Mengisi Bulan Safar dengan Amalan Sederhana untuk Meraih Keberkahan
03/08/2026 | Penulis: MBL-01
Ilustrasi BAZNAS Provinsi Lampung
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat. Sebagian orang bahkan menganggap Safar sebagai bulan yang membawa kesialan atau menjadi waktu yang kurang baik untuk memulai berbagai aktivitas. Padahal, anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW telah meluruskan keyakinan tersebut dan mengajarkan umatnya untuk bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT, bukan kepada kepercayaan yang bertentangan dengan akidah.
Dalam Islam, setiap waktu yang Allah SWT ciptakan adalah kesempatan untuk memperbanyak amal saleh. Tidak ada bulan yang membawa keberuntungan maupun kesialan dengan sendirinya, karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Oleh sebab itu, Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat keimanan, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Memahami Makna Bulan Safar dalam Islam
Keberkahan Bulan Safar bukan berasal dari ritual tertentu atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat, melainkan dari bagaimana seorang muslim memanfaatkan waktunya untuk beribadah dan beramal saleh. Islam datang untuk menghapus berbagai keyakinan jahiliah yang menganggap bulan tertentu membawa nasib buruk. Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar.
Pemahaman ini mengajarkan bahwa seluruh bulan dalam kalender Hijriah memiliki kedudukan yang sama sebagai ciptaan Allah SWT. Setiap harinya adalah kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan, memperbaiki akhlak, serta memperbanyak amal kebaikan.
Para ulama juga menjelaskan bahwa tidak ada ibadah khusus yang disyariatkan hanya untuk Bulan Safar. Karena itu, keberkahan dapat diraih dengan menjalankan amalan yang memang dianjurkan dalam Islam, bukan melalui ritual yang tidak memiliki landasan syariat.
Dengan memahami hakikat tersebut, seorang muslim akan lebih tenang dalam menjalani kehidupan. Fokusnya bukan lagi pada mitos yang berkembang, tetapi pada upaya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Amalan Sederhana yang Bisa Dilakukan Selama Bulan Safar
Banyak amalan ringan yang dapat menjadi jalan untuk meraih keberkahan pada Bulan Safar. Salah satunya adalah memperbanyak salat sunnah, seperti Salat Duha, Tahajud, Rawatib, maupun Witir. Amalan-amalan tersebut memiliki keutamaan besar dan dapat dilakukan sepanjang tahun.
Membiasakan membaca Al-Qur'an setiap hari juga menjadi salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan. Selain memperoleh pahala, membaca dan mentadaburi Al-Qur'an akan memberikan ketenangan hati serta menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Amalan sederhana lainnya adalah memperbanyak istigfar. Rasulullah SAW sendiri senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT setiap hari sebagai teladan bagi umatnya. Istigfar menjadi pengingat bahwa setiap manusia membutuhkan rahmat dan ampunan Allah.
Sedekah juga menjadi salah satu amalan yang tidak boleh dilewatkan. Berapa pun nominalnya, sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan membawa manfaat bagi penerima sekaligus menjadi sebab datangnya keberkahan bagi pemberinya.
Selain itu, menjaga silaturahmi dengan keluarga, tetangga, maupun sesama muslim merupakan bentuk akhlak mulia yang sangat dianjurkan. Hubungan yang baik antarsesama akan memperkuat persaudaraan sekaligus menghadirkan ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Hikmah Mengisi Bulan Safar dengan Amal Saleh
Menjalani Bulan Safar dengan memperbanyak ibadah mengajarkan umat Islam untuk tidak mudah terpengaruh oleh mitos yang tidak memiliki dasar dalam agama. Seorang muslim diajarkan agar hanya menggantungkan harapan dan rasa takut kepada Allah SWT semata.
Momentum ini juga menjadi pengingat untuk memperkuat sikap tawakal. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT yang mengandung hikmah terbaik bagi hamba-Nya.
Selain itu, Bulan Safar mengajarkan pentingnya memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Setiap hari yang diberikan Allah SWT adalah kesempatan untuk menambah bekal amal sebelum datangnya kematian.
Yang tak kalah penting, bulan ini mengingatkan bahwa kesempatan berbuat baik tidak pernah dibatasi oleh waktu tertentu. Selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat, setiap amal saleh akan bernilai pahala di sisi Allah SWT.
Hal yang Perlu Dihindari
Masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan Bulan Safar dengan berbagai ritual atau kepercayaan yang tidak memiliki landasan dalam Al-Qur'an maupun hadis. Seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak mengikuti amalan yang bertentangan dengan syariat.
Kesalahan lain yang perlu dihindari adalah menganggap ada ibadah tertentu yang wajib dilakukan hanya karena memasuki Bulan Safar. Padahal, Islam tidak menetapkan amalan khusus yang hanya berlaku pada bulan ini.
Sebagian orang juga masih menunda pernikahan, perjalanan, atau memulai usaha karena menganggap Safar membawa kesialan. Pandangan seperti ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebab segala sesuatu terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena pengaruh suatu bulan.
Selain itu, mempercayai ramalan atau mitos lebih daripada petunjuk agama juga merupakan kekeliruan yang harus dijauhi. Pemahaman yang benar hanya dapat diperoleh dengan merujuk kepada Al-Qur'an, hadis sahih, dan penjelasan para ulama yang tepercaya.
Bulan Safar pada hakikatnya tidak berbeda dengan bulan-bulan Hijriah lainnya. Tidak ada dalil yang menyatakan bahwa bulan ini membawa kesialan ataupun memiliki ritual ibadah khusus. Sebaliknya, Safar menjadi kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui berbagai amal saleh, seperti memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur'an, beristigfar, bersedekah, serta menjaga silaturahmi.
Dengan memahami ajaran Islam secara benar, setiap muslim dapat menjalani Bulan Safar dengan penuh keyakinan, meninggalkan berbagai mitos yang tidak berdasar, dan mengisinya dengan amal-amal yang menghadirkan keberkahan di dunia serta menjadi bekal terbaik di akhirat.***
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:
BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.
a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
Artikel Lainnya
Bayar Zakat Melalui BAZNAS, Mudah, Aman, dan Berdampak bagi Sesama
Zakat untuk Mualaf, Menguatkan Iman dan Kemandirian Saudara Baru
13 Program Prioritas BAZNAS 2026–2031: Wujud Nyata Zakat untuk Membangun Kesejahteraan Umat
Ke Mana Zakat Anda Disalurkan? Ini 13 Program Prioritas BAZNAS Membangun Kesejahteraan Umat
Zakat untuk Pendidikan: Membuka Jalan Masa Depan Anak dari Keluarga Kurang Mampu
Zakat untuk Air Bersih, Hadirkan Manfaat bagi Kehidupan Mustahik
Zakat untuk Rumah Terang, Hadirkan Cahaya bagi Kehidupan Mustahik
Zakat untuk Korban Bencana, Hadirkan Bantuan di Tengah Krisis Kemanusiaan
Sudah Memenuhi Syarat? Kenali Kewajiban Zakat dan Cara Menunaikannya
Tunaikan Zakat, Hadirkan Harapan Baru bagi Mustahik
Zakat Penghasilan, Ikhtiar Membantu Mustahik Bangkit dan Mandiri
Zakat Hadirkan Akses Kesehatan bagi Mustahik yang Membutuhkan
Kalkulator Zakat BAZNAS: Mudah Menghitung Kewajiban, Tepat Menunaikannya
Hitung Zakat dengan Tepat! Ini Wujudkan Manfaat 13 Program Prioritas BAZNAS
Ini Cara Bayar Zakat di BAZNAS Provinsi Lampung dengan Mudah dan Aman!

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.
Lihat Daftar Rekening →