WhatsApp Icon
15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah

KEHIDUPAN yang baik dan penuh berkah merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Kehidupan yang berkah juga tercermin dari hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Untuk mewujudkannya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, bekerja dengan jujur, menyayangi keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

Kebiasaan baik tersebut tidak harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Berikut 15 tips Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menjaga Salat Lima Waktu

Salat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang memenuhi ketentuan syariat. Menjaga salat tepat waktu menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasakan menunaikan salat ketika waktunya tiba. Jika memungkinkan, persiapkan diri lebih awal agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang dan khusyuk.

Selain menjaga pelaksanaannya, usahakan memahami bacaan dan menghayati maknanya. Dengan demikian, salat tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga pengingat untuk menjaga perilaku dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.

2. Membiasakan Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca, memahami, dan berusaha mengamalkan ajarannya dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang untuk mulai membaca Al-Qur'an. Sisihkan beberapa menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau sebelum tidur.

Bagi yang belum lancar membaca Al-Qur'an, belajarlah secara bertahap dengan bimbingan guru yang kompeten. Sementara itu, mereka yang sudah lancar dapat memperdalam pemahaman melalui terjemahan dan tafsir.

Konsistensi menjadi hal penting dalam membangun kebiasaan ini. Mulailah dengan target yang realistis agar membaca Al-Qur'an dapat menjadi bagian dari rutinitas harian.

3. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa dan zikir membantu seorang Muslim mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, doa menjadi sarana memohon pertolongan. Saat memperoleh kebahagiaan, zikir dan doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Kebiasaan ini dapat dimulai dengan membaca zikir pagi dan petang, beristigfar, berdoa setelah salat, serta membaca doa sebelum tidur.

Meski demikian, doa dan zikir perlu berjalan beriringan dengan usaha nyata. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, misalnya, seorang Muslim tetap perlu mencari solusi, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki cara bekerja sembari memohon pertolongan Allah SWT.

4. Membiasakan Diri Bersyukur

Bersyukur membantu seseorang menghargai nikmat yang telah dimiliki. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain secara berlebihan justru dapat membuat seseorang lupa terhadap berbagai kebaikan yang telah diterimanya.

Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya.

Syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat untuk tujuan yang baik. Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta membantu sesama, dan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Mulailah dengan menghargai hal-hal sederhana, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, makanan, dan tempat tinggal. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menghargai apa yang dimiliki sambil terus memperbaiki keadaan.

5. Mencari Rezeki yang Halal dan Baik

Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki melalui cara yang halal. Rezeki yang baik tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjaga kejujuran, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati hak orang lain. Hindari penipuan, kecurangan, dan tindakan yang merugikan pihak lain.

Bagi yang menjalankan usaha, sampaikan informasi produk atau jasa secara jujur. Sementara itu, dalam mengelola penghasilan, dahulukan kebutuhan pokok, hindari utang konsumtif yang tidak perlu, dan sisihkan sebagian harta untuk sedekah sesuai kemampuan.

Rezeki yang berkah tidak selalu berarti kekayaan berlimpah. Keberkahan juga dapat tercermin dari kecukupan, ketenangan dalam menggunakannya, serta manfaat yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat.

6. Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 23.

Berbakti dapat diwujudkan melalui perkataan yang sopan, kesediaan mendengarkan nasihat yang baik, membantu kebutuhan mereka, serta meluangkan waktu untuk menemani dan memperhatikan keadaan mereka.

Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi melalui telepon atau melakukan kunjungan secara berkala dapat menjadi bentuk perhatian.

Jika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik dengan mendoakan mereka, menjaga hubungan dengan kerabat, dan melakukan kebaikan yang dibenarkan dalam Islam.

Namun, berbakti tidak berarti harus memenuhi permintaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap perlu menjaga adab dan memperlakukan orang tua dengan baik.

7. Menjaga Silaturahmi dan Hubungan Baik dengan Sesama

Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang baik dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan sekaligus sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperlakukan sesama dengan baik. Karena itu, usahakan menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang tenang dan menghindari perkataan yang menyakiti.

Belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan orang lain ketika mereka berusaha memperbaiki diri. Menghormati perbedaan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial.

Dengan membangun komunikasi yang sehat, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan dipenuhi sikap saling menghormati.

8. Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama

Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyumbangkan pakaian yang layak, atau membagikan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kebaikan.

Sesuaikan sedekah dengan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga. Jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan.

Membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama dapat melatih kepedulian dan mengurangi sikap berlebihan dalam mencintai harta. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam juga dapat berkontribusi dalam membantu mustahik serta masyarakat yang membutuhkan.

9. Menjaga Lisan dan Akhlak

Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Biasakan berbicara jujur, menghindari perkataan kasar, tidak menghina, dan tidak menyebarkan fitnah. Sebelum berbicara, pertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Menjaga lisan juga berlaku ketika menggunakan media sosial. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menulis komentar yang merendahkan orang lain, atau terlibat dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.

Jika melakukan kesalahan, akui dan perbaiki. Meminta maaf merupakan bagian dari tanggung jawab atas perilaku sendiri sekaligus langkah untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

10. Menuntut Ilmu dan Terus Memperbaiki Diri

Menuntut ilmu membantu seorang Muslim memahami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Luangkan waktu untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dasar, dan akhlak. Selain ilmu agama, tingkatkan pula keterampilan yang relevan dengan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab masing-masing.

Pilih sumber belajar yang dapat dipercaya. Dalam urusan agama, pelajari penjelasan dari ulama dan lembaga keislaman yang kompeten agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.

Selain menambah pengetahuan, biasakan mengevaluasi diri. Periksa kembali apakah ibadah telah terjaga, pekerjaan dilakukan dengan jujur, dan hubungan dengan keluarga dipelihara dengan baik.

Perbaikan diri merupakan proses berkelanjutan. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan.

11. Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Amanah

Tubuh merupakan amanah yang perlu dijaga. Kondisi fisik dan mental yang baik membantu seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Terapkan kebiasaan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menjaga waktu tidur. Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan dan jangan mengabaikan keluhan yang membutuhkan pertolongan profesional.

Menjaga kesehatan juga berarti memahami batas kemampuan diri. Istirahat yang cukup bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kemampuan untuk menjalani aktivitas dengan baik.

Dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim dapat berusaha menjalankan berbagai amanah kehidupan secara lebih optimal.

12. Mengelola Waktu dengan Bijaksana

Waktu merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Karena itu, gunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, keluarga, maupun pengembangan diri.

Buatlah jadwal harian sederhana yang memprioritaskan kewajiban utama. Sisihkan waktu untuk salat, bekerja, belajar, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat berarti.

Namun, mengelola waktu bukan berarti harus selalu sibuk. Istirahat, berolahraga, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga juga merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.

13. Bersabar dan Bertawakal kepada Allah SWT

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Seseorang dapat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau ujian kesehatan.

Dalam keadaan tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menunggu pertolongan tanpa melakukan apa pun.

Seorang Muslim perlu berusaha mencari jalan keluar, berdoa kepada Allah SWT, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya. Ketika mengalami kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Jika menghadapi persoalan yang berat, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau tenaga profesional yang sesuai.

Setiap orang memiliki ujian dan proses kehidupan yang berbeda. Karena itu, hindari mengukur keberhasilan diri hanya dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain.

14. Membiasakan Istigfar dan Bertobat

Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa berusaha memperbaiki diri.

Membaca istigfar merupakan salah satu cara memohon ampun kepada Allah. Namun, istigfar hendaknya disertai kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki perilaku.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, upayakan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai keadaan.

Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, gunakan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dengan membiasakan istigfar dan bertobat, seorang Muslim belajar bersikap rendah hati serta menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan ampunan dan bimbingan Allah SWT.

15. Membiasakan Doa agar Hidup Penuh Berkah

Selain melakukan berbagai ikhtiar, seorang Muslim dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca sehari-hari.

“Ya Allah, berkahilah kehidupanku, keluargaku, pekerjaanku, dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku. Bimbinglah aku agar senantiasa berada di jalan yang benar. Jadikanlah aku hamba yang rajin beribadah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan ikhlas dalam melakukan kebaikan. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari keburukan, serta berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan langsung dari Al-Qur'an atau hadis. Seorang Muslim dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dengan tetap memperhatikan tuntunan syariat.

Biasakan berdoa bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga ketika keadaan sedang baik. Dengan demikian, doa menjadi bagian dari kebiasaan untuk memohon petunjuk sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT.

Contoh Rutinitas Islami dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar berbagai kebiasaan baik di atas lebih mudah diterapkan, mulailah dengan rutinitas sederhana yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Pagi hari:

  • Bangun dan menunaikan salat Subuh.

  • Membaca Al-Qur'an atau zikir pagi.

  • Berdoa sebelum memulai aktivitas.

  • Menentukan prioritas pekerjaan dan tanggung jawab hari itu.

Siang hingga sore:

  • Menjaga salat lima waktu.

  • Bekerja atau belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh.

  • Menjaga perkataan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

  • Menyempatkan diri membantu keluarga atau orang yang membutuhkan.

Malam hari:

  • Menunaikan salat Isya.

  • Meluangkan waktu bersama keluarga.

  • Mengevaluasi perilaku dan aktivitas sepanjang hari.

  • Membaca doa sebelum tidur serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Rutinitas tersebut bukan aturan wajib yang harus diikuti dengan susunan persis seperti di atas. Jadikanlah sebagai panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing.

Menjalani Hidup dengan Iman, Ikhtiar, dan Rasa Syukur

Kehidupan yang penuh berkah tidak selalu ditandai dengan kelimpahan materi atau terbebas dari berbagai ujian. Keberkahan juga dapat hadir melalui hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang saling mendukung, serta kesempatan untuk terus berbuat baik.

Menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersyukur, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, dan membantu sesama merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memperkuat kualitas kehidupan seorang Muslim.

Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah dilakukan, kemudian pertahankan secara konsisten dan tingkatkan secara bertahap.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!

MENJAGA hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita dan dapat menjadi pihak terdekat untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, hubungan bertetangga perlu dibangun atas dasar saling menghormati, kepedulian, dan sikap menjaga hak satu sama lain.

Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik. Ajaran tersebut mencakup menjaga perkataan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain, berbagi makanan, memberikan pertolongan, serta memelihara hubungan baik meskipun terdapat perbedaan atau kesalahpahaman.

Adab bertetangga juga tidak terbatas pada orang yang memiliki hubungan dekat atau seagama. Seorang Muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, latar belakang, maupun kebiasaan, selama tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam.

Lantas, apa saja adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut lima di antaranya.

1. Menghormati dan Berbuat Baik kepada Tetangga

Adab pertama adalah menghormati dan memperlakukan tetangga dengan baik. Islam menempatkan hubungan dengan tetangga sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, dan golongan lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya.

Ajaran tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa ketika berpapasan, berbicara dengan sopan, menghargai privasi, dan tidak mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa alasan yang tepat.

Ketika tetangga mengadakan acara keluarga, misalnya, kita dapat menunjukkan sikap saling menghormati dengan menjaga ketertiban dan membicarakan persoalan yang muncul melalui komunikasi yang baik.

Selain itu, hindari membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status ekonomi, kedudukan sosial, atau latar belakang seseorang. Dengan membiasakan sikap saling menghormati, hubungan bertetangga dapat terjalin lebih harmonis dan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman.

2. Tidak Mengganggu atau Menyakiti Tetangga

Adab berikutnya adalah menjaga diri agar tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Pesan ini menegaskan bahwa keimanan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya sendiri, tetapi juga perlu menjaga hak dan kenyamanan orang lain. Beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan bertetangga antara lain:

  • Memutar musik atau menghasilkan suara keras hingga mengganggu waktu istirahat.

  • Membiarkan sampah menumpuk atau menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah.

  • Memarkir kendaraan hingga menghalangi jalan atau akses rumah tetangga.

  • Membicarakan keburukan tetangga dan menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya.

  • Menggunakan atau mengambil barang milik tetangga tanpa izin.

  • Melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan lingkungan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Apabila tanpa sengaja menimbulkan gangguan, sebaiknya segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tindakan sederhana, seperti mengecilkan volume suara pada malam hari atau memastikan kendaraan tidak menghalangi akses rumah orang lain, merupakan bentuk kepedulian terhadap kenyamanan bersama.

Menjaga tetangga dari gangguan bukan hanya menciptakan lingkungan yang tertib, tetapi juga menjadi wujud nyata akhlak yang baik.

3. Berbagi Makanan dan Saling Memberi

Berbagi makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial dan tidak bersikap egois terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar agar memperbanyak kuah ketika memasak dan memperhatikan tetangganya dengan membagikan sebagian makanan tersebut.

Nasihat ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian yang besar. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana sesuai kemampuan masing-masing.

Ketika memasak dalam jumlah lebih, misalnya, kita dapat berbagi makanan dengan tetangga. Berbagi juga dapat dilakukan dengan memberikan buah dari kebun atau mengirimkan hidangan sederhana pada kesempatan tertentu.

Jika tetangga sedang sakit, kita bisa menawarkan bantuan untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sementara itu, ketika mereka mengalami musibah, perhatian dan dukungan sederhana dapat membantu meringankan beban yang dirasakan.

Meski demikian, berbagi tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga sendiri. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk memaksakan diri di luar kemampuannya.

Dengan membiasakan berbagi, hubungan bertetangga tidak sekadar terjalin karena tinggal berdekatan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang dilandasi kepedulian dan kebersamaan.

4. Menolong Tetangga Ketika Mengalami Kesulitan

Seorang Muslim hendaknya tidak bersikap acuh ketika mengetahui tetangganya membutuhkan pertolongan. Hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi sumber dukungan, terutama ketika seseorang menghadapi situasi sulit.

Pertolongan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan tenaga dan dukungan moral hingga bantuan materi sesuai kemampuan.

Ketika tetangga sedang sakit, misalnya, kita dapat menjenguk, menanyakan kebutuhannya, atau membantu mengurus keperluan mendesak. Saat terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir, kita dapat membantu proses evakuasi, menyediakan makanan, atau menghubungkan mereka dengan pihak yang mampu memberikan bantuan.

Perhatian juga dapat diberikan kepada tetangga lanjut usia yang tinggal sendiri. Menanyakan kabar atau membantu membawa barang belanjaan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Dalam memberikan pertolongan, penting untuk tetap menghormati privasi dan menjaga martabat orang yang dibantu. Bantuan sebaiknya diberikan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian atau mengungkit kebaikan pada kemudian hari.

Menolong tetangga menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memaafkan Kesalahan Tetangga

Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bertetangga. Perbedaan kebiasaan, persoalan batas tanah, kebisingan, atau masalah parkir dapat memicu perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan baik.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga komunikasi, bersikap sabar, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Kebiasaan menyapa, mengunjungi ketika diperlukan, serta menghindari permusuhan berkepanjangan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat hubungan dengan tetangga.

Pertama, menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang sopan. Jika ada tindakan yang mengganggu, sampaikan keberatan secara baik-baik tanpa menghina atau mempermalukan pihak lain.

Kedua, tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, cari penjelasan secara langsung dengan cara yang santun.

Ketiga, belajar memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Selama persoalan masih dapat diselesaikan secara wajar, sikap lapang dada dapat membantu mencegah konflik berkepanjangan.

Keempat, tidak memperbesar perselisihan. Hindari menyebarkan masalah kepada orang lain apabila hal tersebut justru memperburuk keadaan.

Meski demikian, menjaga hubungan baik tidak berarti membiarkan tindakan yang membahayakan atau melanggar hak. Jika terjadi ancaman, kekerasan, atau pelanggaran serius, kita tetap dapat meminta bantuan pihak berwenang melalui cara yang tepat.

Dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan tanpa harus merusak hubungan bertetangga.

Manfaat Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam

Menerapkan adab bertetangga memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sikap saling menghormati membantu mengurangi gangguan dan perselisihan.

  2. Mempererat hubungan sosial. Tetangga yang saling mengenal lebih mudah membangun komunikasi dan kerja sama.

  3. Menumbuhkan kepedulian. Kebiasaan saling membantu membuat masyarakat lebih siap menghadapi kesulitan bersama.

  4. Menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik membantu menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi perselisihan besar.

  5. Mengamalkan ajaran Islam. Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika setiap orang berusaha memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Kita tidak perlu menunggu semua tetangga bersikap baik terlebih dahulu untuk mulai menunjukkan akhlak terpuji.

Membangun Lingkungan yang Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri

Adab bertetangga bukan hanya tentang menghindari perselisihan, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati orang lain, menjaga perkataan, berbagi makanan, menolong ketika dibutuhkan, dan memaafkan kesalahan merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat kebersamaan.

Keteladanan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akhlak mulia perlu tercermin dalam hubungan dengan sesama, termasuk dengan orang-orang yang tinggal paling dekat dengan kita.

Karena itu, membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian dapat dimulai dari rumah masing-masing. Dengan menjaga hak tetangga dan membiasakan diri untuk berbuat baik, kita turut menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi

SETIAP orang tua Muslim tentu mendambakan anak yang saleh dan salehah, beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama. Anak bukan hanya anugerah yang membawa kebahagiaan dalam keluarga, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan orang tua adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT memberikan petunjuk, menguatkan keimanan, memudahkan anak dalam beribadah, serta membimbing mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa.

Al-Qur'an mengajarkan sejumlah doa untuk memohon keturunan yang baik. Beberapa di antaranya merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS, serta doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati.

Lantas, apa saja doa memohon anak saleh dan salehah yang dapat diamalkan? Berikut bacaan, arti, dan maknanya, beserta ikhtiar mendidik anak agar tumbuh dalam kebaikan.

1. Doa dalam Surah Al-Furqan Ayat 74

Salah satu doa yang dapat diamalkan untuk memohon keluarga dan keturunan yang baik terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk hati serta agar diri sendiri dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bacaan latin:

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Makna Doa

Doa ini mengandung harapan agar keluarga tumbuh dalam keimanan, ketaatan, dan akhlak yang baik. Anak yang menjadi penyejuk hati bukan semata-mata anak yang membanggakan orang tua, tetapi juga anak yang berusaha menjalankan ajaran agama dan menghadirkan kebaikan di lingkungannya.

Selain memohon keturunan yang baik, orang tua juga memohon agar dirinya menjadi teladan dalam ketakwaan. Artinya, harapan memiliki anak saleh dan salehah perlu disertai usaha memperbaiki diri, mulai dari menjaga salat, berkata jujur, bersikap sabar, hingga menghormati orang lain.

Doa ini dapat dibaca setelah salat atau ketika bermunajat kepada Allah SWT. Tidak ada keharusan menetapkan jumlah bacaan tertentu untuk mengamalkannya.

2. Doa Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa singkat untuk memohon keturunan yang termasuk golongan orang saleh. Doa ini terdapat dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Bacaan latin: Rabbi hab li minas salihin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100).

Makna Doa 

Doa ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan bukan satu-satunya harapan. Nabi Ibrahim AS juga memohon agar keturunannya menjadi bagian dari orang-orang yang saleh.

Kesalehan merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang saleh dan salehah diharapkan memiliki keimanan yang kuat, menjaga ibadah, berperilaku baik, serta mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah.

Bagi pasangan yang sedang menantikan kehadiran buah hati, doa ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keturunan kepada Allah SWT. Bagi orang tua yang telah memiliki anak, doa yang sama dapat diamalkan untuk memohon agar anak-anak senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.

Doa juga menjadi wujud penghambaan dan tawakal. Karena itu, orang tua hendaknya terus memohon kepada Allah SWT sembari melakukan ikhtiar yang baik dan tidak kehilangan harapan ketika keinginan belum terwujud sesuai waktu yang diharapkan.

3. Doa Nabi Zakaria AS 

Al-Qur'an juga mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika memohon keturunan yang baik. Doa tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 38.

Bacaan latin:

Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan tayyibatan innaka sami'ud du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Pelajaran dari doa Nabi Zakaria 

Kisah Nabi Zakaria AS mengajarkan tentang ketekunan dalam berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Beliau memohon keturunan yang baik, mengingatkan umat Islam bahwa Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya.

Keturunan yang baik tidak hanya diukur dari kesehatan fisik atau keberhasilan duniawi. Keimanan, akhlak, dan perilaku yang terpuji juga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang diharapkan orang tua.

Doa ini dapat diamalkan oleh pasangan yang mendambakan keturunan maupun orang tua yang memohon kebaikan bagi anak-anaknya. Permohonan juga dapat disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami, selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Doa Keturunan Rajin Mendirikan Salat

Anak yang saleh dan salehah diharapkan tidak hanya memiliki perilaku yang baik, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mendirikan salat.

Dalam Surah Ibrahim ayat 40, terdapat doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan salat.

Bacaan latin: Rabbij'alni muqimas salati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Mengapa doa ini penting?

Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. Dengan memohon agar diri sendiri dan keturunan senantiasa mendirikan salat, orang tua diingatkan bahwa pendidikan agama perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak untuk salat, tetapi juga memberikan contoh melalui kebiasaan beribadah secara konsisten. Ketika anak melihat orang tuanya menjaga salat, ia dapat belajar dari keteladanan yang nyata.

Selain itu, ajarkan salat secara bertahap sesuai usia anak. Pendekatan yang lembut, penjelasan yang mudah dipahami, dan suasana keluarga yang mendukung dapat membantu anak mengenal ibadah dengan lebih baik.

Doa ini sekaligus mengingatkan orang tua untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sendiri sebelum berharap anak mengikuti jalan kebaikan tersebut.

5. Doa agar Anak Saleh dan Mendapat Keberkahan

Selain mengamalkan doa-doa dari Al-Qur'an, orang tua dapat memohon kepada Allah SWT menggunakan kalimat yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, memohon agar anak diberikan kesehatan, dilindungi dari keburukan, dibimbing dalam ketaatan, dan dimudahkan untuk berbuat baik kepada sesama.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat diamalkan sebagai doa pribadi.

Bacaan doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang saleh dan salehah. Jadikanlah mereka hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga salat. Lindungilah mereka dari perbuatan buruk, pergaulan yang menyesatkan, serta segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari jalan-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati di dunia dan bekal kebaikan bagi kami di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis. Orang tua dapat menyesuaikan susunan kata dan menyebut nama anak dalam doanya.

Hal terpenting bukan panjangnya rangkaian kalimat, melainkan ketulusan hati, keyakinan kepada Allah SWT, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar yang baik.

6. Kapan Waktu Baik Membaca Doa Anak Saleh?

Pada dasarnya, doa untuk memohon kebaikan anak dapat dipanjatkan kapan saja. Tidak ada ketentuan bahwa doa memohon anak saleh dan salehah hanya boleh dibaca pada waktu tertentu.

Meski demikian, ada beberapa kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah salat wajib

Setelah menunaikan salat wajib, orang tua dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa. Selain memohon ampunan serta kebaikan dunia dan akhirat, orang tua dapat memohon agar anak-anak diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam.

Mendoakan anak secara rutin dapat menjadi pengingat bahwa mendidik mereka merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan pertolongan Allah SWT.

Saat salat malam

Salat malam, termasuk tahajud, dapat menjadi kesempatan untuk bermunajat dengan lebih khusyuk. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan keutamaan berdoa kepada Allah pada sepertiga malam terakhir.

Orang tua dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memohon kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan keteguhan iman bagi anak-anaknya.

Ketika sujud

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa.

Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon kebaikan bagi anak-anaknya dengan tetap memperhatikan ketentuan doa dalam salat sesuai tuntunan fikih yang diikuti.

Ketika anak menghadapi kesulitan

Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak sedang sehat, berprestasi, atau menunjukkan perilaku yang membanggakan. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, menghadapi masalah pergaulan, atau sedang berusaha memperbaiki diri, orang tua juga perlu mendoakannya.

Rasa kecewa hendaknya tidak membuat orang tua berhenti berharap kepada Allah SWT. Sebaliknya, doa dapat menjadi penguat kesabaran sekaligus dorongan untuk mencari cara terbaik dalam mendampingi anak.

7. Cara Mendidik Anak agar Tumbuh Saleh

Doa merupakan ikhtiar spiritual yang penting, tetapi perlu disertai pendidikan, keteladanan, dan usaha nyata. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, melainkan juga lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Islam.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.

1. Memberikan teladan yang baik

Anak banyak belajar melalui apa yang dilihat setiap hari. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam menjalankan ibadah, menjaga perkataan, bersikap jujur, dan menghormati orang lain.

Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menjaga salatnya sendiri. Jika ingin anak berkata jujur, biasakan kejujuran dalam keluarga. Keteladanan membantu anak memahami bahwa ajaran Islam bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup.

2. Mengenalkan Al-Qur'an dan ajaran Islam sejak dini

Orang tua dapat mengenalkan Al-Qur'an, doa sehari-hari, kisah para nabi, serta dasar-dasar akhlak Islam sesuai usia anak. Lakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan.

Seiring bertambahnya usia, ajak anak memahami makna ibadah, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

3. Membiasakan ibadah dalam keluarga

Keluarga dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan tertentu.

Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika mereka melakukan kesalahan.

4. Menanamkan akhlak mulia

Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dengan perilaku terhadap sesama manusia. Ajarkan anak menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata sopan, menepati janji, meminta maaf ketika bersalah, dan membantu orang yang membutuhkan.

5. Memperhatikan lingkungan pergaulan

Lingkungan dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak. Orang tua perlu mengenal teman-teman anak, memperhatikan aktivitasnya, dan membangun komunikasi yang terbuka.

Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang bertanggung jawab, bukan pengawasan berlebihan. Ajarkan anak memilih pergaulan yang baik serta berani menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.

6. Menasihati tanpa merendahkan

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan nasihat dan konsekuensi yang sesuai. Namun, hindari melabeli anak sebagai nakal, gagal, atau tidak berguna.

Tegurlah perilakunya tanpa merendahkan martabatnya. Terus doakan kebaikannya, termasuk ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

7. Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian

Orang tua dapat mengajarkan tanggung jawab melalui tugas sederhana, seperti merapikan barang, menjaga kebersihan, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membantu anggota keluarga.

Ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia memahami akibat perbuatannya dan memperbaikinya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengakui kesalahan serta bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.

8. Keutamaan Memiliki Anak Saleh

Anak yang saleh dan salehah merupakan salah satu karunia berharga dalam Islam. Kesalehan anak tidak hanya membawa harapan akan kebaikan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan manfaat yang dapat terus dirasakan orang tua setelah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mendidik anak agar mengenal Allah SWT, menjalankan ajaran agama, dan terbiasa mendoakan orang tuanya.

Meski demikian, kesalehan anak bukan sesuatu yang dapat dijamin hanya melalui satu doa. Anak tumbuh melalui berbagai proses, pengalaman, dan pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu terus memberikan pendidikan terbaik sembari memohon pertolongan Allah SWT.

Anak yang saleh dan salehah juga diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, membantu sesama, maupun menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, tujuan mendidik anak bukan semata-mata agar orang tua merasa bangga, tetapi agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

9. Pertanyaan Umum tentang Doa Anak Saleh

Apakah doa anak saleh boleh dibaca setiap hari?

Ya. Orang tua boleh mendoakan kebaikan anak setiap hari. Beberapa doa yang dapat diamalkan antara lain doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Surah Ali Imran ayat 38, Surah As-Saffat ayat 100, dan Surah Ibrahim ayat 40.

Tidak ada ketentuan umum bahwa doa-doa tersebut harus dibaca dengan jumlah tertentu agar permohonan dikabulkan.

Apakah ibu dan ayah sama-sama boleh mendoakan anak?

Tentu. Ibu dan ayah sama-sama dapat memohon agar anak menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan serta keteladanan yang baik.

Bolehkah berdoa agar anak menjadi penghafal Al-Qur'an?

Boleh. Orang tua dapat memohon agar anak mencintai Al-Qur'an, dimudahkan menghafalnya, memahami ajarannya, serta mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Permohonan tersebut hendaknya disertai pendampingan yang baik, pembelajaran sesuai kemampuan anak, dan penghargaan terhadap proses belajarnya.

Bagaimana jika anak belum menunjukkan perilaku saleh?

Jangan langsung berputus asa. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Orang tua dapat mengevaluasi pendekatan pendidikan, membuka komunikasi yang baik, memberikan nasihat secara bijaksana, dan terus mendoakan kebaikannya.

Jika masalah yang dihadapi cukup berat, orang tua juga dapat mencari bantuan dari guru, konselor, atau pembimbing agama yang kompeten.

Apakah pasangan yang belum memiliki anak boleh membaca doa memohon keturunan?

Boleh. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Zakaria AS dalam Surah Ali Imran ayat 38 atau doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Di samping berdoa, pasangan dapat melakukan ikhtiar yang sesuai, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Belum hadirnya keturunan bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa doa seseorang tidak diterima Allah SWT.

Doa Bagian dari Pendidikan Anak

Memohon anak yang saleh dan salehah merupakan harapan yang dapat terus dipanjatkan oleh setiap orang tua Muslim. Al-Qur'an telah mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan untuk memohon keturunan yang baik, keluarga yang menenteramkan, serta anak-anak yang senantiasa menjaga ibadah.

Namun, doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Keteladanan orang tua, pendidikan agama, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Semoga Allah SWT menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, menjadikan keluarga sebagai penyejuk hati, serta membimbing anak-anak agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Amin ya Rabbal alamin.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan

MENGELOLA keuangan bukan hanya soal memastikan pemasukan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan. Bagi seorang Muslim, harta merupakan amanah dari Allah SWT yang perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik.

Karena itu, kelola keuangan Islam tidak hanya memperhatikan jumlah pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga sumber rezeki, prioritas kebutuhan, kewajiban terhadap keluarga, serta kepedulian kepada sesama.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir dalam menggunakan hartanya. Prinsip ini dapat menjadi dasar dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

1. Pastikan Penghasilan Sumber Halal

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber penghasilan. Sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, seorang Muslim perlu memastikan bahwa pekerjaan, usaha, perdagangan, maupun investasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memperoleh makanan dari hasil usaha sendiri. Dalam Sunan Ibn Majah 2137 disebutkan bahwa makanan terbaik yang dikonsumsi seseorang adalah yang berasal dari hasil usahanya sendiri.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja perlu menjalankan tanggung jawab dengan amanah, sedangkan pelaku usaha harus menghindari penipuan, kecurangan, menyembunyikan cacat barang, maupun mengurangi timbangan.

Ketika menemukan transaksi yang meragukan, jangan terburu-buru mengejar keuntungan. Memahami akad, risiko, dan ketentuannya terlebih dahulu dapat membantu menjaga harta tetap berada dalam koridor yang baik.

2. Susun Anggaran dan Dahulukan Kebutuhan

Setelah memastikan sumber pendapatan, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaannya. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan.

Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan keluarga perlu menjadi prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah alokasi untuk keperluan lainnya disesuaikan dengan kemampuan.

Membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Membeli sesuatu karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda promosi atau ingin mengikuti tren.

Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Catatan di buku, spreadsheet, maupun aplikasi keuangan sudah cukup untuk membantu mengevaluasi pola pengeluaran dan menemukan pos yang dapat dikurangi.

3. Hindari Pemborosan dan Utang Konsumtif

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam menggunakan harta. Karena itu, pembelian impulsif dan gaya hidup berlebihan perlu dihindari.

Diskon atau promosi memang dapat menghemat pengeluaran jika barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, membeli sesuatu hanya karena harganya sedang murah tetap dapat membuat keuangan menjadi tidak sehat.

Penggunaan utang juga perlu dipertimbangkan dengan matang. Seorang Muslim perlu memahami akad dan konsekuensi finansial sebelum mengambil utang, terutama jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya berada di luar kemampuan.

Hidup sesuai kemampuan bukan berarti harus mengurangi seluruh kenyamanan. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, seseorang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih tenang tanpa terbebani pengeluaran yang tidak perlu.

4. Siapkan Tabungan dan Dana Darurat

Selain memenuhi kebutuhan hari ini, pengelolaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan di masa depan. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dapat membantu menghadapi berbagai keperluan yang sudah direncanakan.

Dana darurat juga penting untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendesak.

Perencanaan jangka panjang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, misalnya untuk pendidikan anak, tempat tinggal, maupun kebutuhan masa pensiun. Tidak perlu memulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.

5. Sisihkan Harta untuk Zakat, Infak, dan Sedekah

Harta dalam Islam tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban dan kepedulian sosial yang perlu diperhatikan, termasuk zakat bagi harta yang telah memenuhi ketentuannya.

Zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, nisab, haul, kadar, serta golongan penerima. Karena itu, perhitungannya perlu dilakukan sesuai ketentuan syariat.

Selain zakat, infak dan sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan sesuai kemampuan. Kebiasaan berbagi mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Dengan memasukkan zakat, infak, dan sedekah dalam perencanaan keuangan, pengelolaan harta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ibadah.

6. Bangun Komunikasi Keuangan dalam Keluarga

Pengelolaan keuangan juga berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami dan istri dapat membicarakan pemasukan, kebutuhan, kewajiban, tabungan, serta tujuan finansial keluarga secara terbuka.

Setiap keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tidak ada satu pola anggaran yang harus diterapkan oleh semua orang. Yang penting adalah menjaga prinsip halal, bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan.

Anak juga dapat dikenalkan dengan kebiasaan finansial sejak dini. Misalnya dengan mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta mengenalkan pentingnya berbagi.

Evaluasi sederhana setiap bulan dapat membantu keluarga mengetahui kondisi keuangannya. Periksa kembali pemasukan, pengeluaran terbesar, jumlah tabungan, kewajiban yang telah dibayarkan, dan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pada akhirnya, kelola keuangan Islam bukan semata-mata tentang bagaimana memiliki lebih banyak uang. Lebih dari itu, pengelolaan harta diarahkan agar kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara yang halal, keluarga tetap terjaga, dan sebagian rezeki dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Dengan mengatur pemasukan secara bijak, menghindari pemborosan, mempersiapkan masa depan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, harta dapat dikelola sebagai amanah sekaligus menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim

DALAM Islam, adab dan akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah kepada Allah SWT juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga masyarakat di sekitarnya.

Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam hal akhlak. Beliau mengajarkan kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang dalam berinteraksi dengan sesama. Karena itu, menjaga perilaku bukan sekadar menunjukkan kepribadian yang baik, tetapi juga bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Adab dan Akhlak dalam Islam

Menjaga adab berarti berusaha menempatkan perkataan, sikap, dan tindakan sesuai dengan tuntunan Islam. Hal tersebut dapat dimulai dari perkara sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak, serta membantu mereka yang membutuhkan.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang menjaga lisannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman untuk saling mengejek, mencela, maupun memanggil orang lain dengan gelar yang buruk.

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara. Perkataan yang kasar, hinaan, fitnah, atau ucapan yang menyakiti orang lain dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Menjaga adab juga berarti mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Saat marah atau berbeda pendapat, seseorang perlu berusaha menahan emosi agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Kedudukan Penting Akhlak Baik

Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang membiasakan perkataan keji.

Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara sederhana, melainkan memiliki nilai besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan rasa aman, bukan justru menimbulkan kerugian atau ketakutan bagi orang lain.

Dengan demikian, akhlak yang baik tidak cukup hanya terlihat dalam aktivitas ibadah. Nilainya perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

Menerapkan Adab dalam Kehidupan

Di lingkungan keluarga, menjaga adab dapat dimulai dengan menghormati orang tua, memperlakukan pasangan dan saudara dengan baik, serta membangun komunikasi tanpa penghinaan maupun kekerasan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak dapat diwujudkan dengan menghormati tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan menghargai perbedaan.

Begitu pula di tempat kerja atau sekolah. Bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, menjaga amanah, serta tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari penerapan akhlak Islam.

Adab juga berlaku di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Menjaga perilaku di media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak dalam kehidupan modern.

Membiasakan Diri Berakhlak Baik

Menjaga adab membutuhkan latihan dan konsistensi. Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki niat. Berbuat baik kepada orang lain seharusnya dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian.

Kebiasaan menjaga lisan juga perlu dilatih. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Mempelajari kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi cara lain untuk memahami bagaimana akhlak diterapkan dalam berbagai situasi. Keteladanan beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, maupun orang yang berbeda pendapat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi diri juga penting. Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Pada akhirnya, menjaga adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam perilaku nyata.

Meneladani Rasulullah SAW berarti terus berusaha menjadi pribadi yang jujur, sabar, lembut, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain. Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk menjaga lisan, memperbaiki perilaku, menghormati sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01

Artikel Terbaru

Enam Keutamaan Membayar Zakat: Menyucikan Harta, Menghadirkan Keberkahan, dan Menebar Manfaat
Enam Keutamaan Membayar Zakat: Menyucikan Harta, Menghadirkan Keberkahan, dan Menebar Manfaat
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan kesejahteraan sosial dan membantu mereka yang membutuhkan. Menunaikan zakat bukan sekadar mengeluarkan sebagian harta, tetapi juga menjadi jalan untuk menyucikan diri, menghadirkan keberkahan, serta mempererat kepedulian terhadap sesama. Berikut beberapa keutamaan membayar zakat yang perlu diketahui. 1. Menyucikan Harta dan Jiwa Secara bahasa, zakat berarti suci, bersih, tumbuh, dan berkah. Makna tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga menyucikan jiwa dari sifat kikir dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Allah SWT berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103). Melalui zakat, seorang muslim belajar untuk bersyukur, berbagi, dan menyadari bahwa setiap rezeki yang dimiliki merupakan titipan Allah SWT yang di dalamnya terdapat hak orang lain. 2. Mendatangkan Keberkahan Rezeki Sebagian orang masih menganggap bahwa mengeluarkan zakat akan mengurangi harta. Padahal, Islam mengajarkan bahwa zakat justru menjadi sebab datangnya keberkahan. Keberkahan tidak selalu berarti bertambahnya jumlah harta, tetapi juga berupa ketenangan hati, kemudahan memperoleh rezeki, kesehatan, serta perlindungan Allah SWT dalam kehidupan. Harta yang dizakati akan menjadi lebih bernilai karena membawa manfaat bagi banyak orang. 3. Menjalankan Salah Satu Rukun Islam Menunaikan zakat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus pelaksanaan salah satu rukun Islam. Rasulullah SAW bersabda: "Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji bagi yang mampu." (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, zakat bukan hanya ibadah yang bersifat sosial, tetapi juga menjadi bagian dari kesempurnaan keislaman seorang muslim. 4. Membantu Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Dana zakat yang dihimpun akan disalurkan kepada delapan golongan yang berhak menerima (asnaf), seperti fakir, miskin, mualaf, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil, riqab, dan amil. Melalui pengelolaan yang profesional, zakat tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, hingga kemanusiaan. Dengan demikian, zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat. 5. Menumbuhkan Kepedulian dan Solidaritas Sosial Zakat mengajarkan bahwa setiap harta memiliki hak yang harus ditunaikan kepada mereka yang membutuhkan. Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa empati, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis. Semakin banyak umat Islam yang menunaikan zakat, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat melalui pemerataan kesejahteraan dan meningkatnya semangat saling membantu. 6. Menjadi Investasi Amal untuk Akhirat Harta yang dikeluarkan sebagai zakat bukanlah kehilangan, melainkan investasi amal yang akan kembali dalam bentuk pahala di sisi Allah SWT. Selain memberikan manfaat nyata bagi mustahik, zakat juga menjadi bekal yang bernilai di akhirat. Oleh karena itu, setiap rupiah yang dizakatkan merupakan bentuk ibadah yang membawa manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat luas. Salurkan Zakat Melalui Lembaga Resmi Agar zakat tersalurkan secara tepat sasaran, umat Islam dianjurkan menunaikannya melalui lembaga amil zakat resmi, seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Sebagai lembaga resmi pemerintah, BAZNAS mengelola zakat secara profesional, transparan, dan akuntabel, sehingga dana yang dihimpun dapat disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan. Menunaikan zakat bukan hanya menyempurnakan ibadah, tetapi juga menjadi wujud kepedulian terhadap sesama. Dengan berzakat melalui BAZNAS, setiap muslim turut berkontribusi dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, sekaligus memperoleh keberkahan atas harta yang dimiliki. Mari tunaikan zakat tepat waktu melalui BAZNAS dan jadikan setiap harta yang Allah titipkan sebagai jalan untuk berbagi, menghadirkan keberkahan, serta membangun kesejahteraan umat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL21/07/2026 | MBL-01
Punya Emas 100 Gram? Ini Cara Menghitung Zakat Wajib Ditunaikan
Punya Emas 100 Gram? Ini Cara Menghitung Zakat Wajib Ditunaikan
EMAS merupakan salah satu bentuk harta yang termasuk objek zakat maal apabila telah memenuhi syarat yang ditetapkan dalam syariat Islam. Tidak sedikit masyarakat yang bertanya, jika memiliki emas sebanyak 100 gram, berapa zakat yang harus dibayarkan? Untuk menjawabnya, penting memahami terlebih dahulu ketentuan mengenai nisab, haul, serta cara menghitung zakat emas sesuai pedoman yang digunakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Kapan Emas Wajib Dizakati? Zakat emas wajib ditunaikan apabila telah memenuhi dua syarat utama, yaitu mencapai nisab dan haul. 1. Mencapai Nisab BAZNAS menetapkan nisab zakat emas setara dengan 85 gram emas. Artinya, apabila jumlah emas yang dimiliki telah mencapai atau melebihi batas tersebut, maka syarat nisab telah terpenuhi. 2. Telah Mencapai Haul Selain mencapai nisab, emas juga harus dimiliki selama satu tahun hijriah (haul). Jika selama periode tersebut jumlah kepemilikan tetap berada di atas nisab, maka zakat menjadi wajib ditunaikan. Besaran zakat emas adalah 2,5 persen dari jumlah harta yang wajib dizakati. Cara Menghitung Zakat Emas Menghitung zakat emas cukup sederhana. Rumus yang digunakan adalah: Zakat Emas = Jumlah Emas × 2,5% Apabila zakat akan dibayarkan dalam bentuk uang, maka nilai emas terlebih dahulu dikonversikan berdasarkan harga emas yang berlaku saat pembayaran dilakukan. Rumusnya menjadi: Nilai Emas × 2,5% Perhitungan dapat menggunakan berat emas maupun nilai rupiahnya, selama mengacu pada harga emas terkini. Simulasi Zakat Emas 100 Gram Misalnya, seseorang memiliki emas batangan atau emas simpanan sebanyak 100 gram yang telah dimiliki selama satu tahun hijriah. Karena jumlah tersebut telah melampaui nisab 85 gram, maka emas tersebut wajib dizakati. Perhitungan Berdasarkan Berat Emas Jumlah kepemilikan emas: Emas: 100 gram Zakat yang wajib dikeluarkan: 100 gram × 2,5% = 2,5 gram emas Artinya, zakat dapat ditunaikan dalam bentuk 2,5 gram emas, atau dibayarkan dalam bentuk uang senilai harga 2,5 gram emas pada saat pembayaran. Perhitungan Berdasarkan Nilai Rupiah Sebagai ilustrasi, apabila nilai 100 gram emas saat ini mencapai Rp200.000.000, maka zakat yang harus dibayarkan adalah: Rp200.000.000 × 2,5% = Rp5.000.000 Perlu diingat, angka tersebut hanyalah contoh simulasi. Besaran zakat yang sebenarnya mengikuti harga emas yang berlaku pada saat zakat ditunaikan. Cara Membayar Zakat Emas Setelah mengetahui besaran zakat yang wajib dibayarkan, muzaki dapat menunaikannya melalui layanan BAZNAS dengan langkah-langkah berikut: Pastikan jumlah emas telah mencapai nisab dan haul. Hitung zakat sebesar 2,5 persen dari nilai emas. Akses layanan pembayaran zakat BAZNAS, baik secara langsung maupun melalui kanal digital. Pilih jenis pembayaran zakat maal atau zakat emas. Lakukan pembayaran sesuai nominal hasil perhitungan. Simpan bukti pembayaran sebagai dokumentasi. Untuk mempermudah proses tersebut, masyarakat juga dapat memanfaatkan Kalkulator Zakat BAZNAS yang mampu menghitung zakat secara praktis dan akurat sesuai ketentuan syariat. Menyucikan Harta Melalui Zakat Emas Menunaikan zakat emas bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah Allah SWT titipkan. Melalui zakat, harta menjadi lebih bersih dan keberkahannya semakin bertambah, sementara manfaatnya dapat dirasakan oleh para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan yang dikelola BAZNAS. Dengan memahami ketentuan nisab, haul, dan cara menghitung zakat emas, masyarakat dapat menunaikan kewajiban zakat dengan lebih mudah, tepat, dan sesuai syariat. Selain menyempurnakan ibadah, zakat juga menjadi wujud kepedulian terhadap sesama serta berkontribusi dalam mendukung program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, dan kemanusiaan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL21/07/2026 | MBL-01
Zakat Saham dan Investasi: Kapan Wajib Dibayar dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
Zakat Saham dan Investasi: Kapan Wajib Dibayar dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
SEIRING berkembangnya instrumen investasi, semakin banyak umat Islam yang menanamkan dana pada saham, reksa dana, sukuk, hingga deposito. Kondisi ini memunculkan pertanyaan, apakah aset investasi termasuk harta yang wajib dizakati? Jawabannya adalah ya, selama telah memenuhi ketentuan syariat, yaitu mencapai nisab dan haul. Jenis Investasi yang Wajib Dizakati Pada dasarnya, investasi yang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi berkembang termasuk dalam objek zakat maal. Beberapa jenis investasi yang dapat dikenai zakat antara lain saham, reksa dana, obligasi syariah (sukuk), serta deposito. Dalam perhitungannya, yang menjadi acuan adalah nilai pasar atau nilai wajar investasi saat jatuh tempo zakat (haul), bukan nilai ketika aset tersebut pertama kali dibeli. Syarat Wajib Zakat Investasi Zakat investasi menjadi wajib apabila memenuhi dua syarat utama, yaitu: - Nilai total aset telah mencapai nisab yang setara dengan 85 gram emas.- Kepemilikan aset telah mencapai haul atau satu tahun hijriah. Perlu diperhatikan bahwa seluruh aset yang termasuk objek zakat, seperti saham, reksa dana, tabungan, emas, maupun investasi lainnya, dihitung secara keseluruhan. Dengan menggabungkan seluruh aset, seseorang dapat mengetahui apakah total kekayaannya telah memenuhi nisab. Cara Menghitung Zakat Investasi Besaran zakat investasi adalah 2,5 persen dari total nilai aset yang telah memenuhi nisab dan haul. Rumus perhitungannya: Zakat = Total Nilai Investasi × 2,5% Sebagai contoh: Total portofolio saham sebesar Rp180.000.000 yang telah dimiliki selama satu tahun, maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah Rp4.500.000. Jika memiliki reksa dana senilai Rp90.000.000 dan saham Rp60.000.000, maka total aset menjadi Rp150.000.000. Apabila telah mencapai haul, zakat yang wajib dibayarkan sebesar Rp3.750.000. Sementara itu, apabila nilai investasi mencapai Rp200.000.000, tetapi baru dimiliki selama delapan bulan, zakat belum diwajibkan karena syarat haul belum terpenuhi. Adapun dividen saham atau imbal hasil investasi yang diterima secara berkala dapat digabungkan ke dalam zakat penghasilan pada saat diterima, atau diakumulasikan bersama nilai investasi ketika memasuki masa haul. Langkah Menunaikan Zakat Investasi Agar zakat investasi dapat ditunaikan dengan tepat, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan: - Tentukan tanggal haul, yaitu satu tahun sejak total aset pertama kali mencapai nisab.- Hitung nilai pasar seluruh portofolio investasi pada saat haul tiba.- Kalikan total nilai investasi dengan tarif zakat sebesar 2,5 persen.- Tunaikan zakat melalui BAZNAS atau lembaga amil zakat resmi agar pengelolaannya amanah, transparan, dan tepat sasaran. Menunaikan Zakat sebagai Bentuk Kepedulian Zakat investasi tidak hanya menjadi kewajiban bagi muslim yang telah memenuhi syarat, tetapi juga merupakan wujud syukur atas rezeki yang Allah SWT titipkan. Melalui zakat, harta menjadi lebih bersih, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah. Untuk memudahkan perhitungan, masyarakat dapat memanfaatkan Kalkulator Zakat BAZNAS sehingga besaran zakat investasi dapat diketahui secara cepat, akurat, dan sesuai dengan ketentuan syariat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL19/07/2026 | MBL-01
Kapan Tabungan Wajib Dizakati? Simak Cara Menghitung Zakat dengan Benar
Kapan Tabungan Wajib Dizakati? Simak Cara Menghitung Zakat dengan Benar
MENABUNG merupakan salah satu cara mengelola keuangan yang dianjurkan agar kondisi finansial tetap terjaga. Namun, bagi seorang muslim, tabungan yang dimiliki juga perlu diperhatikan dari sisi kewajiban zakat. Lantas, apakah setiap tabungan wajib dizakati? Jawabannya, tidak semua tabungan dikenai zakat. Zakat tabungan baru diwajibkan apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu sesuai ketentuan syariat Islam, seperti mencapai nisab dan dimiliki selama satu tahun (haul). Memahami Syarat Wajib Zakat Tabungan Agar tabungan termasuk dalam harta yang wajib dizakati, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. 1. Dimiliki oleh Seorang Muslim Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi ketentuan syariat, sehingga hanya berlaku bagi pemilik harta yang beragama Islam. 2. Bersumber dari Harta yang Halal Tabungan yang dizakati harus berasal dari penghasilan atau usaha yang halal. Jika harta diperoleh melalui cara yang tidak dibenarkan syariat, maka tidak menjadi objek zakat, melainkan harus diselesaikan sesuai ketentuan agama. 3. Mencapai Nisab Tabungan wajib dizakati apabila jumlahnya telah mencapai nisab, yaitu batas minimal kepemilikan harta yang mewajibkan seseorang mengeluarkan zakat. 4. Telah Mencapai Haul Selain memenuhi nisab, tabungan juga harus dimiliki selama satu tahun hijriah secara berturut-turut. Apabila dalam periode tersebut saldo sempat turun di bawah nisab, maka perhitungan haul dimulai kembali ketika jumlah tabungan kembali mencapai batas minimal. Jika seluruh syarat tersebut telah terpenuhi, zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 persen dari total tabungan yang dimiliki. Berapa Nisab Zakat Tabungan? Nisab zakat tabungan mengacu pada nilai 85 gram emas. Karena harga emas selalu berubah, besaran nisab dalam rupiah juga mengikuti harga emas yang berlaku saat perhitungan dilakukan. Rumus sederhananya adalah: Nisab = 85 gram × harga emas per gram Sebagai ilustrasi, apabila harga emas mencapai Rp1.600.000 per gram, maka nisab zakat tabungan sekitar Rp136.000.000. Artinya, tabungan yang nilainya telah melampaui jumlah tersebut dan telah dimiliki selama satu tahun wajib dizakati. Perlu diperhatikan bahwa yang dihitung bukan hanya saldo pada satu rekening. Seluruh tabungan yang dimiliki, seperti rekening tabungan, deposito, maupun simpanan di bank lain, dapat dijumlahkan selama telah memenuhi syarat haul. Cara Menghitung Zakat Tabungan Perhitungan zakat tabungan cukup sederhana, yaitu: Zakat = Total Tabungan × 2,5% Berikut beberapa contoh perhitungannya. Contoh 1 Total tabungan: Rp200.000.000 Status: Telah mencapai nisab dan dimiliki selama satu tahun. Zakat yang harus dibayarkan: Rp200.000.000 × 2,5% = Rp5.000.000 Contoh 2 Tabungan utama: Rp80.000.000 Deposito: Rp70.000.000 Tabungan di bank lain: Rp20.000.000 Total tabungan: Rp170.000.000 Karena telah mencapai nisab dan haul, zakat yang wajib dikeluarkan sebesar: Rp170.000.000 × 2,5% = Rp4.250.000 Sementara itu, apabila total tabungan masih berada di bawah nisab atau baru mencapai nisab kurang dari satu tahun, maka zakat belum diwajibkan. Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan memperbanyak infak dan sedekah sesuai kemampuan. Cara Menunaikan Zakat Tabungan Setelah mengetahui besaran zakat yang harus dibayarkan, langkah selanjutnya adalah menunaikannya melalui lembaga amil zakat resmi, seperti BAZNAS. Beberapa tahapan yang dapat dilakukan antara lain: - Memastikan tabungan telah mencapai nisab dan haul.- Menghitung total saldo tabungan pada saat jatuh tempo zakat.- Mengalikan total tabungan dengan tarif zakat sebesar 2,5 persen.- Menunaikan zakat melalui layanan pembayaran BAZNAS, baik secara langsung maupun melalui kanal digital.- Menyimpan bukti pembayaran sebagai arsip sekaligus dokumen pendukung administrasi perpajakan. Melalui layanan digital BAZNAS, pembayaran zakat kini dapat dilakukan dengan lebih praktis melalui transfer bank, dompet digital, maupun QRIS. Tunaikan Zakat untuk Menyucikan Harta Zakat tabungan bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga bentuk ibadah yang menjadi sarana menyucikan harta sekaligus membantu mereka yang membutuhkan. Dana zakat yang dihimpun BAZNAS disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, dan kemanusiaan. Dengan memahami ketentuan nisab, haul, serta cara menghitungnya, setiap muslim dapat menunaikan zakat tabungan secara tepat sesuai syariat. Selain memberikan keberkahan bagi harta yang dimiliki, zakat juga menjadi wujud kepedulian sosial untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL19/07/2026 | MBL-01
Zakat Deposito: Kapan Wajib Dibayar dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
Zakat Deposito: Kapan Wajib Dibayar dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
DEPOSITO menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak dipilih karena menawarkan keamanan sekaligus imbal hasil yang relatif stabil. Namun, bagi seorang muslim, kepemilikan deposito tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan keuangan, tetapi juga memiliki konsekuensi dalam menunaikan zakat. Jika telah memenuhi syarat yang ditetapkan syariat, deposito termasuk harta yang wajib dizakati sebagai bagian dari zakat maal. Lantas, kapan zakat deposito menjadi wajib? Bagaimana cara menghitungnya? Berikut penjelasannya. Apakah Deposito Termasuk Harta yang Wajib Dizakati? Ya, deposito termasuk salah satu bentuk harta (maal) yang dapat dikenai zakat. Dana yang disimpan dalam deposito tetap menjadi hak milik pemiliknya dan memiliki potensi berkembang melalui imbal hasil atau bagi hasil, sehingga termasuk dalam objek zakat apabila memenuhi ketentuan nisab dan haul. Kewajiban zakat tidak ditentukan oleh tempat penyimpanan dana ataupun jenis lembaga keuangannya, melainkan berdasarkan terpenuhinya syarat-syarat zakat sesuai syariat Islam. Syarat Wajib Zakat Deposito Agar deposito wajib dizakati, terdapat dua syarat utama yang harus dipenuhi. Mencapai Nisab Nisab zakat maal, termasuk deposito, mengacu pada nilai 85 gram emas. Karena harga emas selalu berubah, besaran nisab dalam rupiah juga mengikuti harga emas yang berlaku saat perhitungan dilakukan. Dalam menentukan nisab, deposito dapat dihitung bersama aset lain yang termasuk objek zakat, seperti tabungan, emas, maupun investasi lainnya. Mencapai Haul Selain memenuhi nisab, deposito juga harus dimiliki selama satu tahun hijriah (haul). Apabila selama periode tersebut nilai harta tetap berada di atas nisab, maka zakat wajib ditunaikan. Cara Menghitung Zakat Deposito Besaran zakat deposito adalah 2,5 persen dari total harta yang telah memenuhi nisab dan haul. Rumus perhitungannya: Zakat = Total Harta × 2,5% Berikut beberapa contoh perhitungan. Contoh 1 Seseorang memiliki deposito sebesar Rp200.000.000 yang telah disimpan selama satu tahun dan telah memenuhi nisab. Maka zakat yang wajib dibayarkan adalah: Rp200.000.000 × 2,5% = Rp5.000.000 Contoh 2 Seseorang memiliki: - Deposito: Rp120.000.000- Tabungan: Rp30.000.000 Total harta yang menjadi objek zakat sebesar Rp150.000.000. Apabila jumlah tersebut telah memenuhi nisab dan haul, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah: Rp150.000.000 × 2,5% = Rp3.750.000 Contoh tersebut menunjukkan bahwa deposito tidak dihitung secara terpisah, tetapi dapat digabungkan dengan harta lain yang termasuk dalam objek zakat maal. Cara Menunaikan Zakat Deposito Setelah mengetahui bahwa deposito telah memenuhi syarat zakat, langkah selanjutnya adalah menunaikannya melalui lembaga amil zakat resmi seperti BAZNAS. Adapun langkah-langkahnya meliputi: - Menghitung seluruh harta yang menjadi objek zakat, termasuk deposito dan aset lainnya.- Memastikan total harta telah mencapai nisab dan haul.- Menghitung zakat sebesar 2,5 persen dari total harta yang wajib dizakati.- Menunaikan zakat melalui layanan pembayaran BAZNAS, baik secara langsung maupun melalui kanal digital.- Menyimpan bukti pembayaran sebagai arsip dan dokumentasi. Untuk mempermudah proses perhitungan, masyarakat juga dapat memanfaatkan Kalkulator Zakat BAZNAS sehingga hasilnya lebih cepat, praktis, dan sesuai dengan ketentuan syariat. Mengapa Zakat Deposito Penting Ditunaikan? Menunaikan zakat deposito merupakan bagian dari upaya menyucikan harta sekaligus wujud rasa syukur atas rezeki yang Allah SWT titipkan. Selain menjadi kewajiban ibadah, zakat juga memiliki peran besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendistribusian kepada para mustahik. Dana zakat yang dihimpun BAZNAS dikelola secara amanah dan disalurkan melalui berbagai program di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, kemanusiaan, serta pemberdayaan masyarakat. Menjaga Keberkahan Harta Melalui Zakat Deposito merupakan salah satu bentuk kekayaan yang perlu diperhitungkan dalam zakat maal. Dengan memahami ketentuan nisab, haul, dan cara menghitungnya, setiap muslim dapat menunaikan zakat secara tepat sesuai syariat. Melalui zakat, harta tidak hanya menjadi lebih bersih dan berkah, tetapi juga menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS terus berkomitmen memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menghitung dan menunaikan zakat secara aman, transparan, serta tepat sasaran.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL19/07/2026 | MBL-01
Hitung Zakat Maal Lebih Mudah dengan Kalkulator Zakat BAZNAS
Hitung Zakat Maal Lebih Mudah dengan Kalkulator Zakat BAZNAS
MENUNAIKAN zakat maal kini semakin praktis berkat hadirnya Kalkulator Zakat BAZNAS. Layanan ini membantu masyarakat menghitung besaran zakat secara cepat, akurat, dan sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Setelah mengetahui nominal zakat yang wajib ditunaikan, muzaki juga dapat langsung melanjutkan pembayaran melalui layanan digital BAZNAS. Beragam Jenis Zakat dalam Satu Layanan Kalkulator Zakat BAZNAS dirancang untuk memudahkan masyarakat menghitung berbagai jenis zakat berdasarkan jenis harta atau penghasilan yang dimiliki. Beberapa di antaranya meliputi: - Zakat Maal, yaitu zakat atas harta yang telah mencapai nisab dan haul, seperti tabungan, emas, investasi, maupun aset lainnya.- Zakat Penghasilan, yang dikenakan atas pendapatan dari gaji, honorarium, bonus, atau profesi yang halal.- Zakat Perdagangan, yaitu zakat yang dihitung dari aset lancar usaha setelah dikurangi kewajiban jangka pendek. Dengan sistem perhitungan otomatis, muzaki tidak perlu lagi menghitung secara manual sehingga hasilnya lebih praktis dan meminimalkan risiko kekeliruan. Data yang Perlu Disiapkan Agar hasil perhitungan lebih akurat, ada beberapa informasi yang sebaiknya disiapkan sebelum menggunakan kalkulator zakat, antara lain: - Nilai harta yang akan dizakati, seperti tabungan, emas, investasi, atau aset lainnya.- Jumlah penghasilan atau aset usaha, apabila menghitung zakat penghasilan maupun zakat perdagangan.- Informasi mengenai nisab yang berlaku, karena nilai nisab mengikuti harga emas yang terus berubah. Semakin lengkap data yang dimasukkan, semakin tepat pula hasil perhitungan zakat yang diperoleh. Cara Menggunakan Kalkulator Zakat BAZNAS Menghitung zakat melalui layanan ini sangat mudah dan hanya membutuhkan beberapa langkah sederhana. Pilih jenis zakat yang ingin dihitung. Masukkan data harta atau penghasilan sesuai kategori zakat. Klik tombol perhitungan untuk mengetahui besaran zakat. Tinjau hasil yang ditampilkan sebagai acuan pembayaran. Seluruh proses dilakukan secara otomatis berdasarkan ketentuan zakat yang diterapkan oleh BAZNAS. Langsung Tunaikan Zakat Secara Online Setelah mengetahui nominal zakat, muzaki dapat langsung melanjutkan pembayaran melalui layanan digital BAZNAS. Caranya cukup dengan memilih jenis zakat, memasukkan nominal sesuai hasil perhitungan, mengisi data diri, memilih metode pembayaran yang tersedia, lalu menyelesaikan transaksi. Setelah pembayaran berhasil, bukti pembayaran akan diterbitkan sebagai dokumentasi resmi. Mengapa Menggunakan Kalkulator Zakat BAZNAS? Kalkulator Zakat BAZNAS hadir untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menunaikan kewajiban zakat. Beberapa keunggulannya antara lain: - Perhitungan cepat dan praktis.- Menggunakan acuan syariat sesuai ketentuan BAZNAS.- Mengurangi risiko kesalahan dalam menghitung zakat.- Terintegrasi dengan layanan pembayaran zakat secara digital. Kemudahan ini memungkinkan siapa saja menghitung dan menunaikan zakat kapan pun dan dari mana pun. Tunaikan Zakat dengan Lebih Mudah Menghitung zakat kini tidak lagi rumit. Melalui Kalkulator Zakat BAZNAS, masyarakat dapat mengetahui besaran zakat secara cepat, akurat, dan sesuai syariat. Setelah proses perhitungan selesai, pembayaran pun dapat dilakukan dalam satu layanan yang praktis dan aman. Dengan menunaikan zakat melalui BAZNAS, Anda tidak hanya menyempurnakan ibadah, tetapi juga turut berkontribusi dalam mendukung berbagai program pemberdayaan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dakwah, dan kemanusiaan yang memberikan manfaat nyata bagi para mustahik. Hitung zakat Anda sekarang melalui Kalkulator Zakat BAZNAS dan tunaikan zakat dengan mudah, tepat, serta penuh keberkahan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL19/07/2026 | MBL-01
Freelancer Juga Wajib Berzakat? Begini Cara Menghitung Zakat Penghasilan dengan Benar
Freelancer Juga Wajib Berzakat? Begini Cara Menghitung Zakat Penghasilan dengan Benar
PROFESI sebagai freelancer atau pekerja lepas kini semakin diminati karena menawarkan fleksibilitas dalam mengatur waktu dan memilih pekerjaan. Meski tidak menerima gaji tetap setiap bulan, penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan halal tetap berpotensi menjadi objek zakat apabila telah memenuhi ketentuan syariat. Zakat penghasilan tidak hanya berlaku bagi karyawan atau pegawai dengan pendapatan rutin, tetapi juga bagi pekerja mandiri yang memperoleh penghasilan dari berbagai bidang profesi. Dengan memahami ketentuan zakat penghasilan, freelancer dapat menunaikan kewajibannya secara tepat sesuai pedoman yang digunakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Penghasilan Freelancer yang Wajib Dizakati Dalam Islam, setiap penghasilan yang diperoleh melalui pekerjaan yang halal dapat dikenai zakat apabila telah mencapai nisab. Hal ini mencakup berbagai profesi, seperti desainer grafis, penulis, fotografer, konsultan, programmer, penerjemah, content creator, hingga pekerja lepas lainnya. Perbedaan utama antara freelancer dan karyawan terletak pada pola penerimaan penghasilannya. Jika karyawan memperoleh gaji secara tetap setiap bulan, penghasilan freelancer umumnya bersifat fluktuatif, baik dari segi jumlah maupun waktu penerimaannya. Meski demikian, ketentuan zakat tetap mengacu pada total penghasilan yang diperoleh. Berdasarkan ketentuan BAZNAS, zakat penghasilan wajib ditunaikan apabila pendapatan telah mencapai nisab yang setara dengan nilai 85 gram emas per tahun, dengan kadar zakat sebesar 2,5 persen. Cara Menghitung Zakat Penghasilan Freelancer Karena pendapatan freelancer cenderung berubah-ubah, terdapat dua cara yang dapat digunakan untuk menghitung zakat penghasilan. 1. Menghitung Penghasilan Bulanan Jika dalam satu bulan penghasilan telah mencapai atau melebihi nisab bulanan, zakat dapat langsung dibayarkan sebesar 2,5 persen dari penghasilan pada bulan tersebut. Cara ini cocok bagi freelancer yang memperoleh proyek secara rutin meskipun nominalnya berbeda setiap bulan. 2. Menghitung Penghasilan Tahunan Apabila pendapatan sangat fluktuatif, freelancer dapat menjumlahkan seluruh penghasilan yang diterima selama satu tahun. Setelah itu, total penghasilan dibandingkan dengan nisab tahunan yang berlaku. Jika telah mencapai nisab, zakat sebesar 2,5 persen wajib ditunaikan. Contoh Perhitungan Zakat Freelancer Sebagai ilustrasi, seorang freelancer memperoleh penghasilan sebagai berikut: Januari: Rp8.000.000Februari: Rp12.000.000Maret: Rp7.500.000April: Rp15.000.000 Jika pada bulan April penghasilannya telah memenuhi nisab bulanan, maka zakat yang harus dibayarkan adalah: Rp15.000.000 × 2,5% = Rp375.000 Sementara itu, bagi freelancer yang memilih perhitungan tahunan, seluruh pendapatan selama satu tahun dijumlahkan terlebih dahulu. Apabila totalnya telah mencapai nisab, zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 persen dari jumlah penghasilan tersebut. Kapan Zakat Dibayarkan? Freelancer dapat memilih waktu pembayaran zakat sesuai dengan kondisi penghasilannya. Saat menerima penghasilan, apabila pendapatan pada bulan tersebut telah memenuhi nisab. Cara ini lebih praktis dan membantu menjaga konsistensi dalam berzakat. Secara berkala, misalnya setiap akhir bulan atau akhir tahun, dengan menghitung total penghasilan yang telah diperoleh dan menyesuaikannya dengan nisab yang berlaku. Agar prosesnya lebih mudah, BAZNAS menyediakan Kalkulator Zakat yang dapat membantu menghitung besaran zakat secara akurat. Setelah mengetahui jumlah zakat yang harus dibayarkan, muzaki juga dapat langsung menunaikannya melalui layanan pembayaran zakat digital yang disediakan BAZNAS. Menunaikan Zakat sebagai Wujud Syukur Menjadi freelancer bukan berarti terbebas dari kewajiban zakat. Selama penghasilan diperoleh dari pekerjaan yang halal dan telah memenuhi syarat nisab, zakat penghasilan tetap menjadi kewajiban yang perlu ditunaikan. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga menjadi wujud rasa syukur atas rezeki yang diperoleh. Melalui zakat, harta menjadi lebih bersih dan keberkahannya semakin bertambah, sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan yang dikelola oleh BAZNAS.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL19/07/2026 | MBL-01
Ini Panduan Menghitung Zakat Penghasilan Karyawan Swasta Sesuai Syariat!
Ini Panduan Menghitung Zakat Penghasilan Karyawan Swasta Sesuai Syariat!
BAGI seorang muslim yang telah memperoleh penghasilan dan memenuhi ketentuan syariat, menunaikan zakat penghasilan merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud kepedulian terhadap sesama. Kewajiban ini juga berlaku bagi karyawan swasta yang menerima gaji atau pendapatan dari pekerjaan yang halal. Dengan memahami cara menghitung zakat penghasilan, karyawan dapat menunaikan kewajibannya secara tepat dan teratur. Pembayaran zakat setiap kali menerima gaji juga menjadi pilihan yang lebih praktis sehingga tidak perlu menunggu hingga akhir tahun. Apa Itu Zakat Penghasilan? Zakat penghasilan atau zakat profesi adalah zakat yang dikenakan atas pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau profesi yang halal. Penghasilan tersebut dapat berupa gaji pokok, tunjangan, honorarium, bonus, insentif, maupun bentuk pendapatan lainnya. Menurut ketentuan yang digunakan BAZNAS, zakat penghasilan wajib ditunaikan apabila jumlah penghasilan telah mencapai nisab yang setara dengan 85 gram emas dalam satu tahun. Karena harga emas selalu berubah, nilai nisab dalam rupiah pun akan mengikuti harga emas yang berlaku saat perhitungan dilakukan. Apabila telah memenuhi nisab, besaran zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 persen dari penghasilan. Pembayarannya dapat dilakukan setiap bulan setelah menerima gaji atau diakumulasikan selama satu tahun. Cara Menghitung Zakat Penghasilan Perhitungan zakat penghasilan cukup sederhana. Rumus yang digunakan adalah: Zakat Penghasilan = Penghasilan × 2,5% Sebelum menghitung, pastikan terlebih dahulu bahwa total penghasilan telah memenuhi nisab. Jika belum mencapai batas tersebut, zakat penghasilan belum diwajibkan. Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan untuk memperbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Untuk memudahkan proses perhitungan, masyarakat juga dapat memanfaatkan Kalkulator Zakat BAZNAS agar hasilnya lebih akurat dan sesuai dengan ketentuan syariat. Contoh Perhitungan Sebagai ilustrasi, seorang karyawan swasta menerima penghasilan setiap bulan dengan rincian sebagai berikut: Gaji pokok: Rp9.000.000Tunjangan: Rp1.000.000Total penghasilan: Rp10.000.000 Apabila jumlah tersebut telah memenuhi nisab, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah: Rp10.000.000 × 2,5% = Rp250.000 Artinya, karyawan tersebut dapat menunaikan zakat penghasilan sebesar Rp250.000 setiap bulan. Contoh lainnya, jika penghasilan bulanan mencapai Rp15.000.000, maka zakat yang harus dibayarkan adalah: Rp15.000.000 × 2,5% = Rp375.000 Besaran zakat dapat berubah mengikuti jumlah penghasilan yang diterima setiap bulan. Cara Membayar Zakat Penghasilan Setelah mengetahui jumlah zakat yang harus dibayarkan, karyawan dapat menyalurkannya melalui layanan BAZNAS, baik secara langsung maupun melalui kanal digital. Adapun langkah-langkahnya meliputi: - Menghitung total penghasilan dan memastikan telah mencapai nisab.- Menghitung zakat sebesar 2,5 persen dari penghasilan.- Mengakses layanan pembayaran zakat BAZNAS.- Memilih jenis pembayaran Zakat Penghasilan.- Menyelesaikan pembayaran melalui metode yang tersedia.- Menyimpan bukti pembayaran sebagai arsip. Melalui layanan digital, pembayaran zakat dapat dilakukan dengan mudah kapan saja dan di mana saja, sehingga semakin memudahkan para karyawan yang memiliki mobilitas tinggi. Biasakan Menunaikan Zakat Setiap Menerima Gaji Menunaikan zakat penghasilan secara rutin setiap menerima gaji merupakan kebiasaan yang baik. Selain membantu muzaki memenuhi kewajiban tepat waktu, cara ini juga memudahkan pengelolaan keuangan sekaligus memastikan hak para mustahik dapat segera disalurkan. Dana zakat yang dihimpun oleh BAZNAS kemudian dikelola secara profesional dan didayagunakan melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dakwah, serta kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Wujud Syukur atas Rezeki yang Diperoleh Zakat penghasilan bukan sekadar kewajiban, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat rezeki yang Allah SWT berikan. Dengan menyisihkan sebagian harta bagi mereka yang berhak menerima, setiap muslim turut berkontribusi dalam membangun kesejahteraan masyarakat dan memperkuat semangat tolong-menolong. Oleh karena itu, memahami ketentuan, cara menghitung, dan mekanisme pembayaran zakat penghasilan menjadi langkah penting agar ibadah ini dapat ditunaikan dengan mudah, tepat, dan sesuai dengan syariat Islam.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL15/07/2026 | MBL-01
Simak Cara Menghitung Zakat Penghasilan ASN dan Pegawai BUMN!
Simak Cara Menghitung Zakat Penghasilan ASN dan Pegawai BUMN!
ZAKAT penghasilan merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Penghasilan yang diterima setiap bulan, baik berupa gaji pokok maupun berbagai tunjangan, termasuk dalam objek zakat apabila nilainya telah mencapai nisab sesuai ketentuan syariat. Agar pelaksanaannya lebih mudah dan tepat, penting bagi setiap ASN dan pegawai BUMN memahami cara menghitung zakat penghasilan sesuai pedoman yang digunakan oleh BAZNAS. Penghasilan Apa Saja yang Dikenai Zakat? Zakat penghasilan dihitung berdasarkan total pendapatan rutin yang diterima setiap bulan. Komponen penghasilan tersebut meliputi: - Gaji pokok- Tunjangan istri atau suami dan anak- Tunjangan jabatan atau tunjangan fungsional- Tunjangan kinerja (tukin)- Tunjangan tetap lainnya Dalam praktiknya, terdapat dua metode yang umum digunakan dalam menghitung zakat penghasilan. Metode pertama menggunakan penghasilan bruto atau pendapatan sebelum dipotong berbagai kewajiban. Sementara metode kedua menghitung zakat dari penghasilan bersih setelah dikurangi kebutuhan pokok. Sebagai acuan, BAZNAS menggunakan penghasilan bruto sebagai dasar perhitungan karena dinilai lebih berhati-hati dalam menunaikan kewajiban zakat. Ketentuan Nisab Zakat Penghasilan Zakat penghasilan diwajibkan apabila total pendapatan telah mencapai nisab yang setara dengan nilai 85 gram emas per tahun. Untuk memudahkan pembayaran bulanan, nilai tersebut dibagi menjadi nisab bulanan yang mengikuti harga emas terkini. Karena harga emas dapat berubah sewaktu-waktu, masyarakat disarankan mengecek nilai nisab terbaru melalui Kalkulator Zakat BAZNAS sebelum melakukan perhitungan. Selain mencapai nisab, penghasilan yang dizakati juga harus berasal dari sumber yang halal. Cara Menghitung Zakat Penghasilan Perhitungan zakat penghasilan cukup sederhana, yaitu: Zakat = Total Penghasilan Bulanan × 2,5% Apabila penghasilan belum mencapai nisab, maka zakat belum menjadi kewajiban. Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan memperbanyak infak dan sedekah sesuai kemampuan. Contoh Perhitungan Berikut beberapa simulasi perhitungan zakat penghasilan. 1. ASN Golongan III Gaji pokok: Rp3.500.000Tunjangan keluarga: Rp500.000Tunjangan jabatan: Rp1.500.000Tunjangan kinerja: Rp4.000.000 Total penghasilan: Rp9.500.000 Apabila telah memenuhi nisab, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah: Rp9.500.000 × 2,5% = Rp237.500 per bulan 2. ASN Golongan IV atau Pejabat Struktural Gaji pokok: Rp4.500.000Tunjangan jabatan: Rp3.000.000Tunjangan kinerja: Rp8.000.000Tunjangan lainnya: Rp1.000.000 Total penghasilan: Rp16.500.000 Zakat yang wajib dibayarkan: Rp16.500.000 × 2,5% = Rp412.500 per bulan 3. Pegawai BUMN Gaji pokok: Rp7.000.000Tunjangan tetap: Rp2.000.000Insentif bulanan: Rp3.000.000 Total penghasilan: Rp12.000.000 Zakat yang harus ditunaikan: Rp12.000.000 × 2,5% = Rp300.000 per bulan 4. Penghasilan di Bawah Nisab Gaji pokok: Rp2.200.000Tunjangan umum: Rp500.000 Total penghasilan: Rp2.700.000 Apabila jumlah tersebut masih berada di bawah nisab bulanan yang berlaku, maka zakat belum diwajibkan. Namun, pemilik penghasilan tetap dianjurkan memperbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Cara Menunaikan Zakat Melalui BAZNAS Setelah mengetahui besaran zakat yang harus dibayarkan, ASN maupun pegawai BUMN dapat menunaikannya melalui berbagai layanan yang disediakan BAZNAS. Bagi instansi yang telah bekerja sama dengan BAZNAS, pembayaran zakat dapat dilakukan melalui mekanisme pemotongan gaji oleh bendahara atau bagian keuangan. Sementara itu, bagi yang belum memiliki fasilitas tersebut, zakat dapat dibayarkan secara mandiri melalui layanan digital BAZNAS menggunakan transfer bank, QRIS, maupun dompet digital. Sebagai lembaga amil zakat resmi, BAZNAS juga menerbitkan bukti pembayaran zakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pengurang Penghasilan Kena Pajak (PKP) sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. Karena itu, muzaki dianjurkan menyimpan bukti pembayaran sebagai arsip. Tunaikan Zakat Penghasilan Tepat Waktu Membayar zakat penghasilan secara rutin setiap menerima gaji merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud syukur atas rezeki yang diberikan. Selain menyucikan harta, zakat yang ditunaikan melalui BAZNAS akan dikelola secara amanah dan profesional untuk membantu para mustahik melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dakwah, dan kemanusiaan. Dengan memahami ketentuan nisab, cara perhitungan, dan mekanisme pembayarannya, ASN maupun pegawai BUMN dapat menunaikan zakat penghasilan secara tepat, mudah, dan sesuai syariat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL15/07/2026 | MBL-01
Anda ingin Jadi Orang Tua Sukses? Ini Cara Membangun Karakter Anak melalui Parenting Islami
Anda ingin Jadi Orang Tua Sukses? Ini Cara Membangun Karakter Anak melalui Parenting Islami
SETIAP orang tua tentu mendambakan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, cerdas, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama. Dalam Islam, tanggung jawab mendidik anak bukan hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik atau memberikan pendidikan formal, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak, dan karakter yang akan menjadi bekal mereka sepanjang hayat. Anak merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan dibimbing dengan penuh kasih sayang. Karena itu, orang tua perlu membekali diri dengan ilmu parenting Islami agar dapat mendampingi tumbuh kembang anak sesuai tuntunan syariat. Melalui keteladanan, kesabaran, dan doa yang terus dipanjatkan, orang tua dapat membantu anak menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai Islam. Pendidikan Anak Berawal dari Keteladanan Orang Tua Dalam Islam, proses mendidik anak sesungguhnya dimulai dari diri orang tua. Anak cenderung meniru apa yang mereka lihat setiap hari daripada sekadar mendengar nasihat. Oleh sebab itu, sebelum mengajarkan berbagai kebaikan kepada anak, orang tua hendaknya berusaha menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga salat, berkata jujur, menghormati orang lain, bersikap sabar, serta membiasakan akhlak yang baik akan menjadi contoh nyata yang mudah ditiru oleh anak. Keteladanan merupakan salah satu metode pendidikan yang paling efektif. Lingkungan keluarga yang dipenuhi nilai-nilai kebaikan akan membentuk karakter anak secara alami sejak usia dini. Menanamkan Akidah Sejak Dini Fondasi utama dalam parenting Islami adalah mengenalkan anak kepada Allah SWT sejak mereka masih kecil. Anak perlu memahami bahwa setiap nikmat berasal dari Allah dan setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Penanaman akidah dapat dilakukan melalui berbagai cara sederhana, seperti mengenalkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya, membiasakan anak bersyukur, mengajarkan doa dalam setiap aktivitas, serta mengenalkan kisah-kisah teladan Rasulullah SAW. Akidah yang kuat akan menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif di masa mendatang. Membiasakan Akhlak Mulia Salah satu tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah membentuk akhlak yang baik. Karena itu, orang tua perlu membiasakan anak menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa akhlak yang dapat ditanamkan sejak kecil antara lain: - Berkata jujur.- Menghormati orang tua.- Menyayangi saudara.- Menghargai teman.- Gemar menolong sesama.- Menjaga kebersihan.- Bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter yang melekat hingga anak dewasa. Mendidik dengan Kasih Sayang Kasih sayang menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan antara orang tua dan anak. Rasulullah SAW memberikan teladan dalam mendidik anak dengan kelembutan, perhatian, dan cinta. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang umumnya memiliki rasa percaya diri yang lebih baik serta lebih mudah menerima arahan dari orang tuanya. Namun, kasih sayang bukan berarti memanjakan anak tanpa batas. Orang tua tetap perlu memberikan aturan dan batasan agar anak memahami mana yang benar dan mana yang perlu dihindari. Mengajarkan Disiplin dengan Bijaksana Disiplin merupakan bagian penting dalam proses pendidikan anak. Dalam Islam, disiplin tidak identik dengan hukuman yang keras, melainkan membiasakan anak bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain: Menyusun jadwal harian yang teratur untuk belajar, bermain, beribadah, dan beristirahat.Menerapkan aturan secara konsisten.Memberikan konsekuensi yang bersifat mendidik ketika anak melakukan kesalahan.Memberikan apresiasi atas setiap usaha dan pencapaian anak agar mereka semakin termotivasi. Melatih Tanggung Jawab Sejak Kecil Anak perlu dibiasakan bertanggung jawab sesuai dengan usia dan kemampuannya. Kebiasaan sederhana seperti merapikan tempat tidur, menyimpan mainan setelah digunakan, membantu pekerjaan rumah, atau menjaga barang miliknya akan melatih kemandirian sekaligus membentuk karakter yang bertanggung jawab. Bijak Mengelola Penggunaan Gadget Di era digital, penggunaan gadget menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang tua. Islam mengajarkan keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam memanfaatkan teknologi. Orang tua dapat mengatur waktu penggunaan gadget, memilihkan tontonan yang bermanfaat, mendampingi anak saat mengakses internet, mengajak mereka lebih banyak beraktivitas di luar rumah, serta menumbuhkan minat membaca buku. Pendampingan yang tepat akan membantu anak terhindar dari berbagai pengaruh negatif di dunia digital. Menumbuhkan Kecintaan terhadap Al-Qur'an dan Ibadah Mengenalkan ibadah sejak dini merupakan bagian penting dari pendidikan Islami. Orang tua dapat mengajak anak salat berjamaah, membaca Al-Qur'an bersama, menghafal doa-doa harian, mendengarkan kisah para nabi, hingga membiasakan bersedekah. Semua itu sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan agar anak memahami bahwa ibadah merupakan kebutuhan, bukan sekadar kewajiban. Bangun Komunikasi yang Hangat Hubungan yang baik antara orang tua dan anak tidak lepas dari komunikasi yang terbuka. Luangkan waktu setiap hari untuk mendengarkan cerita anak, memahami perasaannya, menghargai pendapatnya, serta memberikan solusi dengan penuh kebijaksanaan. Anak yang merasa didengarkan akan lebih mudah terbuka ketika menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya. Hindari Kekerasan dalam Mendidik Anak Islam mengajarkan kelembutan dalam membimbing generasi. Kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dapat meninggalkan luka yang berdampak hingga dewasa. Sebaliknya, orang tua dianjurkan membimbing anak melalui nasihat yang baik, dialog, keteladanan, kesabaran, dan doa. Pendekatan yang penuh kasih akan menciptakan hubungan yang lebih harmonis sekaligus membuat anak lebih mudah menerima arahan. Menanamkan Rasa Syukur dan Kepedulian Mengajarkan rasa syukur sejak dini merupakan bagian dari pembentukan karakter. Orang tua dapat membiasakan anak untuk bersyukur atas setiap nikmat, menghargai pemberian orang lain, tidak mudah mengeluh, serta gemar berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Kebiasaan tersebut akan menumbuhkan pribadi yang rendah hati, peduli terhadap sesama, dan tidak mudah iri terhadap orang lain. Pentingnya Doa dalam Mendidik Anak Selain berikhtiar melalui pendidikan dan keteladanan, orang tua juga perlu senantiasa mendoakan anak-anaknya. Doa merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang sangat dianjurkan dalam Islam. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT senantiasa menjaga, membimbing, dan menjadikan anak-anak mereka sebagai pribadi yang saleh, berilmu, dan membawa keberkahan bagi keluarga maupun masyarakat. Menghadapi Tantangan Parenting di Era Modern Perkembangan teknologi dan informasi menghadirkan tantangan baru dalam mendidik anak. Pengaruh media sosial, derasnya arus informasi, pergaulan, hingga ketergantungan terhadap gawai menjadi hal yang perlu dihadapi dengan bijak. Karena itu, orang tua dituntut untuk terus belajar dan menyesuaikan pola pengasuhan tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Keteladanan, komunikasi yang baik, pendidikan agama yang kuat, serta pendampingan yang konsisten akan menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Pada akhirnya, parenting Islami bukan sekadar upaya membentuk anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang beriman, berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga setiap ikhtiar orang tua dalam mendidik anak menjadi amal saleh yang mendatangkan keberkahan serta mendapat ridha Allah SWT.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL15/07/2026 | MBL-01
Tiga Amalan Sunah di Bulan Safar yang Dianjurkan dalam Islam
Tiga Amalan Sunah di Bulan Safar yang Dianjurkan dalam Islam
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat. Sebagian orang masih meyakini bahwa Safar identik dengan kesialan atau menjadi waktu yang kurang baik untuk melangsungkan berbagai aktivitas penting, seperti menikah, memulai usaha, atau bepergian. Padahal, anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita menjadikan Al-Qur'an dan hadis sahih sebagai pedoman dalam memahami setiap persoalan, termasuk mengenai Bulan Safar. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa kesialan. Setiap waktu yang Allah SWT ciptakan adalah baik dan dapat menjadi ladang pahala apabila diisi dengan amal saleh. Meski tidak ada ibadah yang dikhususkan hanya untuk Bulan Safar, umat Islam tetap dianjurkan memperbanyak berbagai amalan sunah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk meluruskan pemahaman yang keliru tentang Bulan Safar sekaligus meningkatkan kualitas ibadah. Memahami Bulan Safar dalam Islam Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalender Hijriah. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab meyakini bahwa bulan ini membawa kesialan sehingga mereka enggan melakukan perjalanan atau mengadakan berbagai kegiatan penting. Keyakinan tersebut kemudian diluruskan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena burung, tidak ada hantu, dan tidak ada kesialan pada Bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh waktu atau bulan tertentu. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak seharusnya mempercayai mitos yang bertentangan dengan ajaran Islam. 1. Memperbanyak Puasa Sunah Salah satu amalan yang dianjurkan selama Bulan Safar adalah memperbanyak puasa sunah. Ibadah ini dapat dilakukan sebagaimana pada bulan-bulan lainnya, seperti: - Puasa Senin dan Kamis.- Puasa Ayyamul Bidh setiap tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah.- Puasa Daud bagi yang mampu menjalankannya. Puasa sunah menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan, melatih kesabaran, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, ibadah ini juga menjadi salah satu amalan yang dapat menghapus dosa-dosa kecil dan melatih keikhlasan seorang hamba. 2. Memperbanyak Sedekah Sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, termasuk ketika memasuki Bulan Safar. Bentuk sedekah pun tidak terbatas pada harta. Memberikan makanan, membantu orang yang membutuhkan, menyumbangkan tenaga, hingga memberikan senyuman kepada sesama juga termasuk sedekah yang bernilai ibadah. Melalui sedekah, seorang muslim dapat membersihkan hartanya, menumbuhkan rasa syukur, sekaligus menghadirkan manfaat bagi orang lain. Islam juga tidak mengenal adanya sedekah khusus sebagai penolak bala pada Bulan Safar. Namun, sedekah secara umum merupakan amal saleh yang memiliki keutamaan besar dan dianjurkan setiap saat. 3. Memperbanyak Zikir, Doa, dan Membaca Al-Qur'an Menghidupkan hari-hari di Bulan Safar dengan zikir, doa, dan membaca Al-Qur'an juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Zikir dapat membuat hati menjadi lebih tenang dan semakin mengingat kebesaran Allah SWT. Beberapa zikir yang dapat diamalkan setiap hari antara lain: - Istigfar.- Tasbih.- Tahmid.- Takbir.- Tahlil.- Selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, membiasakan membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an akan semakin memperkuat hubungan seorang muslim dengan Allah SWT. Bulan Safar Bukan Bulan Pembawa Sial Salah satu hal yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa Bulan Safar membawa kesialan. Dalam Islam, seluruh takdir berada di bawah kehendak Allah SWT. Tidak ada waktu atau bulan yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan musibah dengan sendirinya. Karena itu, umat Islam diajarkan untuk bertawakal kepada Allah SWT dan menjauhi segala bentuk tahayul maupun kepercayaan yang tidak memiliki landasan syariat. Menjadikan mitos sebagai dasar dalam mengambil keputusan dapat mengurangi kesempurnaan tauhid apabila diyakini memiliki pengaruh selain kehendak Allah SWT. Hikmah Mengisi Bulan Safar dengan Amal Saleh Memperbanyak ibadah pada Bulan Safar memberikan banyak manfaat, baik bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Di antaranya adalah memperkuat keimanan, meluruskan akidah, menambah pahala, menghadirkan ketenangan hati, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, Bulan Safar seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas diri, bukan justru dipenuhi rasa takut terhadap mitos yang tidak berdasar. Hindari Mitos yang Bertentangan dengan Syariat Masih dijumpai sebagian masyarakat yang mempercayai berbagai tradisi tanpa landasan agama, seperti menganggap Safar sebagai bulan sial, menunda pernikahan, enggan bepergian, atau melakukan ritual tertentu untuk menghindari musibah. Sebagai seorang muslim, hendaknya kita menjadikan Al-Qur'an dan sunah sebagai pedoman dalam menyikapi Bulan Safar. Tidak ada alasan untuk menunda aktivitas atau merasa khawatir hanya karena memasuki bulan ini. Jadikan Bulan Safar sebagai Momentum Beramal Selain memperbanyak ibadah, Bulan Safar juga dapat diisi dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat, seperti mengikuti kajian keislaman, mempererat silaturahmi, membaca buku-buku Islam, membantu sesama, mengajarkan ilmu kepada keluarga, serta terus memperbaiki kualitas salat dan ibadah harian. Pada dasarnya, tidak ada amalan khusus yang hanya disyariatkan untuk Bulan Safar. Namun, memperbanyak amal saleh pada bulan ini tetap menjadi anjuran sebagaimana pada bulan-bulan lainnya. Puasa sunah, sedekah, serta memperbanyak zikir, doa, dan membaca Al-Qur'an merupakan beberapa amalan yang dapat menjadi bekal untuk meningkatkan keimanan dan meraih keberkahan. Mari jadikan Bulan Safar sebagai kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, meninggalkan berbagai mitos yang tidak sesuai dengan syariat, dan mengisi setiap hari dengan amal kebaikan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun sesama.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL12/07/2026 | MBL-01
Zakat di Bulan Safar, Bolehkah? Ini Penjelasan Menunaikannya!
Zakat di Bulan Safar, Bolehkah? Ini Penjelasan Menunaikannya!
MASIH banyak umat Islam yang mengira zakat sebaiknya ditunaikan pada bulan Ramadan karena dianggap memiliki keutamaan yang lebih besar. Padahal, dalam syariat Islam, kewajiban zakat tidak ditentukan oleh bulan tertentu, melainkan berdasarkan terpenuhinya syarat wajib zakat, seperti nisab dan haul. Artinya, jika kewajiban zakat jatuh pada bulan Safar, maka zakat sebaiknya segera ditunaikan tanpa perlu menunggu Ramadan. Hukum Menunaikan Zakat pada Bulan Safar Tidak ada ketentuan dalam Al-Qur'an maupun hadis yang melarang pembayaran zakat pada bulan Safar. Sebaliknya, zakat mal dapat ditunaikan kapan saja setelah memenuhi syarat wajibnya. Menunda pembayaran zakat tanpa alasan yang dibenarkan tidak dianjurkan, karena zakat merupakan hak mustahik yang harus segera disalurkan ketika telah jatuh tempo. Kapan Zakat Wajib Ditunaikan? Seorang muslim berkewajiban menunaikan zakat apabila telah memenuhi beberapa syarat berikut: - Harta telah mencapai nisab atau batas minimal wajib zakat.- Kepemilikan harta telah mencapai haul, yaitu satu tahun Hijriah (khusus zakat mal).- Pemilik harta beragama Islam dan memenuhi syarat sebagai wajib zakat. Jika seluruh syarat tersebut terpenuhi pada bulan Safar, maka zakat wajib dibayarkan pada bulan tersebut. Mengapa Zakat Sebaiknya Dibayar Tepat Waktu? Menunaikan zakat sesuai waktu jatuh temponya merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Selain menjalankan kewajiban, zakat juga memiliki banyak hikmah, di antaranya: - Menyucikan harta dan jiwa.- Menjadi wujud kepedulian kepada fakir miskin dan golongan yang berhak menerima zakat.- Menghadirkan keberkahan dalam harta yang dimiliki.- Membantu mempercepat penyaluran manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan. Semakin cepat zakat ditunaikan, semakin cepat pula manfaatnya dapat dirasakan oleh para mustahik. Apakah Harus Menunggu Bulan Ramadan? Jawabannya tidak. Ramadan memang dikenal sebagai bulan yang penuh keberkahan sehingga banyak orang memilih menunaikan zakat pada bulan tersebut. Namun, hal itu bukan berarti zakat hanya boleh dibayarkan saat Ramadan. Untuk zakat mal, waktu pembayarannya mengikuti terpenuhinya nisab dan haul. Jadi, apabila kewajiban zakat jatuh pada bulan Safar, tidak ada alasan untuk menundanya hingga Ramadan. Cara Menghitung Zakat Mal Besaran zakat mal yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 persen dari harta yang telah mencapai nisab dan haul. Sebagai contoh, apabila seseorang memiliki harta bersih sebesar Rp100.000.000 yang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah: 2,5% × Rp100.000.000 = Rp2.500.000. Perhitungan yang tepat akan membantu memastikan zakat ditunaikan sesuai ketentuan syariat. Tunaikan Zakat Tepat Waktu Menunaikan zakat pada bulan Safar hukumnya sah dan diperbolehkan dalam Islam. Bahkan, apabila kewajiban zakat telah jatuh tempo pada bulan ini, maka sebaiknya segera ditunaikan tanpa menunggu bulan Ramadan. Zakat bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana membersihkan harta, memperkuat kepedulian sosial, serta membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, tunaikan zakat tepat waktu melalui lembaga pengelola zakat yang amanah dan profesional agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh mereka yang berhak menerimanya.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL10/07/2026 | MBL-01
Hikmah Bulan Safar: Momentum Perkuat Iman dan Meninggalkan Mitos
Hikmah Bulan Safar: Momentum Perkuat Iman dan Meninggalkan Mitos
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat. Sebagian orang meyakini bulan ini identik dengan kesialan atau waktu yang kurang baik untuk memulai suatu aktivitas. Padahal, anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Sebaliknya, Bulan Safar dapat menjadi momentum bagi setiap muslim untuk memperkuat keimanan, meluruskan pemahaman tentang tauhid, serta memperbanyak amal saleh. Memahami hikmah Bulan Safar akan membantu umat Islam menjalani bulan ini dengan penuh keyakinan dan optimisme, tanpa dipengaruhi kepercayaan yang bertentangan dengan syariat. Mengenal Bulan Safar dalam Islam Safar adalah bulan kedua setelah Muharram dalam kalender Hijriah. Pada masa Arab jahiliah, masyarakat meyakini bahwa bulan ini membawa kesialan sehingga mereka menghindari berbagai aktivitas penting, seperti menikah, bepergian, atau memulai usaha. Namun, Rasulullah SAW meluruskan keyakinan tersebut melalui sabdanya: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena burung, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa keberuntungan maupun kesialan. Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Hikmah Bulan Safar yang Perlu Dipahami 1. Menguatkan Tauhid dan Menjauhi Tahayul Salah satu pelajaran terbesar dari Bulan Safar adalah pentingnya menjaga kemurnian akidah. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh menggantungkan keyakinannya pada mitos atau kepercayaan yang tidak memiliki dasar syariat. Keberuntungan maupun musibah hanya terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena pengaruh waktu atau bulan tertentu. 2. Menumbuhkan Sikap Tawakal Bulan Safar juga mengingatkan umat Islam untuk selalu bertawakal setelah berikhtiar. Setiap keputusan dan langkah dalam kehidupan hendaknya didasarkan pada usaha yang maksimal serta kepercayaan penuh kepada Allah SWT, bukan pada rasa takut terhadap anggapan yang belum tentu benar. 3. Memotivasi untuk Memperbanyak Amal Saleh Tidak ada ibadah khusus yang hanya dianjurkan pada Bulan Safar. Namun, bulan ini tetap menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan kualitas ibadah, seperti: - Menjaga salat wajib dan memperbanyak salat sunah.- Membaca Al-Qur'an setiap hari.- Memperbanyak zikir dan istigfar.- Bersedekah dan membantu sesama.- Memperbanyak doa kepada Allah SWT. Setiap amal baik yang dilakukan dengan ikhlas akan bernilai pahala, kapan pun waktunya. 4. Mengajarkan Sikap Optimis Sebagian orang masih menunda pernikahan, membuka usaha, atau melakukan perjalanan karena menganggap Bulan Safar membawa kesialan. Islam justru mengajarkan agar setiap muslim bersikap optimis dan tidak mengambil keputusan berdasarkan prasangka atau mitos yang tidak memiliki landasan. 5. Mengingatkan Bahwa Ujian Bisa Datang Kapan Saja Musibah bukan hanya terjadi pada Bulan Safar. Dalam Islam, setiap waktu merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT yang dapat menjadi ujian maupun nikmat bagi hamba-Nya. Yang terpenting adalah bagaimana seorang muslim menyikapinya dengan sabar, ikhtiar, dan tawakal. Mitos yang Perlu Ditinggalkan Hingga kini, masih ada sebagian masyarakat yang mempercayai berbagai anggapan keliru tentang Bulan Safar, seperti: - Menganggap Safar sebagai bulan sial.- Menunda pernikahan tanpa alasan syar'i.- Takut memulai usaha atau bepergian pada bulan ini.- Mempercayai ramalan atau hitungan tertentu yang tidak memiliki dasar dalam Islam. Sebagai muslim, sudah semestinya menjadikan Al-Qur'an dan sunah sebagai pedoman, bukan kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Mengisi Bulan Safar dengan Kebaikan Agar Bulan Safar menjadi lebih bermakna, umat Islam dapat mengisinya dengan berbagai amal saleh, di antaranya memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah, menjauhi tahayul dan syirik, meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah, serta terus berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT. Bulan ini juga menjadi pengingat untuk terus menjaga semangat berbuat baik dan memberikan manfaat bagi sesama dalam kehidupan sehari-hari. Jadikan Safar sebagai Momentum Memperbaiki Diri Hikmah Bulan Safar bukan terletak pada mitos tentang kesialan, melainkan pada kesempatan untuk memperkuat akidah, meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak amal saleh. Islam mengajarkan bahwa setiap bulan adalah waktu yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menebarkan kebaikan. Dengan memahami makna Bulan Safar secara benar, umat Islam dapat meninggalkan berbagai anggapan yang keliru dan menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan, optimisme, serta semangat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL10/07/2026 | MBL-01
Harta Apa Saja Wajib Dizakati? Kenali Jenis dan Ketentuannya!
Harta Apa Saja Wajib Dizakati? Kenali Jenis dan Ketentuannya!
ZAKAT maal merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang hartanya telah memenuhi syarat tertentu. Namun, tidak sedikit yang masih bertanya, harta apa saja yang wajib dizakati? Apakah seluruh harta yang dimiliki harus dikeluarkan zakatnya? Dalam Islam, tidak semua jenis harta dikenai zakat. Syariat telah mengatur bahwa hanya harta tertentu yang memiliki nilai ekonomis, berkembang, serta telah mencapai nisab dan haul yang wajib dizakati. Memahami ketentuan ini penting agar zakat dapat ditunaikan dengan benar sesuai tuntunan syariat. Apa yang Dimaksud dengan Harta Wajib Zakat? Harta yang wajib dizakati adalah harta yang dimiliki secara sah oleh seorang muslim, diperoleh melalui cara yang halal, memiliki potensi untuk berkembang, dan telah memenuhi syarat yang ditetapkan dalam syariat Islam. Allah SWT berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103) Ayat tersebut menegaskan bahwa zakat bukan hanya berfungsi menyucikan harta dan jiwa pemiliknya, tetapi juga menjadi sarana membantu mereka yang membutuhkan serta mewujudkan pemerataan kesejahteraan di tengah masyarakat. Syarat Harta yang Wajib Dizakati Sebelum dikenai kewajiban zakat, harta harus memenuhi beberapa syarat berikut: 1. Dimiliki Secara Penuh Harta berada dalam kepemilikan yang sah dan dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh pemilik tanpa adanya sengketa. 2. Diperoleh dengan Cara yang Halal Harta yang berasal dari praktik yang dilarang, seperti pencurian, korupsi, riba, atau usaha haram lainnya, tidak menjadi objek zakat karena pada dasarnya tidak boleh dimiliki. 3. Memiliki Potensi Berkembang Harta tersebut dapat bertambah nilainya atau menghasilkan keuntungan, baik secara langsung maupun melalui kegiatan usaha atau investasi. 4. Telah Mencapai Nisab Nisab merupakan batas minimal kepemilikan harta yang mewajibkan seseorang menunaikan zakat. Besarnya nisab berbeda-beda sesuai dengan jenis hartanya. 5. Mencapai Haul Untuk sebagian besar zakat maal, kepemilikan harta harus telah berlangsung selama satu tahun Hijriah (haul). Ketentuan ini tidak berlaku pada beberapa jenis zakat, seperti hasil pertanian dan rikaz. 6. Melebihi Kebutuhan Pokok Zakat dikenakan pada harta yang berada di luar kebutuhan pokok sehari-hari serta setelah dikurangi kewajiban utang yang telah jatuh tempo. Jenis Harta yang Wajib Dizakati 1. Emas, Perak, dan Uang Emas dan perak merupakan harta yang wajib dizakati apabila telah mencapai nisab dan haul. Dalam praktik saat ini, uang tunai juga dipersamakan dengan emas karena sama-sama berfungsi sebagai alat tukar. Yang termasuk dalam kategori ini antara lain: - Emas batangan- Perhiasan emas yang memenuhi ketentuan zakat menurut pendapat ulama- Perak- Uang tunai- Tabungan- Giro- Deposito- Saldo rekening- Saldo dompet digital Besaran zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen dari total harta yang telah memenuhi syarat. 2. Harta Perniagaan Aset yang digunakan untuk kegiatan usaha juga termasuk objek zakat. Perhitungannya dilakukan berdasarkan nilai aset bersih usaha. Contohnya meliputi: - Barang dagangan- Persediaan stok- Keuntungan usaha- Piutang yang dapat ditagih Zakat perdagangan sebesar 2,5 persen dari total aset bersih setelah dikurangi kewajiban jangka pendek. 3. Hasil Pertanian Hasil pertanian wajib dizakati setiap kali panen apabila telah mencapai nisab, tanpa harus menunggu haul. Beberapa hasil pertanian yang termasuk objek zakat antara lain: - Padi- Jagung- Gandum- Kurma- Anggur Besaran zakatnya adalah: - 10 persen apabila pengairannya mengandalkan air hujan atau sumber alami.- 5 persen apabila menggunakan biaya irigasi. 4. Hasil Peternakan Hewan ternak tertentu juga dikenai zakat apabila jumlahnya telah mencapai batas minimal yang ditentukan syariat. Jenis ternak yang termasuk objek zakat di antaranya: - Unta- Sapi atau kerbau- Kambing- Domba Besaran zakatnya menyesuaikan jumlah ternak yang dimiliki. 5. Hasil Tambang dan Rikaz Hasil tambang, seperti emas, perak, maupun logam berharga lainnya, termasuk harta yang wajib dizakati. Demikian pula rikaz, yaitu harta temuan yang memiliki ketentuan zakat tersendiri sesuai syariat. 6. Investasi dan Surat Berharga Seiring perkembangan ekonomi, berbagai instrumen investasi juga dapat menjadi objek zakat apabila memenuhi syarat. Di antaranya: - Saham- Reksa dana- Sukuk- Obligasi syariah- Investasi emas digital Perhitungan zakat disesuaikan dengan jenis investasi dan nilai aset yang dimiliki. Cara Mengetahui Apakah Sudah Wajib Zakat Untuk mengetahui apakah telah berkewajiban menunaikan zakat maal, langkah pertama adalah menghitung seluruh harta yang termasuk objek zakat, seperti uang tunai, tabungan, emas, investasi, piutang yang dapat ditagih, hingga aset usaha. Apabila total harta telah mencapai nisab dan memenuhi haul, maka zakat yang wajib dikeluarkan umumnya sebesar 2,5 persen. Sebagai contoh, jika total harta bersih mencapai Rp250.000.000, maka zakat yang harus ditunaikan adalah: Rp250.000.000 × 2,5% = Rp6.250.000. Hikmah Menunaikan Zakat Maal Menunaikan zakat maal tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menghadirkan berbagai manfaat bagi individu maupun masyarakat. Zakat berperan dalam menyucikan harta, menghadirkan keberkahan rezeki, menumbuhkan rasa syukur, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama. Di sisi lain, zakat juga menjadi instrumen penting dalam mengurangi kesenjangan sosial dan membantu meningkatkan kesejahteraan mustahik. Karena itu, memahami jenis harta yang wajib dizakati merupakan langkah awal agar setiap muslim dapat menunaikan kewajibannya dengan benar sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL10/07/2026 | MBL-01
Menyambut Bulan Safar dengan Doa dan Optimisme kepada Allah
Menyambut Bulan Safar dengan Doa dan Optimisme kepada Allah
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang sering kali dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat. Salah satu anggapan yang masih berkembang adalah keyakinan bahwa bulan ini identik dengan kesialan atau datangnya musibah. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada satu pun dalil yang menyatakan bahwa Bulan Safar membawa kesialan. Rasulullah SAW sendiri telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada waktu, tempat, maupun bulan tertentu. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menyambut Bulan Safar dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT serta memperbanyak amal saleh. Bulan ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat keimanan, dan memperbanyak doa sebagai bentuk penghambaan serta permohonan perlindungan kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak doa memohon keselamatan dan perlindungan. Meskipun tidak terdapat doa khusus yang secara sahih ditetapkan hanya untuk Bulan Safar, umat Islam dapat mengamalkan berbagai doa perlindungan yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan hadis. Di antaranya adalah doa: "Bismillahilladzi la yadurru ma'asmihi syai'un fil ardi wa la fis-sama'i wa huwas-sami'ul-'alim." Artinya: "Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat memberikan bahaya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Doa tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar seorang muslim untuk memohon penjagaan Allah SWT dari segala keburukan, gangguan, maupun musibah yang tidak diinginkan. Selain berdoa, Bulan Safar juga dapat diisi dengan berbagai amalan kebaikan seperti membaca Al-Qur'an, memperbanyak istigfar, melaksanakan salat sunnah, bersedekah, dan memperbanyak zikir. Amalan-amalan tersebut tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga membantu menumbuhkan ketenangan hati serta memperkuat hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Sebagai muslim, penting untuk meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan berada dalam kehendak Allah SWT. Kebaikan maupun ujian bukan ditentukan oleh suatu bulan tertentu, melainkan merupakan bagian dari ketetapan-Nya. Oleh sebab itu, Bulan Safar seharusnya dijalani dengan sikap optimis, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan ketakwaan, bukan dengan rasa takut terhadap mitos yang tidak memiliki landasan syariat. Dengan memperkuat doa, tawakal, dan amal saleh, Bulan Safar dapat menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga setiap langkah yang dijalani pada bulan ini senantiasa berada dalam lindungan-Nya serta dipenuhi keberkahan, ketenangan, dan rahmat bagi seluruh umat Islam.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Menyikapi Bulan Safar dengan Benar: Tinggalkan Mitos, Perbanyak Amal Saleh
Menyikapi Bulan Safar dengan Benar: Tinggalkan Mitos, Perbanyak Amal Saleh
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Namun, hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan bulan ini dengan berbagai mitos, seperti anggapan bahwa Safar membawa kesialan atau menjadi waktu yang kurang baik untuk memulai suatu kegiatan. Dalam Islam, keyakinan semacam itu tidak memiliki landasan yang sahih. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memahami Bulan Safar berdasarkan Al-Qur'an dan sunah, bukan berdasarkan kepercayaan yang diwariskan tanpa dasar syariat. Rasulullah SAW telah meluruskan keyakinan masyarakat Arab pada masa jahiliah yang menganggap Safar sebagai bulan pembawa sial. Beliau menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada waktu atau bulan tertentu. Dengan demikian, setiap Muslim hendaknya meyakini bahwa segala kebaikan maupun ujian datang atas kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh suatu bulan. Berbeda dengan Ramadan, Zulhijah, atau Muharam yang memiliki keutamaan khusus berdasarkan dalil, tidak terdapat riwayat sahih yang menyebutkan adanya keistimewaan tertentu pada Bulan Safar. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti Safar menjadi bulan yang kurang bernilai. Sebagaimana bulan-bulan lainnya, Safar tetap menjadi kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ada banyak amalan yang dapat dilakukan selama Bulan Safar. Umat Islam dianjurkan untuk menjaga salat wajib, memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, serta memperbanyak istigfar. Selain itu, mempererat silaturahmi, menjaga akhlak, bersedekah, dan menunaikan zakat bagi yang telah memenuhi syarat juga menjadi bentuk ibadah yang sangat dianjurkan. Setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan mendapatkan balasan dari Allah SWT, tanpa bergantung pada bulan tertentu. Di sisi lain, penting bagi umat Islam untuk meluruskan berbagai anggapan keliru yang masih berkembang mengenai Bulan Safar. Kepercayaan bahwa bulan ini identik dengan musibah atau membawa nasib buruk tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Sikap yang seharusnya dimiliki seorang Muslim adalah memperkuat ikhtiar, memperbanyak doa, bertawakal, dan terus beramal saleh, bukan merasa takut karena mitos yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk nyata dari kepedulian tersebut adalah menunaikan zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan. Melalui zakat yang dikelola secara amanah dan profesional, manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam mewujudkan kesejahteraan umat. Jadikan Bulan Safar sebagai kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak amal kebaikan dan meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Dengan begitu, setiap waktu yang Allah anugerahkan akan menjadi ladang pahala dan keberkahan bagi kehidupan di dunia maupun akhirat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Amalan di Bulan Safar yang Dianjurkan untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
Amalan di Bulan Safar yang Dianjurkan untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat, seperti anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan atau menjadi waktu yang kurang baik untuk memulai suatu hal. Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW justru menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada bulan Safar maupun waktu tertentu. Karena itu, umat Islam hendaknya menyambut bulan ini dengan memperkuat keimanan dan memperbanyak amal saleh, bukan dengan mempercayai mitos yang bertentangan dengan syariat. Ketika membahas amalan di bulan Safar, perlu dipahami bahwa Islam tidak menetapkan ibadah khusus yang hanya dilakukan pada bulan ini. Namun, Safar tetap menjadi momentum yang baik untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amalan yang dianjurkan sepanjang waktu. Salah satu amalan yang dapat diperbanyak adalah berdoa. Seorang Muslim dianjurkan untuk senantiasa memohon ampunan, kesehatan, kemudahan rezeki, perlindungan, serta keberkahan hidup kepada Allah SWT. Doa menjadi bentuk penghambaan sekaligus wujud keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu memberikan manfaat dan menolak segala keburukan. Selain itu, memperbanyak istigfar dan zikir juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Istigfar mengajarkan seorang Muslim untuk senantiasa menyadari kekhilafan diri dan memohon ampun kepada Allah, sementara zikir dapat menenangkan hati serta memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Amalan lain yang tidak kalah penting adalah membaca dan mentadabburi Al-Qur'an. Tidak hanya sekadar membaca, memahami makna dan mengamalkan kandungannya akan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini dapat dilakukan kapan saja, termasuk di bulan Safar, sebagai bekal untuk meningkatkan ketakwaan. Safar juga dapat menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak sedekah dan kepedulian sosial. Berbagi kepada sesama merupakan salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar karena selain membersihkan harta, juga membantu meringankan beban mereka yang membutuhkan. Kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui zakat, infak, sedekah, maupun berbagai aksi kemanusiaan. Menyalurkan dana ZIS melalui BAZNAS menjadi salah satu ikhtiar agar bantuan tersalurkan secara amanah, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Di samping itu, setiap Muslim dianjurkan untuk terus memperbanyak amal saleh, seperti menjaga silaturahmi, memperbaiki akhlak, membantu sesama, serta menjalankan berbagai kebaikan lainnya. Bulan Safar bukanlah waktu untuk merasa khawatir karena mitos yang tidak berdasar, melainkan kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas diri dan memperbanyak bekal amal menuju ridha Allah SWT. Perlu dipahami pula bahwa hingga kini tidak terdapat hadis sahih yang menetapkan adanya salat khusus, puasa khusus, doa tertentu, maupun ritual tertentu yang hanya dikhususkan pada bulan Safar. Oleh sebab itu, umat Islam hendaknya berhati-hati terhadap amalan yang tidak memiliki landasan syariat, serta lebih mengutamakan ibadah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pada akhirnya, bulan Safar adalah bagian dari perjalanan waktu yang Allah SWT ciptakan tanpa membawa kesialan maupun keberuntungan tertentu. Yang menentukan baik atau buruknya kehidupan seseorang adalah keimanan, ikhtiar, dan ketakwaannya kepada Allah. Dengan memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, serta mengerjakan berbagai amal saleh, setiap Muslim dapat menjadikan bulan Safar sebagai momentum untuk terus bertumbuh dalam kebaikan dan meraih keberkahan hidup.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Memahami Bulan Safar dalam Islam: Menepis Mitos, Memperbanyak Amal Saleh
Memahami Bulan Safar dalam Islam: Menepis Mitos, Memperbanyak Amal Saleh
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Di sebagian masyarakat, bulan ini masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos, seperti anggapan sebagai bulan yang membawa kesialan atau musibah. Padahal, dalam ajaran Islam tidak terdapat dalil yang menyebutkan bahwa Safar adalah bulan yang buruk. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar setiap Muslim memandang seluruh waktu sebagai ciptaan Allah SWT yang memiliki nilai sama, serta mengisinya dengan amal saleh dan ketakwaan. Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah SWT telah menetapkan jumlah bulan dalam setahun sebanyak dua belas bulan, sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 36. Ketetapan ini menunjukkan bahwa setiap bulan, termasuk Safar, merupakan bagian dari tatanan yang telah Allah tetapkan sejak penciptaan langit dan bumi. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk meyakini bahwa suatu bulan memiliki kesialan yang melekat padanya. Pemahaman tersebut juga diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW yang meluruskan keyakinan masyarakat Arab pada masa jahiliah. Beliau bersabda bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar, sebagaimana tidak ada kesialan yang berasal dari pertanda-pertanda tertentu. Hadis ini menjadi pengingat bahwa seorang Muslim harus menjaga kemurnian akidah dengan hanya bersandar kepada Allah SWT, serta tidak mempercayai mitos yang bertentangan dengan ajaran Islam. Meski tidak memiliki keutamaan khusus sebagaimana Ramadan atau bulan-bulan haram, Safar tetap menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak ibadah. Umat Islam dianjurkan untuk menjaga salat wajib, memperbanyak membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, bersedekah, dan mengerjakan berbagai amalan sunah lainnya. Setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan memperoleh balasan dari Allah SWT, tanpa dibatasi oleh bulan tertentu. Dalam catatan sejarah Islam, bulan Safar juga menjadi bagian dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Beberapa ekspedisi dan aktivitas penting berlangsung pada bulan ini, yang menunjukkan bahwa Safar bukanlah waktu untuk berdiam diri karena rasa takut terhadap mitos. Sebaliknya, bulan ini menjadi bukti bahwa umat Islam tetap menjalankan berbagai aktivitas, berdakwah, dan berikhtiar dalam kehidupan sehari-hari. Hakikat keistimewaan bulan Safar bukan terletak pada adanya amalan khusus atau keyakinan tertentu, melainkan pada kesempatan yang dimiliki setiap Muslim untuk terus memperbaiki diri. Safar menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas ibadah, serta meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak memiliki landasan syariat. Dengan memahami ajaran Islam secara benar, umat Islam dapat menjalani bulan Safar dengan penuh optimisme dan ketenangan. Daripada disibukkan dengan mitos yang tidak berdasar, lebih baik mengisi hari-hari di bulan ini dengan amal saleh, memperbanyak doa, mempererat kepedulian kepada sesama, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Inilah sikap yang diajarkan Islam dalam menyambut setiap waktu yang telah Allah anugerahkan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Mengenal Riba dalam Islam: Pengertian, Jenis, Hukum, dan Cara Menghindarinya
Mengenal Riba dalam Islam: Pengertian, Jenis, Hukum, dan Cara Menghindarinya
DALAM kehidupan sehari-hari, istilah riba sering muncul ketika membahas pinjaman, investasi, hingga berbagai bentuk transaksi keuangan. Namun, tidak sedikit masyarakat yang masih belum memahami secara utuh apa yang dimaksud dengan riba dan mengapa Islam melarangnya. Padahal, memahami konsep riba sangat penting agar setiap Muslim dapat menjalankan aktivitas ekonomi sesuai dengan prinsip syariat. Secara umum, riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam suatu transaksi tanpa adanya imbalan yang dibenarkan menurut syariat. Tambahan tersebut biasanya muncul dalam transaksi utang-piutang atau pertukaran barang tertentu, sehingga salah satu pihak memperoleh keuntungan tanpa adanya risiko atau usaha yang seimbang. Islam memandang praktik seperti ini bertentangan dengan prinsip keadilan yang menjadi dasar dalam setiap aktivitas muamalah. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya memperoleh keuntungan melalui cara-cara yang halal, seperti perdagangan yang jujur, kerja sama usaha, maupun investasi yang sesuai dengan ketentuan syariat. Dengan demikian, setiap keuntungan yang diperoleh berasal dari usaha yang nyata dan memberikan manfaat bagi semua pihak. Dasar Hukum Larangan Riba Larangan riba memiliki landasan yang sangat kuat dalam Al-Qur'an dan hadis. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 275 bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Penegasan ini menunjukkan bahwa keuntungan dari aktivitas perdagangan yang sah berbeda dengan tambahan yang diperoleh melalui praktik riba. Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 278–279, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk meninggalkan segala bentuk riba serta memberikan peringatan keras bagi mereka yang tetap melakukannya. Larangan serupa juga terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 130 yang mengingatkan agar kaum mukmin tidak memakan riba yang berlipat ganda. Rasulullah SAW pun memberikan peringatan yang tegas. Dalam hadis riwayat Muslim dari Jabir RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi riba, pencatat transaksi riba, dan kedua saksinya. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh pihak yang terlibat dalam praktik riba turut memikul tanggung jawab atas transaksi yang dilarang tersebut. Mengapa Riba Diharamkan? Larangan riba bukan sekadar aturan, melainkan bentuk perlindungan Islam terhadap keadilan dalam kehidupan ekonomi. Praktik riba dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik bagi individu maupun masyarakat. Pertama, riba menciptakan ketidakadilan karena pemberi pinjaman memperoleh keuntungan tanpa menanggung risiko, sementara pihak yang meminjam justru menanggung beban yang semakin berat. Kedua, riba berpotensi memperlebar kesenjangan sosial karena orang yang memiliki modal terus memperoleh tambahan keuntungan, sedangkan mereka yang mengalami kesulitan ekonomi semakin terbebani. Selain itu, praktik riba juga bertentangan dengan semangat tolong-menolong yang diajarkan Islam. Memberikan pinjaman seharusnya menjadi bentuk kepedulian kepada sesama, bukan sarana mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain. Tidak jarang pula riba memicu perselisihan, konflik keluarga, hingga masalah hukum akibat beban utang yang terus bertambah. Jenis-Jenis Riba dalam Islam Dalam fikih Islam, riba terbagi ke dalam beberapa bentuk yang penting untuk dipahami. Riba qardh adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi pinjaman. Misalnya, seseorang meminjam uang dengan syarat harus mengembalikan lebih banyak daripada jumlah yang dipinjam. Riba nasi'ah terjadi karena adanya penundaan pembayaran yang disertai tambahan nilai. Jenis ini banyak dijumpai pada utang berbunga, di mana jumlah utang terus bertambah ketika pembayaran ditunda. Riba fadhl terjadi dalam pertukaran barang ribawi yang sejenis tetapi tidak sama takaran, berat, atau kualitasnya. Contohnya, menukar emas dengan emas dalam jumlah yang berbeda secara tunai. Sedangkan riba yad berkaitan dengan transaksi barang ribawi yang tidak disertai serah terima secara langsung sehingga menimbulkan ketidakjelasan dalam akad. Contoh Riba dalam Kehidupan Sehari-hari Praktik riba dapat dijumpai dalam berbagai bentuk transaksi modern, seperti pinjaman berbunga, pinjaman online dengan bunga tinggi, kredit dari rentenir, bunga akibat keterlambatan pembayaran kartu kredit, maupun utang yang terus bertambah karena denda berbunga. Namun demikian, penting dipahami bahwa tidak setiap tambahan dalam transaksi otomatis termasuk riba. Dalam sistem ekonomi syariah terdapat berbagai akad yang telah dikaji oleh para ulama dan berbeda dengan sistem bunga. Oleh karena itu, memahami mekanisme transaksi menjadi hal yang sangat penting agar tidak keliru dalam menilainya. Dampak Buruk Praktik Riba Selain dilarang secara syariat, riba juga membawa berbagai dampak negatif dalam kehidupan. Harta yang diperoleh melalui cara yang tidak halal kehilangan keberkahannya, meskipun jumlahnya banyak. Di sisi lain, sistem bunga dapat membuat utang semakin sulit dilunasi karena nilainya terus bertambah. Praktik riba juga berpotensi merusak hubungan sosial akibat munculnya perselisihan antara pihak yang berutang dan pemberi pinjaman. Dalam skala yang lebih luas, riba dapat memperparah ketimpangan ekonomi karena kekayaan hanya berputar pada kelompok tertentu. Oleh sebab itu, Islam memberikan peringatan yang sangat tegas agar umatnya menjauhi praktik tersebut. Cara Menghindari Riba Menghindari riba merupakan bagian dari ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mempelajari ilmu muamalah agar mampu membedakan transaksi yang halal dengan yang mengandung unsur riba. Selain itu, memilih layanan keuangan berbasis syariah menjadi salah satu ikhtiar untuk menjalankan transaksi sesuai prinsip Islam. Jika membutuhkan pembiayaan, usahakan mencari alternatif yang menggunakan akad syariah dan menghindari sistem bunga. Mengelola keuangan secara bijak juga dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk berutang. Apabila masih ragu terhadap suatu bentuk transaksi, tidak ada salahnya berkonsultasi kepada ulama atau ahli ekonomi syariah agar memperoleh pemahaman yang tepat. Perbedaan Riba dan Jual Beli Masih ada anggapan bahwa keuntungan dalam jual beli sama dengan riba. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Dalam jual beli terdapat pertukaran barang atau jasa, adanya risiko usaha, serta manfaat yang diterima secara seimbang oleh kedua belah pihak berdasarkan kerelaan bersama. Sementara itu, pada praktik riba keuntungan diperoleh tanpa adanya risiko usaha yang seimbang. Tambahan nilai telah ditentukan sejak awal dan cenderung merugikan salah satu pihak, sehingga tidak mencerminkan prinsip keadilan yang diajarkan Islam. Hikmah Larangan Riba Di balik larangan tersebut terdapat banyak hikmah yang membawa kemaslahatan bagi umat. Islam ingin menjaga keadilan dalam setiap transaksi, melindungi masyarakat dari praktik eksploitasi ekonomi, serta menumbuhkan semangat saling membantu di antara sesama. Larangan riba juga mendorong berkembangnya perdagangan dan investasi yang halal, sekaligus menjaga keberkahan harta yang dimiliki. Ketika aktivitas ekonomi dijalankan sesuai syariat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat secara luas. Memahami riba bukan sekadar mengetahui definisinya, tetapi juga memahami nilai keadilan yang ingin diwujudkan oleh Islam dalam kehidupan ekonomi. Dengan mengenali bentuk-bentuk riba dan berusaha menghindarinya, setiap Muslim dapat menjalankan transaksi yang lebih aman, adil, dan sesuai syariat. Semoga setiap ikhtiar untuk mencari rezeki yang halal menjadi jalan memperoleh keberkahan, sekaligus membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL08/07/2026 | MBL-01
Muharam, Waktu Terbaik Memulai Hijrah Menuju Pribadi Lebih Baik
Muharam, Waktu Terbaik Memulai Hijrah Menuju Pribadi Lebih Baik
BULAN Muharam menjadi penanda datangnya tahun baru Hijriah sekaligus salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Lebih dari sekadar pergantian kalender, Muharam merupakan momen yang tepat bagi setiap Muslim untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Setiap pergantian tahun membawa kesempatan untuk meninjau kembali perjalanan hidup. Sudah sejauh mana kualitas ibadah kita meningkat? Apakah hubungan dengan keluarga dan sesama semakin baik? Muharam mengajak setiap Muslim menjadikan pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai langkah awal menuju perubahan yang lebih bermakna. Muharam, Bulan Penuh Keutamaan Muharam termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, menjauhi perbuatan maksiat, serta meningkatkan ketakwaan. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa sunah Asyura pada 10 Muharam, yang disempurnakan dengan puasa pada 9 Muharam (Tasu'a). Selain meraih pahala, berbagai ibadah di bulan ini menjadi sarana untuk memperkuat keimanan sekaligus mengawali tahun dengan semangat baru. Hijrah Dimulai dari Perubahan Diri Makna hijrah tidak hanya terbatas pada perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga menjadi simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Setiap Muslim memiliki kesempatan untuk berhijrah dengan meninggalkan kebiasaan buruk dan membangun karakter yang lebih baik. Perubahan tersebut tidak harus dilakukan secara besar-besaran. Justru, kebiasaan baik yang sederhana namun dilakukan secara konsisten lebih dicintai Allah SWT. Memperbaiki salat, memperbanyak membaca Al-Qur'an, menjaga lisan, meningkatkan sedekah, hingga mempererat silaturahmi dapat menjadi langkah awal hijrah yang nyata. Muhasabah sebagai Awal Perubahan Muharam menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi diri. Renungkan kembali bagaimana hubungan kita dengan Allah SWT, keluarga, dan lingkungan sekitar. Apakah kita sudah lebih sabar? Sudahkah amanah dijalankan dengan baik? Atau masih ada kebiasaan yang perlu diperbaiki? Muhasabah membantu seseorang mengenali kekurangan sekaligus menyusun langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang. Mulailah dari Langkah Sederhana Perbaikan diri tidak harus dimulai dengan target yang besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah justru akan membawa perubahan yang lebih bertahan lama. Misalnya, membiasakan salat tepat waktu, membaca beberapa ayat Al-Qur'an setiap hari, memperbanyak istigfar, menjaga kejujuran, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah. Di sisi lain, tantangan seperti rasa malas atau kurang konsisten tentu akan selalu ada. Karena itu, penting untuk menetapkan target yang realistis agar semangat memperbaiki diri tidak berhenti di awal tahun Hijriah saja. Menjadikan Muharam sebagai Awal Kebiasaan Baik Semangat Muharam hendaknya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan. Nilai-nilai hijrah perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak yang baik, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen untuk terus meningkatkan kualitas ibadah. Pada akhirnya, Muharam mengingatkan bahwa waktu terus berjalan dan usia terus bertambah. Karena itu, setiap pergantian tahun Hijriah menjadi kesempatan berharga untuk membuka lembaran baru dengan hati yang lebih bersih, amal yang lebih baik, dan tekad yang lebih kuat dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga Muharam menjadi awal perubahan yang membawa keberkahan, menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa, bermanfaat bagi sesama, serta istiqamah dalam menapaki jalan kebaikan sepanjang tahun.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/07/2026 | MBL-01
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.

Lihat Daftar Rekening →