WhatsApp Icon
15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah

KEHIDUPAN yang baik dan penuh berkah merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Kehidupan yang berkah juga tercermin dari hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Untuk mewujudkannya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, bekerja dengan jujur, menyayangi keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

Kebiasaan baik tersebut tidak harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Berikut 15 tips Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menjaga Salat Lima Waktu

Salat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang memenuhi ketentuan syariat. Menjaga salat tepat waktu menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasakan menunaikan salat ketika waktunya tiba. Jika memungkinkan, persiapkan diri lebih awal agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang dan khusyuk.

Selain menjaga pelaksanaannya, usahakan memahami bacaan dan menghayati maknanya. Dengan demikian, salat tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga pengingat untuk menjaga perilaku dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.

2. Membiasakan Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca, memahami, dan berusaha mengamalkan ajarannya dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang untuk mulai membaca Al-Qur'an. Sisihkan beberapa menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau sebelum tidur.

Bagi yang belum lancar membaca Al-Qur'an, belajarlah secara bertahap dengan bimbingan guru yang kompeten. Sementara itu, mereka yang sudah lancar dapat memperdalam pemahaman melalui terjemahan dan tafsir.

Konsistensi menjadi hal penting dalam membangun kebiasaan ini. Mulailah dengan target yang realistis agar membaca Al-Qur'an dapat menjadi bagian dari rutinitas harian.

3. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa dan zikir membantu seorang Muslim mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, doa menjadi sarana memohon pertolongan. Saat memperoleh kebahagiaan, zikir dan doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Kebiasaan ini dapat dimulai dengan membaca zikir pagi dan petang, beristigfar, berdoa setelah salat, serta membaca doa sebelum tidur.

Meski demikian, doa dan zikir perlu berjalan beriringan dengan usaha nyata. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, misalnya, seorang Muslim tetap perlu mencari solusi, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki cara bekerja sembari memohon pertolongan Allah SWT.

4. Membiasakan Diri Bersyukur

Bersyukur membantu seseorang menghargai nikmat yang telah dimiliki. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain secara berlebihan justru dapat membuat seseorang lupa terhadap berbagai kebaikan yang telah diterimanya.

Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya.

Syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat untuk tujuan yang baik. Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta membantu sesama, dan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Mulailah dengan menghargai hal-hal sederhana, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, makanan, dan tempat tinggal. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menghargai apa yang dimiliki sambil terus memperbaiki keadaan.

5. Mencari Rezeki yang Halal dan Baik

Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki melalui cara yang halal. Rezeki yang baik tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjaga kejujuran, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati hak orang lain. Hindari penipuan, kecurangan, dan tindakan yang merugikan pihak lain.

Bagi yang menjalankan usaha, sampaikan informasi produk atau jasa secara jujur. Sementara itu, dalam mengelola penghasilan, dahulukan kebutuhan pokok, hindari utang konsumtif yang tidak perlu, dan sisihkan sebagian harta untuk sedekah sesuai kemampuan.

Rezeki yang berkah tidak selalu berarti kekayaan berlimpah. Keberkahan juga dapat tercermin dari kecukupan, ketenangan dalam menggunakannya, serta manfaat yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat.

6. Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 23.

Berbakti dapat diwujudkan melalui perkataan yang sopan, kesediaan mendengarkan nasihat yang baik, membantu kebutuhan mereka, serta meluangkan waktu untuk menemani dan memperhatikan keadaan mereka.

Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi melalui telepon atau melakukan kunjungan secara berkala dapat menjadi bentuk perhatian.

Jika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik dengan mendoakan mereka, menjaga hubungan dengan kerabat, dan melakukan kebaikan yang dibenarkan dalam Islam.

Namun, berbakti tidak berarti harus memenuhi permintaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap perlu menjaga adab dan memperlakukan orang tua dengan baik.

7. Menjaga Silaturahmi dan Hubungan Baik dengan Sesama

Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang baik dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan sekaligus sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperlakukan sesama dengan baik. Karena itu, usahakan menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang tenang dan menghindari perkataan yang menyakiti.

Belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan orang lain ketika mereka berusaha memperbaiki diri. Menghormati perbedaan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial.

Dengan membangun komunikasi yang sehat, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan dipenuhi sikap saling menghormati.

8. Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama

Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyumbangkan pakaian yang layak, atau membagikan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kebaikan.

Sesuaikan sedekah dengan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga. Jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan.

Membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama dapat melatih kepedulian dan mengurangi sikap berlebihan dalam mencintai harta. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam juga dapat berkontribusi dalam membantu mustahik serta masyarakat yang membutuhkan.

9. Menjaga Lisan dan Akhlak

Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Biasakan berbicara jujur, menghindari perkataan kasar, tidak menghina, dan tidak menyebarkan fitnah. Sebelum berbicara, pertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Menjaga lisan juga berlaku ketika menggunakan media sosial. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menulis komentar yang merendahkan orang lain, atau terlibat dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.

Jika melakukan kesalahan, akui dan perbaiki. Meminta maaf merupakan bagian dari tanggung jawab atas perilaku sendiri sekaligus langkah untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

10. Menuntut Ilmu dan Terus Memperbaiki Diri

Menuntut ilmu membantu seorang Muslim memahami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Luangkan waktu untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dasar, dan akhlak. Selain ilmu agama, tingkatkan pula keterampilan yang relevan dengan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab masing-masing.

Pilih sumber belajar yang dapat dipercaya. Dalam urusan agama, pelajari penjelasan dari ulama dan lembaga keislaman yang kompeten agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.

Selain menambah pengetahuan, biasakan mengevaluasi diri. Periksa kembali apakah ibadah telah terjaga, pekerjaan dilakukan dengan jujur, dan hubungan dengan keluarga dipelihara dengan baik.

Perbaikan diri merupakan proses berkelanjutan. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan.

11. Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Amanah

Tubuh merupakan amanah yang perlu dijaga. Kondisi fisik dan mental yang baik membantu seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Terapkan kebiasaan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menjaga waktu tidur. Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan dan jangan mengabaikan keluhan yang membutuhkan pertolongan profesional.

Menjaga kesehatan juga berarti memahami batas kemampuan diri. Istirahat yang cukup bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kemampuan untuk menjalani aktivitas dengan baik.

Dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim dapat berusaha menjalankan berbagai amanah kehidupan secara lebih optimal.

12. Mengelola Waktu dengan Bijaksana

Waktu merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Karena itu, gunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, keluarga, maupun pengembangan diri.

Buatlah jadwal harian sederhana yang memprioritaskan kewajiban utama. Sisihkan waktu untuk salat, bekerja, belajar, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat berarti.

Namun, mengelola waktu bukan berarti harus selalu sibuk. Istirahat, berolahraga, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga juga merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.

13. Bersabar dan Bertawakal kepada Allah SWT

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Seseorang dapat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau ujian kesehatan.

Dalam keadaan tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menunggu pertolongan tanpa melakukan apa pun.

Seorang Muslim perlu berusaha mencari jalan keluar, berdoa kepada Allah SWT, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya. Ketika mengalami kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Jika menghadapi persoalan yang berat, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau tenaga profesional yang sesuai.

Setiap orang memiliki ujian dan proses kehidupan yang berbeda. Karena itu, hindari mengukur keberhasilan diri hanya dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain.

14. Membiasakan Istigfar dan Bertobat

Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa berusaha memperbaiki diri.

Membaca istigfar merupakan salah satu cara memohon ampun kepada Allah. Namun, istigfar hendaknya disertai kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki perilaku.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, upayakan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai keadaan.

Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, gunakan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dengan membiasakan istigfar dan bertobat, seorang Muslim belajar bersikap rendah hati serta menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan ampunan dan bimbingan Allah SWT.

15. Membiasakan Doa agar Hidup Penuh Berkah

Selain melakukan berbagai ikhtiar, seorang Muslim dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca sehari-hari.

“Ya Allah, berkahilah kehidupanku, keluargaku, pekerjaanku, dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku. Bimbinglah aku agar senantiasa berada di jalan yang benar. Jadikanlah aku hamba yang rajin beribadah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan ikhlas dalam melakukan kebaikan. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari keburukan, serta berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan langsung dari Al-Qur'an atau hadis. Seorang Muslim dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dengan tetap memperhatikan tuntunan syariat.

Biasakan berdoa bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga ketika keadaan sedang baik. Dengan demikian, doa menjadi bagian dari kebiasaan untuk memohon petunjuk sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT.

Contoh Rutinitas Islami dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar berbagai kebiasaan baik di atas lebih mudah diterapkan, mulailah dengan rutinitas sederhana yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Pagi hari:

  • Bangun dan menunaikan salat Subuh.

  • Membaca Al-Qur'an atau zikir pagi.

  • Berdoa sebelum memulai aktivitas.

  • Menentukan prioritas pekerjaan dan tanggung jawab hari itu.

Siang hingga sore:

  • Menjaga salat lima waktu.

  • Bekerja atau belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh.

  • Menjaga perkataan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

  • Menyempatkan diri membantu keluarga atau orang yang membutuhkan.

Malam hari:

  • Menunaikan salat Isya.

  • Meluangkan waktu bersama keluarga.

  • Mengevaluasi perilaku dan aktivitas sepanjang hari.

  • Membaca doa sebelum tidur serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Rutinitas tersebut bukan aturan wajib yang harus diikuti dengan susunan persis seperti di atas. Jadikanlah sebagai panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing.

Menjalani Hidup dengan Iman, Ikhtiar, dan Rasa Syukur

Kehidupan yang penuh berkah tidak selalu ditandai dengan kelimpahan materi atau terbebas dari berbagai ujian. Keberkahan juga dapat hadir melalui hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang saling mendukung, serta kesempatan untuk terus berbuat baik.

Menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersyukur, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, dan membantu sesama merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memperkuat kualitas kehidupan seorang Muslim.

Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah dilakukan, kemudian pertahankan secara konsisten dan tingkatkan secara bertahap.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!

MENJAGA hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita dan dapat menjadi pihak terdekat untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, hubungan bertetangga perlu dibangun atas dasar saling menghormati, kepedulian, dan sikap menjaga hak satu sama lain.

Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik. Ajaran tersebut mencakup menjaga perkataan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain, berbagi makanan, memberikan pertolongan, serta memelihara hubungan baik meskipun terdapat perbedaan atau kesalahpahaman.

Adab bertetangga juga tidak terbatas pada orang yang memiliki hubungan dekat atau seagama. Seorang Muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, latar belakang, maupun kebiasaan, selama tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam.

Lantas, apa saja adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut lima di antaranya.

1. Menghormati dan Berbuat Baik kepada Tetangga

Adab pertama adalah menghormati dan memperlakukan tetangga dengan baik. Islam menempatkan hubungan dengan tetangga sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, dan golongan lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya.

Ajaran tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa ketika berpapasan, berbicara dengan sopan, menghargai privasi, dan tidak mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa alasan yang tepat.

Ketika tetangga mengadakan acara keluarga, misalnya, kita dapat menunjukkan sikap saling menghormati dengan menjaga ketertiban dan membicarakan persoalan yang muncul melalui komunikasi yang baik.

Selain itu, hindari membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status ekonomi, kedudukan sosial, atau latar belakang seseorang. Dengan membiasakan sikap saling menghormati, hubungan bertetangga dapat terjalin lebih harmonis dan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman.

2. Tidak Mengganggu atau Menyakiti Tetangga

Adab berikutnya adalah menjaga diri agar tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Pesan ini menegaskan bahwa keimanan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya sendiri, tetapi juga perlu menjaga hak dan kenyamanan orang lain. Beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan bertetangga antara lain:

  • Memutar musik atau menghasilkan suara keras hingga mengganggu waktu istirahat.

  • Membiarkan sampah menumpuk atau menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah.

  • Memarkir kendaraan hingga menghalangi jalan atau akses rumah tetangga.

  • Membicarakan keburukan tetangga dan menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya.

  • Menggunakan atau mengambil barang milik tetangga tanpa izin.

  • Melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan lingkungan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Apabila tanpa sengaja menimbulkan gangguan, sebaiknya segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tindakan sederhana, seperti mengecilkan volume suara pada malam hari atau memastikan kendaraan tidak menghalangi akses rumah orang lain, merupakan bentuk kepedulian terhadap kenyamanan bersama.

Menjaga tetangga dari gangguan bukan hanya menciptakan lingkungan yang tertib, tetapi juga menjadi wujud nyata akhlak yang baik.

3. Berbagi Makanan dan Saling Memberi

Berbagi makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial dan tidak bersikap egois terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar agar memperbanyak kuah ketika memasak dan memperhatikan tetangganya dengan membagikan sebagian makanan tersebut.

Nasihat ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian yang besar. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana sesuai kemampuan masing-masing.

Ketika memasak dalam jumlah lebih, misalnya, kita dapat berbagi makanan dengan tetangga. Berbagi juga dapat dilakukan dengan memberikan buah dari kebun atau mengirimkan hidangan sederhana pada kesempatan tertentu.

Jika tetangga sedang sakit, kita bisa menawarkan bantuan untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sementara itu, ketika mereka mengalami musibah, perhatian dan dukungan sederhana dapat membantu meringankan beban yang dirasakan.

Meski demikian, berbagi tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga sendiri. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk memaksakan diri di luar kemampuannya.

Dengan membiasakan berbagi, hubungan bertetangga tidak sekadar terjalin karena tinggal berdekatan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang dilandasi kepedulian dan kebersamaan.

4. Menolong Tetangga Ketika Mengalami Kesulitan

Seorang Muslim hendaknya tidak bersikap acuh ketika mengetahui tetangganya membutuhkan pertolongan. Hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi sumber dukungan, terutama ketika seseorang menghadapi situasi sulit.

Pertolongan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan tenaga dan dukungan moral hingga bantuan materi sesuai kemampuan.

Ketika tetangga sedang sakit, misalnya, kita dapat menjenguk, menanyakan kebutuhannya, atau membantu mengurus keperluan mendesak. Saat terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir, kita dapat membantu proses evakuasi, menyediakan makanan, atau menghubungkan mereka dengan pihak yang mampu memberikan bantuan.

Perhatian juga dapat diberikan kepada tetangga lanjut usia yang tinggal sendiri. Menanyakan kabar atau membantu membawa barang belanjaan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Dalam memberikan pertolongan, penting untuk tetap menghormati privasi dan menjaga martabat orang yang dibantu. Bantuan sebaiknya diberikan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian atau mengungkit kebaikan pada kemudian hari.

Menolong tetangga menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memaafkan Kesalahan Tetangga

Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bertetangga. Perbedaan kebiasaan, persoalan batas tanah, kebisingan, atau masalah parkir dapat memicu perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan baik.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga komunikasi, bersikap sabar, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Kebiasaan menyapa, mengunjungi ketika diperlukan, serta menghindari permusuhan berkepanjangan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat hubungan dengan tetangga.

Pertama, menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang sopan. Jika ada tindakan yang mengganggu, sampaikan keberatan secara baik-baik tanpa menghina atau mempermalukan pihak lain.

Kedua, tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, cari penjelasan secara langsung dengan cara yang santun.

Ketiga, belajar memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Selama persoalan masih dapat diselesaikan secara wajar, sikap lapang dada dapat membantu mencegah konflik berkepanjangan.

Keempat, tidak memperbesar perselisihan. Hindari menyebarkan masalah kepada orang lain apabila hal tersebut justru memperburuk keadaan.

Meski demikian, menjaga hubungan baik tidak berarti membiarkan tindakan yang membahayakan atau melanggar hak. Jika terjadi ancaman, kekerasan, atau pelanggaran serius, kita tetap dapat meminta bantuan pihak berwenang melalui cara yang tepat.

Dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan tanpa harus merusak hubungan bertetangga.

Manfaat Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam

Menerapkan adab bertetangga memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sikap saling menghormati membantu mengurangi gangguan dan perselisihan.

  2. Mempererat hubungan sosial. Tetangga yang saling mengenal lebih mudah membangun komunikasi dan kerja sama.

  3. Menumbuhkan kepedulian. Kebiasaan saling membantu membuat masyarakat lebih siap menghadapi kesulitan bersama.

  4. Menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik membantu menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi perselisihan besar.

  5. Mengamalkan ajaran Islam. Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika setiap orang berusaha memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Kita tidak perlu menunggu semua tetangga bersikap baik terlebih dahulu untuk mulai menunjukkan akhlak terpuji.

Membangun Lingkungan yang Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri

Adab bertetangga bukan hanya tentang menghindari perselisihan, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati orang lain, menjaga perkataan, berbagi makanan, menolong ketika dibutuhkan, dan memaafkan kesalahan merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat kebersamaan.

Keteladanan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akhlak mulia perlu tercermin dalam hubungan dengan sesama, termasuk dengan orang-orang yang tinggal paling dekat dengan kita.

Karena itu, membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian dapat dimulai dari rumah masing-masing. Dengan menjaga hak tetangga dan membiasakan diri untuk berbuat baik, kita turut menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi

SETIAP orang tua Muslim tentu mendambakan anak yang saleh dan salehah, beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama. Anak bukan hanya anugerah yang membawa kebahagiaan dalam keluarga, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan orang tua adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT memberikan petunjuk, menguatkan keimanan, memudahkan anak dalam beribadah, serta membimbing mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa.

Al-Qur'an mengajarkan sejumlah doa untuk memohon keturunan yang baik. Beberapa di antaranya merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS, serta doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati.

Lantas, apa saja doa memohon anak saleh dan salehah yang dapat diamalkan? Berikut bacaan, arti, dan maknanya, beserta ikhtiar mendidik anak agar tumbuh dalam kebaikan.

1. Doa dalam Surah Al-Furqan Ayat 74

Salah satu doa yang dapat diamalkan untuk memohon keluarga dan keturunan yang baik terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk hati serta agar diri sendiri dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bacaan latin:

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Makna Doa

Doa ini mengandung harapan agar keluarga tumbuh dalam keimanan, ketaatan, dan akhlak yang baik. Anak yang menjadi penyejuk hati bukan semata-mata anak yang membanggakan orang tua, tetapi juga anak yang berusaha menjalankan ajaran agama dan menghadirkan kebaikan di lingkungannya.

Selain memohon keturunan yang baik, orang tua juga memohon agar dirinya menjadi teladan dalam ketakwaan. Artinya, harapan memiliki anak saleh dan salehah perlu disertai usaha memperbaiki diri, mulai dari menjaga salat, berkata jujur, bersikap sabar, hingga menghormati orang lain.

Doa ini dapat dibaca setelah salat atau ketika bermunajat kepada Allah SWT. Tidak ada keharusan menetapkan jumlah bacaan tertentu untuk mengamalkannya.

2. Doa Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa singkat untuk memohon keturunan yang termasuk golongan orang saleh. Doa ini terdapat dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Bacaan latin: Rabbi hab li minas salihin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100).

Makna Doa 

Doa ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan bukan satu-satunya harapan. Nabi Ibrahim AS juga memohon agar keturunannya menjadi bagian dari orang-orang yang saleh.

Kesalehan merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang saleh dan salehah diharapkan memiliki keimanan yang kuat, menjaga ibadah, berperilaku baik, serta mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah.

Bagi pasangan yang sedang menantikan kehadiran buah hati, doa ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keturunan kepada Allah SWT. Bagi orang tua yang telah memiliki anak, doa yang sama dapat diamalkan untuk memohon agar anak-anak senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.

Doa juga menjadi wujud penghambaan dan tawakal. Karena itu, orang tua hendaknya terus memohon kepada Allah SWT sembari melakukan ikhtiar yang baik dan tidak kehilangan harapan ketika keinginan belum terwujud sesuai waktu yang diharapkan.

3. Doa Nabi Zakaria AS 

Al-Qur'an juga mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika memohon keturunan yang baik. Doa tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 38.

Bacaan latin:

Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan tayyibatan innaka sami'ud du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Pelajaran dari doa Nabi Zakaria 

Kisah Nabi Zakaria AS mengajarkan tentang ketekunan dalam berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Beliau memohon keturunan yang baik, mengingatkan umat Islam bahwa Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya.

Keturunan yang baik tidak hanya diukur dari kesehatan fisik atau keberhasilan duniawi. Keimanan, akhlak, dan perilaku yang terpuji juga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang diharapkan orang tua.

Doa ini dapat diamalkan oleh pasangan yang mendambakan keturunan maupun orang tua yang memohon kebaikan bagi anak-anaknya. Permohonan juga dapat disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami, selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Doa Keturunan Rajin Mendirikan Salat

Anak yang saleh dan salehah diharapkan tidak hanya memiliki perilaku yang baik, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mendirikan salat.

Dalam Surah Ibrahim ayat 40, terdapat doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan salat.

Bacaan latin: Rabbij'alni muqimas salati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Mengapa doa ini penting?

Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. Dengan memohon agar diri sendiri dan keturunan senantiasa mendirikan salat, orang tua diingatkan bahwa pendidikan agama perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak untuk salat, tetapi juga memberikan contoh melalui kebiasaan beribadah secara konsisten. Ketika anak melihat orang tuanya menjaga salat, ia dapat belajar dari keteladanan yang nyata.

Selain itu, ajarkan salat secara bertahap sesuai usia anak. Pendekatan yang lembut, penjelasan yang mudah dipahami, dan suasana keluarga yang mendukung dapat membantu anak mengenal ibadah dengan lebih baik.

Doa ini sekaligus mengingatkan orang tua untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sendiri sebelum berharap anak mengikuti jalan kebaikan tersebut.

5. Doa agar Anak Saleh dan Mendapat Keberkahan

Selain mengamalkan doa-doa dari Al-Qur'an, orang tua dapat memohon kepada Allah SWT menggunakan kalimat yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, memohon agar anak diberikan kesehatan, dilindungi dari keburukan, dibimbing dalam ketaatan, dan dimudahkan untuk berbuat baik kepada sesama.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat diamalkan sebagai doa pribadi.

Bacaan doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang saleh dan salehah. Jadikanlah mereka hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga salat. Lindungilah mereka dari perbuatan buruk, pergaulan yang menyesatkan, serta segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari jalan-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati di dunia dan bekal kebaikan bagi kami di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis. Orang tua dapat menyesuaikan susunan kata dan menyebut nama anak dalam doanya.

Hal terpenting bukan panjangnya rangkaian kalimat, melainkan ketulusan hati, keyakinan kepada Allah SWT, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar yang baik.

6. Kapan Waktu Baik Membaca Doa Anak Saleh?

Pada dasarnya, doa untuk memohon kebaikan anak dapat dipanjatkan kapan saja. Tidak ada ketentuan bahwa doa memohon anak saleh dan salehah hanya boleh dibaca pada waktu tertentu.

Meski demikian, ada beberapa kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah salat wajib

Setelah menunaikan salat wajib, orang tua dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa. Selain memohon ampunan serta kebaikan dunia dan akhirat, orang tua dapat memohon agar anak-anak diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam.

Mendoakan anak secara rutin dapat menjadi pengingat bahwa mendidik mereka merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan pertolongan Allah SWT.

Saat salat malam

Salat malam, termasuk tahajud, dapat menjadi kesempatan untuk bermunajat dengan lebih khusyuk. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan keutamaan berdoa kepada Allah pada sepertiga malam terakhir.

Orang tua dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memohon kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan keteguhan iman bagi anak-anaknya.

Ketika sujud

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa.

Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon kebaikan bagi anak-anaknya dengan tetap memperhatikan ketentuan doa dalam salat sesuai tuntunan fikih yang diikuti.

Ketika anak menghadapi kesulitan

Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak sedang sehat, berprestasi, atau menunjukkan perilaku yang membanggakan. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, menghadapi masalah pergaulan, atau sedang berusaha memperbaiki diri, orang tua juga perlu mendoakannya.

Rasa kecewa hendaknya tidak membuat orang tua berhenti berharap kepada Allah SWT. Sebaliknya, doa dapat menjadi penguat kesabaran sekaligus dorongan untuk mencari cara terbaik dalam mendampingi anak.

7. Cara Mendidik Anak agar Tumbuh Saleh

Doa merupakan ikhtiar spiritual yang penting, tetapi perlu disertai pendidikan, keteladanan, dan usaha nyata. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, melainkan juga lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Islam.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.

1. Memberikan teladan yang baik

Anak banyak belajar melalui apa yang dilihat setiap hari. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam menjalankan ibadah, menjaga perkataan, bersikap jujur, dan menghormati orang lain.

Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menjaga salatnya sendiri. Jika ingin anak berkata jujur, biasakan kejujuran dalam keluarga. Keteladanan membantu anak memahami bahwa ajaran Islam bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup.

2. Mengenalkan Al-Qur'an dan ajaran Islam sejak dini

Orang tua dapat mengenalkan Al-Qur'an, doa sehari-hari, kisah para nabi, serta dasar-dasar akhlak Islam sesuai usia anak. Lakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan.

Seiring bertambahnya usia, ajak anak memahami makna ibadah, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

3. Membiasakan ibadah dalam keluarga

Keluarga dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan tertentu.

Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika mereka melakukan kesalahan.

4. Menanamkan akhlak mulia

Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dengan perilaku terhadap sesama manusia. Ajarkan anak menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata sopan, menepati janji, meminta maaf ketika bersalah, dan membantu orang yang membutuhkan.

5. Memperhatikan lingkungan pergaulan

Lingkungan dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak. Orang tua perlu mengenal teman-teman anak, memperhatikan aktivitasnya, dan membangun komunikasi yang terbuka.

Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang bertanggung jawab, bukan pengawasan berlebihan. Ajarkan anak memilih pergaulan yang baik serta berani menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.

6. Menasihati tanpa merendahkan

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan nasihat dan konsekuensi yang sesuai. Namun, hindari melabeli anak sebagai nakal, gagal, atau tidak berguna.

Tegurlah perilakunya tanpa merendahkan martabatnya. Terus doakan kebaikannya, termasuk ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

7. Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian

Orang tua dapat mengajarkan tanggung jawab melalui tugas sederhana, seperti merapikan barang, menjaga kebersihan, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membantu anggota keluarga.

Ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia memahami akibat perbuatannya dan memperbaikinya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengakui kesalahan serta bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.

8. Keutamaan Memiliki Anak Saleh

Anak yang saleh dan salehah merupakan salah satu karunia berharga dalam Islam. Kesalehan anak tidak hanya membawa harapan akan kebaikan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan manfaat yang dapat terus dirasakan orang tua setelah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mendidik anak agar mengenal Allah SWT, menjalankan ajaran agama, dan terbiasa mendoakan orang tuanya.

Meski demikian, kesalehan anak bukan sesuatu yang dapat dijamin hanya melalui satu doa. Anak tumbuh melalui berbagai proses, pengalaman, dan pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu terus memberikan pendidikan terbaik sembari memohon pertolongan Allah SWT.

Anak yang saleh dan salehah juga diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, membantu sesama, maupun menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, tujuan mendidik anak bukan semata-mata agar orang tua merasa bangga, tetapi agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

9. Pertanyaan Umum tentang Doa Anak Saleh

Apakah doa anak saleh boleh dibaca setiap hari?

Ya. Orang tua boleh mendoakan kebaikan anak setiap hari. Beberapa doa yang dapat diamalkan antara lain doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Surah Ali Imran ayat 38, Surah As-Saffat ayat 100, dan Surah Ibrahim ayat 40.

Tidak ada ketentuan umum bahwa doa-doa tersebut harus dibaca dengan jumlah tertentu agar permohonan dikabulkan.

Apakah ibu dan ayah sama-sama boleh mendoakan anak?

Tentu. Ibu dan ayah sama-sama dapat memohon agar anak menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan serta keteladanan yang baik.

Bolehkah berdoa agar anak menjadi penghafal Al-Qur'an?

Boleh. Orang tua dapat memohon agar anak mencintai Al-Qur'an, dimudahkan menghafalnya, memahami ajarannya, serta mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Permohonan tersebut hendaknya disertai pendampingan yang baik, pembelajaran sesuai kemampuan anak, dan penghargaan terhadap proses belajarnya.

Bagaimana jika anak belum menunjukkan perilaku saleh?

Jangan langsung berputus asa. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Orang tua dapat mengevaluasi pendekatan pendidikan, membuka komunikasi yang baik, memberikan nasihat secara bijaksana, dan terus mendoakan kebaikannya.

Jika masalah yang dihadapi cukup berat, orang tua juga dapat mencari bantuan dari guru, konselor, atau pembimbing agama yang kompeten.

Apakah pasangan yang belum memiliki anak boleh membaca doa memohon keturunan?

Boleh. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Zakaria AS dalam Surah Ali Imran ayat 38 atau doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Di samping berdoa, pasangan dapat melakukan ikhtiar yang sesuai, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Belum hadirnya keturunan bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa doa seseorang tidak diterima Allah SWT.

Doa Bagian dari Pendidikan Anak

Memohon anak yang saleh dan salehah merupakan harapan yang dapat terus dipanjatkan oleh setiap orang tua Muslim. Al-Qur'an telah mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan untuk memohon keturunan yang baik, keluarga yang menenteramkan, serta anak-anak yang senantiasa menjaga ibadah.

Namun, doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Keteladanan orang tua, pendidikan agama, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Semoga Allah SWT menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, menjadikan keluarga sebagai penyejuk hati, serta membimbing anak-anak agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Amin ya Rabbal alamin.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan

MENGELOLA keuangan bukan hanya soal memastikan pemasukan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan. Bagi seorang Muslim, harta merupakan amanah dari Allah SWT yang perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik.

Karena itu, kelola keuangan Islam tidak hanya memperhatikan jumlah pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga sumber rezeki, prioritas kebutuhan, kewajiban terhadap keluarga, serta kepedulian kepada sesama.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir dalam menggunakan hartanya. Prinsip ini dapat menjadi dasar dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

1. Pastikan Penghasilan Sumber Halal

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber penghasilan. Sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, seorang Muslim perlu memastikan bahwa pekerjaan, usaha, perdagangan, maupun investasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memperoleh makanan dari hasil usaha sendiri. Dalam Sunan Ibn Majah 2137 disebutkan bahwa makanan terbaik yang dikonsumsi seseorang adalah yang berasal dari hasil usahanya sendiri.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja perlu menjalankan tanggung jawab dengan amanah, sedangkan pelaku usaha harus menghindari penipuan, kecurangan, menyembunyikan cacat barang, maupun mengurangi timbangan.

Ketika menemukan transaksi yang meragukan, jangan terburu-buru mengejar keuntungan. Memahami akad, risiko, dan ketentuannya terlebih dahulu dapat membantu menjaga harta tetap berada dalam koridor yang baik.

2. Susun Anggaran dan Dahulukan Kebutuhan

Setelah memastikan sumber pendapatan, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaannya. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan.

Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan keluarga perlu menjadi prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah alokasi untuk keperluan lainnya disesuaikan dengan kemampuan.

Membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Membeli sesuatu karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda promosi atau ingin mengikuti tren.

Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Catatan di buku, spreadsheet, maupun aplikasi keuangan sudah cukup untuk membantu mengevaluasi pola pengeluaran dan menemukan pos yang dapat dikurangi.

3. Hindari Pemborosan dan Utang Konsumtif

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam menggunakan harta. Karena itu, pembelian impulsif dan gaya hidup berlebihan perlu dihindari.

Diskon atau promosi memang dapat menghemat pengeluaran jika barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, membeli sesuatu hanya karena harganya sedang murah tetap dapat membuat keuangan menjadi tidak sehat.

Penggunaan utang juga perlu dipertimbangkan dengan matang. Seorang Muslim perlu memahami akad dan konsekuensi finansial sebelum mengambil utang, terutama jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya berada di luar kemampuan.

Hidup sesuai kemampuan bukan berarti harus mengurangi seluruh kenyamanan. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, seseorang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih tenang tanpa terbebani pengeluaran yang tidak perlu.

4. Siapkan Tabungan dan Dana Darurat

Selain memenuhi kebutuhan hari ini, pengelolaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan di masa depan. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dapat membantu menghadapi berbagai keperluan yang sudah direncanakan.

Dana darurat juga penting untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendesak.

Perencanaan jangka panjang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, misalnya untuk pendidikan anak, tempat tinggal, maupun kebutuhan masa pensiun. Tidak perlu memulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.

5. Sisihkan Harta untuk Zakat, Infak, dan Sedekah

Harta dalam Islam tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban dan kepedulian sosial yang perlu diperhatikan, termasuk zakat bagi harta yang telah memenuhi ketentuannya.

Zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, nisab, haul, kadar, serta golongan penerima. Karena itu, perhitungannya perlu dilakukan sesuai ketentuan syariat.

Selain zakat, infak dan sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan sesuai kemampuan. Kebiasaan berbagi mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Dengan memasukkan zakat, infak, dan sedekah dalam perencanaan keuangan, pengelolaan harta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ibadah.

6. Bangun Komunikasi Keuangan dalam Keluarga

Pengelolaan keuangan juga berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami dan istri dapat membicarakan pemasukan, kebutuhan, kewajiban, tabungan, serta tujuan finansial keluarga secara terbuka.

Setiap keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tidak ada satu pola anggaran yang harus diterapkan oleh semua orang. Yang penting adalah menjaga prinsip halal, bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan.

Anak juga dapat dikenalkan dengan kebiasaan finansial sejak dini. Misalnya dengan mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta mengenalkan pentingnya berbagi.

Evaluasi sederhana setiap bulan dapat membantu keluarga mengetahui kondisi keuangannya. Periksa kembali pemasukan, pengeluaran terbesar, jumlah tabungan, kewajiban yang telah dibayarkan, dan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pada akhirnya, kelola keuangan Islam bukan semata-mata tentang bagaimana memiliki lebih banyak uang. Lebih dari itu, pengelolaan harta diarahkan agar kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara yang halal, keluarga tetap terjaga, dan sebagian rezeki dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Dengan mengatur pemasukan secara bijak, menghindari pemborosan, mempersiapkan masa depan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, harta dapat dikelola sebagai amanah sekaligus menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim

DALAM Islam, adab dan akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah kepada Allah SWT juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga masyarakat di sekitarnya.

Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam hal akhlak. Beliau mengajarkan kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang dalam berinteraksi dengan sesama. Karena itu, menjaga perilaku bukan sekadar menunjukkan kepribadian yang baik, tetapi juga bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Adab dan Akhlak dalam Islam

Menjaga adab berarti berusaha menempatkan perkataan, sikap, dan tindakan sesuai dengan tuntunan Islam. Hal tersebut dapat dimulai dari perkara sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak, serta membantu mereka yang membutuhkan.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang menjaga lisannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman untuk saling mengejek, mencela, maupun memanggil orang lain dengan gelar yang buruk.

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara. Perkataan yang kasar, hinaan, fitnah, atau ucapan yang menyakiti orang lain dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Menjaga adab juga berarti mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Saat marah atau berbeda pendapat, seseorang perlu berusaha menahan emosi agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Kedudukan Penting Akhlak Baik

Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang membiasakan perkataan keji.

Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara sederhana, melainkan memiliki nilai besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan rasa aman, bukan justru menimbulkan kerugian atau ketakutan bagi orang lain.

Dengan demikian, akhlak yang baik tidak cukup hanya terlihat dalam aktivitas ibadah. Nilainya perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

Menerapkan Adab dalam Kehidupan

Di lingkungan keluarga, menjaga adab dapat dimulai dengan menghormati orang tua, memperlakukan pasangan dan saudara dengan baik, serta membangun komunikasi tanpa penghinaan maupun kekerasan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak dapat diwujudkan dengan menghormati tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan menghargai perbedaan.

Begitu pula di tempat kerja atau sekolah. Bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, menjaga amanah, serta tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari penerapan akhlak Islam.

Adab juga berlaku di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Menjaga perilaku di media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak dalam kehidupan modern.

Membiasakan Diri Berakhlak Baik

Menjaga adab membutuhkan latihan dan konsistensi. Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki niat. Berbuat baik kepada orang lain seharusnya dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian.

Kebiasaan menjaga lisan juga perlu dilatih. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Mempelajari kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi cara lain untuk memahami bagaimana akhlak diterapkan dalam berbagai situasi. Keteladanan beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, maupun orang yang berbeda pendapat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi diri juga penting. Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Pada akhirnya, menjaga adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam perilaku nyata.

Meneladani Rasulullah SAW berarti terus berusaha menjadi pribadi yang jujur, sabar, lembut, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain. Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk menjaga lisan, memperbaiki perilaku, menghormati sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01

Artikel Terbaru

Anda Sudah Wajib Zakat? Ini Cara Menghitung yang Akurat
Anda Sudah Wajib Zakat? Ini Cara Menghitung yang Akurat
DALAM ajaran Islam, zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Kewajiban ini tidak hanya menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga sarana untuk membersihkan harta dan membantu sesama. Namun, masih banyak umat Islam yang belum memahami secara tepat cara hitung zakat, sehingga muncul keraguan dalam menunaikannya. Memahami cara hitung zakat sangat penting agar ibadah yang dilakukan sah secara syariat dan tepat sasaran. Dengan perhitungan yang akurat, zakat yang dikeluarkan tidak kurang dan tidak berlebihan. Artikel ini akan membahas secara lengkap dan mudah dipahami mengenai cara hitung zakat, mulai dari jenis-jenis zakat hingga contoh perhitungannya. Zakat dan Wajib Bayarnya? Zakat secara bahasa berarti suci, berkembang, dan berkah. Secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan dan diberikan kepada golongan yang berhak (mustahik) sesuai dengan ketentuan syariat. Seseorang diwajibkan membayar zakat jika memenuhi syarat berikut: Beragama Islam Merdeka (bukan budak) Memiliki harta yang mencapai nisab (batas minimum) Harta tersebut telah dimiliki selama satu tahun (haul) untuk jenis zakat tertentu Dengan memahami syarat ini, kita bisa menentukan apakah sudah wajib menunaikan zakat atau belum sebelum masuk ke tahap cara hitung zakat. Jenis Zakat yang Perlu Diketahui Sebelum memahami cara hitung zakat, penting untuk mengetahui jenis-jenis zakat dalam Islam: 1. Zakat Fitrah Zakat yang wajib dikeluarkan menjelang Idul Fitri, berupa makanan pokok (beras) sebesar 2,5 kg atau setara. 2. Zakat Mal (Harta) Zakat yang dikenakan pada harta tertentu seperti: Penghasilan (gaji) Emas dan perak Tabungan Investasi Perdagangan Fokus utama dalam pembahasan cara hitung zakat biasanya berada pada zakat mal karena membutuhkan perhitungan khusus. Nisab dan Haul dalam Zakat Dalam cara hitung zakat, dua istilah penting yang harus dipahami adalah: Nisab Nisab adalah batas minimum harta yang wajib dizakati. Contohnya: Emas: 85 gram Perak: 595 gram Penghasilan: setara 85 gram emas per tahun Haul Haul adalah masa kepemilikan harta selama satu tahun (hijriyah). Jika harta sudah mencapai nisab dan melewati haul, maka wajib dihitung zakatnya dengan benar menggunakan cara hitung zakat yang sesuai. Cara Hitung Zakat Penghasilan (Zakat Profesi) Zakat penghasilan adalah salah satu yang paling sering ditanyakan. Berikut cara hitung zakat yang sederhana: Rumus: Zakat = 2,5 persen x total penghasilan bersih Contoh: Jika penghasilan per bulan Rp10.000.000, maka: Penghasilan tahunan: Rp120.000.000 Jika sudah mencapai nisab (setara emas 85 gram), maka: Zakat = 2,5 persen x Rp120.000.000 = Rp3.000.000 per tahun Atau bisa dibayarkan per bulan: Rp10.000.000 x 2,5 persen = Rp250.000 Dengan memahami cara hitung zakat ini, Anda bisa langsung menunaikan kewajiban tanpa menunggu satu tahun. Cara Hitung Zakat Emas dan Tabungan Jika Anda memiliki emas atau tabungan, berikut cara hitung zakat yang perlu diperhatikan: Syarat: Mencapai nisab (85 gram emas) Disimpan selama 1 tahun Rumus: Zakat = 2,5 persen x total harta Contoh: Jika memiliki tabungan Rp100.000.000: Zakat = 2,5 persen x Rp100.000.000 = Rp2.500.000 Perhitungan ini merupakan bagian penting dari pemahaman cara hitung zakat agar tidak terjadi kesalahan dalam jumlah yang harus dikeluarkan. Cara Hitung Zakat Perdagangan Bagi pelaku usaha, cara hitung zakat juga berlaku pada harta perdagangan. Yang dihitung: Modal usaha Keuntungan Piutang yang bisa ditagih Dikurangi utang jatuh tempo Rumus: Zakat = 2,5 persen x (aset lancar – kewajiban) Contoh: Modal + keuntungan: Rp200.000.000 Utang: Rp50.000.000 Total harta = Rp150.000.000 Zakat = 2,5 persen x Rp150.000.000 = Rp3.750.000 Dengan memahami cara hitung zakat perdagangan, pelaku usaha dapat menunaikan kewajiban secara profesional dan sesuai syariat. Kesalahan dalam Cara Hitung Zakat Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam cara hitung zakat antara lain: Tidak memperhitungkan nisab Menghitung dari penghasilan kotor tanpa mengurangi kebutuhan pokok Tidak memasukkan seluruh aset Menunda zakat hingga lupa Kesalahan ini bisa membuat zakat menjadi tidak sah atau kurang sempurna. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara hitung zakat dengan benar. Tips Praktis Menghitung Zakat Agar lebih mudah dalam menerapkan cara hitung zakat, berikut beberapa tips: Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran Gunakan harga emas terbaru sebagai acuan nisab Sisihkan zakat sejak awal menerima penghasilan Gunakan kalkulator zakat dari lembaga terpercaya Konsultasikan dengan amil zakat jika ragu Dengan kebiasaan ini, cara hitung zakat akan menjadi lebih mudah dan tidak membingungkan. Keutamaan Menunaikan Zakat Menunaikan zakat memiliki banyak keutamaan, di antaranya: Membersihkan harta dan jiwa Menolong fakir miskin Menghindarkan dari sifat kikir Mendatangkan keberkahan Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka...” (QS. At-Taubah: 103). Dengan memahami cara hitung zakat, kita tidak hanya menunaikan kewajiban, tetapi juga meraih keberkahan dalam kehidupan. Saatnya Mempraktikkan Cara Hitung Zakat &
ARTIKEL30/03/2026 | BL-01
Keutamaan Puasa Syawal, Sempurnakan Ibadah dan Meraih Pahala Berlipat
Keutamaan Puasa Syawal, Sempurnakan Ibadah dan Meraih Pahala Berlipat
SETELAH menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkannya dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Ibadah ini memiliki keutamaan yang sangat besar dan menjadi salah satu amalan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, baik secara berturut-turut maupun terpisah. Keutamaan utama dari puasa ini adalah pahala yang setara dengan puasa sepanjang tahun. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW, bahwa siapa yang berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa selama satu tahun penuh. Keutamaan ini tidak terlepas dari konsep pahala dalam Islam, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Puasa Ramadan selama satu bulan setara dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan dua bulan, sehingga genap menjadi satu tahun. Selain itu, puasa Syawal juga menjadi tanda diterimanya amal ibadah di bulan Ramadan. Para ulama menjelaskan bahwa salah satu ciri diterimanya suatu amalan adalah adanya kemampuan untuk melanjutkan dengan amalan kebaikan berikutnya. Dengan demikian, puasa Syawal menjadi bentuk kesinambungan ibadah dan bukti keistiqamahan seorang Muslim. Tidak hanya itu, puasa Syawal juga melatih konsistensi dalam menjaga kualitas ibadah, memperkuat ketakwaan, serta menjadi sarana untuk meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa semangat berbagi dan kepedulian sosial yang tumbuh di bulan Ramadan hendaknya terus dijaga di bulan-bulan berikutnya. Sejalan dengan nilai-nilai tersebut, BAZNAS mengajak masyarakat untuk tidak hanya meningkatkan ibadah personal, tetapi juga memperkuat ibadah sosial melalui zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Semangat berbagi yang telah tumbuh selama Ramadan dapat terus dilanjutkan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, khususnya bagi mereka yang membutuhkan. Dengan menunaikan puasa Syawal dan memperkuat kepedulian sosial, diharapkan umat Islam dapat meraih keberkahan yang berkelanjutan serta menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan bermanfaat bagi masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL30/03/2026 | Admin
Tips Kerja Fleksibel: Produktif, Seimbang, dan Konsisten Ibadah
Tips Kerja Fleksibel: Produktif, Seimbang, dan Konsisten Ibadah
DI — era modern seperti sekarang, pola kerja mengalami perubahan yang cukup signifikan. Banyak orang mulai beralih dari sistem kerja konvensional menuju sistem yang lebih dinamis, seperti kerja remote, freelance, atau hybrid. Dalam konteks ini, memahami tips bekerja fleksibel menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi umat Islam yang ingin tetap menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan ibadah. Tips bekerja fleksibel bukan hanya tentang kebebasan mengatur waktu, tetapi juga tentang bagaimana menjaga produktivitas tanpa mengorbankan nilai-nilai spiritual. Islam sendiri sangat menekankan pentingnya keseimbangan antara dunia dan akhirat. Oleh karena itu, pola kerja fleksibel harus diiringi dengan manajemen waktu yang baik agar tetap bisa menjalankan kewajiban ibadah secara konsisten. Dengan menerapkan tips bekerja fleksibel, seseorang dapat memaksimalkan potensi diri, menjaga kesehatan mental, serta tetap istiqamah dalam menjalankan ibadah harian seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Artikel ini akan membahas secara lengkap bagaimana cara menjalankan kerja fleksibel dengan tetap produktif dan bernilai ibadah. 1. Mengatur Waktu dengan Disiplin dalam Kerja Fleksibel Mengatur waktu adalah fondasi utama dalam menerapkan tips bekerja fleksibel. Tanpa disiplin, fleksibilitas justru bisa menjadi bumerang yang menurunkan produktivitas. Oleh karena itu, penting untuk memiliki jadwal harian yang jelas dan terstruktur. Dalam menerapkan tips bekerja fleksibel, Anda perlu menentukan jam kerja utama. Meskipun tidak terikat kantor, menetapkan waktu mulai dan selesai bekerja akan membantu menjaga konsistensi. Hal ini juga memudahkan Anda untuk menyisipkan waktu ibadah seperti salat tepat waktu. Selanjutnya, tips bekerja fleksibel juga mencakup pembuatan to-do list harian. Dengan daftar tugas yang jelas, Anda tidak akan mudah terdistraksi. Ini penting agar pekerjaan selesai tepat waktu dan tidak mengganggu waktu ibadah. Selain itu, dalam tips bekerja fleksibel, penting untuk menghindari multitasking berlebihan. Fokus pada satu pekerjaan akan membuat hasil lebih maksimal dan efisien. Dengan begitu, Anda memiliki lebih banyak waktu untuk beribadah. Terakhir, penerapan tips bekerja fleksibel harus diiringi dengan evaluasi harian. Dengan mengevaluasi waktu yang digunakan, Anda bisa mengetahui apakah sudah seimbang antara kerja dan ibadah atau belum. 2. Menentukan Prioritas antara Dunia dan Akhirat Dalam Islam, keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah hal yang sangat ditekankan. Oleh karena itu, tips bekerja fleksibel harus mampu mengakomodasi keduanya secara seimbang. Salah satu tips bekerja fleksibel yang penting adalah menentukan prioritas. Dahulukan kewajiban seperti salat lima waktu sebelum pekerjaan. Dengan begitu, pekerjaan justru akan terasa lebih berkah dan ringan. Dalam menjalankan tips bekerja fleksibel, Anda juga perlu memahami bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Hal ini akan membantu Anda tidak terlalu stres dalam bekerja dan tetap fokus pada ibadah. Kemudian, tips bekerja fleksibel juga mengajarkan untuk tidak menunda ibadah demi pekerjaan. Misalnya, ketika adzan berkumandang, segeralah berhenti bekerja dan melaksanakan salat. Selanjutnya, dalam tips bekerja fleksibel, penting untuk menyisihkan waktu khusus untuk ibadah tambahan seperti membaca Al-Qur’an atau sedekah. Ini akan menambah nilai spiritual dalam aktivitas sehari-hari. Dengan menerapkan tips bekerja fleksibel, Anda tidak hanya sukses secara duniawi tetapi juga mendapatkan keberkahan dalam hidup. 3. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Nyaman dan Islami Lingkungan kerja sangat mempengaruhi produktivitas. Oleh karena itu, dalam tips bekerja fleksibel, menciptakan suasana kerja yang nyaman menjadi hal yang wajib diperhatikan. Salah satu tips bekerja fleksibel adalah memilih tempat kerja yang minim distraksi. Bisa di rumah, coworking space, atau tempat lain yang mendukung fokus kerja. Dalam tips bekerja fleksibel, Anda juga bisa menambahkan nuansa Islami seperti memutar murattal Al-Qur’an. Ini akan membantu menenangkan hati sekaligus meningkatkan fokus. Selain itu, tips bekerja fleksibel juga mencakup menjaga kebersihan tempat kerja. Lingkungan yang bersih akan membuat pikiran lebih jernih dan nyaman. Kemudian, dalam tips bekerja fleksibel, penting untuk memiliki ruang khusus ibadah. Dengan begitu, Anda tidak perlu mencari tempat ketika waktu salat tiba. Lingkungan yang baik akan mendukung keberhasilan penerapan tips bekerja fleksibel secara optimal. 4. Menjaga Konsistensi Ibadah di Tengah Kesibukan Salah satu tantangan terbesar dalam kerja fleksibel adalah menjaga konsistensi ibadah. Oleh karena itu, tips bekerja fleksibel harus mencakup strategi untuk tetap istiqamah. Dalam tips bekerja fleksibel, Anda bisa menggunakan alarm pengingat waktu salat. Ini akan membantu Anda tetap disiplin meskipun sedang sibuk bekerja. Selanjutnya, tips bekerja fleksibel juga mengajarkan untuk memulai hari dengan ibadah seperti salat Subuh dan membaca Al-Qur’an. Ini akan memberikan energi positif sepanjang hari. Dalam penerapan tips bekerja fleksibel, penting juga untuk menjaga niat bekerja sebagai ibadah. Dengan niat yang benar, setiap aktivitas kerja akan bernilai pahala. Kemudian, tips bekerja fleksibel juga mencakup menjaga kualitas ibadah, bukan hanya kuantitas. Pastikan salat dilakukan dengan khusyuk meskipun jadwal padat. Dengan konsistensi ini, tips bekerja fleksibel akan membawa manfaat dunia dan akhirat sekaligus. 5. Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Kerja fleksibel seringkali membuat seseorang lupa menjaga kesehatan. Padahal, kesehatan adalah kunci utama produktivitas. Oleh karena itu, tips bekerja fleksibel juga harus mencakup aspek ini. Dalam tips bekerja fleksibel, penting untuk menjaga pola tidur yang teratur. Jangan sampai begadang tanpa alasan yang jelas karena akan berdampak pada kualitas kerja dan ibadah. Selanjutnya, tips bekerja fleksibel juga mencakup olahraga ringan secara rutin. Tubuh yang sehat akan membuat Anda lebih fokus dan produktif. Dalam menjalankan tips bekerja fleksibel, jangan lupa untuk menjaga pola makan yang sehat dan halal. Ini penting agar tubuh tetap bertenaga sepanjang hari. Kemudian, tips bekerja fleksibel juga mengajarkan untuk mengambil waktu istirahat yang cukup. Jangan memaksakan diri bekerja terus-menerus tanpa jeda. Dengan menjaga kesehatan, penerapan tips bekerja fleksibel akan menjadi lebih optimal dan berkelanjutan. Pada akhirnya, tips bekerja fleksibel bukan hanya tentang bagaimana bekerja tanpa batasan waktu dan tempat, tetapi juga tentang bagaimana mengelola kehidupan secara seimbang. Bagi umat Islam, keseimbangan antara pekerjaan dan ibadah adalah kunci utama keberhasilan. Dengan menerapkan tips bekerja fleksibel, Anda dapat tetap produktif dalam pekerjaan sekaligus menjaga konsistensi ibadah. Disiplin waktu, prioritas yang jelas, lingkungan kerja yang nyaman, serta menjaga kesehatan adalah faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Semoga dengan memahami dan menerapkan tips bekerja fleksibel, kita semua dapat meraih kesuksesan dunia sekaligus keberkahan akhirat. Karena sejatinya, pekerjaan yang dilakukan dengan niat ibadah akan membawa kebaikan yang berlipat ganda. Di tengah kesibukan kerja yang fleksibel, jangan lupa sisihkan sebagian rezeki untuk berbagi. Konsistensi ibadah tidak hanya soal waktu, tetapi juga tentang kepedulian kepada sesama. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL30/03/2026 | BL-01
Zakat Fi Sabilillah, Membaca Ulang Perintah Kedaulatan Pangan
Zakat Fi Sabilillah, Membaca Ulang Perintah Kedaulatan Pangan
DALAM beberapa waktu terakhir, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat dan memicu kekhawatiran global. Kawasan ini merupakan simpul penting jalur energi dunia, sehingga setiap eskalasi berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak dan gas. Dampaknya tidak berhenti pada sektor energi, tetapi merambat ke sektor yang lebih mendasar: pangan. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi dan distribusi hasil pertanian. Di sisi lain, rantai pasok global yang terkonsentrasi pada titik-titik tertentu menjadikan sistem pangan dunia rentan terhadap guncangan. Bagi banyak negara berkembang, kondisi ini memperbesar risiko inflasi pangan dan kerawanan sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ketergantungan yang tinggi pada impor menjadikan suatu negara rentan terhadap tekanan eksternal. Dalam konteks ini, ketahanan pangan bukan lagi sekadar isu ekonomi, tetapi bagian dari strategi mempertahankan stabilitas dan kedaulatan. Di tengah lanskap krisis tersebut, penting untuk meninjau kembali bagaimana instrumen zakat diposisikan. Salah satu yang krusial adalah alokasi bagian zakat fi sabilillah. Dalam literatur fikih klasik, mayoritas ulama dari ke empat madzhab otoritatif memaknai kategori ini dalam konteks perjuangan mempertahankan komunitas, terutama pada situasi ancaman yang bersifat eksistensial. Namun, perkembangan zaman memunculkan kebutuhan untuk membaca ulang konsep tersebut secara kontekstual. Sebagian ulama kontemporer memanfaatkan adanya perbedaan pedapat dalam sebagian madzhab seperti Hanafi yang dikuti oleh Ibnu Abidin dalam Radd Al Muhtaar meskipun daif, untuk memperluas cakupan fi sabilillah ke berbagai bentuk kemaslahatan publik, termasuk pendidikan, dakwah, dan pembangunan sosial. Perbedaan ini tidak seharusnya dilihat sebagai kontradiksi, melainkan sebagai ruang ijtihad. Tantangannya adalah bagaimana menjaga esensi awalnya—yakni perlindungan terhadap eksistensi umat—sekaligus merespons bentuk ancaman baru yang lebih kompleks, termasuk krisis pangan. Fragmentasi Zakat Dalam praktiknya, distribusi zakat kerap tersebar pada berbagai program yang tidak selalu terhubung dengan prioritas strategis jangka panjang. Bantuan sosial yang bersifat konsumtif seperti beasiswa dan pembangunan Masjid memang penting, tetapi tanpa arah yang jelas, dampaknya cenderung temporer. Demikian pula, alokasi pada sektor-sektor non-strategis tanpa basis kebutuhan mendesak berpotensi menimbulkan fragmentasi pemanfaatan zakat. Persoalannya bukan pada niat baik, melainkan pada absennya kerangka prioritas yang terukur. Dalam konteks krisis global yang semakin kompleks, diperlukan pendekatan yang lebih terarah. Zakat, khususnya pada pos fi sabilillah, dapat diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat sektor-sektor vital yang menopang ketahanan masyarakat, termasuk pangan, agar mendekatkan aspek pertahanan tersebut kepada pendapat mayoritas ulama tentang alokasi zakat fi sabilillah untuk pertahanan. Pendekatan ini sejalan dengan kerangka maqashid syariah yang dirumuskan oleh Al-Ghazali dalam al Mustashfa min ilmi al- Ushul. Ia menegaskan bahwa tujuan syariat adalah menjaga lima aspek utama: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Ketahanan pangan memiliki keterkaitan langsung dengan perlindungan jiwa (nafs) dan harta (mal). Ketika akses terhadap pangan terganggu, bukan hanya kesejahteraan yang terdampak, tetapi juga stabilitas sosial secara keseluruhan. Dengan demikian, penguatan sektor pangan dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kemaslahatan yang bersifat mendasar. Dalam situasi krisis, prioritas terhadap aspek ini bersifat mendesak. Konsep kesiapan (quwwah) dalam ajaran Islam menekankan pentingnya membangun kapasitas untuk menghadapi berbagai bentuk ancaman. Dalam konteks modern, kekuatan tidak hanya diukur dari aspek militer, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlangsungan hidup masyarakat. Kedaulatan pangan merupakan salah satu bentuk konkret dari kapasitas tersebut. Negara atau komunitas yang bergantung pada pasokan eksternal untuk kebutuhan dasar akan lebih rentan terhadap tekanan global. Karena itu, investasi pada sektor pertanian, distribusi pangan, dan cadangan logistik bukan semata kebijakan ekonomi, melainkan bagian dari strategi ketahanan jangka panjang. Mitigasi Krisis Global Dalam kerangka ini, zakat dapat memainkan peran yang lebih strategis jika dikelola secara produktif dan terarah. Transformasi tersebut dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Pertama, penguatan produksi dengan mendukung petani kecil-para petani yang masuk dalam kategori Mustahik-, penyediaan sarana produksi, serta pembangunan infrastruktur pertanian berbasis komunitas. Kedua, integrasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi, mulai dari pengolahan lahan hingga distribusi hasil panen. Ketiga, pembangunan sistem cadangan pangan, baik dalam bentuk lumbung fisik maupun mekanisme distribusi yang tangguh terhadap gejolak pasar. Pelajaran historis tentang pengelolaan surplus dan cadangan pangan, seperti yang tergambar dalam kisah Nabi Yusuf, menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam menghadapi siklus krisis. Pilar Kedaulatan dan Resiliensi Peradaban Krisis global saat ini memperlihatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan pada sistem eksternal dapat menjadi titik lemah yang serius. Dalam situasi seperti ini, kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan pertahanan fisik, tetapi juga kemampuan memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri. Zakat, sebagai instrumen ekonomi umat Islam, memiliki potensi untuk berkontribusi dalam membangun ketahanan tersebut, dikarenakan mayoritas masyarakat merupakan pemeluk Islam. Dengan pengelolaan yang berbasis prioritas dan kebutuhan strategis, zakat dapat menjadi bagian dari solusi terhadap tantangan pangan. Pada akhirnya, kedaulatan pangan bukan sekadar agenda pembangunan, tetapi fondasi bagi stabilitas dan martabat peradaban. Upaya untuk mencapainya memerlukan sinergi antara nilai-nilai normatif dan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika global. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL30/03/2026 | Muhammad Syauqi Al Muhdhar, LC., MA. (Direktur Zakat Study Center).
Begini Tips Atur Jam Kerja dan Ibadah di Bulan Syawal
Begini Tips Atur Jam Kerja dan Ibadah di Bulan Syawal
BULAN Ramadhan telah berlalu, namun semangat ibadah seharusnya tidak ikut meredup. Justru di bulan Syawal, seorang muslim dianjurkan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas ibadahnya. Tantangan terbesar yang sering dihadapi adalah bagaimana menyeimbangkan aktivitas pekerjaan dengan target ibadah yang ingin dicapai. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami tips atur jam kerja agar kehidupan dunia dan akhirat tetap berjalan selaras. Banyak orang kembali sibuk bekerja setelah libur Idul Fitri. Rutinitas kantor, deadline, dan tuntutan pekerjaan sering kali membuat ibadah menjadi terabaikan. Padahal, Syawal adalah momentum penting untuk menjaga konsistensi amalan setelah Ramadhan. Dengan menerapkan tips atur jam kerja, seorang muslim dapat tetap produktif sekaligus menjaga kualitas ibadahnya. Tips Atur Jam Kerja di Bulan Syawal? Bulan Syawal memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah dianjurkannya puasa enam hari. Selain itu, amalan sunnah seperti sedekah, tilawah Al-Qur’an, dan shalat malam tetap dianjurkan untuk dilanjutkan. Tanpa pengaturan waktu yang baik, semua itu bisa sulit dilakukan. Berikut beberapa alasan pentingnya menerapkan tips atur jam kerja: Menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadhan Menghindari kelelahan akibat jadwal yang tidak teratur Meningkatkan produktivitas kerja Menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat Menghindari stres akibat tekanan pekerjaan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (QS. Al-Insyirah: 7) . Ayat ini mengajarkan pentingnya manajemen waktu dalam kehidupan seorang muslim. Ibadah Tetap Optimal 1. Niatkan Kerja sebagai Ibadah Langkah pertama dalam menerapkan tips atur jam kerja adalah memperbaiki niat. Ketika bekerja diniatkan sebagai ibadah, maka setiap aktivitas akan bernilai pahala. Bekerja bukan hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga bentuk tanggung jawab sebagai seorang muslim. Dengan niat yang benar, pekerjaan tidak akan menghalangi ibadah, justru menjadi bagian darinya. 2. Susun Jadwal Harian yang Seimbang Salah satu tips atur jam kerja yang paling efektif adalah membuat jadwal harian. Tentukan waktu khusus untuk: Shalat wajib di awal waktu Tilawah Al-Qur’an Puasa Syawal Waktu istirahat Pekerjaan utama. Dengan jadwal yang jelas, Anda dapat menghindari benturan antara pekerjaan dan ibadah. 3. Manfaatkan Waktu Pagi dengan Maksimal Waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah. Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Tirmidzi). Dalam konteks tips atur jam kerja, memulai pekerjaan lebih awal akan membuat Anda memiliki waktu lebih longgar di sore atau malam hari untuk beribadah. 4. Prioritaskan Pekerjaan Penting Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan sekaligus. Gunakan prinsip prioritas: Kerjakan tugas yang paling penting terlebih dahulu Hindari menunda pekerjaan Gunakan teknik manajemen waktu seperti to-do list Dengan cara ini, Anda bisa menerapkan tips atur jam kerja secara efektif tanpa mengorbankan waktu ibadah. 5. Sisihkan Waktu Khusus untuk Ibadah Sunnah Banyak orang gagal menjaga ibadah karena tidak menyediakan waktu khusus. Padahal, dalam tips atur jam kerja, penting untuk menjadwalkan ibadah seperti: Puasa Syawal Shalat Dhuha Tilawah Al-Qur’an Dzikir pagi dan petang. Dengan menjadwalkannya, ibadah tidak akan terlewatkan. Tips Atur Jam Kerja Karyawan dan Pekerja 1. Gunakan Waktu Istirahat dengan Bijak Waktu istirahat kerja bisa dimanfaatkan untuk: Shalat tepat waktu Membaca Al-Qur’an Berdzikir. Ini adalah bagian penting dari tips atur jam kerja yang sering diabaikan. 2. Hindari Waktu Terbuang Scrolling media sosial tanpa tujuan dapat menghabiskan waktu berharga. Dalam penerapan tips atur jam kerja, penting untuk mengurangi distraksi agar waktu lebih produktif. 3. Jaga Kesehatan Fisik Ibadah dan kerja membutuhkan tubuh yang sehat. Oleh karena itu: Tidur cukup Konsumsi makanan bergizi Olahraga ringan. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari tips atur jam kerja yang efektif. 4. Komunikasikan dengan Lingkungan Kerja Jika memungkinkan, komunikasikan kebutuhan ibadah dengan atasan atau rekan kerja. Misalnya: Izin untuk shalat tepat waktu Penyesuaian jadwal saat puasa Syawal. Dengan komunikasi yang baik, penerapan tips atur jam kerja akan lebih mudah. Menjaga Konsistensi Ibadah di Tengah Kesibukan Kunci utama dari semua tips atur jam kerja adalah konsistensi. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, tidak perlu memaksakan ibadah dalam jumlah besar, tetapi lakukan secara rutin. Contoh Jadwal Harian di Bulan Syawal Berikut contoh sederhana penerapan tips atur jam kerja: 04.30 – Shalat Subuh & dzikir 05.00 – Tilawah Al-Qur’an 06.00 – Persiapan kerja 08.00 – Mulai kerja 12.00 – Shalat Dzuhur 13.00 – Istirahat + ibadah ringan 15.30 – Shalat Ashar 17.30 – Pulang kerja 18.30 – Shalat Maghrib 19.30 – Shalat Isya & ibadah tambahan 21.30 – Istirahat. Jadwal ini bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Tantangan Terapkan Tips Atur Jam Kerja Beberapa tantangan yang sering dihadapi: Rasa malas setelah libur panjang Banyaknya pekerjaan menumpuk Kurangnya disiplin waktu Lingkungan kerja yang kurang mendukung. Namun, semua itu bisa diatasi dengan niat kuat dan komitmen. Konsistensi Tips Atur Jam Kerja Bulan Syawal adalah ujian sejati setelah Ramadhan. Apakah kita mampu mempertahankan ibadah atau kembali pada kebiasaan lama? Dengan menerapkan tips atur jam kerja, seorang muslim dapat menjalani kehidupan yang seimbang antara pekerjaan dan ibadah. Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa banyak amalan yang dilakukan, tetapi seberapa konsisten kita menjaganya. Jadikan tips atur jam kerja sebagai solusi untuk tetap produktif sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga Allah memudahkan kita dalam mengatur waktu dan menerima setiap amal ibadah yang kita lakukan. Di tengah kesibukan kerja, jangan sampai kita melewatkan kesempatan untuk terus berbagi dan memperbanyak amal kebaikan. Jadikan momen Syawal sebagai langkah awal untuk konsisten beribadah, termasuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Salurkan kebaikan Anda melalui BAZNAS agar lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL30/03/2026 | BL-01
Lima Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal, Hayo Tunaikan!
Lima Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal, Hayo Tunaikan!
SEDEKAH Syawal menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah Ramadan. Bulan Syawal bukan sekadar momen perayaan Idul Fitri, tetapi juga menjadi waktu untuk menjaga konsistensi ibadah dan memperkuat kepedulian sosial. Setelah sebulan penuh ditempa dengan puasa, zakat, dan berbagai amal kebaikan, umat Islam didorong untuk tidak berhenti berbuat baik. Salah satu cara terbaik untuk melanjutkan semangat tersebut adalah dengan memperbanyak sedekah bulan Syawal. Amalan ini bukan hanya berdampak pada pahala, tetapi juga mempererat hubungan antarsesama. Dalam Islam, sedekah memiliki keutamaan yang besar, terlebih jika dilakukan di waktu-waktu yang penuh keberkahan. Bulan Syawal menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa kebaikan tidak hanya dilakukan saat Ramadan, tetapi terus berlanjut sepanjang tahun. 1. Menyempurnakan Ibadah Ramadan dengan Sedekah Syawal Salah satu keutamaan utama dari sedekah bulan Syawal adalah sebagai penyempurna ibadah Ramadan. Selama Ramadan, umat Islam berlomba-lomba dalam kebaikan, mulai dari puasa, tarawih, hingga zakat fitrah. Namun, ibadah yang telah dilakukan bisa jadi memiliki kekurangan. Sedekah di bulan Syawal dapat menjadi penutup yang baik untuk menambal kekurangan tersebut. Sebagaimana amal sunnah yang dapat menyempurnakan amal wajib, sedekah menjadi bentuk ibadah lanjutan yang sangat dianjurkan. Dengan terus bersedekah setelah Ramadan, seorang muslim menunjukkan bahwa ibadahnya tidak bersifat musiman, melainkan berkelanjutan. 2. Menjaga Konsistensi Amal Saleh Keutamaan berikutnya dari sedekah bulan Syawal adalah menjaga konsistensi dalam beramal. Salah satu tanda diterimanya amal seseorang adalah kemampuannya untuk terus melakukan kebaikan setelah Ramadan. Banyak orang yang semangat beribadah saat Ramadan, tetapi mulai menurun setelahnya. Di sinilah pentingnya sedekah di bulan Syawal sebagai bentuk komitmen untuk tetap istiqamah. Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, menjaga rutinitas sedekah setelah Ramadan merupakan langkah nyata dalam mengamalkan hadis tersebut. 3. Membuka Pintu Rezeki dan Keberkahan Tidak dapat dipungkiri bahwa sedekah bulan Syawal juga menjadi sebab terbukanya pintu rezeki. Dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadis, disebutkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 bahwa orang yang bersedekah di jalan Allah akan dilipatgandakan pahalanya hingga tujuh ratus kali lipat. Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk menanam kebaikan yang akan berbuah keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan kembali dalam bentuk yang tidak disangka-sangka, baik berupa rezeki, kesehatan, maupun ketenangan hati. 4. Mempererat Ukhuwah Islamiyah Keutamaan lain dari sedekah bulan Syawal adalah mempererat hubungan antar sesama muslim. Setelah Idul Fitri, biasanya masyarakat masih dalam suasana silaturahmi. Sedekah menjadi salah satu sarana untuk memperkuat rasa persaudaraan. Dengan membantu mereka yang membutuhkan, kita tidak hanya meringankan beban orang lain, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan solidaritas sosial. Hal ini sangat penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan penuh kasih sayang. Sedekah tidak selalu dalam bentuk uang. Memberikan makanan, pakaian, atau bahkan bantuan tenaga juga termasuk sedekah yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT. 5. Mendatangkan Ketenangan dan Kebahagiaan Hati Keutamaan terakhir dari sedekah bulan Syawal adalah memberikan ketenangan jiwa. Banyak orang yang merasakan kebahagiaan setelah berbagi dengan sesama. Dalam Islam, kebahagiaan sejati bukan hanya berasal dari harta yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain. Sedekah menjadi jalan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Ketika seseorang bersedekah dengan ikhlas, ia akan merasakan kedamaian batin yang sulit dijelaskan. Hal ini karena sedekah merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama. Tips Mengamalkan Sedekah Bulan Syawal Agar sedekah bulan Syawal bisa dilakukan secara maksimal, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan: Niatkan karena Allah SWT Mulai dari nominal kecil namun rutin Pilih penerima yang benar-benar membutuhkan Lakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menjaga keikhlasan Libatkan keluarga agar menjadi kebiasaan bersama. Dengan menerapkan tips ini, sedekah tidak hanya menjadi amalan sesaat, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup seorang muslim. Jadikan Sedekah Bulan Syawal sebagai Kebiasaan Sedekah bulan Syawal bukan sekadar amalan tambahan setelah Ramadan, tetapi merupakan bentuk nyata dari keberlanjutan ibadah seorang muslim. Melalui sedekah, kita belajar untuk tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap sesama. Keutamaan-keutamaan yang telah dijelaskan menunjukkan bahwa sedekah di bulan Syawal memiliki dampak besar, baik secara spiritual maupun sosial. Oleh karena itu, jangan sampai semangat berbagi yang telah dibangun selama Ramadan hilang begitu saja. Mari jadikan sedekah bulan Syawal sebagai kebiasaan yang terus dilakukan, tidak hanya di bulan ini, tetapi sepanjang hayat. Dengan begitu, kita berharap termasuk dalam golongan orang-orang yang dicintai Allah SWT dan mendapatkan keberkahan hidup di dunia dan akhirat. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL27/03/2026 | BL-01
Amalan Syawal Agar Pahala Ramadhan tak Lenyap
Amalan Syawal Agar Pahala Ramadhan tak Lenyap
BULAN Ramadhan telah berlalu, namun semangat ibadah tidak seharusnya ikut pudar. Justru, bulan Syawal menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk menjaga konsistensi dalam beribadah. Banyak orang yang semangat beribadah saat Ramadhan, tetapi kembali lalai setelahnya. Padahal, menjaga amalan setelah Ramadhan adalah tanda diterimanya ibadah kita. Dalam Islam, terdapat berbagai amalan syawal yang dapat dilakukan untuk mempertahankan pahala dan keberkahan Ramadhan. Amalan-amalan ini tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kesempatan yang telah diberikan selama bulan suci. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang amalan syawal yang bisa Anda lakukan agar pahala Ramadhan tidak lenyap begitu saja. Mengapa Amalan Syawal Itu Penting? Sebelum masuk ke pembahasan utama, penting untuk memahami mengapa amalan syawal sangat dianjurkan. Dalam ajaran Islam, istiqamah atau konsistensi dalam beribadah adalah salah satu tanda keimanan yang kuat. Rasulullah SAW bersabda: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kebiasaan baik setelah Ramadhan jauh lebih penting dibandingkan hanya semangat sesaat. Oleh karena itu, bulan Syawal menjadi ujian nyata apakah kita benar-benar mendapatkan hikmah dari Ramadhan atau tidak. Berikut ini adalah lima amalan syawal yang sangat dianjurkan untuk menjaga pahala Ramadhan: 1. Puasa Syawal Enam Hari Puasa Syawal merupakan salah satu amalan syawal yang paling utama. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim). Puasa ini bisa dilakukan secara berturut-turut atau terpisah selama bulan Syawal. Keutamaannya sangat besar karena pahalanya dilipatgandakan. Selain itu, puasa Syawal juga menjadi tanda bahwa kita masih menjaga kebiasaan ibadah setelah Ramadhan. 2. Menjaga Shalat Sunnah Selama Ramadhan, umat Islam terbiasa melaksanakan shalat Tarawih dan memperbanyak shalat sunnah. Setelah Ramadhan, kebiasaan ini sebaiknya tetap dijaga sebagai bagian dari amalan syawal. Beberapa shalat sunnah yang bisa dilanjutkan antara lain: Shalat Dhuha Shalat Tahajud Shalat Rawatib (qabliyah dan ba’diyah). Dengan menjaga shalat sunnah, kita menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya musiman, tetapi menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. 3. Memperbanyak Sedekah Sedekah tidak hanya dianjurkan di bulan Ramadhan, tetapi juga menjadi salah satu amalan syawal yang sangat penting. Bahkan, bersedekah setelah Ramadhan menunjukkan keikhlasan seseorang dalam beribadah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai." (QS. Al-Baqarah: 261). Sedekah bisa dilakukan dalam berbagai bentuk: Memberi kepada fakir miskin Membantu tetangga Berdonasi untuk kegiatan sosial. 4. Menjaga Silaturahmi Idul Fitri identik dengan tradisi saling memaafkan dan bersilaturahmi. Namun, menjaga hubungan baik tidak boleh berhenti hanya saat Lebaran. Oleh karena itu, menjaga silaturahmi menjadi salah satu amalan syawal yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Bukhari). Silaturahmi bisa dilakukan dengan: Mengunjungi keluarga Menyambung komunikasi dengan kerabat Memperbaiki hubungan yang sempat renggang. 5. Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Selama Ramadhan, banyak umat Islam yang rajin membaca Al-Qur’an. Namun, kebiasaan ini sering menurun setelahnya. Padahal, membaca Al-Qur’an merupakan salah satu amalan syawal yang harus terus dijaga. Tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa cara menjaga interaksi dengan Al-Qur’an: Membaca setiap hari walau sedikit Mengikuti kajian tafsir Menghafal ayat-ayat pendek. Tips Istiqamah dalam Menjalankan Amalan Syawal Menjalankan amalan syawal memang tidak selalu mudah. Berikut beberapa tips agar tetap istiqamah: Mulai dari yang ringan – Tidak perlu langsung banyak, yang penting konsisten Buat jadwal ibadah – Misalnya waktu khusus untuk membaca Al-Qur’an Lingkungan yang mendukung – Berteman dengan orang-orang yang rajin beribadah Niat yang kuat – Luruskan niat hanya karena Allah SWT Berdoa – Meminta kekuatan agar tetap istiqamah. Jadikan Amalan Syawal sebagai Kebiasaan Bulan Syawal bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju istiqamah. Dengan menjalankan berbagai amalan syawal, kita dapat menjaga pahala Ramadhan agar tidak hilang begitu saja. Mulai dari puasa Syawal, menjaga shalat sunnah, memperbanyak sedekah, hingga membaca Al-Qur’an, semuanya adalah bentuk nyata dari keimanan yang berkelanjutan. Sebagai umat Islam, kita harus menjadikan Ramadhan sebagai titik perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Jadikan amalan syawal sebagai jembatan untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang istiqamah dan mendapatkan keberkahan dalam setiap amal ibadah. Aamiin. Syawal adalah momentum untuk menjaga semangat berbagi setelah Ramadhan. Jangan biarkan kebiasaan baik terhenti begitu saja. Jadikan sedekah sebagai rutinitas yang terus hidup dengan menyalurkannya melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak saudara yang membutuhkan. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL27/03/2026 | BL-01
Belum Sempat Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, Ini Cara Melunasinya!
Belum Sempat Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, Ini Cara Melunasinya!
SETELAH menjalani bulan suci Ramadan, umat Islam merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri. Namun, tidak semua kewajiban ibadah telah selesai. Masih ada sebagian umat Muslim yang memiliki tanggungan puasa yang belum ditunaikan, baik karena uzur syar’i maupun alasan lainnya. Dalam kondisi ini, muncul pertanyaan penting: bagaimana cara Bayar Fidyah atau Qadha Puasa yang tertunda? Memahami kewajiban Bayar Fidyah atau Qadha Puasa sangat penting agar ibadah kita tetap sempurna dan sesuai syariat. Islam memberikan kemudahan bagi umatnya dalam mengganti puasa yang ditinggalkan, baik melalui qadha (mengganti puasa di hari lain) maupun fidyah (memberi makan orang miskin). Artikel ini akan membahas secara lengkap cara Bayar Fidyah atau Qadha Puasa di bulan Syawal, sehingga Anda dapat segera melunasi kewajiban dengan tenang dan penuh keberkahan. Wajib Paham, Perbedaan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa Memahami perbedaan antara fidyah dan qadha menjadi langkah awal sebelum menentukan cara Bayar Fidyah atau Qadha Puasa yang tepat. Pertama, Bayar Fidyah atau Qadha Puasa memiliki dasar hukum yang berbeda. Qadha diwajibkan bagi mereka yang masih mampu berpuasa, seperti orang sakit sementara atau wanita yang haid. Sementara fidyah diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti lansia atau penderita sakit kronis. Kedua, dalam praktik Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, qadha dilakukan dengan mengganti puasa di hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan. Sedangkan fidyah dilakukan dengan memberi makan fakir miskin, biasanya satu porsi makanan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Ketiga, penting untuk memahami bahwa tidak semua orang bisa memilih antara Bayar Fidyah atau Qadha Puasa. Ada kondisi tertentu yang mengharuskan seseorang hanya melakukan salah satu di antaranya, sesuai dengan ketentuan syariat. Keempat, dalam kondisi tertentu seperti ibu hamil atau menyusui, ulama berbeda pendapat mengenai kewajiban Bayar Fidyah atau Qadha Puasa. Oleh karena itu, penting untuk mengikuti pendapat ulama yang diyakini atau berkonsultasi dengan ahli agama. Kelima, memahami perbedaan ini membantu kita agar tidak salah dalam Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, sehingga ibadah kita sah dan diterima oleh Allah SWT. Cara Bayar Fidyah atau Qadha Puasa Bulan Syawal menjadi waktu yang tepat untuk mulai melunasi kewajiban Bayar Fidyah atau Qadha Puasa yang tertunda selama Ramadan. Pertama, untuk Bayar Fidyah atau Qadha Puasa dalam bentuk qadha, Anda dapat mulai berpuasa di bulan Syawal setelah Idul Fitri. Puasa ini bisa dilakukan bertahap sesuai kemampuan hingga jumlah hari yang ditinggalkan terpenuhi. Kedua, dalam praktik Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, fidyah dapat dibayarkan dengan memberikan makanan pokok seperti nasi atau bahan makanan kepada fakir miskin. Besarannya biasanya setara dengan satu porsi makanan per hari puasa. Ketiga, Bayar Fidyah atau Qadha Puasa juga bisa dilakukan melalui lembaga amil zakat terpercaya yang akan menyalurkan fidyah kepada yang berhak. Ini menjadi solusi praktis bagi masyarakat modern. Keempat, waktu pelaksanaan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa sebaiknya tidak ditunda terlalu lama. Semakin cepat dilaksanakan, semakin baik agar tidak menumpuk hingga Ramadan berikutnya. Kelima, penting untuk meluruskan niat saat Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, karena niat merupakan bagian utama dalam ibadah agar mendapatkan pahala dari Allah SWT. Hukum Menunda Bayar Fidyah atau Qadha Puasa Banyak orang bertanya tentang hukum menunda Bayar Fidyah atau Qadha Puasa hingga melewati Ramadan berikutnya. Pertama, dalam Islam, menunda Bayar Fidyah atau Qadha Puasa tanpa alasan yang dibenarkan hukumnya tidak dianjurkan, bahkan bisa menjadi dosa menurut sebagian ulama. Kedua, jika seseorang sengaja menunda Bayar Fidyah atau Qadha Puasa hingga Ramadan berikutnya, maka selain wajib qadha, sebagian ulama mewajibkan membayar fidyah sebagai denda. Ketiga, bagi yang memiliki uzur seperti sakit berkepanjangan, maka penundaan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa masih bisa ditoleransi sesuai kondisi. Keempat, penting untuk mencatat jumlah hari yang belum ditunaikan agar tidak lupa dalam Bayar Fidyah atau Qadha Puasa di kemudian hari. Kelima, dengan memahami hukum ini, diharapkan umat Islam lebih disiplin dalam menyegerakan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa. Keutamaan Menyegerakan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa Menyegerakan kewajiban ibadah memiliki banyak keutamaan, termasuk dalam Bayar Fidyah atau Qadha Puasa. Pertama, Bayar Fidyah atau Qadha Puasa yang disegerakan menunjukkan ketaatan dan kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah SWT. Kedua, dengan segera Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, hati menjadi lebih tenang karena tidak memiliki beban ibadah yang tertunda. Ketiga, menyegerakan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa juga membuka peluang mendapatkan pahala lebih besar, terutama jika dilakukan di bulan Syawal yang penuh keberkahan. Keempat, Bayar Fidyah atau Qadha Puasa yang dilakukan tepat waktu mencerminkan sikap disiplin dan tanggung jawab sebagai seorang Muslim. Kelima, keutamaan lainnya adalah terhindar dari risiko lupa atau lalai dalam menunaikan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa. Tips agar Konsisten Bayar Fidyah atau Qadha Puasa Agar tidak menunda lagi, diperlukan strategi dalam melaksanakan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa. Pertama, buat jadwal khusus untuk Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, misalnya menentukan hari-hari tertentu untuk qadha puasa. Kedua, niatkan dengan sungguh-sungguh bahwa Bayar Fidyah atau Qadha Puasa adalah kewajiban yang harus ditunaikan, bukan sekadar pilihan. Ketiga, libatkan keluarga atau teman agar saling mengingatkan dalam menjalankan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa. Keempat, manfaatkan layanan digital atau lembaga zakat untuk mempermudah Bayar Fidyah atau Qadha Puasa. Kelima, selalu berdoa agar dimudahkan dalam melaksanakan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa hingga selesai. Melunasi kewajiban Bayar Fidyah atau Qadha Puasa adalah bagian penting dari kesempurnaan ibadah seorang Muslim setelah Ramadan. Jangan biarkan kewajiban ini tertunda hingga menjadi beban di kemudian hari. Dengan memahami cara, hukum, dan keutamaan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, kita dapat menjalankannya dengan lebih ringan dan penuh kesadaran. Bulan Syawal adalah momentum terbaik untuk memulai dan menyelesaikan tanggungan tersebut. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita semua dalam menunaikan Bayar Fidyah atau Qadha Puasa, serta menerima setiap amal ibadah yang kita lakukan. Jangan tunda lagi kewajiban fidyah yang belum ditunaikan. Di bulan Syawal yang penuh keberkahan ini, Anda bisa menunaikannya dengan mudah dan aman melalui BAZNAS. Selain membantu menyempurnakan ibadah, fidyah yang Anda tunaikan juga akan disalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Yuk, segera tunaikan fidyah serta sempurnakan amal dengan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sekarang juga. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL27/03/2026 | BL-01
Gaji Pertama Pasca Lebaran, Ini Panduan Hitung Zakat Penghasilan
Gaji Pertama Pasca Lebaran, Ini Panduan Hitung Zakat Penghasilan
MOMEN menerima gaji pertama setelah Hari Raya Idul Fitri menjadi saat yang sangat dinanti oleh banyak orang. Selain menjadi tanda kembalinya rutinitas, gaji ini juga membawa keberkahan tersendiri jika dikelola dengan baik, termasuk dengan menunaikan kewajiban zakat. Dalam Islam, zakat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga sarana penyucian harta dan jiwa. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami cara hitung zakat penghasilan dengan benar. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap dan mudah dipahami tentang bagaimana cara hitung zakat penghasilan, mulai dari pengertian, dasar hukum, hingga langkah praktis menghitungnya. Dengan memahami hal ini, diharapkan umat Islam dapat menjalankan kewajiban zakat dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Apa Itu Zakat Penghasilan dan Mengapa Perlu Dihitung? Zakat penghasilan atau zakat profesi adalah zakat yang dikenakan atas pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau profesi, seperti gaji, honorarium, atau upah. Dalam konteks modern, penting bagi setiap muslim untuk memahami cara hitung zakat penghasilan agar tidak terlewat dalam menunaikan kewajiban. Zakat penghasilan menjadi relevan karena banyak umat Islam saat ini memperoleh pendapatan secara rutin dari pekerjaan. Oleh karena itu, memahami cara hitung zakat penghasilan menjadi bagian penting dalam menjaga keberkahan harta. Dalam ajaran Islam, zakat memiliki peran besar dalam membantu sesama dan mengurangi kesenjangan sosial. Dengan mengetahui cara hitung zakat penghasilan, seorang muslim dapat berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan umat. Selain itu, zakat juga berfungsi sebagai pembersih harta. Dengan rutin hitung zakat penghasilan, kita memastikan bahwa harta yang kita miliki bersih dari hak orang lain yang membutuhkan. Maka dari itu, penting bagi setiap muslim, terutama yang baru menerima gaji pertama pasca Lebaran, untuk mulai belajar dan membiasakan diri dalam hitung zakat penghasilan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dasar Hukum Zakat Penghasilan dalam Islam Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu. Dalam konteks modern, ulama sepakat bahwa zakat penghasilan termasuk dalam kategori zakat yang wajib, sehingga penting untuk memahami cara hitung zakat penghasilan. Dasar hukum zakat terdapat dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam QS. Al-Baqarah ayat 267 yang memerintahkan umat Islam untuk menafkahkan sebagian dari hasil usaha yang baik. Ayat ini menjadi landasan penting dalam hitung zakat penghasilan. Selain itu, terdapat pula hadis Nabi Muhammad SAW yang mendorong umat Islam untuk berbagi dari harta yang dimiliki. Oleh karena itu, memahami cara hitung zakat penghasilan menjadi bagian dari implementasi ajaran tersebut. Para ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi juga menegaskan pentingnya zakat profesi. Dalam pandangannya, setiap muslim yang memiliki penghasilan wajib untuk hitung zakat penghasilan jika telah memenuhi syarat. Dengan dasar hukum yang kuat ini, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk mengabaikan kewajiban zakat. Justru, dengan memahami cara hitung zakat penghasilan, kita dapat menjalankan ibadah dengan lebih sempurna. Cara Hitung Zakat Penghasilan, Mudah dan Tepat Langkah pertama dalam hitung zakat penghasilan adalah mengetahui apakah penghasilan kita telah mencapai nisab. Nisab zakat penghasilan biasanya disetarakan dengan 85 gram emas per tahun. Jika penghasilan bulanan kita telah mencapai atau melebihi nisab, maka kita wajib untuk hitung zakat penghasilan sebesar 2,5 persen dari total pendapatan. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki penghasilan Rp10 juta per bulan, maka cara hitung zakat penghasilan adalah 2,5 persen dari jumlah tersebut, yaitu Rp250.000. Dalam praktiknya, ada dua cara hitung zakat penghasilan, yaitu secara bruto (langsung dari penghasilan) atau netto (setelah dikurangi kebutuhan pokok). Keduanya diperbolehkan sesuai dengan pendapat ulama. Agar lebih mudah dan konsisten, disarankan untuk langsung memotong zakat setiap menerima gaji. Dengan demikian, proses hitung zakat penghasilan menjadi lebih praktis dan tidak memberatkan. Waktu dan Niat Membayar Zakat Penghasilan Zakat penghasilan dapat dibayarkan setiap bulan saat menerima gaji. Oleh karena itu, penting untuk memahami waktu yang tepat dalam hitung zakat penghasilan agar tidak tertunda. Niat juga menjadi bagian penting dalam ibadah zakat. Saat melakukan hitung zakat penghasilan, seorang muslim harus meluruskan niat hanya karena Allah SWT. Membayar zakat tepat waktu menunjukkan kedisiplinan dan kepedulian terhadap sesama. Dengan rutin hitung zakat penghasilan, kita juga membangun kebiasaan baik dalam pengelolaan keuangan. Selain itu, zakat yang dibayarkan secara rutin akan memberikan dampak yang lebih besar bagi penerima manfaat. Oleh karena itu, konsistensi dalam hitung zakat penghasilan sangat dianjurkan. Dengan memahami waktu dan niat yang benar, proses hitung zakat penghasilan tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga menjadi amalan yang penuh keberkahan. Manfaat bagi Kehidupan Dunia dan Akhirat Salah satu manfaat utama dari hitung zakat penghasilan adalah membersihkan harta dari hal-hal yang tidak baik. Ini menjadikan harta lebih berkah dan bermanfaat. Selain itu, zakat juga membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan rutin hitung zakat penghasilan, kita turut serta dalam mengurangi kemiskinan. Zakat juga memberikan ketenangan batin bagi yang menunaikannya. Dengan melakukan hitung zakat penghasilan, seseorang akan merasa lebih ringan dan tenang. Dari sisi spiritual, zakat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, hitung zakat penghasilan menjadi bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada-Nya. Pada akhirnya, manfaat terbesar dari hitung zakat penghasilan adalah pahala yang berlipat ganda di akhirat. Ini menjadi investasi terbaik bagi setiap muslim. Mulai Hitung Zakat Penghasilan dari Sekarang Gaji pertama setelah Lebaran bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga kesempatan untuk berbagi dan beribadah. Dengan memahami cara hitung zakat penghasilan, kita dapat mengelola rezeki dengan lebih bijak. Sebagai muslim, sudah sepatutnya kita menjadikan zakat sebagai bagian dari gaya hidup. Dengan rutin hitung zakat penghasilan, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menyucikan diri. Jangan menunda untuk belajar dan mempraktikkan hitung zakat penghasilan. Semakin cepat kita memulai, semakin besar manfaat yang akan kita rasakan. Mari jadikan momen gaji pertama pasca Lebaran sebagai awal yang baik untuk istiqamah dalam berzakat. Dengan begitu, setiap rupiah yang kita terima akan membawa keberkahan. Syawal adalah momentum untuk menjaga semangat berbagi setelah Ramadhan. Jangan biarkan kebiasaan baik terhenti begitu saja. Jadikan sedekah sebagai rutinitas yang terus hidup dengan menyalurkannya melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak saudara yang membutuhkan. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL27/03/2026 | BL-01
Langgar Aturan, Ini Sanksi Amil dalam Penyaluran Zakat!
Langgar Aturan, Ini Sanksi Amil dalam Penyaluran Zakat!
PENYALURAN zakat kepada delapan asnaf (golongan yang berhak) bukan sekadar tugas teknis, melainkan amanah besar yang memiliki konsekuensi hukum dan spiritual. Jika seorang Amil atau lembaga pengelola zakat tidak menyalurkan zakat atau menyalurkannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat, maka terdapat tiga lapis konsekuensi yang harus dihadapi: 1. Sanksi Secara Syariat Islam Dalam pandangan fikih, Amil adalah wakil dari mustahik. Jika Amil sengaja menahan atau salah dalam mendistribusikan zakat, maka: - Berdosa Besar: Karena menghalangi hak fakir miskin dan asnaf lainnya yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an (QS. At- Taubah: 60). - Kewajiban Ganti Rugi (Dhamman): Amil secara pribadi atau lembaga wajib mengganti dana yang salah sasaran tersebut menggunakan harta sendiri untuk kemudian diserahkan kepada asnaf yang benar. - Gugurnya Sifat Amanah: Amil tersebut kehilangan kredibilitas dan tidak lagi dianggap sah secara syar'i untuk mengelola harta umat. 2. Menurut Hukum Negara (UU No. 23 Tahun 2011) Pemerintah Indonesia mengatur pengelolaan zakat secara ketat untuk melindungi hak-hak masyarakat. Berdasarkan Pasal 39 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat: Setiap orang yang dengan sengaja bertindak sebagai Amil dan tidak menyalurkan zakat sesuai dengan syariat Islam dapat dikenai pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun. Selain pidana penjara, pelanggar juga dapat dikenai denda paling banyak sebesar Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah). 3. Ketentuan Peraturan BAZNAS dan Audit Syariah BAZNAS selaku koordinator pengelola zakat nasional menerapkan standar kepatuhan yang ketat bagi seluruh Organisasi Pengelola Zakat (OPZ): - Pencabutan Izin: Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang terbukti menyalurkan dana tidak sesuai 8 asnaf akan mendapatkan peringatan keras hingga pencabutan izin operasional. - Predikat Tidak Patuh: Melalui Audit Syariah yang dilakukan oleh Kementerian Agama, lembaga yang melanggar akan dinyatakan "Tidak Patuh Syariah", yang merusak reputasi lembaga di mata publik. - Sanksi Disiplin: Bagi personil Amil, pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran kode etik berat yang berujung pada pemberhentian tidak hormat. Menjadi Amil berarti memegang mandat ketuhanan dan mandat undang-undang. Transparansi dalam memastikan zakat sampai ke tangan yang tepat (8 asnaf) adalah kunci agar pengelolaan zakat tetap berkah dan terlindungi dari jeratan hukum duniawi maupun ukhrawi. Ingat! Zakat yang dihimpun disalurkan, pada delapan ashnaf (golongan) sebagaimana diatur dalam Surat Al-Taubah ayat 60. Delapan ashnaf itu terdiri atas: fakir (orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dasar), miskin (orang yang punya pekerjaan tapi hasilnya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari), amil (petugas yang sesuai dengan ketentuan ditetapkan sebagai pengelola zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), riqab (hamba sahaya), gharimin (orang yang terlilit hutan), fisabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah), dan ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan). *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL23/03/2026 | BL-01
Bayar Utang Puasa Sekaligus Puasa Syawal, Bolehkah? Ini Penjelasannya!
Bayar Utang Puasa Sekaligus Puasa Syawal, Bolehkah? Ini Penjelasannya!
MEMASUKI bulan Syawal, semangat beribadah umat Islam di Kabupaten Majalengka biasanya tetap tinggi. Salah satu amalan yang paling dikejar adalah Puasa Sunnah Enam Hari di Bulan Syawal, yang menurut hadits Rasulullah SAW, pahalanya setara dengan berpuasa setahun penuh. Namun, muncul pertanyaan klasik yang sering membingungkan masyarakat: “Bagaimana jika saya masih memiliki utang puasa Ramadhan (Qadha)? Bolehkah saya menggabungkan niat puasa Qadha dengan puasa Syawal sekaligus?” Mendahulukan Kewajiban atau Mengejar Kesunahan? Secara syariat, orang yang tidak berpuasa Ramadhan karena uzur (sakit, perjalanan jauh, haid, atau nifas) wajib menggantinya di hari lain. Mengutip penjelasan Ustadz Alhafiz Kurniawan melalui kitab Mughnil Muhtaj karya Al-Khatib As-Syarbini, terdapat beberapa poin penting: Pahala "Setahun Penuh" Ada SyaratnyaHadits Nabi menyebutkan pahala setahun penuh didapat bagi mereka yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari Syawal. Artinya, idealnya puasa Ramadhan harus tuntas terlebih dahulu sebelum memulai puasa sunnah. Hukum Menggabungkan NiatMelaksanakan puasa wajib (Qadha) di bulan Syawal memang tetap mendatangkan keutamaan berpuasa di bulan tersebut. Namun, para ulama berpendapat bahwa orang tersebut tidak mendapatkan pahala khusus "setara setahun", karena tidak memenuhi kriteria berpuasa Ramadhan secara penuh sebelum memulai Syawal. Status Hukum (Haram & Makruh)Haram hukumnya mendahulukan puasa sunnah bagi yang sengaja meninggalkan Ramadhan tanpa uzur. Sedangkan bagi yang memiliki uzur syar'i, mendahulukan sunnah sebelum Qadha dihukumi makruh. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menyelesaikan utang puasa (Qadha) terlebih dahulu agar ibadah kita lebih sempurna dan tenang. Sembari menuntaskan kewajiban puasa, mari sempurnakan ketaatan dengan berbagi kepada sesama. BAZNAS Kabupaten Majalengka hadir sebagai jembatan kebaikan untuk menyalurkan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) Anda. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL23/03/2026 | BL-01
BAZNAS Ingatkan Etika Pengurus Zakat dalam Mengelola ZIS
BAZNAS Ingatkan Etika Pengurus Zakat dalam Mengelola ZIS
MENJAGA kepercayaan umat adalah kunci utama dalam pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Dalam sebuah penguatan kapasitas pengelolaan dana umat, ditekankan pentingnya menjaga mentalitas pengurus agar tidak terjebak dalam "penyakit" psikologis yang merusak pahala dan amanah. Penyakit Amil: Merasa Memiliki Hak Mutlak Sering kali muncul anggapan keliru di kalangan petugas lapangan atau amil bahwa mereka memiliki hak penuh untuk menentukan nasib harta zakat yang mereka terima. Padahal, secara syariat, amil hanyalah jembatan atau perantara (wasilah) antara pemberi (Muzakki) dan penerima (Mustahik). Penyakit utama yang harus dihindari adalah merasa memiliki hak lebih atau merasa paling berjasa atas terkumpulnya dana tersebut. Landasan Syariat: Hak yang Dibatasi Islam telah mengatur dengan sangat rinci melalui Al-Qur'an dan Hadis bahwa porsi amil adalah kompensasi atas waktu dan tenaga, bukan kepemilikan tanpa batas. 1. Dalil Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 60). "Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, dan pengelola-pengelola zakat (amil) ..." Pelajaran: Kata Amilina Alaiha menunjukkan tugas profesional. Para ulama fiqh menekankan bahwa bagian amil tidak boleh melampaui batas kewajaran atau standar yang ditetapkan lembaga otoritas (maksimal 1/8 atau 12,5% dari total perolehan). 2. Hadis Peringatan Gratifikasi (HR. Bukhari & Muslim). Rasulullah SAW pernah menegur keras seorang petugas zakat bernama Ibnu Luthbiyyah yang menerima "hadiah" pribadi di luar tugasnya. Nabi bersabda: "Mengapa ia tidak duduk saja di rumah bapaknya atau ibunya, lalu ia melihat apakah ia akan diberi hadiah atau tidak?" Makna: Hadis ini menjadi pengingat bahwa segala fasilitas atau kelebihan yang diterima pengurus zakat karena jabatannya adalah milik umat, bukan milik pribadi. Etika Pengurus dalam Mengelola ZIS Untuk menghindari penyimpangan, pengurus zakat di Provinsi Lampung diharapkan memegang teguh tiga prinsip utama: - Niat sebagai Pelayan: Menyadari bahwa posisi amil adalah pelayan bagi orang miskin dan mitra bagi orang kaya. - Transparansi Digital: Memanfaatkan sistem pencatatan digital untuk meminimalkan celah penyalahgunaan dana secara manual. - Bebas dari Kepentingan Pribadi: Tidak mendistribusikan zakat berdasarkan kedekatan personal, melainkan murni berdasarkan skala prioritas delapan asnaf. "Zakat bukan sekadar angka di atas kertas, tapi titipan langit yang harus sampai ke tangan yang berhak tanpa berkurang sepeser pun karena ego pengelolanya." *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL23/03/2026 | BL-01
Diera Sahabat Nabi Muhammad Juga Pernah Berbeda Menentukan Idul Fitri
Diera Sahabat Nabi Muhammad Juga Pernah Berbeda Menentukan Idul Fitri
PERBEDAAN dalam menetapkan hari raya Idul Fitri telah terjadi sejak masa sahabat dan para tabiin Nabi Muhammad saw. Kendati terdapat perbedaan dalam menentukan jatuhnya hari raya Id, namun umat muslim pada masa lalu tetap saling menghormati. Ada sebuah riwayat yang menjelaskan tentang Kuraib bin Abi Muslim atau Abu Rusydain seorang dari generasi tabiin yang melakukan perjalanan dari Madinah ke Syam. Sesampainya di Syam, Kuriabi mendapati datangnya bulan Ramadan. Ia dan penduduk Syam melihat hilal pada hari Jumat. Setelah urusannya di Syam selesai, Kuraib memutuskan untuk kembali ke Madinah. Ia pun sampai di Madinah pada akhir bulan Ramadan. Lalu Kuraib menemui sahabat Ibnu Abbas atau Abdullah bin Abbas. Kuraib pun bercerita padanya bahwa penduduk Syam melihat hilal pada hari Jumat. Sementara Ibnu Abbas dan penduduk Madinah melihat hilal pada hari Sabtu. Karna itu Kuraib pun bertanya kepada Ibnu Abbas tentang mengapa Ibnu Abbas dan penduduk Madinah tidak ikut Muawiyah di Syam. Ibnu Abbas menjawab bahwa dirinya dan penduduk Madinah melihat hilal pada hari Sabtu. “Dari Kuraib: Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Berkata Kuraib: Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku (bulan) Ramadan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadln), lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadan)? Jawabku: “Kami melihatnya pada malam Jum’at”. Ia bertanya lagi: “Engkau melihatnya (sendiri) ?” Jawabku: “Ya! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah Puasa”. Ia berkata: “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah (penglihatan) dan puasanya Mu’awiyah? Jawabnya : “Tidak! Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami”. Penentuan 1 Syawal mesti dilakukan melalui pengamatan yang hati-hati atau berdasarkan ilmu, yakni falak. Adanya beberapa metode dalam menentukan awal bulan kamariah kadang kala menyebabkan perbedaan waktu hari raya. Kisah perbedaan waktu Idul Fitri itu tertuang dalam sebuah hadis yang telah disinggung para ahli hadis. Misalnya, Muslim (3/126), Abu Dawud (No. 2332), Nasa’i (4/105-106), Tirmidzi (No. 689), Ibnu Khuzaimah (No. 1916), Daruquthni (2/171), Baihaqy (4/251) dan Ahmad (Al-Fathur-Rabbaani 9/270). *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL18/03/2026 | BL-01
Lebaran di Era Digital, Sahkah Silaturahmi Hanya Via WhatsApp?
Lebaran di Era Digital, Sahkah Silaturahmi Hanya Via WhatsApp?
GEMA takbir telah berkumandang, menandai kemenangan setelah sebulan penuh kita berpuasa. Di tengah keriuhan hari raya, muncul sebuah fenomena modern: fenomena "Lebaran Online". Jempol seolah bekerja lebih cepat daripada langkah kaki, mengirimkan ucapan Minal Aidin wal Faizin ke berbagai grup WhatsApp dan media sosial. Namun, muncul pertanyaan di benak kita: Bagaimana pandangan Islam mengenai silaturahmi yang hanya dilakukan lewat layar ponsel? BAZNAS Provinsi Lampung merangkum ulasannya untuk Sahabat Zakat sekalian. 1. Silaturahmi Online: Hukumnya Sah dan Diperbolehkan Dalam kacamata fikih, silaturahmi melalui media sosial atau WhatsApp hukumnya adalah boleh dan sah. Merujuk pada pemikiran Imam Zakariya al-Anshari, menyambung tali persaudaraan melalui perantara (termasuk teknologi) dianggap sah untuk menggugurkan kewajiban menyambung silaturahmi yang terputus. Hal ini menjadi solusi mulia bagi mereka yang memiliki uzur syar’i, seperti: Jarak tempuh yang sangat jauh (merantau). Kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Keterbatasan waktu yang mendesak. 2. Mengapa Tatap Muka Tetap Menjadi Sang Primadona? Meski teknologi memudahkan, Islam tetap menempatkan silaturahmi fisik (tatap muka) pada derajat yang lebih tinggi. Mengapa demikian? Keutamaan yang Lebih Afdal: Bertemu langsung memiliki nilai pahala dan kemuliaan yang lebih besar dibandingkan sekadar teks digital. Kehangatan Adab: Ada keberkahan dalam jabat tangan. Rasulullah SAW bersabda bahwa dua orang Muslim yang bertemu lalu bersalaman, maka dosa keduanya diampuni sebelum mereka berpisah. Sentuhan Emosional: Tatap muka memperkuat Ukhuwah Islamiyah secara batiniah, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh emoticon secanggih apa pun. 3. Etika Berlebaran di Media Sosial Jika memang kondisi memaksa kita untuk berlebaran via gadget, pastikan kita tetap menjaga adab agar esensi Idulfitri tidak hilang: Niat yang Tulus: Jangan sekadar "copy-paste" pesan untuk menggugurkan kewajiban. Niatkan tulus untuk menyambung kasih sayang. Pesan Personal Lebih Baik: Mengirim pesan secara pribadi (japri) jauh lebih menghargai penerima dibandingkan pesan siaran (broadcast) massal yang terasa kaku. Jaga Lisan Digital: Hindari ghibah, pamer (riya), atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya di hari yang suci ini. Kesimpulan: Media sosial adalah jembatan, namun jangan biarkan ia menjadi tembok. Jika kerabat masih berada dalam satu kota (misalnya sama-sama di wilayah Lampung, dan Anda sehat walafiat, sempatkanlah untuk berkunjung. Namun, jika jarak memisahkan, manfaatkan teknologi dengan penuh adab dan ketulusan. Mari jadikan momentum Idulfitri ini untuk saling memaafkan dan berbagi kebahagiaan. Jangan lupa, sempurnakan kesucian hari raya dengan menunaikan Zakat Fitrah dan Sedekah melalui lembaga resmi agar manfaatnya terasa bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan di seluruh pelosok Lampung. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL18/03/2026 | BL-01
Revolusi Digital: BAZNAS Lampung Hadirkan Kalkulator Zakat, Kini Hanya Sekali Klik!
Revolusi Digital: BAZNAS Lampung Hadirkan Kalkulator Zakat, Kini Hanya Sekali Klik!
Lampung — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Lampung resmi menambah fitur kalkulator zakat digital. Ini untuk memudahkan masyarakat menghitung kewajiban zakat mal secara presisi. Inovasi teknologi ini hadir sebagai solusi praktis bagi para muzaki dalam menunaikan kewajiban agama di era modern. Masyarakat dapat mengakses fitur ini melalui portal resmi Kantor Digital di alamat www.lampung.baznas.go.id. Setelah masuk ke halaman utama, pengguna cukup memilih menu "Kalkulator Zakat" untuk memulai proses penghitungan zakat yang sangat cepat dan akurat. Tampilan antarmuka kalkulator ini sangat ramah pengguna dengan kolom isian gaji per bulan serta penghasilan lainnya. Sistem akan otomatis menjumlahkan total pendapatan bulanan Anda untuk dibandingkan dengan nilai ambang batas minimal atau nisab. Dalam aplikasi tersebut, nilai nisab telah disetel sebesar Rp91.681.728 per tahun atau setara dengan Rp7.640.144 per bulan. Angka ini menjadi acuan utama sistem untuk menentukan apakah harta Anda sudah wajib dikenakan zakat. Sistem canggih ini dirancang multifungsi untuk menghitung berbagai jenis zakat, mulai dari zakat penghasilan, emas, hingga zakat perdagangan dan perusahaan. Fitur lengkap tersebut memastikan seluruh aspek harta kekayaan umat dapat terhitung sesuai dengan ketentuan syariat. Ketua BAZNAS Provinsi Lampung, Iskandar Zulkarnain menjelaskan fitur ini membantu pemberi zakat (muzaki) menghitung kadar sesuai nisab. Iskandar menekankan pentingnya akurasi dalam berzakat agar distribusi bantuan bagi mustahik di Lampung menjadi lebih optimal. “Kantor Digital BAZNS Provinsi Lampung ini juga terkoneksi dengan aplikasi Lampung-In (aplikasi resmi milik Pemprov Lampung),” jelas dia, belum lama ini. Masih menurut Iskandar, penetapan zakat mal (penghasilan) merujuk pada Keputusan Ketua BAZNAS RI Nomor 15 Tahun 2026 tertanggal 21 Februari 2026. Standar nisab tersebut didasarkan pada nilai 85 gram emas. Kalkulator digital ini sudah siap dioperasikan oleh para petugas, terutama bagi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Masjid di seluruh wilayah. Lampung. Fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme pelayanan zakat di tingkat desa, kelurahan hingga tingkat kecamatan dan kabupaten dan kota se-Lampung. Panduan Penggunaan Kalkulator Zakat Kini, menghitung zakat mal tidak lagi rumit. Ikuti langkah-langkah sederhana di bawah ini untuk memastikan perhitungan harta Anda akurat sesuai dengan SK Ketua BAZNAS RI Nomor 15 Tahun 2026 sebagai berikut: 1. Akses Kantor Digital Buka peramban (browser) di ponsel atau komputer Anda, lalu kunjungi situs resmi BAZNAS Provinsi Lampung di: www.lampung.baznas.go.id 2. Pilih Menu Kalkulator Zakat Pada halaman utama portal Kantor Digital, cari dan klik ikon atau tombol bertuliskan "Kalkulator Zakat". Anda akan diarahkan ke halaman simulasi perhitungan yang tampilannya serupa dengan gambar di atas. 3. Pilih Jenis Zakat Kalkulator ini menyediakan beberapa pilihan kategori zakat. Pastikan Anda memilih tab yang sesuai dengan harta yang akan dihitung: - Zakat Penghasilan: Untuk gaji bulanan atau pendapatan rutin. - Zakat Emas/Perak: Untuk simpanan logam mulia. - Zakat Perdagangan: Untuk aset bisnis dan perusahaan. 4. Masukkan Data Pendapatan Pada kolom yang tersedia, isi data keuangan Anda: - Gaji per Bulan: Masukkan nominal pendapatan tetap bulanan Anda. - Penghasilan Lain-lain: Masukkan pendapatan tambahan (bonus, tunjangan, atau hasil sampingan) jika ada. Sistem akan secara otomatis menjumlahkan di kolom Jumlah Penghasilan per Bulan. 5. Pantau Batas Nisab Lihat pada kolom Nisab per Bulan. Jika jumlah penghasilan Anda di atas Rp 7.640.144, maka Anda sudah termasuk wajib zakat (muzaki). 6. Proses Hitung dan Pembayaran Klik tombol kuning "Hitung Zakat" untuk melihat nominal zakat yang harus dikeluarkan (2,5%). Jika Anda ingin langsung menunaikan, klik tombol hijau "Bayar Zakat" untuk dialihkan ke metode pembayaran digital yang aman. Tips untuk Petugas UPZ: "Gunakan kalkulator ini saat melayani jamaah di masjid agar perhitungan transparan dan dapat langsung disaksikan oleh muzaki. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan umat terhadap pengelolaan zakat di “Lampung juga di Indonesia. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL18/03/2026 | BL-01
Zakat, Akuntabilitas, dan Ujian Tata Kelola Baznas
Zakat, Akuntabilitas, dan Ujian Tata Kelola Baznas
BEBERAPA waktu terakhir, wacana perubahan standar nisab zakat dari emas 24 karat menjadi 14 karat yang diutarakan oleh Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bukan hanya menggugah diskusi fikih, tetapi juga memicu perdebatan publik di kalangan akademisi, ulama, dan praktisi filantropi Islam. Tujuan wacana itu adalah memperluas basis muzakki dan meningkatkan penghimpunan zakat nasional. Namun sementara fokus publik tertuju pada angka nisab, persoalan yang jauh lebih mendasar sering terabaikan: apakah problem utama pengelolaan zakat di Indonesia benar-benar soal nisab, atau justru soal tata kelola lembaganya? Fokus yang sempit berisiko mengabaikan isu lain yang tak kalah fundamental: akuntabilitas, transparansi, dan ketepatan distribusi zakat sesuai syariat dan kemaslahatan umat. Potensi zakat Indonesia: antara statistik dan realitas Kajian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Strategis (Puskas) Baznas memperkirakan bahwa potensi zakat Indonesia bisa mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Namun realisasi yang berhasil dikelola oleh Baznas bersama lembaga amil zakat lainnya masih jauh di bawah potensi tersebut. Kesenjangan ini sering dijelaskan hanya sebagai akibat rendahnya literasi zakat. Ini benar, tetapi tidak cukup. Dalam praktiknya, kepercayaan publik terhadap lembaga pengelola zakat adalah faktor krusial lain yang menentukan seberapa besar potensi tersebut berhasil direalisasikan. Zakat bukan sekadar kewajiban finansial. Ia adalah amanah moral dan spiritual, sehingga muzakki menuntut kepastian bahwa zakatnya disalurkan kepada mustahik yang paling berhak dan berdampak nyata secara sosial. Secara administratif, Baznas memang rutin melaporkan keuangannya. Laporan keuangan nasional dan beberapa laporan Baznas daerah diaudit oleh kantor akuntan publik dan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Ini adalah tanda bahwa pencatatan akuntansi dilakukan sesuai standar. Namun kritik utama yang layak disampaikan bukanlah pada aspek akuntansi itu sendiri, karena laporan yang diaudit merupakan kebutuhan tata kelola modern. Kritik yang lebih tajam perlu diarahkan pada batasan audit yang ada: audit saat ini hampir sepenuhnya berfokus pada audit keuangan, bukan pada ketepatan program dalam kacamata syariat dan dampak sosial. Audit keuangan memang diperlukan untuk memastikan dana dicatat dengan benar. Tetapi ia belum menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting bagi umat Islam: Apakah zakat benar-benar sampai kepada mustahik secara tepat? Apakah skema distribusi program sesuai dengan maqashid/ tujuan tujuan syariat zakat? Apakah distribusi zakat memberi dampak nyata dalam proses pengentasan jumlah mustahik dari masa ke masa? Dalam tradisi fikih Islam, distribusi zakat yang tepat merupakan bagian integral dari syariat zakat itu sendiri. Contoh yang sering diabaikan selain kriteria mustahik adalah cakupan wilayah pembagian zakat. Ulama mazhab Syafi'i seperti Imam al-Nawawi menegaskan dalam al-Majmu’ bahwa zakat sebaiknya disalurkan terlebih dahulu kepada mustahik lokal sebelum dialihkan ke luar wilayah, kecuali terdapat kebutuhan yang lebih mendesak. Audit yang hanya menilai laporan keuangan seperti "benar" atau "sesuai standar" tidak dapat menjawab persoalan ini. Oleh sebab itu, Yang dibutuhkan adalah audit berbasis syariat dan dampak sosial yang menilai ketepatan program, bukan sekadar pencatatan angka. Baznas daerah Sebuah kelemahan struktural yang tak boleh diabaikan adalah kecenderungan tata kelola yang terlalu bersifat top–down. Padahal dalam praktik sosial umat Islam, zakat memiliki karakter lokal dan berbasis komunitas. Muzakki dan mustahik pada umumnya berada dalam ruang sosial yang sama. Karena itu, Baznas daerah adalah core sekaligus ujung tombak pengelolaan zakat. Dana zakat yang dihimpun di suatu daerah seharusnya diprioritaskan untuk mustahik di wilayah tersebut sebelum dialokasikan ke daerah lain atau ke pusat. Prinsip ini memiliki landasan kuat dalam tradisi fikih klasik. Selain alNawawi, ulama seperti Ibn Hajar alHaytami di dalam Tuhfah Al Muhtaaj juga menegaskan pentingnya mendahulukan mustahik lokal dalam distribusi zakat. Pendekatan ini bukan hanya syar’i, tetapi juga pragmatis: Baznas daerah - lazimnya, bila menjalankan tugas sensus dan studi lapangan- memahami karakter sosial, kebutuhan riil, dan profil mustahik pada cakupan wilayah distribusi atau wilayah kerjanya. Pendekatan semacam ini mampu meningkatkan efektivitas program secara signifikan sebab setiap daerah dapat memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mengentaskan problematika sosial yang dimiliki para Mustahik, utamanya Fakir Miskin sebagai puncak piramida dari delapan Asnaf mustahik zakat. Fikih prioritas: Dari bantuan simbolik ke pemberdayaan strukturalSelain berbasis wilayah, distribusi zakat idealnya mengikuti prinsip fikih prioritas (fiqh al-awlawiyyat). Konsep ini dikembangkan secara konseptual oleh ulama kontemporer seperti Yusuf alQaradawi, meskipun asas dan dasar dasarnya telah diletakkan jauh sebelumnya oleh Al Ghazali dan As Syathibi, konsep fiqih alawlawiyat menegaskan bahwa kebijakan sosial harus diarahkan pada skala prioritas kemaslahatan dengan pertimbangan yang dapat diukur dampaknya. Dalam konteks zakat, ini menuntut agar dana tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan konsumtif jangka pendek -bahkan praktek zakat maal yang dikonversikan dalam bentuk bantuan sembako tidak dapat dibenarkan dalam kacamata fikih- , tetapi juga pada program pemberian bagian mustahik dengan tujuan pemberdayaan ekonomi, penguatan usaha mikro, dan intervensi struktural di wilayah tempat mustahik berada. Tanpa skala prioritas yang jelas, zakat berisiko menjadi bantuan simbolik yang bersifat sesaat dan tidak mengubah struktur kemiskinan secara berkelanjutan, sebuah paradoks ketika zakat justru diharapkan menjadi instrumen keadilan sosial. Reformasi tata kelola zakat yang substantif juga memerlukan rencana kerja tahunan yang terukur dan berbasis data. Dokumen ini harus memuat target penghimpunan, strategi distribusi, hasil yang diharapkan, indikator dampak sosial, serta mekanisme evaluasi yang transparan dan dapat di akses luas oleh publik sebagai komitmen penguatan literasi dan tujuan zakat oleh badan pengelola. Audit tidak boleh berhenti pada audit keuangan. Ia harus berkembang menjadi audit program, yang menilai: Sejauh mana distribusi zakat tepat sasaran, apakah program telah efektif mengurangi kemiskinan, apakah mustahik yang paling berhak seperti kaum rentan, lansia dan difabel mendapatkan prioritas manfaat utama? Ketiadaan audit program semacam ini adalah celah besar dalam tata kelola lembaga zakat modern. Membangun kembali kepercayaan publik Ajakan Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar agar masyarakat menyalurkan zakat melalui lembaga resmi adalah langkah yang rasional. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada satu faktor utama: kepercayaan publik terhadap tata kelola lembaga zakat. Kepercayaan tidak dibangun oleh slogan di atas mimbar atau imbauan administratif, melainkan oleh praktik sehari-hari yang transparan, akuntabel, dan berdampak nyata bagi mustahik. Perdebatan mengenai standar nisab dan landasan syar’i nya memang menjadi pertanyaan besar. Namun hal tersebut jangan sampai mengalihkan perhatian dari masalah yang jauh lebih mendasar: tata kelola zakat yang profesional, tepat secara syariat, dan berdampak sosial jelas. Pengelolaan zakat tidak ditentukan oleh besarnya dana yang berhasil dihimpun, tetapi oleh sejauh mana dana itu dikelola secara amanah, transparan, dan efektif dalam mengatasi kemiskinan struktural, kepayahan mustad’afin yang sudah digariskan syariat untuk dientaskan melalui zakat yang wajib dikeluarkan dan diberikan kepada mereka yang berhak. Jika distribusi zakat lokal diprioritaskan, neraca fikih prioritas diterapkan secara konsekuen, audit diperluas menjadi audit program, dan rencana kerja tahunan berbasis data dijalankan tanpa kompromi, maka pengelolaan zakat Indonesia dan ajakan Menag Nasarudin Umar akan memiliki fondasi syar’i, legitimasi akademis, dan kepercayaan publik yang kokoh. *** (Artikel ini dikutif dari Republika.id). Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL17/03/2026 | Muhammad Syauqi Al Muhdhar, LC., MA. (Direktur Zakat Study Center).
Lupa Bayar Zakat Fitrah? Jangan Panik, Ini Hukum dan Solusinya Menurut Syariat
Lupa Bayar Zakat Fitrah? Jangan Panik, Ini Hukum dan Solusinya Menurut Syariat
ZAKAT fitrah adalah kewajiban yang berfungsi menyucikan jiwa bagi setiap muslim setelah berpuasa di bulan Ramadan, sekaligus menjadi penopang bagi kaum duafa agar dapat merayakan Idulfitri dengan suka cita. Namun, di tengah kesibukan persiapan Lebaran, terkadang ada saudara kita yang terlewat atau lupa menunaikan kewajiban ini hingga salat Idulfitri selesai dilaksanakan. Bagaimana status hukumnya dalam Islam dan apa yang harus dilakukan? Berikut adalah penjelasannya. Hukum Lupa Membayar Zakat Fitrah Secara syariat, waktu utama pembayaran zakat fitrah dimulai sejak awal Ramadan hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menunaikannya sebelum salat (Idulfitri), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah salat, maka itu hanyalah sedekah biasa." (HR. Abu Daud). Berdasarkan hadis tersebut, jika seseorang sengaja menunda hingga lewat waktu salat Id, perbuatannya dianggap berdosa. Namun, jika hal tersebut terjadi karena benar-benar lupa, maka ia tidak berdosa secara hukum moral (karena ketidaksengajaan), tetapi kewajiban zakatnya tetap melekat dan wajib segera ditunaikan. Solusi Jika Terlanjur Lupa Jika menyadari bahwa anda lupa membayar zakat fitrah saat khatib sudah naik mimbar atau bahkan setelah pulang dari lapangan salat Id, jangan mengabaikannya. Berikut langkah yang harus diambil: Segera Membayar (Qadha): Para ulama bersepakat bahwa kewajiban zakat fitrah tidak gugur karena terlewatinya waktu. Anda harus segera mengeluarkan zakat tersebut saat itu juga sebagai bentuk qadha (mengganti kewajiban yang terlewat). Niat sebagai Zakat Fitrah: Meskipun secara teknis pahalanya tercatat sebagai sedekah biasa karena telah melewati batas waktu, secara status hukum Anda telah menggugurkan kewajiban/hutang kepada Allah SWT. Bertaubat dan Memohon Ampun: Mintalah ampun kepada Allah atas kelalaian tersebut dan bertekad untuk lebih teliti di tahun-tahun mendatang. Tips Agar Tidak Lupa di Tahun Depan BAZNAS Provinsi Lampung menyarankan masyarakat untuk: Membayar Lebih Awal: Zakat fitrah sudah bisa ditunaikan sejak awal Ramadan. Tidak perlu menunggu malam takbiran. Gunakan Layanan Digital: Manfaatkan platform pembayaran zakat online resmi BAZNAS untuk kemudahan transaksi di mana saja. Manfaatkan UPZ Terdekat: Segera hubungi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di masjid atau desa setempat begitu Ramadan dimulai. Mari pastikan setiap jiwa tersucikan dan setiap perut kaum fakir miskin terisi di hari kemenangan. Jangan biarkan kelalaian menghalangi keberkahan ibadah kita. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL15/03/2026 | BL-01
Ada Sembilan Jenis Zakat Harta (Mal) Harus Diketahui Umat Islam
Ada Sembilan Jenis Zakat Harta (Mal) Harus Diketahui Umat Islam
ZAKAT mal merupakan kewajiban atas kepemilikan harta yang telah mencapai syarat tertentu untuk diberikan kepada yang berhak. Berikut adalah rincian landasan hukum, jenis, serta aturan nisabnya berdasarkan ketentuan di Indonesia. 1. Landasan Al-Qur'an dan Hadits Dasar hukum zakat maal bersumber langsung dari wahyu ilahi dan tuntunan Nabi Muhammad SAW: Al-Qur'an Surah At-Taubah Ayat 103: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka ..." Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 267: "Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu ..." Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim: Nabi SAW bersabda, "Bila engkau memiliki 20 dinar dan telah berlalu satu tahun (haul), maka zakatnya adalah setengah dinar. Dan pada perak, setiap 200 dirham zakatnya adalah lima dirham." Berdasarkan Peraturan BAZNAS (Perbaznas) Nomor 2 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah, terdapat 9 kategori utama zakat mal. Berikut adalah rincian jenis harta dan nisabnya: 1. Emas, Perak, dan Logam Mulia Lainnya Nisab emas adalah 85 gram dan perak adalah 595 gram. Kadar zakatnya sebesar 2,5%. 2. Uang dan Surat Berharga Lainnya Nisabnya setara dengan harga 85 gram emas. Kadar zakatnya sebesar 2,5% dan telah mencapai haul (satu tahun). 3. Perniagaan Dihitung dari modal yang diputar, ditambah keuntungan dan piutang lancar, dikurangi utang jatuh tempo. Nisabnya setara 85 gram emas dengan kadar 2,5%. 4. Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Nisabnya adalah 653 kg gabah atau 522 kg beras. Dikeluarkan setiap panen. Kadar zakatnya 10% (jika pengairan alami) atau 5% (jika menggunakan biaya pengairan). 5. Peternakan Ternak: Nisab kambing/domba (40 ekor), sapi/kerbau (30 ekor). 6. Perikanan: Nisabnya setara 85 gram emas. Kadar zakatnya 2,5%. 7. Pertambangan dan Perindustrian - Pertambangan: Harta hasil tambang yang diambil dari perut bumi. Nisabnya setara 85 gram emas dengan kadar zakat 2,5%. - Perindistrian: Hasil dari usaha yang bergerak di bidang pengolahan bahan mentah atau jasa industri. Nisabnya setara 85 gram emas dengan kadar 2,5%. 8. Pendapatan dan Jasa (Zakat Penghasilan/Profesi) Meliputi gaji, honorarium, upah, dan lain-lain. Nisabnya setara 85 gram emas, Kadar zakatnya sebesar 2,5%. 9. Rikaz (Barang Temuan) Harta terpendam dari masa lampau. Tidak ada syarat haul, nisabnya setara 85 gram emas, namun kadar zakatnya yaitu 20%. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL14/03/2026 | BL-01
Sujud Tilawah, Pernahkah Anda Lakukan? Ini Pengertian, Dalil, Hukum, Syarat, Rukun, dan Bacaannya!
Sujud Tilawah, Pernahkah Anda Lakukan? Ini Pengertian, Dalil, Hukum, Syarat, Rukun, dan Bacaannya!
SUJUD Tilawah merupakan bentuk ibadah yang khusus dilakukan sebagai tanggapan terhadap ayat-ayat Al-Quran yang mengandung perintah untuk sujud. Aktivitas ini memiliki makna yang dalam bagi umat Muslim, karena merupakan ekspresi dari penghormatan, pengakuan, dan kepatuhan terhadap perintah Allah. Selain sebagai bentuk ibadah yang disunahkan, Sujud Tilawah juga memiliki nilai mendalam dalam memperkuat hubungan spiritual antara hamba dan Tuhannya. Ketika seseorang bersujud, ia memperlihatkan ketundukan dan ketergantungan sepenuhnya kepada Allah. Dalam keheningan sujud, tercipta kesempatan untuk merenungkan makna ayat yang dibaca serta memperdalam pemahaman akan ajaran Islam. Ini menjadi momen sakral bagi umat Islam, ketika kita merendahkan diri dalam sujud sebagai bentuk penghormatan dan kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta. Pengertian Sujud Tilawah Dikutip dari buku Fikih Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII oleh Zainal Muttaqin dan Amie Abyan, kata tilawah menurut bahasa artinya bacaan. Jadi, sujud tilawah adalah sujud yang dikerjakan berkenaan dengan adanya bacaan ayat sajdah di dalam Al-Quran. Sujud tilawah dilakukan ketika seorang Muslim menemukan ayat sajdah, baik orang itu sedang membaca sendiri maupun mendengarkan bacaan orang lain. Berikut ini adalah beberapa contoh ayat sajdah dalam Al-Quran: 1. Surat An Nahl Ayat 50. Artinya: "Mereka takut kepada Tuhan yang (berkuasa) di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)." 2. Surat Al Isra' Ayat 109. Artinya: "Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." 3. Surat Al-Hajj Ayat 77. Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung." "Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Apabila seseorang membaca ayat sajdah lalu ia sujud, maka menyingkirlah syaitan dengan menangis berkata: Sungguh celaka, manusia diperintah sujud lalu ia sujud, maka baginya surga. Sedangkan aku diperintah sujud tetapi aku membangkang, maka bagiku neraka." [HR. Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah]. Hukum Sujud Tilawah Dilansir dari buku Kitab Shalat Empat Mazhab oleh Syeikh Abdurrahman Al-Jaziri, para imam dari tiga madzhab satu suara bahwa sujud tilawah hukumnya sunah bagi orang yang membaca atau atau mendengar ayat tersebut. Maka dari itu, jika melakukan sujud tilawah maka akan bernilai pahala. Sementara itu, madzhab Hanafiah menyangkal pendapat ini dengan mengatakan bahwa hukum sujud tilawah adalah wajib bagi mereka yang mendengarnya. Maka dari itu, pahala bagi orang yang bersujud tilawah dan berdosa bagi yang tidak melaksanakannya. Syarat Sujud Tilawah Suci dari hadas dan najis Menghadap kiblat Menutup aurat Setelah membaca atau mendengarkan ayat sajdah. Rukun Sujud Tilawah Niat Takbiratul Ihram Sujud satu kali Salam setelah sujud/sambil duduk Tertib. Bacaan sujud tilawah: "Sajada wajhiya lilladzi khalaqahu washawwarahu wasyaqqa sam'ahu wabasharahu bihaulihi waquwwatihi." Artinya: "Wajahku bersujud kepada Allah SWT, yaitu Zat yang menciptakan, yang membuka pendengaran juga penglihatan-Nya dengan daya dan kekuatan-Nya." *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL13/03/2026 | BL-01
Jangan Terlambat Bayar Zakat Fitrah, Ini Ketentuan Waktunya dalam Islam
Jangan Terlambat Bayar Zakat Fitrah, Ini Ketentuan Waktunya dalam Islam
MENJELANG Hari Raya Idulfitri, umat Islam dianjurkan untuk segera menunaikan kewajiban zakat fitrah. Dalam ajaran Islam, zakat fitrah memiliki ketentuan waktu yang jelas dan sebaiknya ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi para penerima zakat (mustahik). Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak. Ibadah ini dilaksanakan pada bulan Ramadan sebagai bentuk penyucian jiwa setelah menjalankan ibadah puasa, sekaligus wujud kepedulian sosial agar fakir miskin juga dapat merasakan kebahagiaan pada hari raya. Berdasarkan penjelasan Badan Amil Zakat Nasional, waktu pembayaran zakat fitrah terbagi dalam beberapa kategori. Pertama, waktu boleh yaitu sejak awal Ramadan hingga menjelang Idulfitri. Kedua, waktu utama (afdhal) yakni pada malam hari raya hingga sebelum salat Id dilaksanakan. Pada waktu ini, zakat fitrah sangat dianjurkan karena dapat segera dimanfaatkan oleh para mustahik untuk memenuhi kebutuhan hari raya. Adapun pembayaran zakat setelah salat Idulfitri masih diperbolehkan, namun hukumnya makruh karena dianggap terlambat. Jika zakat fitrah ditunaikan setelah hari raya tanpa alasan yang dibenarkan, maka perbuatan tersebut termasuk melampaui waktu yang dianjurkan dan dapat bernilai dosa, meskipun kewajiban zakat tetap harus dibayarkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa zakat yang ditunaikan sebelum salat Id akan diterima sebagai zakat fitrah. Sementara jika dibayarkan setelah salat Id, maka nilainya menjadi seperti sedekah biasa, sehingga keutamaan zakat fitrah sebagai penyempurna ibadah puasa tidak lagi didapatkan secara sempurna. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak menunda pembayaran zakat fitrah. Menunaikan zakat lebih awal, membuat pengingat pribadi, serta menyalurkan zakat melalui lembaga resmi dapat menjadi langkah untuk menghindari keterlambatan. Selain membantu memastikan zakat tersalurkan tepat waktu, cara ini juga membuat distribusi kepada para mustahik menjadi lebih terorganisir dan tepat sasaran. Melalui momentum Ramadan ini, BAZNAS Provinsi Lampung mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat fitrah tepat waktu agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Dengan demikian, kebahagiaan Idulfitri dapat dirasakan secara bersama oleh seluruh lapisan masyarakat. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036 Bank Rakyat Indonesia: 009801031532538 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL12/03/2026 | Admin
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.

Lihat Daftar Rekening →