WhatsApp Icon
15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah

KEHIDUPAN yang baik dan penuh berkah merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Kehidupan yang berkah juga tercermin dari hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Untuk mewujudkannya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, bekerja dengan jujur, menyayangi keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

Kebiasaan baik tersebut tidak harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Berikut 15 tips Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menjaga Salat Lima Waktu

Salat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang memenuhi ketentuan syariat. Menjaga salat tepat waktu menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasakan menunaikan salat ketika waktunya tiba. Jika memungkinkan, persiapkan diri lebih awal agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang dan khusyuk.

Selain menjaga pelaksanaannya, usahakan memahami bacaan dan menghayati maknanya. Dengan demikian, salat tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga pengingat untuk menjaga perilaku dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.

2. Membiasakan Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca, memahami, dan berusaha mengamalkan ajarannya dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang untuk mulai membaca Al-Qur'an. Sisihkan beberapa menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau sebelum tidur.

Bagi yang belum lancar membaca Al-Qur'an, belajarlah secara bertahap dengan bimbingan guru yang kompeten. Sementara itu, mereka yang sudah lancar dapat memperdalam pemahaman melalui terjemahan dan tafsir.

Konsistensi menjadi hal penting dalam membangun kebiasaan ini. Mulailah dengan target yang realistis agar membaca Al-Qur'an dapat menjadi bagian dari rutinitas harian.

3. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa dan zikir membantu seorang Muslim mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, doa menjadi sarana memohon pertolongan. Saat memperoleh kebahagiaan, zikir dan doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Kebiasaan ini dapat dimulai dengan membaca zikir pagi dan petang, beristigfar, berdoa setelah salat, serta membaca doa sebelum tidur.

Meski demikian, doa dan zikir perlu berjalan beriringan dengan usaha nyata. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, misalnya, seorang Muslim tetap perlu mencari solusi, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki cara bekerja sembari memohon pertolongan Allah SWT.

4. Membiasakan Diri Bersyukur

Bersyukur membantu seseorang menghargai nikmat yang telah dimiliki. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain secara berlebihan justru dapat membuat seseorang lupa terhadap berbagai kebaikan yang telah diterimanya.

Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya.

Syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat untuk tujuan yang baik. Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta membantu sesama, dan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Mulailah dengan menghargai hal-hal sederhana, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, makanan, dan tempat tinggal. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menghargai apa yang dimiliki sambil terus memperbaiki keadaan.

5. Mencari Rezeki yang Halal dan Baik

Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki melalui cara yang halal. Rezeki yang baik tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjaga kejujuran, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati hak orang lain. Hindari penipuan, kecurangan, dan tindakan yang merugikan pihak lain.

Bagi yang menjalankan usaha, sampaikan informasi produk atau jasa secara jujur. Sementara itu, dalam mengelola penghasilan, dahulukan kebutuhan pokok, hindari utang konsumtif yang tidak perlu, dan sisihkan sebagian harta untuk sedekah sesuai kemampuan.

Rezeki yang berkah tidak selalu berarti kekayaan berlimpah. Keberkahan juga dapat tercermin dari kecukupan, ketenangan dalam menggunakannya, serta manfaat yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat.

6. Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 23.

Berbakti dapat diwujudkan melalui perkataan yang sopan, kesediaan mendengarkan nasihat yang baik, membantu kebutuhan mereka, serta meluangkan waktu untuk menemani dan memperhatikan keadaan mereka.

Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi melalui telepon atau melakukan kunjungan secara berkala dapat menjadi bentuk perhatian.

Jika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik dengan mendoakan mereka, menjaga hubungan dengan kerabat, dan melakukan kebaikan yang dibenarkan dalam Islam.

Namun, berbakti tidak berarti harus memenuhi permintaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap perlu menjaga adab dan memperlakukan orang tua dengan baik.

7. Menjaga Silaturahmi dan Hubungan Baik dengan Sesama

Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang baik dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan sekaligus sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperlakukan sesama dengan baik. Karena itu, usahakan menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang tenang dan menghindari perkataan yang menyakiti.

Belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan orang lain ketika mereka berusaha memperbaiki diri. Menghormati perbedaan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial.

Dengan membangun komunikasi yang sehat, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan dipenuhi sikap saling menghormati.

8. Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama

Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyumbangkan pakaian yang layak, atau membagikan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kebaikan.

Sesuaikan sedekah dengan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga. Jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan.

Membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama dapat melatih kepedulian dan mengurangi sikap berlebihan dalam mencintai harta. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam juga dapat berkontribusi dalam membantu mustahik serta masyarakat yang membutuhkan.

9. Menjaga Lisan dan Akhlak

Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Biasakan berbicara jujur, menghindari perkataan kasar, tidak menghina, dan tidak menyebarkan fitnah. Sebelum berbicara, pertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Menjaga lisan juga berlaku ketika menggunakan media sosial. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menulis komentar yang merendahkan orang lain, atau terlibat dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.

Jika melakukan kesalahan, akui dan perbaiki. Meminta maaf merupakan bagian dari tanggung jawab atas perilaku sendiri sekaligus langkah untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

10. Menuntut Ilmu dan Terus Memperbaiki Diri

Menuntut ilmu membantu seorang Muslim memahami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Luangkan waktu untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dasar, dan akhlak. Selain ilmu agama, tingkatkan pula keterampilan yang relevan dengan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab masing-masing.

Pilih sumber belajar yang dapat dipercaya. Dalam urusan agama, pelajari penjelasan dari ulama dan lembaga keislaman yang kompeten agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.

Selain menambah pengetahuan, biasakan mengevaluasi diri. Periksa kembali apakah ibadah telah terjaga, pekerjaan dilakukan dengan jujur, dan hubungan dengan keluarga dipelihara dengan baik.

Perbaikan diri merupakan proses berkelanjutan. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan.

11. Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Amanah

Tubuh merupakan amanah yang perlu dijaga. Kondisi fisik dan mental yang baik membantu seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Terapkan kebiasaan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menjaga waktu tidur. Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan dan jangan mengabaikan keluhan yang membutuhkan pertolongan profesional.

Menjaga kesehatan juga berarti memahami batas kemampuan diri. Istirahat yang cukup bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kemampuan untuk menjalani aktivitas dengan baik.

Dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim dapat berusaha menjalankan berbagai amanah kehidupan secara lebih optimal.

12. Mengelola Waktu dengan Bijaksana

Waktu merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Karena itu, gunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, keluarga, maupun pengembangan diri.

Buatlah jadwal harian sederhana yang memprioritaskan kewajiban utama. Sisihkan waktu untuk salat, bekerja, belajar, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat berarti.

Namun, mengelola waktu bukan berarti harus selalu sibuk. Istirahat, berolahraga, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga juga merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.

13. Bersabar dan Bertawakal kepada Allah SWT

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Seseorang dapat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau ujian kesehatan.

Dalam keadaan tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menunggu pertolongan tanpa melakukan apa pun.

Seorang Muslim perlu berusaha mencari jalan keluar, berdoa kepada Allah SWT, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya. Ketika mengalami kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Jika menghadapi persoalan yang berat, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau tenaga profesional yang sesuai.

Setiap orang memiliki ujian dan proses kehidupan yang berbeda. Karena itu, hindari mengukur keberhasilan diri hanya dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain.

14. Membiasakan Istigfar dan Bertobat

Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa berusaha memperbaiki diri.

Membaca istigfar merupakan salah satu cara memohon ampun kepada Allah. Namun, istigfar hendaknya disertai kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki perilaku.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, upayakan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai keadaan.

Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, gunakan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dengan membiasakan istigfar dan bertobat, seorang Muslim belajar bersikap rendah hati serta menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan ampunan dan bimbingan Allah SWT.

15. Membiasakan Doa agar Hidup Penuh Berkah

Selain melakukan berbagai ikhtiar, seorang Muslim dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca sehari-hari.

“Ya Allah, berkahilah kehidupanku, keluargaku, pekerjaanku, dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku. Bimbinglah aku agar senantiasa berada di jalan yang benar. Jadikanlah aku hamba yang rajin beribadah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan ikhlas dalam melakukan kebaikan. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari keburukan, serta berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan langsung dari Al-Qur'an atau hadis. Seorang Muslim dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dengan tetap memperhatikan tuntunan syariat.

Biasakan berdoa bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga ketika keadaan sedang baik. Dengan demikian, doa menjadi bagian dari kebiasaan untuk memohon petunjuk sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT.

Contoh Rutinitas Islami dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar berbagai kebiasaan baik di atas lebih mudah diterapkan, mulailah dengan rutinitas sederhana yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Pagi hari:

  • Bangun dan menunaikan salat Subuh.

  • Membaca Al-Qur'an atau zikir pagi.

  • Berdoa sebelum memulai aktivitas.

  • Menentukan prioritas pekerjaan dan tanggung jawab hari itu.

Siang hingga sore:

  • Menjaga salat lima waktu.

  • Bekerja atau belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh.

  • Menjaga perkataan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

  • Menyempatkan diri membantu keluarga atau orang yang membutuhkan.

Malam hari:

  • Menunaikan salat Isya.

  • Meluangkan waktu bersama keluarga.

  • Mengevaluasi perilaku dan aktivitas sepanjang hari.

  • Membaca doa sebelum tidur serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Rutinitas tersebut bukan aturan wajib yang harus diikuti dengan susunan persis seperti di atas. Jadikanlah sebagai panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing.

Menjalani Hidup dengan Iman, Ikhtiar, dan Rasa Syukur

Kehidupan yang penuh berkah tidak selalu ditandai dengan kelimpahan materi atau terbebas dari berbagai ujian. Keberkahan juga dapat hadir melalui hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang saling mendukung, serta kesempatan untuk terus berbuat baik.

Menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersyukur, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, dan membantu sesama merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memperkuat kualitas kehidupan seorang Muslim.

Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah dilakukan, kemudian pertahankan secara konsisten dan tingkatkan secara bertahap.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!

MENJAGA hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita dan dapat menjadi pihak terdekat untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, hubungan bertetangga perlu dibangun atas dasar saling menghormati, kepedulian, dan sikap menjaga hak satu sama lain.

Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik. Ajaran tersebut mencakup menjaga perkataan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain, berbagi makanan, memberikan pertolongan, serta memelihara hubungan baik meskipun terdapat perbedaan atau kesalahpahaman.

Adab bertetangga juga tidak terbatas pada orang yang memiliki hubungan dekat atau seagama. Seorang Muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, latar belakang, maupun kebiasaan, selama tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam.

Lantas, apa saja adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut lima di antaranya.

1. Menghormati dan Berbuat Baik kepada Tetangga

Adab pertama adalah menghormati dan memperlakukan tetangga dengan baik. Islam menempatkan hubungan dengan tetangga sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, dan golongan lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya.

Ajaran tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa ketika berpapasan, berbicara dengan sopan, menghargai privasi, dan tidak mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa alasan yang tepat.

Ketika tetangga mengadakan acara keluarga, misalnya, kita dapat menunjukkan sikap saling menghormati dengan menjaga ketertiban dan membicarakan persoalan yang muncul melalui komunikasi yang baik.

Selain itu, hindari membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status ekonomi, kedudukan sosial, atau latar belakang seseorang. Dengan membiasakan sikap saling menghormati, hubungan bertetangga dapat terjalin lebih harmonis dan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman.

2. Tidak Mengganggu atau Menyakiti Tetangga

Adab berikutnya adalah menjaga diri agar tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Pesan ini menegaskan bahwa keimanan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya sendiri, tetapi juga perlu menjaga hak dan kenyamanan orang lain. Beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan bertetangga antara lain:

  • Memutar musik atau menghasilkan suara keras hingga mengganggu waktu istirahat.

  • Membiarkan sampah menumpuk atau menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah.

  • Memarkir kendaraan hingga menghalangi jalan atau akses rumah tetangga.

  • Membicarakan keburukan tetangga dan menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya.

  • Menggunakan atau mengambil barang milik tetangga tanpa izin.

  • Melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan lingkungan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Apabila tanpa sengaja menimbulkan gangguan, sebaiknya segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tindakan sederhana, seperti mengecilkan volume suara pada malam hari atau memastikan kendaraan tidak menghalangi akses rumah orang lain, merupakan bentuk kepedulian terhadap kenyamanan bersama.

Menjaga tetangga dari gangguan bukan hanya menciptakan lingkungan yang tertib, tetapi juga menjadi wujud nyata akhlak yang baik.

3. Berbagi Makanan dan Saling Memberi

Berbagi makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial dan tidak bersikap egois terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar agar memperbanyak kuah ketika memasak dan memperhatikan tetangganya dengan membagikan sebagian makanan tersebut.

Nasihat ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian yang besar. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana sesuai kemampuan masing-masing.

Ketika memasak dalam jumlah lebih, misalnya, kita dapat berbagi makanan dengan tetangga. Berbagi juga dapat dilakukan dengan memberikan buah dari kebun atau mengirimkan hidangan sederhana pada kesempatan tertentu.

Jika tetangga sedang sakit, kita bisa menawarkan bantuan untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sementara itu, ketika mereka mengalami musibah, perhatian dan dukungan sederhana dapat membantu meringankan beban yang dirasakan.

Meski demikian, berbagi tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga sendiri. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk memaksakan diri di luar kemampuannya.

Dengan membiasakan berbagi, hubungan bertetangga tidak sekadar terjalin karena tinggal berdekatan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang dilandasi kepedulian dan kebersamaan.

4. Menolong Tetangga Ketika Mengalami Kesulitan

Seorang Muslim hendaknya tidak bersikap acuh ketika mengetahui tetangganya membutuhkan pertolongan. Hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi sumber dukungan, terutama ketika seseorang menghadapi situasi sulit.

Pertolongan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan tenaga dan dukungan moral hingga bantuan materi sesuai kemampuan.

Ketika tetangga sedang sakit, misalnya, kita dapat menjenguk, menanyakan kebutuhannya, atau membantu mengurus keperluan mendesak. Saat terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir, kita dapat membantu proses evakuasi, menyediakan makanan, atau menghubungkan mereka dengan pihak yang mampu memberikan bantuan.

Perhatian juga dapat diberikan kepada tetangga lanjut usia yang tinggal sendiri. Menanyakan kabar atau membantu membawa barang belanjaan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Dalam memberikan pertolongan, penting untuk tetap menghormati privasi dan menjaga martabat orang yang dibantu. Bantuan sebaiknya diberikan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian atau mengungkit kebaikan pada kemudian hari.

Menolong tetangga menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memaafkan Kesalahan Tetangga

Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bertetangga. Perbedaan kebiasaan, persoalan batas tanah, kebisingan, atau masalah parkir dapat memicu perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan baik.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga komunikasi, bersikap sabar, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Kebiasaan menyapa, mengunjungi ketika diperlukan, serta menghindari permusuhan berkepanjangan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat hubungan dengan tetangga.

Pertama, menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang sopan. Jika ada tindakan yang mengganggu, sampaikan keberatan secara baik-baik tanpa menghina atau mempermalukan pihak lain.

Kedua, tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, cari penjelasan secara langsung dengan cara yang santun.

Ketiga, belajar memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Selama persoalan masih dapat diselesaikan secara wajar, sikap lapang dada dapat membantu mencegah konflik berkepanjangan.

Keempat, tidak memperbesar perselisihan. Hindari menyebarkan masalah kepada orang lain apabila hal tersebut justru memperburuk keadaan.

Meski demikian, menjaga hubungan baik tidak berarti membiarkan tindakan yang membahayakan atau melanggar hak. Jika terjadi ancaman, kekerasan, atau pelanggaran serius, kita tetap dapat meminta bantuan pihak berwenang melalui cara yang tepat.

Dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan tanpa harus merusak hubungan bertetangga.

Manfaat Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam

Menerapkan adab bertetangga memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sikap saling menghormati membantu mengurangi gangguan dan perselisihan.

  2. Mempererat hubungan sosial. Tetangga yang saling mengenal lebih mudah membangun komunikasi dan kerja sama.

  3. Menumbuhkan kepedulian. Kebiasaan saling membantu membuat masyarakat lebih siap menghadapi kesulitan bersama.

  4. Menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik membantu menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi perselisihan besar.

  5. Mengamalkan ajaran Islam. Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika setiap orang berusaha memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Kita tidak perlu menunggu semua tetangga bersikap baik terlebih dahulu untuk mulai menunjukkan akhlak terpuji.

Membangun Lingkungan yang Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri

Adab bertetangga bukan hanya tentang menghindari perselisihan, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati orang lain, menjaga perkataan, berbagi makanan, menolong ketika dibutuhkan, dan memaafkan kesalahan merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat kebersamaan.

Keteladanan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akhlak mulia perlu tercermin dalam hubungan dengan sesama, termasuk dengan orang-orang yang tinggal paling dekat dengan kita.

Karena itu, membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian dapat dimulai dari rumah masing-masing. Dengan menjaga hak tetangga dan membiasakan diri untuk berbuat baik, kita turut menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi

SETIAP orang tua Muslim tentu mendambakan anak yang saleh dan salehah, beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama. Anak bukan hanya anugerah yang membawa kebahagiaan dalam keluarga, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan orang tua adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT memberikan petunjuk, menguatkan keimanan, memudahkan anak dalam beribadah, serta membimbing mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa.

Al-Qur'an mengajarkan sejumlah doa untuk memohon keturunan yang baik. Beberapa di antaranya merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS, serta doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati.

Lantas, apa saja doa memohon anak saleh dan salehah yang dapat diamalkan? Berikut bacaan, arti, dan maknanya, beserta ikhtiar mendidik anak agar tumbuh dalam kebaikan.

1. Doa dalam Surah Al-Furqan Ayat 74

Salah satu doa yang dapat diamalkan untuk memohon keluarga dan keturunan yang baik terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk hati serta agar diri sendiri dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bacaan latin:

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Makna Doa

Doa ini mengandung harapan agar keluarga tumbuh dalam keimanan, ketaatan, dan akhlak yang baik. Anak yang menjadi penyejuk hati bukan semata-mata anak yang membanggakan orang tua, tetapi juga anak yang berusaha menjalankan ajaran agama dan menghadirkan kebaikan di lingkungannya.

Selain memohon keturunan yang baik, orang tua juga memohon agar dirinya menjadi teladan dalam ketakwaan. Artinya, harapan memiliki anak saleh dan salehah perlu disertai usaha memperbaiki diri, mulai dari menjaga salat, berkata jujur, bersikap sabar, hingga menghormati orang lain.

Doa ini dapat dibaca setelah salat atau ketika bermunajat kepada Allah SWT. Tidak ada keharusan menetapkan jumlah bacaan tertentu untuk mengamalkannya.

2. Doa Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa singkat untuk memohon keturunan yang termasuk golongan orang saleh. Doa ini terdapat dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Bacaan latin: Rabbi hab li minas salihin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100).

Makna Doa 

Doa ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan bukan satu-satunya harapan. Nabi Ibrahim AS juga memohon agar keturunannya menjadi bagian dari orang-orang yang saleh.

Kesalehan merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang saleh dan salehah diharapkan memiliki keimanan yang kuat, menjaga ibadah, berperilaku baik, serta mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah.

Bagi pasangan yang sedang menantikan kehadiran buah hati, doa ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keturunan kepada Allah SWT. Bagi orang tua yang telah memiliki anak, doa yang sama dapat diamalkan untuk memohon agar anak-anak senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.

Doa juga menjadi wujud penghambaan dan tawakal. Karena itu, orang tua hendaknya terus memohon kepada Allah SWT sembari melakukan ikhtiar yang baik dan tidak kehilangan harapan ketika keinginan belum terwujud sesuai waktu yang diharapkan.

3. Doa Nabi Zakaria AS 

Al-Qur'an juga mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika memohon keturunan yang baik. Doa tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 38.

Bacaan latin:

Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan tayyibatan innaka sami'ud du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Pelajaran dari doa Nabi Zakaria 

Kisah Nabi Zakaria AS mengajarkan tentang ketekunan dalam berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Beliau memohon keturunan yang baik, mengingatkan umat Islam bahwa Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya.

Keturunan yang baik tidak hanya diukur dari kesehatan fisik atau keberhasilan duniawi. Keimanan, akhlak, dan perilaku yang terpuji juga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang diharapkan orang tua.

Doa ini dapat diamalkan oleh pasangan yang mendambakan keturunan maupun orang tua yang memohon kebaikan bagi anak-anaknya. Permohonan juga dapat disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami, selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Doa Keturunan Rajin Mendirikan Salat

Anak yang saleh dan salehah diharapkan tidak hanya memiliki perilaku yang baik, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mendirikan salat.

Dalam Surah Ibrahim ayat 40, terdapat doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan salat.

Bacaan latin: Rabbij'alni muqimas salati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Mengapa doa ini penting?

Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. Dengan memohon agar diri sendiri dan keturunan senantiasa mendirikan salat, orang tua diingatkan bahwa pendidikan agama perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak untuk salat, tetapi juga memberikan contoh melalui kebiasaan beribadah secara konsisten. Ketika anak melihat orang tuanya menjaga salat, ia dapat belajar dari keteladanan yang nyata.

Selain itu, ajarkan salat secara bertahap sesuai usia anak. Pendekatan yang lembut, penjelasan yang mudah dipahami, dan suasana keluarga yang mendukung dapat membantu anak mengenal ibadah dengan lebih baik.

Doa ini sekaligus mengingatkan orang tua untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sendiri sebelum berharap anak mengikuti jalan kebaikan tersebut.

5. Doa agar Anak Saleh dan Mendapat Keberkahan

Selain mengamalkan doa-doa dari Al-Qur'an, orang tua dapat memohon kepada Allah SWT menggunakan kalimat yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, memohon agar anak diberikan kesehatan, dilindungi dari keburukan, dibimbing dalam ketaatan, dan dimudahkan untuk berbuat baik kepada sesama.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat diamalkan sebagai doa pribadi.

Bacaan doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang saleh dan salehah. Jadikanlah mereka hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga salat. Lindungilah mereka dari perbuatan buruk, pergaulan yang menyesatkan, serta segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari jalan-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati di dunia dan bekal kebaikan bagi kami di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis. Orang tua dapat menyesuaikan susunan kata dan menyebut nama anak dalam doanya.

Hal terpenting bukan panjangnya rangkaian kalimat, melainkan ketulusan hati, keyakinan kepada Allah SWT, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar yang baik.

6. Kapan Waktu Baik Membaca Doa Anak Saleh?

Pada dasarnya, doa untuk memohon kebaikan anak dapat dipanjatkan kapan saja. Tidak ada ketentuan bahwa doa memohon anak saleh dan salehah hanya boleh dibaca pada waktu tertentu.

Meski demikian, ada beberapa kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah salat wajib

Setelah menunaikan salat wajib, orang tua dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa. Selain memohon ampunan serta kebaikan dunia dan akhirat, orang tua dapat memohon agar anak-anak diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam.

Mendoakan anak secara rutin dapat menjadi pengingat bahwa mendidik mereka merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan pertolongan Allah SWT.

Saat salat malam

Salat malam, termasuk tahajud, dapat menjadi kesempatan untuk bermunajat dengan lebih khusyuk. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan keutamaan berdoa kepada Allah pada sepertiga malam terakhir.

Orang tua dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memohon kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan keteguhan iman bagi anak-anaknya.

Ketika sujud

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa.

Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon kebaikan bagi anak-anaknya dengan tetap memperhatikan ketentuan doa dalam salat sesuai tuntunan fikih yang diikuti.

Ketika anak menghadapi kesulitan

Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak sedang sehat, berprestasi, atau menunjukkan perilaku yang membanggakan. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, menghadapi masalah pergaulan, atau sedang berusaha memperbaiki diri, orang tua juga perlu mendoakannya.

Rasa kecewa hendaknya tidak membuat orang tua berhenti berharap kepada Allah SWT. Sebaliknya, doa dapat menjadi penguat kesabaran sekaligus dorongan untuk mencari cara terbaik dalam mendampingi anak.

7. Cara Mendidik Anak agar Tumbuh Saleh

Doa merupakan ikhtiar spiritual yang penting, tetapi perlu disertai pendidikan, keteladanan, dan usaha nyata. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, melainkan juga lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Islam.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.

1. Memberikan teladan yang baik

Anak banyak belajar melalui apa yang dilihat setiap hari. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam menjalankan ibadah, menjaga perkataan, bersikap jujur, dan menghormati orang lain.

Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menjaga salatnya sendiri. Jika ingin anak berkata jujur, biasakan kejujuran dalam keluarga. Keteladanan membantu anak memahami bahwa ajaran Islam bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup.

2. Mengenalkan Al-Qur'an dan ajaran Islam sejak dini

Orang tua dapat mengenalkan Al-Qur'an, doa sehari-hari, kisah para nabi, serta dasar-dasar akhlak Islam sesuai usia anak. Lakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan.

Seiring bertambahnya usia, ajak anak memahami makna ibadah, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

3. Membiasakan ibadah dalam keluarga

Keluarga dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan tertentu.

Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika mereka melakukan kesalahan.

4. Menanamkan akhlak mulia

Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dengan perilaku terhadap sesama manusia. Ajarkan anak menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata sopan, menepati janji, meminta maaf ketika bersalah, dan membantu orang yang membutuhkan.

5. Memperhatikan lingkungan pergaulan

Lingkungan dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak. Orang tua perlu mengenal teman-teman anak, memperhatikan aktivitasnya, dan membangun komunikasi yang terbuka.

Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang bertanggung jawab, bukan pengawasan berlebihan. Ajarkan anak memilih pergaulan yang baik serta berani menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.

6. Menasihati tanpa merendahkan

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan nasihat dan konsekuensi yang sesuai. Namun, hindari melabeli anak sebagai nakal, gagal, atau tidak berguna.

Tegurlah perilakunya tanpa merendahkan martabatnya. Terus doakan kebaikannya, termasuk ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

7. Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian

Orang tua dapat mengajarkan tanggung jawab melalui tugas sederhana, seperti merapikan barang, menjaga kebersihan, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membantu anggota keluarga.

Ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia memahami akibat perbuatannya dan memperbaikinya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengakui kesalahan serta bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.

8. Keutamaan Memiliki Anak Saleh

Anak yang saleh dan salehah merupakan salah satu karunia berharga dalam Islam. Kesalehan anak tidak hanya membawa harapan akan kebaikan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan manfaat yang dapat terus dirasakan orang tua setelah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mendidik anak agar mengenal Allah SWT, menjalankan ajaran agama, dan terbiasa mendoakan orang tuanya.

Meski demikian, kesalehan anak bukan sesuatu yang dapat dijamin hanya melalui satu doa. Anak tumbuh melalui berbagai proses, pengalaman, dan pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu terus memberikan pendidikan terbaik sembari memohon pertolongan Allah SWT.

Anak yang saleh dan salehah juga diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, membantu sesama, maupun menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, tujuan mendidik anak bukan semata-mata agar orang tua merasa bangga, tetapi agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

9. Pertanyaan Umum tentang Doa Anak Saleh

Apakah doa anak saleh boleh dibaca setiap hari?

Ya. Orang tua boleh mendoakan kebaikan anak setiap hari. Beberapa doa yang dapat diamalkan antara lain doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Surah Ali Imran ayat 38, Surah As-Saffat ayat 100, dan Surah Ibrahim ayat 40.

Tidak ada ketentuan umum bahwa doa-doa tersebut harus dibaca dengan jumlah tertentu agar permohonan dikabulkan.

Apakah ibu dan ayah sama-sama boleh mendoakan anak?

Tentu. Ibu dan ayah sama-sama dapat memohon agar anak menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan serta keteladanan yang baik.

Bolehkah berdoa agar anak menjadi penghafal Al-Qur'an?

Boleh. Orang tua dapat memohon agar anak mencintai Al-Qur'an, dimudahkan menghafalnya, memahami ajarannya, serta mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Permohonan tersebut hendaknya disertai pendampingan yang baik, pembelajaran sesuai kemampuan anak, dan penghargaan terhadap proses belajarnya.

Bagaimana jika anak belum menunjukkan perilaku saleh?

Jangan langsung berputus asa. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Orang tua dapat mengevaluasi pendekatan pendidikan, membuka komunikasi yang baik, memberikan nasihat secara bijaksana, dan terus mendoakan kebaikannya.

Jika masalah yang dihadapi cukup berat, orang tua juga dapat mencari bantuan dari guru, konselor, atau pembimbing agama yang kompeten.

Apakah pasangan yang belum memiliki anak boleh membaca doa memohon keturunan?

Boleh. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Zakaria AS dalam Surah Ali Imran ayat 38 atau doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Di samping berdoa, pasangan dapat melakukan ikhtiar yang sesuai, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Belum hadirnya keturunan bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa doa seseorang tidak diterima Allah SWT.

Doa Bagian dari Pendidikan Anak

Memohon anak yang saleh dan salehah merupakan harapan yang dapat terus dipanjatkan oleh setiap orang tua Muslim. Al-Qur'an telah mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan untuk memohon keturunan yang baik, keluarga yang menenteramkan, serta anak-anak yang senantiasa menjaga ibadah.

Namun, doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Keteladanan orang tua, pendidikan agama, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Semoga Allah SWT menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, menjadikan keluarga sebagai penyejuk hati, serta membimbing anak-anak agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Amin ya Rabbal alamin.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan

MENGELOLA keuangan bukan hanya soal memastikan pemasukan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan. Bagi seorang Muslim, harta merupakan amanah dari Allah SWT yang perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik.

Karena itu, kelola keuangan Islam tidak hanya memperhatikan jumlah pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga sumber rezeki, prioritas kebutuhan, kewajiban terhadap keluarga, serta kepedulian kepada sesama.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir dalam menggunakan hartanya. Prinsip ini dapat menjadi dasar dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

1. Pastikan Penghasilan Sumber Halal

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber penghasilan. Sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, seorang Muslim perlu memastikan bahwa pekerjaan, usaha, perdagangan, maupun investasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memperoleh makanan dari hasil usaha sendiri. Dalam Sunan Ibn Majah 2137 disebutkan bahwa makanan terbaik yang dikonsumsi seseorang adalah yang berasal dari hasil usahanya sendiri.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja perlu menjalankan tanggung jawab dengan amanah, sedangkan pelaku usaha harus menghindari penipuan, kecurangan, menyembunyikan cacat barang, maupun mengurangi timbangan.

Ketika menemukan transaksi yang meragukan, jangan terburu-buru mengejar keuntungan. Memahami akad, risiko, dan ketentuannya terlebih dahulu dapat membantu menjaga harta tetap berada dalam koridor yang baik.

2. Susun Anggaran dan Dahulukan Kebutuhan

Setelah memastikan sumber pendapatan, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaannya. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan.

Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan keluarga perlu menjadi prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah alokasi untuk keperluan lainnya disesuaikan dengan kemampuan.

Membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Membeli sesuatu karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda promosi atau ingin mengikuti tren.

Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Catatan di buku, spreadsheet, maupun aplikasi keuangan sudah cukup untuk membantu mengevaluasi pola pengeluaran dan menemukan pos yang dapat dikurangi.

3. Hindari Pemborosan dan Utang Konsumtif

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam menggunakan harta. Karena itu, pembelian impulsif dan gaya hidup berlebihan perlu dihindari.

Diskon atau promosi memang dapat menghemat pengeluaran jika barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, membeli sesuatu hanya karena harganya sedang murah tetap dapat membuat keuangan menjadi tidak sehat.

Penggunaan utang juga perlu dipertimbangkan dengan matang. Seorang Muslim perlu memahami akad dan konsekuensi finansial sebelum mengambil utang, terutama jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya berada di luar kemampuan.

Hidup sesuai kemampuan bukan berarti harus mengurangi seluruh kenyamanan. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, seseorang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih tenang tanpa terbebani pengeluaran yang tidak perlu.

4. Siapkan Tabungan dan Dana Darurat

Selain memenuhi kebutuhan hari ini, pengelolaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan di masa depan. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dapat membantu menghadapi berbagai keperluan yang sudah direncanakan.

Dana darurat juga penting untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendesak.

Perencanaan jangka panjang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, misalnya untuk pendidikan anak, tempat tinggal, maupun kebutuhan masa pensiun. Tidak perlu memulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.

5. Sisihkan Harta untuk Zakat, Infak, dan Sedekah

Harta dalam Islam tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban dan kepedulian sosial yang perlu diperhatikan, termasuk zakat bagi harta yang telah memenuhi ketentuannya.

Zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, nisab, haul, kadar, serta golongan penerima. Karena itu, perhitungannya perlu dilakukan sesuai ketentuan syariat.

Selain zakat, infak dan sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan sesuai kemampuan. Kebiasaan berbagi mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Dengan memasukkan zakat, infak, dan sedekah dalam perencanaan keuangan, pengelolaan harta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ibadah.

6. Bangun Komunikasi Keuangan dalam Keluarga

Pengelolaan keuangan juga berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami dan istri dapat membicarakan pemasukan, kebutuhan, kewajiban, tabungan, serta tujuan finansial keluarga secara terbuka.

Setiap keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tidak ada satu pola anggaran yang harus diterapkan oleh semua orang. Yang penting adalah menjaga prinsip halal, bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan.

Anak juga dapat dikenalkan dengan kebiasaan finansial sejak dini. Misalnya dengan mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta mengenalkan pentingnya berbagi.

Evaluasi sederhana setiap bulan dapat membantu keluarga mengetahui kondisi keuangannya. Periksa kembali pemasukan, pengeluaran terbesar, jumlah tabungan, kewajiban yang telah dibayarkan, dan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pada akhirnya, kelola keuangan Islam bukan semata-mata tentang bagaimana memiliki lebih banyak uang. Lebih dari itu, pengelolaan harta diarahkan agar kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara yang halal, keluarga tetap terjaga, dan sebagian rezeki dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Dengan mengatur pemasukan secara bijak, menghindari pemborosan, mempersiapkan masa depan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, harta dapat dikelola sebagai amanah sekaligus menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim

DALAM Islam, adab dan akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah kepada Allah SWT juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga masyarakat di sekitarnya.

Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam hal akhlak. Beliau mengajarkan kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang dalam berinteraksi dengan sesama. Karena itu, menjaga perilaku bukan sekadar menunjukkan kepribadian yang baik, tetapi juga bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Adab dan Akhlak dalam Islam

Menjaga adab berarti berusaha menempatkan perkataan, sikap, dan tindakan sesuai dengan tuntunan Islam. Hal tersebut dapat dimulai dari perkara sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak, serta membantu mereka yang membutuhkan.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang menjaga lisannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman untuk saling mengejek, mencela, maupun memanggil orang lain dengan gelar yang buruk.

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara. Perkataan yang kasar, hinaan, fitnah, atau ucapan yang menyakiti orang lain dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Menjaga adab juga berarti mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Saat marah atau berbeda pendapat, seseorang perlu berusaha menahan emosi agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Kedudukan Penting Akhlak Baik

Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang membiasakan perkataan keji.

Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara sederhana, melainkan memiliki nilai besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan rasa aman, bukan justru menimbulkan kerugian atau ketakutan bagi orang lain.

Dengan demikian, akhlak yang baik tidak cukup hanya terlihat dalam aktivitas ibadah. Nilainya perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

Menerapkan Adab dalam Kehidupan

Di lingkungan keluarga, menjaga adab dapat dimulai dengan menghormati orang tua, memperlakukan pasangan dan saudara dengan baik, serta membangun komunikasi tanpa penghinaan maupun kekerasan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak dapat diwujudkan dengan menghormati tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan menghargai perbedaan.

Begitu pula di tempat kerja atau sekolah. Bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, menjaga amanah, serta tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari penerapan akhlak Islam.

Adab juga berlaku di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Menjaga perilaku di media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak dalam kehidupan modern.

Membiasakan Diri Berakhlak Baik

Menjaga adab membutuhkan latihan dan konsistensi. Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki niat. Berbuat baik kepada orang lain seharusnya dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian.

Kebiasaan menjaga lisan juga perlu dilatih. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Mempelajari kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi cara lain untuk memahami bagaimana akhlak diterapkan dalam berbagai situasi. Keteladanan beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, maupun orang yang berbeda pendapat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi diri juga penting. Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Pada akhirnya, menjaga adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam perilaku nyata.

Meneladani Rasulullah SAW berarti terus berusaha menjadi pribadi yang jujur, sabar, lembut, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain. Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk menjaga lisan, memperbaiki perilaku, menghormati sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01

Artikel Terbaru

Siapa Itu Mustahik: Memahami 8 Golongan Penerima Zakat
Siapa Itu Mustahik: Memahami 8 Golongan Penerima Zakat
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran besar dalam menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Melalui zakat, harta yang dimiliki seorang muslim tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga alat untuk membantu sesama. Dalam praktiknya, zakat tidak diberikan secara sembarangan, melainkan disalurkan kepada pihak yang berhak menerimanya. Di sinilah pentingnya memahami siapa itu mustahik agar zakat tersalurkan secara tepat dan sesuai syariat. Banyak umat Islam masih bertanya-tanya tentang siapa itu mustahik dan siapa saja yang berhak menerima zakat. Memahami konsep ini tidak hanya membantu muzaki menunaikan kewajibannya dengan benar, tetapi juga memperkuat semangat kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Islam telah mengatur secara jelas delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Pengertian Mustahik dalam Islam Secara bahasa, mustahik berasal dari kata istahaqqa yang berarti berhak atau layak menerima sesuatu. Dalam konteks zakat, mustahik adalah orang atau kelompok yang berhak menerima Zakat sesuai ketentuan syariat Islam. Mengetahui siapa itu mustahik sangat penting karena zakat merupakan amanah yang harus disalurkan kepada pihak yang tepat. Kesalahan dalam penyaluran dapat mengurangi nilai ibadah zakat itu sendiri. Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai mustahik menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah seorang muslim. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan…”(QS. At-Taubah: 60) Ayat ini menjadi landasan utama dalam menentukan siapa itu mustahik dan kelompok yang berhak menerima zakat. Mengapa Penting Memahami Siapa Itu Mustahik Memahami siapa itu mustahik bukan sekadar pengetahuan agama, tetapi memiliki dampak sosial yang besar. Zakat yang disalurkan kepada pihak yang tepat akan: - Mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial - Membantu masyarakat yang kesulitan ekonomi - Meningkatkan kesejahteraan umat - Memperkuat ukhuwah Islamiyah - Mendorong pemerataan ekonomi Dengan memahami mustahik, zakat menjadi instrumen nyata dalam membangun keadilan sosial sesuai ajaran Islam. Islam telah menetapkan delapan golongan mustahik yang berhak menerima Zakat. Berikut penjelasannya: Fakir, adalah orang yang hampir tidak memiliki harta maupun penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Mereka hidup dalam kondisi sangat kekurangan dan membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. Golongan fakir menjadi prioritas utama dalam penyaluran zakat karena tingkat kebutuhan mereka sangat mendesak. Miskin, adalah orang yang memiliki penghasilan, tetapi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Mereka masih mampu bekerja, namun penghasilannya belum cukup untuk hidup layak. Perbedaan utama antara fakir dan miskin terletak pada tingkat penghasilan dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Amil Zakat, adalah orang yang bertugas mengelola zakat, mulai dari pengumpulan, pencatatan, hingga pendistribusian kepada mustahik. Mereka berhak menerima zakat sebagai bentuk imbalan atas tugas yang dijalankan. Keberadaan amil sangat penting agar zakat dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran. Muallaf, adalah orang yang baru masuk Islam atau mereka yang hatinya perlu dikuatkan agar semakin mantap dalam keimanan. Bantuan zakat diberikan untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan kehidupan baru sebagai muslim. Zakat bagi muallaf juga berfungsi memperkuat persaudaraan dan dukungan sosial dalam komunitas Islam. Riqab (Memerdekakan Budak) Golongan riqab merujuk pada budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya. Pada masa kini, ulama menafsirkan kategori ini secara kontekstual, termasuk membantu korban perdagangan manusia atau individu yang tertindas dan membutuhkan pembebasan dari ketidakadilan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan dan martabat manusia. Gharimin (Orang yang Berutang) Gharimin adalah orang yang memiliki utang karena kebutuhan mendesak dan tidak mampu melunasinya. Utang tersebut bukan untuk maksiat atau pemborosan, melainkan untuk kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, atau kepentingan sosial. Zakat membantu mereka keluar dari tekanan ekonomi dan memulai kehidupan yang lebih stabil. Fi Sabilillah, berarti segala kegiatan yang dilakukan di jalan Allah untuk kemaslahatan umat. Termasuk di dalamnya dakwah Islam, pendidikan, perjuangan sosial, dan kegiatan yang bertujuan menegakkan nilai-nilai kebaikan. Dalam konteks modern, kategori ini dapat mencakup kegiatan sosial keagamaan, pendidikan Islam, dan program kemanusiaan. Ibnu sabil, adalah musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal. Meskipun ia tergolong mampu di daerah asalnya, kondisi perjalanan membuatnya membutuhkan bantuan. Zakat membantu mereka melanjutkan perjalanan dan kembali ke tempat asal dengan aman. Memahami siapa itu mustahik merupakan bagian penting dalam menunaikan ibadah zakat secara benar dan sempurna. Islam telah menetapkan delapan golongan penerima zakat yang mencerminkan keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Dengan memahami dan menerapkan prinsip ini, zakat tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga solusi nyata dalam mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat. Ketika zakat disalurkan kepada mustahik yang tepat, keberkahan tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga oleh pemberi. Harta menjadi lebih berkah, hati menjadi lebih tenang, dan masyarakat menjadi lebih sejahtera. Oleh karena itu, memahami siapa itu mustahik adalah langkah penting untuk mewujudkan keadilan sosial dan memperkuat solidaritas umat Islam.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: * BSI: 771 166 4477 * BCA Syariah: 0660 1701 01 * BTN Syariah: 817 1000 036 * Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
Muzaki, Kriteria Orang Wajib Berzakat
Muzaki, Kriteria Orang Wajib Berzakat
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membangun keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Dalam ajaran Islam, zakat tidak hanya menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga wujud kepedulian terhadap sesama. Orang yang memiliki kewajiban menunaikan zakat disebut sebagai muzaki. Memahami siapa yang termasuk muzaki sangat penting agar seorang Muslim dapat menjalankan kewajiban agamanya dengan benar serta memastikan hartanya menjadi bersih dan berkah. Pengertian Muzaki dalam Islam Secara bahasa, muzaki berasal dari kata “Zakat” yang berarti suci, tumbuh, dan berkah. Dalam istilah syariat, muzaki adalah seorang Muslim yang memiliki kewajiban mengeluarkan zakat atas harta yang dimilikinya karena telah memenuhi syarat tertentu. Kedudukan muzaki sangat penting dalam sistem ekonomi Islam. Melalui zakat yang ditunaikan oleh muzaki, keseimbangan sosial dapat terjaga, kesenjangan ekonomi dapat diperkecil, dan kesejahteraan umat dapat meningkat. Oleh karena itu, memahami status sebagai muzaki bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga kesadaran spiritual dan sosial. Dasar Hukum Kewajiban Muzaki Menunaikan Zakat Kewajiban zakat ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman: “Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat…”(QS. Al-Baqarah: 43) Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang sejajar dengan salat sebagai kewajiban utama umat Islam. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa Islam dibangun atas lima perkara, salah satunya adalah menunaikan zakat. Dengan demikian, seorang muzaki yang telah memenuhi syarat wajib zakat tidak boleh menunda atau mengabaikan kewajiban tersebut. Kriteria Seseorang Disebut sebagai Muzaki Tidak setiap Muslim otomatis menjadi muzaki. Islam menetapkan beberapa syarat agar seseorang berkewajiban menunaikan zakat. Berikut kriteria utama yang menjadikan seseorang sebagai muzaki: 1. Beragama Islam Zakat merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Oleh karena itu, hanya seorang Muslim yang memiliki kewajiban sebagai muzaki. 2. Merdeka dan Memiliki Kepemilikan Harta Penuh Seseorang harus memiliki kendali penuh atas hartanya. Harta yang masih menjadi sengketa atau bukan milik pribadi tidak termasuk dalam perhitungan zakat. 3. Harta Mencapai Nisab Nisab adalah batas minimal kepemilikan harta yang mewajibkan Zakat. Jika harta belum mencapai nisab, seseorang belum termasuk muzaki. Contoh nisab: Zakat emas: setara 85 gram emas Zakat perak: setara 595 gram perak Zakat perdagangan: setara nilai 85 gram emas Zakat pertanian: 653 kg gabah kering 4. Harta Telah Mencapai Haul Haul berarti kepemilikan harta telah berlangsung selama satu tahun hijriyah. Syarat ini berlaku untuk zakat harta seperti tabungan, emas, dan perdagangan. Namun, zakat pertanian, rikaz (harta temuan), dan hasil tambang tidak mensyaratkan haul. 5. Harta Berkembang atau Berpotensi Berkembang Harta yang wajib dizakati adalah harta yang memiliki potensi berkembang atau produktif, seperti: uang dan tabungan emas dan perak hasil perdagangan investasi hasil pertanian ternak Jika seseorang memiliki harta yang memenuhi syarat tersebut, ia termasuk muzaki dan wajib menunaikan zakat. Jenis Harta yang Menjadikan Seseorang Muzaki. Dalam kehidupan modern, bentuk harta semakin beragam. Berikut beberapa jenis harta yang dapat menjadikan seseorang berstatus muzaki: Zakat Penghasilan, penghasilan rutin seperti gaji, honorarium, atau pendapatan profesional wajib dizakati jika mencapai nisab setara 85 gram emas per tahun. Zakat Perdagangan, Pengusaha atau pedagang menjadi muzaki apabila modal usaha dan keuntungan bersih mencapai nisab. Zakat Pertanian, Petani yang hasil panennya mencapai nisab wajib mengeluarkan zakat sebesar 5% atau 10% tergantung sistem pengairan. Zakat Emas dan Tabungan Emas, perhiasan yang disimpan, serta tabungan yang mencapai nisab dan haul wajib dizakati sebesar 2,5%. Zakat Investasi dan Aset Produktif Keuntungan dari investasi properti, saham, atau usaha produktif termasuk objek zakat. Dengan memahami jenis harta ini, seorang Muslim dapat menyadari kapan dirinya telah menjadi muzaki dan wajib menunaikan zakat. Perbedaan Muzaki dan Mustahik Untuk memahami zakat secara utuh, penting membedakan antara muzaki dan mustahik. Muzaki adalah orang yang wajib membayar zakat. Mustahik adalah orang yang berhak menerima zakat. Mustahik terdiri dari delapan golongan yang disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 60, termasuk fakir, miskin, amil zakat, dan lainnya. Dengan memahami perbedaan ini, seorang muzaki dapat menunaikan Zakat secara tepat sasaran. Menjadi muzaki adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Dengan memahami kriteria muzaki, seorang Muslim dapat menunaikan zakat dengan kesadaran penuh, bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Kesadaran sebagai muzaki juga menjadi jalan untuk membersihkan harta, menumbuhkan keberkahan, serta menghadirkan keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika zakat ditunaikan dengan benar, maka keberkahan tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga oleh muzaki yang menunaikannya dengan ikhlas. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: * BSI: 771 166 4477 * BCA Syariah: 0660 1701 01 * BTN Syariah: 817 1000 036 * Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
Lima Amalan Puasa yang Wajib Diketahui
Lima Amalan Puasa yang Wajib Diketahui
PUASA bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi merupakan ibadah yang membentuk ketakwaan dan kedisiplinan spiritual seorang Muslim. Dalam Islam, amalan puasa memiliki dimensi ibadah yang luas, mencakup pengendalian diri, peningkatan ibadah, hingga kepedulian sosial. Oleh karena itu, memahami amalan puasa yang benar sangat penting agar ibadah yang dijalankan tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah SWT. Bulan Ramadan menjadi momentum terbaik untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh. Namun, amalan puasa tidak hanya terbatas pada menahan diri dari makan dan minum. Ada sejumlah amalan penting yang dianjurkan agar puasa membawa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Dengan memahami dan mengamalkannya, seorang Muslim dapat menjadikan puasa sebagai sarana peningkatan iman dan akhlak. Makna Spiritual dalam Amalan Puasa Puasa merupakan ibadah yang memiliki tujuan utama membentuk ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi orang yang bertakwa. Ketakwaan ini lahir dari kemampuan mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Amalan puasa juga melatih empati terhadap sesama. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia akan lebih memahami penderitaan orang lain yang kekurangan. Dari sinilah lahir dorongan untuk bersedekah dan membantu sesama sebagai wujud kepedulian sosial. Selain itu, puasa menjadi sarana pembersihan jiwa. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sekaligus melatih diri untuk menjauhi perbuatan dosa. Dengan demikian, amalan puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proses pembentukan karakter Muslim yang lebih baik. 1. Meluruskan Niat sebagai Pondasi Amalan Puasa Niat merupakan dasar dari setiap ibadah, termasuk puasa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Oleh karena itu, meluruskan niat hanya karena Allah SWT menjadi syarat utama agar puasa bernilai ibadah. Niat tidak harus diucapkan dengan lisan, tetapi cukup dihadirkan dalam hati sebelum fajar. Namun, sebagian ulama menganjurkan melafalkannya sebagai bentuk penguatan niat. Dengan niat yang tulus, amalan puasa menjadi lebih bermakna dan terhindar dari riya atau sekadar rutinitas. 2. Menjaga Lisan dan Perilaku Salah satu esensi amalan puasa adalah menjaga lisan dan perilaku. Puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan dusta, ghibah, fitnah, dan ucapan kasar. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang tidak meninggalkan perkataan buruk saat berpuasa tidak mendapatkan nilai dari puasanya selain lapar dan haus. Oleh karena itu, menjaga tutur kata, bersikap sabar, dan menghindari pertengkaran merupakan bagian penting dari amalan puasa yang harus diperhatikan. 3. Memperbanyak Tilawah Al-Qur’an Ramadan dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Oleh sebab itu, membaca dan memahami Al-Qur’an menjadi amalan puasa yang sangat dianjurkan. Tilawah Al-Qur’an tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga menenangkan hati dan memperkuat keimanan. Banyak ulama menganjurkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadan sebagai bentuk optimalisasi ibadah. Selain membaca, memahami makna dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an akan menjadikan puasa lebih bermakna dalam kehidupan sehari-hari. 4. Memperbanyak Sedekah dan Kepedulian Sosial Amalan puasa juga berkaitan erat dengan kepedulian terhadap sesama. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang paling dermawan, terutama pada bulan Ramadan. Memberi makan orang yang berbuka puasa, membantu fakir miskin, serta berbagi rezeki merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Sedekah tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat. Melalui amalan puasa yang disertai sedekah, seorang Muslim dapat merasakan kebahagiaan spiritual sekaligus mempererat hubungan kemanusiaan. 5. Memperbanyak Ibadah Malam Ibadah malam seperti salat Tarawih, tahajud, dan memperbanyak doa merupakan amalan puasa yang memiliki keutamaan besar. Malam Ramadan dipenuhi dengan keberkahan dan kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Salah satu malam yang paling dinantikan adalah Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dengan memperbanyak ibadah malam, seorang Muslim dapat meraih pahala yang luar biasa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah malam juga menjadi waktu terbaik untuk bermuhasabah dan memperbaiki hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Mengoptimalkan Amalan Puasa dalam Kehidupan Sehari-hari Mengamalkan nilai-nilai puasa tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan berakhir. Kesabaran, kejujuran, empati, dan kedisiplinan yang dilatih selama berpuasa perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Puasa mengajarkan pengendalian diri dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bekerja, berinteraksi sosial, dan mengambil keputusan. Dengan demikian, amalan puasa membentuk pribadi yang lebih bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Selain itu, menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan menjadi tanda diterimanya amalan puasa. Kebiasaan baik seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga salat berjamaah hendaknya terus dipertahankan. Amalan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan sarana pembentukan ketakwaan dan karakter mulia. Dengan meluruskan niat, menjaga lisan, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bersedekah, serta menghidupkan ibadah malam, seorang Muslim dapat meraih keberkahan puasa secara optimal. Memahami dan mengamalkan amalan puasa akan menjadikan ibadah ini lebih bermakna dan membawa perubahan positif dalam kehidupan. Puasa menjadi momentum penyucian jiwa, penguatan iman, serta peningkatan kepedulian sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern. Semoga dengan menjalankan amalan puasa secara konsisten dan penuh keikhlasan, kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa dan mendapatkan rahmat serta ampunan dari Allah SWT. Menjalankan lima amalan puasa ini akan semakin sempurna ketika diiringi dengan kepedulian kepada sesama. Infak menjadi salah satu cara sederhana namun penuh makna untuk membersihkan harta sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Melalui BAZNAS, infak Anda disalurkan secara amanah dan tepat sasaran untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: * BSI: 771 166 4477 * BCA Syariah: 0660 1701 01 * BTN Syariah: 817 1000 036 * Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
Mengapa Sedekah Dianjurkan Setiap Saat
Mengapa Sedekah Dianjurkan Setiap Saat
SEDEKAH merupakan salah satu amalan mulia dalam Islam yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah SWT. Tidak hanya menjadi sarana membantu sesama, sedekah juga menjadi bentuk ketaatan seorang muslim kepada perintah agama. Dalam kehidupan sehari-hari, Sedekah dapat dilakukan kapan saja dan dalam berbagai bentuk, baik berupa harta, tenaga, ilmu, maupun senyuman yang tulus kepada orang lain. Islam tidak membatasi waktu untuk bersedekah. Sedekah dapat dilakukan setiap saat karena manusia senantiasa berada dalam kesempatan untuk berbuat kebaikan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap kebaikan adalah sedekah, sehingga ruang untuk melakukan sedekah sangat luas dan mudah dijalankan oleh siapa saja. Melalui sedekah, seorang muslim menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Sedekah bukanlah sekadar pemberian materi, tetapi wujud kepedulian sosial yang mempererat hubungan antarmanusia. Oleh karena itu, memahami mengapa sedekah dianjurkan setiap saat menjadi penting agar umat Islam semakin terdorong untuk menjadikannya sebagai kebiasaan hidup. Sedekah sebagai Bentuk Ketaatan kepada Allah SWT Sedekah merupakan wujud nyata ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT karena sedekah adalah perintah yang dianjurkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Ketika seorang muslim melaksanakan sedekah dengan ikhlas, ia menunjukkan kepatuhan terhadap ajaran Islam serta keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berulang kali memerintahkan umat Islam untuk menunaikan sedekah sebagai bentuk kepedulian kepada fakir miskin. Sedekah menjadi bukti bahwa seorang muslim tidak hanya beribadah secara ritual, tetapi juga menjalankan tanggung jawab sosialnya terhadap sesama manusia. Sedekah juga mencerminkan keimanan yang kuat karena seseorang yang gemar bersedekah percaya bahwa hartanya tidak akan berkurang. Rasulullah SAW menegaskan bahwa sedekah tidak mengurangi harta, melainkan justru mendatangkan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Selain itu, sedekah membantu membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Dengan rutin melakukan sedekah, seorang muslim belajar melepaskan keterikatan pada materi dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketaatan melalui sedekah tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga membentuk karakter mulia dalam diri seorang muslim. Sedekah melatih keikhlasan, kesabaran, dan kepedulian, sehingga menjadikan pelakunya pribadi yang lebih baik di mata Allah dan manusia. Sedekah sebagai Sarana Membersihkan Harta dan Jiwa Sedekah memiliki peran penting dalam menyucikan harta yang dimiliki seorang muslim. Dalam Islam, harta yang dikeluarkan melalui sedekah menjadi sarana pembersih dari hak orang lain yang mungkin melekat di dalamnya. Selain membersihkan harta, sedekah juga berfungsi membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk seperti keserakahan dan egoisme. Ketika seseorang rutin bersedekah, ia belajar untuk menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Sedekah menjadi latihan spiritual yang membantu seseorang menumbuhkan rasa empati. Dengan sedekah, seorang muslim merasakan penderitaan orang lain dan terdorong untuk membantu meringankan beban mereka. Membersihkan jiwa melalui sedekah juga berarti menumbuhkan ketenangan batin. Orang yang gemar bersedekah cenderung merasakan kedamaian hati karena ia tidak terbelenggu oleh kecintaan berlebihan terhadap harta. Dengan demikian, sedekah bukan hanya amalan sosial, tetapi juga proses penyucian diri yang memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya dan sesama manusia. Sedekah Membuka Pintu Rezeki dan Keberkahan Hidup Sedekah diyakini sebagai salah satu kunci terbukanya pintu rezeki. Allah SWT menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang-orang yang bersedekah dengan ikhlas di jalan-Nya. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa orang yang gemar bersedekah justru mendapatkan kelapangan rezeki. Sedekah mengundang keberkahan yang tidak selalu berupa materi, tetapi juga kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Sedekah juga menjadi sebab turunnya pertolongan Allah SWT dalam berbagai kesulitan hidup. Ketika seseorang menghadapi masalah, sedekah dapat menjadi jalan untuk mendapatkan kemudahan dan solusi yang tidak disangka-sangka. Keberkahan dari sedekah tidak hanya dirasakan oleh pemberi, tetapi juga keluarganya. Rumah tangga yang terbiasa bersedekah cenderung dipenuhi ketenangan, keharmonisan, dan rasa syukur. Dengan menjadikan sedekah sebagai kebiasaan, seorang muslim membuka pintu kebaikan yang luas dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Sedekah Mempererat Ukhuwah dan Kepedulian Sosial Sedekah memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan antarmanusia. Ketika seseorang memberikan sedekah, ia tidak hanya membantu secara materi tetapi juga menunjukkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama. Dalam masyarakat, sedekah menjadi jembatan yang menghubungkan golongan mampu dengan mereka yang membutuhkan. Sedekah membantu mengurangi kesenjangan sosial dan menciptakan kehidupan yang lebih harmonis. Sedekah juga menumbuhkan rasa persaudaraan dan solidaritas. Ketika umat Islam terbiasa bersedekah, mereka membangun komunitas yang saling peduli dan mendukung satu sama lain. Kepedulian sosial yang lahir dari sedekah mampu menciptakan lingkungan yang penuh empati. Orang yang menerima sedekah merasakan kasih sayang, sementara pemberi sedekah merasakan kebahagiaan karena dapat membantu. Dengan demikian, sedekah bukan hanya amalan individu, tetapi juga kekuatan sosial yang mampu mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkuat persatuan umat. Sedekah sebagai Investasi Akhirat yang Abadi Sedekah merupakan investasi akhirat yang tidak akan pernah merugi. Setiap sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan menjadi pahala yang terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Dalam Islam, sedekah jariyah menjadi salah satu amalan yang pahalanya terus mengalir. Sedekah berupa pembangunan masjid, sumur, sekolah, atau ilmu yang bermanfaat akan memberikan pahala tanpa henti. Sedekah juga menjadi penolong di hari kiamat. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sedekah dapat menjadi naungan bagi seorang mukmin pada hari yang penuh kesulitan tersebut. Investasi akhirat melalui sedekah memberikan harapan keselamatan dan kemuliaan di kehidupan setelah dunia. Sedekah menjadi bukti amal kebaikan yang akan ditimbang di hadapan Allah SWT. Dengan memahami sedekah sebagai investasi akhirat, seorang muslim akan semakin termotivasi untuk menjadikan sedekah sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Menghidupkan Kebiasaan Sedekah Setiap Saat Sedekah adalah amalan yang dianjurkan setiap saat karena membawa manfaat besar bagi kehidupan spiritual, sosial, dan ekonomi umat. Melalui sedekah, seorang muslim menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT, membersihkan harta dan jiwa, serta membuka pintu keberkahan dalam hidup. Kebiasaan sedekah juga mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Sedekah menjadikan masyarakat lebih harmonis dan penuh kasih sayang. Selain manfaat di dunia, sedekah merupakan investasi akhirat yang akan terus memberikan pahala. Sedekah menjadi penolong dan naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat. Oleh karena itu, menjadikan sedekah sebagai kebiasaan harian merupakan langkah bijak untuk meraih keberkahan hidup. Sedekah tidak harus menunggu kaya, karena setiap kebaikan adalah sedekah yang bernilai di sisi Allah SWT. Mari membiasakan sedekah dalam setiap kesempatan, sekecil apa pun bentuknya, karena sedekah adalah jalan menuju keberkahan, ketenangan, dan kebahagiaan dunia serta akhirat. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: * BSI: 771 166 4477 * BCA Syariah: 0660 1701 01 * BTN Syariah: 817 1000 036 * Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
Ini Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa
Ini Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa
DALAM kehidupan seorang Muslim, doa merupakan bentuk ibadah yang menunjukkan ketergantungan penuh kepada Allah SWT. Doa bukan sekadar permintaan, tetapi juga bentuk penghambaan, pengakuan atas kelemahan diri, serta wujud keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu mengubah keadaan. Islam mengajarkan bahwa ada waktu mustajab berdoa, yaitu momen-momen istimewa ketika doa lebih dekat untuk dikabulkan. Mengetahui waktu-waktu ini menjadi kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk memperbanyak munajat dan memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Banyak umat Islam berdoa setiap hari, namun tidak semuanya memahami kapan waktu terbaik untuk memanjatkan doa. Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk mengenai waktu mustajab berdoa agar seorang Muslim dapat memaksimalkan kesempatan dikabulkannya permohonan. Artikel ini akan membahas waktu-waktu mustajab tersebut beserta keutamaannya, sehingga kita dapat menghidupkan doa dalam setiap fase kehidupan. Mengapa Doa Sangat Penting dalam Islam? Doa adalah inti ibadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa doa adalah ibadah itu sendiri. Dengan berdoa, seorang Muslim mengakui bahwa segala kekuatan dan pertolongan berasal dari Allah SWT. Selain itu, doa memberikan ketenangan batin, memperkuat harapan, serta menjadi sarana komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya tanpa perantara. Dalam kondisi sulit maupun lapang, doa menjadi tempat kembali yang paling aman. Namun, agar doa lebih berpeluang dikabulkan, Islam mengajarkan adab dan waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan luar biasa. Waktu Mustajab Berdoa yang Perlu Diketahui Berikut beberapa waktu mustajab berdoa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis shahih. 1. Sepertiga Malam Terakhir Sepertiga malam terakhir merupakan salah satu waktu mustajab berdoa yang paling utama. Pada waktu ini, suasana sunyi dan hati lebih khusyuk. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampun akan Aku ampuni. Waktu ini sangat baik digunakan untuk shalat tahajud dan memohon hajat kepada Allah SWT. 2. Waktu Antara Adzan dan Iqamah Waktu mustajab berdoa berikutnya adalah antara adzan dan iqamah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa pada waktu ini tidak akan ditolak. Sayangnya, banyak orang melewatkan waktu singkat ini dengan berbicara atau melakukan hal lain. Padahal, hanya beberapa menit yang sangat berharga untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat. 3. Saat Sujud dalam Shalat Posisi sujud adalah saat paling dekat antara hamba dengan Rabb-nya. Oleh karena itu, sujud menjadi waktu mustajab berdoa. Dalam sujud, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak doa, memohon ampunan, dan meminta kebutuhan hidupnya kepada Allah SWT. 4. Setelah Shalat Fardhu Setelah menunaikan shalat wajib, seorang Muslim berada dalam kondisi spiritual yang bersih dan dekat dengan Allah. Waktu ini termasuk waktu mustajab berdoa. Memanfaatkan waktu setelah shalat untuk berdzikir dan berdoa dapat menjadi kebiasaan baik yang mendatangkan ketenangan dan keberkahan. 5. Hari Jumat, Terutama Menjelang Maghrib Hari Jumat memiliki banyak keutamaan. Salah satunya terdapat satu waktu mustajab berdoa yang tidak akan ditolak. Banyak ulama berpendapat bahwa waktu tersebut berada pada sore hari menjelang maghrib. Oleh karena itu, memperbanyak doa pada hari Jumat sangat dianjurkan. 6. Saat Hujan Turun Hujan merupakan rahmat dari Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa doa saat hujan termasuk waktu mustajab berdoa. Ketika hujan turun, dianjurkan untuk memanjatkan doa, baik memohon keberkahan, perlindungan, maupun ampunan. 7. Saat Berbuka Puasa Bagi orang yang berpuasa, waktu berbuka merupakan waktu mustajab berdoa. Pada saat ini, rasa lapar dan dahaga yang ditahan seharian menjadi bukti ketulusan ibadah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa orang yang berpuasa saat berbuka tidak akan ditolak. 8. Saat Safar (Bepergian) Doa seorang musafir termasuk doa yang mustajab. Perjalanan seringkali mengandung kesulitan dan ketidakpastian, sehingga doa yang dipanjatkan dalam kondisi ini memiliki keistimewaan tersendiri. Adab agar Doa Lebih Mudah Dikabulkan Selain mengetahui waktu mustajab berdoa, seorang Muslim juga perlu memperhatikan adab dalam berdoa: Memulai dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Berdoa dengan penuh keyakinan dan keikhlasan Menghadap kiblat dan mengangkat tangan Tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan Menghindari makanan dan harta yang haram Mengulang doa dengan penuh harap Adab-adab ini membantu menghadirkan kekhusyukan dan memperkuat kualitas doa yang dipanjatkan. Menghidupkan Kebiasaan Berdoa dalam Kehidupan Sehari-hari Mengetahui waktu mustajab berdoa seharusnya mendorong kita untuk lebih disiplin dalam beribadah. Doa tidak hanya dipanjatkan saat menghadapi kesulitan, tetapi juga ketika memperoleh nikmat. Membiasakan doa dalam berbagai aktivitas harian seperti sebelum bekerja, saat perjalanan, setelah ibadah, hingga menjelang tidur akan memperkuat keimanan dan menghadirkan ketenangan hati. Seorang Muslim yang hidup dengan doa akan merasa selalu ditemani Allah SWT dalam setiap langkahnya. Memahami waktu mustajab berdoa merupakan anugerah ilmu yang sangat berharga bagi setiap Muslim. Dengan memanfaatkan waktu-waktu istimewa seperti sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqamah, saat sujud, hari Jumat, hingga waktu berbuka puasa, seorang hamba memiliki peluang besar untuk mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah SWT. Namun, yang terpenting bukan hanya mengetahui waktu-waktu tersebut, melainkan menghidupkan doa dengan hati yang ikhlas, keyakinan penuh, serta kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Doa adalah kekuatan spiritual yang mampu mengubah kesedihan menjadi harapan, kesulitan menjadi kemudahan, dan kegelisahan menjadi ketenangan. Semoga kita termasuk hamba yang memanfaatkan waktu mustajab berdoa dan senantiasa menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT. Mari manfaatkan waktu-waktu mustajab ini bukan hanya untuk memanjatkan doa terbaik, tetapi juga untuk memperkuatnya dengan amal kebaikan. Sedekah yang ditunaikan di saat-saat penuh keberkahan akan menjadi pelengkap ikhtiar dan wujud syukur atas segala nikmat-Nya. Salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS agar tersampaikan secara amanah dan tepat sasaran kepada yang membutuhkan. Semoga setiap doa yang terpanjat dan setiap kebaikan yang ditunaikan menjadi jalan turunnya rahmat dan keberkahan dalam hidup kita. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: * BSI: 771 166 4477 * BCA Syariah: 0660 1701 01 * BTN Syariah: 817 1000 036 * Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL19/02/2026 | Admin
BAZNAS Lampung Sediakan Layanan Infak: Mudah, Aman, Tepat Sasaran!
BAZNAS Lampung Sediakan Layanan Infak: Mudah, Aman, Tepat Sasaran!
INFAK merupakan amalan yang tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Infak berasal dari Bahasa Arab, "anfaqa" yang berarti membelanjakan harta atau memberikan harta. Sedangkan infak berarti keluarkanlah harta. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada BAB I Pasal 1 yakni infak adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan (hartanya) baik di waktu senang atau di waktu susah, dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali Imran: 133-134). Infak ternyata memiliki perbedaan dari sedekah, infak sebenarnya dilakukan dengan harta yang bersifat material, sedangkan sedekah, bisa dilakukan dengan non-harta atau non-material. Misalnya saja sedekah bisa dilakukan dengan senyuman, “Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi). Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan setiap hambanya agar menyisihkan hartanya untuk berinfak yang hal ini masuk dalam kebaikan, dan Allah mencintai hambanya yang berbuat baik. Hal ini dijelaskan dalam Surat Ali Imran ayat 133-134. Manfaat dan Keutamaan Berinfak "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Ali Imran: 133-134). Ayat ini menegaskan bahwa infak adalah bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat bagi kehidupan sosial masyarakat. Berikut ini beberapa keutamaan dalam berinfak: 1. Memperoleh Pahala yang Besar “Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Dia (titipkan kepadamu dan) telah menjadikanmu berwenang dalam (penggunaan)-nya. Lalu, orang-orang yang beriman di antaramu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang sangat besar.” (QS. Al-Hadid: 7). 2. Mendapatkan Doa dari Malaikat “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, ‘Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga). Malaikat yang lain berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).’”. (HR. Bukhari). 3. Membersihkan dan Menyucikan Harta "Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah pasti akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba: 39). Infak adalah salah satu cara untuk membersihkan harta dari unsur-unsur yang tidak baik. Dengan berinfak, seseorang dapat menghindari sifat kikir dan menumbuhkan sifat dermawan dalam dirinya. 4. Mendapat Berkah dari Harta yang Diinfakkan "Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan (belanjakan), maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba: 39). 5. Mendapat Perlindungan di Hari Kiamat Rasulullah SAW bersabda: "Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya." (HR. Ahmad). Dari hadis ini, dapat disimpulkan bahwa infak adalah salah satu amalan yang dapat memberikan perlindungan di akhirat kelak. Jenis-Jenis Infak Infak merupakan salah satu bentuk amal kebajikan dalam Islam yang memiliki beragam jenis, tergantung pada tujuan dan cara pelaksanaannya. Berikut adalah jenis-jenis infak yang umum dikenal: 1. Infak Wajib Infak wajib adalah kewajiban yang harus segera ditunaikan oleh seorang muslim untuk menghindari dosa. Jenis infak ini bersifat mengikat dan tidak boleh ditunda pelaksanaannya. Salah satu contoh infak wajib adalah pembayaran kafarat. 2. Infak Sunnah Infak sunnah adalah sedekah yang dilakukan atas inisiatif dan kemauan pribadi sebagai wujud kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama. Meskipun tidak diwajibkan, infak sunnah sangat dianjurkan dalam Islam karena merupakan amalan mulia yang dapat meningkatkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 3. Infak Mubah Infak mubah adalah jenis infak yang diperbolehkan dalam Islam, tetapi tidak termasuk dalam kategori infak yang diwajibkan atau dianjurkan. Contoh infak mubah meliputi pemberian hibah, sumbangan untuk kegiatan bisnis maupun bercocok tanam. 4. Infak Haram Infak haram adalah jenis infak yang dilarang dalam Islam karena bertentangan dengan nilai-nilai syariat. Infak ini terjadi ketika sumbangan diberikan dengan niat atau cara yang salah, seperti dilakukan dengan tidak ikhlas atau semata-mata untuk mencari pujian (riya). "Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan" (QS. Al-Anfal : 36). Layanan Program Infak di BAZNAS Sebagai lembaga resmi pemerintah yang mengelola zakat, infak, dan sedekah di Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menyediakan layanan yang mudah, aman, dan tepat sasaran. Berikut adalah program infak yang diselenggarakan oleh BAZNAS untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sesuai dengan ketentuan syariah. 1. Infak Ekonomi Infak ekonomi diperuntukan untuk program pemberdayaan ekonomi umat melalui dana infak yang dikelola secara profesional. Program ini mencakup pengembangan usaha mustahik di bidang peternakan, ritel mikro, dan pendampingan bisnis. A 2. Infak Kesehatan Infak Kesehatan bertujuan memberikan akses layanan medis yang layak bagi masyarakat kurang mampu. Salah program kesehatan adalah hadirnya Rumah Sehat BAZNAS yang sudah tersebar di 16 Provinsi dengan sebanyak 22 titik di tahun 2024. 3. Infak Pendidikan Infak pendidikan bertujuan memastikan keberlangsungan pendidikan melalui penyediaan dana bagi pelajar dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Salah satu wujud nyatanya, BAZNAS menawarkan delapan jenis beasiswa untuk mendukung pendidikan berkualitas. 4. Infak Yatim Infak Yatim khusus ditujukan untuk memberikan santunan dan pembinaan bagi anak yatim, tidak hanya secara materi, tetapi juga memberikan dukungan emosional dan psikologis. 5. Infak Kebencanaan BAZNAS berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi umat dengan tim dan relawan BAZNAS Tanggap Bencana (BTB). Program infak ini bertujuan merespons cepat dan efektif terhadap musibah alam atau kemanusiaan di Indonesia. 6. Infak Sosial Kemanusiaan Infak sosial kemanusiaan difokuskan pada bantuan bagi kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas dan masyarakat yang kurang mampu. Salah satu wujud nyata bantuan adalah paket sembako dalam kemasan yang diberikan kepada mustahik untuk memenuhi kebutuhan pokok. 7. Infak Palestina Program infak Palestina merupakan wujud solidaritas kemanusiaan untuk mendukung rakyat Palestina yang tengah menghadapi konflik. Kontribusi Anda akan memberikan dampak nyata bagi mereka yang membutuhkan. Segera salurkan infak Anda dan wujudkan kebaikan bersama BAZNAS. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 Bank Lampung: 405 000 500 140 4 (Infak Pendidikan). a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL06/02/2026 | Humas/BL-01
Puasa Tinggal Berapa Hari Lagi, Apa yang Harus Ditunaikan!
Puasa Tinggal Berapa Hari Lagi, Apa yang Harus Ditunaikan!
PUASA Ramadhan 2026 tinggal menghitung hari. Pada Rabu, 04 Februari 2026 Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sudah mengeluarkan ketetapan bahwa awal puasa dimulai sejak hari Rabu, tanggal 18 Februari 2026 mendatang. Sedangkan, Kementerian Agama (Kemenag) kabarnya akan menggelar sidang isbat untuk menentukan awal Ramadhan tahun 2026 pada 17 Februari 2026. Lantas kurang berapa hari lagi pelaksanaan puasa Ramadhan? Kapan jatuhnya awal Ramadhan 2026 menjadi salah satu pertanyaan yang saat-saat ini sering bermunculan. Sebab bulan suci tersebut menjadi salah satu yang dinanti-nanti umat Islam untuk melaksanakan sunnahnya yakni puasa Ramadhan serta sholat idul Fitri. Untuk menghitung kapan Ramadhan 2026 akan tiba, kita simak penjelasan lengkapnya pada Artikel ini. Jika merujuk pada perhitungan Muhammadiyah, 1 Ramadhan 1447H akan tiba pada 18 Februari 2026. Apabila dihitung mulai tanggal 5 Februari maka Ramadhan akan jatuh pada 13 hari kedepan. Melalui kalender Hijriah Indonesia tahun 2026, pemerintah memprakirakan awal Ramadhan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Akan tetapi, jadwal tersebut masih bersifat prakiraan sehingga bisa jadi adanya perubahan terkait penetapan resmi 1 Ramadhan 1447H. Untuk itu, Kemenag akan menggelar pemantauan hilal yang akan dilakukan pada akhir bulan Syaban untuk mengetahui munculnya bulan baru yakni bulan Ramadhan. Kemudian, nantinya hasil pemantauan tersebut akan dibahas dalam sidang isbat yang melibatkan perwakilan ormas Islam, pakar astronomi, ahli falak serta intansi terkait. Sehingga untuk memastikan awal Ramadhan saat ini masih menunggu keputusan hilal Kemenag, namun berdasarkan fatwa Muhammadiyah No.01/MLM/1.1/B/2025 dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) 2026, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari-19 Maret 2026. Demikianlah informasi mengenai perhitungan awal Ramadhan yang dapat Anda simak. Sembari menanti datangnya awal Ramadhan pastikan hutang puasa di tahun sebelumnya sudah lunas, apabila mendapatkan tanggungan, Anda dapat salurkan Fidyah melalui kantor digital BAZNAS Provinsi Lampung dengan link berikut ini: https://lampung.baznas.go.id/sedekah kemudian pilih bagian pembayaran Fidyah serta ikuti beberapa langkah yang tersedia. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL05/02/2026 | Humas/BL-01
Sebelum Puasa Ramadhan, Lunasi Hutang Puasamu, Ini Caranya!
Sebelum Puasa Ramadhan, Lunasi Hutang Puasamu, Ini Caranya!
TIDAK lama lagi Ramadhan 2026 segera tiba. Biasanya sebelum datangnya bulan suci Ramdhan umat muslim dianjurkan untuk melunasi hutang puasa di bulan sebelumnya. Akan tetapi ada beberapa golongan yang wajib dan tidak untuk membayar qadha dan fidyah puasa. Untuk mengetahui penjelasan lebih lanjutnya simak selengkapnya pada artikel ini. Qadha puasa merupakan mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan pada hari lain di luar bulan Ramadhan. Sedangakan Fidyah adalah tebusan berupa memberikan makan orang miskin sebagai ganti puasa yang tidak mampu ditunaikan dan tidak mungkin diqadha. Dalam Islam ada beberapa golongan yang mereka wajib untuk menunaikan keduanya, namun ada juga yang hanya menjalankan salah satunya. Sebagai tambahan pengetahuan Anda, berikut tabel Qadha dan Fidyah Ramadhan 2026 yang dapat Anda simak agar tidak terjadi kesalahan dalam menunaikannya. Dilansir dari beberapa sumber berikut tabel Qadha dan Fidyah Ramadhan 2026: Golongan yang boleh meninggalkan puasa: - Anak kecil = Tidak wajib mengqadha dan membayar fidyah - Gila yang tidak disengaja = Tidak wajib menqadha dan membayar fidyah - Gila yang disengaja = Wajib mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah - Sakit yang ada harapan sembuh = Wajib mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah - Sakit yang tidak ada harapan sembuh = Tidak wajib mengqadha namun wajib membayar fidyah - Orang yang sangat tua = Tidak wajib mengqadha namun wajib membayar fidyah - Orang yang berpergian (musafir) = Wajib mengqadha namun tidak wajib membayar fidyah - Orang hamil dan menyusui: a. Khawatir akan dirinya sendiri = Wajib mengqodo namun tidak wajib membayar fidyah b. Khawatir akan dirinya dan bayinya = Wajib mengqodho namun tidak wajib membayar fidyah c. Khawatir akan bayinya saja = Wajib mengqadha dan wajib membayar fidyah. Golongan yang haram untuk berpuasa: - Haid = Wajib mengqadha namun tidak wajib membayar fidyah - Nifas = Wajib mengqodho namun tidak wajib membayar fidyah Setelah mengetahui beberapa golongan tersebut, berikut niat melakukan pembayaran fidyah yang dapat Anda ketahui: 1. Niat fidyah puasa bagi orang sakit keras dan orang tua renta Nawaitu an ukhrija hadzihil fidyata liifthari shaumi ramadhana fardhan lillahi ta'ala “Aku niat mengeluarkan fidyah ini karena berbuka puasa di bulan Ramadhan, fardlu karena Allah swt.” 2. Niat fidyah bagi wanita hamil atau menyusui Nawaitu an ukhrija hadzihil fidyata 'an ifthari shaumi ramadhana lilkhaufi 'ala waladii fardhan lillahi ta'ala. “Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan berbuka puasa Ramadhan karena khawatir keselamatan anakku, fardlu karena Allah swt.” 3. Niat fidyah puasa orang mati (dilakukan oleh ahli waris/wali) Nawaitu an ukhrija haadzihil fidyata 'an shaumi ramadhana [sebutkan nama orang] bin [sebutkan nama ayahnya] fardhan lillaahi ta'aalaa. “Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan puasa Ramadhan untuk fulan bin fulan (disebutkan nama mayitnya), fardlu karena Allah swt.” 4. Niat fidyah karena terlambat mengqadha puasa Ramadhan Nawaitu an ukhrija hadzihil fidyata 'an ta'khiri qodho'i shoumi romadhona fardhon lillahi ta'ala. “Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan keterlambatan mengqadha puasa Ramadhan, fardlu karena Allah swt.” Melalui artikel ini BAZNAS Provinsi Lampung mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan terkait hutang puasa yang ada serta melakukan pembayaran fidyah bagi mereka yang tidak mampu untuk mengqada puasa mendekati bulan Ramadan. Anda dapat juga melakukan pembayaran fidyah melalui laman kantor digital BAZNAS Provinsi Lampung dengan klik link berikut ini: https://lampung.baznas.go.id/sedekah kemudian pilih bagian pembayaran fidyah serta ikuti beberapa langkah yang tersedia. Demikian informasi yang dapat Anda simak mengenai golongan dan cara membayar fidyah.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL05/02/2026 | Humas/BL-01
Ini Sifat yang Dimiliki Orang Gemar Sedekah dan Membayar Zakat
Ini Sifat yang Dimiliki Orang Gemar Sedekah dan Membayar Zakat
DALAM kehidupan seorang muslim, sedekah dan zakat bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki dampak besar bagi jiwa dan kehidupan. Islam mengajarkan bahwa harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga ada hak orang lain di dalamnya. Karena itu, orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat-sifat tercela yang bertentangan dengan nilai keimanan dan kemanusiaan. Orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat kikir, tamak, dan cinta dunia secara berlebihan. Sebab, kebiasaan memberi akan melatih hati untuk selalu bersyukur, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Inilah yang menjadikan sedekah dan zakat bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai sarana penyucian jiwa. Dalam Islam, sedekah dan zakat memiliki kedudukan yang sangat mulia. Bahkan, keduanya disebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an sebagai tanda keimanan seseorang. Orang yang rutin menunaikannya bukan hanya membersihkan hartanya, tetapi juga membersihkan hatinya dari berbagai sifat buruk yang dapat merusak kehidupan dunia dan akhirat. Makna Sedekah dan Zakat Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar atau jujur. Artinya, sedekah menjadi bukti kejujuran iman seseorang kepada Allah SWT. Sedangkan zakat secara bahasa berarti suci, bersih, tumbuh, dan berkah. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim membersihkan hartanya sekaligus menyucikan jiwanya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka." (QS. At-Taubah: 103). Ayat ini menunjukkan bahwa zakat bukan hanya soal harta, tetapi juga tentang penyucian hati dan jiwa. Seseorang yang terbiasa bersedekah dan membayar zakat akan memiliki karakter yang mulia, jauh dari sifat-sifat tercela. Mustahil Memiliki Sifat Kikir Sifat kikir adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Orang yang kikir akan selalu merasa hartanya kurang, meskipun sebenarnya berlimpah. Ia takut miskin, takut berbagi, dan lebih mencintai dunia daripada akhirat. Sebaliknya, orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat kikir. Setiap kali ia memberi, ia justru merasa bahagia. Ia yakin bahwa harta yang disedekahkan tidak akan mengurangi rezekinya, bahkan akan menambah keberkahan. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan berkurang harta karena sedekah." (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa sedekah justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan harta. Orang yang rajin bersedekah akan merasakan ketenangan batin, karena ia yakin rezekinya dijaga oleh Allah SWT. Mustahil Bersifat Tamak Tamak adalah keinginan berlebihan terhadap harta dan dunia. Orang yang tamak tidak pernah merasa cukup. Ia selalu ingin lebih, lebih, dan lebih, tanpa memikirkan orang lain. Islam mengajarkan keseimbangan antara mencari dunia dan mempersiapkan akhirat. Orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat tamak, karena ia menyadari bahwa harta hanyalah titipan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan bahwa nafsu manusia terhadap harta tidak ada batasnya. Namun, dengan membiasakan sedekah dan zakat, seorang muslim dilatih untuk menundukkan hawa nafsunya dan lebih mementingkan ridha Allah SWT. Mustahil Memiliki Sifat Sombong Sombong muncul ketika seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, terutama karena harta dan kedudukan. Padahal, semua yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Allah SWT. Orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat sombong, karena ia sadar bahwa hartanya tidak akan berarti apa-apa tanpa izin Allah. Justru dengan memberi, ia semakin rendah hati dan merasa dekat dengan sesama. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung." (QS. Al-Isra: 37). Orang yang rajin bersedekah akan lebih mudah bersyukur dan menghargai orang lain. Ia tidak memandang rendah orang miskin, karena ia sadar bahwa di hadapan Allah semua manusia sama. Mustahil Memiliki Sifat Cinta Dunia Berlebihan Cinta dunia yang berlebihan akan membuat seseorang lalai dari akhirat. Ia akan sibuk mengejar harta, jabatan, dan popularitas, hingga lupa pada tujuan hidup yang sesungguhnya. Namun, orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat cinta dunia secara berlebihan. Ia memandang dunia hanya sebagai ladang amal, bukan sebagai tujuan akhir. Rasulullah SAW bersabda: "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir." (HR. Bukhari). Hadis ini mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara. Dengan rajin bersedekah, seseorang akan lebih fokus mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Keutamaan Sedekah dan Zakat Sedekah dan zakat memiliki banyak keutamaan, di antaranya: Menghapus dosa dan kesalahan Mendatangkan keberkahan rezeki Menolak bala dan musibah Melapangkan dada dan menenangkan hati Menjadi sebab masuk surga Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah itu dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi). Keutamaan-keutamaan inilah yang membuat orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat-sifat tercela. Hatinya akan selalu terjaga dalam kebaikan dan keikhlasan. Dampak Sosial dari Sedekah dan Zakat Selain membersihkan jiwa, sedekah dan zakat juga memiliki dampak besar bagi masyarakat. Keduanya membantu mengurangi kemiskinan, memperkuat solidaritas sosial, dan menciptakan keadilan ekonomi. Dengan zakat, kaum fakir dan miskin dapat terbantu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan sedekah, hubungan antar sesama menjadi lebih erat dan penuh kasih sayang. Allah SWT berfirman: "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (QS. Adz-Dzariyat: 19). Ayat ini menegaskan bahwa harta seorang muslim bukan sepenuhnya miliknya, tetapi ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Cara Menumbuhkan Kebiasaan Agar menjadi pribadi yang gemar bersedekah dan membayar zakat, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan: Menanamkan niat ikhlas karena Allah SWT Menyadari bahwa harta hanyalah titipan Membiasakan memberi meski sedikit Menyalurkan zakat melalui lembaga terpercaya Mengingat keutamaan sedekah dan zakat Dengan kebiasaan ini, hati akan terlatih untuk selalu peduli dan dermawan. Lambat laun, sifat-sifat buruk akan terkikis dengan sendirinya. Pada akhirnya, orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat mustahil memiliki sifat kikir, tamak, sombong, dan cinta dunia berlebihan. Kebiasaan memberi akan membentuk pribadi yang rendah hati, penuh empati, dan selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT. Sedekah dan zakat bukan hanya tentang mengeluarkan harta, tetapi tentang membangun karakter mulia seorang muslim. Dengan keduanya, seseorang akan lebih dekat kepada Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih siap menghadapi kehidupan akhirat. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang gemar bersedekah dan membayar zakat, sehingga dijauhkan dari sifat-sifat tercela dan dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang bertakwa. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL28/01/2026 | Humas/BL-01
Bayar Zakat Online Lewat BAZNAS, Begini Caranya!
Bayar Zakat Online Lewat BAZNAS, Begini Caranya!
BAYAR Zakat Online kini menjadi solusi praktis bagi umat Islam yang ingin menunaikan kewajiban zakat dengan mudah, aman, dan sesuai syariat. Di era digital seperti sekarang, membayar zakat tidak lagi harus datang langsung ke kantor lembaga amil, karena cukup dengan ponsel atau laptop, zakat sudah dapat tersalurkan kepada yang berhak. Kemudahan Bayar Zakat Online sangat membantu masyarakat modern yang memiliki mobilitas tinggi, namun tetap ingin menunaikan rukun Islam dengan sempurna. Melalui layanan digital yang disediakan oleh BAZNAS, umat Islam dapat menunaikan zakat fitrah, zakat mal, infak, dan sedekah dengan cepat serta transparan. BAZNAS sebagai lembaga resmi pemerintah yang mengelola zakat di Indonesia terus berinovasi menghadirkan layanan Bayar Zakat Online agar semakin banyak muzaki yang terlayani dengan baik. Dengan sistem yang terintegrasi dan diawasi secara profesional, dana zakat yang disalurkan akan sampai kepada mustahik secara tepat sasaran. Bagi umat Islam, Bayar Zakat Online bukan sekadar kemudahan teknologi, tetapi juga bagian dari ikhtiar menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh tanggung jawab. Melalui kanal digital BAZNAS, pembayaran zakat menjadi lebih tertib, terdata, dan terlapor dengan baik. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang Bayar Zakat Online lewat BAZNAS, mulai dari pengertian, keutamaan, hingga tata cara pelaksanaannya. Dengan memahami panduan ini, diharapkan umat Islam semakin mantap dalam menunaikan kewajiban zakat secara modern dan sesuai tuntunan syariat. Jadi Pilihan dari mana Saja Bayar Zakat Online lewat BAZNAS menjadi pilihan utama umat Islam karena kemudahan akses yang ditawarkan. Melalui platform digital resmi, masyarakat dapat menunaikan zakat kapan saja dan di mana saja tanpa harus datang langsung ke kantor layanan zakat. Kepercayaan publik terhadap BAZNAS membuat layanan Bayar Zakat Online semakin diminati. Sebagai lembaga resmi negara yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, BAZNAS memiliki legalitas yang kuat dan sistem pengelolaan yang transparan. Keunggulan lain dari Bayar Zakat Online melalui BAZNAS adalah jaminan penyaluran zakat kepada mustahik yang tepat sasaran. Dana zakat dikelola secara profesional untuk program pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan dakwah. Dengan Bayar Zakat Online, umat Islam dapat menunaikan kewajiban zakat tanpa terkendala jarak dan waktu. Hal ini sangat membantu bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil maupun mereka yang memiliki kesibukan tinggi. Selain itu, Bayar Zakat Online melalui BAZNAS juga memudahkan pencatatan administrasi zakat. Setiap transaksi akan mendapatkan bukti pembayaran resmi yang dapat digunakan sebagai arsip pribadi maupun laporan keuangan. Keutamaan dalam Perspektif Islam Bayar Zakat Online pada hakikatnya adalah sarana untuk menunaikan kewajiban zakat dengan cara yang lebih mudah, namun tetap sah secara syariat. Islam mengajarkan bahwa segala bentuk kemudahan yang membawa kepada kebaikan adalah bagian dari rahmat Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menunaikan zakat sebagai bentuk penyucian harta dan jiwa. Dengan Bayar Zakat Online, perintah ini dapat dilaksanakan tanpa mengurangi nilai ibadahnya. Bayar Zakat Online juga menjadi sarana mempercepat distribusi zakat kepada mustahik. Semakin cepat zakat terkumpul, semakin cepat pula manfaatnya dirasakan oleh mereka yang membutuhkan. Keutamaan Bayar Zakat Online juga terlihat dari efisiensi waktu dan tenaga. Umat Islam dapat lebih fokus pada ibadah dan aktivitas produktif lainnya tanpa mengabaikan kewajiban zakat. Dengan memanfaatkan teknologi untuk Bayar Zakat Online, umat Islam turut berperan dalam memajukan sistem pengelolaan zakat yang modern, transparan, dan akuntabel. Jenis Zakat Bisa Dibayar Online Bayar Zakat Online melalui BAZNAS melayani berbagai jenis zakat sesuai dengan kebutuhan umat Islam. Salah satunya adalah zakat fitrah yang wajib ditunaikan menjelang Idulfitri. Selain zakat fitrah, Bayar Zakat Online juga melayani zakat mal, yaitu zakat atas harta seperti emas, perak, tabungan, investasi, dan hasil usaha yang telah mencapai nisab dan haul. BAZNAS juga menyediakan layanan Bayar Zakat Online untuk zakat profesi, yaitu zakat atas penghasilan rutin seperti gaji, honor, dan pendapatan lainnya yang telah memenuhi ketentuan zakat. Bagi umat Islam yang memiliki usaha, Bayar Zakat Online dapat digunakan untuk menunaikan zakat perdagangan dan zakat perusahaan secara praktis. Dengan beragam pilihan jenis zakat tersebut, Bayar Zakat Online melalui BAZNAS memudahkan umat Islam menunaikan kewajiban zakat sesuai dengan kondisi dan jenis harta yang dimiliki. Cara Mudah Bayar Zakat Online Bayar Zakat Online lewat BAZNAS dapat dilakukan melalui website resmi melalui link berikut: Zakat BAZNAS maupun aplikasi digital yang telah bekerja sama dengan BAZNAS. Prosesnya sangat mudah dan dapat dilakukan dalam hitungan menit. Langkah pertama Bayar Zakat Online adalah mengunjungi situs resmi BAZNAS atau platform mitra pembayaran yang menyediakan layanan zakat. Pilih jenis zakat yang akan dibayarkan sesuai dengan kebutuhan. Setelah memilih jenis zakat, langkah berikutnya dalam Bayar Zakat Online adalah mengisi nominal zakat sesuai dengan perhitungan yang telah ditentukan. BAZNAS juga menyediakan kalkulator zakat untuk membantu muzaki. Selanjutnya, pilih metode pembayaran yang tersedia, mulai dari transfer bank, dompet digital, hingga mobile banking. Semua metode Bayar Zakat Online telah terintegrasi secara aman. Setelah pembayaran berhasil, muzaki akan mendapatkan bukti transaksi resmi sebagai tanda bahwa Bayar Zakat Online telah sah dan tercatat di sistem BAZNAS. Manfaat Bagi Muzaki dan Mustahik Bayar Zakat Online memberikan manfaat besar bagi muzaki karena memudahkan dalam menunaikan kewajiban zakat tanpa hambatan teknis dan administratif. Bagi mustahik, Bayar Zakat Online mempercepat proses penyaluran bantuan, sehingga mereka dapat segera merasakan manfaat zakat dalam bentuk bantuan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Dengan Bayar Zakat Online, BAZNAS dapat menghimpun dana zakat dalam jumlah besar yang kemudian disalurkan melalui program-program pemberdayaan umat. Transparansi dalam Bayar Zakat Online juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga zakat. Setiap dana yang masuk tercatat dan diaudit secara berkala. Dengan demikian, Bayar Zakat Online tidak hanya memudahkan muzaki, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan umat. Saatnya Bayar Zakat Online Bayar Zakat Online merupakan solusi modern bagi umat Islam yang ingin menunaikan kewajiban zakat dengan mudah, cepat, dan aman. Dengan memanfaatkan layanan digital BAZNAS, zakat dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan. Sebagai umat Islam, Bayar Zakat Online adalah bentuk ikhtiar dalam menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran sosial. Kemudahan Bayar Zakat Online hendaknya menjadi motivasi bagi umat Islam untuk semakin rajin menunaikan zakat, infak, dan sedekah demi terwujudnya kesejahteraan umat. Melalui Bayar Zakat Online, kita turut berkontribusi dalam membangun sistem pengelolaan zakat yang profesional, transparan, dan berkelanjutan. Mari tunaikan kewajiban zakat kita dengan Bayar Zakat Online lewat BAZNAS, agar harta menjadi lebih berkah dan kehidupan umat semakin sejahtera. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL28/01/2026 | Humas/BL-01
Empat Akibat tidak Membayar Zakat Menurut Islam
Empat Akibat tidak Membayar Zakat Menurut Islam
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Kewajiban ini bukan hanya bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga sarana membersihkan harta dan menumbuhkan kepedulian sosial. Oleh karena itu, memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat menjadi hal yang sangat penting agar setiap muslim menyadari dampak besar dari mengabaikan kewajiban ini. Dalam Al-Qur’an dan hadis, zakat selalu disebutkan berdampingan dengan shalat. Hal ini menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Mengabaikan zakat berarti mengabaikan perintah Allah SWT yang memiliki konsekuensi besar, baik di dunia maupun di akhirat. Banyak umat Islam yang telah memahami hukum zakat, namun masih lalai dalam menunaikannya. Padahal, Allah SWT telah menjelaskan dengan tegas tentang Empat Akibat Tidak Membayar Zakat sebagai peringatan bagi siapa saja yang menahan hartanya dan enggan berbagi kepada sesama. Zakat juga menjadi instrumen penting dalam menjaga keseimbangan sosial dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Ketika zakat tidak ditunaikan, maka dampaknya bukan hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat secara luas. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas secara lengkap dan mendalam tentang Sebutkan Empat Akibat tidak Membayar Zakat menurut ajaran Islam agar menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk menunaikan kewajiban zakat dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Mendapat Ancaman Siksa di Akhirat Dalam Islam, Sebutkan Empat Akibat tidak Membayar Zakat yang pertama adalah mendapatkan ancaman siksa yang sangat berat di akhirat. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang menimbun harta dan tidak menunaikan zakat akan mendapatkan azab yang pedih pada hari kiamat. Ancaman ini disebutkan secara jelas dalam Surah At-Taubah ayat 34–35, di mana Allah menggambarkan harta yang tidak dizakatkan akan dipanaskan di neraka dan digunakan untuk menyiksa pemiliknya. Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa Sebutkan Empat Akibat Tidak Membayar Zakat bukanlah perkara ringan dalam Islam. Dalam hadis Rasulullah SAW juga dijelaskan bahwa orang yang tidak membayar zakat akan didatangkan hartanya dalam bentuk ular berbisa yang melilit lehernya pada hari kiamat. Gambaran ini menunjukkan betapa dahsyatnya akibat dari mengabaikan kewajiban zakat. Dengan memahami Sebutkan Empat Akibat tidak Membayar Zakat, seorang muslim seharusnya semakin takut untuk menahan hartanya dan lebih bersemangat dalam menunaikan zakat. Sebab, harta yang dititipkan Allah SWT sejatinya mengandung hak orang lain yang wajib disalurkan. Kesadaran akan ancaman siksa di akhirat seharusnya menjadi pengingat bagi setiap muslim bahwa zakat bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bentuk ketaatan yang akan menentukan keselamatan di kehidupan setelah mati. Mengundang Murka dan Azab Allah SWT Empat Akibat tidak Membayar Zakat yang kedua adalah mengundang murka dan azab Allah SWT. Dalam Islam, harta adalah amanah dari Allah yang harus dikelola sesuai dengan ketentuan-Nya, termasuk kewajiban mengeluarkan zakat. Ketika seorang muslim enggan menunaikan zakat, berarti ia telah melanggar perintah Allah dan menunjukkan sifat kikir yang dibenci dalam Islam. Allah SWT sangat membenci sifat bakhil karena dapat merusak tatanan sosial dan menumbuhkan kesenjangan dalam masyarakat. Dalam Surah Ali Imran ayat 180, Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang bakhil dengan harta yang telah diberikan Allah akan mendapatkan balasan yang buruk. Ayat ini memperkuat pemahaman tentang Empat Akibat tidak Membayar Zakat sebagai peringatan nyata bagi umat Islam. Murka Allah SWT bisa datang dalam berbagai bentuk, baik berupa kesempitan hidup, kegelisahan batin, maupun hilangnya keberkahan dalam rezeki. Semua itu merupakan peringatan agar seorang muslim segera kembali kepada jalan yang benar dengan menunaikan zakat. Oleh karena itu, memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat seharusnya mendorong setiap muslim untuk menjauhi sifat kikir dan lebih dermawan dalam membantu sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. Hilangnya Keberkahan Harta Empat tidak Membayar Zakat yang ketiga adalah hilangnya keberkahan dalam harta yang dimiliki. Dalam Islam, keberkahan jauh lebih penting daripada jumlah harta itu sendiri. Harta yang banyak tetapi tidak berkah justru dapat membawa kesengsaraan. Zakat berfungsi untuk membersihkan harta dari hak orang lain yang melekat di dalamnya. Ketika zakat tidak dikeluarkan, maka harta tersebut menjadi tidak suci dan kehilangan keberkahannya. Rasulullah SAW bersabda bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah. Sebaliknya, dengan zakat dan sedekah, Allah SWT akan menambah keberkahan dan melipatgandakan rezeki seseorang. Dengan memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat, seorang muslim akan menyadari bahwa menahan zakat justru dapat menyebabkan rezekinya terasa sempit, sering mengalami masalah keuangan, dan jauh dari ketenangan hidup. Keberkahan harta akan terasa ketika harta tersebut membawa manfaat, mencukupi kebutuhan, dan mendatangkan ketenteraman. Semua itu hanya dapat diraih jika seorang muslim taat dalam menunaikan zakat sesuai ketentuan syariat. Merusak Keharmonisan, Tumbuhkan Kesenjangan Empat Akibat tidak Membayar Zakat yang keempat adalah rusaknya keharmonisan sosial dan semakin lebarnya jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Zakat dalam Islam berfungsi sebagai jembatan solidaritas sosial. Ketika orang-orang kaya enggan menunaikan zakat, maka kaum fakir dan miskin akan semakin terpuruk dalam kesulitan hidup. Hal ini dapat menimbulkan kecemburuan sosial, konflik, dan ketidakadilan dalam masyarakat. Islam mengajarkan bahwa harta tidak boleh berputar di kalangan orang kaya saja. Zakat menjadi instrumen distribusi kekayaan agar kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat, seorang muslim akan menyadari bahwa zakat bukan hanya kewajiban pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial yang memiliki dampak besar bagi kehidupan umat. Masyarakat yang taat zakat akan menjadi masyarakat yang harmonis, saling peduli, dan penuh kasih sayang. Inilah tujuan mulia dari syariat zakat yang harus dijaga dan diamalkan oleh seluruh umat Islam. Pengingat Bagi Umat Islam Sebagai penutup, memahami Empat Akibat tidak Membayar Zakat sangat penting bagi setiap muslim agar tidak meremehkan kewajiban zakat. Zakat bukan sekadar ibadah harta, tetapi bentuk ketaatan yang memiliki dampak besar bagi kehidupan dunia dan akhirat. Ancaman siksa di akhirat, murka Allah SWT, hilangnya keberkahan harta, serta rusaknya keharmonisan sosial merupakan peringatan nyata bagi siapa saja yang menahan zakat. Semua itu menunjukkan bahwa zakat memiliki peran sentral dalam menjaga keseimbangan hidup seorang muslim. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim tidak hanya membersihkan hartanya, tetapi juga membersihkan jiwanya dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Zakat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Oleh karena itu, mari kita renungkan kembali tentang Empat Akibat tidak Membayar Zakat sebagai bahan introspeksi diri agar semakin istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang taat dalam berzakat, sehingga mendapatkan keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat kelak. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL28/01/2026 | Humas/BL-01
Tujuh Perbedaan Zakat dan Wakaf yang Perlu Anda Dipahami
Tujuh Perbedaan Zakat dan Wakaf yang Perlu Anda Dipahami
DALAM ajaran Islam, terdapat berbagai instrumen ibadah yang tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas. Dua di antaranya adalah zakat dan wakaf. Meski sama-sama berkaitan dengan harta dan bertujuan untuk kemaslahatan umat, zakat dan wakaf memiliki karakteristik, hukum, serta mekanisme yang berbeda. Oleh karena itu, memahami zakat vs wakaf menjadi hal penting bagi setiap muslim agar dapat menjalankan kewajiban dan amalan sunnah secara tepat. Pembahasan mengenai zakat vs wakaf sering kali menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap keduanya sama, padahal dalam praktik dan ketentuan syariat terdapat perbedaan mendasar. Pemahaman yang benar tentang zakat vs wakaf akan membantu umat Islam dalam menunaikan ibadah sesuai tuntunan agama. Selain itu, di era modern saat ini, zakat vs wakaf juga berkembang dalam bentuk pengelolaan yang lebih profesional dan produktif. Zakat tidak lagi sekadar dibagikan secara konsumtif, sementara wakaf tidak hanya terbatas pada tanah dan bangunan masjid. Keduanya menjadi instrumen penting dalam pembangunan umat. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif zakat vs wakaf melalui tujuh perbedaan utama yang perlu dipahami oleh umat Islam. Setiap perbedaan dijelaskan secara mendalam agar mudah dipahami dan tidak menimbulkan kekeliruan dalam praktik ibadah. Dengan memahami zakat vs wakaf secara menyeluruh, diharapkan umat Islam dapat mengoptimalkan peran keduanya dalam kehidupan pribadi maupun sosial, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. 1. Perbedaan Pengertian Zakat vs Wakaf Zakat vs wakaf memiliki perbedaan mendasar dari sisi pengertian. Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim apabila telah memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan dalam syariat Islam. Kewajiban zakat melekat pada individu muslim yang hartanya telah mencapai nisab dan haul. Sementara itu, wakaf dalam konteks zakat vs wakaf adalah penahanan harta yang pokoknya tetap utuh, sementara manfaatnya digunakan untuk kepentingan umum atau ibadah. Wakaf bersifat sukarela dan tidak diwajibkan kepada setiap muslim sebagaimana zakat. Dalam zakat vs wakaf, zakat berfungsi sebagai kewajiban sosial yang membersihkan harta dan jiwa, sedangkan wakaf merupakan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama manfaat wakaf tersebut masih dirasakan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa zakat vs wakaf memiliki orientasi ibadah yang berbeda. Pengertian zakat vs wakaf juga memengaruhi cara pelaksanaannya. Zakat harus dikeluarkan sesuai ketentuan waktu dan jumlah, sedangkan wakaf dapat dilakukan kapan saja sesuai kemampuan dan niat wakaf. Dengan memahami pengertian zakat vs wakaf, umat Islam dapat membedakan mana yang bersifat kewajiban mutlak dan mana yang merupakan amalan sunnah dengan nilai pahala berkelanjutan. 2. Perbedaan Hukum Zakat vs Wakaf Dalam pembahasan zakat vs wakaf, aspek hukum menjadi salah satu perbedaan paling mendasar. Zakat memiliki hukum wajib bagi setiap muslim yang memenuhi syarat. Kewajiban ini ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis, serta menjadi salah satu rukun Islam. Berbeda dengan zakat, wakaf dalam kerangka zakat vs wakaf memiliki hukum sunnah. Artinya, wakaf sangat dianjurkan tetapi tidak berdosa bagi muslim yang belum mampu melaksanakannya. Meski demikian, pahala wakaf sangat besar karena termasuk sedekah jariyah. Hukum wajib pada zakat vs wakaf menjadikan zakat tidak boleh ditinggalkan dengan sengaja. Bahkan, dalam sejarah Islam, penolakan membayar zakat dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap syariat. Sebaliknya, dalam zakat vs wakaf, wakaf lebih menekankan pada kesadaran dan keikhlasan individu. Wakaf dilakukan atas dasar niat mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat jangka panjang bagi umat. Perbedaan hukum zakat vs wakaf ini menegaskan bahwa keduanya memiliki posisi yang sama-sama penting, namun dengan konsekuensi syariat yang berbeda bagi umat Islam. 3. Perbedaan Waktu Pelaksanaan Zakat vs Wakaf Zakat vs wakaf juga berbeda dari sisi waktu pelaksanaannya. Zakat memiliki ketentuan waktu yang jelas, terutama zakat mal yang harus dikeluarkan setelah harta mencapai haul, yaitu dimiliki selama satu tahun penuh. Selain itu, zakat fitrah dalam konteks zakat vs wakaf wajib ditunaikan pada waktu tertentu, yakni menjelang Idulfitri. Waktu ini tidak boleh dilalaikan karena berkaitan langsung dengan sah atau tidaknya ibadah zakat fitrah. Berbeda dengan zakat, wakaf dalam zakat vs wakaf tidak terikat oleh waktu tertentu. Wakaf dapat dilakukan kapan saja selama seseorang memiliki harta dan niat untuk mewakafkannya. Fleksibilitas waktu dalam zakat vs wakaf menjadikan wakaf sebagai instrumen ibadah yang dapat disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan kesempatan yang dimiliki oleh seorang muslim. Perbedaan waktu pelaksanaan zakat vs wakaf ini menunjukkan bahwa zakat bersifat periodik dan terjadwal, sedangkan wakaf bersifat fleksibel dan berkelanjutan sesuai niat wakif. 4. Perbedaan Jenis Harta dalam Zakat vs Wakaf Dalam zakat vs wakaf, jenis harta yang digunakan juga berbeda. Zakat hanya dikenakan pada jenis harta tertentu, seperti emas, perak, uang, hasil pertanian, peternakan, dan perdagangan, dengan syarat mencapai nisab. Harta dalam zakat vs wakaf untuk zakat biasanya bersifat konsumtif karena akan langsung disalurkan kepada mustahik sesuai asnaf yang telah ditentukan. Sementara itu, wakaf dalam zakat vs wakaf dapat berupa harta tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, maupun harta bergerak seperti uang dan surat berharga, selama manfaatnya dapat digunakan secara berkelanjutan. Perbedaan jenis harta zakat vs wakaf juga memengaruhi cara pengelolaannya. Harta zakat umumnya langsung habis disalurkan, sedangkan harta wakaf harus dijaga keutuhannya agar manfaatnya terus mengalir. Dengan memahami jenis harta dalam zakat vs wakaf, umat Islam dapat menentukan bentuk ibadah harta yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan yang diinginkan. 5. Perbedaan Penerima Manfaat Zakat vs Wakaf Zakat vs wakaf memiliki perbedaan jelas dalam hal penerima manfaat. Zakat hanya boleh diberikan kepada delapan golongan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yang dikenal sebagai asnaf zakat. Ketentuan penerima zakat dalam zakat vs wakaf bersifat ketat dan tidak boleh keluar dari golongan yang telah ditetapkan oleh syariat. Berbeda dengan zakat, wakaf dalam zakat vs wakaf memiliki cakupan penerima manfaat yang lebih luas. Wakaf dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, kesehatan, fasilitas umum, dan berbagai kepentingan sosial lainnya. Penerima manfaat wakaf dalam zakat vs wakaf tidak harus individu tertentu, melainkan bisa berupa masyarakat secara umum atau lembaga yang memberikan kemaslahatan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa zakat vs wakaf memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung kesejahteraan umat Islam. 6. Perbedaan Tujuan Utama Zakat vs Wakaf Tujuan utama zakat vs wakaf juga berbeda meski sama-sama bertujuan untuk kebaikan. Zakat bertujuan untuk membersihkan harta dan jiwa muzakki serta membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik. Dalam konteks zakat vs wakaf, zakat berperan besar dalam mengurangi kesenjangan sosial dan membantu masyarakat yang membutuhkan secara langsung. Sementara itu, wakaf dalam zakat vs wakaf bertujuan menciptakan manfaat jangka panjang bagi umat. Wakaf lebih fokus pada pembangunan fasilitas dan pemberdayaan yang berkelanjutan. Tujuan wakaf dalam zakat vs wakaf menjadikannya sebagai investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir meski wakif telah wafat. Dengan memahami tujuan zakat vs wakaf, umat Islam dapat mengoptimalkan peran keduanya dalam membangun kesejahteraan sosial dan spiritual. 7. Perbedaan Pengelolaan Zakat vs Wakaf Perbedaan terakhir dalam zakat vs wakaf terletak pada sistem pengelolaannya. Zakat dikelola oleh amil zakat yang bertugas menghimpun dan menyalurkan zakat sesuai ketentuan syariat. Pengelolaan zakat vs wakaf untuk zakat harus transparan dan akuntabel karena berkaitan dengan kewajiban umat dan hak mustahik. Sementara itu, wakaf dalam zakat vs wakaf dikelola oleh nazhir yang bertanggung jawab menjaga dan mengembangkan harta wakaf agar manfaatnya terus berkelanjutan. Pengelolaan wakaf dalam zakat vs wakaf sering kali bersifat jangka panjang dan memerlukan strategi produktif agar aset wakaf tidak terbengkalai. Perbedaan pengelolaan zakat vs wakaf ini menegaskan pentingnya profesionalisme agar kedua instrumen ibadah ini memberikan dampak maksimal bagi umat. Memahami zakat vs wakaf merupakan bagian penting dari literasi keislaman, khususnya dalam bidang ibadah harta. Meski sama-sama bertujuan untuk kemaslahatan umat, zakat vs wakaf memiliki perbedaan mendasar dari sisi hukum, waktu, jenis harta, penerima manfaat, tujuan, hingga pengelolaannya. Zakat vs wakaf bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami agar dapat dijalankan secara tepat dan optimal. Zakat berfungsi sebagai kewajiban yang memastikan keadilan sosial, sementara wakaf menjadi instrumen pembangunan jangka panjang bagi umat. Dengan pemahaman yang benar tentang zakat vs wakaf, umat Islam diharapkan mampu menunaikan zakat secara disiplin dan terdorong untuk berwakaf sesuai kemampuan. Keduanya merupakan wujud kepedulian sosial yang diajarkan Islam. Akhirnya, zakat vs wakaf adalah dua pilar penting dalam sistem ekonomi Islam yang saling melengkapi. Jika dikelola dengan baik, zakat vs wakaf dapat menjadi solusi nyata dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemandirian umat Islam. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL28/01/2026 | Humas/BL-01
Bencana: Antara Alam, Manusia, dan Makna
Bencana: Antara Alam, Manusia, dan Makna
ISTILAH bencana alam telah lama digunakan dalam kebijakan kebencanaan di Indonesia dan masih menjadi rujukan resmi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Dalam praktik sehari-hari, istilah ini membantu mengklasifikasikan jenis ancaman dan memudahkan koordinasi kebijakan. Namun, dalam perkembangan pemikiran kebencanaan global, istilah tersebut tidak selalu dipahami secara tunggal. Bencana kini semakin dilihat sebagai peristiwa yang terbentuk dari pertemuan antara ancaman alam dengan kondisi sosial, ekonomi, dan tata kelola manusia. Cara pandang ini tidak meniadakan peran alam, tetapi menempatkan manusia dan kebijakan sebagai faktor penting yang menentukan besarnya dampak suatu peristiwa alam. Cara pandang tersebut berkembang seiring meningkatnya kompleksitas risiko yang dihadapi masyarakat modern. Gempa bumi, banjir, longsor, dan siklon tropis memang bersumber dari proses alamiah. Namun pengalaman lintas negara menunjukkan bahwa tingkat kerusakan dan jumlah korban sangat bergantung pada kondisi masyarakat yang terdampak. Permukiman di wilayah rawan, bangunan yang tidak memenuhi standar keselamatan, kemiskinan struktural, serta lemahnya perlindungan sosial kerap menjadi faktor yang memperbesar dampak sebuah peristiwa alam. Dalam konteks inilah Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) memperkenalkan satu pernyataan yang banyak dikutip: there is no such thing as a natural disaster. Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk menafikan peran alam, melainkan untuk menegaskan bahwa alam menghadirkan ancaman (hazard), sementara bencana adalah kondisi yang muncul ketika ancaman tersebut bertemu dengan kerentanan manusia. Dengan kata lain, bencana bukan semata peristiwa fisik, tetapi juga peristiwa sosial. Pemahaman ini dirumuskan secara konseptual melalui formula yang banyak dirujuk dalam literatur kebencanaan: Disaster = Hazard + Exposure + Vulnerability. Ben Wisner dan koleganya dalam At Risk: Natural Hazards, People’s Vulnerability and Disasters menjelaskan bahwa ancaman alam relatif sulit dikendalikan, tetapi tingkat paparan dan kerentanan masyarakat dapat dikelola melalui kebijakan pembangunan, tata ruang, dan penguatan kapasitas sosial. Perbedaan dampak antara satu wilayah dan wilayah lain sering kali lebih ditentukan oleh faktor manusia dibanding oleh kekuatan alam itu sendiri. Pergeseran perspektif ini mendapatkan pengakuan resmi dalam World Conference on Disaster Risk Reduction (WCDRR) di Jepang 2014. Penulis ikut menjadi delegasi Republik Indonesia selaku Wakil Ketua Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana saat itu. WCDRR ini di Kota Sendai Miyagi Jepang itu melahirkan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030. Kerangka ini menekankan pentingnya pencegahan dan pengurangan risiko sejak awal, bukan hanya penanganan darurat setelah bencana terjadi. Negara-negara didorong untuk mengurangi kerentanan, memperbaiki tata kelola risiko, serta memastikan bahwa pembangunan tidak menciptakan risiko baru bagi masyarakat. Indonesia terlibat aktif dalam dinamika global tersebut. Kehadiran Indonesia sebagai tuan rumah Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di Bali menunjukkan penerimaan yang baik terhadap arah pemikiran Sendai Framework. Namun, secara nasional, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 masih menggunakan istilah bencana alam. Hal ini dapat dipahami karena undang-undang tersebut disusun dengan rujukan Hyogo Framework for Action, kerangka global yang berlaku sebelum Sendai. Dengan demikian, penggunaan istilah bencana alam saat ini merupakan bagian dari kepatuhan terhadap hukum yang masih berlaku. Menariknya, dalam praktik kebencanaan sehari-hari, pemahaman yang lebih luas sebenarnya telah berkembang. Berbagai peraturan teknis dan dokumen profesional mendefinisikan bencana sebagai pertemuan antara ancaman dan kerentanan yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan sarana prasarana, serta dampak lingkungan. Artinya, meskipun bahasa undang-undang masih menggunakan istilah bencana alam, pendekatan kebijakan dan teknis di lapangan secara bertahap mengadopsi cara pandang yang lebih komprehensif. Dari sudut pandang filsafat sosial, sosiolog Jerman Ulrich Beck menyebut masyarakat modern sebagai risk society, yakni masyarakat yang menghadapi risiko besar yang sebagian justru dihasilkan oleh pilihan-pilihan manusia sendiri. Banjir akibat alih fungsi lahan, longsor karena deforestasi, atau besarnya korban gempa akibat bangunan yang tidak tahan guncangan mencerminkan bagaimana risiko dapat diperbesar oleh keputusan pembangunan. Alam menjadi pemicu, sementara skala dampak sangat dipengaruhi oleh cara manusia mengelola ruang hidupnya. Perspektif ini juga menemukan resonansi dalam pandangan teologis. Secara teologi, dalam tradisi Agama Islam, bencana kerap dipahami sebagai ujian (ibtil?’) yang mengandung makna reflektif, bukan semata hukuman atau takdir yang meniadakan ikhtiar. Ulama seperti Abu Hamid al-Ghazali menekankan bahwa musibah harus dibaca sebagai sarana muhasabah, sekaligus dorongan untuk memperbaiki perilaku dan tata kehidupan. Dalam kerangka ini, ikhtiar manusia—termasuk kebijakan publik dan pengelolaan risiko—menjadi bagian tak terpisahkan dari sikap keimanan. Melihat bencana sebagai pertemuan antara alam, manusia, dan makna tidak berarti menyalahkan siapa pun. Pendekatan ini justru membantu memperluas kesadaran bahwa pengurangan risiko bencana adalah bagian dari tanggung jawab pembangunan jangka panjang. Selama Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 masih berlaku, istilah bencana alam tetap menjadi rujukan resmi dalam kebijakan dan pembiayaan. Namun pemahaman di balik istilah tersebut dapat terus diperkaya agar selaras dengan perkembangan ilmu, praktik global, dan nilai-nilai kemanusiaan. Pada akhirnya, alam akan terus bergerak sesuai hukumnya. Pertanyaannya bukan apakah ancaman alam dapat dihilangkan, melainkan bagaimana manusia dan negara mengelola kerentanan yang ada. Di titik inilah bencana menemukan maknanya yang lebih dalam: bukan sekadar peristiwa alam, tetapi cermin dari kualitas peradaban, kebijakan, dan etika pembangunan yang kita pilih bersama. Dalam kerangka ini, memperbincangkan bencana tidak cukup berhenti pada penamaan dan klasifikasi administratif. Bencana perlu ditempatkan sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas tentang arah pembangunan, keberpihakan kebijakan, dan tanggung jawab moral negara terhadap warganya. Ketika risiko terus meningkat sementara kerentanan dibiarkan, bencana akan selalu berulang dalam wajah yang sama, meskipun ancamannya berbeda. Karena itu, pengurangan risiko bencana sejatinya adalah ukuran kedewasaan sebuah bangsa dalam mengelola masa depan. Mengakui peran manusia dalam bencana tidak berarti mengabaikan takdir atau meniadakan kehendak alam. Sebaliknya, pengakuan ini justru memperjelas ruang ikhtiar yang dimiliki manusia. Alam menghadirkan hukum-hukumnya, sementara manusia diberi akal, pengetahuan, dan kewenangan untuk mengelola risiko. Di antara keduanya, kebijakan publik menjadi jembatan penentu: apakah ancaman dibiarkan berubah menjadi tragedi, atau dikelola menjadi pelajaran. Dengan cara pandang seperti ini, bencana tidak lagi sekadar peristiwa yang datang dan pergi, melainkan peringatan yang berulang tentang pilihan-pilihan yang telah diambil. Setiap banjir, gempa, dan longsor mengajukan pertanyaan yang sama: apakah kita telah membangun dengan memperhitungkan keselamatan, atau sekadar mengejar pertumbuhan? Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan apakah bencana terus menjadi kisah duka, atau berubah menjadi momentum perbaikan peradaban. ** *) Penulis adalah Deputi 1 BAZNAS RI, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Muhammadiyah Jakarta. Mari langitkan doa dan bantu saudara-saudara kita dengan bersedekah melalui Dompet Bencana dan Kemanusiaan BAZNAS, dengan transfer melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL25/12/2025 | M. Arifin Purwakananta/BL-01
Sedekah dari Harta Belum Jelas Status Halal, Ini Hukum dan Penjelasannya
Sedekah dari Harta Belum Jelas Status Halal, Ini Hukum dan Penjelasannya
SEDEKAH merupakan salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam karena dapat membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan hidup. Namun, di tengah realitas kehidupan modern, tidak sedikit umat Islam yang bertanya-tanya tentang sedekah harta belum jelas status kehalalannya, baik karena sumber penghasilan yang bercampur, transaksi yang meragukan, maupun ketidaktahuan di masa lalu. Pertanyaan ini menjadi penting karena Islam sangat menekankan kejelasan sumber harta dalam setiap ibadah yang dilakukan. Fenomena sedekah harta belum jelas sering terjadi tanpa disadari, misalnya ketika seseorang menerima bonus tanpa rincian jelas, keuntungan dari usaha yang belum sepenuhnya dipahami akadnya, atau pendapatan lama yang dahulu belum memperhatikan aspek halal dan haram. Niat untuk bersedekah tentu baik, tetapi niat baik saja tidak cukup jika tidak disertai pemahaman hukum syariat. Dalam Islam, setiap amal ibadah, termasuk sedekah, harus didasari oleh keikhlasan dan kehalalan sumber harta. Oleh karena itu, pembahasan tentang sedekah harta belum jelas menjadi penting agar umat Islam tidak terjebak pada amalan yang secara lahir tampak baik, namun secara hukum belum tentu bernilai ibadah. Artikel ini akan membahas secara mendalam hukum sedekah harta belum jelas, pandangan para ulama, serta bagaimana sikap yang seharusnya diambil oleh seorang muslim agar tetap berada dalam koridor syariat. Dengan pemahaman yang benar, diharapkan umat Islam dapat lebih tenang dalam beribadah dan mengelola hartanya. Pada akhirnya, pemahaman tentang sedekah harta belum jelas bukan untuk mempersulit ibadah, tetapi justru untuk menjaga kemurnian niat dan memastikan setiap amal benar-benar diterima oleh Allah SWT. Pengertian Sedekah dari Harta Belum Jelas Statusnya Pembahasan mengenai sedekah harta belum jelas perlu diawali dengan memahami apa yang dimaksud dengan harta yang belum jelas status halalnya. Dalam konteks syariat, harta disebut belum jelas apabila seorang muslim ragu apakah harta tersebut berasal dari sumber yang halal atau justru mengandung unsur yang diharamkan. Keraguan dalam sedekah harta belum jelas bisa muncul karena berbagai sebab, seperti kurangnya ilmu tentang akad muamalah, penghasilan yang bercampur antara halal dan syubhat, atau karena praktik bisnis yang dilakukan tanpa memahami batasan syariat Islam secara menyeluruh. Islam memandang keraguan dalam sedekah harta belum jelas sebagai hal yang serius, sebab Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk meninggalkan perkara yang syubhat demi menjaga kesucian agama dan kehormatan diri. Oleh karena itu, harta yang belum jelas statusnya tidak boleh diperlakukan sama dengan harta yang jelas kehalalannya. Dalam kehidupan sehari-hari, sedekah harta belum jelas sering kali dilakukan dengan niat membersihkan harta. Namun, perlu dipahami bahwa membersihkan harta dalam Islam memiliki mekanisme tersendiri yang berbeda dengan sedekah biasa, terutama jika terdapat unsur haram di dalamnya. Dengan memahami definisi sedekah harta belum jelas, umat Islam diharapkan dapat lebih berhati-hati sebelum mengeluarkan sedekah, sehingga amal yang dilakukan benar-benar mendatangkan pahala dan keberkahan. Menurut Islam, Hukum Sedekah dari Harta yang Belum Jelas Hukum sedekah harta belum jelas telah dibahas oleh banyak ulama dalam berbagai kitab fikih. Secara umum, para ulama sepakat bahwa Allah SWT adalah Zat Yang Maha Baik dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik, termasuk dalam urusan sedekah. Dalam pandangan mayoritas ulama, sedekah harta belum jelas tidak bernilai ibadah jika harta tersebut berasal dari sumber yang haram. Sedekah dari harta haram tidak mendatangkan pahala, meskipun dapat menggugurkan kewajiban seseorang untuk mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya atau menyalurkannya untuk kemaslahatan umum. Ulama juga menjelaskan bahwa sedekah harta belum jelas yang mengandung unsur syubhat sebaiknya dihindari sampai status harta tersebut benar-benar jelas. Sikap wara’ atau kehati-hatian sangat dianjurkan agar seorang muslim tidak terjerumus ke dalam perkara yang meragukan. Dalam beberapa pendapat, sedekah harta belum jelas boleh dilakukan bukan sebagai ibadah, melainkan sebagai bentuk pelepasan diri dari harta yang tidak layak dimiliki. Dalam hal ini, niatnya bukan sedekah untuk mencari pahala, tetapi membersihkan diri dari harta yang meragukan. Dengan memahami hukum sedekah harta belum jelas, umat Islam dapat membedakan mana sedekah yang bernilai ibadah dan mana pengeluaran harta yang bersifat pembersihan dari unsur yang tidak halal. Perbedaan Sedekah, Pembersihan Harta dan Taubat Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menyamakan sedekah harta belum jelas dengan pembersihan harta. Dalam Islam, sedekah merupakan ibadah sunnah yang bernilai pahala, sedangkan pembersihan harta adalah kewajiban ketika seseorang memiliki harta yang haram atau syubhat. Dalam konteks sedekah harta belum jelas, para ulama menegaskan bahwa harta haram tidak dapat disucikan dengan sedekah. Yang diwajibkan adalah mengeluarkan harta tersebut tanpa niat ibadah, karena sedekah hanya sah dilakukan dengan harta yang halal. Taubat juga memiliki peran penting dalam persoalan sedekah harta belum jelas. Seorang muslim yang menyadari bahwa hartanya berasal dari sumber yang tidak jelas harus bertaubat kepada Allah SWT dengan menyesali perbuatannya, bertekad tidak mengulanginya, dan memperbaiki cara memperoleh harta di masa depan. Perbedaan ini penting dipahami agar sedekah harta belum jelas tidak disalahartikan sebagai jalan pintas untuk menghalalkan harta. Islam mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab dalam mengelola rezeki, bukan sekadar mengeluarkan sebagian harta tanpa memperhatikan asal-usulnya. Dengan memahami perbedaan antara sedekah, pembersihan harta, dan taubat, umat Islam akan lebih bijak dalam menyikapi sedekah harta belum jelas sesuai tuntunan syariat. Sikap Bijak Muslim Menghadapi Harta Belum Jelas Sikap pertama yang harus diambil ketika menghadapi sedekah harta belum jelas adalah melakukan introspeksi terhadap sumber penghasilan. Seorang muslim dianjurkan untuk meneliti kembali asal-usul hartanya dan memastikan setiap rupiah diperoleh dengan cara yang halal. Langkah berikutnya dalam menyikapi sedekah harta belum jelas adalah bertanya kepada ahli ilmu atau lembaga terpercaya jika terdapat keraguan. Konsultasi dengan ulama atau lembaga zakat resmi dapat membantu menentukan sikap yang tepat sesuai syariat. Islam juga menganjurkan kehati-hatian dalam menerima penghasilan agar tidak terus-menerus dihadapkan pada persoalan sedekah harta belum jelas. Dengan memperbaiki akad, cara kerja, dan sistem usaha, seorang muslim dapat menjaga kehalalan hartanya sejak awal. Jika terlanjur memiliki harta yang meragukan, maka dalam konteks sedekah harta belum jelas, harta tersebut sebaiknya dikeluarkan untuk kepentingan umum tanpa niat sedekah, seperti membantu fasilitas sosial atau kepentingan masyarakat luas. Sikap bijak ini akan membantu umat Islam menjaga kesucian ibadahnya dan menghindari keraguan dalam beramal, termasuk dalam persoalan sedekah harta belum jelas. Menjaga Kehalalan Harta demi Keberkahan Sedekah Sebagai penutup, penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa sedekah harta belum jelas bukanlah perkara sepele dalam ajaran Islam. Kehalalan sumber harta menjadi fondasi utama diterimanya setiap amal ibadah, termasuk sedekah. Niat baik untuk bersedekah harus diiringi dengan usaha memastikan bahwa harta yang dikeluarkan benar-benar halal. Dalam kasus sedekah harta belum jelas, Islam memberikan panduan yang jelas agar umat tidak terjebak pada amalan yang sia-sia. Dengan memahami hukum, perbedaan konsep, dan sikap yang benar terhadap sedekah harta belum jelas, seorang muslim dapat lebih tenang dalam beribadah dan lebih bertanggung jawab dalam mengelola rezeki yang Allah titipkan. Akhirnya, menjaga kehalalan harta bukan hanya soal hukum, tetapi juga wujud ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga pemahaman tentang sedekah harta belum jelas ini dapat menjadi panduan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan yang lebih berkah dan diridhai Allah. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL20/12/2025 | Humas BAZNAS RI/BL-01
Sedekah Jariyah di Era Digital, Ini Tujuh Contohnya
Sedekah Jariyah di Era Digital, Ini Tujuh Contohnya
PERKEMBANGAN teknologi digital telah mengubah cara umat Islam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk dalam beribadah dan berbagi kebaikan. Salah satu bentuk ibadah yang kini semakin mudah dilakukan adalah sedekah digital. Dengan memanfaatkan teknologi, sedekah tidak lagi terbatas pada uang tunai atau pertemuan fisik, melainkan dapat dilakukan secara daring dengan jangkauan yang jauh lebih luas. Sedekah digital menjadi sarana baru bagi umat Islam untuk menunaikan sedekah jariyah, yaitu amal yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah wafat. Di era digital, sedekah jariyah dapat diwujudkan melalui berbagai media dan program berbasis teknologi yang manfaatnya berkelanjutan. Melalui sedekah digital, seorang muslim dapat berkontribusi dalam bidang ibadah, pendidikan, kesehatan, dakwah, hingga pemberdayaan ekonomi umat. Semua ini menunjukkan bahwa sedekah digital bukan hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga memperkuat nilai-nilai ajaran Islam. Berikut ini tujuh contoh sedekah jariyah bernilai pahala terus-menerus: 1. Sedekah Digital untuk Pembangunan Masjid dan Sarana Ibadah Sedekah digital untuk pembangunan masjid kini semakin banyak dilakukan melalui platform donasi online yang dikelola lembaga terpercaya. Dengan sedekah digital, umat Islam dapat ikut berkontribusi dalam pembangunan masjid meskipun tidak berada di lokasi pembangunan tersebut. Kemudahan sedekah digital membuat partisipasi umat Islam semakin luas. Cukup melalui ponsel, sedekah digital dapat disalurkan kapan saja tanpa terikat waktu dan tempat, sehingga semangat berbagi dapat terus terjaga. Sedekah digital untuk masjid memiliki nilai jariyah yang besar karena masjid akan terus digunakan untuk salat, pengajian, dan berbagai aktivitas ibadah lainnya. Setiap amal ibadah yang dilakukan di masjid tersebut akan menjadi aliran pahala bagi pemberi sedekah digital. Selain pembangunan fisik, sedekah digital juga dapat digunakan untuk pengadaan sarana pendukung masjid, seperti sound system, siaran kajian online, dan fasilitas ibadah lainnya. Dengan demikian, sedekah digital untuk masjid menjadi bentuk amal jariyah yang relevan dan sangat dibutuhkan di era modern. 2. Sedekah Digital untuk Pendidikan Islam Berbasis Online Sedekah digital dalam bidang pendidikan Islam menjadi salah satu bentuk amal jariyah yang sangat strategis. Banyak lembaga pendidikan Islam kini mengembangkan sistem pembelajaran berbasis online yang membutuhkan dukungan dana. Melalui sedekah digital, umat Islam dapat membantu penyediaan beasiswa santri, pengembangan kelas daring, hingga pembuatan modul pembelajaran Islam yang dapat diakses secara luas. Sedekah digital di bidang pendidikan memberikan dampak jangka panjang karena ilmu yang diajarkan akan terus diamalkan oleh para peserta didik. Selama ilmu tersebut digunakan, pahala sedekah digital akan terus mengalir. Di tengah keterbatasan akses pendidikan di beberapa daerah, sedekah digital menjadi solusi agar ilmu Islam tetap tersebar merata. Oleh sebab itu, sedekah digital untuk pendidikan Islam merupakan investasi akhirat yang sangat bernilai. 3. Sedekah Digital untuk Wakaf Al-Qur’an dan Konten Dakwah Wakaf Al-Qur’an kini dapat dilakukan melalui sedekah digital dalam bentuk mushaf digital dan aplikasi Al-Qur’an. Hal ini memudahkan umat Islam untuk ikut berwakaf meskipun dengan nominal kecil. Sedekah digital juga berperan besar dalam mendukung produksi konten dakwah seperti video kajian, podcast Islami, dan artikel keislaman yang disebarkan melalui internet. Setiap kali Al-Qur’an digital dibaca atau konten dakwah ditonton, pahala sedekah digital akan terus mengalir kepada para donatur. Sedekah digital membantu para dai dan lembaga dakwah menjangkau generasi muda yang lebih dekat dengan teknologi. Dengan sedekah digital ini, syiar Islam dapat terus berkembang di ruang digital. 4. Sedekah Digital untuk Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan Sedekah digital juga dapat disalurkan untuk mendukung layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Banyak program kesehatan berbasis donasi online yang mengandalkan sedekah digital dari umat Islam. Melalui sedekah digital, bantuan kesehatan dapat disalurkan dengan cepat, terutama dalam kondisi darurat atau bencana. Sedekah digital dalam bidang kesehatan memiliki nilai jariyah karena fasilitas dan layanan kesehatan akan digunakan secara berkelanjutan. Setiap kesembuhan yang terjadi menjadi bagian dari pahala sedekah digital yang diberikan. Inilah wujud nyata sedekah digital dalam menebarkan kasih sayang dan kepedulian sosial. 5. Sedekah Digital untuk Pengembangan Aplikasi Islami Aplikasi Islami seperti Al-Qur’an digital, pengingat salat, dan kajian online membutuhkan dukungan dana agar dapat terus dikembangkan. Sedekah digital menjadi solusi untuk mendukung hal tersebut. Dengan sedekah digital, aplikasi Islami dapat diakses gratis oleh jutaan pengguna dan membantu mereka dalam beribadah. Setiap kali aplikasi digunakan, pahala sedekah digital akan terus mengalir sebagai amal jariyah. Sedekah digital juga mendorong inovasi teknologi yang selaras dengan nilai Islam. Hal ini menjadikan sedekah digital sebagai sarana dakwah modern yang efektif. 6. Sedekah Digital untuk Media Islam dan Literasi Keislaman Media Islam berbasis digital membutuhkan dukungan agar dapat terus menyajikan konten yang berkualitas. Sedekah digital memungkinkan media Islam bertahan dan berkembang. Melalui sedekah digital, media Islam dapat memproduksi konten edukatif yang mencerahkan umat. Setiap kali konten tersebut dibaca atau dibagikan, pahala sedekah digital akan terus mengalir. Sedekah digital juga membantu meningkatkan literasi keislaman di tengah derasnya arus informasi. Dengan demikian, sedekah digital berperan penting dalam menjaga kualitas dakwah Islam. 7. Sedekah Digital untuk Pemberdayaan Ekonomi Umat Sedekah digital dapat dimanfaatkan untuk mendukung program pemberdayaan ekonomi umat berbasis online. Program ini membantu mustahik menjadi lebih mandiri. Melalui sedekah digital, pelatihan usaha dan bantuan modal dapat disalurkan secara transparan. Sedekah digital di bidang ekonomi memberikan manfaat jangka panjang bagi penerima. Pahala sedekah digital akan terus mengalir selama usaha tersebut berjalan dan bermanfaat. Inilah bentuk sedekah digital yang produktif dan berkelanjutan. Sedekah digital merupakan bentuk nyata adaptasi ajaran Islam di era modern tanpa menghilangkan esensi ibadah. Melalui sedekah digital, umat Islam dapat menunaikan sedekah jariyah dengan lebih mudah dan luas manfaatnya. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, sedekah digital dapat menjadi jalan kebaikan yang pahalanya terus mengalir. Semoga sedekah digital yang kita lakukan menjadi amal jariyah yang diterima oleh Allah SWT. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL20/12/2025 | Humas BAZNAS RI/BL-01
Zakat Pertanian: Apakah Hasil Tanaman Hidroponik Wajib Dizakati
Zakat Pertanian: Apakah Hasil Tanaman Hidroponik Wajib Dizakati
ZAKAT pertanian merupakan salah satu bentuk kewajiban zakat yang telah dikenal sejak masa Rasulullah SAW dan memiliki peran penting dalam menjaga keadilan sosial di tengah umat. Dalam perkembangan zaman, metode bercocok tanam mengalami banyak perubahan, salah satunya dengan hadirnya sistem hidroponik yang semakin populer di kalangan petani modern. Pertanyaan pun muncul di tengah masyarakat Muslim, apakah hasil tanaman hidroponik termasuk objek Zakat Pertanian yang wajib dikeluarkan zakatnya. Zakat Pertanian pada dasarnya berkaitan dengan hasil bumi yang diperoleh dari proses penanaman dan pemeliharaan hingga panen. Ketika metode tanam berubah dari konvensional ke modern, sebagian umat Islam merasa ragu apakah hukum Zakat Pertanian tetap berlaku atau justru mengalami pengecualian. Keraguan ini wajar karena hidroponik tidak menggunakan tanah secara langsung sebagaimana pertanian tradisional. Dalam Islam, Zakat Pertanian tidak hanya dipahami sebagai kewajiban finansial, tetapi juga sebagai sarana penyucian harta dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, memahami hukum Zakat Pertanian pada tanaman hidroponik menjadi penting agar setiap Muslim dapat menjalankan ibadah zakat dengan tenang dan sesuai tuntunan syariat. Seiring meningkatnya praktik pertanian modern di perkotaan, Zakat Pertanian juga menjadi isu relevan bagi petani kecil, pengusaha agribisnis, hingga komunitas urban farming. Tanpa pemahaman yang benar tentang Zakat Pertanian, dikhawatirkan akan terjadi kelalaian dalam menunaikan kewajiban atau sebaliknya, muncul keraguan yang tidak berdasar. Artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang Zakat Pertanian dan kaitannya dengan hasil tanaman hidroponik, mulai dari konsep dasar, pandangan ulama, hingga cara perhitungannya. Dengan demikian, umat Islam diharapkan memperoleh pemahaman utuh mengenai Zakat Pertanian di era modern. Konsep Dasar Zakat Pertanian dalam Islam Zakat Pertanian merupakan zakat yang dikenakan atas hasil tanaman yang dipanen dan memiliki nilai ekonomis bagi pemiliknya. Dalam Al-Qur’an, perintah Zakat Pertanian dapat dipahami dari firman Allah SWT dalam Surah Al-An’am ayat 141 yang memerintahkan agar menunaikan hak hasil panen pada waktu memetiknya. Ayat ini menjadi landasan kuat kewajiban Zakat Pertanian bagi umat Islam. Para ulama menjelaskan bahwa Zakat Pertanian dikenakan pada tanaman yang menjadi makanan pokok dan dapat disimpan, seperti padi, gandum, dan kurma. Namun, seiring perkembangan zaman, objek Zakat Pertanian mengalami perluasan makna sesuai dengan prinsip kemaslahatan dan keadilan sosial. Oleh karena itu, pembahasan Zakat Pertanian tidak berhenti pada jenis tanaman klasik semata. Zakat Pertanian memiliki ketentuan nisab dan kadar yang berbeda dengan zakat harta lainnya. Nisab Zakat Pertanian umumnya sebesar lima wasaq atau setara dengan kurang lebih 653 kilogram gabah atau hasil sejenis. Ketentuan ini menunjukkan bahwa Zakat Pertanian bertujuan meringankan petani kecil sekaligus memastikan distribusi hasil panen bagi mereka yang membutuhkan. Dalam praktiknya, Zakat Pertanian juga dipengaruhi oleh sistem pengairan. Tanaman yang diairi secara alami seperti hujan dikenakan zakat sebesar 10 persen, sedangkan tanaman yang memerlukan biaya pengairan dikenakan 5 persen. Prinsip ini menegaskan bahwa Zakat Pertanian sangat mempertimbangkan aspek usaha dan biaya produksi. Konsep keadilan dalam Zakat Pertanian menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang adaptif dan relevan sepanjang zaman. Dengan memahami konsep dasar Zakat Pertanian, umat Islam dapat menilai bagaimana hukum zakat diterapkan pada metode tanam modern seperti hidroponik. Tanaman Hidroponik dalam Perspektif Zakat Pertanian Zakat Pertanian dalam konteks tanaman hidroponik sering menjadi bahan diskusi di kalangan ulama kontemporer. Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa tanah, menggunakan air dan nutrisi sebagai media utama. Meskipun berbeda secara teknis, hasil tanaman hidroponik tetap berasal dari proses budidaya yang menghasilkan panen. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa Zakat Pertanian hanya berlaku bagi tanaman yang ditanam di tanah. Namun, pandangan ini perlu ditinjau kembali karena esensi Zakat Pertanian terletak pada hasil panen, bukan semata-mata pada media tanam. Selama hasil tersebut memiliki nilai ekonomis dan diperoleh melalui usaha bercocok tanam, maka potensi kewajiban Zakat Pertanian tetap ada. Para ulama kontemporer cenderung memandang bahwa hasil tanaman hidroponik termasuk dalam kategori hasil pertanian. Dengan demikian, Zakat Pertanian tetap wajib dikeluarkan apabila hasil panen tersebut mencapai nisab. Pendekatan ini sejalan dengan kaidah fikih yang menyatakan bahwa hukum berputar bersama illat-nya. Zakat Pertanian pada tanaman hidroponik juga relevan dengan tujuan zakat itu sendiri, yaitu membantu mustahik dan menjaga keseimbangan sosial. Jika hasil hidroponik menghasilkan keuntungan besar namun tidak dizakati, maka tujuan luhur Zakat Pertanian menjadi tidak tercapai secara optimal. Dengan demikian, tanaman hidroponik tidak dapat dikecualikan begitu saja dari kewajiban Zakat Pertanian. Justru, kehadiran pertanian modern menjadi peluang besar untuk memperluas manfaat Zakat Pertanian bagi umat Islam di era sekarang. Nisab dan Perhitungan Zakat Pertanian Hasil Hidroponik Zakat Pertanian hasil hidroponik tetap mengacu pada ketentuan nisab yang berlaku secara umum. Nisab Zakat Pertanian ditetapkan sebesar lima wasaq, yang jika dikonversikan setara dengan sekitar 653 kilogram hasil panen bersih. Apabila hasil hidroponik mencapai atau melebihi batas ini, maka Zakat Pertanian wajib dikeluarkan. Dalam perhitungan Zakat Pertanian hidroponik, yang menjadi dasar adalah hasil panen kotor, bukan keuntungan bersih. Hal ini sejalan dengan praktik Zakat Pertanian sejak masa Rasulullah SAW yang menitikberatkan pada hasil panen, bukan laba usaha. Prinsip ini membedakan Zakat Pertanian dengan zakat perdagangan. Kadar Zakat Pertanian hidroponik umumnya disamakan dengan tanaman yang menggunakan pengairan berbiaya. Mengingat hidroponik memerlukan modal, nutrisi, listrik, dan perawatan intensif, maka kadar Zakat Pertanian yang dikeluarkan adalah sebesar 5 persen dari hasil panen. Penunaian Zakat Pertanian dilakukan setiap kali panen, tidak menunggu haul satu tahun sebagaimana zakat harta. Hal ini menunjukkan bahwa Zakat Pertanian memiliki karakteristik khusus yang bertujuan agar manfaatnya segera dirasakan oleh mustahik. Dengan memahami nisab dan cara perhitungan Zakat Pertanian hidroponik, umat Islam dapat menunaikan kewajiban zakat secara tepat, adil, dan sesuai dengan prinsip syariat. Hikmah dan Urgensi Zakat Pertanian di Era Modern Zakat Pertanian memiliki hikmah besar dalam membangun solidaritas sosial dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Dalam konteks pertanian modern seperti hidroponik, Zakat Pertanian menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap membawa keberkahan bagi banyak orang. Melalui Zakat Pertanian, hasil panen tidak hanya dinikmati oleh pemilik modal, tetapi juga dirasakan oleh fakir miskin dan kelompok rentan. Hal ini sejalan dengan tujuan zakat sebagai pembersih harta dan jiwa bagi muzakki. Dengan menunaikan Zakat Pertanian, petani hidroponik turut berkontribusi dalam menciptakan keadilan sosial. Zakat Pertanian juga mendorong etika usaha yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Ketika petani menyadari bahwa setiap panen mengandung hak orang lain, maka usaha pertanian dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran. Nilai ini sangat relevan di tengah persaingan bisnis modern. Selain itu, Zakat Pertanian berperan dalam menguatkan ketahanan pangan umat. Dana zakat yang terkumpul dapat digunakan untuk pemberdayaan mustahik di sektor pertanian, sehingga tercipta siklus kebaikan yang berkelanjutan. Dengan demikian, Zakat Pertanian bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga solusi sosial yang mampu menjawab tantangan umat di era modern. Zakat Pertanian tetap relevan dan wajib diperhatikan meskipun metode bercocok tanam telah berkembang pesat, termasuk melalui sistem hidroponik. Selama hasil tanaman hidroponik mencapai nisab dan memiliki nilai ekonomis, kewajiban Zakat Pertanian tidak gugur. Hal ini menunjukkan fleksibilitas ajaran Islam dalam menghadapi perubahan zaman. Pemahaman yang benar tentang Zakat Pertanian akan membantu umat Islam menunaikan kewajiban zakat dengan penuh keyakinan. Tanpa pemahaman ini, potensi keberkahan dari hasil pertanian modern bisa berkurang atau bahkan hilang. Oleh karena itu, edukasi tentang Zakat Pertanian perlu terus disosialisasikan. Dengan menunaikan Zakat Pertanian, petani hidroponik tidak hanya membersihkan hartanya, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat. Zakat Pertanian menjadi bukti bahwa Islam hadir sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Akhirnya, Zakat Pertanian adalah bentuk ketaatan yang mendatangkan keberkahan, baik bagi muzakki maupun mustahik. Semoga pemahaman tentang Zakat Pertanian ini mendorong umat Islam untuk lebih sadar dan istiqamah dalam menunaikan kewajiban zakat di segala bidang kehidupan. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL20/12/2025 | Humas BAZNAS RI/BL-01
Apakah Tunjangan Hari Raya Termasuk Harta yang Harus Dizakati
Apakah Tunjangan Hari Raya Termasuk Harta yang Harus Dizakati
ZAKAT Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi salah satu topik yang sering dibahas menjelang Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha. Banyak umat Islam yang bertanya apakah THR termasuk harta yang wajib dizakati atau tidak. Hal ini penting dipahami karena zakat merupakan kewajiban syariat yang berfungsi menyucikan harta dan menolong sesama. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap mengenai dasar hukum, syarat, dan cara menghitung zakat THR agar kaum muslimin bisa mengamalkannya dengan benar. Pengertian THR dan Relevansinya dengan Zakat THR THR merupakan pendapatan tambahan yang diterima pekerja menjelang hari raya. Karena sifatnya sebagai penghasilan, banyak ulama mempersamakan THR dengan gaji bulanan. Maka, sebagian ulama kontemporer menyatakan bahwa zakat THR dikenakan dengan ketentuan yang sama seperti zakat profesi. Pemahaman ini membantu umat Islam melihat THR bukan hanya sebagai dana konsumsi, tetapi juga kesempatan untuk bersedekah dan berbagi. Dalam konteks zakat profesi, zakat THR dihitung sebagai penghasilan yang diterima seseorang dalam satu waktu. Jika jumlahnya mencapai nisab setelah digabungkan dengan harta lain, maka diwajibkan mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen. Inilah sebabnya mengapa THR sering dianggap bagian yang tidak terpisahkan dari perhitungan zakat tahunan atau bulanan seseorang. Para ulama juga mengingatkan bahwa zakat THR adalah bentuk ketaatan yang dapat menambah keberkahan dalam rezeki. Meskipun THR diterima setahun sekali, ia tetap masuk kategori harta yang berkembang karena sifatnya sebagai penghasilan. Maka, pengeluaran zakat dari THR dapat menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu, THR biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari raya. Namun, para ulama menganjurkan agar tidak lupa menyisihkan sebagian harta tersebut untuk zakat THR, terutama ketika jumlahnya besar dan mencukupi nisab. Dengan demikian, umat Islam tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan tanggung jawab sosial. Memahami Ketentuan Zakat THR Pertanyaan mengenai apakah THR wajib dizakati muncul karena tidak semua penghasilan dalam Islam otomatis dikenai zakat. Namun, mayoritas ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi menyatakan bahwa zakat THR wajib dikeluarkan apabila memenuhi syarat-syarat zakat profesi. Artinya, THR diperlakukan sebagai pendapatan yang diterima dalam satu periode tertentu. Ketentuan zakat profesi menetapkan bahwa penghasilan yang diterima secara langsung bisa dikenai zakat tanpa menunggu haul jika seseorang memilih menggunakan metode zakat bulanan. Dalam hal ini, zakat THR dihitung dengan cara yang sama seperti zakat gaji, yaitu mengeluarkan 2,5 persen dari jumlah bersih yang diterima. Pendapat ini memudahkan umat Islam untuk segera mengeluarkan zakat ketika menerima THR. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa zakat THR baru wajib bila harta hasil akumulasi THR dan penghasilan lainnya mencapai nisab setelah genap satu tahun (haul). Pendapat ini mengikuti analogi zakat mal. Namun, pendapat pertama lebih banyak digunakan oleh lembaga zakat di Indonesia karena dianggap lebih adaptif terhadap kondisi ekonomi modern. Dengan demikian, hukum zakat THR sebenarnya tidak terlepas dari interpretasi dan pilihan metode zakat yang dianut seseorang. Selama memenuhi rukun zakat dan syarat wajibnya, pengeluaran zakat dari THR dianggap sah dan berpahala. Yang terpenting, umat Islam tetap menjaga niat agar zakat yang dikeluarkan bersifat ikhlas karena Allah SWT. Kesimpulannya, THR dapat termasuk dalam kategori harta yang wajib dizakati, terutama jika jumlahnya besar dan digabungkan dengan penghasilan lain telah mencapai nisab. Maka, umat Islam perlu memahami cara menghitung dan mengeluarkan zakat THR dengan tepat. Cara Menghitung Zakat THR yang Mudah dan Praktis Untuk memastikan kewajiban ditunaikan dengan benar, umat Islam perlu memahami cara perhitungan zakat THR. Pada prinsipnya, jumlah zakat profesi dan zakat THR adalah 2,5 persen dari penghasilan bersih. Perhitungan ini cukup sederhana dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika THR diterima sebesar Rp5.000.000, maka zakat THR dapat dihitung dengan rumus 2,5 persen × Rp5.000.000 = Rp125.000. Jumlah inilah yang kemudian dikeluarkan sebagai zakat. Jika ingin lebih teliti, seseorang dapat mengurangi biaya kebutuhan pokok dari jumlah THR sebelum menghitung zakat, tergantung metode zakat profesi yang dianutnya. Metode lain adalah menggabungkan THR dengan pendapatan lain selama setahun untuk melihat apakah totalnya mencapai nisab. Jika total penghasilan setahun mencapai nisab setara 85 gram emas, maka zakat THR wajib dikeluarkan pada akhir tahun. Namun, banyak lembaga zakat menganjurkan membayar zakat ketika THR diterima agar tidak lupa atau menunda. Para ustaz dan lembaga zakat juga menekankan bahwa zakat THR dihitung dengan niat menyucikan harta. Dengan menunaikan zakat, seseorang dapat menjaga keberkahan rezeki yang diberikan Allah. Perhitungan sederhananya juga membantu umat Islam agar lebih disiplin dalam mengelola harta. Selain itu, teknologi saat ini memudahkan perhitungan zakat THR, karena tersedia kalkulator zakat di website lembaga resmi seperti BAZNAS dan Dompet Dhuafa. Hal ini membantu umat Islam menghitung secara akurat sesuai dengan standar syariah. Mengapa Membayar Zakat THR Sangat Dianjurkan dalam Islam? Selain sebagai kewajiban, zakat THR membawa banyak manfaat bagi penerimanya maupun pemberinya. Zakat berfungsi sebagai bentuk pembersihan jiwa dan harta. Dengan mengeluarkan zakat dari THR, seseorang menunjukkan rasa syukurnya terhadap karunia yang Allah berikan. THR yang biasanya datang menjelang hari raya menjadi momentum yang tepat untuk berbagi. Zakat yang dikeluarkan dari THR juga membantu kaum dhuafa yang sedang mempersiapkan kebutuhan hari raya. Oleh karena itu, zakat THR memiliki nilai sosial yang tinggi. Dengan menunaikan zakat, seseorang membantu meningkatkan kebahagiaan saudaranya yang mungkin kekurangan. Islam menekankan pentingnya solidaritas sosial, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan. Selain itu, membayar zakat THR dapat memperkuat spiritualitas seseorang. Zakat mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan yang harus disalurkan sesuai dengan ketentuan syariat. Ketika seseorang mengeluarkan zakat dari THR-nya, ia merasakan ketenangan batin dan keyakinan bahwa Allah akan mengganti dengan rezeki yang lebih baik. Banyak umat Islam merasakan bahwa setelah rutin mengeluarkan zakat THR, rezeki mereka menjadi lebih teratur dan berkah. Hal ini menunjukkan bahwa zakat bukan hanya kewajiban, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Makin sering kita berbagi, makin Allah lapangkan rezeki kita. Zakat juga melatih seseorang untuk lebih peduli terhadap sesama. Dengan rutin menunaikan zakat THR, seorang muslim terbiasa untuk melihat kebutuhannya secara proporsional dan tidak berlebihan dalam membelanjakan THR. Kebiasaan ini sangat dianjurkan dalam Islam sebagai sikap qana‘ah dan tawadhu. Kesadaran Menunaikan Zakat THR Dari seluruh pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa zakat THR adalah salah satu bentuk zakat penghasilan yang wajib dikeluarkan apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. THR yang diterima pekerja merupakan penghasilan yang dapat terkena zakat jika mencapai nisab atau digabungkan dengan pendapatan lain. Karena itu, umat Islam perlu memahami hukum, syarat, dan cara perhitungannya. Membayar zakat THR juga memberikan banyak manfaat, baik dari sisi spiritual maupun sosial. Zakat menyucikan harta, memperkuat rasa syukur, serta membantu kaum dhuafa menjalani hari raya dengan lebih bahagia. Oleh karena itu, menunaikan zakat dari THR adalah amalan yang sangat dianjurkan dan membawa keberkahan. Akhirnya, sebagai umat Islam kita diajak untuk selalu mengutamakan ketaatan dan kepedulian. Dengan menunaikan zakat THR, kita tidak hanya menunaikan kewajiban syariat, tetapi juga mengambil bagian dalam menyebarkan kebahagiaan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua dan melapangkan rezeki kita. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL20/12/2025 | Humas BAZNAS RI/BL-01
Mendorong UMKM Naik Kelas, Berbisnis Halal dan Bawa Keberkahan
Mendorong UMKM Naik Kelas, Berbisnis Halal dan Bawa Keberkahan
USAHA Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Selain menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga, UMKM juga berkontribusi besar dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi umat. Namun, tantangan UMKM saat ini bukan hanya bertahan, melainkan mampu naik kelas menjadi usaha yang profesional, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dalam perspektif Islam, kegiatan bisnis tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan materi. Islam mengajarkan bahwa usaha harus dijalankan secara halal dan penuh keberkahan agar membawa kebaikan bagi pelaku usaha dan masyarakat. Konsep Bisnis Halal dan Berkah Bisnis halal dalam Islam mencakup seluruh proses usaha, mulai dari sumber modal, bahan baku, proses produksi, hingga distribusi. Usaha yang terbebas dari unsur riba, penipuan, dan ketidakjelasan akan menghadirkan ketenangan batin serta kepercayaan konsumen. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172). Ayat ini menegaskan bahwa rezeki yang halal dan baik menjadi fondasi utama dalam aktivitas ekonomi seorang muslim. Landasan Al-Qur’an dan Hadits Islam memberikan panduan tegas terkait etika bisnis. Salah satu prinsip utamanya adalah larangan riba serta keharusan berlaku jujur dalam transaksi. Rasulullah SAW bersabda: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. At-Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan bahwa kejujuran dalam bisnis memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Pandangan Ulama tentang Etika Bisnis Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa mencari nafkah dengan cara halal merupakan bagian dari ibadah. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa muamalah harus berlandaskan keadilan dan kemaslahatan. Dengan demikian, keuntungan dalam Islam bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Strategi UMKM Naik Kelas Berbasis Ekonomi Islam UMKM dapat berkelanjutan dengan strategi yang dapat diterapkan sebagai berikut: 1. Menjamin kehalalan produk dan proses usaha 2. Mengelola keuangan secara syariah dan transparan 3. Menjunjung kejujuran serta keterbukaan informasi 4. Meningkatkan kualitas produk dan profesionalisme kerja 5. Menguatkan tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Strategi ini membantu UMKM membangun kepercayaan pasar sekaligus menjaga nilai-nilai syariah. Niat dan Etos Kerja Islami Keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga oleh niat pelaku usaha. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Niat yang lurus akan melahirkan etos kerja islami seperti amanah, disiplin, kerja keras, dan istiqamah, sehingga usaha tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga bernilai ibadah. Kesimpulan UMKM yang ingin naik kelas perlu memadukan profesionalisme bisnis dengan nilai-nilai ekonomi Islam. Kehalalan usaha, kejujuran, kualitas kerja, serta kepedulian sosial merupakan kunci keberhasilan yang berkelanjutan. Ketika bisnis dijalankan dengan niat ibadah dan etos kerja islami, usaha tersebut tidak hanya menghasilkan keuntungan materi, tetapi juga mendatangkan ketenangan dan keberkahan. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL20/12/2025 | BAZNAS Sukabumi/BL-01
Anda Punya Kewajiban Mengenalkan Sedekah pada Anak, ini Caranya
Anda Punya Kewajiban Mengenalkan Sedekah pada Anak, ini Caranya
MENGAJARKAN anak tentang nilai kebaikan merupakan salah satu tugas terpenting orang tua. Salah satu nilai utama yang perlu dikenalkan sejak kecil adalah sedekah. Karena itu, memahami cara kenalkan sedekah kepada anak sejak dini menjadi langkah penting dalam membentuk karakter dermawan, penuh empati, dan dekat dengan Allah. Melalui pembiasaan yang tepat, sedekah tidak hanya menjadi tindakan memberi, tetapi juga sarana menanamkan ketakwaan dan kepedulian sosial dalam jiwa anak. Mengapa Orang Tua Perlu Kenalkan Sedekah Sejak Dini Menanamkan kebiasaan baik sejak anak masih kecil akan lebih mudah diterima dan menjadi karakter permanen dalam kehidupannya. Inilah mengapa orang tua perlu memahami cara kenalkan sedekah sejak dini agar nilai-nilai Islam tertanam kuat dalam diri mereka. Pertama, cara kenalkan sedekah sejak dini membantu anak memahami bahwa harta adalah titipan Allah. Dengan begitu, anak lebih mudah belajar untuk tidak sombong dan tidak pelit terhadap sesama. Kesadaran ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi perlu ditanam melalui proses pembiasaan yang terus menerus. Kedua, cara kenalkan sedekah sejak dini merupakan bagian dari pendidikan akhlak. Anak-anak yang terbiasa bersedekah akan tumbuh dengan hati lembut, memiliki empati, serta mudah membantu orang lain. Sikap ini merupakan bagian dari tujuan besar pendidikan Islam. Ketiga, pentingnya cara kenalkan sedekah sejak kecil juga terkait pembentukan mental tangguh. Anak yang belajar berbagi akan lebih mudah menghadapi kesulitan hidup, karena mereka memahami bahwa setiap manusia saling membutuhkan dan Allah selalu menolong orang yang menolong saudaranya. Keempat, cara kenalkan sedekah membantu anak membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika mereka diajak menyisihkan sebagian uang jajan, mereka belajar mengelola harta dengan bijak. Ini adalah bentuk pendidikan finansial Islami yang sangat bermanfaat untuk masa depan mereka. Kelima, melalui cara kenalkan sedekah, anak juga diperkenalkan kepada konsep pahala. Anak belajar bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, tidak akan hilang di sisi Allah. Pemahaman ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berbuat baik sepanjang hidupnya. Menjelaskan Makna Sedekah dengan Bahasa Sederhana Langkah berikutnya dalam cara kenalkan sedekah pada anak adalah memberikan penjelasan yang dapat mereka pahami. Anak kecil belajar melalui analogi sederhana dan contoh konkret yang dekat dengan kehidupan mereka. Pertama, cara kenalkan sedekah bisa dimulai dengan menjelaskan bahwa sedekah adalah berbagi. Orang tua dapat mengatakan bahwa sedekah berarti memberikan sesuatu yang kita punya agar orang lain juga merasa senang. Penjelasan sederhana ini memudahkan anak menangkap konsep dasarnya. Kedua, cara kenalkan sedekah dapat dilakukan melalui storytelling. Misalnya, menceritakan kisah sahabat Nabi yang dermawan seperti Abu Bakar dan Utsman bin Affan. Kisah-kisah inspiratif akan menumbuhkan rasa ingin meniru dalam diri anak. Ketiga, orang tua bisa menggunakan permainan sebagai cara kenalkan sedekah. Misalnya, membuat permainan “kotak kebaikan” di mana anak memasukkan sesuatu yang ingin ia sedekahkan setiap hari. Aktivitas ini membuat sedekah terasa menyenangkan. Keempat, memberikan contoh nyata merupakan cara kenalkan sedekah paling efektif. Anak adalah peniru ulung. Ketika ia melihat orang tuanya bersedekah dengan ikhlas, ia akan belajar melakukan hal yang sama tanpa merasa dipaksa. Kelima, cara kenalkan sedekah juga bisa melalui visual, seperti video edukasi Islami yang menceritakan manfaat berbagi. Media visual akan membantu anak memahami konsep sedekah secara lebih konkret dan mudah diingat. Membiasakan Anak Bersedekah Paling Kecil Salah satu cara kenalkan sedekah yang efektif adalah memulai dari hal yang sederhana. Anak tidak perlu langsung memberikan benda berharga; yang terpenting adalah membangun kebiasaan memberi. Pertama, orang tua bisa menggunakan celengan khusus sebagai cara kenalkan sedekah. Setiap mendapatkan uang jajan, anak diajak menyisihkan sebagian untuk sedekah. Ini mengajarkan konsistensi dan tanggung jawab. Kedua, cara kenalkan sedekah dapat dilakukan dengan mengajak anak memberi makanan kepada tetangga atau teman bermain. Ketika anak melihat wajah orang yang menerima bantuan, ia belajar tentang kebahagiaan berbagi. Ketiga, membiasakan anak bersedekah dalam kegiatan keluarga juga merupakan cara kenalkan sedekah yang efektif. Misalnya, saat keluarga mengadakan pengajian atau berbagi takjil di bulan Ramadan, anak dilibatkan dalam prosesnya. Keempat, cara kenalkan sedekah dapat melalui pemberian barang-barang yang sudah tidak digunakan tetapi masih layak. Anak diajak memilah mainan untuk diberikan kepada anak yang kurang mampu. Ini mengajarkan mereka untuk tidak menimbun barang. Kelima, orang tua dapat memberikan reward berupa pujian sebagai penguat dalam cara kenalkan sedekah. Bukan untuk riya, tetapi untuk memotivasi anak agar merasa perbuatannya dihargai dan bernilai baik. Keteladanan Cara Kenalkan Sedekah yang Utama Anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, keteladanan orang tua menjadi faktor terbesar dalam cara kenalkan sedekah kepada anak. Pertama, orang tua sebaiknya bersedekah di depan anak, namun tetap menjaga keikhlasan. Ini bukan pamer, tetapi bagian dari pendidikan akhlak. Cara kenalkan sedekah seperti ini memberikan kesan mendalam bagi anak. Kedua, dalam cara kenalkan sedekah, orang tua bisa mengajak anak setiap kali menyalurkan bantuan, baik ke masjid, lembaga zakat, atau tetangga sekitar. Keterlibatan langsung akan menguatkan pemahaman mereka tentang pentingnya berbagi. Ketiga, cara kenalkan sedekah akan semakin kuat jika orang tua sering berdiskusi tentang manfaat sedekah dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, berbicara tentang bagaimana sedekah mendatangkan keberkahan dan menolak bala. Keempat, mencontohkan sedekah waktu dan tenaga juga bagian dari cara kenalkan sedekah. Anak perlu tahu bahwa sedekah bukan hanya uang. Membersihkan masjid, membantu orang tua, atau menolong teman juga termasuk sedekah. Kelima, menjaga adab dalam bersedekah merupakan bagian penting dalam cara kenalkan sedekah. Orang tua dapat menunjukkan kepada anak bahwa sedekah harus dilakukan tanpa merendahkan penerima, melainkan dengan kasih sayang dan kelembutan. Anak Terlibat Kegiatan Sosial, Cara Kenalkan Sedekah Anak akan lebih memahami makna berbagi ketika mereka melihat langsung kondisi orang lain. Kegiatan sosial menjadi sarana efektif dalam cara kenalkan sedekah yang berdampak jangka panjang. Pertama, orang tua bisa mengajak anak berkunjung ke panti asuhan. Pengalaman ini dapat membuka hati anak dan menjadi cara kenalkan sedekah yang sangat kuat. Mereka melihat kebutuhan nyata dan belajar bersyukur. Kedua, cara kenalkan sedekah bisa dilakukan dengan melibatkan anak dalam kegiatan bakti sosial yang diadakan masjid. Anak membantu membagikan paket sembako sehingga ia merasakan langsung aktivitas memberi. Ketiga, mengikuti program donasi keluarga juga merupakan cara kenalkan sedekah yang baik. Misalnya, setiap bulan keluarga mengumpulkan dana sedekah untuk disalurkan melalui lembaga zakat. Anak dilibatkan dalam proses memilih program bantuan. Keempat, cara kenalkan sedekah dapat diperluas melalui kegiatan sekolah seperti berbagi makanan atau donasi bencana. Orang tua bisa memberi arahan agar anak memahami tujuan kegiatan tersebut. Kelima, melalui keterlibatan sosial, cara kenalkan sedekah akan melatih anak untuk peka terhadap lingkungan. Mereka belajar melihat masalah dan tergerak untuk membantu, sebuah sikap yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan beragama. Pentingnya Konsistensi dalam Kenalkan Sedekah Pada akhirnya, kunci utama dari cara kenalkan sedekah kepada anak sejak dini adalah konsistensi dan keteladanan. Paragraf akhir tulisan ini menegaskan bahwa pendidikan sedekah tidak bisa dilakukan sekali saja, tetapi harus menjadi bagian dari rutinitas keluarga. Dengan pembiasaan yang tepat, anak akan tumbuh menjadi pribadi dermawan dan memiliki hati yang dekat dengan Allah. Cara kenalkan sedekah yang diterapkan sejak dini akan menjadi investasi akhlak yang luar biasa. Anak bukan hanya mengerti konsep berbagi, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang akan membentuk generasi berakhlak mulia. Orang tua memiliki peran besar dalam cara kenalkan sedekah. Ketika mereka memberikan teladan dan bimbingan yang baik, anak akan menyerap nilai-nilai tersebut dengan mudah dan mengingatnya seumur hidup. Dengan demikian, paragraf akhir tulisan ini menegaskan bahwa cara kenalkan sedekah bukan sekadar mengajarkan memberi, tetapi membangun karakter dan spiritualitas anak. Semoga generasi Muslim mendatang tumbuh menjadi generasi yang saling peduli dan cinta kepada sesama. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL20/12/2025 | Humas BAZNAS RI/BL-01
Bencana Sumatera, Sebuah Pandangan Ekoteologis dan Krisis Kebijakan Lingkungan
Bencana Sumatera, Sebuah Pandangan Ekoteologis dan Krisis Kebijakan Lingkungan
MUSIBAH ekologis yang menghantam Pulau Sumatera pada akhir November 2025 bukan sekadar peristiwa geologis ekstrem, melainkan cermin dari relasi manusia dengan alam yang rusak akibat eksploitasi. Ketika bencana terjadi secara berulang dan skalanya semakin besar, pertanyaan paling logis bukan lagi mengapa alam murka, tetapi mengapa manusia mengabaikan rambu rambu ekologis yang diwariskan oleh leluhur. Sumatera pernah menjadi contoh harmoninya masyarakat dan hutan, namun ketika sistem nilai itu digantikan oleh logika ekstraktif dan kebijakan perizinan yang permisif, keseimbangan itu runtuh. Pada titik inilah ekoteologi Nusantara bukan hanya perlu dibahas, tetapi harus dipertimbangkan sebagai fondasi tata kelola lingkungan negara. Ekoteologi Nusantara sebagai Dasar Relasi Dalam masyarakat adat Nusantara seperti Minangkabau, Dayak, dan Baduy, hutan dan sungai bukan ruang ekonomi murni, melainkan bagian dari tatanan moral dan spiritual. Di Minangkabau, sistem hutan ulayat dan ritual buka rimbo memastikan penggunaan hutan tidak melampaui daya dukung ekologis. Penelitian Sembiring menunjukkan bahwa nagari yang mempertahankan tata kelola adat mampu menjaga tutupan hutan lebih stabil selama 15 tahun terakhir dibandingkan wilayah yang mengandalkan regulasi perizinan pemerintah (Sembiring, 2022). Di Kalimantan, masyarakat Dayak Kenyah dengan konsep tana’ ulen menempatkan hutan sebagai zona sakral, sehingga penebangan hanya diperbolehkan untuk kepentingan adat tertentu. Studi Eghenter (2017) menemukan bahwa wilayah tana’ ulen memiliki tingkat keanekaragaman hayati dan fungsi hidrologis yang sebanding dengan taman nasional. Di Baduy, leuweung kolot dijaga sebagai hutan primer yang tidak boleh disentuh, dan penelitian Karim (2021) menunjukkan sistem ini menjaga stabilitas debit Sungai Ciujung dan mencegah banjir besar di hilir. Melalui contoh-contoh ini tampak bahwa masyarakat adat menjaga alam bukan karena regulasi teknis, tetapi karena relasi etis dan spiritual. Keraf berpendapat bahwa krisis lingkungan terjadi saat manusia memposisikan diri sebagai pusat dan alam sebagai alat, sehingga menghapus etika ekologis dalam diri manusia (Keraf, 2014). Sejalan dengan itu, Nasution menegaskan bahwa dalam perspektif ekoteologi Islam, pengelolaan bumi adalah amanah dan pengabaian terhadap amanah tersebut menghasilkan kerusakan sosial dan ekologis (Nasution, 2021). Maka ekoteologi bukan konsep abstrak, tetapi kerangka hidup yang telah terbukti mengamankan keberlanjutan ekologis selama berabad abad. Bencana Alam atau Akibat Kebijakan Manusia? Akhir November 2025 memperlihatkan bagaimana kerusakan ekologis kembali menghasilkan penderitaan massal. Banjir bandang dan longsor melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh, menewaskan ratusan jiwa dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Laporan internasional berjudul Landslides and flash floods on Indonesia’s Sumatera island leave at least 23 dead and dozens missing oleh jurnalis Binsar Bakkara untuk AP News menggambarkan bagaimana banjir bandang menyapu pemukiman, menghancurkan jembatan dan akses jalan, serta meninggalkan kerusakan parah pada infrastruktur (Bakkara, 2025). AP News kemudian memperbarui laporan korban melalui artikel Death toll from floods and landslides on Indonesia’s Sumatera island rises to 164 oleh Niniek Karmini dan Kasparman Piliang, menunjukkan eskalasi dampak yang mengerikan (Karmini dan Piliang, 2025). Media nasional juga mencatat skala tragedi. Tempo dalam artikel Update BNPB: Korban Tewas Bencana Sumatera Jadi 442 Orang mengutip data BNPB bahwa korban meninggal mencapai 442 orang dan ratusan lainnya masih hilang. Sementara laporan Duka Mendalam dari Utara Sumatera: 442 Orang Tewas dari Minangkabaunews menggambarkan kehancuran sosial, ekonomi, dan emosional yang dialami warga. Banyak analis dan aktivis lingkungan menilai deforestasi besar besaran untuk industri sawit, tambang, dan kehutanan komersial memperburuk banjir dan longsor. Di sejumlah titik, wilayah yang dilanda banjir berada dalam konsesi perkebunan atau penebangan kayu. Bencana yang seharusnya bisa diredam menjadi tragedi kemanusiaan karena kerusakan ekosistem menghilangkan daya tahan alami lingkungan. Dengan demikian sangat jelas bahwa bencana ini bukan semata hujan ekstrem. Ia adalah akibat dari pemutusan relasi manusia dengan alam, dan relasi itu diputus oleh sistem ekonomi dan kebijakan, bukan oleh masyarakat adat. Keterputusan Negara dari Kearifan Ekologis Pemerintah selama ini berupaya menangani bencana dengan respons tanggap darurat, namun gagal mengatasi akar persoalan. Kebijakan lingkungan masih berpijak pada paradigma pertumbuhan ekonomi, di mana hutan dianggap aset negara untuk dieksploitasi demi investasi. Sistem ini menempatkan masyarakat adat sebagai hambatan pembangunan, bukan mitra konservasi. Penelitian Purba (2020) menunjukkan bahwa 63 persen konflik tenurial di sektor kehutanan terjadi karena tumpang tindih antara konsesi industri dan wilayah adat. Ini membuktikan bahwa negara terus mengabaikan tata kelola ekologis berbasis nilai yang telah terbukti berhasil menjaga keseimbangan alam. Bencana Sumatera 2025 seharusnya menjadi titik balik kesadaran pemerintah. Jika negara terus memberi izin penebangan di wilayah rawan ekologis, membatasi ruang adat, dan meminggirkan struktur spiritual masyarakat lokal, maka siklus bencana hanya akan terus berulang. Ekoteologi Nusantara menawarkan kerangka etis untuk membenahi kebijakan lingkungan yaitu mengelola bumi dengan rasa hormat, melibatkan komunitas adat dalam pengambilan keputusan, dan menolak pembangunan yang mengorbankan keseimbangan ekologis. Indonesia tidak kekurangan data ilmiah, tidak kekurangan tradisi kearifan lokal, dan tidak kekurangan penjelasan teologis tentang pentingnya menjaga alam. Yang kurang adalah keberanian politik untuk menempatkan keberlanjutan ekologis di atas kepentingan ekonomi sesaat. Jika pemerintah berani menjadikan nilai spiritual dan kearifan ekologis sebagai fondasi kebijakan publik, maka bencana tidak lagi menjadi nasib, tetapi sejarah yang bisa dihentikan. (Dikutip https://kemenag.go.id). *** *) Penulis adalah Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Ekoteologi dan Pemerhati Lingkungan Hidup, Kandidat Doktor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten). Mari langitkan doa dan bantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana dengan bersedekah melalui Dompet Bencana dan Kemanusiaan BAZNAS, dengan transfer melalui: BAZNAS Provinsi Lampung dengan cara transfer via rekening: BSI: 771 166 4477 BCA Syariah: 0660 1701 01 BTN Syariah: 817 1000 036 Bank Lampung: 3800 003031 093 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung atau melalui baznas.go.id/bayarzakat. Nantinya Anda akan menerima Bukti Setor Zakat dari BAZNAS. ***
ARTIKEL08/12/2025 | Jemmy Ibnu Suardi *)
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.

Lihat Daftar Rekening →