WhatsApp Icon

Mendidik Anak agar Saleh, Ini Perlu Dibiasakan Orang Tua!

08/10/2026  |  Penulis: MBL-01

Bagikan:URL telah tercopy
Mendidik Anak agar Saleh, Ini Perlu Dibiasakan Orang Tua!

Ilustrasi BAZNAS Provinsi Lampung

ANAK merupakan amanah yang dititipkan Allah SWT kepada orang tua. Karena itu, pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan akidah, ibadah, akhlak, dan kepribadian.

Dalam Islam, proses tersebut perlu dibangun sejak dini melalui keteladanan, kasih sayang, pembiasaan, serta doa. Anak tidak hanya belajar dari nasihat yang disampaikan orang tua, tetapi juga dari sikap dan kebiasaan yang mereka lihat setiap hari.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6 agar orang-orang beriman menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Ayat tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab orang tua dalam membimbing dan menjaga keluarganya.

Berikut sejumlah hal yang dapat dilakukan orang tua agar anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh.

1. Tanamkan Tauhid Sejak Dini

Pendidikan anak dapat dimulai dengan mengenalkan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Pengenalan tersebut tidak harus melalui penjelasan yang rumit. Orang tua dapat mengajak anak mengenali kebesaran Allah melalui hal-hal sederhana di sekitarnya.

Ketika melihat langit, tumbuhan, hewan, atau makanan, misalnya, orang tua dapat mengajak anak memahami bahwa semua itu merupakan ciptaan dan nikmat dari Allah SWT.

Al-Qur'an juga memberikan contoh pendidikan tauhid melalui nasihat Luqman kepada anaknya agar tidak mempersekutukan Allah. Pesan tersebut menunjukkan bahwa keimanan menjadi fondasi penting dalam pendidikan seorang anak.

Pembiasaan sederhana seperti mengucapkan basmalah sebelum makan, hamdalah setelah memperoleh nikmat, serta menghafalkan doa sehari-hari juga dapat membantu anak mengenal Allah dalam aktivitasnya.

Yang terpenting, pendidikan tauhid perlu disertai keteladanan. Nasihat akan lebih mudah diterima ketika anak melihat orang tuanya juga menjalankan ibadah dan mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari.

2. Jadilah Teladan bagi Anak

Anak banyak belajar dengan meniru. Perkataan, kebiasaan, cara menyelesaikan masalah, hingga cara orang tua memperlakukan orang lain dapat menjadi contoh yang mereka ikuti.

Jika ingin anak terbiasa salat, misalnya, orang tua perlu menunjukkan bahwa salat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Begitu pula dengan akhlak. Kebiasaan mengucapkan terima kasih, meminta maaf, berbicara sopan, menepati janji, dan menghormati orang lain dapat dimulai dari lingkungan keluarga.

Sebaliknya, perkataan kasar, kebiasaan berbohong, mudah marah, atau mencela orang lain juga berpotensi ditiru anak.

Orang tua tentu tidak harus selalu sempurna. Ketika melakukan kesalahan, meminta maaf kepada anak dan berusaha memperbaikinya justru dapat mengajarkan tanggung jawab, kerendahan hati, dan keberanian mengakui kesalahan.

3. Biasakan Anak Melaksanakan Salat

Salat perlu dikenalkan kepada anak secara bertahap sesuai usia dan kemampuannya. Rasulullah SAW memberikan petunjuk agar orang tua memerintahkan anak melaksanakan salat ketika berusia tujuh tahun. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai hasan sahih oleh Al-Albani.

Pembiasaan dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti mengajak anak berwudu, salat berjamaah, menyediakan perlengkapan salat, serta memberikan apresiasi atas usaha mereka.

Anak juga perlu memahami bahwa salat bukan semata-mata kewajiban yang dilakukan karena takut hukuman. Jelaskan bahwa salat merupakan bentuk penghambaan dan komunikasi seorang Muslim kepada Allah SWT.

Kemampuan setiap anak berbeda. Ada yang cepat menghafal bacaan salat, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama. Kesabaran orang tua akan membantu membentuk kebiasaan tersebut tanpa membuat anak merasa tertekan.

4. Dekatkan Anak dengan Al-Qur'an dan Doa

Rumah dapat menjadi tempat pertama bagi anak untuk mengenal Al-Qur'an. Orang tua dapat membacakan Al-Qur'an, mengajak anak menghafal surat-surat pendek, serta menjelaskan makna ayat dengan bahasa yang sesuai usia.

Belajar Al-Qur'an tidak harus selalu dilakukan dalam suasana formal. Anak dapat belajar melalui cerita, permainan, pengulangan, atau sesi singkat yang dilakukan secara rutin.

Doa-doa sehari-hari juga penting dikenalkan sejak kecil, seperti doa sebelum dan sesudah makan, sebelum tidur, bangun tidur, masuk dan keluar rumah, serta ketika belajar.

Kegiatan membaca Al-Qur'an bersama, misalnya setelah Magrib, dapat menjadi kebiasaan keluarga sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

Namun, pendidikan Al-Qur'an sebaiknya tidak hanya berorientasi pada jumlah hafalan. Anak perlu dibimbing memahami bahwa Al-Qur'an merupakan petunjuk kehidupan dan nilai-nilainya perlu diterapkan dalam keseharian.

5. Ajarkan Akhlak dan Adab

Kesalehan anak tidak hanya terlihat dari banyaknya hafalan atau ibadah, tetapi juga dari perilakunya terhadap orang lain.

Ajarkan anak untuk berkata jujur, mengucapkan salam, meminta izin, berterima kasih, meminta maaf, menghormati orang yang lebih tua, serta menyayangi yang lebih muda.

Nilai kasih sayang juga dapat dikenalkan melalui hal-hal sederhana, seperti berbagi makanan, membantu orang yang membutuhkan, tidak menyakiti hewan, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Orang tua sebaiknya tidak hanya mengoreksi ketika anak melakukan kesalahan, tetapi juga memberikan apresiasi ketika mereka menunjukkan perilaku baik. Pujian, pelukan, atau ucapan terima kasih dapat menjadi bentuk penghargaan yang membuat anak memahami bahwa kebaikan memiliki nilai.

6. Bangun Hubungan yang Penuh Kasih Sayang

Pendidikan akan lebih mudah diterima ketika anak merasa aman, dicintai, dan didengarkan. Karena itu, orang tua perlu menyediakan waktu untuk berbicara dengan anak, mengetahui aktivitas mereka, serta memahami hal-hal yang membuat mereka senang maupun menghadapi kesulitan.

Mendengarkan juga merupakan bagian dari pendidikan. Tidak setiap cerita anak harus langsung dijawab dengan nasihat panjang. Terkadang, mereka hanya membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan dan memahami perasaannya.

Kasih sayang dapat ditunjukkan melalui perhatian dan sentuhan yang wajar, seperti memeluk atau menggandeng anak. Namun, kasih sayang tetap perlu disertai batasan. Anak harus memahami bahwa ada perilaku yang boleh dilakukan dan ada pula yang tidak diperbolehkan.

Ketegasan dapat diberikan tanpa merendahkan atau menghilangkan rasa aman anak di dalam keluarga.

7. Dampingi Pertemanan dan Penggunaan Teknologi

Lingkungan anak kini tidak hanya berasal dari rumah dan sekolah. Internet, media sosial, video, permainan, serta berbagai konten digital turut memengaruhi cara mereka berpikir dan bersikap.

Orang tua perlu mengetahui lingkungan pertemanan anak sekaligus memahami konten yang mereka konsumsi. Pengawasan bukan berarti selalu mencurigai anak, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga mereka dari pengaruh yang tidak baik.

Aturan penggunaan gawai dapat dibuat secara jelas, misalnya mengenai durasi penggunaan, jenis konten yang boleh diakses, serta waktu tanpa perangkat elektronik seperti saat makan dan menjelang tidur.

Anak juga perlu dibimbing memahami bahwa tidak semua informasi di internet benar. Agar lebih mudah diterapkan, orang tua dapat menyediakan kegiatan alternatif seperti membaca, berolahraga, membantu pekerjaan rumah, bermain bersama keluarga, mengikuti kegiatan keagamaan, atau melakukan aktivitas kreatif.

8. Jangan Lupakan Doa Orang Tua

Mendidik anak membutuhkan ikhtiar, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Karena itu, doa menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan anak.

Orang tua dapat memohon agar anak diberikan keimanan, akhlak yang baik, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, serta dijauhkan dari pergaulan dan perbuatan yang buruk.

Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak menghadapi masalah. Ketika keadaan mereka baik pun, orang tua dapat memohon agar kebaikan tersebut dijaga dan terus berkembang.

Setiap anak memiliki karakter dan proses pertumbuhan yang berbeda. Ketika perkembangan mereka belum sesuai harapan, orang tua perlu tetap bersabar dan tidak mudah berputus asa.

Mendidik Anak adalah Proses Panjang

Mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh bukanlah proses instan. Dibutuhkan ilmu, keteladanan, pembiasaan, kasih sayang, kesabaran, dan doa yang terus dilakukan.

Orang tua tidak harus menjadi sempurna untuk memberikan pendidikan yang baik. Yang terpenting adalah terus berusaha menciptakan lingkungan keluarga yang mengenalkan anak kepada Allah SWT, membiasakan ibadah, menanamkan akhlak, serta membimbing mereka menghadapi perkembangan zaman.

Dengan pendidikan yang dilakukan secara konsisten dan penuh kasih sayang, setiap kebiasaan baik yang ditanamkan sejak kecil dapat menjadi bekal bagi anak dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang Muslim.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.

Lihat Daftar Rekening →