Artikel Terbaru
Sebentar lagi Idul Fitri, Hayo Hitung Zakat Anda Mudah dan Sesuai Syariat
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membersihkan harta sekaligus membantu sesama. Bagi seorang Muslim, memahami cara hitung zakat bukan hanya soal kewajiban ibadah, tetapi juga bentuk kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap kesejahteraan umat. Dengan mengetahui cara hitung zakat yang benar dan sesuai syariat, setiap Muslim dapat menunaikan kewajiban ini dengan tenang dan penuh keyakinan.
Di Indonesia, pengelolaan zakat telah diatur secara sistematis oleh pemerintah dan lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Ketentuan mengenai nisab, kadar zakat, dan tata kelola zakat disusun berdasarkan syariat Islam serta pertimbangan kondisi ekonomi masyarakat. Karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami cara hitung zakat agar ibadah yang dilakukan sah secara syariat dan memberikan manfaat maksimal bagi mustahik (penerima zakat).
Memahami Makna dan Kewajiban Zakat dalam Islam
Zakat secara bahasa berarti suci, berkembang, dan berkah. Secara syariat, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim apabila telah memenuhi syarat tertentu.
Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa zakat berfungsi menyucikan harta dan jiwa. Dengan memahami cara hitung zakat, seorang Muslim dapat memastikan bahwa kewajiban ini ditunaikan secara tepat.
Jenis-Jenis Zakat yang Wajib Diketahui
Sebelum memahami cara hitung zakat, penting untuk mengetahui jenis zakat yang wajib ditunaikan:
1. Zakat Fitrah
Zakat fitrah wajib ditunaikan setiap Muslim menjelang Idulfitri.
BAZNAS RI menetapkan zakat fitrah tahun 1447 H/2026 M sebesar Rp50.000 per jiwa atau setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras premium. Besaran ini ditetapkan berdasarkan kajian harga beras di berbagai daerah agar sesuai dengan kondisi masyarakat. Sedangkan Provinsi Lampung sebesar Rp40.000 per jiwa atau dengan 2,75 kg.
2. Zakat Mal (Harta)
Zakat mal mencakup:
Zakat penghasilan/profesi
Zakat emas dan perak
Zakat perdagangan
Zakat pertanian
Zakat tabungan dan investasi
Memahami cara hitung zakat untuk setiap jenis harta akan membantu memastikan kewajiban ditunaikan dengan benar.
Cara Hitung Zakat Penghasilan Sesuai Ketentuan 2026
Zakat penghasilan dikenakan atas pendapatan rutin seperti gaji, honorarium, atau jasa profesional.
BAZNAS RI menetapkan nisab zakat penghasilan tahun 2026 sebesar:
Rp7.640.144 per bulan
Rp91.681.728 per tahun
Nilai ini setara dengan 85 gram emas 14 karat, berdasarkan harga rata-rata emas tahun 2025. Penetapan ini mengacu pada PMA Nomor 31 Tahun 2019 serta Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003 tentang zakat penghasilan.
Jika penghasilan seorang Muslim mencapai atau melebihi nisab tersebut, maka wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen.
Rumus Cara Hitung Zakat Penghasilan
Zakat = 2,5 persen × Penghasilan Bersih
Contoh:
Jika penghasilan bersih per bulan = Rp10.000.000
Karena melebihi nisab Rp7.640.144:
Zakat = 2,5 persen × Rp10.000.000
= Rp250.000 per bulan
Jika penghasilan di bawah nisab, zakat tidak wajib, namun dianjurkan bersedekah.
Cara Hitung Zakat Emas dan Perak
Zakat emas wajib dikeluarkan jika kepemilikan mencapai nisab setara 85 gram emas dan telah dimiliki selama satu tahun (haul).
Rumus:
Zakat = 2,5 persen × total nilai emas
Contoh:
Memiliki 100 gram emas
Harga emas per gram = Rp1.000.000
Total nilai = Rp100.000.000
Zakat = 2,5 persen × Rp100.000.000
= Rp2.500.000 per tahun
Cara Hitung Zakat Tabungan dan Investasi
Tabungan dan investasi wajib dizakati jika mencapai nisab dan telah tersimpan selama satu tahun.
Rumus:
Zakat = 2,5 persen × saldo akhir
Contoh:
Saldo tabungan Rp120.000.000 selama 1 tahun
Zakat = 2,5 persen × Rp120.000.000
= Rp3.000.000
Cara Hitung Zakat Perdagangan
Zakat perdagangan dikenakan pada aset usaha yang telah berjalan selama satu tahun.
Rumus:
Zakat = 2,5 persen × (modal + keuntungan + piutang – utang jatuh tempo)
Contoh:
Total aset usaha = Rp200.000.000
Utang jatuh tempo = Rp50.000.000
Nilai bersih = Rp150.000.000
Zakat = 2,5 persen × Rp150.000.000
= Rp3.750.000
Hikmah dan Manfaat Menunaikan Zakat
Memahami cara hitung zakat tidak hanya memudahkan kewajiban ibadah, tetapi juga membuka pintu keberkahan. Manfaat zakat antara lain:
Membersihkan harta dan jiwa
Mengurangi kesenjangan sosial
Membantu fakir miskin dan pemberdayaan ekonomi umat
Menumbuhkan solidaritas sosial
Mendatangkan keberkahan rezeki
BAZNAS menegaskan bahwa penetapan nisab mempertimbangkan kemaslahatan muzaki dan mustahik agar zakat mampu mendukung program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pentingnya Standar Nisab Nasional
Penetapan nisab zakat penghasilan tahun 2026 mengalami kenaikan sekitar 7 persen dibanding tahun sebelumnya. Penyesuaian ini mempertimbangkan tren kenaikan upah dan kondisi ekonomi masyarakat.
Standar emas 14 karat dipilih karena dianggap relevan dan seimbang antara kepatuhan syariah serta kemaslahatan umat. Kebijakan ini juga memastikan pengelolaan zakat nasional berjalan terarah, terukur, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Sinergi antara Kementerian Agama, BAZNAS, dan para pemangku kepentingan zakat terus dilakukan agar tata kelola zakat nasional semakin efektif dan transparan.
Cara Hitung Zakat agar Lebih Mudah dan Tepat
Agar lebih mudah dalam menerapkan cara hitung zakat, berikut langkah praktis yang bisa dilakukan:
Catat seluruh penghasilan dan aset yang dimiliki
Periksa apakah telah mencapai nisab
Hitung nilai harta bersih
Kalikan 2,5 persen untuk zakat mal
Tunaikan melalui lembaga resmi seperti BAZNAS agar tepat sasaran
Menunaikan zakat melalui lembaga resmi juga memastikan distribusi yang adil dan berdampak luas bagi masyarakat.
Memahami cara hitung zakat merupakan langkah penting bagi setiap Muslim agar dapat menunaikan kewajiban dengan benar dan sesuai syariat. Dengan mengikuti ketentuan nisab yang telah ditetapkan serta memahami perhitungan zakat penghasilan, emas, tabungan, dan zakat fitrah, ibadah zakat dapat dilakukan dengan mudah dan penuh keyakinan.
Cara hitung zakat yang tepat tidak hanya menyempurnakan ibadah, tetapi juga menjadi sarana berbagi rezeki dan memperkuat solidaritas umat. Ketika zakat ditunaikan secara benar dan terkelola dengan baik, ia mampu menjadi solusi nyata dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Semoga kita termasuk golongan yang istiqamah dalam menunaikan zakat dan menjadikannya sebagai jalan menuju keberkahan hidup dunia dan akhirat. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL27/02/2026 | Admin
Fiqih Puasa: Hal-Hal yang Membatalkan dan Perbuatan Makruh
BULAN suci Ramadhan merupakan waktu yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan ini, umat Muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Namun, agar puasa yang dijalankan sah dan bernilai ibadah yang sempurna, setiap Muslim perlu memahami fiqih puasa Ramadhan secara benar. Pengetahuan tentang hal-hal yang membatalkan puasa dan perkara yang dimakruhkan menjadi penting agar ibadah yang dijalankan tidak sia-sia.
Fiqih puasa Ramadhan tidak hanya membahas kewajiban menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mencakup aturan syariat yang mengatur niat, waktu, serta hal-hal yang harus dihindari selama berpuasa. Dengan memahami aturan ini, umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang, penuh kesadaran, dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Pengertian Puasa dalam Islam
Secara bahasa, puasa (shaum) berarti menahan diri. Sedangkan menurut syariat, puasa adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai niat karena Allah SWT.
Kewajiban puasa Ramadhan dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Oleh karena itu, memahami fiqih puasa Ramadhan membantu umat Islam menjalankan ibadah dengan benar dan mencapai tujuan spiritualnya.
Rukun dan Syarat Sah Puasa
Sebelum memahami hal-hal yang membatalkan puasa, penting untuk mengetahui rukun dan syarat sah puasa.
Rukun puasa:
· Niat puasa pada malam hari sebelum fajar.
· Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak fajar hingga maghrib.
Syarat wajib puasa:
· Beragama Islam
· Baligh
· Berakal sehat
· Mampu menjalankan puasa
· Tidak dalam keadaan haid atau nifas bagi perempuan
Syarat sah puasa:
· Islam
· Berakal
· Suci dari haid dan nifas
· Dilakukan pada waktu yang ditentukan
Dengan memenuhi rukun dan syarat tersebut, puasa seseorang dinyatakan sah menurut fiqih puasa Ramadhan.
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa:
Dalam fiqih puasa Ramadhan, terdapat beberapa perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Mengetahui hal ini penting agar ibadah tidak menjadi sia-sia.
1. Makan dan minum dengan sengaja
Mengonsumsi makanan atau minuman secara sengaja saat berpuasa membatalkan puasa. Namun jika lupa, puasanya tetap sah. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa lupa bahwa ia sedang berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan
Hubungan suami istri saat berpuasa tidak hanya membatalkan puasa, tetapi juga mewajibkan kafarat (denda) yang berat
3. Muntah dengan sengaja
Muntah yang disengaja membatalkan puasa, sedangkan muntah yang tidak disengaja tidak membatalkan.
4. Keluarnya mani dengan sengaja
Keluarnya mani akibat rangsangan yang disengaja, seperti onani atau sentuhan seksual, membatalkan puasa.
5. Haid dan nifas
Jika seorang perempuan mengalami haid atau nifas, puasanya batal dan wajib diganti di luar Ramadhan.
6. Hilang akal atau pingsan sepanjang hari
Kesadaran penuh menjadi syarat sah puasa.
7. Murtad (keluar dari Islam)
Keimanan merupakan syarat utama sahnya ibadah.
Memahami poin-poin ini merupakan bagian penting dari fiqih puasa Ramadhan agar umat Islam dapat menjaga kesempurnaan ibadahnya.
Hal-Hal yang Makruh Saat Berpuasa
Selain hal yang membatalkan, fiqih puasa Ramadhan juga menjelaskan perbuatan yang makruh, yaitu perbuatan yang sebaiknya dihindari karena dapat mengurangi pahala puasa.
1. Berlebihan saat berkumur atau memasukkan air ke hidung
Dikhawatirkan air tertelan dan membatalkan puasa.
2. Mengunyah sesuatu tanpa kebutuhan
Termasuk mengunyah permen karet atau makanan tanpa ditelan.
3. Mencicipi makanan tanpa kebutuhan mendesak
Diperbolehkan jika ada kebutuhan seperti memasak, tetapi harus berhati-hati agar tidak tertelan.
4. Berkata kotor dan bertengkar
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menjaga akhlak. Rasulullah SAW bersabda: "Jika seseorang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan bertengkar." (HR. Bukhari)
5. Tidur berlebihan sepanjang hari
Walaupun tidak membatalkan puasa, hal ini mengurangi nilai ibadah.
Dengan menghindari hal-hal makruh, seorang Muslim dapat menjaga kualitas puasa sesuai tuntunan fiqih puasa Ramadhan.
Amalan yang Dianjurkan Saat Puasa
Agar puasa lebih bermakna, Islam menganjurkan berbagai amalan sunnah, antara lain:
· Menyegerakan berbuka puasa
· Mengakhirkan sahur
· Memperbanyak membaca Al-Qur’an
· Bersedekah dan membantu sesama
· Memperbanyak doa dan dzikir
· Menjaga lisan dan perilaku
Puasa bukan sekadar ibadah fisik, tetapi juga latihan spiritual yang memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Hikmah Memahami Fiqih Puasa Ramadhan
· Memahami fiqih puasa Ramadhan memberikan banyak manfaat, di antaranya:
· Menjalankan ibadah dengan benar sesuai syariat
· Menghindari kesalahan yang membatalkan puasa
· Menjaga pahala dan kesempurnaan ibadah
· Meningkatkan kesadaran spiritual
· Membentuk disiplin dan pengendalian diri
Puasa yang dilakukan dengan ilmu akan membawa ketenangan hati dan meningkatkan kualitas ketakwaan.
Fiqih puasa Ramadhan menjadi panduan penting bagi umat Islam agar ibadah puasa berjalan sesuai tuntunan syariat. Mengetahui hal-hal yang membatalkan puasa serta perkara yang makruh membantu kita menjaga kesempurnaan ibadah dan meraih pahala yang maksimal. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, mengendalikan diri, serta memperbaiki akhlak.
Dengan memahami fiqih puasa Ramadhan, setiap Muslim dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk, penuh kesadaran, dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Semoga Ramadhan menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.
Memahami fiqih puasa membantu kita menjaga kualitas ibadah. Lengkapi kesempurnaannya dengan menunaikan zakat dan memperbanyak sedekah sebagai bentuk ketaatan dan kepedulian sosial. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL27/02/2026 | Admin
Apakah Sah Membayar Zakat Melalui Transfer?
PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Aktivitas komunikasi, transaksi keuangan, hingga pembayaran kewajiban keagamaan kini dapat dilakukan secara daring dengan cepat dan efisien. Salah satu bentuk kemudahan tersebut adalah pembayaran zakat melalui transfer bank atau platform digital.
Namun demikian, masih terdapat pertanyaan di tengah masyarakat: apakah zakat yang dibayarkan melalui transfer tanpa bertemu langsung dengan amil tetap sah menurut syariat Islam
Hukum Zakat Melalui Transfer
Dalam Islam, sah atau tidaknya suatu ibadah ditentukan oleh terpenuhinya syarat dan rukun, bukan oleh metode teknis pelaksanaannya. Zakat yang ditunaikan melalui transfer tetap sah selama memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
Sebagaimana sabda Rasulullah:
"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Muhammad, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa niat menjadi unsur utama dalam setiap ibadah, termasuk zakat. Dengan demikian, pembayaran zakat secara daring tetap sah selama diniatkan sebagai zakat wajib dan memenuhi persyaratan yang berlaku.
Dalam sejarah Islam, Rasulullah juga menunjuk amil untuk menghimpun dan mendistribusikan zakat. Hal ini menunjukkan bahwa penyaluran zakat melalui lembaga amil merupakan praktik yang dibenarkan. Pertemuan langsung antara muzaki dan amil bukanlah syarat sah zakat.
Syarat Sah Zakat
Agar zakat dinyatakan sah, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi:
Beragama Islam.
Merdeka.
Balig dan berakal sehat.
Harta dimiliki secara penuh.
Telah mencapai nisab (batas minimal harta wajib zakat).
Telah mencapai haul (masa kepemilikan satu tahun hijriah), kecuali zakat pertanian dan hasil tambang.
Melebihi kebutuhan pokok.
Harta diperoleh dari sumber yang halal.
Setelah dikurangi utang, harta tetap mencapai nisab.
Apabila syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka zakat yang dibayarkan melalui transfer bank maupun kanal digital tetap sah secara syariat.
Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembayaran Zakat Digital
Dalam praktiknya, terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan ketika menunaikan zakat melalui transfer:
Niat zakat dilakukan sebelum atau pada saat transfer.
Perhitungan zakat dilakukan secara tepat sesuai ketentuan nisab dan kadar zakat.
Menyimpan bukti transfer sebagai dokumentasi pembayaran.
Menyalurkan zakat melalui lembaga resmi dan terpercaya.
Sebagai lembaga resmi yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) berkomitmen memberikan layanan zakat yang amanah, transparan, dan profesional. Melalui layanan digital yang tersedia, masyarakat dapat menunaikan zakat dengan lebih mudah tanpa mengurangi keabsahan ibadahnya.
Dengan demikian, zakat yang dibayarkan melalui transfer tidak hanya sah secara hukum Islam, tetapi juga menjadi bentuk kemudahan yang sejalan dengan prinsip syariat yang memudahkan umat dalam beribadah. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL24/02/2026 | Admin
Buka Puasa, Doa, dan Berbagi: Tiga Kebaikan dalam Satu Waktu
BULAN Ramadan selalu menghadirkan suasana yang istimewa bagi umat Islam. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, setiap muslim menahan lapar, dahaga, serta hawa nafsu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Ketika adzan maghrib berkumandang, tibalah saat yang paling dinanti: buka puasa.
Namun sejatinya, buka puasa bukan sekadar waktu untuk makan dan minum. Ia adalah momen spiritual yang sarat makna—waktu mustajab untuk berdoa, saat terbaik untuk bersyukur, dan kesempatan luas untuk berbagi kepada sesama.
Buka Puasa sebagai Wujud Ketaatan dan Syukur
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menyegerakan berbuka ketika waktu maghrib tiba. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.
Anjuran ini bukan semata soal waktu, melainkan tentang kepatuhan terhadap sunnah. Berbuka tepat waktu mencerminkan keseimbangan dalam Islam: menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh tanpa melupakan kebutuhan jasmani.
Rasulullah SAW juga mencontohkan berbuka dengan kurma atau air putih sebelum melaksanakan salat maghrib. Kesederhanaan ini mengajarkan umat untuk tidak berlebihan serta menjaga adab dalam menikmati rezeki yang Allah SWT berikan.
Di balik hidangan sederhana itu, tersimpan rasa syukur yang mendalam. Setelah seharian berpuasa, setiap teguk air dan setiap suap makanan menjadi pengingat bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT.
Waktu Mustajab untuk Memanjatkan Doa
Salah satu keistimewaan waktu berbuka adalah dikabulkannya doa orang yang berpuasa. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa terdapat doa yang tidak tertolak ketika seorang hamba berbuka puasa.
Doa yang sering dibaca saat berbuka adalah:
“Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika aftartu.” Artinya: Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.
Momentum ini hendaknya dimanfaatkan untuk memohon ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, serta keselamatan bagi keluarga dan masyarakat. Waktu berbuka bukan hanya tentang menyiapkan hidangan, tetapi juga tentang mengangkat tangan dengan penuh harap kepada Allah SWT.
Di sinilah letak keindahan Ramadan: saat fisik terasa lemah, jiwa justru semakin dekat dengan Sang Pencipta.
Berbagi Saat Berbuka: Menguatkan Kepedulian Sosial
Ramadan juga identik dengan tradisi berbagi. Memberi makan orang yang berpuasa memiliki pahala yang besar. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang memberi makan orang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.
Semangat berbagi ini terlihat dalam berbagai kegiatan seperti pembagian takjil, buka puasa bersama, serta santunan bagi kaum dhuafa. Selain mempererat ukhuwah Islamiyah, kegiatan ini menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.
Berbagi saat berbuka bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang menghadirkan harapan dan menguatkan saudara-saudara kita yang sedang berjuang dalam keterbatasan.
Adab Berbuka yang Mengandung Nilai Ibadah
Agar buka puasa bernilai ibadah sempurna, terdapat beberapa sunnah yang dianjurkan:
1. Menyegerakan berbuka saat adzan maghrib
2. Membaca doa sebelum makan dan minum
3. Mengutamakan kurma atau air putih
4. Tidak berlebihan dalam menyantap hidangan
5. Bersyukur atas nikmat yang diterima
6. Menghindari pemborosan
Adab-adab ini menegaskan bahwa buka puasa bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga proses pembinaan akhlak dan spiritual.
Momentum Perbaikan Diri
Ramadan adalah bulan pembentukan karakter. Waktu berbuka dapat menjadi momen refleksi: sudahkah puasa hari ini dijalankan dengan penuh kesabaran? Sudahkah lisan dan hati dijaga dari hal-hal yang mengurangi pahala?
Mengisi waktu menjelang berbuka dengan membaca Al-Qur’an, berzikir, dan bersedekah akan semakin menyempurnakan ibadah puasa. Kebiasaan ini, jika terus dijaga, akan membentuk pribadi muslim yang disiplin, sabar, dan peduli terhadap sesama.
Menggapai Keberkahan Bersama
Buka puasa adalah pertemuan antara rasa syukur, doa, dan kepedulian sosial dalam satu waktu yang penuh rahmat. Saat seorang muslim berbuka, ia tidak hanya menghilangkan rasa lapar, tetapi juga membuka pintu keberkahan.
BAZNAS Provinsi Lampung mengajak masyarakat untuk menjadikan setiap waktu berbuka sebagai momentum berbagi. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi agar setiap hidangan berbuka yang kita nikmati juga menghadirkan kebahagiaan bagi mustahik.
Karena sejatinya, keberkahan bukan hanya tentang apa yang kita terima, tetapi tentang apa yang kita berikan.
Semoga setiap buka puasa yang kita jalani menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperkuat ukhuwah, dan menumbuhkan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL23/02/2026 | Admin
Memberi Makan Orang Berpuasa, Wujud Peduli dan Investasi Akhirat
MEMBERI makan orang yang berpuasa merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, khususnya pada bulan suci Ramadan. Amalan ini tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang tinggi karena mengandung pahala besar serta keberkahan bagi yang melaksanakannya. Tradisi berbagi hidangan berbuka puasa telah menjadi bagian dari budaya kebaikan umat Islam di berbagai daerah. Dari pembagian takjil sederhana hingga kegiatan buka puasa bersama, seluruhnya menjadi wujud nyata kepedulian dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Hadis tersebut menegaskan besarnya pahala bagi siapa saja yang berbagi hidangan berbuka. Bahkan, balasannya setara dengan pahala orang yang menjalankan ibadah puasa itu sendiri.
Bentuk-Bentuk Berbagi yang Dapat Dilakukan
Memberi makan orang berpuasa tidak harus dalam bentuk jamuan besar. Islam menekankan keikhlasan dan niat sebagai inti dari setiap amal. Beberapa bentuk berbagi yang dapat dilakukan antara lain:
Membagikan takjil seperti air minum, kurma, atau makanan ringan.
Mengadakan buka puasa bersama untuk mempererat silaturahmi.
Mengirimkan makanan kepada fakir miskin, anak yatim, pekerja harian, dan musafir.
Menyalurkan sedekah melalui lembaga zakat resmi agar distribusi lebih tepat sasaran.
Melalui program-program sosial Ramadan, pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah diupayakan dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Hikmah dan Manfaat Spiritual
Berbagi makanan saat Ramadan membawa banyak hikmah, di antaranya menumbuhkan empati, meningkatkan rasa syukur, serta mempererat ukhuwah Islamiyah. Amalan ini juga menjadi sebab diampuninya dosa dan dilipatgandakannya pahala.
Dalam ajaran Islam, sedekah tidak mengurangi harta. Sebaliknya, Allah SWT menjanjikan keberkahan dan balasan yang berlipat ganda bagi hamba-Nya yang gemar berbagi.
Prioritas Penerima Manfaat
Islam memberikan perhatian khusus kepada golongan yang membutuhkan, seperti fakir, miskin, anak yatim, musafir, serta masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi. Oleh karena itu, distribusi makanan berbuka puasa hendaknya diprioritaskan kepada mereka agar manfaatnya lebih terasa dan tepat guna.
Menghidupkan Ramadan dengan Kepedulian
Memberi makan orang berpuasa merupakan amalan sederhana yang memiliki keutamaan luar biasa. Tidak perlu menunggu memiliki harta berlimpah untuk berbagi. Bahkan, seteguk air dan sebutir kurma yang diberikan dengan niat ikhlas dapat menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT. Melalui semangat kebersamaan dan kepedulian sosial, Ramadan dapat menjadi momentum untuk memperbanyak amal dan menebarkan kebaikan. Berbagi bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan dan keberkahan di tengah masyarakat. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL22/02/2026 | Admin
Memberi dengan Bermartabat: Manfaat Zakat untuk Muslim
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki makna mendalam, tidak hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang membawa dampak luas bagi kehidupan umat. Zakat bukan sekadar aktivitas finansial, melainkan wujud kepedulian yang dilakukan dengan menjaga kehormatan dan martabat penerimanya.
Secara bahasa, zakat berarti suci, tumbuh, dan berkah. Sementara secara istilah syariat, zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim yang telah memenuhi syarat, untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik).
Jenis-Jenis Zakat yang Wajib Diketahui
Dalam pelaksanaannya, zakat terbagi ke dalam beberapa jenis yang penting untuk dipahami umat Islam, di antaranya:
Zakat Fitrah Zakat yang wajib dikeluarkan setiap Muslim menjelang Hari Raya Idul Fitri. Zakat ini berfungsi untuk menyucikan diri setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan sekaligus membantu fakir miskin agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.
Zakat Mal (Harta) Zakat yang dikenakan atas harta tertentu seperti emas, perak, uang, hasil perdagangan, pertanian, peternakan, dan investasi yang telah mencapai nisab dan haul.
Zakat Profesi Zakat yang dikenakan atas penghasilan atau pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau keahlian tertentu, apabila telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Pemahaman terhadap jenis-jenis zakat ini penting agar umat Islam dapat menunaikan kewajibannya secara benar dan sesuai syariat.
Manfaat Spiritual Zakat
Menunaikan zakat memberikan manfaat spiritual yang besar bagi seorang Muslim. Zakat menyucikan jiwa dari sifat kikir dan cinta berlebihan terhadap harta. Selain itu, zakat juga menumbuhkan rasa syukur, keikhlasan, serta memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Harta yang dizakatkan tidak akan berkurang nilainya. Sebaliknya, Allah SWT menjanjikan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda bagi mereka yang menunaikannya dengan penuh keikhlasan.
Manfaat Sosial dan Ekonomi
Di sisi sosial, zakat berperan penting dalam mengurangi kesenjangan ekonomi dan memperkuat solidaritas antarsesama. Distribusi zakat yang tepat sasaran mampu membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang kurang mampu.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa terdapat delapan golongan yang berhak menerima zakat, yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharimin, fi sabilillah, dan ibnu sabil. Melalui pengelolaan yang amanah dan profesional, zakat dapat menjadi solusi dalam membangun kesejahteraan umat.
Selain bersifat konsumtif untuk kebutuhan mendesak, zakat juga dapat dikelola secara produktif guna mendorong kemandirian mustahik melalui program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan sosial.
Memberi dengan Menjaga Martabat
Islam mengajarkan bahwa memberi harus dilakukan dengan adab dan menjaga kehormatan penerima. Tidak menyebut-nyebut pemberian, tidak merendahkan, serta menyalurkan secara bijak merupakan bagian dari konsep memberi dengan bermartabat.
Zakat yang dikelola secara baik tidak hanya membantu meringankan beban, tetapi juga menghadirkan harapan dan peluang bagi mustahik untuk bangkit dan mandiri.
Zakat sebagai Investasi Dunia dan Akhirat
Bagi seorang Muslim, zakat adalah investasi dunia dan akhirat. Selain membawa manfaat nyata dalam kehidupan sosial, zakat juga menjadi bekal pahala yang akan terus mengalir.
Dengan meningkatnya kesadaran berzakat, diharapkan semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa zakat adalah solusi nyata untuk membangun kepedulian, memperkuat persaudaraan, dan menciptakan kesejahteraan bersama. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL22/02/2026 | Admin
Ini Caranya, Menghitung Zakat Emas dan Perak dengan Mudah
DALAM Islam, emas dan perak termasuk harta yang wajib dizakati apabila telah memenuhi syarat tertentu. Kewajiban ini didasarkan pada Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa harta yang disimpan dan tidak ditunaikan zakatnya dapat menjadi beban di akhirat kelak. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34)
Ayat ini mengingatkan bahwa harta bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga memiliki hak bagi orang lain. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim tidak hanya membersihkan hartanya, tetapi juga membantu kesejahteraan masyarakat.
Pengertian Zakat Emas dan Perak
Zakat emas dan perak adalah zakat yang dikenakan atas kepemilikan logam mulia yang mencapai nisab dan telah dimiliki selama satu tahun (haul). Emas dan perak yang wajib dizakati meliputi:
Emas batangan atau koin
Tabungan emas
Perhiasan emas yang disimpan sebagai investasi
Perak batangan atau perhiasan perak bernilai simpan
Namun, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai perhiasan emas yang dipakai sehari-hari. Sebagian ulama menyatakan tidak wajib zakat jika digunakan secara wajar, sedangkan sebagian lain tetap mewajibkan zakat. Untuk kehati-hatian, banyak ulama menganjurkan tetap menunaikan zakatnya.
Syarat wajib menghitung zakat emas dan perak
Sebelum menghitung zakat emas dan perak, penting memahami syarat wajibnya:
Beragama Islam
Zakat hanya diwajibkan bagi umat Islam.
Kepemilikan sempurnaHarta tersebut milik penuh dan dapat digunakan.
Mencapai nisabJumlah emas atau perak mencapai batas minimal wajib zakat.
Melewati haul (1 tahun hijriyah)Kepemilikan berlangsung selama satu tahun.
Nisab zakat emas dan perak
Nisab adalah batas minimal harta yang membuat seseorang wajib membayar zakat.
Nisab emas: 85 gram
Nisab perak: 595 gram
Jika kepemilikan emas mencapai atau melebihi 85 gram dan disimpan selama satu tahun, maka wajib zakat.
Jika seseorang memiliki perak mencapai 595 gram atau lebih selama satu tahun, maka wajib zakat.
Kadar Zakat Emas dan Perak
Besaran zakat yang harus dikeluarkan adalah:
2,5 persen dari total emas atau perak yang dimiliki
Besaran ini berlaku setelah harta mencapai nisab dan haul.
Cara Menghitung Zakat Emas dan Perak
Menghitung zakat emas dan perak sebenarnya sangat sederhana. Berikut langkah-langkahnya:
Hitung total emas atau perak yang dimiliki. Jumlahkan seluruh emas atau perak yang disimpan.
Pastikan mencapai nisab. Bandingkan jumlah yang dimiliki dengan nisab.
Hitung nilai zakat (2,5 persen). Kalikan total harta dengan 2,5 persen.
Rumus sederhana:
Jumlah emas/perak × 2,5 persen = zakat yang harus dibayar
Contoh Menghitung Zakat Emas :
Seseorang memiliki emas batangan seberat 120 gram yang telah disimpan selama satu tahun. Karena nisab emas adalah 85 gram, maka emas tersebut wajib dizakati. Zakat yang harus dibayar adalah 20 gram × 2,5 persen = 3 gram emas
Jika ingin membayar dalam bentuk uang, kalikan dengan harga emas saat zakat dibayarkan.
Misalnya harga emas Rp1.000.000 per gram
3 gram × Rp1.000.000 = Rp3.000.000
Contoh Menghitung Zakat Perak
Seseorang memiliki 700 gram perak yang disimpan selama satu tahun.
Karena nisab perak adalah 595 gram, maka wajib zakat.
700 gram × 2,5 persen = 17,5 gram perak
Jika harga perak Rp12.000 per gram:
17,5 × 12.000 = Rp210.000
Bagaimana Jika Emas Berupa Perhiasan?
Perhiasan emas yang digunakan sehari-hari masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Pendapat yang berkembang:
Tidak wajib zakat jika digunakan secara wajar
Wajib zakat jika berlebihan atau disimpan sebagai investasi
Untuk kehati-hatian dan keberkahan harta, banyak ulama menganjurkan tetap mengeluarkan zakat.
Waktu Terbaik Menunaikan Zakat
Zakat emas dan perak dikeluarkan setelah mencapai haul satu tahun.
Namun, boleh juga menunaikan zakat lebih awal untuk:
Mempercepat keberkahan
Membantu sesama lebih cepat
Memudahkan pengelolaan harta
Hikmah Menunaikan Zakat Emas dan Perak
Memahami dan menunaikan kewajiban ini membawa banyak manfaat spiritual dan sosial.
Mensucikan harta, zakat membersihkan harta dari hak orang lain.
Menumbuhkan keberkahan, harta yang dizakati justru bertambah berkah.
Mengurangi kesenjangan sosial, zakat membantu fakir miskin dan meningkatkan kesejahteraan umat.
Melatih keikhlasan dan kepedulian, zakat menumbuhkan empati terhadap sesama.
Kesalahan Umum dalam Menghitung Zakat
Beberapa kesalahan yang sering terjadi saat menghitung zakat emas dan perak:
Tidak menghitung seluruh emas yang dimiliki
Mengabaikan haul satu tahun
Mengira perhiasan pasti tidak wajib zakat
Menggunakan harga emas lama saat menghitung zakat
Memahami cara menghitung zakat emas dan perak dengan benar membantu menghindari kekeliruan dan memastikan kewajiban terpenuhi.
Perbedaan Zakat Emas dengan Tabungan atau Investasi
Jika emas dimiliki sebagai investasi, maka zakat tetap dihitung berdasarkan berat emas atau nilai pasar saat zakat dibayarkan.
Sementara itu, tabungan uang dikenakan zakat maal dengan nisab setara 85 gram emas.
Penyaluran Zakat yang Tepat
Zakat harus diberikan kepada golongan yang berhak menerima (mustahik), yaitu:
Fakir
Miskin
Amil zakat
Mualaf
Riqab (memerdekakan budak)
Gharim (orang berutang)
Fi sabilillah
Ibnu sabil
Menyalurkan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS atau LAZ terpercaya dapat memastikan distribusi tepat sasaran.
Menjadikan Zakat sebagai Gaya Hidup Muslim
Memahami cara menghitung zakat emas dan perak bukan hanya soal kewajiban, tetapi juga bagian dari gaya hidup muslim yang peduli terhadap keberkahan dan kesejahteraan umat. Dengan menunaikan zakat secara rutin, seorang muslim menjaga kesucian harta sekaligus berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Zakat bukanlah pengurang kekayaan, melainkan sarana penyucian dan penambah keberkahan. Saat kita ikhlas mengeluarkannya, Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda.
Menghitung zakat emas dan perak dengan mudah dapat dilakukan dengan memahami nisab, haul, dan kadar zakat sebesar 2,5 persen. Jika kepemilikan emas mencapai 85 gram atau perak mencapai 595 gram selama satu tahun, maka zakat wajib ditunaikan.
Dengan memahami tata cara dan hikmahnya, umat Islam dapat menjalankan kewajiban ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Semoga kita termasuk hamba Allah yang menjaga amanah harta dan menjadikannya sarana kebaikan bagi sesama. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL22/02/2026 | Admin
Siapa Itu Mustahik: Memahami 8 Golongan Penerima Zakat
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran besar dalam menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Melalui zakat, harta yang dimiliki seorang muslim tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga alat untuk membantu sesama. Dalam praktiknya, zakat tidak diberikan secara sembarangan, melainkan disalurkan kepada pihak yang berhak menerimanya. Di sinilah pentingnya memahami siapa itu mustahik agar zakat tersalurkan secara tepat dan sesuai syariat.
Banyak umat Islam masih bertanya-tanya tentang siapa itu mustahik dan siapa saja yang berhak menerima zakat. Memahami konsep ini tidak hanya membantu muzaki menunaikan kewajibannya dengan benar, tetapi juga memperkuat semangat kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Islam telah mengatur secara jelas delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Pengertian Mustahik dalam Islam Secara bahasa, mustahik berasal dari kata istahaqqa yang berarti berhak atau layak menerima sesuatu. Dalam konteks zakat, mustahik adalah orang atau kelompok yang berhak menerima Zakat sesuai ketentuan syariat Islam. Mengetahui siapa itu mustahik sangat penting karena zakat merupakan amanah yang harus disalurkan kepada pihak yang tepat. Kesalahan dalam penyaluran dapat mengurangi nilai ibadah zakat itu sendiri. Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai mustahik menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah seorang muslim.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan…”(QS. At-Taubah: 60) Ayat ini menjadi landasan utama dalam menentukan siapa itu mustahik dan kelompok yang berhak menerima zakat.
Mengapa Penting Memahami Siapa Itu Mustahik
Memahami siapa itu mustahik bukan sekadar pengetahuan agama, tetapi memiliki dampak sosial yang besar. Zakat yang disalurkan kepada pihak yang tepat akan:
- Mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial
- Membantu masyarakat yang kesulitan ekonomi
- Meningkatkan kesejahteraan umat
- Memperkuat ukhuwah Islamiyah
- Mendorong pemerataan ekonomi
Dengan memahami mustahik, zakat menjadi instrumen nyata dalam membangun keadilan sosial sesuai ajaran Islam.
Islam telah menetapkan delapan golongan mustahik yang berhak menerima Zakat. Berikut penjelasannya:
Fakir, adalah orang yang hampir tidak memiliki harta maupun penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Mereka hidup dalam kondisi sangat kekurangan dan membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. Golongan fakir menjadi prioritas utama dalam penyaluran zakat karena tingkat kebutuhan mereka sangat mendesak.
Miskin, adalah orang yang memiliki penghasilan, tetapi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Mereka masih mampu bekerja, namun penghasilannya belum cukup untuk hidup layak. Perbedaan utama antara fakir dan miskin terletak pada tingkat penghasilan dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Amil Zakat, adalah orang yang bertugas mengelola zakat, mulai dari pengumpulan, pencatatan, hingga pendistribusian kepada mustahik. Mereka berhak menerima zakat sebagai bentuk imbalan atas tugas yang dijalankan. Keberadaan amil sangat penting agar zakat dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran.
Muallaf, adalah orang yang baru masuk Islam atau mereka yang hatinya perlu dikuatkan agar semakin mantap dalam keimanan. Bantuan zakat diberikan untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan kehidupan baru sebagai muslim. Zakat bagi muallaf juga berfungsi memperkuat persaudaraan dan dukungan sosial dalam komunitas Islam.
Riqab (Memerdekakan Budak) Golongan riqab merujuk pada budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya. Pada masa kini, ulama menafsirkan kategori ini secara kontekstual, termasuk membantu korban perdagangan manusia atau individu yang tertindas dan membutuhkan pembebasan dari ketidakadilan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan dan martabat manusia.
Gharimin (Orang yang Berutang) Gharimin adalah orang yang memiliki utang karena kebutuhan mendesak dan tidak mampu melunasinya. Utang tersebut bukan untuk maksiat atau pemborosan, melainkan untuk kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, atau kepentingan sosial. Zakat membantu mereka keluar dari tekanan ekonomi dan memulai kehidupan yang lebih stabil.
Fi Sabilillah, berarti segala kegiatan yang dilakukan di jalan Allah untuk kemaslahatan umat. Termasuk di dalamnya dakwah Islam, pendidikan, perjuangan sosial, dan kegiatan yang bertujuan menegakkan nilai-nilai kebaikan. Dalam konteks modern, kategori ini dapat mencakup kegiatan sosial keagamaan, pendidikan Islam, dan program kemanusiaan.
Ibnu sabil, adalah musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal. Meskipun ia tergolong mampu di daerah asalnya, kondisi perjalanan membuatnya membutuhkan bantuan. Zakat membantu mereka melanjutkan perjalanan dan kembali ke tempat asal dengan aman.
Memahami siapa itu mustahik merupakan bagian penting dalam menunaikan ibadah zakat secara benar dan sempurna. Islam telah menetapkan delapan golongan penerima zakat yang mencerminkan keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Dengan memahami dan menerapkan prinsip ini, zakat tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga solusi nyata dalam mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat.
Ketika zakat disalurkan kepada mustahik yang tepat, keberkahan tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga oleh pemberi. Harta menjadi lebih berkah, hati menjadi lebih tenang, dan masyarakat menjadi lebih sejahtera. Oleh karena itu, memahami siapa itu mustahik adalah langkah penting untuk mewujudkan keadilan sosial dan memperkuat solidaritas umat Islam.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
* BSI: 771 166 4477
* BCA Syariah: 0660 1701 01
* BTN Syariah: 817 1000 036
* Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
Muzaki, Kriteria Orang Wajib Berzakat
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membangun keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Dalam ajaran Islam, zakat tidak hanya menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga wujud kepedulian terhadap sesama. Orang yang memiliki kewajiban menunaikan zakat disebut sebagai muzaki. Memahami siapa yang termasuk muzaki sangat penting agar seorang Muslim dapat menjalankan kewajiban agamanya dengan benar serta memastikan hartanya menjadi bersih dan berkah.
Pengertian Muzaki dalam Islam Secara bahasa, muzaki berasal dari kata “Zakat” yang berarti suci, tumbuh, dan berkah. Dalam istilah syariat, muzaki adalah seorang Muslim yang memiliki kewajiban mengeluarkan zakat atas harta yang dimilikinya karena telah memenuhi syarat tertentu. Kedudukan muzaki sangat penting dalam sistem ekonomi Islam. Melalui zakat yang ditunaikan oleh muzaki, keseimbangan sosial dapat terjaga, kesenjangan ekonomi dapat diperkecil, dan kesejahteraan umat dapat meningkat. Oleh karena itu, memahami status sebagai muzaki bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga kesadaran spiritual dan sosial.
Dasar Hukum Kewajiban Muzaki Menunaikan Zakat Kewajiban zakat ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman: “Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat…”(QS. Al-Baqarah: 43) Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang sejajar dengan salat sebagai kewajiban utama umat Islam. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa Islam dibangun atas lima perkara, salah satunya adalah menunaikan zakat. Dengan demikian, seorang muzaki yang telah memenuhi syarat wajib zakat tidak boleh menunda atau mengabaikan kewajiban tersebut.
Kriteria Seseorang Disebut sebagai Muzaki
Tidak setiap Muslim otomatis menjadi muzaki. Islam menetapkan beberapa syarat agar seseorang berkewajiban menunaikan zakat.
Berikut kriteria utama yang menjadikan seseorang sebagai muzaki:
1. Beragama Islam
Zakat merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Oleh karena itu, hanya seorang Muslim yang memiliki kewajiban sebagai muzaki.
2. Merdeka dan Memiliki Kepemilikan Harta Penuh
Seseorang harus memiliki kendali penuh atas hartanya. Harta yang masih menjadi sengketa atau bukan milik pribadi tidak termasuk dalam perhitungan zakat.
3. Harta Mencapai Nisab
Nisab adalah batas minimal kepemilikan harta yang mewajibkan Zakat. Jika harta belum mencapai nisab, seseorang belum termasuk muzaki. Contoh nisab: Zakat emas: setara 85 gram emas Zakat perak: setara 595 gram perak Zakat perdagangan: setara nilai 85 gram emas Zakat pertanian: 653 kg gabah kering
4. Harta Telah Mencapai Haul
Haul berarti kepemilikan harta telah berlangsung selama satu tahun hijriyah. Syarat ini berlaku untuk zakat harta seperti tabungan, emas, dan perdagangan. Namun, zakat pertanian, rikaz (harta temuan), dan hasil tambang tidak mensyaratkan haul.
5. Harta Berkembang atau Berpotensi Berkembang
Harta yang wajib dizakati adalah harta yang memiliki potensi berkembang atau produktif, seperti:
uang dan tabungan
emas dan perak
hasil perdagangan
investasi
hasil pertanian
ternak
Jika seseorang memiliki harta yang memenuhi syarat tersebut, ia termasuk muzaki dan wajib menunaikan zakat. Jenis Harta yang Menjadikan Seseorang Muzaki. Dalam kehidupan modern, bentuk harta semakin beragam. Berikut beberapa jenis harta yang dapat menjadikan seseorang berstatus muzaki:
Zakat Penghasilan, penghasilan rutin seperti gaji, honorarium, atau pendapatan profesional wajib dizakati jika mencapai nisab setara 85 gram emas per tahun.
Zakat Perdagangan, Pengusaha atau pedagang menjadi muzaki apabila modal usaha dan keuntungan bersih mencapai nisab.
Zakat Pertanian, Petani yang hasil panennya mencapai nisab wajib mengeluarkan zakat sebesar 5% atau 10% tergantung sistem pengairan.
Zakat Emas dan Tabungan Emas, perhiasan yang disimpan, serta tabungan yang mencapai nisab dan haul wajib dizakati sebesar 2,5%.
Zakat Investasi dan Aset Produktif Keuntungan dari investasi properti, saham, atau usaha produktif termasuk objek zakat.
Dengan memahami jenis harta ini, seorang Muslim dapat menyadari kapan dirinya telah menjadi muzaki dan wajib menunaikan zakat. Perbedaan Muzaki dan Mustahik Untuk memahami zakat secara utuh, penting membedakan antara muzaki dan mustahik.
Muzaki adalah orang yang wajib membayar zakat.
Mustahik adalah orang yang berhak menerima zakat. Mustahik terdiri dari delapan golongan yang disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 60, termasuk fakir, miskin, amil zakat, dan lainnya.
Dengan memahami perbedaan ini, seorang muzaki dapat menunaikan Zakat secara tepat sasaran. Menjadi muzaki adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Dengan memahami kriteria muzaki, seorang Muslim dapat menunaikan zakat dengan kesadaran penuh, bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Kesadaran sebagai muzaki juga menjadi jalan untuk membersihkan harta, menumbuhkan keberkahan, serta menghadirkan keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika zakat ditunaikan dengan benar, maka keberkahan tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga oleh muzaki yang menunaikannya dengan ikhlas. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
* BSI: 771 166 4477
* BCA Syariah: 0660 1701 01
* BTN Syariah: 817 1000 036
* Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
Lima Amalan Puasa yang Wajib Diketahui
PUASA bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi merupakan ibadah yang membentuk ketakwaan dan kedisiplinan spiritual seorang Muslim. Dalam Islam, amalan puasa memiliki dimensi ibadah yang luas, mencakup pengendalian diri, peningkatan ibadah, hingga kepedulian sosial. Oleh karena itu, memahami amalan puasa yang benar sangat penting agar ibadah yang dijalankan tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah SWT.
Bulan Ramadan menjadi momentum terbaik untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh. Namun, amalan puasa tidak hanya terbatas pada menahan diri dari makan dan minum. Ada sejumlah amalan penting yang dianjurkan agar puasa membawa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Dengan memahami dan mengamalkannya, seorang Muslim dapat menjadikan puasa sebagai sarana peningkatan iman dan akhlak.
Makna Spiritual dalam Amalan Puasa
Puasa merupakan ibadah yang memiliki tujuan utama membentuk ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi orang yang bertakwa. Ketakwaan ini lahir dari kemampuan mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Amalan puasa juga melatih empati terhadap sesama. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia akan lebih memahami penderitaan orang lain yang kekurangan. Dari sinilah lahir dorongan untuk bersedekah dan membantu sesama sebagai wujud kepedulian sosial. Selain itu, puasa menjadi sarana pembersihan jiwa. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sekaligus melatih diri untuk menjauhi perbuatan dosa. Dengan demikian, amalan puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proses pembentukan karakter Muslim yang lebih baik.
1. Meluruskan Niat sebagai Pondasi Amalan Puasa
Niat merupakan dasar dari setiap ibadah, termasuk puasa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Oleh karena itu, meluruskan niat hanya karena Allah SWT menjadi syarat utama agar puasa bernilai ibadah. Niat tidak harus diucapkan dengan lisan, tetapi cukup dihadirkan dalam hati sebelum fajar. Namun, sebagian ulama menganjurkan melafalkannya sebagai bentuk penguatan niat. Dengan niat yang tulus, amalan puasa menjadi lebih bermakna dan terhindar dari riya atau sekadar rutinitas.
2. Menjaga Lisan dan Perilaku
Salah satu esensi amalan puasa adalah menjaga lisan dan perilaku. Puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan dusta, ghibah, fitnah, dan ucapan kasar. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang tidak meninggalkan perkataan buruk saat berpuasa tidak mendapatkan nilai dari puasanya selain lapar dan haus. Oleh karena itu, menjaga tutur kata, bersikap sabar, dan menghindari pertengkaran merupakan bagian penting dari amalan puasa yang harus diperhatikan.
3. Memperbanyak Tilawah Al-Qur’an
Ramadan dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Oleh sebab itu, membaca dan memahami Al-Qur’an menjadi amalan puasa yang sangat dianjurkan. Tilawah Al-Qur’an tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga menenangkan hati dan memperkuat keimanan. Banyak ulama menganjurkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadan sebagai bentuk optimalisasi ibadah. Selain membaca, memahami makna dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an akan menjadikan puasa lebih bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
4. Memperbanyak Sedekah dan Kepedulian Sosial
Amalan puasa juga berkaitan erat dengan kepedulian terhadap sesama. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang paling dermawan, terutama pada bulan Ramadan. Memberi makan orang yang berbuka puasa, membantu fakir miskin, serta berbagi rezeki merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Sedekah tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat. Melalui amalan puasa yang disertai sedekah, seorang Muslim dapat merasakan kebahagiaan spiritual sekaligus mempererat hubungan kemanusiaan.
5. Memperbanyak Ibadah Malam
Ibadah malam seperti salat Tarawih, tahajud, dan memperbanyak doa merupakan amalan puasa yang memiliki keutamaan besar. Malam Ramadan dipenuhi dengan keberkahan dan kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Salah satu malam yang paling dinantikan adalah Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dengan memperbanyak ibadah malam, seorang Muslim dapat meraih pahala yang luar biasa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah malam juga menjadi waktu terbaik untuk bermuhasabah dan memperbaiki hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Mengoptimalkan Amalan Puasa dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengamalkan nilai-nilai puasa tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan berakhir. Kesabaran, kejujuran, empati, dan kedisiplinan yang dilatih selama berpuasa perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Puasa mengajarkan pengendalian diri dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bekerja, berinteraksi sosial, dan mengambil keputusan. Dengan demikian, amalan puasa membentuk pribadi yang lebih bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Selain itu, menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan menjadi tanda diterimanya amalan puasa. Kebiasaan baik seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga salat berjamaah hendaknya terus dipertahankan.
Amalan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan sarana pembentukan ketakwaan dan karakter mulia. Dengan meluruskan niat, menjaga lisan, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bersedekah, serta menghidupkan ibadah malam, seorang Muslim dapat meraih keberkahan puasa secara optimal. Memahami dan mengamalkan amalan puasa akan menjadikan ibadah ini lebih bermakna dan membawa perubahan positif dalam kehidupan. Puasa menjadi momentum penyucian jiwa, penguatan iman, serta peningkatan kepedulian sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern. Semoga dengan menjalankan amalan puasa secara konsisten dan penuh keikhlasan, kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa dan mendapatkan rahmat serta ampunan dari Allah SWT.
Menjalankan lima amalan puasa ini akan semakin sempurna ketika diiringi dengan kepedulian kepada sesama. Infak menjadi salah satu cara sederhana namun penuh makna untuk membersihkan harta sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Melalui BAZNAS, infak Anda disalurkan secara amanah dan tepat sasaran untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
* BSI: 771 166 4477
* BCA Syariah: 0660 1701 01
* BTN Syariah: 817 1000 036
* Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
Mengapa Sedekah Dianjurkan Setiap Saat
SEDEKAH merupakan salah satu amalan mulia dalam Islam yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah SWT. Tidak hanya menjadi sarana membantu sesama, sedekah juga menjadi bentuk ketaatan seorang muslim kepada perintah agama. Dalam kehidupan sehari-hari, Sedekah dapat dilakukan kapan saja dan dalam berbagai bentuk, baik berupa harta, tenaga, ilmu, maupun senyuman yang tulus kepada orang lain. Islam tidak membatasi waktu untuk bersedekah. Sedekah dapat dilakukan setiap saat karena manusia senantiasa berada dalam kesempatan untuk berbuat kebaikan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap kebaikan adalah sedekah, sehingga ruang untuk melakukan sedekah sangat luas dan mudah dijalankan oleh siapa saja.
Melalui sedekah, seorang muslim menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Sedekah bukanlah sekadar pemberian materi, tetapi wujud kepedulian sosial yang mempererat hubungan antarmanusia. Oleh karena itu, memahami mengapa sedekah dianjurkan setiap saat menjadi penting agar umat Islam semakin terdorong untuk menjadikannya sebagai kebiasaan hidup.
Sedekah sebagai Bentuk Ketaatan kepada Allah SWT
Sedekah merupakan wujud nyata ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT karena sedekah adalah perintah yang dianjurkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Ketika seorang muslim melaksanakan sedekah dengan ikhlas, ia menunjukkan kepatuhan terhadap ajaran Islam serta keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berulang kali memerintahkan umat Islam untuk menunaikan sedekah sebagai bentuk kepedulian kepada fakir miskin. Sedekah menjadi bukti bahwa seorang muslim tidak hanya beribadah secara ritual, tetapi juga menjalankan tanggung jawab sosialnya terhadap sesama manusia.
Sedekah juga mencerminkan keimanan yang kuat karena seseorang yang gemar bersedekah percaya bahwa hartanya tidak akan berkurang. Rasulullah SAW menegaskan bahwa sedekah tidak mengurangi harta, melainkan justru mendatangkan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Selain itu, sedekah membantu membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Dengan rutin melakukan sedekah, seorang muslim belajar melepaskan keterikatan pada materi dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketaatan melalui sedekah tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga membentuk karakter mulia dalam diri seorang muslim. Sedekah melatih keikhlasan, kesabaran, dan kepedulian, sehingga menjadikan pelakunya pribadi yang lebih baik di mata Allah dan manusia.
Sedekah sebagai Sarana Membersihkan Harta dan Jiwa
Sedekah memiliki peran penting dalam menyucikan harta yang dimiliki seorang muslim. Dalam Islam, harta yang dikeluarkan melalui sedekah menjadi sarana pembersih dari hak orang lain yang mungkin melekat di dalamnya. Selain membersihkan harta, sedekah juga berfungsi membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk seperti keserakahan dan egoisme. Ketika seseorang rutin bersedekah, ia belajar untuk menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.
Sedekah menjadi latihan spiritual yang membantu seseorang menumbuhkan rasa empati. Dengan sedekah, seorang muslim merasakan penderitaan orang lain dan terdorong untuk membantu meringankan beban mereka. Membersihkan jiwa melalui sedekah juga berarti menumbuhkan ketenangan batin. Orang yang gemar bersedekah cenderung merasakan kedamaian hati karena ia tidak terbelenggu oleh kecintaan berlebihan terhadap harta. Dengan demikian, sedekah bukan hanya amalan sosial, tetapi juga proses penyucian diri yang memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya dan sesama manusia.
Sedekah Membuka Pintu Rezeki dan Keberkahan Hidup
Sedekah diyakini sebagai salah satu kunci terbukanya pintu rezeki. Allah SWT menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang-orang yang bersedekah dengan ikhlas di jalan-Nya. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa orang yang gemar bersedekah justru mendapatkan kelapangan rezeki. Sedekah mengundang keberkahan yang tidak selalu berupa materi, tetapi juga kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Sedekah juga menjadi sebab turunnya pertolongan Allah SWT dalam berbagai kesulitan hidup. Ketika seseorang menghadapi masalah, sedekah dapat menjadi jalan untuk mendapatkan kemudahan dan solusi yang tidak disangka-sangka. Keberkahan dari sedekah tidak hanya dirasakan oleh pemberi, tetapi juga keluarganya. Rumah tangga yang terbiasa bersedekah cenderung dipenuhi ketenangan, keharmonisan, dan rasa syukur. Dengan menjadikan sedekah sebagai kebiasaan, seorang muslim membuka pintu kebaikan yang luas dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.
Sedekah Mempererat Ukhuwah dan Kepedulian Sosial
Sedekah memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan antarmanusia. Ketika seseorang memberikan sedekah, ia tidak hanya membantu secara materi tetapi juga menunjukkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama. Dalam masyarakat, sedekah menjadi jembatan yang menghubungkan golongan mampu dengan mereka yang membutuhkan. Sedekah membantu mengurangi kesenjangan sosial dan menciptakan kehidupan yang lebih harmonis. Sedekah juga menumbuhkan rasa persaudaraan dan solidaritas. Ketika umat Islam terbiasa bersedekah, mereka membangun komunitas yang saling peduli dan mendukung satu sama lain.
Kepedulian sosial yang lahir dari sedekah mampu menciptakan lingkungan yang penuh empati. Orang yang menerima sedekah merasakan kasih sayang, sementara pemberi sedekah merasakan kebahagiaan karena dapat membantu. Dengan demikian, sedekah bukan hanya amalan individu, tetapi juga kekuatan sosial yang mampu mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkuat persatuan umat.
Sedekah sebagai Investasi Akhirat yang Abadi
Sedekah merupakan investasi akhirat yang tidak akan pernah merugi. Setiap sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan menjadi pahala yang terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Dalam Islam, sedekah jariyah menjadi salah satu amalan yang pahalanya terus mengalir. Sedekah berupa pembangunan masjid, sumur, sekolah, atau ilmu yang bermanfaat akan memberikan pahala tanpa henti.
Sedekah juga menjadi penolong di hari kiamat. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sedekah dapat menjadi naungan bagi seorang mukmin pada hari yang penuh kesulitan tersebut. Investasi akhirat melalui sedekah memberikan harapan keselamatan dan kemuliaan di kehidupan setelah dunia. Sedekah menjadi bukti amal kebaikan yang akan ditimbang di hadapan Allah SWT. Dengan memahami sedekah sebagai investasi akhirat, seorang muslim akan semakin termotivasi untuk menjadikan sedekah sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Menghidupkan Kebiasaan Sedekah Setiap Saat
Sedekah adalah amalan yang dianjurkan setiap saat karena membawa manfaat besar bagi kehidupan spiritual, sosial, dan ekonomi umat. Melalui sedekah, seorang muslim menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT, membersihkan harta dan jiwa, serta membuka pintu keberkahan dalam hidup. Kebiasaan sedekah juga mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Sedekah menjadikan masyarakat lebih harmonis dan penuh kasih sayang.
Selain manfaat di dunia, sedekah merupakan investasi akhirat yang akan terus memberikan pahala. Sedekah menjadi penolong dan naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat. Oleh karena itu, menjadikan sedekah sebagai kebiasaan harian merupakan langkah bijak untuk meraih keberkahan hidup. Sedekah tidak harus menunggu kaya, karena setiap kebaikan adalah sedekah yang bernilai di sisi Allah SWT. Mari membiasakan sedekah dalam setiap kesempatan, sekecil apa pun bentuknya, karena sedekah adalah jalan menuju keberkahan, ketenangan, dan kebahagiaan dunia serta akhirat. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
* BSI: 771 166 4477
* BCA Syariah: 0660 1701 01
* BTN Syariah: 817 1000 036
* Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
Ini Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa
DALAM kehidupan seorang Muslim, doa merupakan bentuk ibadah yang menunjukkan ketergantungan penuh kepada Allah SWT. Doa bukan sekadar permintaan, tetapi juga bentuk penghambaan, pengakuan atas kelemahan diri, serta wujud keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu mengubah keadaan. Islam mengajarkan bahwa ada waktu mustajab berdoa, yaitu momen-momen istimewa ketika doa lebih dekat untuk dikabulkan. Mengetahui waktu-waktu ini menjadi kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk memperbanyak munajat dan memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Banyak umat Islam berdoa setiap hari, namun tidak semuanya memahami kapan waktu terbaik untuk memanjatkan doa. Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk mengenai waktu mustajab berdoa agar seorang Muslim dapat memaksimalkan kesempatan dikabulkannya permohonan. Artikel ini akan membahas waktu-waktu mustajab tersebut beserta keutamaannya, sehingga kita dapat menghidupkan doa dalam setiap fase kehidupan.
Mengapa Doa Sangat Penting dalam Islam?
Doa adalah inti ibadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa doa adalah ibadah itu sendiri. Dengan berdoa, seorang Muslim mengakui bahwa segala kekuatan dan pertolongan berasal dari Allah SWT. Selain itu, doa memberikan ketenangan batin, memperkuat harapan, serta menjadi sarana komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya tanpa perantara. Dalam kondisi sulit maupun lapang, doa menjadi tempat kembali yang paling aman. Namun, agar doa lebih berpeluang dikabulkan, Islam mengajarkan adab dan waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan luar biasa.
Waktu Mustajab Berdoa yang Perlu Diketahui
Berikut beberapa waktu mustajab berdoa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis shahih.
1. Sepertiga Malam Terakhir
Sepertiga malam terakhir merupakan salah satu waktu mustajab berdoa yang paling utama. Pada waktu ini, suasana sunyi dan hati lebih khusyuk. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampun akan Aku ampuni. Waktu ini sangat baik digunakan untuk shalat tahajud dan memohon hajat kepada Allah SWT.
2. Waktu Antara Adzan dan Iqamah
Waktu mustajab berdoa berikutnya adalah antara adzan dan iqamah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa pada waktu ini tidak akan ditolak. Sayangnya, banyak orang melewatkan waktu singkat ini dengan berbicara atau melakukan hal lain. Padahal, hanya beberapa menit yang sangat berharga untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat.
3. Saat Sujud dalam Shalat
Posisi sujud adalah saat paling dekat antara hamba dengan Rabb-nya. Oleh karena itu, sujud menjadi waktu mustajab berdoa. Dalam sujud, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak doa, memohon ampunan, dan meminta kebutuhan hidupnya kepada Allah SWT.
4. Setelah Shalat Fardhu
Setelah menunaikan shalat wajib, seorang Muslim berada dalam kondisi spiritual yang bersih dan dekat dengan Allah. Waktu ini termasuk waktu mustajab berdoa. Memanfaatkan waktu setelah shalat untuk berdzikir dan berdoa dapat menjadi kebiasaan baik yang mendatangkan ketenangan dan keberkahan.
5. Hari Jumat, Terutama Menjelang Maghrib
Hari Jumat memiliki banyak keutamaan. Salah satunya terdapat satu waktu mustajab berdoa yang tidak akan ditolak. Banyak ulama berpendapat bahwa waktu tersebut berada pada sore hari menjelang maghrib. Oleh karena itu, memperbanyak doa pada hari Jumat sangat dianjurkan.
6. Saat Hujan Turun
Hujan merupakan rahmat dari Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa doa saat hujan termasuk waktu mustajab berdoa. Ketika hujan turun, dianjurkan untuk memanjatkan doa, baik memohon keberkahan, perlindungan, maupun ampunan.
7. Saat Berbuka Puasa
Bagi orang yang berpuasa, waktu berbuka merupakan waktu mustajab berdoa. Pada saat ini, rasa lapar dan dahaga yang ditahan seharian menjadi bukti ketulusan ibadah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa orang yang berpuasa saat berbuka tidak akan ditolak.
8. Saat Safar (Bepergian)
Doa seorang musafir termasuk doa yang mustajab. Perjalanan seringkali mengandung kesulitan dan ketidakpastian, sehingga doa yang dipanjatkan dalam kondisi ini memiliki keistimewaan tersendiri.
Adab agar Doa Lebih Mudah Dikabulkan
Selain mengetahui waktu mustajab berdoa, seorang Muslim juga perlu memperhatikan adab dalam berdoa:
Memulai dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi
Berdoa dengan penuh keyakinan dan keikhlasan
Menghadap kiblat dan mengangkat tangan
Tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan
Menghindari makanan dan harta yang haram
Mengulang doa dengan penuh harap
Adab-adab ini membantu menghadirkan kekhusyukan dan memperkuat kualitas doa yang dipanjatkan.
Menghidupkan Kebiasaan Berdoa dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengetahui waktu mustajab berdoa seharusnya mendorong kita untuk lebih disiplin dalam beribadah. Doa tidak hanya dipanjatkan saat menghadapi kesulitan, tetapi juga ketika memperoleh nikmat. Membiasakan doa dalam berbagai aktivitas harian seperti sebelum bekerja, saat perjalanan, setelah ibadah, hingga menjelang tidur akan memperkuat keimanan dan menghadirkan ketenangan hati. Seorang Muslim yang hidup dengan doa akan merasa selalu ditemani Allah SWT dalam setiap langkahnya.
Memahami waktu mustajab berdoa merupakan anugerah ilmu yang sangat berharga bagi setiap Muslim. Dengan memanfaatkan waktu-waktu istimewa seperti sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqamah, saat sujud, hari Jumat, hingga waktu berbuka puasa, seorang hamba memiliki peluang besar untuk mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Namun, yang terpenting bukan hanya mengetahui waktu-waktu tersebut, melainkan menghidupkan doa dengan hati yang ikhlas, keyakinan penuh, serta kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Doa adalah kekuatan spiritual yang mampu mengubah kesedihan menjadi harapan, kesulitan menjadi kemudahan, dan kegelisahan menjadi ketenangan. Semoga kita termasuk hamba yang memanfaatkan waktu mustajab berdoa dan senantiasa menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT.
Mari manfaatkan waktu-waktu mustajab ini bukan hanya untuk memanjatkan doa terbaik, tetapi juga untuk memperkuatnya dengan amal kebaikan. Sedekah yang ditunaikan di saat-saat penuh keberkahan akan menjadi pelengkap ikhtiar dan wujud syukur atas segala nikmat-Nya. Salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS agar tersampaikan secara amanah dan tepat sasaran kepada yang membutuhkan. Semoga setiap doa yang terpanjat dan setiap kebaikan yang ditunaikan menjadi jalan turunnya rahmat dan keberkahan dalam hidup kita. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
* BSI: 771 166 4477
* BCA Syariah: 0660 1701 01
* BTN Syariah: 817 1000 036
* Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
BAZNAS Lampung Sediakan Layanan Infak: Mudah, Aman, Tepat Sasaran!
INFAK merupakan amalan yang tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Infak berasal dari Bahasa Arab, "anfaqa" yang berarti membelanjakan harta atau memberikan harta. Sedangkan infak berarti keluarkanlah harta. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada BAB I Pasal 1 yakni infak adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum.
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan (hartanya) baik di waktu senang atau di waktu susah, dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali Imran: 133-134).
Infak ternyata memiliki perbedaan dari sedekah, infak sebenarnya dilakukan dengan harta yang bersifat material, sedangkan sedekah, bisa dilakukan dengan non-harta atau non-material. Misalnya saja sedekah bisa dilakukan dengan senyuman, “Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi).
Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan setiap hambanya agar menyisihkan hartanya untuk berinfak yang hal ini masuk dalam kebaikan, dan Allah mencintai hambanya yang berbuat baik. Hal ini dijelaskan dalam Surat Ali Imran ayat 133-134.
Manfaat dan Keutamaan Berinfak
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Ali Imran: 133-134). Ayat ini menegaskan bahwa infak adalah bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat bagi kehidupan sosial masyarakat.
Berikut ini beberapa keutamaan dalam berinfak:
1. Memperoleh Pahala yang Besar
“Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Dia (titipkan kepadamu dan) telah menjadikanmu berwenang dalam (penggunaan)-nya. Lalu, orang-orang yang beriman di antaramu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang sangat besar.” (QS. Al-Hadid: 7).
2. Mendapatkan Doa dari Malaikat
“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, ‘Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga). Malaikat yang lain berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).’”. (HR. Bukhari).
3. Membersihkan dan Menyucikan Harta
"Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah pasti akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba: 39). Infak adalah salah satu cara untuk membersihkan harta dari unsur-unsur yang tidak baik. Dengan berinfak, seseorang dapat menghindari sifat kikir dan menumbuhkan sifat dermawan dalam dirinya.
4. Mendapat Berkah dari Harta yang Diinfakkan
"Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan (belanjakan), maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba: 39).
5. Mendapat Perlindungan di Hari Kiamat
Rasulullah SAW bersabda: "Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya." (HR. Ahmad). Dari hadis ini, dapat disimpulkan bahwa infak adalah salah satu amalan yang dapat memberikan perlindungan di akhirat kelak.
Jenis-Jenis Infak
Infak merupakan salah satu bentuk amal kebajikan dalam Islam yang memiliki beragam jenis, tergantung pada tujuan dan cara pelaksanaannya. Berikut adalah jenis-jenis infak yang umum dikenal:
1. Infak Wajib
Infak wajib adalah kewajiban yang harus segera ditunaikan oleh seorang muslim untuk menghindari dosa. Jenis infak ini bersifat mengikat dan tidak boleh ditunda pelaksanaannya. Salah satu contoh infak wajib adalah pembayaran kafarat.
2. Infak Sunnah
Infak sunnah adalah sedekah yang dilakukan atas inisiatif dan kemauan pribadi sebagai wujud kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama. Meskipun tidak diwajibkan, infak sunnah sangat dianjurkan dalam Islam karena merupakan amalan mulia yang dapat meningkatkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Infak Mubah
Infak mubah adalah jenis infak yang diperbolehkan dalam Islam, tetapi tidak termasuk dalam kategori infak yang diwajibkan atau dianjurkan. Contoh infak mubah meliputi pemberian hibah, sumbangan untuk kegiatan bisnis maupun bercocok tanam.
4. Infak Haram
Infak haram adalah jenis infak yang dilarang dalam Islam karena bertentangan dengan nilai-nilai syariat. Infak ini terjadi ketika sumbangan diberikan dengan niat atau cara yang salah, seperti dilakukan dengan tidak ikhlas atau semata-mata untuk mencari pujian (riya).
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan" (QS. Al-Anfal : 36).
Layanan Program Infak di BAZNAS
Sebagai lembaga resmi pemerintah yang mengelola zakat, infak, dan sedekah di Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menyediakan layanan yang mudah, aman, dan tepat sasaran. Berikut adalah program infak yang diselenggarakan oleh BAZNAS untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sesuai dengan ketentuan syariah.
1. Infak Ekonomi
Infak ekonomi diperuntukan untuk program pemberdayaan ekonomi umat melalui dana infak yang dikelola secara profesional. Program ini mencakup pengembangan usaha mustahik di bidang peternakan, ritel mikro, dan pendampingan bisnis. A
2. Infak Kesehatan
Infak Kesehatan bertujuan memberikan akses layanan medis yang layak bagi masyarakat kurang mampu. Salah program kesehatan adalah hadirnya Rumah Sehat BAZNAS yang sudah tersebar di 16 Provinsi dengan sebanyak 22 titik di tahun 2024.
3. Infak Pendidikan
Infak pendidikan bertujuan memastikan keberlangsungan pendidikan melalui penyediaan dana bagi pelajar dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Salah satu wujud nyatanya, BAZNAS menawarkan delapan jenis beasiswa untuk mendukung pendidikan berkualitas.
4. Infak Yatim
Infak Yatim khusus ditujukan untuk memberikan santunan dan pembinaan bagi anak yatim, tidak hanya secara materi, tetapi juga memberikan dukungan emosional dan psikologis.
5. Infak Kebencanaan
BAZNAS berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi umat dengan tim dan relawan BAZNAS Tanggap Bencana (BTB). Program infak ini bertujuan merespons cepat dan efektif terhadap musibah alam atau kemanusiaan di Indonesia.
6. Infak Sosial Kemanusiaan
Infak sosial kemanusiaan difokuskan pada bantuan bagi kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas dan masyarakat yang kurang mampu. Salah satu wujud nyata bantuan adalah paket sembako dalam kemasan yang diberikan kepada mustahik untuk memenuhi kebutuhan pokok.
7. Infak Palestina
Program infak Palestina merupakan wujud solidaritas kemanusiaan untuk mendukung rakyat Palestina yang tengah menghadapi konflik.
Kontribusi Anda akan memberikan dampak nyata bagi mereka yang membutuhkan. Segera salurkan infak Anda dan wujudkan kebaikan bersama BAZNAS. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
Bank Lampung: 405 000 500 140 4 (Infak Pendidikan).
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL06/02/2026 | Humas/BL-01
Puasa Tinggal Berapa Hari Lagi, Apa yang Harus Ditunaikan!
PUASA Ramadhan 2026 tinggal menghitung hari. Pada Rabu, 04 Februari 2026 Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sudah mengeluarkan ketetapan bahwa awal puasa dimulai sejak hari Rabu, tanggal 18 Februari 2026 mendatang.
Sedangkan, Kementerian Agama (Kemenag) kabarnya akan menggelar sidang isbat untuk menentukan awal Ramadhan tahun 2026 pada 17 Februari 2026. Lantas kurang berapa hari lagi pelaksanaan puasa Ramadhan?
Kapan jatuhnya awal Ramadhan 2026 menjadi salah satu pertanyaan yang saat-saat ini sering bermunculan. Sebab bulan suci tersebut menjadi salah satu yang dinanti-nanti umat Islam untuk melaksanakan sunnahnya yakni puasa Ramadhan serta sholat idul Fitri.
Untuk menghitung kapan Ramadhan 2026 akan tiba, kita simak penjelasan lengkapnya pada Artikel ini. Jika merujuk pada perhitungan Muhammadiyah, 1 Ramadhan 1447H akan tiba pada 18 Februari 2026. Apabila dihitung mulai tanggal 5 Februari maka Ramadhan akan jatuh pada 13 hari kedepan.
Melalui kalender Hijriah Indonesia tahun 2026, pemerintah memprakirakan awal Ramadhan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Akan tetapi, jadwal tersebut masih bersifat prakiraan sehingga bisa jadi adanya perubahan terkait penetapan resmi 1 Ramadhan 1447H.
Untuk itu, Kemenag akan menggelar pemantauan hilal yang akan dilakukan pada akhir bulan Syaban untuk mengetahui munculnya bulan baru yakni bulan Ramadhan. Kemudian, nantinya hasil pemantauan tersebut akan dibahas dalam sidang isbat yang melibatkan perwakilan ormas Islam, pakar astronomi, ahli falak serta intansi terkait.
Sehingga untuk memastikan awal Ramadhan saat ini masih menunggu keputusan hilal Kemenag, namun berdasarkan fatwa Muhammadiyah No.01/MLM/1.1/B/2025 dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) 2026, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari-19 Maret 2026.
Demikianlah informasi mengenai perhitungan awal Ramadhan yang dapat Anda simak. Sembari menanti datangnya awal Ramadhan pastikan hutang puasa di tahun sebelumnya sudah lunas, apabila mendapatkan tanggungan, Anda dapat salurkan Fidyah melalui kantor digital BAZNAS Provinsi Lampung dengan link berikut ini: https://lampung.baznas.go.id/sedekah kemudian pilih bagian pembayaran Fidyah serta ikuti beberapa langkah yang tersedia. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL05/02/2026 | Humas/BL-01
Sebelum Puasa Ramadhan, Lunasi Hutang Puasamu, Ini Caranya!
TIDAK lama lagi Ramadhan 2026 segera tiba. Biasanya sebelum datangnya bulan suci Ramdhan umat muslim dianjurkan untuk melunasi hutang puasa di bulan sebelumnya. Akan tetapi ada beberapa golongan yang wajib dan tidak untuk membayar qadha dan fidyah puasa.
Untuk mengetahui penjelasan lebih lanjutnya simak selengkapnya pada artikel ini.
Qadha puasa merupakan mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan pada hari lain di luar bulan Ramadhan. Sedangakan Fidyah adalah tebusan berupa memberikan makan orang miskin sebagai ganti puasa yang tidak mampu ditunaikan dan tidak mungkin diqadha.
Dalam Islam ada beberapa golongan yang mereka wajib untuk menunaikan keduanya, namun ada juga yang hanya menjalankan salah satunya.
Sebagai tambahan pengetahuan Anda, berikut tabel Qadha dan Fidyah Ramadhan 2026 yang dapat Anda simak agar tidak terjadi kesalahan dalam menunaikannya.
Dilansir dari beberapa sumber berikut tabel Qadha dan Fidyah Ramadhan 2026:
Golongan yang boleh meninggalkan puasa:
- Anak kecil = Tidak wajib mengqadha dan membayar fidyah
- Gila yang tidak disengaja = Tidak wajib menqadha dan membayar fidyah
- Gila yang disengaja = Wajib mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah
- Sakit yang ada harapan sembuh = Wajib mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah
- Sakit yang tidak ada harapan sembuh = Tidak wajib mengqadha namun wajib membayar fidyah
- Orang yang sangat tua = Tidak wajib mengqadha namun wajib membayar fidyah
- Orang yang berpergian (musafir) = Wajib mengqadha namun tidak wajib membayar fidyah
- Orang hamil dan menyusui:
a. Khawatir akan dirinya sendiri = Wajib mengqodo namun tidak wajib membayar fidyah
b. Khawatir akan dirinya dan bayinya = Wajib mengqodho namun tidak wajib membayar fidyah
c. Khawatir akan bayinya saja = Wajib mengqadha dan wajib membayar fidyah.
Golongan yang haram untuk berpuasa:
- Haid = Wajib mengqadha namun tidak wajib membayar fidyah
- Nifas = Wajib mengqodho namun tidak wajib membayar fidyah
Setelah mengetahui beberapa golongan tersebut, berikut niat melakukan pembayaran fidyah yang dapat Anda ketahui:
1. Niat fidyah puasa bagi orang sakit keras dan orang tua renta
Nawaitu an ukhrija hadzihil fidyata liifthari shaumi ramadhana fardhan lillahi ta'ala
“Aku niat mengeluarkan fidyah ini karena berbuka puasa di bulan Ramadhan, fardlu karena Allah swt.”
2. Niat fidyah bagi wanita hamil atau menyusui
Nawaitu an ukhrija hadzihil fidyata 'an ifthari shaumi ramadhana lilkhaufi 'ala waladii fardhan lillahi ta'ala.
“Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan berbuka puasa Ramadhan karena khawatir keselamatan anakku, fardlu karena Allah swt.”
3. Niat fidyah puasa orang mati (dilakukan oleh ahli waris/wali)
Nawaitu an ukhrija haadzihil fidyata 'an shaumi ramadhana [sebutkan nama orang] bin [sebutkan nama ayahnya] fardhan lillaahi ta'aalaa.
“Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan puasa Ramadhan untuk fulan bin fulan (disebutkan nama mayitnya), fardlu karena Allah swt.”
4. Niat fidyah karena terlambat mengqadha puasa Ramadhan
Nawaitu an ukhrija hadzihil fidyata 'an ta'khiri qodho'i shoumi romadhona fardhon lillahi ta'ala.
“Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan keterlambatan mengqadha puasa Ramadhan, fardlu karena Allah swt.”
Melalui artikel ini BAZNAS Provinsi Lampung mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan terkait hutang puasa yang ada serta melakukan pembayaran fidyah bagi mereka yang tidak mampu untuk mengqada puasa mendekati bulan Ramadan.
Anda dapat juga melakukan pembayaran fidyah melalui laman kantor digital BAZNAS Provinsi Lampung dengan klik link berikut ini:
https://lampung.baznas.go.id/sedekah kemudian pilih bagian pembayaran fidyah serta ikuti beberapa langkah yang tersedia. Demikian informasi yang dapat Anda simak mengenai golongan dan cara membayar fidyah.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL05/02/2026 | Humas/BL-01
Ini Sifat yang Dimiliki Orang Gemar Sedekah dan Membayar Zakat
DALAM kehidupan seorang muslim, sedekah dan zakat bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki dampak besar bagi jiwa dan kehidupan. Islam mengajarkan bahwa harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga ada hak orang lain di dalamnya. Karena itu, orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat-sifat tercela yang bertentangan dengan nilai keimanan dan kemanusiaan.
Orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat kikir, tamak, dan cinta dunia secara berlebihan. Sebab, kebiasaan memberi akan melatih hati untuk selalu bersyukur, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Inilah yang menjadikan sedekah dan zakat bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai sarana penyucian jiwa.
Dalam Islam, sedekah dan zakat memiliki kedudukan yang sangat mulia. Bahkan, keduanya disebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an sebagai tanda keimanan seseorang. Orang yang rutin menunaikannya bukan hanya membersihkan hartanya, tetapi juga membersihkan hatinya dari berbagai sifat buruk yang dapat merusak kehidupan dunia dan akhirat.
Makna Sedekah dan Zakat
Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar atau jujur. Artinya, sedekah menjadi bukti kejujuran iman seseorang kepada Allah SWT. Sedangkan zakat secara bahasa berarti suci, bersih, tumbuh, dan berkah. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim membersihkan hartanya sekaligus menyucikan jiwanya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka." (QS. At-Taubah: 103). Ayat ini menunjukkan bahwa zakat bukan hanya soal harta, tetapi juga tentang penyucian hati dan jiwa. Seseorang yang terbiasa bersedekah dan membayar zakat akan memiliki karakter yang mulia, jauh dari sifat-sifat tercela.
Mustahil Memiliki Sifat Kikir
Sifat kikir adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Orang yang kikir akan selalu merasa hartanya kurang, meskipun sebenarnya berlimpah. Ia takut miskin, takut berbagi, dan lebih mencintai dunia daripada akhirat.
Sebaliknya, orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat kikir. Setiap kali ia memberi, ia justru merasa bahagia. Ia yakin bahwa harta yang disedekahkan tidak akan mengurangi rezekinya, bahkan akan menambah keberkahan.
Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan berkurang harta karena sedekah." (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa sedekah justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan harta. Orang yang rajin bersedekah akan merasakan ketenangan batin, karena ia yakin rezekinya dijaga oleh Allah SWT.
Mustahil Bersifat Tamak
Tamak adalah keinginan berlebihan terhadap harta dan dunia. Orang yang tamak tidak pernah merasa cukup. Ia selalu ingin lebih, lebih, dan lebih, tanpa memikirkan orang lain.
Islam mengajarkan keseimbangan antara mencari dunia dan mempersiapkan akhirat. Orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat tamak, karena ia menyadari bahwa harta hanyalah titipan dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda: "Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa nafsu manusia terhadap harta tidak ada batasnya. Namun, dengan membiasakan sedekah dan zakat, seorang muslim dilatih untuk menundukkan hawa nafsunya dan lebih mementingkan ridha Allah SWT.
Mustahil Memiliki Sifat Sombong
Sombong muncul ketika seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, terutama karena harta dan kedudukan. Padahal, semua yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Allah SWT.
Orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat sombong, karena ia sadar bahwa hartanya tidak akan berarti apa-apa tanpa izin Allah. Justru dengan memberi, ia semakin rendah hati dan merasa dekat dengan sesama.
Allah SWT berfirman: "Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung." (QS. Al-Isra: 37).
Orang yang rajin bersedekah akan lebih mudah bersyukur dan menghargai orang lain. Ia tidak memandang rendah orang miskin, karena ia sadar bahwa di hadapan Allah semua manusia sama.
Mustahil Memiliki Sifat Cinta Dunia Berlebihan
Cinta dunia yang berlebihan akan membuat seseorang lalai dari akhirat. Ia akan sibuk mengejar harta, jabatan, dan popularitas, hingga lupa pada tujuan hidup yang sesungguhnya.
Namun, orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat cinta dunia secara berlebihan. Ia memandang dunia hanya sebagai ladang amal, bukan sebagai tujuan akhir.
Rasulullah SAW bersabda: "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir." (HR. Bukhari).
Hadis ini mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara. Dengan rajin bersedekah, seseorang akan lebih fokus mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Keutamaan Sedekah dan Zakat
Sedekah dan zakat memiliki banyak keutamaan, di antaranya:
Menghapus dosa dan kesalahan
Mendatangkan keberkahan rezeki
Menolak bala dan musibah
Melapangkan dada dan menenangkan hati
Menjadi sebab masuk surga
Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah itu dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi). Keutamaan-keutamaan inilah yang membuat orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat-sifat tercela. Hatinya akan selalu terjaga dalam kebaikan dan keikhlasan.
Dampak Sosial dari Sedekah dan Zakat
Selain membersihkan jiwa, sedekah dan zakat juga memiliki dampak besar bagi masyarakat. Keduanya membantu mengurangi kemiskinan, memperkuat solidaritas sosial, dan menciptakan keadilan ekonomi.
Dengan zakat, kaum fakir dan miskin dapat terbantu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan sedekah, hubungan antar sesama menjadi lebih erat dan penuh kasih sayang.
Allah SWT berfirman: "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (QS. Adz-Dzariyat: 19). Ayat ini menegaskan bahwa harta seorang muslim bukan sepenuhnya miliknya, tetapi ada hak orang lain yang harus ditunaikan.
Cara Menumbuhkan Kebiasaan
Agar menjadi pribadi yang gemar bersedekah dan membayar zakat, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Menanamkan niat ikhlas karena Allah SWT
Menyadari bahwa harta hanyalah titipan
Membiasakan memberi meski sedikit
Menyalurkan zakat melalui lembaga terpercaya
Mengingat keutamaan sedekah dan zakat
Dengan kebiasaan ini, hati akan terlatih untuk selalu peduli dan dermawan. Lambat laun, sifat-sifat buruk akan terkikis dengan sendirinya.
Pada akhirnya, orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat kikir, tamak, sombong, dan cinta dunia berlebihan. Kebiasaan memberi akan membentuk pribadi yang rendah hati, penuh empati, dan selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT.
Sedekah dan zakat bukan hanya tentang mengeluarkan harta, tetapi tentang membangun karakter mulia seorang muslim. Dengan keduanya, seseorang akan lebih dekat kepada Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih siap menghadapi kehidupan akhirat.
Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat, sehingga dijauhkan dari sifat-sifat tercela dan dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang bertakwa. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL28/01/2026 | Humas/BL-01
Bayar Zakat Online Lewat BAZNAS, Begini Caranya!
BAYAR Zakat Online kini menjadi solusi praktis bagi umat Islam yang ingin menunaikan kewajiban zakat dengan mudah, aman, dan sesuai syariat. Di era digital seperti sekarang, membayar zakat tidak lagi harus datang langsung ke kantor lembaga amil, karena cukup dengan ponsel atau laptop, zakat sudah dapat tersalurkan kepada yang berhak.
Kemudahan Bayar Zakat Online sangat membantu masyarakat modern yang memiliki mobilitas tinggi, namun tetap ingin menunaikan rukun Islam dengan sempurna. Melalui layanan digital yang disediakan oleh BAZNAS, umat Islam dapat menunaikan zakat fitrah, zakat mal, infak, dan sedekah dengan cepat serta transparan.
BAZNAS sebagai lembaga resmi pemerintah yang mengelola zakat di Indonesia terus berinovasi menghadirkan layanan Bayar Zakat Online agar semakin banyak muzaki yang terlayani dengan baik. Dengan sistem yang terintegrasi dan diawasi secara profesional, dana zakat yang disalurkan akan sampai kepada mustahik secara tepat sasaran.
Bagi umat Islam, Bayar Zakat Online bukan sekadar kemudahan teknologi, tetapi juga bagian dari ikhtiar menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh tanggung jawab. Melalui kanal digital BAZNAS, pembayaran zakat menjadi lebih tertib, terdata, dan terlapor dengan baik.
Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang Bayar Zakat Online lewat BAZNAS, mulai dari pengertian, keutamaan, hingga tata cara pelaksanaannya. Dengan memahami panduan ini, diharapkan umat Islam semakin mantap dalam menunaikan kewajiban zakat secara modern dan sesuai tuntunan syariat.
Jadi Pilihan dari mana Saja
Bayar Zakat Online lewat BAZNAS menjadi pilihan utama umat Islam karena kemudahan akses yang ditawarkan. Melalui platform digital resmi, masyarakat dapat menunaikan zakat kapan saja dan di mana saja tanpa harus datang langsung ke kantor layanan zakat.
Kepercayaan publik terhadap BAZNAS membuat layanan Bayar Zakat Online semakin diminati. Sebagai lembaga resmi negara yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, BAZNAS memiliki legalitas yang kuat dan sistem pengelolaan yang transparan.
Keunggulan lain dari Bayar Zakat Online melalui BAZNAS adalah jaminan penyaluran zakat kepada mustahik yang tepat sasaran. Dana zakat dikelola secara profesional untuk program pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan dakwah.
Dengan Bayar Zakat Online, umat Islam dapat menunaikan kewajiban zakat tanpa terkendala jarak dan waktu. Hal ini sangat membantu bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil maupun mereka yang memiliki kesibukan tinggi.
Selain itu, Bayar Zakat Online melalui BAZNAS juga memudahkan pencatatan administrasi zakat. Setiap transaksi akan mendapatkan bukti pembayaran resmi yang dapat digunakan sebagai arsip pribadi maupun laporan keuangan.
Keutamaan dalam Perspektif Islam
Bayar Zakat Online pada hakikatnya adalah sarana untuk menunaikan kewajiban zakat dengan cara yang lebih mudah, namun tetap sah secara syariat. Islam mengajarkan bahwa segala bentuk kemudahan yang membawa kepada kebaikan adalah bagian dari rahmat Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menunaikan zakat sebagai bentuk penyucian harta dan jiwa. Dengan Bayar Zakat Online, perintah ini dapat dilaksanakan tanpa mengurangi nilai ibadahnya.
Bayar Zakat Online juga menjadi sarana mempercepat distribusi zakat kepada mustahik. Semakin cepat zakat terkumpul, semakin cepat pula manfaatnya dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Keutamaan Bayar Zakat Online juga terlihat dari efisiensi waktu dan tenaga. Umat Islam dapat lebih fokus pada ibadah dan aktivitas produktif lainnya tanpa mengabaikan kewajiban zakat.
Dengan memanfaatkan teknologi untuk Bayar Zakat Online, umat Islam turut berperan dalam memajukan sistem pengelolaan zakat yang modern, transparan, dan akuntabel.
Jenis Zakat Bisa Dibayar Online
Bayar Zakat Online melalui BAZNAS melayani berbagai jenis zakat sesuai dengan kebutuhan umat Islam. Salah satunya adalah zakat fitrah yang wajib ditunaikan menjelang Idulfitri.
Selain zakat fitrah, Bayar Zakat Online juga melayani zakat mal, yaitu zakat atas harta seperti emas, perak, tabungan, investasi, dan hasil usaha yang telah mencapai nisab dan haul.
BAZNAS juga menyediakan layanan Bayar Zakat Online untuk zakat profesi, yaitu zakat atas penghasilan rutin seperti gaji, honor, dan pendapatan lainnya yang telah memenuhi ketentuan zakat.
Bagi umat Islam yang memiliki usaha, Bayar Zakat Online dapat digunakan untuk menunaikan zakat perdagangan dan zakat perusahaan secara praktis.
Dengan beragam pilihan jenis zakat tersebut, Bayar Zakat Online melalui BAZNAS memudahkan umat Islam menunaikan kewajiban zakat sesuai dengan kondisi dan jenis harta yang dimiliki.
Cara Mudah Bayar Zakat Online
Bayar Zakat Online lewat BAZNAS dapat dilakukan melalui website resmi melalui link berikut: Zakat BAZNAS maupun aplikasi digital yang telah bekerja sama dengan BAZNAS. Prosesnya sangat mudah dan dapat dilakukan dalam hitungan menit.
Langkah pertama Bayar Zakat Online adalah mengunjungi situs resmi BAZNAS atau platform mitra pembayaran yang menyediakan layanan zakat. Pilih jenis zakat yang akan dibayarkan sesuai dengan kebutuhan.
Setelah memilih jenis zakat, langkah berikutnya dalam Bayar Zakat Online adalah mengisi nominal zakat sesuai dengan perhitungan yang telah ditentukan. BAZNAS juga menyediakan kalkulator zakat untuk membantu muzaki.
Selanjutnya, pilih metode pembayaran yang tersedia, mulai dari transfer bank, dompet digital, hingga mobile banking. Semua metode Bayar Zakat Online telah terintegrasi secara aman.
Setelah pembayaran berhasil, muzaki akan mendapatkan bukti transaksi resmi sebagai tanda bahwa Bayar Zakat Online telah sah dan tercatat di sistem BAZNAS.
Manfaat Bagi Muzaki dan Mustahik
Bayar Zakat Online memberikan manfaat besar bagi muzaki karena memudahkan dalam menunaikan kewajiban zakat tanpa hambatan teknis dan administratif.
Bagi mustahik, Bayar Zakat Online mempercepat proses penyaluran bantuan, sehingga mereka dapat segera merasakan manfaat zakat dalam bentuk bantuan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Dengan Bayar Zakat Online, BAZNAS dapat menghimpun dana zakat dalam jumlah besar yang kemudian disalurkan melalui program-program pemberdayaan umat.
Transparansi dalam Bayar Zakat Online juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga zakat. Setiap dana yang masuk tercatat dan diaudit secara berkala. Dengan demikian, Bayar Zakat Online tidak hanya memudahkan muzaki, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan umat.
Saatnya Bayar Zakat Online
Bayar Zakat Online merupakan solusi modern bagi umat Islam yang ingin menunaikan kewajiban zakat dengan mudah, cepat, dan aman. Dengan memanfaatkan layanan digital BAZNAS, zakat dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan.
Sebagai umat Islam, Bayar Zakat Online adalah bentuk ikhtiar dalam menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran sosial. Kemudahan Bayar Zakat Online hendaknya menjadi motivasi bagi umat Islam untuk semakin rajin menunaikan zakat, infak, dan sedekah demi terwujudnya kesejahteraan umat.
Melalui Bayar Zakat Online, kita turut berkontribusi dalam membangun sistem pengelolaan zakat yang profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Mari tunaikan kewajiban zakat kita dengan Bayar Zakat Online lewat BAZNAS, agar harta menjadi lebih berkah dan kehidupan umat semakin sejahtera. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL28/01/2026 | Humas/BL-01
Empat Akibat tidak Membayar Zakat Menurut Islam
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Kewajiban ini bukan hanya bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga sarana membersihkan harta dan menumbuhkan kepedulian sosial. Oleh karena itu, memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat menjadi hal yang sangat penting agar setiap muslim menyadari dampak besar dari mengabaikan kewajiban ini.
Dalam Al-Qur’an dan hadis, zakat selalu disebutkan berdampingan dengan shalat. Hal ini menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Mengabaikan zakat berarti mengabaikan perintah Allah SWT yang memiliki konsekuensi besar, baik di dunia maupun di akhirat.
Banyak umat Islam yang telah memahami hukum zakat, namun masih lalai dalam menunaikannya. Padahal, Allah SWT telah menjelaskan dengan tegas tentang Empat Akibat Tidak Membayar Zakat sebagai peringatan bagi siapa saja yang menahan hartanya dan enggan berbagi kepada sesama.
Zakat juga menjadi instrumen penting dalam menjaga keseimbangan sosial dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Ketika zakat tidak ditunaikan, maka dampaknya bukan hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat secara luas.
Oleh karena itu, artikel ini akan membahas secara lengkap dan mendalam tentang Sebutkan Empat Akibat tidak Membayar Zakat menurut ajaran Islam agar menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk menunaikan kewajiban zakat dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Mendapat Ancaman Siksa di Akhirat
Dalam Islam, Sebutkan Empat Akibat tidak Membayar Zakat yang pertama adalah mendapatkan ancaman siksa yang sangat berat di akhirat. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang menimbun harta dan tidak menunaikan zakat akan mendapatkan azab yang pedih pada hari kiamat.
Ancaman ini disebutkan secara jelas dalam Surah At-Taubah ayat 34–35, di mana Allah menggambarkan harta yang tidak dizakatkan akan dipanaskan di neraka dan digunakan untuk menyiksa pemiliknya. Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa Sebutkan Empat Akibat Tidak Membayar Zakat bukanlah perkara ringan dalam Islam.
Dalam hadis Rasulullah SAW juga dijelaskan bahwa orang yang tidak membayar zakat akan didatangkan hartanya dalam bentuk ular berbisa yang melilit lehernya pada hari kiamat. Gambaran ini menunjukkan betapa dahsyatnya akibat dari mengabaikan kewajiban zakat.
Dengan memahami Sebutkan Empat Akibat tidak Membayar Zakat, seorang muslim seharusnya semakin takut untuk menahan hartanya dan lebih bersemangat dalam menunaikan zakat. Sebab, harta yang dititipkan Allah SWT sejatinya mengandung hak orang lain yang wajib disalurkan.
Kesadaran akan ancaman siksa di akhirat seharusnya menjadi pengingat bagi setiap muslim bahwa zakat bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bentuk ketaatan yang akan menentukan keselamatan di kehidupan setelah mati.
Mengundang Murka dan Azab Allah SWT
Empat Akibat tidak Membayar Zakat yang kedua adalah mengundang murka dan azab Allah SWT. Dalam Islam, harta adalah amanah dari Allah yang harus dikelola sesuai dengan ketentuan-Nya, termasuk kewajiban mengeluarkan zakat.
Ketika seorang muslim enggan menunaikan zakat, berarti ia telah melanggar perintah Allah dan menunjukkan sifat kikir yang dibenci dalam Islam. Allah SWT sangat membenci sifat bakhil karena dapat merusak tatanan sosial dan menumbuhkan kesenjangan dalam masyarakat.
Dalam Surah Ali Imran ayat 180, Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang bakhil dengan harta yang telah diberikan Allah akan mendapatkan balasan yang buruk. Ayat ini memperkuat pemahaman tentang Empat Akibat tidak Membayar Zakat sebagai peringatan nyata bagi umat Islam.
Murka Allah SWT bisa datang dalam berbagai bentuk, baik berupa kesempitan hidup, kegelisahan batin, maupun hilangnya keberkahan dalam rezeki. Semua itu merupakan peringatan agar seorang muslim segera kembali kepada jalan yang benar dengan menunaikan zakat.
Oleh karena itu, memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat seharusnya mendorong setiap muslim untuk menjauhi sifat kikir dan lebih dermawan dalam membantu sesama melalui zakat, infak, dan sedekah.
Hilangnya Keberkahan Harta
Empat tidak Membayar Zakat yang ketiga adalah hilangnya keberkahan dalam harta yang dimiliki. Dalam Islam, keberkahan jauh lebih penting daripada jumlah harta itu sendiri. Harta yang banyak tetapi tidak berkah justru dapat membawa kesengsaraan.
Zakat berfungsi untuk membersihkan harta dari hak orang lain yang melekat di dalamnya. Ketika zakat tidak dikeluarkan, maka harta tersebut menjadi tidak suci dan kehilangan keberkahannya.
Rasulullah SAW bersabda bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah. Sebaliknya, dengan zakat dan sedekah, Allah SWT akan menambah keberkahan dan melipatgandakan rezeki seseorang.
Dengan memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat, seorang muslim akan menyadari bahwa menahan zakat justru dapat menyebabkan rezekinya terasa sempit, sering mengalami masalah keuangan, dan jauh dari ketenangan hidup.
Keberkahan harta akan terasa ketika harta tersebut membawa manfaat, mencukupi kebutuhan, dan mendatangkan ketenteraman. Semua itu hanya dapat diraih jika seorang muslim taat dalam menunaikan zakat sesuai ketentuan syariat.
Merusak Keharmonisan, Tumbuhkan Kesenjangan
Empat Akibat tidak Membayar Zakat yang keempat adalah rusaknya keharmonisan sosial dan semakin lebarnya jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Zakat dalam Islam berfungsi sebagai jembatan solidaritas sosial.
Ketika orang-orang kaya enggan menunaikan zakat, maka kaum fakir dan miskin akan semakin terpuruk dalam kesulitan hidup. Hal ini dapat menimbulkan kecemburuan sosial, konflik, dan ketidakadilan dalam masyarakat.
Islam mengajarkan bahwa harta tidak boleh berputar di kalangan orang kaya saja. Zakat menjadi instrumen distribusi kekayaan agar kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dengan memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat, seorang muslim akan menyadari bahwa zakat bukan hanya kewajiban pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial yang memiliki dampak besar bagi kehidupan umat.
Masyarakat yang taat zakat akan menjadi masyarakat yang harmonis, saling peduli, dan penuh kasih sayang. Inilah tujuan mulia dari syariat zakat yang harus dijaga dan diamalkan oleh seluruh umat Islam.
Pengingat Bagi Umat Islam
Sebagai penutup, memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat sangat penting bagi setiap muslim agar tidak meremehkan kewajiban zakat. Zakat bukan sekadar ibadah harta, tetapi bentuk ketaatan yang memiliki dampak besar bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Ancaman siksa di akhirat, murka Allah SWT, hilangnya keberkahan harta, serta rusaknya keharmonisan sosial merupakan peringatan nyata bagi siapa saja yang menahan zakat. Semua itu menunjukkan bahwa zakat memiliki peran sentral dalam menjaga keseimbangan hidup seorang muslim.
Dengan menunaikan zakat, seorang muslim tidak hanya membersihkan hartanya, tetapi juga membersihkan jiwanya dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Zakat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Oleh karena itu, mari kita renungkan kembali tentang Empat Akibat tidak Membayar Zakat sebagai bahan introspeksi diri agar semakin istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang taat dalam berzakat, sehingga mendapatkan keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat kelak. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL28/01/2026 | Humas/BL-01
Tujuh Perbedaan Zakat dan Wakaf yang Perlu Anda Dipahami
DALAM ajaran Islam, terdapat berbagai instrumen ibadah yang tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas. Dua di antaranya adalah zakat dan wakaf. Meski sama-sama berkaitan dengan harta dan bertujuan untuk kemaslahatan umat, zakat dan wakaf memiliki karakteristik, hukum, serta mekanisme yang berbeda. Oleh karena itu, memahami zakat vs wakaf menjadi hal penting bagi setiap muslim agar dapat menjalankan kewajiban dan amalan sunnah secara tepat.
Pembahasan mengenai zakat vs wakaf sering kali menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap keduanya sama, padahal dalam praktik dan ketentuan syariat terdapat perbedaan mendasar. Pemahaman yang benar tentang zakat vs wakaf akan membantu umat Islam dalam menunaikan ibadah sesuai tuntunan agama.
Selain itu, di era modern saat ini, zakat vs wakaf juga berkembang dalam bentuk pengelolaan yang lebih profesional dan produktif. Zakat tidak lagi sekadar dibagikan secara konsumtif, sementara wakaf tidak hanya terbatas pada tanah dan bangunan masjid. Keduanya menjadi instrumen penting dalam pembangunan umat.
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif zakat vs wakaf melalui tujuh perbedaan utama yang perlu dipahami oleh umat Islam. Setiap perbedaan dijelaskan secara mendalam agar mudah dipahami dan tidak menimbulkan kekeliruan dalam praktik ibadah.
Dengan memahami zakat vs wakaf secara menyeluruh, diharapkan umat Islam dapat mengoptimalkan peran keduanya dalam kehidupan pribadi maupun sosial, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.
1. Perbedaan Pengertian Zakat vs Wakaf
Zakat vs wakaf memiliki perbedaan mendasar dari sisi pengertian. Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim apabila telah memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan dalam syariat Islam. Kewajiban zakat melekat pada individu muslim yang hartanya telah mencapai nisab dan haul.
Sementara itu, wakaf dalam konteks zakat vs wakaf adalah penahanan harta yang pokoknya tetap utuh, sementara manfaatnya digunakan untuk kepentingan umum atau ibadah. Wakaf bersifat sukarela dan tidak diwajibkan kepada setiap muslim sebagaimana zakat.
Dalam zakat vs wakaf, zakat berfungsi sebagai kewajiban sosial yang membersihkan harta dan jiwa, sedangkan wakaf merupakan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama manfaat wakaf tersebut masih dirasakan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa zakat vs wakaf memiliki orientasi ibadah yang berbeda.
Pengertian zakat vs wakaf juga memengaruhi cara pelaksanaannya. Zakat harus dikeluarkan sesuai ketentuan waktu dan jumlah, sedangkan wakaf dapat dilakukan kapan saja sesuai kemampuan dan niat wakaf.
Dengan memahami pengertian zakat vs wakaf, umat Islam dapat membedakan mana yang bersifat kewajiban mutlak dan mana yang merupakan amalan sunnah dengan nilai pahala berkelanjutan.
2. Perbedaan Hukum Zakat vs Wakaf
Dalam pembahasan zakat vs wakaf, aspek hukum menjadi salah satu perbedaan paling mendasar. Zakat memiliki hukum wajib bagi setiap muslim yang memenuhi syarat. Kewajiban ini ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis, serta menjadi salah satu rukun Islam.
Berbeda dengan zakat, wakaf dalam kerangka zakat vs wakaf memiliki hukum sunnah. Artinya, wakaf sangat dianjurkan tetapi tidak berdosa bagi muslim yang belum mampu melaksanakannya. Meski demikian, pahala wakaf sangat besar karena termasuk sedekah jariyah.
Hukum wajib pada zakat vs wakaf menjadikan zakat tidak boleh ditinggalkan dengan sengaja. Bahkan, dalam sejarah Islam, penolakan membayar zakat dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap syariat.
Sebaliknya, dalam zakat vs wakaf, wakaf lebih menekankan pada kesadaran dan keikhlasan individu. Wakaf dilakukan atas dasar niat mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat jangka panjang bagi umat.
Perbedaan hukum zakat vs wakaf ini menegaskan bahwa keduanya memiliki posisi yang sama-sama penting, namun dengan konsekuensi syariat yang berbeda bagi umat Islam.
3. Perbedaan Waktu Pelaksanaan Zakat vs Wakaf
Zakat vs wakaf juga berbeda dari sisi waktu pelaksanaannya. Zakat memiliki ketentuan waktu yang jelas, terutama zakat mal yang harus dikeluarkan setelah harta mencapai haul, yaitu dimiliki selama satu tahun penuh.
Selain itu, zakat fitrah dalam konteks zakat vs wakaf wajib ditunaikan pada waktu tertentu, yakni menjelang Idulfitri. Waktu ini tidak boleh dilalaikan karena berkaitan langsung dengan sah atau tidaknya ibadah zakat fitrah.
Berbeda dengan zakat, wakaf dalam zakat vs wakaf tidak terikat oleh waktu tertentu. Wakaf dapat dilakukan kapan saja selama seseorang memiliki harta dan niat untuk mewakafkannya.
Fleksibilitas waktu dalam zakat vs wakaf menjadikan wakaf sebagai instrumen ibadah yang dapat disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan kesempatan yang dimiliki oleh seorang muslim.
Perbedaan waktu pelaksanaan zakat vs wakaf ini menunjukkan bahwa zakat bersifat periodik dan terjadwal, sedangkan wakaf bersifat fleksibel dan berkelanjutan sesuai niat wakif.
4. Perbedaan Jenis Harta dalam Zakat vs Wakaf
Dalam zakat vs wakaf, jenis harta yang digunakan juga berbeda. Zakat hanya dikenakan pada jenis harta tertentu, seperti emas, perak, uang, hasil pertanian, peternakan, dan perdagangan, dengan syarat mencapai nisab.
Harta dalam zakat vs wakaf untuk zakat biasanya bersifat konsumtif karena akan langsung disalurkan kepada mustahik sesuai asnaf yang telah ditentukan.
Sementara itu, wakaf dalam zakat vs wakaf dapat berupa harta tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, maupun harta bergerak seperti uang dan surat berharga, selama manfaatnya dapat digunakan secara berkelanjutan.
Perbedaan jenis harta zakat vs wakaf juga memengaruhi cara pengelolaannya. Harta zakat umumnya langsung habis disalurkan, sedangkan harta wakaf harus dijaga keutuhannya agar manfaatnya terus mengalir.
Dengan memahami jenis harta dalam zakat vs wakaf, umat Islam dapat menentukan bentuk ibadah harta yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan yang diinginkan.
5. Perbedaan Penerima Manfaat Zakat vs Wakaf
Zakat vs wakaf memiliki perbedaan jelas dalam hal penerima manfaat. Zakat hanya boleh diberikan kepada delapan golongan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yang dikenal sebagai asnaf zakat. Ketentuan penerima zakat dalam zakat vs wakaf bersifat ketat dan tidak boleh keluar dari golongan yang telah ditetapkan oleh syariat.
Berbeda dengan zakat, wakaf dalam zakat vs wakaf memiliki cakupan penerima manfaat yang lebih luas. Wakaf dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, kesehatan, fasilitas umum, dan berbagai kepentingan sosial lainnya.
Penerima manfaat wakaf dalam zakat vs wakaf tidak harus individu tertentu, melainkan bisa berupa masyarakat secara umum atau lembaga yang memberikan kemaslahatan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa zakat vs wakaf memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung kesejahteraan umat Islam.
6. Perbedaan Tujuan Utama Zakat vs Wakaf
Tujuan utama zakat vs wakaf juga berbeda meski sama-sama bertujuan untuk kebaikan. Zakat bertujuan untuk membersihkan harta dan jiwa muzakki serta membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik.
Dalam konteks zakat vs wakaf, zakat berperan besar dalam mengurangi kesenjangan sosial dan membantu masyarakat yang membutuhkan secara langsung. Sementara itu, wakaf dalam zakat vs wakaf bertujuan menciptakan manfaat jangka panjang bagi umat. Wakaf lebih fokus pada pembangunan fasilitas dan pemberdayaan yang berkelanjutan.
Tujuan wakaf dalam zakat vs wakaf menjadikannya sebagai investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir meski wakif telah wafat.
Dengan memahami tujuan zakat vs wakaf, umat Islam dapat mengoptimalkan peran keduanya dalam membangun kesejahteraan sosial dan spiritual.
7. Perbedaan Pengelolaan Zakat vs Wakaf
Perbedaan terakhir dalam zakat vs wakaf terletak pada sistem pengelolaannya. Zakat dikelola oleh amil zakat yang bertugas menghimpun dan menyalurkan zakat sesuai ketentuan syariat. Pengelolaan zakat vs wakaf untuk zakat harus transparan dan akuntabel karena berkaitan dengan kewajiban umat dan hak mustahik.
Sementara itu, wakaf dalam zakat vs wakaf dikelola oleh nazhir yang bertanggung jawab menjaga dan mengembangkan harta wakaf agar manfaatnya terus berkelanjutan.
Pengelolaan wakaf dalam zakat vs wakaf sering kali bersifat jangka panjang dan memerlukan strategi produktif agar aset wakaf tidak terbengkalai.
Perbedaan pengelolaan zakat vs wakaf ini menegaskan pentingnya profesionalisme agar kedua instrumen ibadah ini memberikan dampak maksimal bagi umat.
Memahami zakat vs wakaf merupakan bagian penting dari literasi keislaman, khususnya dalam bidang ibadah harta. Meski sama-sama bertujuan untuk kemaslahatan umat, zakat vs wakaf memiliki perbedaan mendasar dari sisi hukum, waktu, jenis harta, penerima manfaat, tujuan, hingga pengelolaannya.
Zakat vs wakaf bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami agar dapat dijalankan secara tepat dan optimal. Zakat berfungsi sebagai kewajiban yang memastikan keadilan sosial, sementara wakaf menjadi instrumen pembangunan jangka panjang bagi umat.
Dengan pemahaman yang benar tentang zakat vs wakaf, umat Islam diharapkan mampu menunaikan zakat secara disiplin dan terdorong untuk berwakaf sesuai kemampuan. Keduanya merupakan wujud kepedulian sosial yang diajarkan Islam.
Akhirnya, zakat vs wakaf adalah dua pilar penting dalam sistem ekonomi Islam yang saling melengkapi. Jika dikelola dengan baik, zakat vs wakaf dapat menjadi solusi nyata dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemandirian umat Islam. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL28/01/2026 | Humas/BL-01
Bencana: Antara Alam, Manusia, dan Makna
ISTILAH bencana alam telah lama digunakan dalam kebijakan kebencanaan di Indonesia dan masih menjadi rujukan resmi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Dalam praktik sehari-hari, istilah ini membantu mengklasifikasikan jenis ancaman dan memudahkan koordinasi kebijakan.
Namun, dalam perkembangan pemikiran kebencanaan global, istilah tersebut tidak selalu dipahami secara tunggal. Bencana kini semakin dilihat sebagai peristiwa yang terbentuk dari pertemuan antara ancaman alam dengan kondisi sosial, ekonomi, dan tata kelola manusia.
Cara pandang ini tidak meniadakan peran alam, tetapi menempatkan manusia dan kebijakan sebagai faktor penting yang menentukan besarnya dampak suatu peristiwa alam.
Cara pandang tersebut berkembang seiring meningkatnya kompleksitas risiko yang dihadapi masyarakat modern. Gempa bumi, banjir, longsor, dan siklon tropis memang bersumber dari proses alamiah. Namun pengalaman lintas negara menunjukkan bahwa tingkat kerusakan dan jumlah korban sangat bergantung pada kondisi masyarakat yang terdampak.
Permukiman di wilayah rawan, bangunan yang tidak memenuhi standar keselamatan, kemiskinan struktural, serta lemahnya perlindungan sosial kerap menjadi faktor yang memperbesar dampak sebuah peristiwa alam.
Dalam konteks inilah Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) memperkenalkan satu pernyataan yang banyak dikutip: there is no such thing as a natural disaster.
Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk menafikan peran alam, melainkan untuk menegaskan bahwa alam menghadirkan ancaman (hazard), sementara bencana adalah kondisi yang muncul ketika ancaman tersebut bertemu dengan kerentanan manusia. Dengan kata lain, bencana bukan semata peristiwa fisik, tetapi juga peristiwa sosial.
Pemahaman ini dirumuskan secara konseptual melalui formula yang banyak dirujuk dalam literatur kebencanaan: Disaster = Hazard + Exposure + Vulnerability. Ben Wisner dan koleganya dalam At Risk: Natural Hazards, People’s Vulnerability and Disasters menjelaskan bahwa ancaman alam relatif sulit dikendalikan, tetapi tingkat paparan dan kerentanan masyarakat dapat dikelola melalui kebijakan pembangunan, tata ruang, dan penguatan kapasitas sosial.
Perbedaan dampak antara satu wilayah dan wilayah lain sering kali lebih ditentukan oleh faktor manusia dibanding oleh kekuatan alam itu sendiri.
Pergeseran perspektif ini mendapatkan pengakuan resmi dalam World Conference on Disaster Risk Reduction (WCDRR) di Jepang 2014. Penulis ikut menjadi delegasi Republik Indonesia selaku Wakil Ketua Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana saat itu.
WCDRR ini di Kota Sendai Miyagi Jepang itu melahirkan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030. Kerangka ini menekankan pentingnya pencegahan dan pengurangan risiko sejak awal, bukan hanya penanganan darurat setelah bencana terjadi. Negara-negara didorong untuk mengurangi kerentanan, memperbaiki tata kelola risiko, serta memastikan bahwa pembangunan tidak menciptakan risiko baru bagi masyarakat.
Indonesia terlibat aktif dalam dinamika global tersebut. Kehadiran Indonesia sebagai tuan rumah Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di Bali menunjukkan penerimaan yang baik terhadap arah pemikiran Sendai Framework.
Namun, secara nasional, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 masih menggunakan istilah bencana alam. Hal ini dapat dipahami karena undang-undang tersebut disusun dengan rujukan Hyogo Framework for Action, kerangka global yang berlaku sebelum Sendai. Dengan demikian, penggunaan istilah bencana alam saat ini merupakan bagian dari kepatuhan terhadap hukum yang masih berlaku.
Menariknya, dalam praktik kebencanaan sehari-hari, pemahaman yang lebih luas sebenarnya telah berkembang. Berbagai peraturan teknis dan dokumen profesional mendefinisikan bencana sebagai pertemuan antara ancaman dan kerentanan yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan sarana prasarana, serta dampak lingkungan.
Artinya, meskipun bahasa undang-undang masih menggunakan istilah bencana alam, pendekatan kebijakan dan teknis di lapangan secara bertahap mengadopsi cara pandang yang lebih komprehensif.
Dari sudut pandang filsafat sosial, sosiolog Jerman Ulrich Beck menyebut masyarakat modern sebagai risk society, yakni masyarakat yang menghadapi risiko besar yang sebagian justru dihasilkan oleh pilihan-pilihan manusia sendiri.
Banjir akibat alih fungsi lahan, longsor karena deforestasi, atau besarnya korban gempa akibat bangunan yang tidak tahan guncangan mencerminkan bagaimana risiko dapat diperbesar oleh keputusan pembangunan. Alam menjadi pemicu, sementara skala dampak sangat dipengaruhi oleh cara manusia mengelola ruang hidupnya.
Perspektif ini juga menemukan resonansi dalam pandangan teologis. Secara teologi, dalam tradisi Agama Islam, bencana kerap dipahami sebagai ujian (ibtil?’) yang mengandung makna reflektif, bukan semata hukuman atau takdir yang meniadakan ikhtiar.
Ulama seperti Abu Hamid al-Ghazali menekankan bahwa musibah harus dibaca sebagai sarana muhasabah, sekaligus dorongan untuk memperbaiki perilaku dan tata kehidupan. Dalam kerangka ini, ikhtiar manusia—termasuk kebijakan publik dan pengelolaan risiko—menjadi bagian tak terpisahkan dari sikap keimanan.
Melihat bencana sebagai pertemuan antara alam, manusia, dan makna tidak berarti menyalahkan siapa pun. Pendekatan ini justru membantu memperluas kesadaran bahwa pengurangan risiko bencana adalah bagian dari tanggung jawab pembangunan jangka panjang. Selama Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 masih berlaku, istilah bencana alam tetap menjadi rujukan resmi dalam kebijakan dan pembiayaan.
Namun pemahaman di balik istilah tersebut dapat terus diperkaya agar selaras dengan perkembangan ilmu, praktik global, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, alam akan terus bergerak sesuai hukumnya. Pertanyaannya bukan apakah ancaman alam dapat dihilangkan, melainkan bagaimana manusia dan negara mengelola kerentanan yang ada. Di titik inilah bencana menemukan maknanya yang lebih dalam: bukan sekadar peristiwa alam, tetapi cermin dari kualitas peradaban, kebijakan, dan etika pembangunan yang kita pilih bersama.
Dalam kerangka ini, memperbincangkan bencana tidak cukup berhenti pada penamaan dan klasifikasi administratif. Bencana perlu ditempatkan sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas tentang arah pembangunan, keberpihakan kebijakan, dan tanggung jawab moral negara terhadap warganya.
Ketika risiko terus meningkat sementara kerentanan dibiarkan, bencana akan selalu berulang dalam wajah yang sama, meskipun ancamannya berbeda. Karena itu, pengurangan risiko bencana sejatinya adalah ukuran kedewasaan sebuah bangsa dalam mengelola masa depan. Mengakui peran manusia dalam bencana tidak berarti mengabaikan takdir atau meniadakan kehendak alam.
Sebaliknya, pengakuan ini justru memperjelas ruang ikhtiar yang dimiliki manusia. Alam menghadirkan hukum-hukumnya, sementara manusia diberi akal, pengetahuan, dan kewenangan untuk mengelola risiko. Di antara keduanya, kebijakan publik menjadi jembatan penentu: apakah ancaman dibiarkan berubah menjadi tragedi, atau dikelola menjadi pelajaran.
Dengan cara pandang seperti ini, bencana tidak lagi sekadar peristiwa yang datang dan pergi, melainkan peringatan yang berulang tentang pilihan-pilihan yang telah diambil. Setiap banjir, gempa, dan longsor mengajukan pertanyaan yang sama: apakah kita telah membangun dengan memperhitungkan keselamatan, atau sekadar mengejar pertumbuhan?
Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan apakah bencana terus menjadi kisah duka, atau berubah menjadi momentum perbaikan peradaban. **
*) Penulis adalah Deputi 1 BAZNAS RI, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Mari langitkan doa dan bantu saudara-saudara kita dengan bersedekah melalui Dompet Bencana dan Kemanusiaan BAZNAS, dengan transfer melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening:
BSI: 771 166 4477
BCA Syariah: 0660 1701 01
BTN Syariah: 817 1000 036
Bank Lampung: 3800 003031 093
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL25/12/2025 | M. Arifin Purwakananta/BL-01

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat
