WhatsApp Icon
15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah

KEHIDUPAN yang baik dan penuh berkah merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Kehidupan yang berkah juga tercermin dari hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Untuk mewujudkannya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, bekerja dengan jujur, menyayangi keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

Kebiasaan baik tersebut tidak harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Berikut 15 tips Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menjaga Salat Lima Waktu

Salat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang memenuhi ketentuan syariat. Menjaga salat tepat waktu menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasakan menunaikan salat ketika waktunya tiba. Jika memungkinkan, persiapkan diri lebih awal agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang dan khusyuk.

Selain menjaga pelaksanaannya, usahakan memahami bacaan dan menghayati maknanya. Dengan demikian, salat tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga pengingat untuk menjaga perilaku dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.

2. Membiasakan Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca, memahami, dan berusaha mengamalkan ajarannya dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang untuk mulai membaca Al-Qur'an. Sisihkan beberapa menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau sebelum tidur.

Bagi yang belum lancar membaca Al-Qur'an, belajarlah secara bertahap dengan bimbingan guru yang kompeten. Sementara itu, mereka yang sudah lancar dapat memperdalam pemahaman melalui terjemahan dan tafsir.

Konsistensi menjadi hal penting dalam membangun kebiasaan ini. Mulailah dengan target yang realistis agar membaca Al-Qur'an dapat menjadi bagian dari rutinitas harian.

3. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa dan zikir membantu seorang Muslim mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, doa menjadi sarana memohon pertolongan. Saat memperoleh kebahagiaan, zikir dan doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Kebiasaan ini dapat dimulai dengan membaca zikir pagi dan petang, beristigfar, berdoa setelah salat, serta membaca doa sebelum tidur.

Meski demikian, doa dan zikir perlu berjalan beriringan dengan usaha nyata. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, misalnya, seorang Muslim tetap perlu mencari solusi, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki cara bekerja sembari memohon pertolongan Allah SWT.

4. Membiasakan Diri Bersyukur

Bersyukur membantu seseorang menghargai nikmat yang telah dimiliki. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain secara berlebihan justru dapat membuat seseorang lupa terhadap berbagai kebaikan yang telah diterimanya.

Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya.

Syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat untuk tujuan yang baik. Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta membantu sesama, dan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Mulailah dengan menghargai hal-hal sederhana, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, makanan, dan tempat tinggal. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menghargai apa yang dimiliki sambil terus memperbaiki keadaan.

5. Mencari Rezeki yang Halal dan Baik

Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki melalui cara yang halal. Rezeki yang baik tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjaga kejujuran, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati hak orang lain. Hindari penipuan, kecurangan, dan tindakan yang merugikan pihak lain.

Bagi yang menjalankan usaha, sampaikan informasi produk atau jasa secara jujur. Sementara itu, dalam mengelola penghasilan, dahulukan kebutuhan pokok, hindari utang konsumtif yang tidak perlu, dan sisihkan sebagian harta untuk sedekah sesuai kemampuan.

Rezeki yang berkah tidak selalu berarti kekayaan berlimpah. Keberkahan juga dapat tercermin dari kecukupan, ketenangan dalam menggunakannya, serta manfaat yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat.

6. Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 23.

Berbakti dapat diwujudkan melalui perkataan yang sopan, kesediaan mendengarkan nasihat yang baik, membantu kebutuhan mereka, serta meluangkan waktu untuk menemani dan memperhatikan keadaan mereka.

Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi melalui telepon atau melakukan kunjungan secara berkala dapat menjadi bentuk perhatian.

Jika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik dengan mendoakan mereka, menjaga hubungan dengan kerabat, dan melakukan kebaikan yang dibenarkan dalam Islam.

Namun, berbakti tidak berarti harus memenuhi permintaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap perlu menjaga adab dan memperlakukan orang tua dengan baik.

7. Menjaga Silaturahmi dan Hubungan Baik dengan Sesama

Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang baik dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan sekaligus sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperlakukan sesama dengan baik. Karena itu, usahakan menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang tenang dan menghindari perkataan yang menyakiti.

Belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan orang lain ketika mereka berusaha memperbaiki diri. Menghormati perbedaan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial.

Dengan membangun komunikasi yang sehat, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan dipenuhi sikap saling menghormati.

8. Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama

Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyumbangkan pakaian yang layak, atau membagikan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kebaikan.

Sesuaikan sedekah dengan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga. Jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan.

Membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama dapat melatih kepedulian dan mengurangi sikap berlebihan dalam mencintai harta. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam juga dapat berkontribusi dalam membantu mustahik serta masyarakat yang membutuhkan.

9. Menjaga Lisan dan Akhlak

Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Biasakan berbicara jujur, menghindari perkataan kasar, tidak menghina, dan tidak menyebarkan fitnah. Sebelum berbicara, pertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Menjaga lisan juga berlaku ketika menggunakan media sosial. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menulis komentar yang merendahkan orang lain, atau terlibat dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.

Jika melakukan kesalahan, akui dan perbaiki. Meminta maaf merupakan bagian dari tanggung jawab atas perilaku sendiri sekaligus langkah untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

10. Menuntut Ilmu dan Terus Memperbaiki Diri

Menuntut ilmu membantu seorang Muslim memahami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Luangkan waktu untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dasar, dan akhlak. Selain ilmu agama, tingkatkan pula keterampilan yang relevan dengan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab masing-masing.

Pilih sumber belajar yang dapat dipercaya. Dalam urusan agama, pelajari penjelasan dari ulama dan lembaga keislaman yang kompeten agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.

Selain menambah pengetahuan, biasakan mengevaluasi diri. Periksa kembali apakah ibadah telah terjaga, pekerjaan dilakukan dengan jujur, dan hubungan dengan keluarga dipelihara dengan baik.

Perbaikan diri merupakan proses berkelanjutan. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan.

11. Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Amanah

Tubuh merupakan amanah yang perlu dijaga. Kondisi fisik dan mental yang baik membantu seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Terapkan kebiasaan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menjaga waktu tidur. Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan dan jangan mengabaikan keluhan yang membutuhkan pertolongan profesional.

Menjaga kesehatan juga berarti memahami batas kemampuan diri. Istirahat yang cukup bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kemampuan untuk menjalani aktivitas dengan baik.

Dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim dapat berusaha menjalankan berbagai amanah kehidupan secara lebih optimal.

12. Mengelola Waktu dengan Bijaksana

Waktu merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Karena itu, gunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, keluarga, maupun pengembangan diri.

Buatlah jadwal harian sederhana yang memprioritaskan kewajiban utama. Sisihkan waktu untuk salat, bekerja, belajar, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat berarti.

Namun, mengelola waktu bukan berarti harus selalu sibuk. Istirahat, berolahraga, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga juga merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.

13. Bersabar dan Bertawakal kepada Allah SWT

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Seseorang dapat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau ujian kesehatan.

Dalam keadaan tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menunggu pertolongan tanpa melakukan apa pun.

Seorang Muslim perlu berusaha mencari jalan keluar, berdoa kepada Allah SWT, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya. Ketika mengalami kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Jika menghadapi persoalan yang berat, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau tenaga profesional yang sesuai.

Setiap orang memiliki ujian dan proses kehidupan yang berbeda. Karena itu, hindari mengukur keberhasilan diri hanya dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain.

14. Membiasakan Istigfar dan Bertobat

Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa berusaha memperbaiki diri.

Membaca istigfar merupakan salah satu cara memohon ampun kepada Allah. Namun, istigfar hendaknya disertai kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki perilaku.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, upayakan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai keadaan.

Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, gunakan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dengan membiasakan istigfar dan bertobat, seorang Muslim belajar bersikap rendah hati serta menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan ampunan dan bimbingan Allah SWT.

15. Membiasakan Doa agar Hidup Penuh Berkah

Selain melakukan berbagai ikhtiar, seorang Muslim dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca sehari-hari.

“Ya Allah, berkahilah kehidupanku, keluargaku, pekerjaanku, dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku. Bimbinglah aku agar senantiasa berada di jalan yang benar. Jadikanlah aku hamba yang rajin beribadah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan ikhlas dalam melakukan kebaikan. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari keburukan, serta berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan langsung dari Al-Qur'an atau hadis. Seorang Muslim dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dengan tetap memperhatikan tuntunan syariat.

Biasakan berdoa bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga ketika keadaan sedang baik. Dengan demikian, doa menjadi bagian dari kebiasaan untuk memohon petunjuk sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT.

Contoh Rutinitas Islami dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar berbagai kebiasaan baik di atas lebih mudah diterapkan, mulailah dengan rutinitas sederhana yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Pagi hari:

  • Bangun dan menunaikan salat Subuh.

  • Membaca Al-Qur'an atau zikir pagi.

  • Berdoa sebelum memulai aktivitas.

  • Menentukan prioritas pekerjaan dan tanggung jawab hari itu.

Siang hingga sore:

  • Menjaga salat lima waktu.

  • Bekerja atau belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh.

  • Menjaga perkataan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

  • Menyempatkan diri membantu keluarga atau orang yang membutuhkan.

Malam hari:

  • Menunaikan salat Isya.

  • Meluangkan waktu bersama keluarga.

  • Mengevaluasi perilaku dan aktivitas sepanjang hari.

  • Membaca doa sebelum tidur serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Rutinitas tersebut bukan aturan wajib yang harus diikuti dengan susunan persis seperti di atas. Jadikanlah sebagai panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing.

Menjalani Hidup dengan Iman, Ikhtiar, dan Rasa Syukur

Kehidupan yang penuh berkah tidak selalu ditandai dengan kelimpahan materi atau terbebas dari berbagai ujian. Keberkahan juga dapat hadir melalui hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang saling mendukung, serta kesempatan untuk terus berbuat baik.

Menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersyukur, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, dan membantu sesama merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memperkuat kualitas kehidupan seorang Muslim.

Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah dilakukan, kemudian pertahankan secara konsisten dan tingkatkan secara bertahap.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!

MENJAGA hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita dan dapat menjadi pihak terdekat untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, hubungan bertetangga perlu dibangun atas dasar saling menghormati, kepedulian, dan sikap menjaga hak satu sama lain.

Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik. Ajaran tersebut mencakup menjaga perkataan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain, berbagi makanan, memberikan pertolongan, serta memelihara hubungan baik meskipun terdapat perbedaan atau kesalahpahaman.

Adab bertetangga juga tidak terbatas pada orang yang memiliki hubungan dekat atau seagama. Seorang Muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, latar belakang, maupun kebiasaan, selama tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam.

Lantas, apa saja adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut lima di antaranya.

1. Menghormati dan Berbuat Baik kepada Tetangga

Adab pertama adalah menghormati dan memperlakukan tetangga dengan baik. Islam menempatkan hubungan dengan tetangga sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, dan golongan lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya.

Ajaran tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa ketika berpapasan, berbicara dengan sopan, menghargai privasi, dan tidak mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa alasan yang tepat.

Ketika tetangga mengadakan acara keluarga, misalnya, kita dapat menunjukkan sikap saling menghormati dengan menjaga ketertiban dan membicarakan persoalan yang muncul melalui komunikasi yang baik.

Selain itu, hindari membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status ekonomi, kedudukan sosial, atau latar belakang seseorang. Dengan membiasakan sikap saling menghormati, hubungan bertetangga dapat terjalin lebih harmonis dan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman.

2. Tidak Mengganggu atau Menyakiti Tetangga

Adab berikutnya adalah menjaga diri agar tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Pesan ini menegaskan bahwa keimanan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya sendiri, tetapi juga perlu menjaga hak dan kenyamanan orang lain. Beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan bertetangga antara lain:

  • Memutar musik atau menghasilkan suara keras hingga mengganggu waktu istirahat.

  • Membiarkan sampah menumpuk atau menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah.

  • Memarkir kendaraan hingga menghalangi jalan atau akses rumah tetangga.

  • Membicarakan keburukan tetangga dan menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya.

  • Menggunakan atau mengambil barang milik tetangga tanpa izin.

  • Melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan lingkungan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Apabila tanpa sengaja menimbulkan gangguan, sebaiknya segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tindakan sederhana, seperti mengecilkan volume suara pada malam hari atau memastikan kendaraan tidak menghalangi akses rumah orang lain, merupakan bentuk kepedulian terhadap kenyamanan bersama.

Menjaga tetangga dari gangguan bukan hanya menciptakan lingkungan yang tertib, tetapi juga menjadi wujud nyata akhlak yang baik.

3. Berbagi Makanan dan Saling Memberi

Berbagi makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial dan tidak bersikap egois terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar agar memperbanyak kuah ketika memasak dan memperhatikan tetangganya dengan membagikan sebagian makanan tersebut.

Nasihat ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian yang besar. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana sesuai kemampuan masing-masing.

Ketika memasak dalam jumlah lebih, misalnya, kita dapat berbagi makanan dengan tetangga. Berbagi juga dapat dilakukan dengan memberikan buah dari kebun atau mengirimkan hidangan sederhana pada kesempatan tertentu.

Jika tetangga sedang sakit, kita bisa menawarkan bantuan untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sementara itu, ketika mereka mengalami musibah, perhatian dan dukungan sederhana dapat membantu meringankan beban yang dirasakan.

Meski demikian, berbagi tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga sendiri. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk memaksakan diri di luar kemampuannya.

Dengan membiasakan berbagi, hubungan bertetangga tidak sekadar terjalin karena tinggal berdekatan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang dilandasi kepedulian dan kebersamaan.

4. Menolong Tetangga Ketika Mengalami Kesulitan

Seorang Muslim hendaknya tidak bersikap acuh ketika mengetahui tetangganya membutuhkan pertolongan. Hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi sumber dukungan, terutama ketika seseorang menghadapi situasi sulit.

Pertolongan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan tenaga dan dukungan moral hingga bantuan materi sesuai kemampuan.

Ketika tetangga sedang sakit, misalnya, kita dapat menjenguk, menanyakan kebutuhannya, atau membantu mengurus keperluan mendesak. Saat terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir, kita dapat membantu proses evakuasi, menyediakan makanan, atau menghubungkan mereka dengan pihak yang mampu memberikan bantuan.

Perhatian juga dapat diberikan kepada tetangga lanjut usia yang tinggal sendiri. Menanyakan kabar atau membantu membawa barang belanjaan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Dalam memberikan pertolongan, penting untuk tetap menghormati privasi dan menjaga martabat orang yang dibantu. Bantuan sebaiknya diberikan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian atau mengungkit kebaikan pada kemudian hari.

Menolong tetangga menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memaafkan Kesalahan Tetangga

Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bertetangga. Perbedaan kebiasaan, persoalan batas tanah, kebisingan, atau masalah parkir dapat memicu perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan baik.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga komunikasi, bersikap sabar, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Kebiasaan menyapa, mengunjungi ketika diperlukan, serta menghindari permusuhan berkepanjangan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat hubungan dengan tetangga.

Pertama, menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang sopan. Jika ada tindakan yang mengganggu, sampaikan keberatan secara baik-baik tanpa menghina atau mempermalukan pihak lain.

Kedua, tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, cari penjelasan secara langsung dengan cara yang santun.

Ketiga, belajar memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Selama persoalan masih dapat diselesaikan secara wajar, sikap lapang dada dapat membantu mencegah konflik berkepanjangan.

Keempat, tidak memperbesar perselisihan. Hindari menyebarkan masalah kepada orang lain apabila hal tersebut justru memperburuk keadaan.

Meski demikian, menjaga hubungan baik tidak berarti membiarkan tindakan yang membahayakan atau melanggar hak. Jika terjadi ancaman, kekerasan, atau pelanggaran serius, kita tetap dapat meminta bantuan pihak berwenang melalui cara yang tepat.

Dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan tanpa harus merusak hubungan bertetangga.

Manfaat Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam

Menerapkan adab bertetangga memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sikap saling menghormati membantu mengurangi gangguan dan perselisihan.

  2. Mempererat hubungan sosial. Tetangga yang saling mengenal lebih mudah membangun komunikasi dan kerja sama.

  3. Menumbuhkan kepedulian. Kebiasaan saling membantu membuat masyarakat lebih siap menghadapi kesulitan bersama.

  4. Menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik membantu menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi perselisihan besar.

  5. Mengamalkan ajaran Islam. Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika setiap orang berusaha memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Kita tidak perlu menunggu semua tetangga bersikap baik terlebih dahulu untuk mulai menunjukkan akhlak terpuji.

Membangun Lingkungan yang Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri

Adab bertetangga bukan hanya tentang menghindari perselisihan, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati orang lain, menjaga perkataan, berbagi makanan, menolong ketika dibutuhkan, dan memaafkan kesalahan merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat kebersamaan.

Keteladanan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akhlak mulia perlu tercermin dalam hubungan dengan sesama, termasuk dengan orang-orang yang tinggal paling dekat dengan kita.

Karena itu, membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian dapat dimulai dari rumah masing-masing. Dengan menjaga hak tetangga dan membiasakan diri untuk berbuat baik, kita turut menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi

SETIAP orang tua Muslim tentu mendambakan anak yang saleh dan salehah, beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama. Anak bukan hanya anugerah yang membawa kebahagiaan dalam keluarga, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan orang tua adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT memberikan petunjuk, menguatkan keimanan, memudahkan anak dalam beribadah, serta membimbing mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa.

Al-Qur'an mengajarkan sejumlah doa untuk memohon keturunan yang baik. Beberapa di antaranya merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS, serta doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati.

Lantas, apa saja doa memohon anak saleh dan salehah yang dapat diamalkan? Berikut bacaan, arti, dan maknanya, beserta ikhtiar mendidik anak agar tumbuh dalam kebaikan.

1. Doa dalam Surah Al-Furqan Ayat 74

Salah satu doa yang dapat diamalkan untuk memohon keluarga dan keturunan yang baik terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk hati serta agar diri sendiri dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bacaan latin:

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Makna Doa

Doa ini mengandung harapan agar keluarga tumbuh dalam keimanan, ketaatan, dan akhlak yang baik. Anak yang menjadi penyejuk hati bukan semata-mata anak yang membanggakan orang tua, tetapi juga anak yang berusaha menjalankan ajaran agama dan menghadirkan kebaikan di lingkungannya.

Selain memohon keturunan yang baik, orang tua juga memohon agar dirinya menjadi teladan dalam ketakwaan. Artinya, harapan memiliki anak saleh dan salehah perlu disertai usaha memperbaiki diri, mulai dari menjaga salat, berkata jujur, bersikap sabar, hingga menghormati orang lain.

Doa ini dapat dibaca setelah salat atau ketika bermunajat kepada Allah SWT. Tidak ada keharusan menetapkan jumlah bacaan tertentu untuk mengamalkannya.

2. Doa Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa singkat untuk memohon keturunan yang termasuk golongan orang saleh. Doa ini terdapat dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Bacaan latin: Rabbi hab li minas salihin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100).

Makna Doa 

Doa ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan bukan satu-satunya harapan. Nabi Ibrahim AS juga memohon agar keturunannya menjadi bagian dari orang-orang yang saleh.

Kesalehan merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang saleh dan salehah diharapkan memiliki keimanan yang kuat, menjaga ibadah, berperilaku baik, serta mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah.

Bagi pasangan yang sedang menantikan kehadiran buah hati, doa ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keturunan kepada Allah SWT. Bagi orang tua yang telah memiliki anak, doa yang sama dapat diamalkan untuk memohon agar anak-anak senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.

Doa juga menjadi wujud penghambaan dan tawakal. Karena itu, orang tua hendaknya terus memohon kepada Allah SWT sembari melakukan ikhtiar yang baik dan tidak kehilangan harapan ketika keinginan belum terwujud sesuai waktu yang diharapkan.

3. Doa Nabi Zakaria AS 

Al-Qur'an juga mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika memohon keturunan yang baik. Doa tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 38.

Bacaan latin:

Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan tayyibatan innaka sami'ud du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Pelajaran dari doa Nabi Zakaria 

Kisah Nabi Zakaria AS mengajarkan tentang ketekunan dalam berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Beliau memohon keturunan yang baik, mengingatkan umat Islam bahwa Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya.

Keturunan yang baik tidak hanya diukur dari kesehatan fisik atau keberhasilan duniawi. Keimanan, akhlak, dan perilaku yang terpuji juga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang diharapkan orang tua.

Doa ini dapat diamalkan oleh pasangan yang mendambakan keturunan maupun orang tua yang memohon kebaikan bagi anak-anaknya. Permohonan juga dapat disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami, selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Doa Keturunan Rajin Mendirikan Salat

Anak yang saleh dan salehah diharapkan tidak hanya memiliki perilaku yang baik, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mendirikan salat.

Dalam Surah Ibrahim ayat 40, terdapat doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan salat.

Bacaan latin: Rabbij'alni muqimas salati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Mengapa doa ini penting?

Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. Dengan memohon agar diri sendiri dan keturunan senantiasa mendirikan salat, orang tua diingatkan bahwa pendidikan agama perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak untuk salat, tetapi juga memberikan contoh melalui kebiasaan beribadah secara konsisten. Ketika anak melihat orang tuanya menjaga salat, ia dapat belajar dari keteladanan yang nyata.

Selain itu, ajarkan salat secara bertahap sesuai usia anak. Pendekatan yang lembut, penjelasan yang mudah dipahami, dan suasana keluarga yang mendukung dapat membantu anak mengenal ibadah dengan lebih baik.

Doa ini sekaligus mengingatkan orang tua untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sendiri sebelum berharap anak mengikuti jalan kebaikan tersebut.

5. Doa agar Anak Saleh dan Mendapat Keberkahan

Selain mengamalkan doa-doa dari Al-Qur'an, orang tua dapat memohon kepada Allah SWT menggunakan kalimat yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, memohon agar anak diberikan kesehatan, dilindungi dari keburukan, dibimbing dalam ketaatan, dan dimudahkan untuk berbuat baik kepada sesama.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat diamalkan sebagai doa pribadi.

Bacaan doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang saleh dan salehah. Jadikanlah mereka hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga salat. Lindungilah mereka dari perbuatan buruk, pergaulan yang menyesatkan, serta segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari jalan-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati di dunia dan bekal kebaikan bagi kami di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis. Orang tua dapat menyesuaikan susunan kata dan menyebut nama anak dalam doanya.

Hal terpenting bukan panjangnya rangkaian kalimat, melainkan ketulusan hati, keyakinan kepada Allah SWT, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar yang baik.

6. Kapan Waktu Baik Membaca Doa Anak Saleh?

Pada dasarnya, doa untuk memohon kebaikan anak dapat dipanjatkan kapan saja. Tidak ada ketentuan bahwa doa memohon anak saleh dan salehah hanya boleh dibaca pada waktu tertentu.

Meski demikian, ada beberapa kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah salat wajib

Setelah menunaikan salat wajib, orang tua dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa. Selain memohon ampunan serta kebaikan dunia dan akhirat, orang tua dapat memohon agar anak-anak diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam.

Mendoakan anak secara rutin dapat menjadi pengingat bahwa mendidik mereka merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan pertolongan Allah SWT.

Saat salat malam

Salat malam, termasuk tahajud, dapat menjadi kesempatan untuk bermunajat dengan lebih khusyuk. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan keutamaan berdoa kepada Allah pada sepertiga malam terakhir.

Orang tua dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memohon kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan keteguhan iman bagi anak-anaknya.

Ketika sujud

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa.

Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon kebaikan bagi anak-anaknya dengan tetap memperhatikan ketentuan doa dalam salat sesuai tuntunan fikih yang diikuti.

Ketika anak menghadapi kesulitan

Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak sedang sehat, berprestasi, atau menunjukkan perilaku yang membanggakan. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, menghadapi masalah pergaulan, atau sedang berusaha memperbaiki diri, orang tua juga perlu mendoakannya.

Rasa kecewa hendaknya tidak membuat orang tua berhenti berharap kepada Allah SWT. Sebaliknya, doa dapat menjadi penguat kesabaran sekaligus dorongan untuk mencari cara terbaik dalam mendampingi anak.

7. Cara Mendidik Anak agar Tumbuh Saleh

Doa merupakan ikhtiar spiritual yang penting, tetapi perlu disertai pendidikan, keteladanan, dan usaha nyata. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, melainkan juga lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Islam.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.

1. Memberikan teladan yang baik

Anak banyak belajar melalui apa yang dilihat setiap hari. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam menjalankan ibadah, menjaga perkataan, bersikap jujur, dan menghormati orang lain.

Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menjaga salatnya sendiri. Jika ingin anak berkata jujur, biasakan kejujuran dalam keluarga. Keteladanan membantu anak memahami bahwa ajaran Islam bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup.

2. Mengenalkan Al-Qur'an dan ajaran Islam sejak dini

Orang tua dapat mengenalkan Al-Qur'an, doa sehari-hari, kisah para nabi, serta dasar-dasar akhlak Islam sesuai usia anak. Lakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan.

Seiring bertambahnya usia, ajak anak memahami makna ibadah, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

3. Membiasakan ibadah dalam keluarga

Keluarga dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan tertentu.

Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika mereka melakukan kesalahan.

4. Menanamkan akhlak mulia

Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dengan perilaku terhadap sesama manusia. Ajarkan anak menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata sopan, menepati janji, meminta maaf ketika bersalah, dan membantu orang yang membutuhkan.

5. Memperhatikan lingkungan pergaulan

Lingkungan dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak. Orang tua perlu mengenal teman-teman anak, memperhatikan aktivitasnya, dan membangun komunikasi yang terbuka.

Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang bertanggung jawab, bukan pengawasan berlebihan. Ajarkan anak memilih pergaulan yang baik serta berani menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.

6. Menasihati tanpa merendahkan

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan nasihat dan konsekuensi yang sesuai. Namun, hindari melabeli anak sebagai nakal, gagal, atau tidak berguna.

Tegurlah perilakunya tanpa merendahkan martabatnya. Terus doakan kebaikannya, termasuk ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

7. Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian

Orang tua dapat mengajarkan tanggung jawab melalui tugas sederhana, seperti merapikan barang, menjaga kebersihan, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membantu anggota keluarga.

Ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia memahami akibat perbuatannya dan memperbaikinya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengakui kesalahan serta bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.

8. Keutamaan Memiliki Anak Saleh

Anak yang saleh dan salehah merupakan salah satu karunia berharga dalam Islam. Kesalehan anak tidak hanya membawa harapan akan kebaikan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan manfaat yang dapat terus dirasakan orang tua setelah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mendidik anak agar mengenal Allah SWT, menjalankan ajaran agama, dan terbiasa mendoakan orang tuanya.

Meski demikian, kesalehan anak bukan sesuatu yang dapat dijamin hanya melalui satu doa. Anak tumbuh melalui berbagai proses, pengalaman, dan pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu terus memberikan pendidikan terbaik sembari memohon pertolongan Allah SWT.

Anak yang saleh dan salehah juga diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, membantu sesama, maupun menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, tujuan mendidik anak bukan semata-mata agar orang tua merasa bangga, tetapi agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

9. Pertanyaan Umum tentang Doa Anak Saleh

Apakah doa anak saleh boleh dibaca setiap hari?

Ya. Orang tua boleh mendoakan kebaikan anak setiap hari. Beberapa doa yang dapat diamalkan antara lain doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Surah Ali Imran ayat 38, Surah As-Saffat ayat 100, dan Surah Ibrahim ayat 40.

Tidak ada ketentuan umum bahwa doa-doa tersebut harus dibaca dengan jumlah tertentu agar permohonan dikabulkan.

Apakah ibu dan ayah sama-sama boleh mendoakan anak?

Tentu. Ibu dan ayah sama-sama dapat memohon agar anak menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan serta keteladanan yang baik.

Bolehkah berdoa agar anak menjadi penghafal Al-Qur'an?

Boleh. Orang tua dapat memohon agar anak mencintai Al-Qur'an, dimudahkan menghafalnya, memahami ajarannya, serta mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Permohonan tersebut hendaknya disertai pendampingan yang baik, pembelajaran sesuai kemampuan anak, dan penghargaan terhadap proses belajarnya.

Bagaimana jika anak belum menunjukkan perilaku saleh?

Jangan langsung berputus asa. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Orang tua dapat mengevaluasi pendekatan pendidikan, membuka komunikasi yang baik, memberikan nasihat secara bijaksana, dan terus mendoakan kebaikannya.

Jika masalah yang dihadapi cukup berat, orang tua juga dapat mencari bantuan dari guru, konselor, atau pembimbing agama yang kompeten.

Apakah pasangan yang belum memiliki anak boleh membaca doa memohon keturunan?

Boleh. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Zakaria AS dalam Surah Ali Imran ayat 38 atau doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Di samping berdoa, pasangan dapat melakukan ikhtiar yang sesuai, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Belum hadirnya keturunan bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa doa seseorang tidak diterima Allah SWT.

Doa Bagian dari Pendidikan Anak

Memohon anak yang saleh dan salehah merupakan harapan yang dapat terus dipanjatkan oleh setiap orang tua Muslim. Al-Qur'an telah mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan untuk memohon keturunan yang baik, keluarga yang menenteramkan, serta anak-anak yang senantiasa menjaga ibadah.

Namun, doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Keteladanan orang tua, pendidikan agama, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Semoga Allah SWT menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, menjadikan keluarga sebagai penyejuk hati, serta membimbing anak-anak agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Amin ya Rabbal alamin.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan

MENGELOLA keuangan bukan hanya soal memastikan pemasukan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan. Bagi seorang Muslim, harta merupakan amanah dari Allah SWT yang perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik.

Karena itu, kelola keuangan Islam tidak hanya memperhatikan jumlah pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga sumber rezeki, prioritas kebutuhan, kewajiban terhadap keluarga, serta kepedulian kepada sesama.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir dalam menggunakan hartanya. Prinsip ini dapat menjadi dasar dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

1. Pastikan Penghasilan Sumber Halal

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber penghasilan. Sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, seorang Muslim perlu memastikan bahwa pekerjaan, usaha, perdagangan, maupun investasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memperoleh makanan dari hasil usaha sendiri. Dalam Sunan Ibn Majah 2137 disebutkan bahwa makanan terbaik yang dikonsumsi seseorang adalah yang berasal dari hasil usahanya sendiri.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja perlu menjalankan tanggung jawab dengan amanah, sedangkan pelaku usaha harus menghindari penipuan, kecurangan, menyembunyikan cacat barang, maupun mengurangi timbangan.

Ketika menemukan transaksi yang meragukan, jangan terburu-buru mengejar keuntungan. Memahami akad, risiko, dan ketentuannya terlebih dahulu dapat membantu menjaga harta tetap berada dalam koridor yang baik.

2. Susun Anggaran dan Dahulukan Kebutuhan

Setelah memastikan sumber pendapatan, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaannya. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan.

Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan keluarga perlu menjadi prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah alokasi untuk keperluan lainnya disesuaikan dengan kemampuan.

Membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Membeli sesuatu karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda promosi atau ingin mengikuti tren.

Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Catatan di buku, spreadsheet, maupun aplikasi keuangan sudah cukup untuk membantu mengevaluasi pola pengeluaran dan menemukan pos yang dapat dikurangi.

3. Hindari Pemborosan dan Utang Konsumtif

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam menggunakan harta. Karena itu, pembelian impulsif dan gaya hidup berlebihan perlu dihindari.

Diskon atau promosi memang dapat menghemat pengeluaran jika barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, membeli sesuatu hanya karena harganya sedang murah tetap dapat membuat keuangan menjadi tidak sehat.

Penggunaan utang juga perlu dipertimbangkan dengan matang. Seorang Muslim perlu memahami akad dan konsekuensi finansial sebelum mengambil utang, terutama jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya berada di luar kemampuan.

Hidup sesuai kemampuan bukan berarti harus mengurangi seluruh kenyamanan. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, seseorang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih tenang tanpa terbebani pengeluaran yang tidak perlu.

4. Siapkan Tabungan dan Dana Darurat

Selain memenuhi kebutuhan hari ini, pengelolaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan di masa depan. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dapat membantu menghadapi berbagai keperluan yang sudah direncanakan.

Dana darurat juga penting untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendesak.

Perencanaan jangka panjang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, misalnya untuk pendidikan anak, tempat tinggal, maupun kebutuhan masa pensiun. Tidak perlu memulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.

5. Sisihkan Harta untuk Zakat, Infak, dan Sedekah

Harta dalam Islam tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban dan kepedulian sosial yang perlu diperhatikan, termasuk zakat bagi harta yang telah memenuhi ketentuannya.

Zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, nisab, haul, kadar, serta golongan penerima. Karena itu, perhitungannya perlu dilakukan sesuai ketentuan syariat.

Selain zakat, infak dan sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan sesuai kemampuan. Kebiasaan berbagi mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Dengan memasukkan zakat, infak, dan sedekah dalam perencanaan keuangan, pengelolaan harta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ibadah.

6. Bangun Komunikasi Keuangan dalam Keluarga

Pengelolaan keuangan juga berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami dan istri dapat membicarakan pemasukan, kebutuhan, kewajiban, tabungan, serta tujuan finansial keluarga secara terbuka.

Setiap keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tidak ada satu pola anggaran yang harus diterapkan oleh semua orang. Yang penting adalah menjaga prinsip halal, bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan.

Anak juga dapat dikenalkan dengan kebiasaan finansial sejak dini. Misalnya dengan mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta mengenalkan pentingnya berbagi.

Evaluasi sederhana setiap bulan dapat membantu keluarga mengetahui kondisi keuangannya. Periksa kembali pemasukan, pengeluaran terbesar, jumlah tabungan, kewajiban yang telah dibayarkan, dan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pada akhirnya, kelola keuangan Islam bukan semata-mata tentang bagaimana memiliki lebih banyak uang. Lebih dari itu, pengelolaan harta diarahkan agar kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara yang halal, keluarga tetap terjaga, dan sebagian rezeki dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Dengan mengatur pemasukan secara bijak, menghindari pemborosan, mempersiapkan masa depan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, harta dapat dikelola sebagai amanah sekaligus menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim

DALAM Islam, adab dan akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah kepada Allah SWT juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga masyarakat di sekitarnya.

Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam hal akhlak. Beliau mengajarkan kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang dalam berinteraksi dengan sesama. Karena itu, menjaga perilaku bukan sekadar menunjukkan kepribadian yang baik, tetapi juga bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Adab dan Akhlak dalam Islam

Menjaga adab berarti berusaha menempatkan perkataan, sikap, dan tindakan sesuai dengan tuntunan Islam. Hal tersebut dapat dimulai dari perkara sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak, serta membantu mereka yang membutuhkan.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang menjaga lisannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman untuk saling mengejek, mencela, maupun memanggil orang lain dengan gelar yang buruk.

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara. Perkataan yang kasar, hinaan, fitnah, atau ucapan yang menyakiti orang lain dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Menjaga adab juga berarti mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Saat marah atau berbeda pendapat, seseorang perlu berusaha menahan emosi agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Kedudukan Penting Akhlak Baik

Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang membiasakan perkataan keji.

Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara sederhana, melainkan memiliki nilai besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan rasa aman, bukan justru menimbulkan kerugian atau ketakutan bagi orang lain.

Dengan demikian, akhlak yang baik tidak cukup hanya terlihat dalam aktivitas ibadah. Nilainya perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

Menerapkan Adab dalam Kehidupan

Di lingkungan keluarga, menjaga adab dapat dimulai dengan menghormati orang tua, memperlakukan pasangan dan saudara dengan baik, serta membangun komunikasi tanpa penghinaan maupun kekerasan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak dapat diwujudkan dengan menghormati tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan menghargai perbedaan.

Begitu pula di tempat kerja atau sekolah. Bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, menjaga amanah, serta tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari penerapan akhlak Islam.

Adab juga berlaku di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Menjaga perilaku di media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak dalam kehidupan modern.

Membiasakan Diri Berakhlak Baik

Menjaga adab membutuhkan latihan dan konsistensi. Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki niat. Berbuat baik kepada orang lain seharusnya dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian.

Kebiasaan menjaga lisan juga perlu dilatih. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Mempelajari kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi cara lain untuk memahami bagaimana akhlak diterapkan dalam berbagai situasi. Keteladanan beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, maupun orang yang berbeda pendapat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi diri juga penting. Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Pada akhirnya, menjaga adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam perilaku nyata.

Meneladani Rasulullah SAW berarti terus berusaha menjadi pribadi yang jujur, sabar, lembut, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain. Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk menjaga lisan, memperbaiki perilaku, menghormati sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01

Artikel Terbaru

Rabiul Awal, Momentum Meneladani Rasulullah melalui Kebaikan
Rabiul Awal, Momentum Meneladani Rasulullah melalui Kebaikan
BULAN Rabiul Awal memiliki tempat istimewa dalam sejarah umat Islam karena dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kehadirannya dapat menjadi momentum untuk mengenal lebih dekat perjalanan Rasulullah SAW, memperkuat kecintaan kepada beliau, serta meneladani akhlak dan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada ibadah khusus yang secara khusus diwajibkan hanya karena memasuki Rabiul Awal. Namun, umat Islam dapat mengisinya dengan berbagai amal saleh yang dianjurkan secara umum, seperti memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur’an, berdoa dan berzikir, mempelajari sirah Nabi, memperbaiki akhlak, hingga berbagi kepada sesama. Meneladani Rasulullah melalui Akhlak Allah SWT berfirman: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21) Ayat tersebut mengingatkan umat Islam bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu, kecintaan kepada beliau tidak hanya diwujudkan melalui ungkapan, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari seperti menjaga kejujuran, menepati amanah, menghormati sesama, membantu orang yang membutuhkan, dan berusaha memperbaiki akhlak. Rabiul Awal dapat menjadi kesempatan untuk kembali mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW. Dengan mengenal perjuangan, dakwah, dan akhlak Rasulullah SAW, umat Islam dapat mengambil pelajaran yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan. Memperbanyak Shalawat dan Ibadah Salah satu amalan yang dapat diperbanyak pada Rabiul Awal adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56). Selain shalawat, Rabiul Awal juga dapat diisi dengan meningkatkan interaksi bersama Al-Qur’an, memperbanyak doa dan zikir, serta menjalankan ibadah sunnah yang memang dianjurkan. Kebiasaan tersebut tidak hanya dilakukan selama Rabiul Awal, tetapi dapat diteruskan sebagai bagian dari rutinitas ibadah sehari-hari. Menghidupkan Semangat Berbagi Meneladani Rasulullah SAW juga dapat diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama. Sedekah menjadi salah satu bentuk kebaikan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261). Sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Berbagi makanan, membantu orang yang membutuhkan, menyisihkan sebagian rezeki, atau memberikan dukungan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan merupakan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Rabiul Awal dapat menjadi momentum untuk memulai kebiasaan berbagi sekaligus menjadikannya sebagai amalan yang terus dilakukan setelah bulan tersebut berlalu. Rabiul Awal Momentum Kebaikan Rabiul Awal bukan sekadar waktu untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah melalui ibadah, pembelajaran, perbaikan akhlak, dan kepedulian kepada sesama. Kebaikan dapat dimulai dari langkah sederhana dan dilakukan secara konsisten. Salah satunya dengan menyalurkan sedekah melalui kanal resmi BAZNAS agar manfaatnya dapat diteruskan kepada masyarakat yang membutuhkan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL16/09/2026 | MBL-01
Rabiul Awal, Momentum Meneladani Rasulullah dan Memperbanyak Kebaikan
Rabiul Awal, Momentum Meneladani Rasulullah dan Memperbanyak Kebaikan
BULAN Rabiul Awal memiliki makna penting bagi umat Islam karena erat kaitannya dengan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Bulan ini menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, perjuangan dakwah, keteladanan akhlak, hingga wafatnya beliau. Rabiul Awal juga dikenal sebagai bulan Maulid. Peringatan Maulid Nabi di berbagai daerah umumnya diisi dengan pembacaan sirah, selawat, doa, sedekah, serta berbagai kegiatan yang menjadi bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW. Namun, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada peringatan atau ungkapan selawat. Nilai yang lebih penting adalah bagaimana keteladanan beliau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kepedulian, berbagi, dan memberikan manfaat kepada sesama. Rabiul Awal dan Perjalanan Hidup Rasulullah Rabiul Awal merupakan bulan ketiga dalam kalender Hijriah, setelah Muharam dan Safar. Bagi umat Islam, bulan ini memiliki kedekatan khusus dengan sejarah Nabi Muhammad SAW dan menjadi kesempatan untuk kembali mempelajari sirah serta akhlak beliau. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang menjadi teladan dalam kejujuran, amanah, kasih sayang, kepedulian, dan hubungan dengan sesama. Karena itu, mengenang kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi pengingat untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Rabiul Awal juga berkaitan dengan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Rasulullah SAW, termasuk kelahiran dan wafat beliau serta kedatangan Rasulullah SAW di Madinah setelah perjalanan hijrah. Terkait tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal merupakan pendapat yang populer di tengah umat Islam, meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pastinya. Memaknai Rabiul Awal dengan Amal Kebaikan Rabiul Awal dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal kebaikan. Memperbanyak selawat, mempelajari kehidupan Rasulullah SAW, menjaga silaturahmi, serta membantu sesama merupakan bentuk nyata dalam menghidupkan nilai-nilai keteladanan beliau. Kebaikan juga dapat diwujudkan melalui zakat, infak, dan sedekah. Dalam berbagai tradisi peringatan Maulid, sedekah dan pemberian makanan kepada sesama menjadi salah satu bentuk ekspresi kegembiraan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Meski demikian, tidak ada ketentuan yang menjadikan sedekah pada Rabiul Awal memiliki keutamaan khusus yang membedakannya dari bulan lain. Berbagi tetap merupakan amal kebaikan yang dapat dilakukan kapan saja sesuai kemampuan. Tidak harus dalam jumlah besar. Sebagian rezeki yang disisihkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan. Ketika zakat, infak, dan sedekah dikelola serta disalurkan dengan baik, manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat. Salurkan Kebaikan melalui BAZNAS Semangat berbagi pada Rabiul Awal dapat diwujudkan dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang memiliki layanan serta program penyaluran bagi masyarakat yang membutuhkan. BAZNAS Provinsi Lampung menyediakan layanan pembayaran zakat secara online melalui lampung.baznas.go.id/bayarzakat. Masyarakat dapat menunaikan zakat sesuai dengan ketentuan dan menyalurkan kebaikan melalui berbagai bentuk dana sosial keagamaan. Setiap zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Dengan demikian, semangat mencintai Rasulullah SAW tidak hanya diwujudkan dengan mengenang perjalanan hidup beliau, tetapi juga melalui tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi sesama. Rabiul Awal dapat menjadi pengingat untuk terus meneladani akhlak Rasulullah SAW, memperkuat kepedulian, dan membangun kebiasaan berbagi. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL16/09/2026 | MBL-01
Berbagi Bukan Hanya Sesama, Ini Dampak bagi Kesehatan Mental
Berbagi Bukan Hanya Sesama, Ini Dampak bagi Kesehatan Mental
BERBAGI merupakan salah satu bentuk kebaikan yang dianjurkan dalam Islam. Tidak selalu berupa uang, berbagi juga dapat dilakukan melalui makanan, tenaga, ilmu, waktu, perhatian, hingga kata-kata yang baik. Menariknya, kebiasaan berbagi tidak hanya memberi manfaat bagi penerima, tetapi juga dapat mendukung kesehatan mental orang yang melakukannya. Dalam Islam, setiap kebaikan dapat bernilai sedekah. Karena itu, seseorang tidak harus menunggu memiliki kelebihan harta untuk mulai berbagi. Hal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi bagian dari kepedulian sekaligus memperkuat hubungan sosial. Berbagi dan membantu orang lain dapat menumbuhkan rasa bahagia, puas, dan hidup yang lebih bermakna. Ketika seseorang memberikan waktu, perhatian, atau bantuan, fokusnya tidak hanya tertuju pada persoalan pribadi, tetapi juga pada kebutuhan orang lain. Interaksi tersebut dapat memperkuat hubungan sosial dan membantu mengurangi rasa kesepian. Kebiasaan berbagi juga dapat menumbuhkan rasa syukur. Saat melihat kebutuhan dan kondisi orang lain, seseorang lebih mudah menyadari berbagai nikmat yang dimilikinya. Al-Qur’an bahkan menggambarkan pahala sedekah seperti satu benih yang menumbuhkan banyak bulir dalam QS. Al-Baqarah ayat 261. Namun, kebaikan tetap perlu dilakukan dengan menjaga martabat penerima dan tidak disertai sikap menyakiti atau mengungkit pemberian. Pada akhirnya, berbagi bukan sekadar memberikan sesuatu kepada orang lain, tetapi juga membangun rasa terhubung, bersyukur, dan memiliki tujuan dalam hidup. Karena itu, kebiasaan berbagi secara konsisten dan sesuai kemampuan dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga kesejahteraan psikologis. Mulai dari Hal Sederhana Berbagi dapat dimulai dari hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti menyisihkan sebagian penghasilan, berbagi makanan, membantu pekerjaan orang lain, memberikan ilmu, meluangkan waktu, atau sekadar mendengarkan seseorang yang membutuhkan teman bicara. Yang terpenting adalah dilakukan dengan ikhlas, sesuai kemampuan, dan tidak memberatkan diri. Meski demikian, berbagi bukan pengganti penanganan profesional bagi seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Jika masalah psikologis berlangsung lama atau mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan dari tenaga profesional tetap diperlukan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL14/09/2026 | MBL-01
Sehat dalam Islam: Menjaga Tubuh sebagai Amanah dan Sarana Ibadah
Sehat dalam Islam: Menjaga Tubuh sebagai Amanah dan Sarana Ibadah
MENJAGA kesehatan dalam Islam bukan hanya tentang memiliki tubuh yang bugar, tetapi juga merawat kesehatan jiwa, kebersihan, ibadah, dan keseimbangan hidup. Kesehatan merupakan salah satu nikmat Allah SWT sekaligus amanah yang perlu dijaga agar dapat digunakan untuk menjalankan aktivitas dan berbagai kebaikan. Islam mengajarkan pola hidup yang seimbang, termasuk dalam memilih makanan, menjaga kebersihan, beraktivitas, beristirahat, serta menghindari hal-hal yang membahayakan tubuh. Prinsip tersebut dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Mengonsumsi Makanan Halal Salah satu dasar hidup sehat dalam Islam adalah memilih makanan yang halal dan baik (tayyib). Selain memperhatikan status kehalalannya, kita juga perlu mempertimbangkan kebersihan, kualitas, kandungan gizi, dan jumlah yang dikonsumsi. Islam juga melarang sikap berlebihan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'raf ayat 31, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” Pesan ini mengajarkan pentingnya pengendalian diri dalam memenuhi kebutuhan tubuh, termasuk dengan menjaga porsi dan tidak berlebihan mengonsumsi makanan maupun minuman. Mencukupi kebutuhan cairan, terutama melalui air putih, juga menjadi kebiasaan sederhana yang dapat mendukung kesehatan. Kebutuhan setiap orang dapat berbeda sesuai aktivitas, cuaca, usia, dan kondisi tubuh sehingga penting untuk mengenali kebutuhan masing-masing. Menjaga Kebersihan dan Aktif Bergerak Kebersihan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Wudu, menjaga kebersihan tubuh dan pakaian, serta menjaga kebersihan tempat ibadah merupakan bagian dari keseharian umat Islam. Kebiasaan tersebut juga sejalan dengan upaya menjaga kesehatan, termasuk dengan menjaga kebersihan tangan, makanan, rumah, dan lingkungan. Selain kebersihan, tubuh juga perlu digunakan untuk aktivitas yang sehat. Olahraga dan aktivitas fisik dapat membantu menjaga kebugaran sehingga kita lebih mampu menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta menjalankan tanggung jawab sehari-hari. Aktivitas seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau olahraga ringan dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kondisi tubuh. Rasulullah SAW bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan. (HR. Muslim No. 2664). Hadis tersebut menjadi pengingat untuk berusaha mengambil hal-hal yang bermanfaat, termasuk menjaga kemampuan dan kebugaran diri. Menjaga Istirahat dan Ketenangan Hati Hidup sehat juga membutuhkan keseimbangan antara ibadah, pekerjaan, keluarga, aktivitas sosial, dan kebutuhan tubuh. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tubuh memiliki hak atas diri seseorang. (HR. Bukhari No. 5199). Karena itu, istirahat yang cukup bukan bentuk kemalasan, melainkan bagian dari menjaga amanah tubuh. Selain kesehatan fisik, ketenangan hati juga perlu diperhatikan. Salat, doa, membaca Al-Qur'an, zikir, dan bersyukur dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ketenangan serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Namun, persoalan kesehatan mental tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan spiritual. Ketika seseorang mengalami masalah psikologis yang berat atau berkepanjangan, mencari bantuan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan merupakan bentuk ikhtiar yang tetap sejalan dengan upaya menjaga amanah diri. Menghindari Hal yang Membahayakan Islam mengajarkan umatnya untuk tidak menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Prinsip ini dapat menjadi landasan untuk menghindari kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan, seperti pola makan yang buruk, kurang bergerak, atau konsumsi sesuatu yang membahayakan tubuh. Menjaga kesehatan bukan berarti harus menjalani pola hidup yang ekstrem. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan baik secara konsisten, sesuai kemampuan, serta tetap menghindari hal-hal yang dapat merusak tubuh. Menjadikan Kesehatan sebagai Sarana Beribadah Dalam perspektif Islam, kesehatan bukan sekadar tujuan untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Tubuh yang sehat merupakan sarana untuk beribadah dan melakukan berbagai kebaikan, mulai dari menjalankan salat, mencari rezeki yang halal, menuntut ilmu, membantu keluarga, hingga memberikan manfaat bagi orang lain. Karena itu, gaya hidup sehat dapat dimulai dari langkah sederhana: memilih makanan halal dan bergizi, menjaga porsi makan, mencukupi kebutuhan cairan, menjaga kebersihan, rutin bergerak, beristirahat dengan cukup, merawat kesehatan mental, serta menghindari kebiasaan yang membahayakan. Ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara seimbang dan konsisten, menjaga kesehatan tidak hanya menjadi bagian dari merawat diri, tetapi juga menjadi bentuk syukur atas nikmat Allah SWT dan ikhtiar agar tubuh dapat terus digunakan untuk beribadah serta menebarkan manfaat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL14/09/2026 | MBL-01
Donasi Online Makin Mudah, Begini Cara Bayar ZIS di Website BAZNAS Lampung
Donasi Online Makin Mudah, Begini Cara Bayar ZIS di Website BAZNAS Lampung
PERKEMBANGAN teknologi digital turut mengubah cara masyarakat berbagi dan menyalurkan kepedulian. Jika sebelumnya zakat, infak, sedekah, dan bantuan kemanusiaan lebih banyak dilakukan secara langsung, kini masyarakat dapat menunaikan kebaikan melalui perangkat digital dengan proses yang lebih cepat dan praktis. Bagi umat Islam, kemudahan tersebut menjadi sarana baru untuk memperluas kebiasaan berbagi. Teknologi tidak mengubah nilai ibadah dalam zakat, infak, maupun sedekah, tetapi menghadirkan pilihan baru agar masyarakat dapat menunaikannya kapan dan di mana saja melalui lembaga atau kanal yang terpercaya. Perkembangan tersebut sejalan dengan semakin luasnya penggunaan internet di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023. Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi semakin dekat dengan berbagai aktivitas masyarakat, termasuk dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Mengapa Donasi Online kian Diminati? Salah satu alasan donasi online semakin diminati adalah kemudahan transaksi. Masyarakat tidak perlu datang langsung ke kantor lembaga sosial atau mencari lokasi pengumpulan dana. Dengan perangkat yang terhubung ke internet, donatur dapat menentukan jenis dana dan nominal, kemudian menyelesaikan pembayaran melalui metode yang tersedia. Pilihan pembayaran digital yang semakin beragam juga membuat proses tersebut lebih mudah. Transfer bank, mobile banking, dompet digital, hingga QRIS telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Kemudahan ini memungkinkan seseorang menunaikan sedekah atau memberikan bantuan tanpa harus menyesuaikan dengan tempat dan waktu tertentu. Selain transaksi, internet memudahkan masyarakat memperoleh informasi mengenai program sosial. Lembaga zakat dan organisasi sosial dapat menyampaikan informasi mengenai program, penerima manfaat, serta penyaluran dana melalui situs web maupun media sosial. Hal tersebut membantu masyarakat menentukan program yang ingin didukung sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan. Bagi umat Islam, kemudahan ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan berbagi secara lebih konsisten. Sedekah dapat dilakukan setelah menerima penghasilan, zakat dapat ditunaikan ketika telah memenuhi ketentuan, dan bantuan kemanusiaan dapat disalurkan ketika dibutuhkan. Teknologi Memudahkan Layanan ZIS Digitalisasi tidak hanya mengubah cara masyarakat berdonasi, tetapi juga mendorong lembaga filantropi Islam untuk meningkatkan layanan. BAZNAS sebagai lembaga pengelola zakat menyediakan berbagai layanan digital yang memungkinkan masyarakat mendapatkan informasi, melakukan pembayaran, hingga memperoleh bukti transaksi secara lebih praktis. Melalui layanan digital, masyarakat dapat memilih jenis dana yang ingin ditunaikan, mengisi data yang diperlukan, menentukan metode pembayaran, dan menyelesaikan transaksi tanpa harus datang langsung ke kantor. Kemudahan tersebut menjadi salah satu bentuk adaptasi layanan zakat, infak, dan sedekah terhadap kebutuhan masyarakat saat ini. Bagi masyarakat yang ingin menunaikan ZIS melalui kanal resmi BAZNAS Provinsi Lampung, pembayaran dapat dilakukan langsung melalui website BAZNAS Provinsi Lampung. Cara Bayar ZIS di Website Lampung Pembayaran zakat, infak, dan sedekah secara online dapat dilakukan dengan langkah berikut: Buka website BAZNAS Provinsi Lampung melalui lampung.baznas.go.id. Pilih menu “Bayar Zakat” yang tersedia pada website. Pilih jenis dana yang ingin ditunaikan, seperti zakat, infak/sedekah, DSKL, fidyah, atau kurban. Pilih subjenis dana sesuai kebutuhan, misalnya zakat maal, zakat penghasilan, atau zakat fitrah. Masukkan nominal pembayaran yang ingin ditunaikan. Lengkapi data berupa nama, nomor HP, dan alamat email yang aktif. Centang CAPTCHA serta persetujuan yang tersedia. Pilih metode pembayaran yang diinginkan. Lakukan pembayaran sesuai instruksi metode yang dipilih dan pastikan transaksi berhasil. Setelah pembayaran selesai, bukti pembayaran atau invoice akan dikirim melalui kontak yang telah dicantumkan. Bagi masyarakat yang belum mengetahui jumlah zakat yang harus ditunaikan, BAZNAS Provinsi Lampung juga menyediakan Kalkulator Zakat yang dapat digunakan untuk membantu menghitung kewajiban zakat sebelum melakukan pembayaran. Dengan adanya layanan tersebut, masyarakat dapat menunaikan ZIS dengan lebih praktis tanpa harus datang langsung ke kantor. Kemudahan ini juga memungkinkan masyarakat tetap berbagi di tengah kesibukan sehari-hari. Tetap Bijak Saat Berdonasi Kemudahan donasi digital tetap perlu diiringi dengan kehati-hatian. Sebelum melakukan pembayaran, pastikan menggunakan website atau kanal resmi lembaga yang dituju. Periksa pula jenis dana yang akan disalurkan agar zakat, infak, sedekah, maupun bantuan lainnya diberikan sesuai tujuan. Keamanan transaksi juga perlu diperhatikan. Jangan memberikan PIN, kata sandi, kode OTP, atau informasi perbankan yang bersifat rahasia kepada pihak lain. Pastikan seluruh proses pembayaran dilakukan melalui kanal yang resmi dan terpercaya. Bagi seorang Muslim, kehati-hatian dalam menyalurkan harta merupakan bagian dari sikap amanah. Niat baik untuk berbagi perlu diikuti dengan memastikan dana diberikan melalui jalur yang tepat sehingga manfaatnya dapat sampai kepada pihak yang membutuhkan. Perluas Kebaikan Layanan Digital Perkembangan teknologi memberikan peluang bagi masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, sedekah, dan berbagai bentuk bantuan dengan cara yang semakin mudah. Kehadiran layanan digital membuat aktivitas berbagi tidak lagi terbatas oleh jarak dan waktu. Namun, teknologi tetaplah sarana. Nilai utama dari zakat, infak, dan sedekah terletak pada keikhlasan, amanah, serta manfaat yang diberikan kepada sesama. Dengan memanfaatkan kanal resmi dan terpercaya, masyarakat dapat menjadikan kemudahan digital sebagai jalan untuk menjaga kebiasaan berbagi sekaligus memperluas manfaat ZIS bagi mereka yang membutuhkan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL11/09/2026 | MBL-01
Sedekah dan Keberkahan Rezeki: Kebaikan Berdampak Diri dan Sesama
Sedekah dan Keberkahan Rezeki: Kebaikan Berdampak Diri dan Sesama
REZEKI tidak selalu hadir dalam bentuk uang atau harta. Kesehatan, keluarga yang harmonis, ketenangan hati, hingga kesempatan untuk berbuat baik juga merupakan nikmat yang patut disyukuri. Salah satu cara mensyukuri nikmat tersebut adalah melalui sedekah. Dalam Islam, sedekah bukan sekadar memberikan sebagian harta kepada orang lain. Sedekah merupakan wujud kepedulian kepada sesama sekaligus bentuk syukur kepada Allah SWT. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar memahami bahwa harta yang dimiliki merupakan titipan Allah dan di dalamnya terdapat kesempatan untuk memberi manfaat bagi orang lain. Allah SWT menggambarkan besarnya balasan bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 261. Dalam ayat tersebut, pahala orang yang berinfak diibaratkan seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir menghasilkan seratus biji. Gambaran ini menunjukkan besarnya nilai kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT. Karena itu, keberkahan sedekah tidak selalu dapat dilihat dari bertambahnya harta secara langsung. Balasan kebaikan dapat hadir dalam berbagai bentuk, seperti ketenangan hati, kemudahan dalam menjalani urusan, keberkahan keluarga, maupun manfaat lain yang tidak selalu dapat diperkirakan manusia. Sedekah Memiliki Makna Luas Sedekah sering dipahami sebagai pemberian uang atau barang kepada orang yang membutuhkan. Padahal, maknanya jauh lebih luas. Sedekah dapat berupa harta maupun berbagai bentuk kebaikan yang memberikan manfaat bagi orang lain. Hal ini membedakan sedekah dengan zakat. Zakat merupakan kewajiban bagi Muslim yang memenuhi syarat tertentu, sedangkan sedekah merupakan amalan sunah dengan cakupan yang lebih luas. Sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kesempatan yang dimiliki. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyantuni orang yang membutuhkan, membantu korban bencana, hingga mendukung kegiatan sosial merupakan contoh sedekah. Kebaikan dalam bentuk tenaga, ilmu, perhatian, bahkan senyuman juga dapat bernilai sedekah. Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa kesempatan untuk bersedekah terbuka bagi siapa saja. Ketika belum memiliki kemampuan secara materi, seseorang tetap dapat berbagi melalui tenaga, ilmu, waktu, maupun bantuan sederhana yang bermanfaat bagi orang lain. Yang tidak kalah penting, sedekah hendaknya dilakukan dengan niat mencari ridha Allah SWT, bukan untuk memperoleh pujian atau pengakuan. Keikhlasan menjadi bagian penting dalam menjaga nilai ibadah sekaligus membentuk kebiasaan berbagi yang tulus. Sedekah dan Keberkahan Rezeki Sebagian orang mungkin merasa khawatir hartanya berkurang ketika digunakan untuk bersedekah. Namun, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Secara jumlah, uang yang diberikan memang berkurang, tetapi keberkahan rezeki tidak dapat diukur hanya berdasarkan nominal. Harta yang sedikit tetapi berkah dapat memberikan rasa cukup dan ketenangan. Sebaliknya, banyaknya harta belum tentu membuat seseorang merasa tercukupi. Allah SWT juga berfirman dalam QS. Saba' ayat 39 bahwa apa yang dinafkahkan di jalan-Nya akan mendapatkan penggantian dari Allah SWT. Balasan tersebut tidak selalu datang dalam bentuk uang atau pada waktu yang langsung terlihat. Kemudahan dalam menyelesaikan urusan, kesempatan yang baik, pertolongan melalui orang lain, atau ketenangan dalam menghadapi masalah dapat menjadi bagian dari keberkahan yang dirasakan seseorang. Namun, seorang Muslim tidak perlu menganggap setiap kemudahan yang datang sebagai balasan langsung dari sedekah tertentu. Keyakinan yang perlu dibangun adalah bahwa Allah SWT memiliki banyak cara untuk memberikan rezeki dan keberkahan kepada hamba-Nya. Sedekah pada akhirnya menjadi salah satu bentuk ikhtiar sekaligus latihan untuk memperkuat rasa syukur dan tawakal. Kita tetap bekerja dan berusaha, tetapi tidak menjadikan harta sebagai satu-satunya ukuran keamanan dan kebahagiaan hidup. Melatih Ikhlas dan Mengurangi Kikir Sedekah juga memberikan pelajaran penting bagi diri sendiri. Kebiasaan berbagi membantu seseorang mengendalikan kecintaan berlebihan terhadap harta dan menyadari bahwa kebahagiaan tidak hanya berasal dari memiliki, tetapi juga dari memberi. Ketika sebagian rezeki yang dimiliki dapat membantu orang lain, muncul kesadaran bahwa apa yang kita miliki dapat menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat. Bantuan makanan dapat meringankan kebutuhan seseorang, dukungan pendidikan dapat membuka kesempatan bagi anak untuk belajar, dan bantuan sosial dapat membantu keluarga menghadapi masa sulit. Kebiasaan berbagi juga menumbuhkan rasa syukur. Dengan melihat kondisi orang lain, kita dapat semakin menyadari berbagai nikmat yang dimiliki, seperti kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan baik. Pada saat yang sama, sedekah mengajarkan bahwa harta merupakan sarana, bukan tujuan akhir. Seseorang tetap dapat bekerja keras dan memiliki kekayaan, tetapi harta tersebut sebaiknya digunakan untuk kebaikan dan tidak membuat hati jauh dari Allah SWT. Sedekah jadi Bekal Amal Akhirat Sedekah bukan hanya memberikan manfaat di dunia, tetapi juga menjadi salah satu amal yang bernilai bagi kehidupan akhirat. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sedekah dapat menjadi sebab terhapusnya dosa, sebagaimana air memadamkan api. Al-Qur'an juga menyebutkan dalam QS. Al-Hadid ayat 18 bahwa orang-orang yang bersedekah akan memperoleh balasan yang dilipatgandakan. Ayat tersebut mengingatkan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai yang jauh melampaui apa yang terlihat secara materi. Karena itu, sedekah sebaiknya tidak dipandang sebagai kehilangan harta. Ketika seseorang memberikan sebagian rezekinya karena Allah SWT, ia sedang mengubah harta tersebut menjadi amal kebaikan yang diharapkan menjadi bekal di akhirat. Keikhlasan tetap menjadi hal utama. Sedekah tidak semestinya dilakukan demi popularitas, pujian, atau pengakuan. Semakin tulus seseorang memberi, semakin ia memahami bahwa balasan terbaik adalah apa yang Allah SWT tetapkan. Sedekah Perkuat Kepedulian Sosial Dampak sedekah juga dirasakan oleh masyarakat. Islam mengajarkan kepedulian terhadap fakir miskin, anak yatim, tetangga, korban bencana, serta kelompok lain yang membutuhkan bantuan. Jika kebiasaan berbagi tumbuh di tengah masyarakat, lebih banyak kebutuhan dapat terbantu. Bantuan pangan dapat meringankan keluarga yang kesulitan, dukungan pendidikan dapat membuka peluang bagi generasi muda, dan bantuan kemanusiaan dapat mempercepat penanganan ketika terjadi bencana. Sedekah juga memperkuat hubungan antarmanusia. Penerima bantuan merasa mendapatkan perhatian dan dukungan, sementara pemberi belajar memahami kondisi orang lain. Dari sini tumbuh rasa empati, persaudaraan, dan gotong royong. Dalam skala yang lebih luas, kebiasaan bersedekah dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih peduli dan saling membantu. Sedekah tidak lagi hanya menjadi ibadah personal, tetapi juga memiliki dampak sosial yang nyata. Tidak Perlu Menunggu Kaya untuk Bersedekah Sedekah bukan amalan yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki banyak harta. Islam memberikan ruang bagi setiap Muslim untuk berbuat baik sesuai dengan kemampuan masing-masing. Jika memiliki uang, kita dapat menyisihkan sebagian untuk membantu orang yang membutuhkan. Jika memiliki makanan berlebih, kita dapat membagikannya. Jika memiliki ilmu, kita dapat mengajarkannya. Jika memiliki tenaga dan waktu, kita dapat membantu orang lain. Bahkan, kebaikan sederhana seperti tersenyum, membantu seseorang, atau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan dapat bernilai sedekah. Luasnya makna ini membuat setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi. Sedekah juga tidak harus dalam jumlah besar. Menyisihkan sebagian rezeki secara rutin sesuai kemampuan dapat menjadi kebiasaan baik. Yang terpenting, sedekah tidak dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan pokok diri sendiri maupun keluarga. Islam mengajarkan keseimbangan dalam mengelola harta. Membiasakan Sedekah Kehidupan Sehari-hari Membiasakan sedekah dapat dimulai dari langkah sederhana. Pertama, luruskan niat bahwa pemberian dilakukan untuk mencari ridha Allah SWT. Kedua, tentukan kemampuan yang dapat disisihkan secara rutin, baik harian, mingguan, maupun bulanan. Selanjutnya, pilih penerima atau saluran sedekah yang tepat. Sedekah dapat diberikan secara langsung kepada orang yang membutuhkan maupun melalui lembaga amil atau lembaga sosial yang terpercaya. Jika disalurkan melalui lembaga, penting untuk memperhatikan kredibilitas, transparansi, dan program penyalurannya. Selain harta, perluas pula bentuk kebaikan yang dilakukan. Berbagi ilmu, membantu tenaga, memberikan waktu, hingga memberikan perhatian kepada orang yang membutuhkan juga merupakan bentuk kepedulian. Pada akhirnya, sedekah bukan hanya tentang berapa banyak yang kita keluarkan, tetapi tentang seberapa tulus kita berbagi dan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama. Dengan membiasakan sedekah, kita belajar bersyukur, melatih keikhlasan, memperkuat kepedulian sosial, sekaligus mengharapkan keberkahan dari Allah SWT dalam kehidupan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL11/09/2026 | MBL-01
Menjaga Kebersihan dalam Islam: Dari Kesucian Diri hingga Kepedulian Lingkungan
Menjaga Kebersihan dalam Islam: Dari Kesucian Diri hingga Kepedulian Lingkungan
KEBERSIHAN memiliki tempat penting dalam ajaran Islam. Tidak hanya berkaitan dengan kebersihan tubuh, Islam juga mengajarkan umatnya untuk menjaga pakaian, rumah, lingkungan, hingga kebersihan hati. Karena itu, hidup bersih bukan sekadar kebiasaan untuk menciptakan kenyamanan, tetapi juga bagian dari upaya menjalankan kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kebersihan dan kesucian juga memiliki hubungan erat dengan ibadah. Wudu, mandi wajib, membersihkan pakaian dari najis, serta memastikan tempat salat dalam keadaan suci menjadi bagian dari keseharian seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Bersuci adalah setengah dari iman,” sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim 223. Hadis tersebut menunjukkan bahwa bersuci memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Kebersihan Dimulai dari Diri Sendiri Menjaga kebersihan dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Mandi secara teratur, mencuci tangan, membersihkan gigi dan mulut, memotong kuku, merawat rambut, serta mengenakan pakaian bersih merupakan bentuk perhatian terhadap tubuh yang telah Allah SWT amanahkan. Islam juga mengenal sunnah-sunnah fitrah yang berkaitan dengan kebersihan diri. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW menyebutkan lima perkara fitrah, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa kebersihan diri perlu dirawat secara rutin, bukan hanya ketika seseorang hendak beribadah. Tubuh yang bersih memberikan kenyamanan, mendukung aktivitas sehari-hari, serta menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan menghargai diri sendiri. Wudu dan Mandi, Kebersihan yang Bernilai Ibadah Wudu menjadi salah satu bentuk bersuci yang paling dekat dengan kehidupan umat Islam. Sebelum melaksanakan salat dalam kondisi yang mengharuskannya, seorang Muslim melakukan wudu dengan membasuh atau mengusap bagian tubuh tertentu sesuai ketentuan syariat. Selain wudu, mandi juga menjadi bagian dari bersuci. Dalam kondisi tertentu, mandi wajib merupakan kewajiban bagi seorang Muslim. Di luar itu, mandi secara teratur juga menjadi kebiasaan penting untuk menjaga kebersihan tubuh. Dari sini terlihat bahwa Islam memadukan kebersihan dengan ibadah. Bersuci bukan hanya membuat tubuh lebih bersih, tetapi juga menjadi persiapan lahir dan batin sebelum menghadap Allah SWT. Pakaian Bersih dan Layak untuk Beribadah Kebersihan juga perlu diperhatikan melalui pakaian yang dikenakan. Seorang Muslim dianjurkan menggunakan pakaian yang bersih dan layak, terlebih ketika hendak melaksanakan salat. Pakaian yang terkena najis perlu dibersihkan sesuai ketentuan agar ibadah dapat dilaksanakan dengan baik. Kebersihan pakaian juga berkaitan dengan kenyamanan diri dan orang lain. Pakaian yang bersih, rapi, dan terawat tidak harus mahal atau bermerek. Yang terpenting adalah layak digunakan, bersih, serta sesuai dengan ketentuan syariat. Rumah dan Lingkungan Juga Perlu Dijaga Islam tidak membatasi kebersihan pada diri sendiri. Rumah dan lingkungan tempat tinggal juga perlu dirawat karena menjadi ruang bersama untuk beraktivitas, beristirahat, dan berinteraksi dengan keluarga. Membersihkan kamar, lantai, kamar mandi, dapur, tempat tidur, serta membuang sampah pada tempatnya merupakan kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan secara rutin. Sampah yang dibiarkan menumpuk bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat menimbulkan bau dan berpotensi mengganggu kesehatan. Tanggung jawab tersebut juga berlaku di ruang publik. Masjid, sekolah, kantor, pasar, taman, kendaraan umum, dan fasilitas masyarakat digunakan oleh banyak orang sehingga kebersihannya menjadi tanggung jawab bersama. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak mengotori fasilitas umum, dan menjaga kebersihan tempat yang digunakan merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, kebersihan memiliki dimensi sosial. Ketika seseorang menjaga lingkungan, ia bukan hanya menciptakan kenyamanan bagi dirinya, tetapi juga menghargai hak orang lain untuk menikmati lingkungan yang bersih dan layak. Kebersihan Hati Tidak Kalah Penting Selain kebersihan yang terlihat secara fisik, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan hati dan jiwa. Iri, dengki, kebencian, kesombongan, dan penyakit hati lainnya dapat memengaruhi perilaku serta hubungan seseorang dengan orang lain. Membersihkan hati dapat dilakukan dengan memperbanyak istigfar, berdoa, membaca Al-Qur'an, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah SWT. Kebersihan lahir idealnya berjalan bersama dengan kebersihan batin. Seseorang dapat memiliki tubuh yang bersih dan rumah yang rapi, tetapi kebersihan tersebut akan semakin bermakna ketika disertai akhlak yang baik. Karena itu, menjaga kebersihan hati juga membutuhkan proses introspeksi dan perbaikan diri yang dilakukan secara terus-menerus. Membiasakan Hidup Bersih dalam Keseharian Menjadikan kebersihan sebagai bagian dari kehidupan tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Konsistensi terhadap kebiasaan sederhana justru menjadi langkah penting. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain: menjaga kebersihan tubuh dan merawat diri secara rutin; mengenakan serta merawat pakaian yang bersih; menjaga kebersihan dan kerapian rumah; membuang dan mengelola sampah dengan baik; menjaga kebersihan fasilitas umum; memperhatikan kesucian diri, pakaian, dan tempat sebelum beribadah; serta membersihkan hati dengan introspeksi, doa, zikir, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Kebiasaan tersebut dapat dikenalkan sejak dini di lingkungan keluarga. Orang tua dapat menjadi contoh dengan membiasakan anak membersihkan kamar, merapikan barang setelah digunakan, dan membuang sampah pada tempatnya. Dengan begitu, kebersihan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga nilai yang melekat dalam kehidupan. Pada akhirnya, kebersihan dalam Islam mencakup keselarasan antara kebersihan lahir dan batin. Menjaga tubuh, pakaian, rumah, dan lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab, sementara menjaga hati menjadi bagian dari upaya memperbaiki akhlak. Dengan membiasakan hidup bersih dan menjaga kesucian diri, seorang Muslim tidak hanya menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan nyaman, tetapi juga menjalankan salah satu nilai penting yang diajarkan dalam Islam.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL04/09/2026 | MBL-01
Taubat dalam Islam: Jalan Kembali dan Memperbaiki Diri
Taubat dalam Islam: Jalan Kembali dan Memperbaiki Diri
SETIAP manusia tidak luput dari kesalahan. Dosa dapat terjadi melalui perkataan, perbuatan, maupun sikap hati. Namun, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berputus asa karena dosa. Selama kesempatan masih terbuka, seorang Muslim dapat kembali kepada Allah SWT melalui taubat. Taubat bukan sekadar mengucapkan istigfar, tetapi merupakan kesungguhan untuk meninggalkan dosa, menyesalinya, dan memperbaiki diri. Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan taubatan nasuha atau taubat yang sungguh-sungguh dalam QS. At-Tahrim ayat 8. Karena itu, taubat bukan tanda bahwa seseorang telah sempurna, melainkan bukti bahwa ia menyadari kesalahannya dan ingin kembali ke jalan yang diridai Allah SWT. Apa Itu Taubat dalam Islam? Secara bahasa, taubat berasal dari kata Arab tawbah yang berarti kembali. Dalam pengertian syariat, taubat adalah kembali dari perbuatan yang tidak diridai Allah SWT menuju ketaatan kepada-Nya. Taubat dimulai dari kesadaran bahwa dosa merupakan kesalahan yang perlu ditinggalkan. Kesadaran tersebut kemudian diwujudkan melalui penyesalan, permohonan ampun, dan usaha nyata untuk tidak mengulangi perbuatan yang sama. Istigfar merupakan salah satu bentuk permohonan ampun, tetapi taubat memiliki makna yang lebih luas. Ucapan “Astaghfirullah” perlu disertai kesungguhan hati dan perubahan perilaku. Dengan demikian, taubat bukan hanya tentang apa yang diucapkan, tetapi juga bagaimana seseorang memperbaiki kehidupannya setelah menyadari kesalahan. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa manusia tidak terlepas dari dosa dan kesalahan, tetapi sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat. Hakikat Taubat yang Sungguh-Sungguh Hakikat taubat terletak pada perubahan sikap seorang hamba terhadap dosa. Ia tidak lagi menganggap kemaksiatan sebagai sesuatu yang ringan, melainkan menyadari kesalahannya dan berusaha menjauhi hal-hal yang dapat membawanya kembali kepada dosa. Taubat yang sungguh-sungguh juga tidak berhenti pada penyesalan. Seseorang perlu memperbaiki ibadah, memperbanyak amal saleh, menjaga pergaulan, serta meninggalkan kebiasaan dan lingkungan yang dapat mendorongnya kembali kepada kemaksiatan. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 8 agar orang-orang beriman bertaubat dengan taubatan nasuha. Ayat tersebut sekaligus memberikan harapan bahwa Allah SWT membuka jalan bagi hamba yang ingin kembali dan memperbaiki dirinya. Syarat Taubat dalam Islam Para ulama menjelaskan beberapa unsur penting dalam taubat. Pertama, meninggalkan dosa yang dilakukan. Taubat tidak dapat dipisahkan dari usaha untuk menghentikan perbuatan yang ingin ditinggalkan. Kedua, menyesali perbuatan tersebut. Penyesalan berarti menyadari bahwa dosa yang dilakukan merupakan kesalahan dan berharap agar Allah SWT mengampuninya. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulangi dosa. Tekad ini menunjukkan kesungguhan seseorang dalam memperbaiki diri. Jika suatu saat ia kembali tergelincir karena kelemahannya, ia tetap perlu kembali bertaubat dan memperkuat usahanya untuk menjauhi dosa. Apabila kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, taubat juga perlu disertai upaya menyelesaikan hak tersebut. Misalnya, mengembalikan harta yang diambil secara tidak benar atau memperbaiki kerugian yang ditimbulkan kepada orang lain sesuai dengan cara yang tepat. Dengan demikian, taubat tidak hanya memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Keutamaan Taubat bagi Seorang Muslim Taubat merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Melalui taubat, seorang Muslim memiliki kesempatan untuk meninggalkan dosa, mendekatkan diri kepada Allah, dan memperbaiki kehidupannya. Dalam Sahih Muslim 2747a, Rasulullah SAW menggambarkan besarnya kegembiraan Allah terhadap taubat seorang hamba melalui perumpamaan seseorang yang kehilangan kendaraan dan bekalnya di padang tandus, kemudian menemukannya kembali. Gambaran tersebut menunjukkan betapa besar nilai taubat di sisi Allah SWT. Al-Qur'an juga mengingatkan manusia agar tidak berputus asa dari rahmat Allah. Dalam QS. Az-Zumar ayat 53, Allah SWT menyeru hamba-hamba-Nya yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Pesan ini mengajarkan keseimbangan dalam diri seorang Muslim: takut terhadap dosa, tetapi tetap memiliki harapan terhadap ampunan Allah. Kesalahan tidak seharusnya membuat seseorang menyerah, melainkan menjadi dorongan untuk kembali dan memperbaiki diri. Taubat Tidak Perlu Ditunda Ketika menyadari telah melakukan kesalahan, seorang Muslim dianjurkan untuk segera memohon ampun dan memperbaiki diri. Menunda taubat dengan alasan masih ingin menikmati kehidupan atau akan berubah ketika sudah tua justru dapat membuat seseorang semakin jauh dari perbaikan. Namun, harapan terhadap ampunan Allah juga tidak boleh menjadi alasan untuk sengaja melakukan dosa. Taubat membutuhkan kesungguhan, bukan sekadar rencana untuk meminta ampun setelah melakukan kesalahan berulang kali. Jika seseorang kembali tergelincir setelah bertaubat, ia tidak seharusnya berputus asa. Ia perlu mengevaluasi penyebabnya, kembali memohon ampun, dan berusaha lebih kuat untuk meninggalkan dosa tersebut. Cara Menerapkan Taubat dalam Kehidupan Sehari-hari Taubat dapat diwujudkan melalui perubahan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Melakukan introspeksi, dengan mengenali kesalahan dan kebiasaan buruk yang perlu diperbaiki. Segera meninggalkan dosa, bukan terus mempertahankan hal-hal yang dapat membawa kepada kemaksiatan. Memperbanyak istigfar dan ibadah, seperti salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan memperbanyak amal saleh. Memperbaiki hubungan dengan sesama, terutama jika kesalahan yang dilakukan berkaitan dengan hak atau kerugian orang lain. Menjauhi lingkungan yang mendorong kepada keburukan dan membangun pergaulan yang mendukung perubahan. Melakukan evaluasi diri secara rutin, sehingga taubat tidak berhenti pada satu momen, tetapi menjadi bagian dari perjalanan hidup. Pada akhirnya, taubat adalah jalan bagi seorang Muslim untuk kembali kepada Allah SWT sekaligus memperbaiki dirinya. Taubat tidak menuntut manusia menjadi sempurna, tetapi mengajarkan keberanian untuk mengakui kesalahan, meninggalkan dosa, dan terus berusaha menjadi lebih baik. Selama kesempatan masih diberikan, jangan biarkan dosa membuat kita kehilangan harapan. Segera kembali kepada Allah SWT, perbaiki kesalahan, dan jadikan taubat sebagai langkah untuk membangun kehidupan yang lebih dekat dengan-Nya.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL04/09/2026 | MBL-01
Berbakti kepada Orang Tua dalam Islam: Kewajiban, Keutamaan, dan Bentuk Baktinya
Berbakti kepada Orang Tua dalam Islam: Kewajiban, Keutamaan, dan Bentuk Baktinya
BERBAKTI kepada orang tua merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam. Allah SWT tidak hanya memerintahkan manusia untuk beribadah kepada-Nya, tetapi juga menempatkan kewajiban berbuat baik kepada ayah dan ibu pada kedudukan yang tinggi. Dalam sejumlah ayat Al-Qur'an, perintah berbuat baik kepada orang tua bahkan disebut setelah larangan menyekutukan Allah SWT. Besarnya kedudukan tersebut tidak terlepas dari pengorbanan orang tua dalam membesarkan anak. Ibu mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat dengan penuh kasih sayang, sementara ayah berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, melindungi, dan mendidik anak. Karena itu, berbakti kepada orang tua bukan sekadar membalas jasa, tetapi juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Bakti dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana, seperti berbicara dengan lembut, membantu kebutuhan mereka, menghormati pendapat, memberikan perhatian, mendoakan, hingga membantu secara finansial ketika mereka membutuhkan. Hukum Berbakti kepada Orang Tua dalam Islam Hukum berbakti kepada orang tua adalah wajib. Salah satu landasannya terdapat dalam QS. Al-Isra ayat 23–24. Allah SWT memerintahkan manusia untuk menyembah-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Seorang anak juga dilarang mengucapkan perkataan yang menunjukkan kejengkelan, bahkan sekadar mengatakan “ah”, terlebih membentak atau berkata kasar kepada mereka. Perintah tersebut juga terdapat dalam QS. Luqman ayat 14 yang mengingatkan manusia tentang perjuangan seorang ibu selama mengandung dan menyusui. Allah SWT memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya sekaligus kepada kedua orang tua. Dengan demikian, berbakti kepada orang tua merupakan bagian dari ibadah. Namun, kewajiban tersebut tetap memiliki batas. Seorang anak tidak boleh menaati orang tua dalam perkara yang mengandung kemaksiatan kepada Allah SWT. Meski demikian, penolakan tetap harus disampaikan dengan sikap santun dan penuh hormat. Dalil tentang Berbakti kepada Orang Tua Al-Qur'an memberikan perhatian besar terhadap hubungan anak dan orang tua. Selain QS. Al-Isra ayat 23–24 dan QS. Luqman ayat 14, QS. Al-Ahqaf ayat 15 juga memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua serta mengingatkan pengorbanan seorang ibu selama kehamilan dan persalinan. Rasulullah SAW juga menempatkan bakti kepada orang tua sebagai salah satu amal yang utama. Dalam hadis riwayat Muslim, ketika Abdullah bin Mas'ud bertanya mengenai amal yang paling utama, Rasulullah SAW menyebutkan salat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, lalu berjihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan dengan orang tua bukan perkara yang dapat dipandang ringan. Selama mereka masih hidup, kesempatan untuk berbuat baik kepada ayah dan ibu merupakan kesempatan berharga yang sebaiknya tidak ditunda. Bentuk Berbakti kepada Orang Tua Berbakti tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Hal sederhana yang dilakukan dengan tulus justru dapat menjadi bentuk bakti yang berarti. Menjaga ucapan menjadi salah satu bentuk yang paling mendasar. Anak hendaknya berbicara dengan lembut, tidak meninggikan suara, membentak, atau mengucapkan sesuatu yang menyakiti hati orang tua. Selain itu, seorang anak dapat membantu kebutuhan orang tua, baik dengan tenaga, waktu, perhatian, maupun harta. Ketika orang tua sudah lanjut usia atau berada dalam kondisi membutuhkan, bantuan anak menjadi semakin penting. Jika memiliki kemampuan, memberikan nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka juga dapat menjadi bentuk bakti. Bakti juga berarti menghormati orang tua ketika terjadi perbedaan pendapat. Menghormati bukan berarti selalu menganggap semua pendapat mereka benar, tetapi tetap menjaga adab dan menyampaikan pandangan dengan bahasa yang baik. Tidak kalah penting, seorang anak hendaknya mendoakan orang tuanya. Ketika mereka masih hidup, doa dapat dipanjatkan untuk kesehatan, keselamatan, keberkahan, dan kebaikan mereka. Setelah mereka meninggal dunia, doa dan permohonan ampun tetap dapat menjadi bentuk bakti seorang anak. Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua Berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Salah satu keutamaannya adalah menjadi jalan untuk mendapatkan keridaan Allah SWT. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan sejumlah ulama hadis disebutkan bahwa keridaan Allah berkaitan dengan keridaan orang tua, sedangkan kemurkaan Allah berkaitan dengan kemurkaan orang tua. Bakti kepada orang tua juga merupakan salah satu jalan menuju surga. Rasulullah SAW menggambarkan orang tua sebagai salah satu pintu menuju surga. Karena itu, ketika seorang anak masih memiliki kesempatan untuk merawat dan membahagiakan ayah serta ibunya, kesempatan tersebut sebaiknya tidak disia-siakan. Sebaliknya, durhaka kepada orang tua merupakan perkara serius dan termasuk dosa besar. Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam perkataan maupun perbuatannya agar tidak menyakiti atau merendahkan orang tua. Berbakti kepada Orang Tua yang Sudah Lanjut Usia Ketika memasuki usia lanjut, orang tua mungkin membutuhkan lebih banyak bantuan dan perhatian. Kondisi fisik yang menurun, keterbatasan aktivitas, hingga perubahan daya ingat membutuhkan kesabaran dari anak. Pada masa ini, bakti dapat diwujudkan dengan menemani, membantu aktivitas sehari-hari, mendengarkan cerita, memperhatikan kebutuhan mereka, dan memberikan dukungan sesuai kemampuan. Tidak semua bentuk perhatian harus berupa materi. Waktu dan kehadiran anak sering kali menjadi hal yang sangat berarti bagi orang tua. Karena itu, merawat orang tua yang telah lanjut usia hendaknya tidak dianggap sebagai beban. Masa tersebut justru menjadi kesempatan bagi anak untuk menunjukkan kasih sayang dan membalas sebagian kecil dari pengorbanan yang telah diberikan sejak kecil. Tetap Berbakti Setelah Orang Tua Meninggal Dunia Meninggalnya orang tua tidak membuat kesempatan berbakti sepenuhnya berakhir. Seorang anak masih dapat menunjukkan kasih sayangnya melalui doa dan amal kebaikan. Anak dapat mendoakan agar Allah SWT mengampuni dosa orang tua, memberikan rahmat, serta menempatkan mereka di tempat yang baik. Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan bahwa setelah manusia meninggal, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya. Menjaga silaturahmi dengan keluarga dan kerabat yang dahulu dekat dengan orang tua juga dapat menjadi bentuk penghormatan kepada mereka. Dengan begitu, kasih sayang kepada orang tua tetap dapat diwujudkan meskipun mereka telah tiada. Batasan dalam Berbakti kepada Orang Tua Kewajiban berbakti tidak berarti seorang anak harus mengikuti semua perintah orang tua tanpa batas. Jika orang tua meminta sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam, perintah tersebut tidak boleh ditaati. Ketaatan kepada Allah SWT tetap menjadi yang utama. Namun, penolakan terhadap perintah yang salah harus dilakukan dengan cara yang baik. Anak tetap wajib menjaga ucapan, menghormati orang tua, dan menghindari sikap kasar. Perbedaan pendapat pun sebaiknya disampaikan dengan tenang tanpa merendahkan atau mempermalukan mereka. Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan: menaati orang tua dalam perkara yang baik, sekaligus tetap teguh dalam ketaatan kepada Allah SWT. Bakti yang Bisa Dimulai Hari Ini Berbakti kepada orang tua tidak harus menunggu memiliki banyak uang atau mencapai kesuksesan. Ia dapat dimulai dari hal-hal sederhana: menghubungi mereka, menanyakan kabar, membantu pekerjaan, mendengarkan dengan sabar, berbicara dengan lembut, memberikan perhatian, dan mendoakan mereka. Kesempatan tersebut semakin berharga ketika orang tua telah lanjut usia. Sebab, tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa lama kesempatan untuk bersama dan berbuat baik kepada mereka akan diberikan. Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban sekaligus kesempatan untuk meraih kebaikan. Melalui sikap hormat, perhatian, bantuan, dan doa, seorang anak dapat menunjukkan rasa syukur atas pengorbanan ayah dan ibunya sekaligus menjalankan perintah Allah SWT. Selama orang tua masih diberi kesempatan untuk hadir dalam kehidupan kita, jangan menunggu momen besar untuk menunjukkan kasih sayang. Mulailah dari kebaikan kecil yang dilakukan dengan tulus, karena bagi orang tua, perhatian sederhana dari anak dapat memiliki makna yang besar.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL04/09/2026 | MBL-01
Hidup Sehat dalam Islam: Menjaga Tubuh, Jiwa, dan Keseimbangan
Hidup Sehat dalam Islam: Menjaga Tubuh, Jiwa, dan Keseimbangan
MENJAGA kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim terhadap amanah yang diberikan Allah SWT. Karena itu, hidup sehat dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan menjaga tubuh agar terhindar dari penyakit, tetapi juga mencakup kesehatan jiwa, kebersihan, pola makan, istirahat, aktivitas fisik, serta keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Islam mengajarkan bahwa menjaga kesehatan dapat menjadi bagian dari ibadah ketika dilakukan dengan niat yang baik. Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, membantu sesama, dan melakukan berbagai kebaikan secara optimal. Memilih Makanan yang Halal dan Baik Salah satu prinsip utama dalam menjaga kesehatan adalah memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 168: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi...” Ayat tersebut mengajarkan bahwa makanan tidak hanya harus halal, tetapi juga baik atau tayyib. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini dapat diterapkan dengan memilih makanan yang bersih, bergizi, dan sesuai kebutuhan tubuh. Konsumsi sayuran, buah-buahan, sumber protein, dan makanan pokok dalam jumlah seimbang dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Sebaliknya, makanan yang tinggi gula, garam, atau lemak sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan. Islam juga mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam makan dan minum. Dalam QS. Al-A’raf ayat 31, Allah SWT memerintahkan manusia untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan. Rasulullah SAW pun mengingatkan pentingnya mengendalikan diri dalam memenuhi kebutuhan makan dan minum. Menjaga Kebersihan dan Kebugaran Kebersihan memiliki tempat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Wudu, mandi, menjaga kebersihan pakaian, hingga merawat lingkungan merupakan bagian dari kebiasaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari umat Islam. Kebiasaan tersebut dapat diperluas dengan menjaga kebersihan rumah, kamar, makanan, peralatan makan, serta lingkungan sekitar. Hal-hal sederhana seperti mencuci tangan dan tidak membuang sampah sembarangan juga merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri dan orang lain. Selain kebersihan, tubuh juga perlu dijaga agar tetap bugar. Islam tidak menetapkan satu jenis olahraga tertentu untuk setiap orang, sehingga aktivitas fisik dapat disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan kondisi masing-masing. Berjalan kaki, bersepeda, berenang, melakukan peregangan, atau olahraga lainnya dapat menjadi pilihan untuk menjaga kebugaran. Tubuh Juga Memiliki Hak untuk Beristirahat Menjaga kesehatan bukan berarti terus memaksa tubuh untuk beraktivitas. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tubuh, mata, dan keluarga memiliki hak. Dalam hadis Sahih al-Bukhari 5199, Rasulullah SAW menegur Abdullah bin Amr yang berlebihan dalam berpuasa dan beribadah pada malam hari. Pesan tersebut menunjukkan pentingnya keseimbangan. Seorang Muslim perlu mengatur waktu ibadah, bekerja atau belajar, aktivitas fisik, dan istirahat agar tidak mengabaikan kebutuhan tubuh. Tidur yang cukup dan memberikan waktu bagi tubuh untuk memulihkan diri bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari menjaga amanah kesehatan. Menjaga Kesehatan Mental dan Ketenangan Hati Kesehatan juga mencakup kondisi mental dan ketenangan jiwa. Persoalan pekerjaan, keluarga, ekonomi, maupun berbagai tekanan kehidupan dapat memengaruhi kondisi seseorang. Islam mengajarkan umatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui salat, doa, membaca Al-Qur’an, zikir, dan amal saleh. Aktivitas spiritual tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ketenangan hati. Namun, ketika menghadapi masalah psikologis yang berat atau berlangsung lama, mencari bantuan tenaga profesional juga merupakan bentuk ikhtiar. Menjaga kesehatan mental bukan tanda kelemahan, tetapi bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri. Menghindari Hal yang Membahayakan Diri Islam juga mengajarkan umatnya untuk menghindari sesuatu yang dapat membawa mudarat. Prinsip ini dapat diterapkan dengan mengevaluasi berbagai kebiasaan sehari-hari, seperti pola tidur yang buruk, kurang bergerak, makan berlebihan, mengabaikan kebersihan, atau mempertahankan kebiasaan yang diketahui dapat membahayakan kesehatan. Menjaga diri bukan berarti menjamin seseorang terbebas dari penyakit. Upaya tersebut merupakan bentuk ikhtiar, sementara kesehatan dan hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah SWT. Hidup Sehat Dimulai dari Kebiasaan Sederhana Pola hidup sehat tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan dampak yang lebih berkelanjutan. Mulai dari memilih makanan yang halal dan bergizi, makan secukupnya, minum air yang cukup, menjaga kebersihan, rutin bergerak, tidur dengan cukup, hingga meluangkan waktu untuk beribadah dan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Aktivitas sehari-hari seperti bekerja, belajar, merawat keluarga, berolahraga, beristirahat, dan beribadah juga perlu dijalankan secara seimbang. Tidak ada satu pola yang harus diterapkan secara persis oleh semua orang karena kebutuhan dan kondisi setiap manusia berbeda. Pada akhirnya, gaya hidup sehat dalam Islam bukan sekadar tentang memiliki tubuh yang bugar, tetapi tentang menjaga keseimbangan antara jasmani, rohani, dan aktivitas kehidupan. Dengan merawat kesehatan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT, tubuh dan jiwa dapat digunakan sebaik-baiknya untuk beribadah, bekerja, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL04/09/2026 | MBL-01
Panduan Lengkap Zakat untuk Pemula: Jenis, Syarat, Cara Hitung, dan Penerimanya
Panduan Lengkap Zakat untuk Pemula: Jenis, Syarat, Cara Hitung, dan Penerimanya
ZAKAT merupakan salah satu kewajiban penting dalam Islam. Meski sering kita dengar dan tunaikan, masih banyak yang bertanya tentang kapan zakat menjadi wajib, berapa kadar yang harus dikeluarkan, bagaimana cara menghitungnya, hingga siapa saja yang berhak menerima. Memahami dasar-dasar zakat menjadi langkah penting agar ibadah ini dapat ditunaikan dengan tepat. Bukan hanya soal mengeluarkan sebagian harta, zakat juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus sarana untuk membantu sesama. Artikel ini membahas hal-hal mendasar yang perlu diketahui tentang zakat, mulai dari pengertian, jenis zakat, nisab dan haul, golongan penerima, hingga contoh perhitungannya. Apa Itu Zakat? Secara sederhana, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim apabila telah memenuhi syarat yang ditetapkan syariat. Zakat tersebut kemudian disalurkan kepada golongan yang berhak menerimanya. Secara bahasa, zakat memiliki makna bersih, suci, tumbuh, dan berkembang. Karena itu, zakat tidak hanya memiliki dimensi ibadah, tetapi juga mengandung nilai sosial. Dengan menunaikan zakat, seorang Muslim berupaya menyucikan hartanya sekaligus membantu mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari harta mereka guna menyucikan dan membersihkan mereka...” Ayat tersebut menunjukkan salah satu hikmah zakat, yaitu menyucikan harta dan jiwa. Dengan demikian, zakat bukan sekadar kewajiban dalam mengelola harta, tetapi juga bagian dari bentuk ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT. Mengapa Zakat Wajib Ditunaikan? Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Kedudukannya yang penting juga terlihat dari banyaknya ayat Al-Qur'an yang menyebutkan zakat berdampingan dengan salat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 43: “Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” Meski demikian, kewajiban zakat tidak berlaku secara sama untuk setiap orang dan setiap jenis harta. Ada sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi, seperti jenis harta, nisab, haul, serta kadar zakat. Karena itu, memahami ketentuan masing-masing jenis zakat menjadi bagian penting sebelum menunaikannya. Zakat Fitrah dan Zakat Mal Secara umum, zakat terbagi menjadi dua jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Keduanya sama-sama merupakan kewajiban, tetapi memiliki objek dan ketentuan yang berbeda. 1. Zakat Fitrah Zakat fitrah merupakan zakat yang diwajibkan atas setiap Muslim yang memenuhi syarat dan ditunaikan pada bulan Ramadan hingga menjelang Idulfitri. Di Indonesia, zakat fitrah umumnya ditunaikan dalam bentuk makanan pokok seperti beras atau dalam bentuk uang sesuai ketentuan yang berlaku dan pendapat yang diikuti. Karena memiliki waktu pelaksanaan khusus, pembayaran zakat fitrah perlu diperhatikan agar ditunaikan sesuai waktunya. 2. Zakat Mal Berbeda dengan zakat fitrah, zakat mal merupakan zakat atas harta yang dimiliki seorang Muslim dan telah memenuhi ketentuan wajib zakat. Zakat mal dapat mencakup berbagai jenis harta, seperti emas, uang, surat berharga, aset perdagangan, penghasilan, dan kekayaan lainnya yang memenuhi syarat. Kewajiban zakat mal tidak hanya bergantung pada datangnya Ramadan. Ketentuannya mengikuti jenis harta yang dimiliki, termasuk terpenuhinya nisab dan haul apabila memang dipersyaratkan. Mengenal Nisab, Haul, Muzaki, Mustahik, dan Amil Dalam mempelajari zakat, ada beberapa istilah dasar yang penting untuk dipahami. Nisab adalah batas minimal harta yang menjadi salah satu ukuran wajib zakat. Besaran nisab berbeda sesuai jenis harta. Untuk emas, misalnya, nisab umumnya setara dengan 85 gram emas. Nilai rupiahnya dapat berubah mengikuti harga emas. Haul adalah masa kepemilikan harta selama satu tahun hijriah untuk jenis harta yang mensyaratkan haul. Namun, tidak semua jenis zakat menggunakan ketentuan haul yang sama. Zakat hasil pertanian, misalnya, berkaitan dengan waktu panen. Muzaki adalah orang yang menunaikan zakat, sedangkan mustahik adalah orang atau kelompok yang berhak menerima zakat. Sementara itu, amil merupakan pihak yang mengelola zakat. Penyaluran melalui lembaga amil yang resmi dapat membantu memastikan zakat dikelola dan didistribusikan secara terorganisasi sesuai ketentuan. Siapa yang Berhak Menerima Zakat? Allah SWT telah menetapkan delapan golongan yang berhak menerima zakat dalam QS. At-Taubah ayat 60, yaitu: Fakir. Miskin. Amil zakat. Mualaf. Riqab atau hamba sahaya. Gharim, yaitu orang yang terlilit utang dalam kondisi yang dibenarkan. Fi sabilillah. Ibnu sabil atau orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan yang dibenarkan. Penyaluran zakat kepada mustahik perlu memperhatikan kondisi dan ketentuan yang berlaku. Bagi masyarakat yang belum memahami teknis pendistribusian zakat, menyalurkannya melalui lembaga amil yang kredibel dapat menjadi pilihan agar amanah zakat dapat dikelola secara tepat sasaran. Bagaimana Cara Menghitung Zakat? Perhitungan zakat bergantung pada jenis harta yang dimiliki. Karena itu, tidak semua zakat dapat dihitung menggunakan rumus yang sama. Untuk zakat atas uang atau harta yang mengikuti ketentuan zakat emas, misalnya, nisabnya dapat mengacu pada nilai 85 gram emas dengan kadar zakat sebesar 2,5 persen setelah memenuhi persyaratan yang berlaku. Sebagai contoh, seseorang memiliki harta yang wajib dizakati sebesar Rp200.000.000 dan telah memenuhi ketentuan zakat. Perhitungannya: 2,5% × Rp200.000.000 = Rp5.000.000 Dengan demikian, zakat yang dikeluarkan sebesar Rp5.000.000. Angka tersebut merupakan ilustrasi sederhana. Dalam perhitungan sebenarnya, perlu diperhatikan jenis harta, nisab, haul, serta ketentuan lain yang relevan. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Zakat penghasilan menjadi salah satu jenis zakat yang banyak ditanyakan oleh karyawan, pekerja profesional, freelancer, dokter, konsultan, maupun profesi lainnya. Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003, penghasilan halal seperti gaji, honorarium, upah, dan pendapatan profesional dapat menjadi objek zakat apabila memenuhi ketentuan nisab. Nisabnya disetarakan dengan 85 gram emas dengan kadar zakat sebesar 2,5 persen. Sebagai ilustrasi, apabila jumlah penghasilan yang menjadi dasar perhitungan zakat adalah Rp10.000.000 dan telah memenuhi persyaratan yang berlaku, maka: 2,5% × Rp10.000.000 = Rp250.000 Jadi, zakat yang dikeluarkan berdasarkan ilustrasi tersebut adalah Rp250.000. Perlu dipahami, contoh ini hanya menunjukkan cara menghitung secara sederhana. Besaran zakat yang wajib dibayarkan setiap orang tetap perlu disesuaikan dengan nisab dan metode perhitungan yang digunakan. Zakat, Ibadah yang Membawa Manfaat Zakat bukan sekadar mengeluarkan sebagian harta. Di dalamnya terdapat bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus kepedulian terhadap sesama. Ketika ditunaikan dan disalurkan dengan tepat, zakat dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan, meringankan beban mustahik, serta mendukung berbagai upaya pemberdayaan umat. Memahami zakat juga membuat kita lebih berhati-hati dalam menunaikan kewajiban. Mulai dari mengenali jenis harta, memastikan nisab dan haul, hingga menghitung kadar yang harus dikeluarkan. Bagi yang masih awam, tidak perlu memahami semuanya sekaligus. Mulailah dari dasar dan jangan ragu berkonsultasi dengan amil zakat atau pihak yang memiliki kompetensi apabila menemukan kondisi yang membutuhkan perhitungan lebih lanjut. Dengan pemahaman yang baik, zakat dapat ditunaikan dengan lebih yakin, tepat, dan sesuai ketentuan syariat. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL03/09/2026 | MBL-01
Zakat Makin Mudah di Era Digital, Ini Manfaat dan Cara Menunaikannya
Zakat Makin Mudah di Era Digital, Ini Manfaat dan Cara Menunaikannya
PERKEMBANGAN teknologi telah mengubah banyak aktivitas sehari-hari, termasuk cara umat Islam menunaikan zakat. Jika sebelumnya pembayaran zakat dilakukan dengan mendatangi masjid atau kantor lembaga amil secara langsung, kini kewajiban tersebut dapat ditunaikan melalui berbagai layanan digital. Kehadiran zakat di era digital membuat proses menghitung, membayar, hingga mendapatkan bukti transaksi menjadi lebih praktis. Melalui smartphone dan koneksi internet, muzaki dapat menunaikan zakat melalui transfer bank, virtual account, QRIS, maupun kanal pembayaran digital lainnya. Meski cara pembayarannya berubah, hakikat zakat tetap sama. Teknologi hanya menjadi sarana untuk memudahkan ibadah, sementara niat, ketentuan syariat, jumlah zakat, serta penyalurannya kepada pihak yang berhak tetap menjadi hal utama. Digitalisasi tidak mengubah ketentuan zakat. Seorang Muslim tetap wajib menunaikan zakat apabila telah memenuhi syarat yang ditetapkan syariat. Perbedaannya hanya terletak pada media yang digunakan. Dengan demikian, pembayaran zakat secara online dapat dipandang sebagai bentuk adaptasi pelayanan terhadap perkembangan teknologi. Kemudahan tersebut memungkinkan masyarakat menunaikan kewajiban dengan lebih cepat dan fleksibel tanpa harus datang langsung ke lokasi lembaga amil. Mengapa Hadir di Ruang Digital? Masyarakat saat ini semakin terbiasa melakukan berbagai aktivitas melalui perangkat digital, mulai dari berbelanja, membayar tagihan, hingga melakukan transaksi keuangan. Kondisi tersebut turut mendorong lembaga zakat menghadirkan layanan yang mudah diakses secara online. Bagi masyarakat dengan aktivitas padat atau yang tinggal jauh dari lembaga amil, layanan digital memberikan kemudahan dalam menunaikan zakat. Muzaki dapat menghitung kewajibannya, memilih jenis dana atau program, melakukan pembayaran, hingga menerima bukti transaksi dari satu perangkat. BAZNAS juga menyediakan berbagai kanal pembayaran digital yang memungkinkan muzaki memilih metode pembayaran sesuai kebutuhan dan memperoleh Bukti Setor Zakat setelah transaksi berhasil. Manfaat Zakat Digital bagi Muzaki Digitalisasi memberikan sejumlah kemudahan dalam pelaksanaan zakat, di antaranya: 1. Pembayaran Lebih Praktis Zakat dapat ditunaikan melalui smartphone tanpa harus datang langsung ke kantor lembaga amil. Berbagai metode seperti transfer bank, virtual account, dan QRIS juga memberikan pilihan pembayaran yang lebih fleksibel. 2. Menghemat Waktu dan Tenaga Proses pembayaran dapat dilakukan dari mana saja tanpa perlu melakukan perjalanan atau mengantre. Hal ini membuat kewajiban zakat lebih mudah ditunaikan di tengah aktivitas sehari-hari. 3. Membantu Menghitung Zakat Bagi sebagian orang, menentukan jumlah zakat yang harus dikeluarkan bukan perkara sederhana. Kalkulator zakat digital dapat menjadi alat bantu untuk menghitung kewajiban berdasarkan jenis harta atau penghasilan. 4. Memperluas Akses Berzakat Layanan digital membuat jarak bukan lagi menjadi kendala. Masyarakat dapat menyalurkan zakat kepada lembaga terpercaya meskipun berada jauh dari kantor atau lokasi layanan zakat. Di sisi lain, teknologi juga membantu lembaga zakat menyebarkan informasi mengenai program, edukasi, dan penyaluran zakat kepada masyarakat secara lebih luas. 5. Transaksi Lebih Mudah Dicatat Pembayaran digital umumnya menghasilkan bukti transaksi yang dapat disimpan oleh muzaki. BAZNAS juga menyediakan Bukti Setor Zakat melalui kanal yang tersedia sehingga pembayaran dapat tercatat dengan lebih mudah. Membayar Zakat Secara Online Diperbolehkan? Kemudahan teknologi tentu perlu diiringi dengan kepastian bahwa pelaksanaannya tetap sesuai syariat. Pada prinsipnya, yang menjadi perhatian dalam zakat bukanlah media pembayarannya, melainkan terpenuhinya ketentuan zakat. Selama harta yang dizakati telah memenuhi syarat, jumlahnya dihitung sesuai ketentuan, terdapat niat, dan zakat disalurkan kepada pihak yang berhak, penggunaan transfer bank, QRIS, virtual account, atau metode digital lainnya dapat menjadi sarana pembayaran. Karena itu, masyarakat tidak perlu ragu memanfaatkan layanan zakat online selama menggunakan kanal yang resmi dan terpercaya. Tips Memilih Layanan Zakat Digital yang Aman Kemudahan pembayaran online juga perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Masyarakat sebaiknya memastikan dana disalurkan melalui lembaga atau kanal resmi agar terhindar dari penipuan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pembayaran antara lain: Gunakan situs, aplikasi, atau kanal pembayaran resmi lembaga zakat. Pastikan identitas lembaga dan informasi rekening atau metode pembayaran jelas. Periksa kembali jenis dana yang dipilih, seperti zakat fitrah, zakat mal, zakat penghasilan, infak, atau sedekah. Pastikan nominal pembayaran sudah sesuai. Hindari tautan pembayaran dari sumber yang tidak dikenal. Simpan bukti transaksi setelah pembayaran berhasil. Perhatikan transparansi lembaga dalam mengelola dan menyalurkan dana. Kehati-hatian tersebut penting agar kemudahan teknologi benar-benar menjadi sarana ibadah dan tidak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Menjadikan Teknologi sebagai Jalan untuk Berbagi Zakat digital pada akhirnya bukan sekadar soal memindahkan transaksi dari pembayaran langsung ke layar smartphone. Di balik setiap pembayaran terdapat ibadah, amanah, dan kepedulian terhadap sesama. Teknologi memberikan kemudahan agar zakat dapat ditunaikan dengan lebih cepat dan mudah. Namun, kemudahan tersebut perlu disertai pemahaman syariat, ketelitian dalam menghitung kewajiban, serta kehati-hatian dalam memilih lembaga penyalur. Dengan pengelolaan yang amanah dan pemanfaatan teknologi yang tepat, digitalisasi zakat dapat memperluas akses masyarakat untuk berzakat sekaligus mendukung pengelolaan dan penyaluran zakat yang lebih efektif. Pada akhirnya, zakat di era digital bukan hanya tentang kemudahan membayar, tetapi tentang bagaimana teknologi dapat menjadi jembatan antara muzaki dan mustahik. Satu transaksi digital dapat menjadi bagian dari ibadah sekaligus menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Karena itu, manfaatkan kemudahan teknologi untuk menunaikan zakat melalui kanal resmi dan terpercaya. Dengan zakat yang ditunaikan secara tepat, semakin luas pula manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Tunaikan zakat melalui layanan resmi BAZNAS dan jadikan kemudahan teknologi sebagai jalan untuk menebarkan manfaat yang lebih luas.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL03/09/2026 | MBL-01
Zakat sebagai Penggerak Ekonomi Umat, dari Bantuan hingga Kemandirian
Zakat sebagai Penggerak Ekonomi Umat, dari Bantuan hingga Kemandirian
ZAKAT bukan hanya ibadah yang berkaitan dengan kewajiban seorang Muslim, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang luas. Jika dikelola secara amanah dan disalurkan sesuai ketentuan, zakat dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, mengurangi kemiskinan, mendorong pemberdayaan ekonomi, sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Selama ini, zakat kerap dipahami sebatas bantuan bagi fakir dan miskin. Padahal, manfaatnya dapat berkembang lebih jauh. Dana zakat dapat membantu mustahik memenuhi kebutuhan dasar, meningkatkan kemampuan produktif, hingga membuka peluang bagi mereka untuk mencapai kemandirian ekonomi. Perputaran Ekonomi Masyarakat Sebagai salah satu rukun Islam, zakat merupakan mekanisme pendistribusian sebagian harta dari muzaki kepada mustahik. Proses ini membuat harta yang dimiliki kelompok masyarakat yang berkecukupan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan. Dari sisi ekonomi, distribusi tersebut turut mendorong perputaran harta. Ketika mustahik menggunakan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dana tersebut kembali beredar melalui pedagang, pelaku usaha, maupun penyedia jasa. Karena itu, zakat tidak hanya membantu penerimanya, tetapi juga berpotensi menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitarnya. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat yang menempatkan zakat sebagai pranata keagamaan yang bertujuan meningkatkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Pengelolaannya mencakup pengumpulan, pendistribusian, pendayagunaan, pelaporan, pembinaan, dan pengawasan. Mendorong Kemandirian Salah satu kontribusi zakat yang paling nyata adalah membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. Pemenuhan kebutuhan tersebut menjadi penting karena kondisi ekonomi yang sulit sering kali membuat seseorang kesulitan meningkatkan produktivitasnya. Namun, manfaat zakat tidak harus berhenti pada bantuan konsumtif. Dalam kondisi yang memungkinkan, zakat dapat disalurkan melalui program pemberdayaan yang membantu mustahik memperoleh penghasilan secara lebih berkelanjutan. BAZNAS, misalnya, mengembangkan program pemberdayaan melalui sektor pertanian dan peternakan, termasuk Balai Ternak dan Lumbung Pangan. Program semacam ini diarahkan untuk membangun kemampuan ekonomi masyarakat sehingga bantuan tidak hanya menyelesaikan kebutuhan sesaat, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan taraf hidup. Pendekatan tersebut juga dapat diterapkan dalam pemberdayaan UMKM. Banyak masyarakat menggantungkan penghasilan dari perdagangan, kuliner, pertanian, peternakan, jasa, dan usaha rumahan, tetapi masih menghadapi keterbatasan modal, pengetahuan, pemasaran, maupun pendampingan. Karena itu, program zakat yang memadukan bantuan dengan pelatihan dan pendampingan dapat membantu usaha mustahik berkembang lebih optimal. Dampaknya Melampaui Aspek Ekonomi Keberhasilan zakat tidak selalu dapat diukur dari jumlah dana yang terkumpul atau disalurkan. Dampaknya dapat terlihat dari perubahan kehidupan penerima. Dukungan pendidikan dapat membuka peluang yang lebih baik bagi anak dari keluarga kurang mampu. Bantuan kesehatan dapat meringankan beban pengeluaran keluarga. Sementara pelatihan keterampilan dan pemberdayaan usaha dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam memperoleh penghasilan. Dengan demikian, zakat memiliki dampak yang saling berkaitan, mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, hingga produktivitas masyarakat. Di sisi lain, menunaikan zakat juga merupakan bentuk ketaatan dan kepedulian seorang Muslim terhadap sesama. Salah satu gambaran ideal dari proses tersebut adalah ketika mustahik yang sebelumnya membutuhkan bantuan akhirnya mampu mandiri secara ekonomi. Bahkan, ketika kondisi kehidupannya semakin baik dan memenuhi syarat, ia dapat bertransformasi menjadi muzaki yang turut membantu orang lain. Potensi Zakat Indonesia Terus Berkembang Besarnya potensi zakat juga terlihat dari pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah secara nasional. BAZNAS mencatat dana ZIS-DSKL yang terkumpul sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp44,698 triliun, sementara dana yang didistribusikan dan didayagunakan mencapai sekitar Rp44,268 triliun. Pada tahun yang sama, BAZNAS juga melaporkan bahwa pengelolaan zakat berkontribusi mengentaskan 302.994 jiwa dari kemiskinan, termasuk 131.952 jiwa dari kemiskinan ekstrem. Kontribusi zakat terhadap anggaran pengentasan kemiskinan nasional juga dilaporkan meningkat, dari 7,4 persen pada 2023, menjadi 8,9 persen pada 2024, dan 10,7 persen pada 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki potensi yang semakin besar sebagai instrumen sosial-ekonomi. Meski demikian, zakat bukan satu-satunya solusi atas persoalan kemiskinan. Pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, kebijakan ekonomi, dan berbagai faktor lainnya tetap berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan yang Amanah Besar Manfaat Besarnya potensi zakat perlu diikuti dengan pengelolaan yang tepat agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal. Ketepatan sasaran, transparansi, pendampingan, pengukuran dampak, serta sinergi dengan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Literasi masyarakat juga perlu terus diperkuat agar semakin banyak umat memahami kewajiban zakat, cara menghitungnya, serta pentingnya menyalurkannya melalui lembaga yang kredibel. Di tengah perkembangan teknologi, digitalisasi juga dapat mendukung pengelolaan zakat, mulai dari pembayaran, pendataan mustahik, pelaporan, hingga pengukuran dampak program. Dengan pengelolaan yang semakin baik, dana zakat dapat diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan. Zakat untuk Ekonomi Umat Lebih Berdaya Pada akhirnya, zakat tidak hanya berbicara tentang perpindahan harta dari muzaki kepada mustahik. Lebih dari itu, zakat membawa semangat agar kekayaan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berkembang. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, usaha tumbuh, akses pendidikan dan kesehatan semakin baik, serta mustahik memiliki kesempatan untuk mandiri, zakat dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi umat yang lebih kuat dan berkeadilan. Tunaikan zakat melalui layanan resmi BAZNAS dan dukung terwujudnya masyarakat yang lebih sejahtera, mandiri, dan berdaya.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL03/09/2026 | MBL-01
Sedekah Online di Rabiul Awal: Berbagi Kebaikan di Era Digital
Sedekah Online di Rabiul Awal: Berbagi Kebaikan di Era Digital
BULAN Rabiul Awal dapat menjadi momentum untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah SAW, termasuk kepedulian beliau terhadap sesama. Di tengah kemudahan teknologi, semangat berbagi dapat diwujudkan melalui sedekah online yang praktis dan mudah dilakukan. Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Besarnya nominal bukan satu-satunya ukuran, karena keikhlasan dan manfaat yang diberikan kepada penerima juga menjadi hal penting. Allah SWT menggambarkan keutamaan infak dalam QS. Al-Baqarah ayat 261, bahwa harta yang dikeluarkan di jalan-Nya dapat dilipatgandakan pahalanya. Sedekah online adalah sedekah yang disalurkan melalui sarana digital, seperti transfer bank, QRIS, aplikasi pembayaran, atau platform donasi resmi. Teknologi menjadi sarana yang memudahkan masyarakat bersedekah tanpa harus datang langsung kepada penerima manfaat. Selain praktis, sedekah online juga memungkinkan kita memilih berbagai program sesuai kebutuhan, mulai dari bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi. Bukti transaksi digital pun dapat membantu mencatat sedekah secara rutin. Namun, kemudahan ini tetap perlu diiringi kehati-hatian. Pastikan lembaga yang dipilih memiliki identitas dan legalitas yang jelas, gunakan rekening atau kanal pembayaran resmi, serta perhatikan transparansi program dan laporan penyalurannya. Momentum Meneladani Rasulullah SAW Rabiul Awal dikenal sebagai bulan yang berkaitan dengan kelahiran Rasulullah SAW. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh sekaligus meneladani akhlak beliau, salah satunya melalui kepedulian terhadap orang yang membutuhkan. Meski demikian, tidak ada ketentuan khusus yang menetapkan sedekah di Rabiul Awal memiliki pahala tertentu yang berbeda dari bulan lainnya. Sedekah tetap merupakan amalan yang dapat dilakukan kapan saja. Rabiul Awal dapat menjadi pengingat untuk meningkatkan kebiasaan berbagi dan memperkuat kepedulian sosial. Dalam bersedekah, niat karena Allah SWT perlu menjadi landasan utama. Sedekah juga tidak harus diketahui orang lain. Jika dilakukan melalui media sosial untuk mengajak orang lain berbuat baik, pastikan tujuannya adalah menyebarkan manfaat, bukan sekadar menunjukkan amal pribadi. Tidak ada nominal khusus untuk sedekah sunnah. Sesuaikan dengan kemampuan, tanpa mengabaikan kebutuhan pokok dan kewajiban finansial. Sedekah Rp10.000, Rp50.000, atau lebih tetap bernilai ketika diberikan dengan ikhlas dan disalurkan kepada pihak yang tepat. Sedekah juga tidak harus dilakukan secara online. Membantu tetangga, keluarga, atau masyarakat sekitar yang membutuhkan merupakan bentuk sedekah yang sama-sama bernilai. Yang terpenting adalah ikhlas, berasal dari harta yang halal, dan memberikan manfaat. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, sedekah kini dapat dilakukan dengan lebih mudah dan menjangkau penerima manfaat yang lebih luas. Semoga momentum Rabiul Awal menjadi pengingat untuk semakin mencintai Rasulullah SAW, meneladani kepeduliannya, dan membiasakan diri berbagi kepada sesama.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL31/08/2026 | MBL-01
10 Amalan Mengisi Hari Jumat dengan Penuh Keberkahan
10 Amalan Mengisi Hari Jumat dengan Penuh Keberkahan
HARI Jumat menjadi salah satu hari istimewa bagi umat Islam. Rasulullah SAW menyebut Jumat sebagai hari terbaik di antara hari-hari ketika matahari terbit. Karena itu, Jumat dapat menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak zikir, bershalawat, membaca Al-Qur’an, serta mempererat kepedulian kepada sesama. Keutamaan Jumat juga ditegaskan dalam Surah Al-Jumu’ah. Ketika panggilan salat Jumat telah dikumandangkan, umat Islam diperintahkan untuk meninggalkan aktivitas jual beli dan segera mengingat Allah SWT. Hal ini mengajarkan bahwa kesibukan dunia tidak boleh membuat kita lalai dari kewajiban kepada-Nya. Amalan Dilakukan pada Hari Jumat Ada berbagai amalan yang dapat dilakukan untuk mengisi hari Jumat dengan lebih bermakna. Beberapa di antaranya yaitu: 1. Mempersiapkan Diri untuk Salat Jumat Bagi laki-laki Muslim yang memenuhi syarat, salat Jumat merupakan kewajiban. Persiapkan diri dengan mandi, menjaga kebersihan, mengenakan pakaian yang baik dan bersih, serta menggunakan wewangian jika tersedia. 2. Datang Lebih Awal ke Masjid Berangkat lebih awal memberikan kesempatan untuk beribadah sebelum salat dimulai, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, atau melaksanakan salat sunnah. 3. Mendengarkan Khutbah dengan Khusyuk Ketika khutbah berlangsung, fokuslah mendengarkan nasihat yang disampaikan khatib. Hindari berbicara, bermain ponsel, atau aktivitas lain yang dapat mengganggu kekhusyukan. 4. Memperbanyak Shalawat Jumat juga menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kecintaan kepada beliau. 5. Membaca Surah Al-Kahfi Membaca Surah Al-Kahfi dapat menjadi salah satu amalan untuk mengisi Jumat. Selain membaca, luangkan waktu untuk memahami dan merenungkan pesan yang terkandung di dalamnya. 6. Memperbanyak Zikir dan Istighfar Kesibukan sepanjang pekan terkadang membuat kita lupa untuk mengingat Allah. Jumat dapat menjadi momentum untuk memperbanyak zikir, istighfar, tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. 7. Memperbanyak Doa Jumat memiliki waktu yang disebut sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Manfaatkan kesempatan ini untuk memohon ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, keteguhan iman, serta kebaikan bagi keluarga dan orang-orang yang kita cintai. 8. Bersedekah Sesuai Kemampuan Sedekah dapat dilakukan dengan nominal berapa pun sesuai kemampuan. Membantu fakir miskin, memberikan makanan, mendukung pendidikan, membantu pembangunan fasilitas ibadah, atau menolong orang yang sedang kesulitan merupakan bentuk kebaikan yang dapat dilakukan. 9. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an Selain Surah Al-Kahfi, Jumat juga dapat diisi dengan meningkatkan interaksi bersama Al-Qur’an. Tidak hanya membaca, memahami dan mengamalkan pesan di dalamnya juga penting agar ibadah memberikan pengaruh dalam kehidupan. 10. Berbuat Baik kepada Sesama Kebaikan tidak selalu berbentuk materi. Membantu orang tua, menolong teman, berbagi makanan, menyambung silaturahmi, hingga memberikan perhatian kepada orang lain juga termasuk bentuk amal saleh. Jangan Biarkan Kesibukan Menghalangi Ibadah Bagi sebagian orang, Jumat tetap menjadi hari kerja dan dipenuhi berbagai aktivitas. Namun, kesibukan bukan alasan untuk mengabaikan kewajiban. Surah Al-Jumu’ah ayat 9 mengingatkan umat Islam untuk segera memenuhi panggilan salat Jumat dan meninggalkan aktivitas jual beli. Setelah salat selesai, kita dapat kembali bekerja dan mencari karunia Allah SWT. Artinya, Islam tidak mengajarkan untuk meninggalkan urusan dunia, tetapi menempatkannya secara seimbang dengan kewajiban beribadah. Yang juga perlu diperhatikan adalah keikhlasan dalam beramal. Jangan sampai ibadah dilakukan hanya untuk mengejar pujian atau pengakuan dari orang lain. Selain itu, pastikan amalan yang dilakukan memiliki dasar yang jelas dan tidak mengaitkan keutamaan tertentu dengan Jumat tanpa landasan yang kuat. Mengisi Jumat dengan berbagai amalan bukan sekadar tentang memperbanyak pahala, tetapi juga bagaimana ibadah tersebut membawa perubahan dalam kehidupan. Setelah melewati Jumat, kita diharapkan menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah, lebih baik dalam berakhlak, serta semakin peduli kepada orang-orang di sekitar. Tidak perlu menunggu mampu melakukan banyak amalan sekaligus. Mulailah dari hal sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, setiap Jumat dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki ibadah, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama. Semoga setiap Jumat menjadi momentum bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah SWT, memperbanyak amal kebaikan, serta membawa keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat. Aamiin.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL31/08/2026 | MBL-01
Zakat Tabungan: Syarat dan Nisab, Ini Cara Menghitungnya!
Zakat Tabungan: Syarat dan Nisab, Ini Cara Menghitungnya!
TABUNGAN bukan hanya menjadi simpanan untuk kebutuhan masa depan, tetapi juga dapat menjadi harta yang wajib dizakati apabila telah memenuhi ketentuan syariat. Zakat tabungan termasuk zakat mal yang dikenakan ketika harta dimiliki secara penuh, berasal dari sumber yang halal, mencapai nisab, dan telah memenuhi haul. Untuk uang atau tabungan, nisab zakat mengacu pada nilai 85 gram emas, sedangkan kadar zakatnya sebesar 2,5 persen. Kapan Tabungan Wajib Dizakati? Tidak semua tabungan otomatis wajib dizakati. Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan: Beragama Islam. Harta dimiliki secara penuh dan dapat digunakan oleh pemiliknya. Berasal dari sumber yang halal. Mencapai nisab, yaitu senilai 85 gram emas. Telah mencapai haul, yaitu dimiliki selama satu tahun hijriah. Karena harga emas dapat berubah, nilai nisab dalam rupiah juga tidak selalu sama. Perhitungannya adalah: Nisab = 85 gram × harga emas per gram Sebagai ilustrasi, jika harga emas Rp1.600.000 per gram, maka nisabnya adalah Rp136.000.000. Angka tersebut hanya contoh sehingga untuk perhitungan aktual, gunakan harga emas dan acuan nisab terbaru. Cara Menghitung Zakat Tabungan Jika tabungan telah memenuhi nisab dan haul, perhitungannya cukup sederhana: Zakat = Total tabungan × 2,5% Misalnya, seseorang memiliki tabungan Rp200.000.000 yang telah memenuhi ketentuan zakat. Rp200.000.000 × 2,5% = Rp5.000.000 Jadi, zakat yang perlu ditunaikan sebesar Rp5.000.000. Bagaimana Jika Memiliki Beberapa Rekening? Jika memiliki lebih dari satu rekening, deposito, atau simpanan lainnya, harta yang relevan perlu diperhitungkan secara keseluruhan. Contohnya: Rekening A: Rp80.000.000Rekening B: Rp50.000.000Deposito: Rp40.000.000 Total harta: Rp170.000.000 Jika telah memenuhi nisab dan haul, zakatnya: Rp170.000.000 × 2,5% = Rp4.250.000 Artinya, zakat yang perlu ditunaikan adalah Rp4.250.000. Bagaimana Saldo Tabungan Naik Turun? Saldo rekening tentu bisa berubah karena digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika saldo turun hingga di bawah nisab, perhitungan haul dapat menjadi berbeda dan perlu diperhatikan kembali sejak harta mencapai nisab. Karena itu, pemilik tabungan dengan saldo yang cukup fluktuatif sebaiknya mencatat jumlah simpanan, waktu mencapai nisab, serta waktu pembayaran zakat. Untuk kondisi yang lebih kompleks, seperti memiliki banyak rekening atau utang, konsultasi dengan amil zakat dapat membantu memastikan perhitungannya sesuai ketentuan. Zakat Tabungan Bukan Zakat Penghasilan Zakat tabungan perlu dibedakan dari zakat penghasilan. Zakat penghasilan berkaitan dengan pendapatan dari pekerjaan atau profesi, sedangkan zakat tabungan dikenakan pada harta simpanan yang telah memenuhi syarat zakat. Karena itu, penting mengetahui jenis zakat yang sedang ditunaikan agar perhitungannya tepat dan tidak terjadi kekeliruan. Agar Menghitung Zakat Lebih Mudah Beberapa hal sederhana dapat membantu: Catat seluruh rekening dan simpanan yang dimiliki. Perhatikan kapan harta mencapai nisab. Gunakan harga emas terbaru sebagai acuan nisab. Pastikan harta yang dihitung berasal dari sumber yang halal. Gunakan Kalkulator Zakat BAZNAS untuk membantu perhitungan. Konsultasikan kepada amil jika memiliki kondisi keuangan yang lebih kompleks. Pada akhirnya, zakat bukan sekadar kewajiban untuk mengeluarkan sebagian harta, tetapi juga bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus kepedulian kepada sesama. Ketika tabungan telah memenuhi ketentuan zakat, menunaikannya menjadi bagian dari upaya membersihkan harta dan menghadirkan kebermanfaatan bagi para mustahik.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL31/08/2026 | MBL-01
Zakat Mal: Kenali Jenis Harta yang Wajib Dizakati
Zakat Mal: Kenali Jenis Harta yang Wajib Dizakati
ZAKAT mal adalah zakat atas harta yang dimiliki seorang Muslim dan telah memenuhi ketentuan syariat. Di tengah semakin beragamnya bentuk kekayaan saat ini, memahami zakat mal meliputi apa saja penting agar kita dapat mengetahui harta yang sudah wajib dizakati. Harta yang termasuk objek zakat mal antara lain emas dan perak, uang dan surat berharga, hasil perniagaan, pertanian, peternakan dan perikanan, pertambangan, perindustrian, pendapatan dan jasa, serta rikaz atau harta temuan. Namun, tidak semua harta otomatis wajib dizakati. Setiap jenis harta memiliki ketentuan nisab, haul, dan kadar zakat yang dapat berbeda. Termasuk Zakat Mal 1. Emas, Perak, dan Logam Mulia Emas, perak, dan logam mulia termasuk harta yang dapat menjadi objek zakat. Untuk emas, nisab yang umum digunakan adalah 85 gram emas dengan kadar zakat 2,5 persen setelah memenuhi ketentuan yang berlaku. Perhiasan yang digunakan sehari-hari memiliki pembahasan fikih tersendiri sehingga ketentuannya perlu diperhatikan. 2. Uang, Tabungan, dan Deposito Uang yang disimpan dalam bentuk tunai, tabungan, maupun deposito juga dapat dikenakan zakat apabila telah memenuhi nisab dan haul. Karena itu, memiliki harta dalam bentuk saldo rekening tetap perlu diperhatikan dalam kewajiban zakat, meskipun tidak berupa aset fisik. 3. Harta Perniagaan Barang dan aset yang dimiliki untuk kegiatan perdagangan termasuk objek zakat. Contohnya toko pakaian, makanan, elektronik, sembako, hingga bisnis online. Perhitungannya dapat melibatkan nilai persediaan, kas usaha, dan piutang yang dapat ditagih sesuai metode penghitungan zakat perdagangan. 4. Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan juga termasuk harta yang memiliki ketentuan zakat. Berbeda dengan zakat uang, jenis zakat ini tidak mensyaratkan haul satu tahun dan berkaitan dengan hasil yang diperoleh ketika telah memenuhi nisab. Kadar zakat juga dapat berbeda, salah satunya berdasarkan sumber pengairan yang digunakan. 5. Peternakan dan Perikanan Hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan unta memiliki ketentuan zakat tersendiri berdasarkan jenis dan jumlahnya. Perikanan juga termasuk dalam cakupan zakat mal. Karena memiliki perhitungan yang berbeda dengan zakat uang, zakat peternakan sebaiknya dihitung berdasarkan ketentuan yang sesuai. 6. Hasil Pertambangan dan Perindustrian Hasil pertambangan serta kegiatan perindustrian termasuk kategori harta yang dapat dikenakan zakat. Untuk usaha atau perusahaan dengan aset dan transaksi yang kompleks, penghitungan zakat sebaiknya dilakukan dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku dan, bila diperlukan, dikonsultasikan kepada amil zakat. 7. Pendapatan dan Jasa Penghasilan dari pekerjaan maupun jasa profesional juga termasuk dalam pembahasan zakat mal. Contohnya gaji, honorarium, upah, dan pendapatan dari profesi atau pekerjaan bebas. Zakat penghasilan memiliki mekanisme tersendiri, sehingga perlu dibedakan dari zakat atas tabungan atau harta lainnya. 8. Saham dan Surat Berharga Saham dan surat berharga juga dapat menjadi objek zakat. Namun, cara menghitungnya bergantung pada tujuan kepemilikan dan karakteristik investasinya. Karena itu, zakat saham tidak selalu dapat dihitung dengan cara yang sama seperti zakat tabungan. 9. Rikaz atau Harta Temuan Rikaz merupakan harta temuan atau harta terpendam tertentu yang memiliki ketentuan zakat tersendiri. Berbeda dengan beberapa jenis zakat mal lainnya, rikaz tidak mensyaratkan haul satu tahun. Kapan Harta Wajib Dizakati? Secara umum, harta yang wajib dizakati harus memenuhi beberapa ketentuan, yaitu: Dimiliki secara penuh.Berasal dari sumber yang halal.Mencapai nisab.Telah memenuhi haul untuk jenis harta yang mensyaratkannya. Nisab adalah batas minimal harta yang menyebabkan zakat menjadi wajib. Untuk beberapa jenis harta, seperti uang dan emas, nisabnya mengacu pada nilai 85 gram emas. Sementara haul adalah masa kepemilikan selama satu tahun hijriah. Namun, tidak semua zakat mal mensyaratkan haul. Zakat pertanian, misalnya, memiliki ketentuan yang berbeda. Rumah dan Kendaraan Wajib Dizakati? Rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal dan kendaraan untuk kebutuhan sehari-hari tidak otomatis menjadi objek zakat. Ketentuannya dapat berbeda apabila aset tersebut dimiliki untuk diperjualbelikan atau menjadi bagian dari kegiatan usaha. Jadi, dalam menentukan kewajiban zakat, bukan hanya nilai aset yang perlu diperhatikan, tetapi juga jenis, fungsi, dan tujuan kepemilikannya. Cara Mengetahui Harta yang Wajib Dizakati Agar lebih mudah, lakukan langkah berikut: Catat harta yang dimiliki, seperti tabungan, emas, investasi, usaha, atau hasil pertanian. Tentukan jenis zakatnya, karena setiap harta memiliki ketentuan berbeda. Periksa nisab dan haul sesuai jenis harta. Gunakan kadar zakat yang tepat dan jangan menyamaratakan semua jenis harta. Konsultasikan kepada amil zakat jika memiliki kondisi keuangan yang kompleks. Memahami zakat mal meliputi apa saja membantu kita lebih teliti dalam menunaikan kewajiban. Zakat bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi bagian dari kepedulian sosial karena dana yang ditunaikan dapat memberikan manfaat bagi para mustahik. Dengan mengenali jenis harta, nisab, dan ketentuannya, kita dapat menunaikan zakat dengan lebih tepat sekaligus menjaga keberkahan dari harta yang dimiliki.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL31/08/2026 | MBL-01
Rabiul Awal: Momentum Meneladani Rasulullah dan Perbanyak Amal
Rabiul Awal: Momentum Meneladani Rasulullah dan Perbanyak Amal
BULAN Rabiul Awal merupakan bulan ketiga dalam kalender Hijriah yang memiliki makna khusus bagi umat Islam karena berkaitan erat dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Bulan ini menjadi momentum untuk kembali mengenal Rasulullah, memperkuat kecintaan kepada beliau, serta meneladani akhlak dan ajaran yang dibawanya. Namun, keutamaan beramal di Rabiul Awal perlu dipahami secara proporsional. Tidak terdapat dalil sahih yang menetapkan jenis atau jumlah pahala tertentu hanya karena suatu amal dilakukan pada bulan Rabiul Awal. Karena itu, kesempatan meraih pahala di bulan ini dapat diwujudkan melalui berbagai amal saleh yang memang memiliki landasan dalam syariat, seperti berselawat, menuntut ilmu, bersedekah, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan ibadah. Memperbanyak Selawat sebagai Bentuk Cinta kepada Rasulullah Salah satu amalan yang dapat diperbanyak pada Rabiul Awal adalah membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. Selawat bukan sekadar ucapan, tetapi juga menjadi pengingat akan perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan risalah Islam. Melalui selawat, seorang Muslim dapat menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi sekaligus mengingat kembali ajaran yang beliau wariskan. Meski demikian, tidak perlu menetapkan jumlah atau ganjaran khusus untuk selawat yang dilakukan pada Rabiul Awal tanpa dasar yang sahih. Selawat dapat diamalkan kapan saja dan menjadi salah satu bentuk ibadah yang baik untuk dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaan kepada Rasulullah juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Semakin mengenal kehidupan dan ajaran beliau, semakin besar pula kesempatan bagi kita untuk meneladani sifat jujur, amanah, sabar, penyayang, dan peduli terhadap sesama. Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari Rabiul Awal tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum mengenang Rasulullah dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri dan melihat sejauh mana akhlak beliau telah tercermin dalam kehidupan kita. Allah SWT menyebut Rasulullah sebagai uswah hasanah atau teladan yang baik dalam QS. Al-Ahzab ayat 21. Karena itu, kecintaan kepada Nabi seharusnya mendorong perubahan dalam perilaku, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat. Menjaga kejujuran, menepati janji, menghormati orang tua, menjaga lisan, memaafkan kesalahan orang lain, serta membantu mereka yang membutuhkan merupakan contoh sederhana dari upaya meneladani akhlak Rasulullah. Perubahan tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar. Rabiul Awal pun menjadi momentum untuk tidak hanya mengenal sejarah Rasulullah, tetapi juga menghadirkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari. Menghidupkan Semangat Berbagi melalui Sedekah Kepedulian kepada sesama juga menjadi bagian penting dalam meneladani Rasulullah SAW. Rabiul Awal dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan, mulai dari membantu keluarga dan tetangga yang membutuhkan, berbagi makanan, menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa, hingga menyalurkan infak melalui lembaga resmi. Tidak harus menunggu memiliki rezeki berlebih. Bantuan sederhana yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti bagi penerimanya. Selain membantu meringankan kebutuhan sesama, kebiasaan berbagi juga melatih diri untuk tidak berlebihan dalam mencintai harta. Melalui lembaga zakat dan infak resmi, masyarakat juga dapat menyalurkan sebagian rezekinya agar dikelola dan dimanfaatkan untuk berbagai program pemberdayaan serta bantuan bagi mustahik. Mempelajari Sirah untuk Memperkuat Kecintaan kepada Nabi Mengenal Rasulullah tidak cukup hanya dengan mengetahui kelahiran dan perjalanan dakwah beliau. Mempelajari Sirah Nabawiyah membantu kita memahami bagaimana Rasulullah menghadapi berbagai ujian, memperlakukan sesama, menjalankan ibadah, serta membangun kehidupan masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam. Rabiul Awal dapat menjadi waktu yang tepat untuk kembali membaca buku sirah, mengikuti kajian, mempelajari hadis, atau mendengarkan ceramah dari sumber yang terpercaya. Pengetahuan tersebut akan lebih bermakna jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi keluarga, pembelajaran tentang Rasulullah juga dapat dilakukan secara sederhana. Orang tua dapat mengenalkan kisah kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan keteguhan Nabi kepada anak-anak. Dengan begitu, kecintaan kepada Rasulullah dapat tumbuh melalui proses belajar sekaligus pembentukan karakter. Memperkuat Ibadah dan Membiasakan Amal Saleh Rabiul Awal bukan bulan yang memiliki ketentuan khusus mengenai ibadah seperti Ramadan. Karena itu, umat Islam tetap dapat menjalankan berbagai ibadah sunnah yang memiliki dasar umum dalam syariat. Puasa Senin-Kamis, misalnya, merupakan salah satu amalan sunnah yang dapat dilakukan. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa hari Senin merupakan hari kelahiran beliau dan hari ketika wahyu diturunkan kepadanya. Hadis mengenai hal ini diriwayatkan oleh Muslim. Selain puasa, salat malam, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, memperbanyak istighfar, dan berbagai amal saleh lainnya juga dapat terus dibiasakan. Yang terpenting, amalan tersebut dilakukan dengan niat ikhlas dan tidak dikaitkan dengan klaim pahala khusus Rabiul Awal yang tidak memiliki dasar. Dengan demikian, semangat beribadah yang tumbuh selama Rabiul Awal dapat menjadi kebiasaan yang berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Menjadikan Rabiul Awal sebagai Momentum Perubahan Rabiul Awal bukan sekadar waktu untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, bulan ini dapat menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah? Memperbanyak selawat, mempelajari sirah, meningkatkan ibadah, bersedekah, serta memperbaiki akhlak merupakan bentuk nyata untuk menghidupkan kecintaan kepada beliau. Setiap amal tersebut memiliki landasan kebaikannya masing-masing dan dapat dilakukan sepanjang waktu. Peringatan Maulid Nabi sendiri memiliki perbedaan pandangan di kalangan ulama. Sebagian ulama membolehkannya sebagai bentuk tradisi yang diisi dengan kegiatan baik dan tidak bertentangan dengan syariat, sementara sebagian lainnya tidak menjadikannya sebagai amalan khusus yang ditetapkan Nabi. Perbedaan ini hendaknya disikapi dengan ilmu, adab, dan saling menghormati. Pada akhirnya, nilai Rabiul Awal bukan hanya terletak pada bagaimana kita memperingatinya, tetapi pada perubahan yang lahir setelahnya. Semoga momentum ini menumbuhkan kecintaan yang lebih kuat kepada Rasulullah SAW, mendorong kita memperbaiki akhlak, memperbanyak amal saleh, dan semakin dekat kepada Allah SWT.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL28/08/2026 | MBL-01
Agar Ibadah Istikamah: Ini Cara Jaga Semangat di Tengah Kesibukan
Agar Ibadah Istikamah: Ini Cara Jaga Semangat di Tengah Kesibukan
SEMANGAT beribadah tidak selalu berada pada kondisi yang sama. Ada saatnya hati terasa dekat dengan Allah SWT dan ibadah dijalankan dengan penuh antusias, tetapi ada pula masa ketika rasa malas dan jenuh datang sehingga ibadah terasa lebih berat. Kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika keimanan yang perlu dihadapi dengan bijak, bukan dibiarkan hingga membuat seseorang semakin jauh dari kebaikan. Karena itu, menjaga semangat ibadah bukan berarti memaksakan diri melakukan banyak amalan sekaligus. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan baik secara bertahap, menjaga keikhlasan, dan berusaha tetap konsisten meskipun dalam keadaan sibuk atau kurang bersemangat. Luruskan Niat dan Pahami Makna Ibadah Langkah pertama untuk mempertahankan semangat beribadah adalah kembali kepada niat. Ibadah bukan sekadar rutinitas yang harus diselesaikan, tetapi bentuk penghambaan sekaligus kebutuhan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, bersedekah, dan ibadah lainnya dilakukan dengan kesadaran bahwa semua itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, aktivitas tersebut akan terasa lebih bermakna. Sebaliknya, ibadah yang hanya dilakukan karena kebiasaan atau penilaian orang lain dapat membuat semangat lebih mudah naik turun. Karena itu, luangkan waktu untuk mengevaluasi niat. Ingat kembali alasan kita beribadah dan tujuan yang ingin dicapai. Rasa syukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah juga dapat menjadi pengingat untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya. Bangun Lingkungan yang Mendukung Kebaikan Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan dan perilaku seseorang. Berada di tengah orang-orang yang senang beribadah, belajar agama, dan saling mengingatkan dalam kebaikan dapat membantu menjaga motivasi untuk tetap berada di jalan yang sama. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan bahwa teman yang baik seperti penjual minyak wangi. Meski seseorang tidak membeli minyak tersebut, ia tetap dapat memperoleh harumnya. Begitu pula dengan lingkungan yang baik, pengaruh positifnya dapat dirasakan meskipun tanpa banyak nasihat. Mengikuti majelis ilmu, kegiatan keagamaan, komunitas Al-Qur'an, atau sekadar memiliki teman yang saling mengingatkan untuk salat dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga konsistensi. Di tengah kesibukan dan berbagai distraksi, lingkungan yang positif dapat membantu kita kembali fokus ketika semangat mulai menurun. Utamakan Konsistensi, Bukan Banyaknya Amalan Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menetapkan target ibadah terlalu tinggi dalam waktu singkat. Semangat yang besar memang baik, tetapi jika target tidak realistis, kita justru berisiko merasa kewalahan dan berhenti di tengah jalan. Islam mengajarkan pentingnya konsistensi dalam beramal. Rasulullah SAW menyukai amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun jumlahnya sedikit. Karena itu, mulailah dengan target yang sederhana dan mampu dipertahankan. Jika belum terbiasa membaca satu juz Al-Qur'an setiap hari, misalnya, mulai dengan beberapa halaman setelah salat. Jika ingin membiasakan salat sunnah, pilih satu amalan terlebih dahulu dan lakukan secara rutin. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan lebih mudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika sudah terbiasa, target ibadah dapat ditingkatkan secara bertahap. Saat rasa malas datang, jangan langsung meninggalkan seluruh rutinitas ibadah. Kurangi target jika diperlukan, tetapi tetap pertahankan kebiasaan baik yang sudah dibangun. Jaga Diri dari Dosa dan Perhatikan Apa yang Dikonsumsi Hati Menjaga kualitas ibadah juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menjaga dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah. Kebiasaan melihat, mendengar, atau membicarakan hal-hal yang tidak baik dapat memengaruhi hati dan pikiran. Di era digital, tantangan tersebut semakin besar. Berbagai konten dapat diakses dengan mudah hanya melalui gawai. Karena itu, menjaga pandangan, menyaring tontonan, menghindari ghibah, serta membatasi konsumsi konten yang tidak bermanfaat menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan hati. Ketika melakukan kesalahan, jangan menunda untuk bertobat dan memohon ampun kepada Allah. Istigfar dapat menjadi sarana untuk mengingat kembali kelemahan diri dan mendorong kita memperbaiki kesalahan. Menjaga diri bukan berarti harus menjauh dari teknologi atau kehidupan sosial, tetapi belajar menggunakannya secara lebih bijak. Pilih konten, lingkungan, dan aktivitas yang membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik. Perbanyak Doa agar Diberi Keteguhan Hati Selain berusaha, seorang Muslim juga perlu menyadari bahwa kemampuan untuk terus beribadah merupakan pertolongan dari Allah SWT. Karena itu, memohon keteguhan hati melalui doa menjadi bagian penting dalam menjaga keistikamahan. Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘ala diinik.” “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Kita juga dapat memohon pertolongan Allah dengan doa: “Allahumma a'innii ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.” “Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” Doa tersebut mengingatkan kita bahwa menjaga ibadah bukan hanya tentang kekuatan diri, tetapi juga tentang memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT. Jadikan Ibadah sebagai Kebiasaan Sepanjang Kehidupan Semangat beribadah mungkin tidak selalu berada pada titik yang sama. Ada kalanya kita merasa sangat bersemangat, sementara pada waktu lain ibadah terasa lebih berat. Yang terpenting adalah tidak membiarkan masa tersebut membuat kita berhenti berbuat baik. Mulailah dari hal yang mampu dilakukan, pertahankan secara konsisten, dan tingkatkan secara perlahan. Luruskan niat, pilih lingkungan yang mendukung, jauhi hal-hal yang dapat melemahkan hati, serta jangan berhenti memohon pertolongan Allah SWT. Pada akhirnya, tujuan beribadah bukan sekadar mengejar banyaknya amalan, tetapi membangun hubungan yang semakin dekat dengan Allah dan membentuk pribadi yang lebih baik. Semoga setiap langkah kecil yang kita pertahankan menjadi jalan menuju keistikamahan, ketenangan hati, dan kehidupan yang penuh keberkahan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL28/08/2026 | MBL-01
Cara Mudah Hitung Zakat dengan Kalkulator BAZNAS
Cara Mudah Hitung Zakat dengan Kalkulator BAZNAS
MENUNAIKAN zakat merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud kepedulian kepada sesama. Agar zakat yang ditunaikan sesuai dengan ketentuan, penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui jumlah zakat yang perlu dikeluarkan. Kini, menghitung zakat dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui Kalkulator Zakat BAZNAS. Layanan ini membantu masyarakat memperkirakan kewajiban zakat berdasarkan penghasilan atau harta yang dimiliki. Khusus untuk zakat penghasilan, masyarakat dapat memanfaatkan Kalkulator Zakat yang tersedia di website BAZNAS Provinsi Lampung. Dengan memasukkan nominal penghasilan, pengguna dapat mengetahui apakah penghasilannya telah mencapai nisab serta jumlah zakat yang perlu ditunaikan. Cara Menggunakan Kalkulator Zakat BAZNAS Menggunakan kalkulator zakat cukup sederhana. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan: Buka website BAZNAS Provinsi Lampung melalui lampung.baznas.go.id. Pilih menu "Kalkulator Zakat" yang tersedia di bagian bawah halaman website. Masukkan nominal gaji atau penghasilan yang diperoleh dalam satu bulan pada kolom yang tersedia. Setelah data dimasukkan, klik tombol "Hitung Zakat". Periksa hasil perhitungan yang ditampilkan. Jika penghasilan telah mencapai nisab sesuai ketentuan, kalkulator akan menunjukkan jumlah zakat yang perlu ditunaikan. Jika belum mencapai nisab, Anda tetap dapat menyisihkan sebagian rezeki untuk infak atau sedekah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Hitung Zakat Lebih Mudah Kalkulator zakat hadir untuk membantu masyarakat melakukan perhitungan dengan lebih praktis. Meski demikian, kalkulator tetap merupakan alat bantu sehingga pengguna perlu memastikan data yang dimasukkan sudah sesuai dengan kondisi sebenarnya. Selain itu, ketentuan nisab dapat berubah mengikuti ketentuan dan nilai emas yang berlaku. Karena itu, pastikan menggunakan informasi terbaru ketika melakukan perhitungan zakat. Pada akhirnya, menghitung zakat bukan hanya tentang mendapatkan angka dari sebuah kalkulator. Lebih dari itu, perhitungan yang tepat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menunaikan amanah zakat dengan benar. Yuk, cek kewajiban zakat Anda dengan Kalkulator Zakat BAZNAS Provinsi Lampung dan tunaikan zakat sesuai ketentuan. Bagi yang belum mencapai nisab, jangan lupa bahwa sebagian rezeki tetap dapat disalurkan melalui infak dan sedekah.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL24/08/2026 | MBL-01
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.

Lihat Daftar Rekening →