dilakukan untuk mengisi waktu pagi dengan ibadah sekaligus menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Konsistensi dalam menjalankan salat sunah dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas ibadah di tengah kesibukan sehari-hari. 2. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an Rabiul Akhir juga dapat diisi dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an. Membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur'an bukan hanya menjadi aktivitas ibadah, tetapi juga sarana untuk memperoleh petunjuk dan memperkuat ketenangan hati. Kebiasaan membaca Al-Qur'an secara rutin dapat terus dijaga, baik pada siang maupun malam hari, sesuai kemampuan masing-masing. 3. Menjalankan Puasa Sunah Umat Islam dapat menjalankan puasa sunah pada Rabiul Akhir, seperti puasa Senin-Kamis dan Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Puasa sunah dapat menjadi sarana melatih kedisiplinan, mengendalikan diri, sekaligus menumbuhkan empati terhadap orang lain yang menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. 4. Memperbanyak Dzikir dan Selawat Di tengah aktivitas sehari-hari, berdzikir dapat menjadi cara untuk terus mengingat Allah SWT. Membaca istighfar, tasbih, tahmid, serta memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan amalan yang dapat dilakukan kapan saja. Selain menjadi bentuk ibadah, dzikir juga dapat membantu menjaga hati agar tetap mengingat Allah di tengah berbagai kesibukan. 5. Mempererat Silaturahmi Kesibukan terkadang membuat hubungan dengan keluarga, kerabat, maupun sahabat menjadi renggang. Rabiul Akhir dapat menjadi momentum untuk kembali mempererat silaturahmi, misalnya dengan menyapa keluarga, mengunjungi orang tua, atau menyelesaikan perselisihan dengan saling memaafkan. Menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan bagian dari akhlak yang perlu terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. 6. Menuntut Ilmu dan Mengikuti Majelis Ilmu Meningkatkan pengetahuan agama juga dapat menjadi bagian dari amalan di Rabiul Akhir. Umat Islam dapat mengikuti majelis ilmu, membaca buku keislaman, mempelajari Al-Qur'an dan hadis, maupun memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam. Dengan ilmu yang memadai, ibadah yang dilakukan diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi dilaksanakan berdasarkan pemahaman dan tuntunan yang benar. 7. Bersedekah dan Membantu Sesama Ibadah juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial. Bersedekah kepada masyarakat yang membutuhkan, membantu anak yatim, berbagi makanan, atau memberikan bantuan kepada tetangga merupakan bentuk kebaikan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan. Sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana yang memberikan manfaat bagi orang lain. Lengkapi Amal dengan Menunaikan Zakat Selain memperbanyak ibadah sunah dan sedekah, umat Islam yang telah memenuhi syarat juga memiliki kewajiban untuk menunaikan zakat. Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial karena harta yang ditunaikan dapat memberikan manfaat bagi mustahik. Melalui BAZNAS, masyarakat dapat menyalurkan zakat dan infak melalui layanan resmi sehingga dana yang dihimpun dapat dikelola dan disalurkan kepada masyarakat yang berhak menerimanya. Memasuki Rabiul Akhir, semangat beribadah dapat terus dijaga melalui amalan yang memiliki landasan dalam ajaran Islam. Mulai dari menjaga salat, membaca Al-Qur'an, berpuasa sunah, berdzikir, mempererat silaturahmi, menuntut ilmu, hingga berbagi kepada sesama. Dengan menjaga konsistensi ibadah sekaligus memperkuat kepedulian sosial, setiap bulan dalam kalender Hijriah dapat menjadi kesempatan untuk terus memperbaiki diri dan menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL25/09/2026 | MBL-01
Rabiul Akhir dan Maknanya bagi Umat Islam, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui
Rabiul Akhir dan Maknanya bagi Umat Islam, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui
BULAN Rabiul Akhir merupakan bulan keempat dalam kalender Hijriah yang hadir setelah Rabiul Awal. Meski tidak identik dengan perayaan besar seperti bulan sebelumnya, Rabiul Akhir memiliki sejumlah catatan sejarah dan dapat menjadi momentum untuk menjaga konsistensi ibadah serta meningkatkan kepedulian sosial. Berikut lima hal yang dapat diketahui tentang Rabiul Akhir. 1. Makna di Balik Nama Rabiul Akhir Secara bahasa, kata Rabi’ berkaitan dengan musim semi atau masa ketika tumbuhan mulai bersemi. Penamaan Rabiul Akhir berkaitan dengan penanggalan masyarakat Arab pada masa lalu yang bertepatan dengan musim tersebut. Makna ini dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menumbuhkan kebaikan dan memperbarui semangat dalam menjalankan ibadah. 2. Memiliki Catatan dalam Sejarah Islam Rabiul Akhir juga dikaitkan dengan sejumlah peristiwa dalam sejarah Islam, salah satunya pengusiran Bani Nadhir dari Madinah setelah terjadinya pelanggaran terhadap perjanjian dengan kaum Muslimin. Peristiwa tersebut menjadi salah satu latar sejarah yang berkaitan dengan turunnya Surah Al-Hasyr. Mempelajari sejarah tersebut dapat menjadi sarana untuk memahami perjalanan dakwah dan perkembangan masyarakat Islam pada masa Rasulullah SAW. 3. Berkaitan dengan Perkembangan Pemerintahan Islam Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, periode ini juga menjadi bagian dari perkembangan tata kelola pemerintahan Islam. Penataan administrasi pemerintahan dan penggunaan kalender Hijriah secara resmi berkembang pada masa kepemimpinannya. Sejarah tersebut memberikan pelajaran mengenai pentingnya kepemimpinan yang amanah, administrasi yang tertata, serta upaya menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. 4. Momentum Menjaga Konsistensi Ibadah Tidak ada amalan khusus yang secara spesifik ditetapkan untuk Rabiul Akhir. Namun, umat Islam tetap dapat mengisinya dengan berbagai ibadah yang memiliki landasan dalam ajaran Islam, seperti menjaga salat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, memperbanyak selawat, dan menjalankan puasa sunah. Rabiul Akhir dapat menjadi momentum untuk menjaga konsistensi amal setelah melewati Rabiul Awal. Keberlanjutan dalam beribadah menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan baik, bukan hanya ketika berada pada bulan atau momentum tertentu. 5. Memperkuat Kepedulian melalui Sedekah Selain meningkatkan ibadah personal, Rabiul Akhir dapat diisi dengan memperkuat kepedulian kepada sesama. Membantu masyarakat yang membutuhkan, mempererat silaturahmi, serta berbagi sebagian rezeki merupakan bentuk kesalehan sosial yang dapat dilakukan sesuai kemampuan. Salah satu bentuk kepedulian tersebut adalah menunaikan zakat bagi Muslim yang telah memenuhi syarat, serta memperbanyak infak dan sedekah. Melalui pengelolaan ZIS, dana yang dihimpun dapat disalurkan untuk membantu mustahik dan mendukung berbagai program kemanfaatan masyarakat. Rabiul Akhir dapat menjadi pengingat bahwa setiap waktu memiliki kesempatan untuk diisi dengan kebaikan. Dengan menjaga ibadah, mempelajari sejarah Islam, mempererat hubungan dengan sesama, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, umat Islam dapat menjadikan bulan ini sebagai bagian dari perjalanan untuk meningkatkan kualitas diri dan menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL25/09/2026 | MBL-01
Rabiul Akhir dalam Sejarah Islam: Dari Perjuangan Rasulullah hingga Keteladanan Kepemimpinan
Rabiul Akhir dalam Sejarah Islam: Dari Perjuangan Rasulullah hingga Keteladanan Kepemimpinan
RABIUL Akhir merupakan bulan keempat dalam kalender Hijriah yang menyimpan sejumlah catatan dalam perjalanan sejarah Islam. Berbagai peristiwa yang berkaitan dengan perjuangan Rasulullah SAW, perkembangan masyarakat Muslim, hingga perjalanan kepemimpinan umat Islam pada masa setelahnya dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami nilai keimanan, keteguhan, keadilan, dan kepedulian sosial. Catatan Penting dalam Sejarah Islam Salah satu peristiwa yang berkaitan dengan Rabiul Akhir adalah peristiwa Bani Nadhir dan turunnya Surah Al-Hasyr. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari perjalanan Rasulullah SAW dalam membangun kehidupan masyarakat Muslim di Madinah. Selain itu, sejumlah ekspedisi dan peperangan juga tercatat berlangsung pada bulan Rabiul Akhir. Salah satunya adalah Perang Bahran atau Buhran pada tahun ketiga Hijriah. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW memimpin pasukan menuju wilayah Bahran, tetapi tidak terjadi pertempuran secara langsung. Rabiul Akhir juga mencatat perjalanan pemerintahan Islam setelah masa Rasulullah SAW. Salah satunya adalah wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 101 Hijriah. Ia dikenal sebagai pemimpin yang menjunjung keadilan dan melakukan berbagai pembaruan dalam pemerintahan. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa sejarah Islam tidak hanya berkaitan dengan peperangan. Di dalamnya terdapat perjalanan membangun masyarakat, menjaga nilai keadilan, menghadapi berbagai tantangan, serta mempertahankan prinsip-prinsip Islam. Mengambil Hikmah dari Perjalanan Sejarah Mempelajari sejarah Islam bukan sekadar mengingat nama dan tanggal suatu peristiwa. Lebih dari itu, sejarah dapat menjadi sarana untuk mengambil hikmah dan menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan Rasulullah SAW dan para tokoh Islam menunjukkan pentingnya keteguhan dalam menghadapi tantangan serta menjaga prinsip keadilan dan kebenaran. Sementara itu, kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz menjadi salah satu catatan mengenai pentingnya kepemimpinan yang memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Nilai-nilai tersebut tetap relevan dalam kehidupan saat ini. Keimanan, kesetiaan, kebersamaan, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sederhana di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Menghidupkan Kepedulian dengan Berbagi Salah satu bentuk nyata dari kepedulian sosial adalah membantu masyarakat yang membutuhkan. Sedekah dapat menjadi cara sederhana untuk berbagi manfaat, baik dalam bentuk bantuan kebutuhan sehari-hari, makanan, pendidikan, kesehatan, maupun dukungan terhadap program pemberdayaan masyarakat. Sedekah tidak harus dilakukan dalam jumlah besar. Setiap orang dapat berbagi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Selain membantu memenuhi kebutuhan penerima manfaat, kepedulian tersebut juga dapat memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat. Mengenang perjalanan sejarah Islam pun dapat menjadi momentum untuk memperkuat semangat melakukan kebaikan. Salah satunya dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang membutuhkan. BAZNAS mengelola dana zakat, infak, dan sedekah untuk disalurkan melalui berbagai program yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan menyalurkan sedekah melalui BAZNAS, masyarakat dapat turut mendukung berbagai upaya sosial dan kemanusiaan bagi mereka yang membutuhkan. Dengan demikian, mempelajari sejarah Islam pada Rabiul Akhir tidak berhenti pada pengetahuan mengenai berbagai peristiwa masa lalu. Nilai keteguhan, keadilan, kebersamaan, dan kepedulian yang terkandung di dalamnya dapat terus dihidupkan melalui amal kebaikan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL25/09/2026 | MBL-01
Jelang Hari Santri 22 Oktober, Mengenang Perjuangan Santri Jaga Kemerdekaan
Jelang Hari Santri 22 Oktober, Mengenang Perjuangan Santri Jaga Kemerdekaan
SETIAP 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk mengenang kontribusi ulama, kiai, dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa. Peringatan ini tidak hanya berkaitan dengan kehidupan pesantren, tetapi juga menjadi pengingat atas semangat kebangsaan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hari Santri ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Penetapan tersebut merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 oleh KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama dan tokoh pesantren. Berawal Ancaman Kemerdekaan Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, situasi politik dan keamanan belum sepenuhnya stabil. Pasukan Sekutu datang ke berbagai wilayah Indonesia dengan tugas terkait proses pasca-Perang Dunia II, sementara NICA turut masuk bersama pasukan Sekutu dan berupaya mengembalikan kekuasaan Belanda. Di Surabaya, situasi tersebut menimbulkan ketegangan dan perlawanan dari berbagai kelompok masyarakat. Dalam kondisi inilah para ulama dan kiai pesantren mengambil sikap untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih. Pada 21–22 Oktober 1945, sekitar 200 ulama dan kiai, termasuk perwakilan konsul NU dari berbagai daerah di Jawa dan Madura, berkumpul di Surabaya. Pertemuan tersebut menghasilkan Resolusi Jihad yang menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan melawan ancaman penjajahan. Seruan tersebut kemudian menguatkan semangat para santri, kiai, dan masyarakat untuk terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat tersebut menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang berujung pada Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Dari Pesantren untuk Indonesia Sejarah Hari Santri menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menjadi tempat pendidikan agama. Dalam perjalanan bangsa, para ulama dan santri turut mengambil bagian dalam menjaga kemerdekaan serta membangun kehidupan masyarakat. Peran tersebut terus berkembang setelah Indonesia merdeka. Santri hadir dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, hingga pembangunan masyarakat. Karena itu, makna Hari Santri tidak hanya berkaitan dengan mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga bagaimana nilai keagamaan, keilmuan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa dapat terus diwujudkan pada masa kini. Semangat tersebut juga sejalan dengan pesan pemerintah ketika Hari Santri ditetapkan, yaitu agar masyarakat terus mengingat dan meneladani semangat perjuangan para pendahulu dalam menjaga kemerdekaan dan keutuhan Indonesia. Meneladani Santri Masa Kini Hari Santri dapat menjadi momentum untuk melihat kembali nilai-nilai yang diwariskan para ulama dan santri, seperti keteguhan dalam menjalankan ajaran agama, semangat menuntut ilmu, kepedulian kepada sesama, serta kecintaan terhadap tanah air. Semangat perjuangan tersebut tidak harus diwujudkan melalui perjuangan fisik seperti pada masa kemerdekaan. Pada masa kini, kontribusi dapat hadir melalui pendidikan, pengabdian sosial, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi, serta berbagai bentuk kebaikan yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Bagi masyarakat Indonesia, Hari Santri menjadi pengingat bahwa sejarah kemerdekaan dibangun melalui kontribusi berbagai elemen bangsa. Peran ulama, kiai, dan santri menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut. Memperingati Hari Santri karena itu bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga menjaga nilai perjuangan agar tetap relevan dalam kehidupan hari ini. Dari pesantren, ilmu dan nilai kebaikan terus tumbuh untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan Indonesia.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL23/09/2026 | MBL-01
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.

Lihat Daftar Rekening →