Artikel Terbaru
Zakat di Bulan Safar, Bolehkah? Ini Penjelasan Menunaikannya!
MASIH banyak umat Islam yang mengira zakat sebaiknya ditunaikan pada bulan Ramadan karena dianggap memiliki keutamaan yang lebih besar. Padahal, dalam syariat Islam, kewajiban zakat tidak ditentukan oleh bulan tertentu, melainkan berdasarkan terpenuhinya syarat wajib zakat, seperti nisab dan haul. Artinya, jika kewajiban zakat jatuh pada bulan Safar, maka zakat sebaiknya segera ditunaikan tanpa perlu menunggu Ramadan.
Hukum Menunaikan Zakat pada Bulan Safar
Tidak ada ketentuan dalam Al-Qur'an maupun hadis yang melarang pembayaran zakat pada bulan Safar. Sebaliknya, zakat mal dapat ditunaikan kapan saja setelah memenuhi syarat wajibnya.
Menunda pembayaran zakat tanpa alasan yang dibenarkan tidak dianjurkan, karena zakat merupakan hak mustahik yang harus segera disalurkan ketika telah jatuh tempo.
Kapan Zakat Wajib Ditunaikan?
Seorang muslim berkewajiban menunaikan zakat apabila telah memenuhi beberapa syarat berikut:
- Harta telah mencapai nisab atau batas minimal wajib zakat.- Kepemilikan harta telah mencapai haul, yaitu satu tahun Hijriah (khusus zakat mal).- Pemilik harta beragama Islam dan memenuhi syarat sebagai wajib zakat.
Jika seluruh syarat tersebut terpenuhi pada bulan Safar, maka zakat wajib dibayarkan pada bulan tersebut.
Mengapa Zakat Sebaiknya Dibayar Tepat Waktu?
Menunaikan zakat sesuai waktu jatuh temponya merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Selain menjalankan kewajiban, zakat juga memiliki banyak hikmah, di antaranya:
- Menyucikan harta dan jiwa.- Menjadi wujud kepedulian kepada fakir miskin dan golongan yang berhak menerima zakat.- Menghadirkan keberkahan dalam harta yang dimiliki.- Membantu mempercepat penyaluran manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan.
Semakin cepat zakat ditunaikan, semakin cepat pula manfaatnya dapat dirasakan oleh para mustahik.
Apakah Harus Menunggu Bulan Ramadan?
Jawabannya tidak.
Ramadan memang dikenal sebagai bulan yang penuh keberkahan sehingga banyak orang memilih menunaikan zakat pada bulan tersebut. Namun, hal itu bukan berarti zakat hanya boleh dibayarkan saat Ramadan.
Untuk zakat mal, waktu pembayarannya mengikuti terpenuhinya nisab dan haul. Jadi, apabila kewajiban zakat jatuh pada bulan Safar, tidak ada alasan untuk menundanya hingga Ramadan.
Cara Menghitung Zakat Mal
Besaran zakat mal yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 persen dari harta yang telah mencapai nisab dan haul.
Sebagai contoh, apabila seseorang memiliki harta bersih sebesar Rp100.000.000 yang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah:
2,5% × Rp100.000.000 = Rp2.500.000.
Perhitungan yang tepat akan membantu memastikan zakat ditunaikan sesuai ketentuan syariat.
Tunaikan Zakat Tepat Waktu
Menunaikan zakat pada bulan Safar hukumnya sah dan diperbolehkan dalam Islam. Bahkan, apabila kewajiban zakat telah jatuh tempo pada bulan ini, maka sebaiknya segera ditunaikan tanpa menunggu bulan Ramadan.
Zakat bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana membersihkan harta, memperkuat kepedulian sosial, serta membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, tunaikan zakat tepat waktu melalui lembaga pengelola zakat yang amanah dan profesional agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh mereka yang berhak menerimanya.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL10/07/2026 | MBL-01
Hikmah Bulan Safar: Momentum Perkuat Iman dan Meninggalkan Mitos
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat. Sebagian orang meyakini bulan ini identik dengan kesialan atau waktu yang kurang baik untuk memulai suatu aktivitas. Padahal, anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Sebaliknya, Bulan Safar dapat menjadi momentum bagi setiap muslim untuk memperkuat keimanan, meluruskan pemahaman tentang tauhid, serta memperbanyak amal saleh. Memahami hikmah Bulan Safar akan membantu umat Islam menjalani bulan ini dengan penuh keyakinan dan optimisme, tanpa dipengaruhi kepercayaan yang bertentangan dengan syariat.
Mengenal Bulan Safar dalam Islam
Safar adalah bulan kedua setelah Muharram dalam kalender Hijriah. Pada masa Arab jahiliah, masyarakat meyakini bahwa bulan ini membawa kesialan sehingga mereka menghindari berbagai aktivitas penting, seperti menikah, bepergian, atau memulai usaha.
Namun, Rasulullah SAW meluruskan keyakinan tersebut melalui sabdanya:
"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena burung, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa keberuntungan maupun kesialan. Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT.
Hikmah Bulan Safar yang Perlu Dipahami
1. Menguatkan Tauhid dan Menjauhi Tahayul
Salah satu pelajaran terbesar dari Bulan Safar adalah pentingnya menjaga kemurnian akidah. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh menggantungkan keyakinannya pada mitos atau kepercayaan yang tidak memiliki dasar syariat.
Keberuntungan maupun musibah hanya terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena pengaruh waktu atau bulan tertentu.
2. Menumbuhkan Sikap Tawakal
Bulan Safar juga mengingatkan umat Islam untuk selalu bertawakal setelah berikhtiar. Setiap keputusan dan langkah dalam kehidupan hendaknya didasarkan pada usaha yang maksimal serta kepercayaan penuh kepada Allah SWT, bukan pada rasa takut terhadap anggapan yang belum tentu benar.
3. Memotivasi untuk Memperbanyak Amal Saleh
Tidak ada ibadah khusus yang hanya dianjurkan pada Bulan Safar. Namun, bulan ini tetap menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan kualitas ibadah, seperti:
- Menjaga salat wajib dan memperbanyak salat sunah.- Membaca Al-Qur'an setiap hari.- Memperbanyak zikir dan istigfar.- Bersedekah dan membantu sesama.- Memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Setiap amal baik yang dilakukan dengan ikhlas akan bernilai pahala, kapan pun waktunya.
4. Mengajarkan Sikap Optimis
Sebagian orang masih menunda pernikahan, membuka usaha, atau melakukan perjalanan karena menganggap Bulan Safar membawa kesialan. Islam justru mengajarkan agar setiap muslim bersikap optimis dan tidak mengambil keputusan berdasarkan prasangka atau mitos yang tidak memiliki landasan.
5. Mengingatkan Bahwa Ujian Bisa Datang Kapan Saja
Musibah bukan hanya terjadi pada Bulan Safar. Dalam Islam, setiap waktu merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT yang dapat menjadi ujian maupun nikmat bagi hamba-Nya. Yang terpenting adalah bagaimana seorang muslim menyikapinya dengan sabar, ikhtiar, dan tawakal.
Mitos yang Perlu Ditinggalkan
Hingga kini, masih ada sebagian masyarakat yang mempercayai berbagai anggapan keliru tentang Bulan Safar, seperti:
- Menganggap Safar sebagai bulan sial.- Menunda pernikahan tanpa alasan syar'i.- Takut memulai usaha atau bepergian pada bulan ini.- Mempercayai ramalan atau hitungan tertentu yang tidak memiliki dasar dalam Islam.
Sebagai muslim, sudah semestinya menjadikan Al-Qur'an dan sunah sebagai pedoman, bukan kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Mengisi Bulan Safar dengan Kebaikan
Agar Bulan Safar menjadi lebih bermakna, umat Islam dapat mengisinya dengan berbagai amal saleh, di antaranya memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah, menjauhi tahayul dan syirik, meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah, serta terus berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Bulan ini juga menjadi pengingat untuk terus menjaga semangat berbuat baik dan memberikan manfaat bagi sesama dalam kehidupan sehari-hari.
Jadikan Safar sebagai Momentum Memperbaiki Diri
Hikmah Bulan Safar bukan terletak pada mitos tentang kesialan, melainkan pada kesempatan untuk memperkuat akidah, meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak amal saleh. Islam mengajarkan bahwa setiap bulan adalah waktu yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menebarkan kebaikan.
Dengan memahami makna Bulan Safar secara benar, umat Islam dapat meninggalkan berbagai anggapan yang keliru dan menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan, optimisme, serta semangat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL10/07/2026 | MBL-01
Harta Apa Saja Wajib Dizakati? Kenali Jenis dan Ketentuannya!
ZAKAT maal merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang hartanya telah memenuhi syarat tertentu. Namun, tidak sedikit yang masih bertanya, harta apa saja yang wajib dizakati? Apakah seluruh harta yang dimiliki harus dikeluarkan zakatnya?
Dalam Islam, tidak semua jenis harta dikenai zakat. Syariat telah mengatur bahwa hanya harta tertentu yang memiliki nilai ekonomis, berkembang, serta telah mencapai nisab dan haul yang wajib dizakati. Memahami ketentuan ini penting agar zakat dapat ditunaikan dengan benar sesuai tuntunan syariat.
Apa yang Dimaksud dengan Harta Wajib Zakat?
Harta yang wajib dizakati adalah harta yang dimiliki secara sah oleh seorang muslim, diperoleh melalui cara yang halal, memiliki potensi untuk berkembang, dan telah memenuhi syarat yang ditetapkan dalam syariat Islam.
Allah SWT berfirman:
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103)
Ayat tersebut menegaskan bahwa zakat bukan hanya berfungsi menyucikan harta dan jiwa pemiliknya, tetapi juga menjadi sarana membantu mereka yang membutuhkan serta mewujudkan pemerataan kesejahteraan di tengah masyarakat.
Syarat Harta yang Wajib Dizakati
Sebelum dikenai kewajiban zakat, harta harus memenuhi beberapa syarat berikut:
1. Dimiliki Secara Penuh
Harta berada dalam kepemilikan yang sah dan dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh pemilik tanpa adanya sengketa.
2. Diperoleh dengan Cara yang Halal
Harta yang berasal dari praktik yang dilarang, seperti pencurian, korupsi, riba, atau usaha haram lainnya, tidak menjadi objek zakat karena pada dasarnya tidak boleh dimiliki.
3. Memiliki Potensi Berkembang
Harta tersebut dapat bertambah nilainya atau menghasilkan keuntungan, baik secara langsung maupun melalui kegiatan usaha atau investasi.
4. Telah Mencapai Nisab
Nisab merupakan batas minimal kepemilikan harta yang mewajibkan seseorang menunaikan zakat. Besarnya nisab berbeda-beda sesuai dengan jenis hartanya.
5. Mencapai Haul
Untuk sebagian besar zakat maal, kepemilikan harta harus telah berlangsung selama satu tahun Hijriah (haul). Ketentuan ini tidak berlaku pada beberapa jenis zakat, seperti hasil pertanian dan rikaz.
6. Melebihi Kebutuhan Pokok
Zakat dikenakan pada harta yang berada di luar kebutuhan pokok sehari-hari serta setelah dikurangi kewajiban utang yang telah jatuh tempo.
Jenis Harta yang Wajib Dizakati
1. Emas, Perak, dan Uang
Emas dan perak merupakan harta yang wajib dizakati apabila telah mencapai nisab dan haul. Dalam praktik saat ini, uang tunai juga dipersamakan dengan emas karena sama-sama berfungsi sebagai alat tukar.
Yang termasuk dalam kategori ini antara lain:
- Emas batangan- Perhiasan emas yang memenuhi ketentuan zakat menurut pendapat ulama- Perak- Uang tunai- Tabungan- Giro- Deposito- Saldo rekening- Saldo dompet digital
Besaran zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen dari total harta yang telah memenuhi syarat.
2. Harta Perniagaan
Aset yang digunakan untuk kegiatan usaha juga termasuk objek zakat. Perhitungannya dilakukan berdasarkan nilai aset bersih usaha.
Contohnya meliputi:
- Barang dagangan- Persediaan stok- Keuntungan usaha- Piutang yang dapat ditagih
Zakat perdagangan sebesar 2,5 persen dari total aset bersih setelah dikurangi kewajiban jangka pendek.
3. Hasil Pertanian
Hasil pertanian wajib dizakati setiap kali panen apabila telah mencapai nisab, tanpa harus menunggu haul.
Beberapa hasil pertanian yang termasuk objek zakat antara lain:
- Padi- Jagung- Gandum- Kurma- Anggur
Besaran zakatnya adalah:
- 10 persen apabila pengairannya mengandalkan air hujan atau sumber alami.- 5 persen apabila menggunakan biaya irigasi.
4. Hasil Peternakan
Hewan ternak tertentu juga dikenai zakat apabila jumlahnya telah mencapai batas minimal yang ditentukan syariat.
Jenis ternak yang termasuk objek zakat di antaranya:
- Unta- Sapi atau kerbau- Kambing- Domba
Besaran zakatnya menyesuaikan jumlah ternak yang dimiliki.
5. Hasil Tambang dan Rikaz
Hasil tambang, seperti emas, perak, maupun logam berharga lainnya, termasuk harta yang wajib dizakati. Demikian pula rikaz, yaitu harta temuan yang memiliki ketentuan zakat tersendiri sesuai syariat.
6. Investasi dan Surat Berharga
Seiring perkembangan ekonomi, berbagai instrumen investasi juga dapat menjadi objek zakat apabila memenuhi syarat.
Di antaranya:
- Saham- Reksa dana- Sukuk- Obligasi syariah- Investasi emas digital
Perhitungan zakat disesuaikan dengan jenis investasi dan nilai aset yang dimiliki.
Cara Mengetahui Apakah Sudah Wajib Zakat
Untuk mengetahui apakah telah berkewajiban menunaikan zakat maal, langkah pertama adalah menghitung seluruh harta yang termasuk objek zakat, seperti uang tunai, tabungan, emas, investasi, piutang yang dapat ditagih, hingga aset usaha.
Apabila total harta telah mencapai nisab dan memenuhi haul, maka zakat yang wajib dikeluarkan umumnya sebesar 2,5 persen.
Sebagai contoh, jika total harta bersih mencapai Rp250.000.000, maka zakat yang harus ditunaikan adalah:
Rp250.000.000 × 2,5% = Rp6.250.000.
Hikmah Menunaikan Zakat Maal
Menunaikan zakat maal tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menghadirkan berbagai manfaat bagi individu maupun masyarakat. Zakat berperan dalam menyucikan harta, menghadirkan keberkahan rezeki, menumbuhkan rasa syukur, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Di sisi lain, zakat juga menjadi instrumen penting dalam mengurangi kesenjangan sosial dan membantu meningkatkan kesejahteraan mustahik. Karena itu, memahami jenis harta yang wajib dizakati merupakan langkah awal agar setiap muslim dapat menunaikan kewajibannya dengan benar sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL10/07/2026 | MBL-01
Menyambut Bulan Safar dengan Doa dan Optimisme kepada Allah
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang sering kali dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat. Salah satu anggapan yang masih berkembang adalah keyakinan bahwa bulan ini identik dengan kesialan atau datangnya musibah. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada satu pun dalil yang menyatakan bahwa Bulan Safar membawa kesialan. Rasulullah SAW sendiri telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada waktu, tempat, maupun bulan tertentu.
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menyambut Bulan Safar dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT serta memperbanyak amal saleh. Bulan ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat keimanan, dan memperbanyak doa sebagai bentuk penghambaan serta permohonan perlindungan kepada Allah SWT.
Salah satu amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak doa memohon keselamatan dan perlindungan. Meskipun tidak terdapat doa khusus yang secara sahih ditetapkan hanya untuk Bulan Safar, umat Islam dapat mengamalkan berbagai doa perlindungan yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan hadis. Di antaranya adalah doa:
"Bismillahilladzi la yadurru ma'asmihi syai'un fil ardi wa la fis-sama'i wa huwas-sami'ul-'alim."
Artinya: "Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat memberikan bahaya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Doa tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar seorang muslim untuk memohon penjagaan Allah SWT dari segala keburukan, gangguan, maupun musibah yang tidak diinginkan.
Selain berdoa, Bulan Safar juga dapat diisi dengan berbagai amalan kebaikan seperti membaca Al-Qur'an, memperbanyak istigfar, melaksanakan salat sunnah, bersedekah, dan memperbanyak zikir. Amalan-amalan tersebut tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga membantu menumbuhkan ketenangan hati serta memperkuat hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Sebagai muslim, penting untuk meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan berada dalam kehendak Allah SWT. Kebaikan maupun ujian bukan ditentukan oleh suatu bulan tertentu, melainkan merupakan bagian dari ketetapan-Nya. Oleh sebab itu, Bulan Safar seharusnya dijalani dengan sikap optimis, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan ketakwaan, bukan dengan rasa takut terhadap mitos yang tidak memiliki landasan syariat.
Dengan memperkuat doa, tawakal, dan amal saleh, Bulan Safar dapat menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga setiap langkah yang dijalani pada bulan ini senantiasa berada dalam lindungan-Nya serta dipenuhi keberkahan, ketenangan, dan rahmat bagi seluruh umat Islam.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Menyikapi Bulan Safar dengan Benar: Tinggalkan Mitos, Perbanyak Amal Saleh
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Namun, hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan bulan ini dengan berbagai mitos, seperti anggapan bahwa Safar membawa kesialan atau menjadi waktu yang kurang baik untuk memulai suatu kegiatan. Dalam Islam, keyakinan semacam itu tidak memiliki landasan yang sahih. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memahami Bulan Safar berdasarkan Al-Qur'an dan sunah, bukan berdasarkan kepercayaan yang diwariskan tanpa dasar syariat.
Rasulullah SAW telah meluruskan keyakinan masyarakat Arab pada masa jahiliah yang menganggap Safar sebagai bulan pembawa sial. Beliau menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada waktu atau bulan tertentu. Dengan demikian, setiap Muslim hendaknya meyakini bahwa segala kebaikan maupun ujian datang atas kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh suatu bulan.
Berbeda dengan Ramadan, Zulhijah, atau Muharam yang memiliki keutamaan khusus berdasarkan dalil, tidak terdapat riwayat sahih yang menyebutkan adanya keistimewaan tertentu pada Bulan Safar. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti Safar menjadi bulan yang kurang bernilai. Sebagaimana bulan-bulan lainnya, Safar tetap menjadi kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Ada banyak amalan yang dapat dilakukan selama Bulan Safar. Umat Islam dianjurkan untuk menjaga salat wajib, memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, serta memperbanyak istigfar. Selain itu, mempererat silaturahmi, menjaga akhlak, bersedekah, dan menunaikan zakat bagi yang telah memenuhi syarat juga menjadi bentuk ibadah yang sangat dianjurkan. Setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan mendapatkan balasan dari Allah SWT, tanpa bergantung pada bulan tertentu.
Di sisi lain, penting bagi umat Islam untuk meluruskan berbagai anggapan keliru yang masih berkembang mengenai Bulan Safar. Kepercayaan bahwa bulan ini identik dengan musibah atau membawa nasib buruk tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Sikap yang seharusnya dimiliki seorang Muslim adalah memperkuat ikhtiar, memperbanyak doa, bertawakal, dan terus beramal saleh, bukan merasa takut karena mitos yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk nyata dari kepedulian tersebut adalah menunaikan zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan. Melalui zakat yang dikelola secara amanah dan profesional, manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam mewujudkan kesejahteraan umat.
Jadikan Bulan Safar sebagai kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak amal kebaikan dan meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Dengan begitu, setiap waktu yang Allah anugerahkan akan menjadi ladang pahala dan keberkahan bagi kehidupan di dunia maupun akhirat.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Amalan di Bulan Safar yang Dianjurkan untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat, seperti anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan atau menjadi waktu yang kurang baik untuk memulai suatu hal. Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW justru menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada bulan Safar maupun waktu tertentu. Karena itu, umat Islam hendaknya menyambut bulan ini dengan memperkuat keimanan dan memperbanyak amal saleh, bukan dengan mempercayai mitos yang bertentangan dengan syariat.
Ketika membahas amalan di bulan Safar, perlu dipahami bahwa Islam tidak menetapkan ibadah khusus yang hanya dilakukan pada bulan ini. Namun, Safar tetap menjadi momentum yang baik untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amalan yang dianjurkan sepanjang waktu.
Salah satu amalan yang dapat diperbanyak adalah berdoa. Seorang Muslim dianjurkan untuk senantiasa memohon ampunan, kesehatan, kemudahan rezeki, perlindungan, serta keberkahan hidup kepada Allah SWT. Doa menjadi bentuk penghambaan sekaligus wujud keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu memberikan manfaat dan menolak segala keburukan.
Selain itu, memperbanyak istigfar dan zikir juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Istigfar mengajarkan seorang Muslim untuk senantiasa menyadari kekhilafan diri dan memohon ampun kepada Allah, sementara zikir dapat menenangkan hati serta memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Amalan lain yang tidak kalah penting adalah membaca dan mentadabburi Al-Qur'an. Tidak hanya sekadar membaca, memahami makna dan mengamalkan kandungannya akan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini dapat dilakukan kapan saja, termasuk di bulan Safar, sebagai bekal untuk meningkatkan ketakwaan.
Safar juga dapat menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak sedekah dan kepedulian sosial. Berbagi kepada sesama merupakan salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar karena selain membersihkan harta, juga membantu meringankan beban mereka yang membutuhkan. Kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui zakat, infak, sedekah, maupun berbagai aksi kemanusiaan. Menyalurkan dana ZIS melalui BAZNAS menjadi salah satu ikhtiar agar bantuan tersalurkan secara amanah, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Di samping itu, setiap Muslim dianjurkan untuk terus memperbanyak amal saleh, seperti menjaga silaturahmi, memperbaiki akhlak, membantu sesama, serta menjalankan berbagai kebaikan lainnya. Bulan Safar bukanlah waktu untuk merasa khawatir karena mitos yang tidak berdasar, melainkan kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas diri dan memperbanyak bekal amal menuju ridha Allah SWT.
Perlu dipahami pula bahwa hingga kini tidak terdapat hadis sahih yang menetapkan adanya salat khusus, puasa khusus, doa tertentu, maupun ritual tertentu yang hanya dikhususkan pada bulan Safar. Oleh sebab itu, umat Islam hendaknya berhati-hati terhadap amalan yang tidak memiliki landasan syariat, serta lebih mengutamakan ibadah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Pada akhirnya, bulan Safar adalah bagian dari perjalanan waktu yang Allah SWT ciptakan tanpa membawa kesialan maupun keberuntungan tertentu. Yang menentukan baik atau buruknya kehidupan seseorang adalah keimanan, ikhtiar, dan ketakwaannya kepada Allah. Dengan memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, serta mengerjakan berbagai amal saleh, setiap Muslim dapat menjadikan bulan Safar sebagai momentum untuk terus bertumbuh dalam kebaikan dan meraih keberkahan hidup.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Memahami Bulan Safar dalam Islam: Menepis Mitos, Memperbanyak Amal Saleh
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Di sebagian masyarakat, bulan ini masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos, seperti anggapan sebagai bulan yang membawa kesialan atau musibah. Padahal, dalam ajaran Islam tidak terdapat dalil yang menyebutkan bahwa Safar adalah bulan yang buruk. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar setiap Muslim memandang seluruh waktu sebagai ciptaan Allah SWT yang memiliki nilai sama, serta mengisinya dengan amal saleh dan ketakwaan.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah SWT telah menetapkan jumlah bulan dalam setahun sebanyak dua belas bulan, sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 36. Ketetapan ini menunjukkan bahwa setiap bulan, termasuk Safar, merupakan bagian dari tatanan yang telah Allah tetapkan sejak penciptaan langit dan bumi. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk meyakini bahwa suatu bulan memiliki kesialan yang melekat padanya.
Pemahaman tersebut juga diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW yang meluruskan keyakinan masyarakat Arab pada masa jahiliah. Beliau bersabda bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar, sebagaimana tidak ada kesialan yang berasal dari pertanda-pertanda tertentu. Hadis ini menjadi pengingat bahwa seorang Muslim harus menjaga kemurnian akidah dengan hanya bersandar kepada Allah SWT, serta tidak mempercayai mitos yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Meski tidak memiliki keutamaan khusus sebagaimana Ramadan atau bulan-bulan haram, Safar tetap menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak ibadah. Umat Islam dianjurkan untuk menjaga salat wajib, memperbanyak membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, bersedekah, dan mengerjakan berbagai amalan sunah lainnya. Setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan memperoleh balasan dari Allah SWT, tanpa dibatasi oleh bulan tertentu.
Dalam catatan sejarah Islam, bulan Safar juga menjadi bagian dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Beberapa ekspedisi dan aktivitas penting berlangsung pada bulan ini, yang menunjukkan bahwa Safar bukanlah waktu untuk berdiam diri karena rasa takut terhadap mitos. Sebaliknya, bulan ini menjadi bukti bahwa umat Islam tetap menjalankan berbagai aktivitas, berdakwah, dan berikhtiar dalam kehidupan sehari-hari.
Hakikat keistimewaan bulan Safar bukan terletak pada adanya amalan khusus atau keyakinan tertentu, melainkan pada kesempatan yang dimiliki setiap Muslim untuk terus memperbaiki diri. Safar menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas ibadah, serta meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak memiliki landasan syariat.
Dengan memahami ajaran Islam secara benar, umat Islam dapat menjalani bulan Safar dengan penuh optimisme dan ketenangan. Daripada disibukkan dengan mitos yang tidak berdasar, lebih baik mengisi hari-hari di bulan ini dengan amal saleh, memperbanyak doa, mempererat kepedulian kepada sesama, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Inilah sikap yang diajarkan Islam dalam menyambut setiap waktu yang telah Allah anugerahkan.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Mengenal Riba dalam Islam: Pengertian, Jenis, Hukum, dan Cara Menghindarinya
DALAM kehidupan sehari-hari, istilah riba sering muncul ketika membahas pinjaman, investasi, hingga berbagai bentuk transaksi keuangan. Namun, tidak sedikit masyarakat yang masih belum memahami secara utuh apa yang dimaksud dengan riba dan mengapa Islam melarangnya. Padahal, memahami konsep riba sangat penting agar setiap Muslim dapat menjalankan aktivitas ekonomi sesuai dengan prinsip syariat.
Secara umum, riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam suatu transaksi tanpa adanya imbalan yang dibenarkan menurut syariat. Tambahan tersebut biasanya muncul dalam transaksi utang-piutang atau pertukaran barang tertentu, sehingga salah satu pihak memperoleh keuntungan tanpa adanya risiko atau usaha yang seimbang. Islam memandang praktik seperti ini bertentangan dengan prinsip keadilan yang menjadi dasar dalam setiap aktivitas muamalah.
Sebaliknya, Islam mendorong umatnya memperoleh keuntungan melalui cara-cara yang halal, seperti perdagangan yang jujur, kerja sama usaha, maupun investasi yang sesuai dengan ketentuan syariat. Dengan demikian, setiap keuntungan yang diperoleh berasal dari usaha yang nyata dan memberikan manfaat bagi semua pihak.
Dasar Hukum Larangan Riba
Larangan riba memiliki landasan yang sangat kuat dalam Al-Qur'an dan hadis. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 275 bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Penegasan ini menunjukkan bahwa keuntungan dari aktivitas perdagangan yang sah berbeda dengan tambahan yang diperoleh melalui praktik riba.
Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 278–279, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk meninggalkan segala bentuk riba serta memberikan peringatan keras bagi mereka yang tetap melakukannya. Larangan serupa juga terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 130 yang mengingatkan agar kaum mukmin tidak memakan riba yang berlipat ganda.
Rasulullah SAW pun memberikan peringatan yang tegas. Dalam hadis riwayat Muslim dari Jabir RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi riba, pencatat transaksi riba, dan kedua saksinya. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh pihak yang terlibat dalam praktik riba turut memikul tanggung jawab atas transaksi yang dilarang tersebut.
Mengapa Riba Diharamkan?
Larangan riba bukan sekadar aturan, melainkan bentuk perlindungan Islam terhadap keadilan dalam kehidupan ekonomi. Praktik riba dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik bagi individu maupun masyarakat.
Pertama, riba menciptakan ketidakadilan karena pemberi pinjaman memperoleh keuntungan tanpa menanggung risiko, sementara pihak yang meminjam justru menanggung beban yang semakin berat. Kedua, riba berpotensi memperlebar kesenjangan sosial karena orang yang memiliki modal terus memperoleh tambahan keuntungan, sedangkan mereka yang mengalami kesulitan ekonomi semakin terbebani.
Selain itu, praktik riba juga bertentangan dengan semangat tolong-menolong yang diajarkan Islam. Memberikan pinjaman seharusnya menjadi bentuk kepedulian kepada sesama, bukan sarana mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain. Tidak jarang pula riba memicu perselisihan, konflik keluarga, hingga masalah hukum akibat beban utang yang terus bertambah.
Jenis-Jenis Riba dalam Islam
Dalam fikih Islam, riba terbagi ke dalam beberapa bentuk yang penting untuk dipahami.
Riba qardh adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi pinjaman. Misalnya, seseorang meminjam uang dengan syarat harus mengembalikan lebih banyak daripada jumlah yang dipinjam.
Riba nasi'ah terjadi karena adanya penundaan pembayaran yang disertai tambahan nilai. Jenis ini banyak dijumpai pada utang berbunga, di mana jumlah utang terus bertambah ketika pembayaran ditunda.
Riba fadhl terjadi dalam pertukaran barang ribawi yang sejenis tetapi tidak sama takaran, berat, atau kualitasnya. Contohnya, menukar emas dengan emas dalam jumlah yang berbeda secara tunai.
Sedangkan riba yad berkaitan dengan transaksi barang ribawi yang tidak disertai serah terima secara langsung sehingga menimbulkan ketidakjelasan dalam akad.
Contoh Riba dalam Kehidupan Sehari-hari
Praktik riba dapat dijumpai dalam berbagai bentuk transaksi modern, seperti pinjaman berbunga, pinjaman online dengan bunga tinggi, kredit dari rentenir, bunga akibat keterlambatan pembayaran kartu kredit, maupun utang yang terus bertambah karena denda berbunga.
Namun demikian, penting dipahami bahwa tidak setiap tambahan dalam transaksi otomatis termasuk riba. Dalam sistem ekonomi syariah terdapat berbagai akad yang telah dikaji oleh para ulama dan berbeda dengan sistem bunga. Oleh karena itu, memahami mekanisme transaksi menjadi hal yang sangat penting agar tidak keliru dalam menilainya.
Dampak Buruk Praktik Riba
Selain dilarang secara syariat, riba juga membawa berbagai dampak negatif dalam kehidupan. Harta yang diperoleh melalui cara yang tidak halal kehilangan keberkahannya, meskipun jumlahnya banyak. Di sisi lain, sistem bunga dapat membuat utang semakin sulit dilunasi karena nilainya terus bertambah.
Praktik riba juga berpotensi merusak hubungan sosial akibat munculnya perselisihan antara pihak yang berutang dan pemberi pinjaman. Dalam skala yang lebih luas, riba dapat memperparah ketimpangan ekonomi karena kekayaan hanya berputar pada kelompok tertentu. Oleh sebab itu, Islam memberikan peringatan yang sangat tegas agar umatnya menjauhi praktik tersebut.
Cara Menghindari Riba
Menghindari riba merupakan bagian dari ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mempelajari ilmu muamalah agar mampu membedakan transaksi yang halal dengan yang mengandung unsur riba.
Selain itu, memilih layanan keuangan berbasis syariah menjadi salah satu ikhtiar untuk menjalankan transaksi sesuai prinsip Islam. Jika membutuhkan pembiayaan, usahakan mencari alternatif yang menggunakan akad syariah dan menghindari sistem bunga.
Mengelola keuangan secara bijak juga dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk berutang. Apabila masih ragu terhadap suatu bentuk transaksi, tidak ada salahnya berkonsultasi kepada ulama atau ahli ekonomi syariah agar memperoleh pemahaman yang tepat.
Perbedaan Riba dan Jual Beli
Masih ada anggapan bahwa keuntungan dalam jual beli sama dengan riba. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Dalam jual beli terdapat pertukaran barang atau jasa, adanya risiko usaha, serta manfaat yang diterima secara seimbang oleh kedua belah pihak berdasarkan kerelaan bersama.
Sementara itu, pada praktik riba keuntungan diperoleh tanpa adanya risiko usaha yang seimbang. Tambahan nilai telah ditentukan sejak awal dan cenderung merugikan salah satu pihak, sehingga tidak mencerminkan prinsip keadilan yang diajarkan Islam.
Hikmah Larangan Riba
Di balik larangan tersebut terdapat banyak hikmah yang membawa kemaslahatan bagi umat. Islam ingin menjaga keadilan dalam setiap transaksi, melindungi masyarakat dari praktik eksploitasi ekonomi, serta menumbuhkan semangat saling membantu di antara sesama.
Larangan riba juga mendorong berkembangnya perdagangan dan investasi yang halal, sekaligus menjaga keberkahan harta yang dimiliki. Ketika aktivitas ekonomi dijalankan sesuai syariat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat secara luas.
Memahami riba bukan sekadar mengetahui definisinya, tetapi juga memahami nilai keadilan yang ingin diwujudkan oleh Islam dalam kehidupan ekonomi. Dengan mengenali bentuk-bentuk riba dan berusaha menghindarinya, setiap Muslim dapat menjalankan transaksi yang lebih aman, adil, dan sesuai syariat. Semoga setiap ikhtiar untuk mencari rezeki yang halal menjadi jalan memperoleh keberkahan, sekaligus membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Muharam, Waktu Terbaik Memulai Hijrah Menuju Pribadi Lebih Baik
BULAN Muharam menjadi penanda datangnya tahun baru Hijriah sekaligus salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Lebih dari sekadar pergantian kalender, Muharam merupakan momen yang tepat bagi setiap Muslim untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Setiap pergantian tahun membawa kesempatan untuk meninjau kembali perjalanan hidup. Sudah sejauh mana kualitas ibadah kita meningkat? Apakah hubungan dengan keluarga dan sesama semakin baik? Muharam mengajak setiap Muslim menjadikan pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai langkah awal menuju perubahan yang lebih bermakna.
Muharam, Bulan Penuh Keutamaan
Muharam termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, menjauhi perbuatan maksiat, serta meningkatkan ketakwaan.
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa sunah Asyura pada 10 Muharam, yang disempurnakan dengan puasa pada 9 Muharam (Tasu'a). Selain meraih pahala, berbagai ibadah di bulan ini menjadi sarana untuk memperkuat keimanan sekaligus mengawali tahun dengan semangat baru.
Hijrah Dimulai dari Perubahan Diri
Makna hijrah tidak hanya terbatas pada perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga menjadi simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Setiap Muslim memiliki kesempatan untuk berhijrah dengan meninggalkan kebiasaan buruk dan membangun karakter yang lebih baik.
Perubahan tersebut tidak harus dilakukan secara besar-besaran. Justru, kebiasaan baik yang sederhana namun dilakukan secara konsisten lebih dicintai Allah SWT. Memperbaiki salat, memperbanyak membaca Al-Qur'an, menjaga lisan, meningkatkan sedekah, hingga mempererat silaturahmi dapat menjadi langkah awal hijrah yang nyata.
Muhasabah sebagai Awal Perubahan
Muharam menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi diri. Renungkan kembali bagaimana hubungan kita dengan Allah SWT, keluarga, dan lingkungan sekitar. Apakah kita sudah lebih sabar? Sudahkah amanah dijalankan dengan baik? Atau masih ada kebiasaan yang perlu diperbaiki?
Muhasabah membantu seseorang mengenali kekurangan sekaligus menyusun langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.
Mulailah dari Langkah Sederhana
Perbaikan diri tidak harus dimulai dengan target yang besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah justru akan membawa perubahan yang lebih bertahan lama. Misalnya, membiasakan salat tepat waktu, membaca beberapa ayat Al-Qur'an setiap hari, memperbanyak istigfar, menjaga kejujuran, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah.
Di sisi lain, tantangan seperti rasa malas atau kurang konsisten tentu akan selalu ada. Karena itu, penting untuk menetapkan target yang realistis agar semangat memperbaiki diri tidak berhenti di awal tahun Hijriah saja.
Menjadikan Muharam sebagai Awal Kebiasaan Baik
Semangat Muharam hendaknya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan. Nilai-nilai hijrah perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak yang baik, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen untuk terus meningkatkan kualitas ibadah.
Pada akhirnya, Muharam mengingatkan bahwa waktu terus berjalan dan usia terus bertambah. Karena itu, setiap pergantian tahun Hijriah menjadi kesempatan berharga untuk membuka lembaran baru dengan hati yang lebih bersih, amal yang lebih baik, dan tekad yang lebih kuat dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Semoga Muharam menjadi awal perubahan yang membawa keberkahan, menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa, bermanfaat bagi sesama, serta istiqamah dalam menapaki jalan kebaikan sepanjang tahun.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/07/2026 | MBL-01
Muharram: Saat Terbaik Menata Hati dan Memperbaiki Diri
BULAN Muharram menjadi penanda dimulainya tahun baru Hijriah sekaligus mengingatkan setiap Muslim bahwa waktu terus berjalan. Pergantian tahun dalam Islam bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum untuk berhenti sejenak, mengevaluasi perjalanan hidup, dan memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT maupun sesama manusia.
Di tengah berbagai kesibukan dan aktivitas sehari-hari, tidak sedikit orang yang larut dalam rutinitas hingga lupa menilai kembali kualitas ibadah dan amalnya. Karena itu, Muharram menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah, yaitu introspeksi diri secara jujur agar setiap langkah ke depan lebih terarah dan bernilai ibadah.
Muharram, Bulan yang Penuh Kemuliaan
Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Kemuliaan Muharram juga tercermin melalui berbagai amalan yang dianjurkan Rasulullah SAW, di antaranya puasa sunah Tasu'a dan Asyura yang memiliki keutamaan besar sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Keistimewaan tersebut menunjukkan bahwa Muharram bukan hanya menjadi awal tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga menjadi awal untuk memperbarui semangat beribadah dan memperbaiki kualitas kehidupan.
Muhasabah sebagai Langkah Awal Perubahan
Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan tidak luput dari kesalahan. Oleh sebab itu, introspeksi diri menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Muhasabah bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri sendiri, melainkan mengevaluasi apa yang telah dilakukan agar dapat menjadi lebih baik di masa mendatang.
Momentum Muharram dapat dimanfaatkan untuk bertanya kepada diri sendiri. Apakah salat sudah dijaga dengan baik? Sudahkah Al-Qur'an menjadi bagian dari rutinitas harian? Bagaimana hubungan dengan orang tua, keluarga, dan tetangga? Apakah masih ada hak orang lain yang belum dipenuhi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang menjadi awal dari proses perbaikan diri.
Muhasabah juga mengajarkan bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Selama pintu tobat masih terbuka, setiap Muslim memiliki peluang untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.
Wujud Nyata Muhasabah dalam Kehidupan
Introspeksi diri akan lebih bermakna apabila diikuti dengan tindakan nyata. Tidak cukup hanya menyadari kekurangan, tetapi juga perlu membangun kebiasaan baik yang dapat dilakukan secara konsisten.
Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga salat tepat waktu, memperbanyak membaca Al-Qur'an, memperbanyak istigfar, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama melalui sedekah, infak, maupun zakat.
Selain memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, Muharram juga menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan sesama. Meminta maaf, memaafkan, menjaga lisan, dan menghindari perilaku yang dapat menyakiti orang lain merupakan bagian dari muhasabah yang tidak kalah penting.
Menyusun Resolusi yang Bernilai Ibadah
Sebagian orang terbiasa membuat resolusi pada awal tahun Masehi. Bagi umat Islam, awal tahun Hijriah juga dapat dijadikan kesempatan untuk menyusun target yang lebih berorientasi pada peningkatan kualitas iman dan akhlak.
Resolusi tersebut tidak harus muluk-muluk. Mulailah dengan target yang realistis, seperti lebih disiplin menjaga salat berjamaah, rutin membaca Al-Qur'an setiap hari, memperbanyak sedekah, mengikuti kajian keislaman, atau mengurangi kebiasaan yang kurang bermanfaat.
Perubahan yang dilakukan sedikit demi sedikit, tetapi istiqamah, akan memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada semangat sesaat yang tidak berlanjut.
Menghargai Waktu sebagai Amanah
Salah satu pelajaran penting dari datangnya Muharram adalah kesadaran bahwa usia terus bertambah dan waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, setiap pergantian tahun hendaknya menjadi pengingat agar kita tidak menunda kebaikan, tidak menunda tobat, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Semangat inilah yang seharusnya tumbuh setiap kali memasuki tahun baru Hijriah.
Menjadikan Muharram sebagai Awal yang Lebih Baik
Muharram bukan sekadar awal perjalanan dalam kalender Islam, tetapi juga awal untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna. Melalui muhasabah, setiap Muslim diajak untuk memperbaiki ibadah, memperindah akhlak, mempererat hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kepedulian sosial.
Semoga bulan Muharram menjadi momentum bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan melangkah dengan semangat baru dalam menggapai ridha Allah SWT. Sebab, perubahan yang besar selalu berawal dari keberanian untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki langkah, satu kebaikan demi satu kebaikan.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/07/2026 | MBL-01
Hijrah di Bulan Muharram: Menata Iman, Menguatkan Amal
BULAN Muharram menjadi penanda dimulainya tahun baru Hijriah sekaligus momentum berharga bagi setiap Muslim untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan. Pergantian tahun Islam bukan sekadar pergantian kalender, tetapi menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan setiap insan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Makna hijrah yang sesungguhnya tidak hanya merujuk pada peristiwa perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah perjalanan spiritual untuk meninggalkan kebiasaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih dekat dengan Allah SWT. Karena itu, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat tekad memperbaiki ibadah, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Muharram, Bulan yang Dimuliakan
Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Keutamaannya juga ditegaskan melalui anjuran Rasulullah SAW untuk melaksanakan puasa sunah di bulan Muharram, khususnya puasa Tasu'a dan Asyura, yang memiliki pahala dan keutamaan besar.
Kemuliaan tersebut menjadikan Muharram sebagai waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas keimanan sekaligus memperbarui semangat dalam menjalankan ibadah.
Memaknai Hijrah sebagai Proses Perbaikan Diri
Hijrah sering kali dipahami sebatas perubahan penampilan. Padahal, hakikat hijrah adalah perubahan sikap dan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Islam.
Hijrah dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti memperbaiki kualitas salat, membiasakan membaca Al-Qur'an, menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti, memperbanyak sedekah, menjaga amanah dalam pekerjaan, hingga membangun hubungan yang lebih harmonis dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Islam mengajarkan bahwa perubahan tidak harus dilakukan secara instan. Justru perubahan kecil yang dilakukan dengan istiqamah akan memberikan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan.
Muharram, Momentum untuk Muhasabah
Memasuki tahun baru Hijriah juga menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Kesibukan sehari-hari sering kali membuat seseorang lupa mengevaluasi kualitas ibadah maupun hubungan dengan sesama.
Muhasabah dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana kepada diri sendiri. Apakah ibadah kita sudah lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya? Sudahkah kita berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahmi, dan memberikan manfaat bagi orang lain? Masih adakah kebiasaan yang perlu ditinggalkan agar hidup lebih berkah?
Evaluasi seperti inilah yang menjadi langkah awal untuk menyusun target perbaikan yang lebih nyata di masa mendatang.
Memulai Hijrah dengan Langkah Sederhana
Setiap perubahan membutuhkan komitmen dan kesungguhan. Awal tahun Hijriah dapat menjadi kesempatan untuk membangun kebiasaan baik secara bertahap, seperti menetapkan target membaca Al-Qur'an setiap hari, memperbanyak sedekah, mengikuti kajian keislaman, atau meluangkan waktu untuk beribadah di tengah kesibukan.
Selain itu, memilih lingkungan yang baik juga menjadi bagian penting dalam proses hijrah. Bergaul dengan orang-orang yang saling mengingatkan dalam kebaikan akan membantu menjaga semangat untuk terus memperbaiki diri.
Tak kalah penting, setiap ikhtiar hendaknya disertai doa dan tawakal kepada Allah SWT. Sebab, perubahan yang hakiki hanya dapat terwujud dengan pertolongan-Nya.
Meneladani Semangat Hijrah Rasulullah SAW
Peristiwa hijrah Rasulullah SAW mengajarkan banyak nilai yang tetap relevan hingga saat ini. Hijrah mengajarkan pentingnya perencanaan yang matang, kesabaran dalam menghadapi ujian, keberanian mengambil keputusan yang benar, serta keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah akan selalu menyertai setiap ikhtiar yang dilakukan dengan tulus.
Nilai-nilai tersebut menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan optimisme dan keteguhan iman.
Mengisi Muharram dengan Amal Kebaikan
Agar bulan Muharram menjadi lebih bermakna, umat Islam dianjurkan mengisinya dengan berbagai amal saleh. Selain menjalankan puasa sunah Tasu'a dan Asyura, Muharram juga dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, mempererat silaturahmi, serta membantu saudara-saudara yang membutuhkan.
Kepedulian terhadap sesama merupakan salah satu wujud nyata hijrah. Melalui zakat, infak, sedekah, maupun berbagai bentuk kebaikan lainnya, setiap Muslim dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Menjadikan Muharram sebagai Awal Perubahan
Muharram adalah kesempatan untuk memulai perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak perlu menunggu waktu yang dianggap sempurna untuk berubah, karena setiap langkah kecil menuju kebaikan memiliki nilai di sisi Allah SWT.
Semoga datangnya bulan Muharram menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat kepedulian kepada sesama, dan menjadikan setiap pergantian tahun Hijriah sebagai awal kehidupan yang lebih bermakna. Dengan semangat hijrah yang diwujudkan dalam tindakan nyata, kita berharap dapat menjadi pribadi yang lebih bertakwa serta membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan umat.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/07/2026 | MBL-01
Jumat Berkah: Waktu Terbaik Menebar Kebaikan Melalui Sedekah
HARI Jumat memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Selain menjadi hari berkumpulnya umat Islam untuk melaksanakan salat Jumat, hari yang dikenal sebagai penghulu segala hari ini juga menjadi momen yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, salah satunya dengan bersedekah. Berbagi di hari Jumat bukan sekadar memberikan sebagian harta, tetapi juga menjadi wujud syukur atas nikmat Allah SWT sekaligus sarana meraih keberkahan hidup.
Sedekah yang dilakukan pada hari Jumat memiliki nilai istimewa karena bertepatan dengan waktu yang penuh kemuliaan. Melalui amalan ini, seorang Muslim tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga melatih kepedulian sosial, membersihkan harta, serta menumbuhkan sifat dermawan. Tak sedikit pula yang meyakini bahwa sedekah menjadi salah satu jalan datangnya rezeki dan keberkahan yang tidak terduga.
Keutamaan Bersedekah di Hari Jumat
Islam mendorong umatnya untuk memperbanyak amal kebaikan pada hari Jumat. Sedekah menjadi salah satu amalan yang mudah dilakukan oleh siapa saja, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Selain bernilai ibadah, sedekah juga mempererat ukhuwah, mengurangi kesenjangan sosial, dan menghadirkan manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkan.
Lebih dari itu, sedekah mengingatkan bahwa di setiap harta yang dimiliki terdapat hak orang lain. Dengan berbagi, seorang Muslim belajar mensyukuri nikmat sekaligus menyucikan diri dari sifat kikir.
Cara Bersedekah yang Dianjurkan
Agar sedekah memberikan manfaat yang maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, luruskan niat semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT, bukan demi pujian atau pengakuan. Kedua, utamakan penerima yang benar-benar membutuhkan, seperti fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa, atau musafir yang kehabisan bekal.
Sedekah juga dapat disalurkan melalui lembaga amil zakat yang amanah agar bantuan tepat sasaran. Selain uang, berbagi makanan kepada masyarakat, mendukung pembangunan masjid, hingga menyumbangkan Al-Qur'an dan fasilitas ibadah juga termasuk bentuk sedekah yang bernilai pahala.
Sedekah Tidak Selalu Berupa Harta
Dalam Islam, sedekah memiliki makna yang luas. Senyuman yang tulus, membantu orang tua, menolong tetangga, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, menyingkirkan benda berbahaya dari jalan, hingga menjadi relawan dalam kegiatan sosial juga termasuk sedekah apabila dilakukan dengan niat karena Allah SWT.
Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi, tanpa harus menunggu memiliki harta yang berlimpah.
Hal yang Perlu Dihindari
Agar pahala sedekah tetap terjaga, hindari mengungkit pemberian atau bersedekah karena ingin dipuji. Islam juga mengajarkan untuk memberikan harta yang baik dan layak, bukan barang yang sudah tidak bermanfaat. Selain itu, jangan menunda niat berbagi dengan alasan menunggu kaya, karena sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan, sekecil apa pun nilainya.
Jadikan Sedekah sebagai Kebiasaan
Membiasakan bersedekah setiap hari Jumat dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun karakter yang lebih peduli dan bersyukur. Sisihkan sebagian rezeki secara rutin, buat pengingat setiap hari Jumat, atau ajak keluarga untuk ikut berbagi agar budaya kebaikan tumbuh bersama.
Pada akhirnya, sedekah bukan sekadar memberi, tetapi juga bentuk investasi amal yang manfaatnya akan kembali kepada pemberinya. Semoga semangat berbagi di hari Jumat menjadi kebiasaan yang terus terjaga, menghadirkan keberkahan dalam kehidupan, sekaligus menjadi bekal terbaik menuju akhirat. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/07/2026 | MBL-01
Zakat Mengubah Kehidupan: Manfaat Nyata bagi Masyarakat dan Ekonomi Umat
ZAKAT bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Melalui zakat, Islam mengajarkan bahwa di setiap harta yang dimiliki terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan. Karena itu, zakat tidak hanya bernilai ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi wujud kepedulian terhadap sesama.
Jika dikelola secara optimal, zakat mampu memberikan dampak yang luas bagi masyarakat. Mulai dari membantu memenuhi kebutuhan dasar, mengurangi kesenjangan ekonomi, hingga mendorong pemberdayaan masyarakat agar lebih mandiri. Inilah yang menjadikan zakat sebagai salah satu solusi sosial yang relevan di berbagai zaman.
Membantu Mengurangi Kemiskinan
Salah satu manfaat paling nyata dari zakat adalah membantu masyarakat yang berada dalam kondisi ekonomi sulit. Dana zakat dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, tempat tinggal, pendidikan, maupun layanan kesehatan.
Kini, pengelolaan zakat juga semakin berkembang melalui berbagai program pemberdayaan. Bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan bagi pelaku usaha kecil menjadi upaya agar mustahik tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga mampu meningkatkan taraf hidupnya secara berkelanjutan.
Mengurangi Kesenjangan Sosial
Perbedaan kondisi ekonomi sering kali memicu kesenjangan di tengah masyarakat. Zakat hadir sebagai mekanisme distribusi kekayaan yang telah diatur dalam syariat Islam, sehingga harta dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Melalui zakat, masyarakat yang memiliki kelebihan rezeki turut berkontribusi membantu mereka yang membutuhkan. Hal ini tidak hanya menciptakan keseimbangan sosial, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Menumbuhkan Kepedulian dan Solidaritas
Berzakat juga membentuk karakter yang lebih peduli terhadap sesama. Kebiasaan berbagi menumbuhkan empati kepada fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa, hingga masyarakat yang sedang tertimpa musibah.
Semangat saling membantu inilah yang mempererat solidaritas sosial. Ketika kepedulian tumbuh, hubungan antarmasyarakat menjadi lebih harmonis, penuh rasa saling percaya, dan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan bersama.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Umat
Pengelolaan zakat saat ini tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif. Dana zakat dimanfaatkan untuk mendukung usaha mikro, petani, nelayan, pedagang kecil, dan kelompok usaha lainnya agar mampu berkembang.
Melalui program pemberdayaan tersebut, mustahik memiliki kesempatan meningkatkan pendapatan, membuka lapangan kerja, bahkan perlahan bertransformasi menjadi pribadi yang mandiri. Tidak sedikit penerima zakat yang pada akhirnya mampu menjadi muzakki dan ikut berbagi kepada sesama.
Mendukung Pendidikan dan Layanan Kesehatan
Zakat juga berperan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui sektor pendidikan dan kesehatan. Berbagai program beasiswa, bantuan perlengkapan sekolah, pelatihan keterampilan, hingga dukungan biaya pendidikan telah membuka kesempatan bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Di bidang kesehatan, dana zakat dimanfaatkan untuk membantu biaya pengobatan, layanan kesehatan gratis, ambulans, hingga penyediaan fasilitas kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Program-program tersebut menjadi bentuk nyata hadirnya zakat dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Hadir Saat Masyarakat Membutuhkan
Selain untuk pemberdayaan, zakat juga menjadi salah satu sumber bantuan ketika terjadi bencana atau kondisi darurat. Penyaluran bantuan berupa makanan, pakaian, layanan kesehatan, hingga dukungan pemulihan pascabencana membantu masyarakat bangkit dan melanjutkan kehidupannya.
Peran ini menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi sosial yang sangat penting dalam menghadirkan kepedulian dan mempercepat proses pemulihan bagi masyarakat yang terdampak musibah.
Zakat sebagai Pilar Kesejahteraan Umat
Sejarah Islam menunjukkan bahwa zakat merupakan salah satu pilar penting dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Ketika dikelola secara amanah, profesional, dan tepat sasaran, zakat mampu mengurangi kemiskinan, memperkuat perekonomian umat, serta menciptakan kehidupan sosial yang lebih harmonis.
Oleh karena itu, menunaikan zakat bukan hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam membangun kesejahteraan bersama. Semakin banyak masyarakat yang menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat yang terpercaya, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh para mustahik dan masyarakat luas.
Melalui pengelolaan yang profesional dan berorientasi pada pemberdayaan, zakat dapat terus menjadi solusi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup umat sekaligus memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial di Indonesia. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/07/2026 | MBL-01
Hijrah Rasulullah: Perjalanan Penuh Hikmah Jadi Tonggak Peradaban Islam
HIJRAH Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan momentum penting yang mengubah arah dakwah Islam dan menjadi awal terbentuknya masyarakat Muslim yang mandiri. Bahkan, peristiwa ini kemudian dijadikan sebagai tonggak awal Kalender Hijriah karena sarat akan makna perjuangan, pengorbanan, dan perubahan menuju kebaikan.
Latar Belakang Hijrah Rasulullah SAW
Selama lebih dari sepuluh tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi berbagai bentuk tekanan dari kaum Quraisy. Penolakan terhadap ajaran Islam diwujudkan melalui penyiksaan, pemboikotan ekonomi, hingga ancaman pembunuhan terhadap kaum Muslim yang tetap teguh mempertahankan akidahnya.
Harapan baru muncul ketika sejumlah penduduk Yatsrib (kini Madinah) menerima dakwah Islam dan menyatakan kesediaan melindungi Rasulullah SAW melalui Baiat Aqabah yang berlangsung dalam dua tahap. Kesepakatan tersebut menjadi awal bagi Rasulullah SAW untuk memerintahkan para sahabat berhijrah secara bertahap, sebelum akhirnya beliau sendiri berangkat bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Perjalanan Hijrah yang Sarat Ujian
Hijrah menuju Madinah bukanlah perjalanan yang mudah. Kaum Quraisy bahkan menawarkan hadiah besar bagi siapa pun yang berhasil menangkap Rasulullah SAW, hidup ataupun mati.
Sebelum meninggalkan Makkah, Rasulullah SAW meminta Ali bin Abi Thalib untuk tetap tinggal sementara waktu guna mengembalikan barang-barang titipan milik masyarakat. Sikap ini menunjukkan bahwa amanah tetap harus dijaga, bahkan dalam situasi yang penuh ancaman.
Dalam perjalanan, Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Salah satu kisah yang paling dikenal adalah munculnya sarang laba-laba dan burung di mulut gua, sehingga para pengejar mengira tempat tersebut tidak mungkin dimasuki seseorang.
Setelah keadaan lebih aman, perjalanan dilanjutkan melalui jalur yang tidak biasa dengan dipandu Abdullah bin Uraiqith hingga akhirnya Rasulullah SAW tiba di Madinah dan disambut dengan penuh suka cita oleh penduduk setempat.
Awal Terbentuknya Masyarakat Islam di Madinah
Kedatangan Rasulullah SAW di Madinah menandai dimulainya babak baru dalam perkembangan Islam. Berbagai langkah strategis dilakukan untuk membangun masyarakat yang kuat dan harmonis.
Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai bentuk penguatan ukhuwah Islamiyah. Beliau juga mendirikan Masjid Nabawi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pemerintahan, dan kegiatan sosial.
Selain itu, Rasulullah SAW menyusun Piagam Madinah, yaitu kesepakatan yang mengatur hubungan antarwarga dari berbagai suku dan agama demi menciptakan kehidupan yang damai dan tertib. Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi lahirnya pemerintahan Islam pertama yang terorganisasi.
Hijrah Menjadi Awal Kalender Hijriah
Meski hijrah terjadi pada masa Rasulullah SAW, penetapan peristiwa tersebut sebagai awal Kalender Hijriah baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Para sahabat memilih hijrah sebagai titik awal penanggalan Islam karena dianggap sebagai momen kebangkitan umat dan awal terbentuknya masyarakat Islam yang mandiri.
Pilihan ini menunjukkan bahwa yang dijadikan tonggak sejarah bukan sekadar kelahiran atau wafat Rasulullah SAW, melainkan peristiwa yang membawa perubahan besar bagi perkembangan dakwah dan peradaban Islam.
Pelajaran Berharga dari Peristiwa Hijrah
Hijrah Rasulullah SAW menyimpan banyak hikmah yang tetap relevan bagi kehidupan umat Islam hingga saat ini.
Kesabaran dan strategi dalam menghadapi ujian
Rasulullah SAW menunjukkan bahwa menghadapi tantangan tidak cukup hanya dengan keberanian, tetapi juga memerlukan kesabaran, perencanaan yang matang, dan ikhtiar yang maksimal.
Berpegang teguh pada prinsip
Tekanan yang begitu besar tidak membuat Rasulullah SAW dan para sahabat mengorbankan keyakinan mereka. Hijrah menjadi bukti bahwa menjaga akidah adalah prioritas utama.
Menjaga amanah dalam segala keadaan
Permintaan Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengembalikan barang titipan mengajarkan bahwa amanah harus tetap ditunaikan, bahkan ketika berada dalam kondisi yang sulit.
Memperkuat persaudaraan dan solidaritas
Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar menjadi teladan tentang pentingnya saling membantu tanpa memandang latar belakang. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam membangun masyarakat Islam.
Membangun peradaban melalui kebersamaan
Hijrah mengajarkan bahwa perubahan tidak hanya dimulai dari individu, tetapi juga melalui terbentuknya komunitas yang saling mendukung, memiliki aturan yang adil, dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman kehidupan.
Makna Hijrah bagi Kehidupan Masa Kini
Saat ini, makna hijrah tidak lagi dipahami sebatas perpindahan tempat. Hijrah juga dimaknai sebagai proses meninggalkan kebiasaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah SWT.
Semangat hijrah dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, menjaga amanah, mempererat persaudaraan, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal bagi setiap Muslim untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Peristiwa hijrah Rasulullah SAW membuktikan bahwa perubahan besar selalu diawali dengan keimanan, kesabaran, dan usaha yang sungguh-sungguh. Dengan meneladani semangat hijrah, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan sekaligus terus berkontribusi dalam membangun masyarakat yang penuh keberkahan, keadilan, dan kepedulian.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL02/07/2026 | MBL-01
Sejarah Kalender Hijriah: Jejak Kepemimpinan Umar bin Khattab Menyatukan Umat Islam
KALENDER Hijriah merupakan sistem penanggalan yang menjadi pedoman umat Islam dalam menjalankan berbagai ibadah, seperti puasa Ramadan, Idulfitri, Iduladha, hingga pelaksanaan ibadah haji. Di balik penggunaannya, tersimpan sejarah penting tentang lahirnya kalender Islam yang ditetapkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Keputusan tersebut tidak hanya menjadi solusi bagi kebutuhan administrasi negara, tetapi juga menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan peradaban Islam.Latar Belakang Penetapan Kalender HijriahPada masa awal Islam, belum terdapat sistem penanggalan yang baku. Surat-surat resmi dan dokumen pemerintahan umumnya hanya mencantumkan nama bulan tanpa disertai tahun, sehingga kerap menimbulkan kebingungan, terutama ketika wilayah kekuasaan Islam semakin luas dan urusan pemerintahan semakin kompleks.Diriwayatkan bahwa salah seorang gubernur menyampaikan kepada Khalifah Umar bin Khattab mengenai kesulitan tersebut. Surat-surat yang diterima tidak memiliki penanda tahun sehingga menyulitkan proses administrasi. Masukan itu kemudian mendorong perlunya menetapkan sistem penanggalan resmi yang dapat digunakan secara seragam di seluruh wilayah Islam.Musyawarah Menentukan Awal Penanggalan IslamUntuk mencari solusi, Khalifah Umar mengumpulkan para sahabat Rasulullah SAW dalam sebuah musyawarah. Berbagai usulan pun muncul mengenai peristiwa yang layak dijadikan awal perhitungan tahun Islam, mulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, masa diangkatnya beliau sebagai rasul, tahun wafatnya Rasulullah SAW, hingga peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah.Setelah melalui pembahasan, para sahabat sepakat memilih peristiwa hijrah sebagai titik awal kalender Islam. Hijrah dinilai sebagai momentum yang menandai lahirnya masyarakat Islam yang mandiri sekaligus awal terbentuknya pemerintahan Islam di Madinah.Mengapa Disebut Kalender Hijriah?Istilah Hijriah berasal dari kata hijrah, yakni peristiwa perpindahan Rasulullah SAW bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi titik balik yang membuka jalan bagi berkembangnya dakwah Islam serta terbentuknya masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.Atas dasar itulah, sistem penanggalan umat Islam kemudian dikenal sebagai Kalender Hijriah.Alasan Muharram Menjadi Bulan PertamaMeski peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiulawal, para sahabat menetapkan Muharram sebagai awal tahun dalam kalender Hijriah.Keputusan tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan. Muharram datang setelah bulan Zulhijah, ketika rangkaian ibadah haji telah selesai dilaksanakan. Selain itu, setelah terjadinya Baiat Aqabah, kaum Muslim mulai mempersiapkan hijrah pada bulan Muharram. Karena itulah, bulan ini dipandang sebagai awal perjalanan menuju terbentuknya masyarakat Islam di Madinah.Peran Besar Khalifah Umar bin KhattabSebagai khalifah kedua, Umar bin Khattab berperan penting dalam menetapkan Kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi negara Islam. Kebijakan ini membawa banyak manfaat, baik dalam aspek pemerintahan maupun kehidupan umat.Dengan adanya kalender yang baku, administrasi negara menjadi lebih tertata, pencatatan dokumen dan surat-menyurat semakin mudah, serta penentuan waktu ibadah memiliki acuan yang jelas. Di sisi lain, Kalender Hijriah juga memperkuat identitas umat Islam karena berakar pada salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.Keputusan tersebut menunjukkan kepemimpinan Umar bin Khattab yang mengedepankan musyawarah, ketertiban administrasi, dan kemaslahatan umat.Kalender Hijriah sebagai Pedoman IbadahHingga kini, Kalender Hijriah tetap menjadi acuan dalam menentukan berbagai waktu ibadah dan hari-hari besar Islam. Penetapan awal Ramadan, Idulfitri, Iduladha, pelaksanaan ibadah haji, hingga datangnya bulan-bulan mulia seperti Muharram, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah seluruhnya mengacu pada sistem penanggalan ini.Lebih dari sekadar penunjuk waktu, Kalender Hijriah juga menjadi pengingat atas perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam membangun peradaban Islam yang kokoh.Warisan Berharga bagi Umat IslamPenetapan Kalender Hijriah oleh Khalifah Umar bin Khattab merupakan salah satu warisan penting dalam sejarah Islam yang manfaatnya terus dirasakan hingga saat ini. Melalui sistem penanggalan ini, umat Islam tidak hanya memiliki pedoman dalam menjalankan ibadah, tetapi juga diingatkan pada makna hijrah sebagai simbol perjuangan, pengorbanan, dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.Karena itu, setiap datangnya Tahun Baru Hijriah menjadi momentum untuk tidak sekadar menyambut pergantian kalender, tetapi juga melakukan muhasabah dan memperbarui tekad untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta semangat berhijrah menuju pribadi yang lebih baik.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL02/07/2026 | MBL-01
Kalender Hijriah dan Kiprah Umar: Awal Penanggalan Islam Bertahan Hingga Kini
KALENDER Hijriah yang digunakan umat Islam saat ini merupakan salah satu warisan penting dalam sejarah peradaban Islam. Sistem penanggalan ini ditetapkan pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab sebagai solusi atas kebutuhan administrasi pemerintahan yang semakin berkembang. Lebih dari sekadar penanda waktu, Kalender Hijriah menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan berbagai ibadah dan memperkuat identitas keislaman hingga sekarang.Awal Mula Penetapan Kalender HijriahPada masa awal pemerintahan Islam, surat-surat resmi dan dokumen administrasi belum memiliki sistem penanggalan yang baku. Dokumen hanya mencantumkan nama bulan tanpa menyebutkan tahun, sehingga sering menimbulkan kebingungan, terutama ketika wilayah kekuasaan Islam semakin luas dan aktivitas pemerintahan semakin kompleks.Melihat kondisi tersebut, Khalifah Umar bin Khattab menginisiasi musyawarah bersama para sahabat untuk menetapkan sistem penanggalan resmi yang dapat digunakan secara seragam di seluruh wilayah Islam.Musyawarah yang Melahirkan Kalender IslamSekitar tahun ke-17 Hijriah, para sahabat berkumpul untuk menentukan peristiwa yang paling tepat dijadikan awal perhitungan tahun Islam. Berbagai usulan pun muncul, mulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, masa diangkatnya beliau sebagai rasul, hingga tahun wafatnya Rasulullah SAW.Setelah melalui pembahasan, para sahabat sepakat memilih peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal Kalender Hijriah. Hijrah dinilai sebagai momentum yang mengubah perjalanan dakwah Islam, karena sejak saat itu umat Islam mulai membangun masyarakat dan pemerintahan yang mandiri di Madinah.Sementara itu, bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Islam. Meski hijrah berlangsung pada bulan Rabiulawal, Muharram dipilih karena telah dikenal sebagai awal siklus tahun dalam tradisi Arab dan menjadi masa persiapan kaum Muslim sebelum melaksanakan hijrah.Mengapa Peristiwa Hijrah Dipilih?Hijrah memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perpindahan tempat. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya masyarakat Islam yang memiliki sistem sosial, pemerintahan, dan hukum yang berlandaskan ajaran Islam.Karena nilai strategis tersebut, Khalifah Umar bin Khattab bersama para sahabat menetapkan hijrah sebagai tonggak awal penanggalan Islam. Keputusan ini sekaligus mengabadikan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perkembangan dakwah Rasulullah SAW.Sistem Penanggalan HijriahKalender Hijriah menggunakan peredaran bulan (lunar calendar) sebagai dasar perhitungannya. Dalam satu tahun terdapat 12 bulan, yaitu Muharram, Safar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Syaban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah.Karena mengacu pada siklus bulan, jumlah hari dalam satu tahun Hijriah berkisar antara 354 hingga 355 hari, atau sekitar 10–11 hari lebih singkat dibandingkan kalender Masehi yang didasarkan pada peredaran matahari.Manfaat Kalender Hijriah bagi Umat IslamPenetapan Kalender Hijriah membawa dampak besar bagi kehidupan umat Islam. Dari sisi pemerintahan, sistem ini menciptakan administrasi yang lebih tertib karena setiap dokumen memiliki tanggal dan tahun yang jelas.Di sisi lain, Kalender Hijriah juga menjadi pedoman utama dalam menentukan waktu pelaksanaan berbagai ibadah, seperti puasa Ramadan, pembayaran zakat, Idulfitri, Iduladha, hingga ibadah haji. Hingga kini, kalender tersebut tetap digunakan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia sebagai acuan dalam menjalankan syariat.Warisan Kepemimpinan Umar bin KhattabKeputusan Khalifah Umar bin Khattab menetapkan Kalender Hijriah menunjukkan kepemimpinan yang visioner dan mengedepankan kemaslahatan umat. Kebijakan yang awalnya ditujukan untuk menyempurnakan sistem administrasi pemerintahan ternyata menjadi warisan besar yang terus digunakan lebih dari 14 abad kemudian.Setiap datangnya Tahun Baru Hijriah, umat Islam tidak hanya menyambut pergantian tahun, tetapi juga diingatkan pada makna hijrah sebagai simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat tersebut menjadi inspirasi untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari nilai-nilai Islam yang diwariskan Rasulullah SAW.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL02/07/2026 | MBL-01
Hijrah Rasulullah SAW: Jejak Perjuangan dan Teladan Perubahan bagi Umat Islam
PERISTIWA hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah merupakan salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi awal terbentuknya peradaban Islam yang lebih kuat dan terorganisasi. Atas pentingnya peristiwa tersebut, hijrah kemudian dijadikan sebagai awal penanggalan kalender Hijriah yang digunakan umat Islam hingga saat ini.
Di balik perjalanan tersebut, tersimpan banyak hikmah yang tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hijrah mengajarkan tentang kesabaran, keteguhan iman, pentingnya persaudaraan, serta semangat untuk terus memperbaiki diri.
Latar Belakang Hijrah Rasulullah SAW
Hijrah terjadi pada tahun 622 Masehi setelah Rasulullah SAW selama lebih dari 13 tahun berdakwah di Makkah dan menghadapi berbagai bentuk penolakan dari kaum Quraisy. Kaum muslimin saat itu mengalami tekanan, penyiksaan, pemboikotan ekonomi, hingga ancaman pembunuhan karena mempertahankan keimanan mereka.
Harapan baru muncul ketika sejumlah penduduk Yatsrib (Madinah) menyatakan keislamannya melalui Baiat Aqabah. Mereka mengundang Rasulullah SAW untuk berhijrah sekaligus berjanji melindungi beliau dan kaum muslimin. Atas dasar itulah Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat berhijrah secara bertahap sebelum akhirnya beliau berangkat bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Perjalanan Penuh Ikhtiar dan Tawakal
Perjalanan hijrah bukanlah perjalanan yang mudah. Kaum Quraisy bahkan menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap Rasulullah SAW.
Sebelum meninggalkan Makkah, Rasulullah SAW meminta Ali bin Abi Thalib untuk tetap tinggal sementara guna mengembalikan barang-barang titipan kepada para pemiliknya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa menjaga amanah tetap menjadi prioritas, bahkan di tengah situasi yang penuh ancaman.
Dalam perjalanan menuju Madinah, Rasulullah SAW dan Abu Bakar sempat bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Setelah keadaan aman, keduanya melanjutkan perjalanan melalui jalur yang tidak biasa dengan dipandu Abdullah bin Uraiqith hingga akhirnya tiba di Madinah dan disambut hangat oleh penduduk setempat.
Awal Peradaban Islam di Madinah
Hijrah menjadi titik awal berkembangnya masyarakat Islam yang lebih kokoh. Setibanya di Madinah, Rasulullah SAW segera melakukan sejumlah langkah strategis, di antaranya mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, membangun Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah sekaligus aktivitas sosial, serta menyusun Piagam Madinah untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis.
Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi terbentuknya masyarakat Islam yang menjunjung nilai persatuan, keadilan, dan kebersamaan.
Mengapa Hijrah Menjadi Awal Kalender Hijriah?
Penetapan hijrah sebagai awal kalender Islam dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Peristiwa hijrah dipilih karena menjadi simbol lahirnya babak baru perjuangan Islam, bukan hanya sebagai kisah perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai awal terbentuknya masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Hikmah Hijrah bagi Kehidupan Muslim
Peristiwa hijrah menyimpan banyak pelajaran yang dapat menjadi pedoman bagi umat Islam hingga kini.
1. Kesabaran dan Perencanaan yang Matang Rasulullah SAW menunjukkan bahwa menghadapi ujian tidak cukup dengan keberanian, tetapi juga membutuhkan strategi, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT.
2. Teguh Memegang Prinsip Hijrah dilakukan untuk menjaga akidah dan kebebasan beribadah. Hal ini mengajarkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai kebenaran meski menghadapi berbagai tantangan.
3. Menjaga Amanah dalam Segala Keadaan Permintaan Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengembalikan barang titipan menjadi teladan bahwa amanah harus tetap dijaga, bahkan dalam kondisi yang sulit.
4. Memperkuat Persaudaraan Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar menunjukkan bahwa kepedulian, saling membantu, dan berbagi merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kuat.
5. Membangun Perubahan yang Lebih Baik Hijrah juga dimaknai sebagai proses meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat inilah yang dapat terus dihidupkan oleh setiap muslim, kapan pun dan di mana pun.
Momentum Memperbaiki Diri
Tahun Baru Hijriah menjadi pengingat bahwa hijrah bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga ajakan untuk terus melakukan perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa. Dengan meneladani perjuangan Rasulullah SAW, umat Islam diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran, menjaga amanah, mempererat persaudaraan, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Semangat hijrah pada akhirnya bukan hanya tentang berpindah tempat, melainkan tentang keberanian untuk meninggalkan keburukan, memperbaiki diri, dan menebarkan manfaat bagi sesama demi meraih ridha Allah SWT.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL01/07/2026 | MBL-01
Hijrah Nabi SAW: Awal Peradaban Islam dan Inspirasi Hijrah Hidup Lebih Baik
HIJRAH Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Islam. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, melainkan menjadi titik awal lahirnya masyarakat Islam yang mandiri, berlandaskan keadilan, persaudaraan, dan nilai-nilai syariat. Dari peristiwa inilah peradaban Islam mulai berkembang dan memberikan pengaruh besar hingga masa kini.
Latar Belakang Hijrah Nabi Muhammad SAW
Sebelum hijrah, Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi berbagai tekanan dari kaum Quraisy di Makkah. Dakwah Islam mendapat penolakan keras, mulai dari intimidasi, pemboikotan, hingga ancaman terhadap keselamatan kaum Muslimin.
Di tengah kondisi tersebut, Allah SWT memberikan izin kepada Rasulullah SAW untuk berhijrah ke Madinah, yang saat itu masih dikenal sebagai Yatsrib. Penduduk Madinah yang telah memeluk Islam menyambut baik kedatangan beliau dan berkomitmen memberikan perlindungan kepada Rasulullah SAW beserta para sahabat. Hijrah pun menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan dakwah sekaligus membangun kehidupan masyarakat yang dapat menjalankan ajaran Islam secara lebih leluasa.
Titik Awal Peradaban Islam
Setibanya di Madinah, Rasulullah SAW segera membangun fondasi kehidupan umat. Salah satu langkah pertama yang dilakukan adalah mendirikan Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, dan berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.
Beliau juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai bentuk penguatan ukhuwah Islamiyah, sehingga tercipta masyarakat yang saling membantu tanpa membedakan asal-usul. Selain itu, Rasulullah SAW menyusun Piagam Madinah yang menjadi dasar kehidupan bersama bagi masyarakat yang beragam, dengan menjunjung tinggi keadilan, toleransi, serta kerja sama antarkelompok.
Dari Madinah, dakwah Islam berkembang semakin luas hingga melahirkan peradaban yang memberi kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pemerintahan, dan kehidupan sosial.
Peristiwa hijrah juga kemudian dijadikan sebagai titik awal penanggalan Kalender Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Hingga kini, kalender tersebut menjadi acuan umat Islam dalam menentukan waktu berbagai ibadah, seperti Ramadan, Idulfitri, Iduladha, pelaksanaan haji, hingga perhitungan haul zakat.
Hikmah di Balik Peristiwa Hijrah
Hijrah Rasulullah SAW mengandung banyak pelajaran yang tetap relevan dalam kehidupan saat ini. Peristiwa tersebut mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian, keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT, serta pentingnya ikhtiar yang disertai perencanaan yang matang.
Hijrah juga menunjukkan bahwa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik memerlukan keberanian, pengorbanan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan. Selain itu, persaudaraan dan kepedulian sosial yang dibangun antara Muhajirin dan Anshar menjadi teladan bagi umat Islam dalam memperkuat solidaritas dan saling membantu.
Meneladani Semangat Hijrah di Masa Kini
Makna hijrah tidak hanya dipahami sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai proses memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat hijrah dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut adalah menunaikan zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud solidaritas sosial. Melalui kepedulian kepada mereka yang membutuhkan, setiap Muslim turut menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekaligus meneladani nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW.
Momentum Tahun Baru Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap Muslim selalu memiliki kesempatan untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan meneladani perjuangan Rasulullah SAW, semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta menghadirkan manfaat bagi sesama melalui berbagai bentuk kepedulian dan kebaikan.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL01/07/2026 | MBL-01
Kalkulator Zakat BAZNAS: Hitung Zakat Lebih Mudah dan Akurat!
MENUNAIKAN zakat kini semakin mudah berkat pemanfaatan teknologi digital. Salah satu layanan yang dapat membantu umat Islam adalah Kalkulator Zakat BAZNAS, yang dirancang untuk memudahkan perhitungan zakat secara cepat, praktis, dan sesuai dengan ketentuan syariat.
Bagi sebagian orang, menghitung zakat sering kali menjadi tantangan, terutama jika memiliki berbagai sumber penghasilan, tabungan, investasi, atau aset usaha. Melalui Kalkulator Zakat BAZNAS, masyarakat dapat mengetahui apakah hartanya telah mencapai nisab sekaligus menghitung besaran zakat yang wajib ditunaikan secara lebih akurat.
Pentingnya Menghitung Zakat dengan Tepat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga berperan dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang membutuhkan.
Karena memiliki ketentuan khusus, perhitungan zakat perlu memperhatikan sejumlah aspek, seperti nisab, haul, jenis harta, nilai harta bersih, hingga kewajiban yang dapat mengurangi harta zakat. Perhitungan yang tepat akan membantu muzaki menunaikan kewajibannya sesuai syariat.
Mengenal Kalkulator Zakat BAZNAS
Kalkulator Zakat BAZNAS merupakan layanan digital yang membantu masyarakat menghitung berbagai jenis zakat berdasarkan ketentuan yang berlaku. Pengguna cukup memasukkan data sesuai jenis harta yang dimiliki, kemudian sistem akan menghitung besaran zakat secara otomatis.
Layanan ini dapat digunakan untuk menghitung berbagai jenis zakat, di antaranya:
Zakat penghasilan atau profesi.
Zakat emas.
Zakat tabungan.
Zakat perdagangan.
Zakat perusahaan.
Untuk zakat penghasilan, misalnya, pengguna hanya perlu memasukkan jumlah pendapatan yang diterima. Sistem kemudian akan membandingkannya dengan nisab yang mengacu pada nilai setara 85 gram emas per tahun. Apabila telah memenuhi syarat, zakat yang wajib ditunaikan sebesar 2,5 persen dari penghasilan yang memenuhi ketentuan.
Mengapa Menggunakan Kalkulator Zakat?
Menggunakan Kalkulator Zakat BAZNAS memberikan sejumlah kemudahan bagi masyarakat, antara lain:
Perhitungan lebih cepat dan praktis.
Mengurangi risiko kesalahan dalam menghitung zakat.
Mengacu pada ketentuan syariat dan standar yang digunakan BAZNAS.
Membantu merencanakan pembayaran zakat secara rutin.
Terintegrasi dengan layanan pembayaran zakat sehingga prosesnya menjadi lebih mudah.
Dengan layanan ini, masyarakat tidak perlu lagi melakukan perhitungan secara manual yang berpotensi menimbulkan kekeliruan, terutama bagi mereka yang memiliki beberapa jenis aset atau sumber penghasilan.
Pilih Layanan Zakat dari Lembaga Terpercaya
Saat ini tersedia berbagai aplikasi maupun situs yang menyediakan layanan perhitungan zakat. Namun, penting bagi masyarakat untuk menggunakan layanan dari lembaga resmi agar perhitungan yang dilakukan mengacu pada ketentuan syariat dan regulasi yang berlaku.
Melalui Kalkulator Zakat BAZNAS, data nisab selalu diperbarui mengikuti perkembangan harga emas, sehingga hasil perhitungan menjadi lebih akurat. Layanan ini juga terhubung dengan berbagai kanal pembayaran zakat yang memudahkan masyarakat menunaikan kewajibannya kapan saja dan di mana saja.
Wujudkan Kemudahan Berzakat di Era Digital
Perkembangan teknologi menghadirkan berbagai kemudahan dalam menjalankan ibadah, termasuk zakat. Kehadiran Kalkulator Zakat BAZNAS menjadi solusi bagi masyarakat untuk menghitung kewajiban zakat secara lebih praktis tanpa mengurangi nilai dan ketentuan syariat.
Dengan memanfaatkan layanan ini, umat Islam dapat menunaikan zakat dengan lebih tenang, tepat, dan sesuai aturan. Mari hitung dan tunaikan zakat melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan serta menjadi bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan umat. ***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/06/2026 | MBL-01
Ini 10 Amalan Muharram Membuka Pintu Rezeki dan Mendatangkan Keberkahan
MUHARRAM merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Sebagai pembuka tahun Hijriah, bulan ini menjadi momentum yang tepat bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperbanyak amal saleh. Selain menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Muharram juga dapat dimanfaatkan untuk memohon keberkahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kelapangan rezeki.
Perlu dipahami bahwa dalam Islam, rezeki tidak hanya diartikan sebagai harta atau materi. Kesehatan, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, pekerjaan yang baik, hingga ketenangan hati juga merupakan bentuk rezeki yang patut disyukuri. Karena itu, memperbanyak amalan di bulan Muharram menjadi salah satu ikhtiar untuk meraih keberkahan hidup secara menyeluruh.
Muharram, Bulan yang Penuh Keutamaan
Muharram termasuk satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram sebagai salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar.
Semangat awal tahun Hijriah menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk memulai kebiasaan baik yang diharapkan dapat terus dijaga sepanjang tahun. Semakin dekat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, semakin besar pula harapan memperoleh keberkahan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Mengapa Amalan Dapat Menjadi Jalan Datangnya Rezeki?
Islam mengajarkan bahwa Allah SWT adalah pemberi segala rezeki. Namun, setiap Muslim juga diperintahkan untuk berikhtiar melalui amal saleh dan ketaatan kepada-Nya. Al-Qur'an maupun hadis menjelaskan bahwa ketakwaan, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk ibadah lainnya dapat menjadi sebab datangnya rahmat dan keberkahan Allah.
Karena itu, mengamalkan berbagai ibadah di bulan Muharram bukanlah cara untuk mengejar kekayaan secara instan, melainkan bentuk ikhtiar agar Allah SWT melapangkan rezeki yang halal, berkah, dan bermanfaat.
Amalan Muharram yang Dapat Dilakukan Setiap Hari
1. Memperbanyak Istighfar
Istighfar merupakan amalan yang sederhana, tetapi memiliki keutamaan yang besar. Memohon ampun kepada Allah SWT dapat menjadi jalan untuk membersihkan diri dari dosa sekaligus memohon kelapangan rezeki. Jadikan istighfar sebagai kebiasaan setelah salat maupun di sela-sela aktivitas sehari-hari.
2. Menjaga Salat Lima Waktu
Salat adalah ibadah utama yang menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim. Menunaikan salat tepat waktu tidak hanya menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana memohon pertolongan dan keberkahan dalam setiap urusan.
3. Membiasakan Membaca Al-Qur'an
Meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an setiap hari akan menghadirkan ketenangan sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Tidak harus dalam jumlah yang banyak, yang terpenting adalah dilakukan secara rutin dan penuh penghayatan.
4. Bersedekah Secara Konsisten
Sedekah menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan karena membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan rezeki.
Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari berbagi makanan, membantu sesama, hingga menyalurkan zakat, infak, maupun sedekah melalui lembaga yang amanah.
5. Menjalankan Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Puasa sunnah, khususnya Puasa Asyura pada 10 Muharram, memiliki keutamaan yang besar. Selain menjadi bentuk ibadah yang berpahala, puasa juga melatih kesabaran dan meningkatkan ketakwaan, yang merupakan salah satu kunci datangnya keberkahan hidup.
6. Menjalin Silaturahmi
Menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, maupun sahabat termasuk amalan yang dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa silaturahmi dapat menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur dalam keberkahan.
Momentum Muharram dapat dimanfaatkan untuk kembali mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang.
7. Memperbanyak Doa
Selain berusaha dan beribadah, umat Islam juga dianjurkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Mohonlah rezeki yang halal, kesehatan, keberkahan hidup, serta kemudahan dalam setiap urusan. Doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan merupakan bentuk penghambaan kepada Allah SWT.
8. Membantu Sesama
Memberikan pertolongan kepada orang lain merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Bantuan tidak selalu berupa materi, tetapi juga dapat berupa tenaga, waktu, ilmu, atau perhatian. Ketika seorang Muslim memudahkan urusan saudaranya, Allah SWT pun akan memberikan pertolongan kepadanya.
9. Menjaga Kejujuran dalam Bekerja
Rezeki yang halal lahir dari usaha yang dilakukan dengan cara yang baik. Kejujuran dalam bekerja maupun berusaha menjadi salah satu nilai penting yang harus dijaga agar rezeki yang diperoleh membawa keberkahan.
10. Bertawakal kepada Allah SWT
Setelah berusaha, beribadah, dan berdoa, seorang Muslim dianjurkan untuk bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Sikap ini akan menghadirkan ketenangan hati dalam menghadapi berbagai kondisi kehidupan.
Agar Amalan Tetap Istikamah
Memulai kebiasaan baik sering kali terasa lebih mudah dibandingkan menjaganya secara konsisten. Agar amalan di bulan Muharram dapat terus dilakukan, beberapa langkah sederhana dapat diterapkan, seperti memulai dari amalan yang ringan, menetapkan target harian yang realistis, membuat jadwal ibadah, bergabung dengan lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan, serta senantiasa berdoa agar diberikan keistiqamahan.
Dalam Islam, amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sederhana, lebih dicintai Allah SWT daripada amalan yang besar tetapi hanya dilakukan sesekali.
Mengutamakan Rezeki yang Berkah
Islam mengajarkan bahwa keberkahan rezeki lebih bernilai daripada sekadar jumlahnya. Rezeki yang halal dan berkah akan membawa ketenangan, rasa syukur, serta manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, tujuan utama memperbanyak amalan di bulan Muharram bukan semata-mata mengejar kelimpahan materi, tetapi juga memohon agar setiap nikmat yang diberikan Allah SWT membawa keberkahan dalam kehidupan.
Muharram menjadi waktu yang tepat untuk memulai kebiasaan-kebiasaan baik, seperti memperbanyak istighfar, menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, berpuasa sunnah, menjalin silaturahmi, memperbanyak doa, membantu sesama, menjaga kejujuran, dan bertawakal kepada Allah SWT. Dengan menjalankan amalan-amalan tersebut secara istiqamah, semoga Allah SWT melimpahkan rezeki yang halal, berkah, dan membawa manfaat bagi kehidupan di dunia maupun akhirat.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/06/2026 | MBL-01

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.
Lihat Daftar Rekening →