WhatsApp Icon
15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah

KEHIDUPAN yang baik dan penuh berkah merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Kehidupan yang berkah juga tercermin dari hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Untuk mewujudkannya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, bekerja dengan jujur, menyayangi keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

Kebiasaan baik tersebut tidak harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Berikut 15 tips Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menjaga Salat Lima Waktu

Salat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang memenuhi ketentuan syariat. Menjaga salat tepat waktu menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasakan menunaikan salat ketika waktunya tiba. Jika memungkinkan, persiapkan diri lebih awal agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang dan khusyuk.

Selain menjaga pelaksanaannya, usahakan memahami bacaan dan menghayati maknanya. Dengan demikian, salat tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga pengingat untuk menjaga perilaku dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.

2. Membiasakan Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca, memahami, dan berusaha mengamalkan ajarannya dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang untuk mulai membaca Al-Qur'an. Sisihkan beberapa menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau sebelum tidur.

Bagi yang belum lancar membaca Al-Qur'an, belajarlah secara bertahap dengan bimbingan guru yang kompeten. Sementara itu, mereka yang sudah lancar dapat memperdalam pemahaman melalui terjemahan dan tafsir.

Konsistensi menjadi hal penting dalam membangun kebiasaan ini. Mulailah dengan target yang realistis agar membaca Al-Qur'an dapat menjadi bagian dari rutinitas harian.

3. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa dan zikir membantu seorang Muslim mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, doa menjadi sarana memohon pertolongan. Saat memperoleh kebahagiaan, zikir dan doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Kebiasaan ini dapat dimulai dengan membaca zikir pagi dan petang, beristigfar, berdoa setelah salat, serta membaca doa sebelum tidur.

Meski demikian, doa dan zikir perlu berjalan beriringan dengan usaha nyata. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, misalnya, seorang Muslim tetap perlu mencari solusi, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki cara bekerja sembari memohon pertolongan Allah SWT.

4. Membiasakan Diri Bersyukur

Bersyukur membantu seseorang menghargai nikmat yang telah dimiliki. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain secara berlebihan justru dapat membuat seseorang lupa terhadap berbagai kebaikan yang telah diterimanya.

Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya.

Syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat untuk tujuan yang baik. Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta membantu sesama, dan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Mulailah dengan menghargai hal-hal sederhana, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, makanan, dan tempat tinggal. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menghargai apa yang dimiliki sambil terus memperbaiki keadaan.

5. Mencari Rezeki yang Halal dan Baik

Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki melalui cara yang halal. Rezeki yang baik tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjaga kejujuran, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati hak orang lain. Hindari penipuan, kecurangan, dan tindakan yang merugikan pihak lain.

Bagi yang menjalankan usaha, sampaikan informasi produk atau jasa secara jujur. Sementara itu, dalam mengelola penghasilan, dahulukan kebutuhan pokok, hindari utang konsumtif yang tidak perlu, dan sisihkan sebagian harta untuk sedekah sesuai kemampuan.

Rezeki yang berkah tidak selalu berarti kekayaan berlimpah. Keberkahan juga dapat tercermin dari kecukupan, ketenangan dalam menggunakannya, serta manfaat yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat.

6. Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 23.

Berbakti dapat diwujudkan melalui perkataan yang sopan, kesediaan mendengarkan nasihat yang baik, membantu kebutuhan mereka, serta meluangkan waktu untuk menemani dan memperhatikan keadaan mereka.

Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi melalui telepon atau melakukan kunjungan secara berkala dapat menjadi bentuk perhatian.

Jika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik dengan mendoakan mereka, menjaga hubungan dengan kerabat, dan melakukan kebaikan yang dibenarkan dalam Islam.

Namun, berbakti tidak berarti harus memenuhi permintaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap perlu menjaga adab dan memperlakukan orang tua dengan baik.

7. Menjaga Silaturahmi dan Hubungan Baik dengan Sesama

Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang baik dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan sekaligus sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperlakukan sesama dengan baik. Karena itu, usahakan menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang tenang dan menghindari perkataan yang menyakiti.

Belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan orang lain ketika mereka berusaha memperbaiki diri. Menghormati perbedaan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial.

Dengan membangun komunikasi yang sehat, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan dipenuhi sikap saling menghormati.

8. Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama

Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyumbangkan pakaian yang layak, atau membagikan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kebaikan.

Sesuaikan sedekah dengan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga. Jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan.

Membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama dapat melatih kepedulian dan mengurangi sikap berlebihan dalam mencintai harta. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam juga dapat berkontribusi dalam membantu mustahik serta masyarakat yang membutuhkan.

9. Menjaga Lisan dan Akhlak

Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Biasakan berbicara jujur, menghindari perkataan kasar, tidak menghina, dan tidak menyebarkan fitnah. Sebelum berbicara, pertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Menjaga lisan juga berlaku ketika menggunakan media sosial. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menulis komentar yang merendahkan orang lain, atau terlibat dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.

Jika melakukan kesalahan, akui dan perbaiki. Meminta maaf merupakan bagian dari tanggung jawab atas perilaku sendiri sekaligus langkah untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

10. Menuntut Ilmu dan Terus Memperbaiki Diri

Menuntut ilmu membantu seorang Muslim memahami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Luangkan waktu untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dasar, dan akhlak. Selain ilmu agama, tingkatkan pula keterampilan yang relevan dengan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab masing-masing.

Pilih sumber belajar yang dapat dipercaya. Dalam urusan agama, pelajari penjelasan dari ulama dan lembaga keislaman yang kompeten agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.

Selain menambah pengetahuan, biasakan mengevaluasi diri. Periksa kembali apakah ibadah telah terjaga, pekerjaan dilakukan dengan jujur, dan hubungan dengan keluarga dipelihara dengan baik.

Perbaikan diri merupakan proses berkelanjutan. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan.

11. Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Amanah

Tubuh merupakan amanah yang perlu dijaga. Kondisi fisik dan mental yang baik membantu seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Terapkan kebiasaan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menjaga waktu tidur. Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan dan jangan mengabaikan keluhan yang membutuhkan pertolongan profesional.

Menjaga kesehatan juga berarti memahami batas kemampuan diri. Istirahat yang cukup bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kemampuan untuk menjalani aktivitas dengan baik.

Dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim dapat berusaha menjalankan berbagai amanah kehidupan secara lebih optimal.

12. Mengelola Waktu dengan Bijaksana

Waktu merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Karena itu, gunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, keluarga, maupun pengembangan diri.

Buatlah jadwal harian sederhana yang memprioritaskan kewajiban utama. Sisihkan waktu untuk salat, bekerja, belajar, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat berarti.

Namun, mengelola waktu bukan berarti harus selalu sibuk. Istirahat, berolahraga, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga juga merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.

13. Bersabar dan Bertawakal kepada Allah SWT

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Seseorang dapat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau ujian kesehatan.

Dalam keadaan tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menunggu pertolongan tanpa melakukan apa pun.

Seorang Muslim perlu berusaha mencari jalan keluar, berdoa kepada Allah SWT, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya. Ketika mengalami kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Jika menghadapi persoalan yang berat, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau tenaga profesional yang sesuai.

Setiap orang memiliki ujian dan proses kehidupan yang berbeda. Karena itu, hindari mengukur keberhasilan diri hanya dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain.

14. Membiasakan Istigfar dan Bertobat

Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa berusaha memperbaiki diri.

Membaca istigfar merupakan salah satu cara memohon ampun kepada Allah. Namun, istigfar hendaknya disertai kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki perilaku.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, upayakan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai keadaan.

Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, gunakan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dengan membiasakan istigfar dan bertobat, seorang Muslim belajar bersikap rendah hati serta menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan ampunan dan bimbingan Allah SWT.

15. Membiasakan Doa agar Hidup Penuh Berkah

Selain melakukan berbagai ikhtiar, seorang Muslim dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca sehari-hari.

“Ya Allah, berkahilah kehidupanku, keluargaku, pekerjaanku, dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku. Bimbinglah aku agar senantiasa berada di jalan yang benar. Jadikanlah aku hamba yang rajin beribadah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan ikhlas dalam melakukan kebaikan. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari keburukan, serta berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan langsung dari Al-Qur'an atau hadis. Seorang Muslim dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dengan tetap memperhatikan tuntunan syariat.

Biasakan berdoa bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga ketika keadaan sedang baik. Dengan demikian, doa menjadi bagian dari kebiasaan untuk memohon petunjuk sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT.

Contoh Rutinitas Islami dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar berbagai kebiasaan baik di atas lebih mudah diterapkan, mulailah dengan rutinitas sederhana yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Pagi hari:

  • Bangun dan menunaikan salat Subuh.

  • Membaca Al-Qur'an atau zikir pagi.

  • Berdoa sebelum memulai aktivitas.

  • Menentukan prioritas pekerjaan dan tanggung jawab hari itu.

Siang hingga sore:

  • Menjaga salat lima waktu.

  • Bekerja atau belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh.

  • Menjaga perkataan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

  • Menyempatkan diri membantu keluarga atau orang yang membutuhkan.

Malam hari:

  • Menunaikan salat Isya.

  • Meluangkan waktu bersama keluarga.

  • Mengevaluasi perilaku dan aktivitas sepanjang hari.

  • Membaca doa sebelum tidur serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Rutinitas tersebut bukan aturan wajib yang harus diikuti dengan susunan persis seperti di atas. Jadikanlah sebagai panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing.

Menjalani Hidup dengan Iman, Ikhtiar, dan Rasa Syukur

Kehidupan yang penuh berkah tidak selalu ditandai dengan kelimpahan materi atau terbebas dari berbagai ujian. Keberkahan juga dapat hadir melalui hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang saling mendukung, serta kesempatan untuk terus berbuat baik.

Menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersyukur, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, dan membantu sesama merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memperkuat kualitas kehidupan seorang Muslim.

Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah dilakukan, kemudian pertahankan secara konsisten dan tingkatkan secara bertahap.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!

MENJAGA hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita dan dapat menjadi pihak terdekat untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, hubungan bertetangga perlu dibangun atas dasar saling menghormati, kepedulian, dan sikap menjaga hak satu sama lain.

Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik. Ajaran tersebut mencakup menjaga perkataan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain, berbagi makanan, memberikan pertolongan, serta memelihara hubungan baik meskipun terdapat perbedaan atau kesalahpahaman.

Adab bertetangga juga tidak terbatas pada orang yang memiliki hubungan dekat atau seagama. Seorang Muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, latar belakang, maupun kebiasaan, selama tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam.

Lantas, apa saja adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut lima di antaranya.

1. Menghormati dan Berbuat Baik kepada Tetangga

Adab pertama adalah menghormati dan memperlakukan tetangga dengan baik. Islam menempatkan hubungan dengan tetangga sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, dan golongan lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya.

Ajaran tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa ketika berpapasan, berbicara dengan sopan, menghargai privasi, dan tidak mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa alasan yang tepat.

Ketika tetangga mengadakan acara keluarga, misalnya, kita dapat menunjukkan sikap saling menghormati dengan menjaga ketertiban dan membicarakan persoalan yang muncul melalui komunikasi yang baik.

Selain itu, hindari membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status ekonomi, kedudukan sosial, atau latar belakang seseorang. Dengan membiasakan sikap saling menghormati, hubungan bertetangga dapat terjalin lebih harmonis dan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman.

2. Tidak Mengganggu atau Menyakiti Tetangga

Adab berikutnya adalah menjaga diri agar tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Pesan ini menegaskan bahwa keimanan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya sendiri, tetapi juga perlu menjaga hak dan kenyamanan orang lain. Beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan bertetangga antara lain:

  • Memutar musik atau menghasilkan suara keras hingga mengganggu waktu istirahat.

  • Membiarkan sampah menumpuk atau menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah.

  • Memarkir kendaraan hingga menghalangi jalan atau akses rumah tetangga.

  • Membicarakan keburukan tetangga dan menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya.

  • Menggunakan atau mengambil barang milik tetangga tanpa izin.

  • Melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan lingkungan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Apabila tanpa sengaja menimbulkan gangguan, sebaiknya segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tindakan sederhana, seperti mengecilkan volume suara pada malam hari atau memastikan kendaraan tidak menghalangi akses rumah orang lain, merupakan bentuk kepedulian terhadap kenyamanan bersama.

Menjaga tetangga dari gangguan bukan hanya menciptakan lingkungan yang tertib, tetapi juga menjadi wujud nyata akhlak yang baik.

3. Berbagi Makanan dan Saling Memberi

Berbagi makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial dan tidak bersikap egois terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar agar memperbanyak kuah ketika memasak dan memperhatikan tetangganya dengan membagikan sebagian makanan tersebut.

Nasihat ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian yang besar. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana sesuai kemampuan masing-masing.

Ketika memasak dalam jumlah lebih, misalnya, kita dapat berbagi makanan dengan tetangga. Berbagi juga dapat dilakukan dengan memberikan buah dari kebun atau mengirimkan hidangan sederhana pada kesempatan tertentu.

Jika tetangga sedang sakit, kita bisa menawarkan bantuan untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sementara itu, ketika mereka mengalami musibah, perhatian dan dukungan sederhana dapat membantu meringankan beban yang dirasakan.

Meski demikian, berbagi tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga sendiri. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk memaksakan diri di luar kemampuannya.

Dengan membiasakan berbagi, hubungan bertetangga tidak sekadar terjalin karena tinggal berdekatan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang dilandasi kepedulian dan kebersamaan.

4. Menolong Tetangga Ketika Mengalami Kesulitan

Seorang Muslim hendaknya tidak bersikap acuh ketika mengetahui tetangganya membutuhkan pertolongan. Hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi sumber dukungan, terutama ketika seseorang menghadapi situasi sulit.

Pertolongan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan tenaga dan dukungan moral hingga bantuan materi sesuai kemampuan.

Ketika tetangga sedang sakit, misalnya, kita dapat menjenguk, menanyakan kebutuhannya, atau membantu mengurus keperluan mendesak. Saat terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir, kita dapat membantu proses evakuasi, menyediakan makanan, atau menghubungkan mereka dengan pihak yang mampu memberikan bantuan.

Perhatian juga dapat diberikan kepada tetangga lanjut usia yang tinggal sendiri. Menanyakan kabar atau membantu membawa barang belanjaan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Dalam memberikan pertolongan, penting untuk tetap menghormati privasi dan menjaga martabat orang yang dibantu. Bantuan sebaiknya diberikan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian atau mengungkit kebaikan pada kemudian hari.

Menolong tetangga menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memaafkan Kesalahan Tetangga

Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bertetangga. Perbedaan kebiasaan, persoalan batas tanah, kebisingan, atau masalah parkir dapat memicu perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan baik.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga komunikasi, bersikap sabar, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Kebiasaan menyapa, mengunjungi ketika diperlukan, serta menghindari permusuhan berkepanjangan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat hubungan dengan tetangga.

Pertama, menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang sopan. Jika ada tindakan yang mengganggu, sampaikan keberatan secara baik-baik tanpa menghina atau mempermalukan pihak lain.

Kedua, tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, cari penjelasan secara langsung dengan cara yang santun.

Ketiga, belajar memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Selama persoalan masih dapat diselesaikan secara wajar, sikap lapang dada dapat membantu mencegah konflik berkepanjangan.

Keempat, tidak memperbesar perselisihan. Hindari menyebarkan masalah kepada orang lain apabila hal tersebut justru memperburuk keadaan.

Meski demikian, menjaga hubungan baik tidak berarti membiarkan tindakan yang membahayakan atau melanggar hak. Jika terjadi ancaman, kekerasan, atau pelanggaran serius, kita tetap dapat meminta bantuan pihak berwenang melalui cara yang tepat.

Dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan tanpa harus merusak hubungan bertetangga.

Manfaat Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam

Menerapkan adab bertetangga memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sikap saling menghormati membantu mengurangi gangguan dan perselisihan.

  2. Mempererat hubungan sosial. Tetangga yang saling mengenal lebih mudah membangun komunikasi dan kerja sama.

  3. Menumbuhkan kepedulian. Kebiasaan saling membantu membuat masyarakat lebih siap menghadapi kesulitan bersama.

  4. Menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik membantu menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi perselisihan besar.

  5. Mengamalkan ajaran Islam. Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika setiap orang berusaha memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Kita tidak perlu menunggu semua tetangga bersikap baik terlebih dahulu untuk mulai menunjukkan akhlak terpuji.

Membangun Lingkungan yang Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri

Adab bertetangga bukan hanya tentang menghindari perselisihan, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati orang lain, menjaga perkataan, berbagi makanan, menolong ketika dibutuhkan, dan memaafkan kesalahan merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat kebersamaan.

Keteladanan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akhlak mulia perlu tercermin dalam hubungan dengan sesama, termasuk dengan orang-orang yang tinggal paling dekat dengan kita.

Karena itu, membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian dapat dimulai dari rumah masing-masing. Dengan menjaga hak tetangga dan membiasakan diri untuk berbuat baik, kita turut menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi

SETIAP orang tua Muslim tentu mendambakan anak yang saleh dan salehah, beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama. Anak bukan hanya anugerah yang membawa kebahagiaan dalam keluarga, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan orang tua adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT memberikan petunjuk, menguatkan keimanan, memudahkan anak dalam beribadah, serta membimbing mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa.

Al-Qur'an mengajarkan sejumlah doa untuk memohon keturunan yang baik. Beberapa di antaranya merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS, serta doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati.

Lantas, apa saja doa memohon anak saleh dan salehah yang dapat diamalkan? Berikut bacaan, arti, dan maknanya, beserta ikhtiar mendidik anak agar tumbuh dalam kebaikan.

1. Doa dalam Surah Al-Furqan Ayat 74

Salah satu doa yang dapat diamalkan untuk memohon keluarga dan keturunan yang baik terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk hati serta agar diri sendiri dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bacaan latin:

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Makna Doa

Doa ini mengandung harapan agar keluarga tumbuh dalam keimanan, ketaatan, dan akhlak yang baik. Anak yang menjadi penyejuk hati bukan semata-mata anak yang membanggakan orang tua, tetapi juga anak yang berusaha menjalankan ajaran agama dan menghadirkan kebaikan di lingkungannya.

Selain memohon keturunan yang baik, orang tua juga memohon agar dirinya menjadi teladan dalam ketakwaan. Artinya, harapan memiliki anak saleh dan salehah perlu disertai usaha memperbaiki diri, mulai dari menjaga salat, berkata jujur, bersikap sabar, hingga menghormati orang lain.

Doa ini dapat dibaca setelah salat atau ketika bermunajat kepada Allah SWT. Tidak ada keharusan menetapkan jumlah bacaan tertentu untuk mengamalkannya.

2. Doa Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa singkat untuk memohon keturunan yang termasuk golongan orang saleh. Doa ini terdapat dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Bacaan latin: Rabbi hab li minas salihin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100).

Makna Doa 

Doa ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan bukan satu-satunya harapan. Nabi Ibrahim AS juga memohon agar keturunannya menjadi bagian dari orang-orang yang saleh.

Kesalehan merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang saleh dan salehah diharapkan memiliki keimanan yang kuat, menjaga ibadah, berperilaku baik, serta mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah.

Bagi pasangan yang sedang menantikan kehadiran buah hati, doa ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keturunan kepada Allah SWT. Bagi orang tua yang telah memiliki anak, doa yang sama dapat diamalkan untuk memohon agar anak-anak senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.

Doa juga menjadi wujud penghambaan dan tawakal. Karena itu, orang tua hendaknya terus memohon kepada Allah SWT sembari melakukan ikhtiar yang baik dan tidak kehilangan harapan ketika keinginan belum terwujud sesuai waktu yang diharapkan.

3. Doa Nabi Zakaria AS 

Al-Qur'an juga mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika memohon keturunan yang baik. Doa tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 38.

Bacaan latin:

Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan tayyibatan innaka sami'ud du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Pelajaran dari doa Nabi Zakaria 

Kisah Nabi Zakaria AS mengajarkan tentang ketekunan dalam berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Beliau memohon keturunan yang baik, mengingatkan umat Islam bahwa Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya.

Keturunan yang baik tidak hanya diukur dari kesehatan fisik atau keberhasilan duniawi. Keimanan, akhlak, dan perilaku yang terpuji juga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang diharapkan orang tua.

Doa ini dapat diamalkan oleh pasangan yang mendambakan keturunan maupun orang tua yang memohon kebaikan bagi anak-anaknya. Permohonan juga dapat disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami, selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Doa Keturunan Rajin Mendirikan Salat

Anak yang saleh dan salehah diharapkan tidak hanya memiliki perilaku yang baik, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mendirikan salat.

Dalam Surah Ibrahim ayat 40, terdapat doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan salat.

Bacaan latin: Rabbij'alni muqimas salati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Mengapa doa ini penting?

Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. Dengan memohon agar diri sendiri dan keturunan senantiasa mendirikan salat, orang tua diingatkan bahwa pendidikan agama perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak untuk salat, tetapi juga memberikan contoh melalui kebiasaan beribadah secara konsisten. Ketika anak melihat orang tuanya menjaga salat, ia dapat belajar dari keteladanan yang nyata.

Selain itu, ajarkan salat secara bertahap sesuai usia anak. Pendekatan yang lembut, penjelasan yang mudah dipahami, dan suasana keluarga yang mendukung dapat membantu anak mengenal ibadah dengan lebih baik.

Doa ini sekaligus mengingatkan orang tua untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sendiri sebelum berharap anak mengikuti jalan kebaikan tersebut.

5. Doa agar Anak Saleh dan Mendapat Keberkahan

Selain mengamalkan doa-doa dari Al-Qur'an, orang tua dapat memohon kepada Allah SWT menggunakan kalimat yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, memohon agar anak diberikan kesehatan, dilindungi dari keburukan, dibimbing dalam ketaatan, dan dimudahkan untuk berbuat baik kepada sesama.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat diamalkan sebagai doa pribadi.

Bacaan doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang saleh dan salehah. Jadikanlah mereka hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga salat. Lindungilah mereka dari perbuatan buruk, pergaulan yang menyesatkan, serta segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari jalan-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati di dunia dan bekal kebaikan bagi kami di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis. Orang tua dapat menyesuaikan susunan kata dan menyebut nama anak dalam doanya.

Hal terpenting bukan panjangnya rangkaian kalimat, melainkan ketulusan hati, keyakinan kepada Allah SWT, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar yang baik.

6. Kapan Waktu Baik Membaca Doa Anak Saleh?

Pada dasarnya, doa untuk memohon kebaikan anak dapat dipanjatkan kapan saja. Tidak ada ketentuan bahwa doa memohon anak saleh dan salehah hanya boleh dibaca pada waktu tertentu.

Meski demikian, ada beberapa kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah salat wajib

Setelah menunaikan salat wajib, orang tua dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa. Selain memohon ampunan serta kebaikan dunia dan akhirat, orang tua dapat memohon agar anak-anak diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam.

Mendoakan anak secara rutin dapat menjadi pengingat bahwa mendidik mereka merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan pertolongan Allah SWT.

Saat salat malam

Salat malam, termasuk tahajud, dapat menjadi kesempatan untuk bermunajat dengan lebih khusyuk. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan keutamaan berdoa kepada Allah pada sepertiga malam terakhir.

Orang tua dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memohon kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan keteguhan iman bagi anak-anaknya.

Ketika sujud

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa.

Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon kebaikan bagi anak-anaknya dengan tetap memperhatikan ketentuan doa dalam salat sesuai tuntunan fikih yang diikuti.

Ketika anak menghadapi kesulitan

Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak sedang sehat, berprestasi, atau menunjukkan perilaku yang membanggakan. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, menghadapi masalah pergaulan, atau sedang berusaha memperbaiki diri, orang tua juga perlu mendoakannya.

Rasa kecewa hendaknya tidak membuat orang tua berhenti berharap kepada Allah SWT. Sebaliknya, doa dapat menjadi penguat kesabaran sekaligus dorongan untuk mencari cara terbaik dalam mendampingi anak.

7. Cara Mendidik Anak agar Tumbuh Saleh

Doa merupakan ikhtiar spiritual yang penting, tetapi perlu disertai pendidikan, keteladanan, dan usaha nyata. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, melainkan juga lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Islam.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.

1. Memberikan teladan yang baik

Anak banyak belajar melalui apa yang dilihat setiap hari. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam menjalankan ibadah, menjaga perkataan, bersikap jujur, dan menghormati orang lain.

Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menjaga salatnya sendiri. Jika ingin anak berkata jujur, biasakan kejujuran dalam keluarga. Keteladanan membantu anak memahami bahwa ajaran Islam bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup.

2. Mengenalkan Al-Qur'an dan ajaran Islam sejak dini

Orang tua dapat mengenalkan Al-Qur'an, doa sehari-hari, kisah para nabi, serta dasar-dasar akhlak Islam sesuai usia anak. Lakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan.

Seiring bertambahnya usia, ajak anak memahami makna ibadah, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

3. Membiasakan ibadah dalam keluarga

Keluarga dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan tertentu.

Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika mereka melakukan kesalahan.

4. Menanamkan akhlak mulia

Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dengan perilaku terhadap sesama manusia. Ajarkan anak menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata sopan, menepati janji, meminta maaf ketika bersalah, dan membantu orang yang membutuhkan.

5. Memperhatikan lingkungan pergaulan

Lingkungan dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak. Orang tua perlu mengenal teman-teman anak, memperhatikan aktivitasnya, dan membangun komunikasi yang terbuka.

Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang bertanggung jawab, bukan pengawasan berlebihan. Ajarkan anak memilih pergaulan yang baik serta berani menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.

6. Menasihati tanpa merendahkan

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan nasihat dan konsekuensi yang sesuai. Namun, hindari melabeli anak sebagai nakal, gagal, atau tidak berguna.

Tegurlah perilakunya tanpa merendahkan martabatnya. Terus doakan kebaikannya, termasuk ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

7. Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian

Orang tua dapat mengajarkan tanggung jawab melalui tugas sederhana, seperti merapikan barang, menjaga kebersihan, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membantu anggota keluarga.

Ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia memahami akibat perbuatannya dan memperbaikinya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengakui kesalahan serta bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.

8. Keutamaan Memiliki Anak Saleh

Anak yang saleh dan salehah merupakan salah satu karunia berharga dalam Islam. Kesalehan anak tidak hanya membawa harapan akan kebaikan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan manfaat yang dapat terus dirasakan orang tua setelah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mendidik anak agar mengenal Allah SWT, menjalankan ajaran agama, dan terbiasa mendoakan orang tuanya.

Meski demikian, kesalehan anak bukan sesuatu yang dapat dijamin hanya melalui satu doa. Anak tumbuh melalui berbagai proses, pengalaman, dan pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu terus memberikan pendidikan terbaik sembari memohon pertolongan Allah SWT.

Anak yang saleh dan salehah juga diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, membantu sesama, maupun menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, tujuan mendidik anak bukan semata-mata agar orang tua merasa bangga, tetapi agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

9. Pertanyaan Umum tentang Doa Anak Saleh

Apakah doa anak saleh boleh dibaca setiap hari?

Ya. Orang tua boleh mendoakan kebaikan anak setiap hari. Beberapa doa yang dapat diamalkan antara lain doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Surah Ali Imran ayat 38, Surah As-Saffat ayat 100, dan Surah Ibrahim ayat 40.

Tidak ada ketentuan umum bahwa doa-doa tersebut harus dibaca dengan jumlah tertentu agar permohonan dikabulkan.

Apakah ibu dan ayah sama-sama boleh mendoakan anak?

Tentu. Ibu dan ayah sama-sama dapat memohon agar anak menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan serta keteladanan yang baik.

Bolehkah berdoa agar anak menjadi penghafal Al-Qur'an?

Boleh. Orang tua dapat memohon agar anak mencintai Al-Qur'an, dimudahkan menghafalnya, memahami ajarannya, serta mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Permohonan tersebut hendaknya disertai pendampingan yang baik, pembelajaran sesuai kemampuan anak, dan penghargaan terhadap proses belajarnya.

Bagaimana jika anak belum menunjukkan perilaku saleh?

Jangan langsung berputus asa. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Orang tua dapat mengevaluasi pendekatan pendidikan, membuka komunikasi yang baik, memberikan nasihat secara bijaksana, dan terus mendoakan kebaikannya.

Jika masalah yang dihadapi cukup berat, orang tua juga dapat mencari bantuan dari guru, konselor, atau pembimbing agama yang kompeten.

Apakah pasangan yang belum memiliki anak boleh membaca doa memohon keturunan?

Boleh. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Zakaria AS dalam Surah Ali Imran ayat 38 atau doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Di samping berdoa, pasangan dapat melakukan ikhtiar yang sesuai, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Belum hadirnya keturunan bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa doa seseorang tidak diterima Allah SWT.

Doa Bagian dari Pendidikan Anak

Memohon anak yang saleh dan salehah merupakan harapan yang dapat terus dipanjatkan oleh setiap orang tua Muslim. Al-Qur'an telah mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan untuk memohon keturunan yang baik, keluarga yang menenteramkan, serta anak-anak yang senantiasa menjaga ibadah.

Namun, doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Keteladanan orang tua, pendidikan agama, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Semoga Allah SWT menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, menjadikan keluarga sebagai penyejuk hati, serta membimbing anak-anak agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Amin ya Rabbal alamin.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan

MENGELOLA keuangan bukan hanya soal memastikan pemasukan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan. Bagi seorang Muslim, harta merupakan amanah dari Allah SWT yang perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik.

Karena itu, kelola keuangan Islam tidak hanya memperhatikan jumlah pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga sumber rezeki, prioritas kebutuhan, kewajiban terhadap keluarga, serta kepedulian kepada sesama.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir dalam menggunakan hartanya. Prinsip ini dapat menjadi dasar dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

1. Pastikan Penghasilan Sumber Halal

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber penghasilan. Sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, seorang Muslim perlu memastikan bahwa pekerjaan, usaha, perdagangan, maupun investasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memperoleh makanan dari hasil usaha sendiri. Dalam Sunan Ibn Majah 2137 disebutkan bahwa makanan terbaik yang dikonsumsi seseorang adalah yang berasal dari hasil usahanya sendiri.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja perlu menjalankan tanggung jawab dengan amanah, sedangkan pelaku usaha harus menghindari penipuan, kecurangan, menyembunyikan cacat barang, maupun mengurangi timbangan.

Ketika menemukan transaksi yang meragukan, jangan terburu-buru mengejar keuntungan. Memahami akad, risiko, dan ketentuannya terlebih dahulu dapat membantu menjaga harta tetap berada dalam koridor yang baik.

2. Susun Anggaran dan Dahulukan Kebutuhan

Setelah memastikan sumber pendapatan, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaannya. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan.

Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan keluarga perlu menjadi prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah alokasi untuk keperluan lainnya disesuaikan dengan kemampuan.

Membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Membeli sesuatu karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda promosi atau ingin mengikuti tren.

Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Catatan di buku, spreadsheet, maupun aplikasi keuangan sudah cukup untuk membantu mengevaluasi pola pengeluaran dan menemukan pos yang dapat dikurangi.

3. Hindari Pemborosan dan Utang Konsumtif

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam menggunakan harta. Karena itu, pembelian impulsif dan gaya hidup berlebihan perlu dihindari.

Diskon atau promosi memang dapat menghemat pengeluaran jika barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, membeli sesuatu hanya karena harganya sedang murah tetap dapat membuat keuangan menjadi tidak sehat.

Penggunaan utang juga perlu dipertimbangkan dengan matang. Seorang Muslim perlu memahami akad dan konsekuensi finansial sebelum mengambil utang, terutama jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya berada di luar kemampuan.

Hidup sesuai kemampuan bukan berarti harus mengurangi seluruh kenyamanan. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, seseorang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih tenang tanpa terbebani pengeluaran yang tidak perlu.

4. Siapkan Tabungan dan Dana Darurat

Selain memenuhi kebutuhan hari ini, pengelolaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan di masa depan. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dapat membantu menghadapi berbagai keperluan yang sudah direncanakan.

Dana darurat juga penting untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendesak.

Perencanaan jangka panjang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, misalnya untuk pendidikan anak, tempat tinggal, maupun kebutuhan masa pensiun. Tidak perlu memulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.

5. Sisihkan Harta untuk Zakat, Infak, dan Sedekah

Harta dalam Islam tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban dan kepedulian sosial yang perlu diperhatikan, termasuk zakat bagi harta yang telah memenuhi ketentuannya.

Zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, nisab, haul, kadar, serta golongan penerima. Karena itu, perhitungannya perlu dilakukan sesuai ketentuan syariat.

Selain zakat, infak dan sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan sesuai kemampuan. Kebiasaan berbagi mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Dengan memasukkan zakat, infak, dan sedekah dalam perencanaan keuangan, pengelolaan harta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ibadah.

6. Bangun Komunikasi Keuangan dalam Keluarga

Pengelolaan keuangan juga berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami dan istri dapat membicarakan pemasukan, kebutuhan, kewajiban, tabungan, serta tujuan finansial keluarga secara terbuka.

Setiap keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tidak ada satu pola anggaran yang harus diterapkan oleh semua orang. Yang penting adalah menjaga prinsip halal, bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan.

Anak juga dapat dikenalkan dengan kebiasaan finansial sejak dini. Misalnya dengan mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta mengenalkan pentingnya berbagi.

Evaluasi sederhana setiap bulan dapat membantu keluarga mengetahui kondisi keuangannya. Periksa kembali pemasukan, pengeluaran terbesar, jumlah tabungan, kewajiban yang telah dibayarkan, dan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pada akhirnya, kelola keuangan Islam bukan semata-mata tentang bagaimana memiliki lebih banyak uang. Lebih dari itu, pengelolaan harta diarahkan agar kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara yang halal, keluarga tetap terjaga, dan sebagian rezeki dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Dengan mengatur pemasukan secara bijak, menghindari pemborosan, mempersiapkan masa depan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, harta dapat dikelola sebagai amanah sekaligus menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim

DALAM Islam, adab dan akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah kepada Allah SWT juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga masyarakat di sekitarnya.

Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam hal akhlak. Beliau mengajarkan kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang dalam berinteraksi dengan sesama. Karena itu, menjaga perilaku bukan sekadar menunjukkan kepribadian yang baik, tetapi juga bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Adab dan Akhlak dalam Islam

Menjaga adab berarti berusaha menempatkan perkataan, sikap, dan tindakan sesuai dengan tuntunan Islam. Hal tersebut dapat dimulai dari perkara sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak, serta membantu mereka yang membutuhkan.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang menjaga lisannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman untuk saling mengejek, mencela, maupun memanggil orang lain dengan gelar yang buruk.

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara. Perkataan yang kasar, hinaan, fitnah, atau ucapan yang menyakiti orang lain dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Menjaga adab juga berarti mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Saat marah atau berbeda pendapat, seseorang perlu berusaha menahan emosi agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Kedudukan Penting Akhlak Baik

Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang membiasakan perkataan keji.

Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara sederhana, melainkan memiliki nilai besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan rasa aman, bukan justru menimbulkan kerugian atau ketakutan bagi orang lain.

Dengan demikian, akhlak yang baik tidak cukup hanya terlihat dalam aktivitas ibadah. Nilainya perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

Menerapkan Adab dalam Kehidupan

Di lingkungan keluarga, menjaga adab dapat dimulai dengan menghormati orang tua, memperlakukan pasangan dan saudara dengan baik, serta membangun komunikasi tanpa penghinaan maupun kekerasan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak dapat diwujudkan dengan menghormati tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan menghargai perbedaan.

Begitu pula di tempat kerja atau sekolah. Bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, menjaga amanah, serta tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari penerapan akhlak Islam.

Adab juga berlaku di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Menjaga perilaku di media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak dalam kehidupan modern.

Membiasakan Diri Berakhlak Baik

Menjaga adab membutuhkan latihan dan konsistensi. Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki niat. Berbuat baik kepada orang lain seharusnya dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian.

Kebiasaan menjaga lisan juga perlu dilatih. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Mempelajari kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi cara lain untuk memahami bagaimana akhlak diterapkan dalam berbagai situasi. Keteladanan beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, maupun orang yang berbeda pendapat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi diri juga penting. Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Pada akhirnya, menjaga adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam perilaku nyata.

Meneladani Rasulullah SAW berarti terus berusaha menjadi pribadi yang jujur, sabar, lembut, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain. Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk menjaga lisan, memperbaiki perilaku, menghormati sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01

Artikel Terbaru

Muharram: Saat Terbaik Menata Hati dan Memperbaiki Diri
Muharram: Saat Terbaik Menata Hati dan Memperbaiki Diri
BULAN Muharram menjadi penanda dimulainya tahun baru Hijriah sekaligus mengingatkan setiap Muslim bahwa waktu terus berjalan. Pergantian tahun dalam Islam bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum untuk berhenti sejenak, mengevaluasi perjalanan hidup, dan memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT maupun sesama manusia. Di tengah berbagai kesibukan dan aktivitas sehari-hari, tidak sedikit orang yang larut dalam rutinitas hingga lupa menilai kembali kualitas ibadah dan amalnya. Karena itu, Muharram menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah, yaitu introspeksi diri secara jujur agar setiap langkah ke depan lebih terarah dan bernilai ibadah. Muharram, Bulan yang Penuh Kemuliaan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Kemuliaan Muharram juga tercermin melalui berbagai amalan yang dianjurkan Rasulullah SAW, di antaranya puasa sunah Tasu'a dan Asyura yang memiliki keutamaan besar sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Keistimewaan tersebut menunjukkan bahwa Muharram bukan hanya menjadi awal tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga menjadi awal untuk memperbarui semangat beribadah dan memperbaiki kualitas kehidupan. Muhasabah sebagai Langkah Awal Perubahan Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan tidak luput dari kesalahan. Oleh sebab itu, introspeksi diri menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Muhasabah bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri sendiri, melainkan mengevaluasi apa yang telah dilakukan agar dapat menjadi lebih baik di masa mendatang. Momentum Muharram dapat dimanfaatkan untuk bertanya kepada diri sendiri. Apakah salat sudah dijaga dengan baik? Sudahkah Al-Qur'an menjadi bagian dari rutinitas harian? Bagaimana hubungan dengan orang tua, keluarga, dan tetangga? Apakah masih ada hak orang lain yang belum dipenuhi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang menjadi awal dari proses perbaikan diri. Muhasabah juga mengajarkan bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Selama pintu tobat masih terbuka, setiap Muslim memiliki peluang untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Wujud Nyata Muhasabah dalam Kehidupan Introspeksi diri akan lebih bermakna apabila diikuti dengan tindakan nyata. Tidak cukup hanya menyadari kekurangan, tetapi juga perlu membangun kebiasaan baik yang dapat dilakukan secara konsisten. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga salat tepat waktu, memperbanyak membaca Al-Qur'an, memperbanyak istigfar, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama melalui sedekah, infak, maupun zakat. Selain memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, Muharram juga menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan sesama. Meminta maaf, memaafkan, menjaga lisan, dan menghindari perilaku yang dapat menyakiti orang lain merupakan bagian dari muhasabah yang tidak kalah penting. Menyusun Resolusi yang Bernilai Ibadah Sebagian orang terbiasa membuat resolusi pada awal tahun Masehi. Bagi umat Islam, awal tahun Hijriah juga dapat dijadikan kesempatan untuk menyusun target yang lebih berorientasi pada peningkatan kualitas iman dan akhlak. Resolusi tersebut tidak harus muluk-muluk. Mulailah dengan target yang realistis, seperti lebih disiplin menjaga salat berjamaah, rutin membaca Al-Qur'an setiap hari, memperbanyak sedekah, mengikuti kajian keislaman, atau mengurangi kebiasaan yang kurang bermanfaat. Perubahan yang dilakukan sedikit demi sedikit, tetapi istiqamah, akan memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada semangat sesaat yang tidak berlanjut. Menghargai Waktu sebagai Amanah Salah satu pelajaran penting dari datangnya Muharram adalah kesadaran bahwa usia terus bertambah dan waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, setiap pergantian tahun hendaknya menjadi pengingat agar kita tidak menunda kebaikan, tidak menunda tobat, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Semangat inilah yang seharusnya tumbuh setiap kali memasuki tahun baru Hijriah. Menjadikan Muharram sebagai Awal yang Lebih Baik Muharram bukan sekadar awal perjalanan dalam kalender Islam, tetapi juga awal untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna. Melalui muhasabah, setiap Muslim diajak untuk memperbaiki ibadah, memperindah akhlak, mempererat hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kepedulian sosial. Semoga bulan Muharram menjadi momentum bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan melangkah dengan semangat baru dalam menggapai ridha Allah SWT. Sebab, perubahan yang besar selalu berawal dari keberanian untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki langkah, satu kebaikan demi satu kebaikan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/07/2026 | MBL-01
Hijrah di Bulan Muharram: Menata Iman, Menguatkan Amal
Hijrah di Bulan Muharram: Menata Iman, Menguatkan Amal
BULAN Muharram menjadi penanda dimulainya tahun baru Hijriah sekaligus momentum berharga bagi setiap Muslim untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan. Pergantian tahun Islam bukan sekadar pergantian kalender, tetapi menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan setiap insan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Makna hijrah yang sesungguhnya tidak hanya merujuk pada peristiwa perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah perjalanan spiritual untuk meninggalkan kebiasaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih dekat dengan Allah SWT. Karena itu, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat tekad memperbaiki ibadah, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama. Muharram, Bulan yang Dimuliakan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Keutamaannya juga ditegaskan melalui anjuran Rasulullah SAW untuk melaksanakan puasa sunah di bulan Muharram, khususnya puasa Tasu'a dan Asyura, yang memiliki pahala dan keutamaan besar. Kemuliaan tersebut menjadikan Muharram sebagai waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas keimanan sekaligus memperbarui semangat dalam menjalankan ibadah. Memaknai Hijrah sebagai Proses Perbaikan Diri Hijrah sering kali dipahami sebatas perubahan penampilan. Padahal, hakikat hijrah adalah perubahan sikap dan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Islam. Hijrah dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti memperbaiki kualitas salat, membiasakan membaca Al-Qur'an, menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti, memperbanyak sedekah, menjaga amanah dalam pekerjaan, hingga membangun hubungan yang lebih harmonis dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Islam mengajarkan bahwa perubahan tidak harus dilakukan secara instan. Justru perubahan kecil yang dilakukan dengan istiqamah akan memberikan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan. Muharram, Momentum untuk Muhasabah Memasuki tahun baru Hijriah juga menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Kesibukan sehari-hari sering kali membuat seseorang lupa mengevaluasi kualitas ibadah maupun hubungan dengan sesama. Muhasabah dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana kepada diri sendiri. Apakah ibadah kita sudah lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya? Sudahkah kita berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahmi, dan memberikan manfaat bagi orang lain? Masih adakah kebiasaan yang perlu ditinggalkan agar hidup lebih berkah? Evaluasi seperti inilah yang menjadi langkah awal untuk menyusun target perbaikan yang lebih nyata di masa mendatang. Memulai Hijrah dengan Langkah Sederhana Setiap perubahan membutuhkan komitmen dan kesungguhan. Awal tahun Hijriah dapat menjadi kesempatan untuk membangun kebiasaan baik secara bertahap, seperti menetapkan target membaca Al-Qur'an setiap hari, memperbanyak sedekah, mengikuti kajian keislaman, atau meluangkan waktu untuk beribadah di tengah kesibukan. Selain itu, memilih lingkungan yang baik juga menjadi bagian penting dalam proses hijrah. Bergaul dengan orang-orang yang saling mengingatkan dalam kebaikan akan membantu menjaga semangat untuk terus memperbaiki diri. Tak kalah penting, setiap ikhtiar hendaknya disertai doa dan tawakal kepada Allah SWT. Sebab, perubahan yang hakiki hanya dapat terwujud dengan pertolongan-Nya. Meneladani Semangat Hijrah Rasulullah SAW Peristiwa hijrah Rasulullah SAW mengajarkan banyak nilai yang tetap relevan hingga saat ini. Hijrah mengajarkan pentingnya perencanaan yang matang, kesabaran dalam menghadapi ujian, keberanian mengambil keputusan yang benar, serta keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah akan selalu menyertai setiap ikhtiar yang dilakukan dengan tulus. Nilai-nilai tersebut menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan optimisme dan keteguhan iman. Mengisi Muharram dengan Amal Kebaikan Agar bulan Muharram menjadi lebih bermakna, umat Islam dianjurkan mengisinya dengan berbagai amal saleh. Selain menjalankan puasa sunah Tasu'a dan Asyura, Muharram juga dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, mempererat silaturahmi, serta membantu saudara-saudara yang membutuhkan. Kepedulian terhadap sesama merupakan salah satu wujud nyata hijrah. Melalui zakat, infak, sedekah, maupun berbagai bentuk kebaikan lainnya, setiap Muslim dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Menjadikan Muharram sebagai Awal Perubahan Muharram adalah kesempatan untuk memulai perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak perlu menunggu waktu yang dianggap sempurna untuk berubah, karena setiap langkah kecil menuju kebaikan memiliki nilai di sisi Allah SWT. Semoga datangnya bulan Muharram menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat kepedulian kepada sesama, dan menjadikan setiap pergantian tahun Hijriah sebagai awal kehidupan yang lebih bermakna. Dengan semangat hijrah yang diwujudkan dalam tindakan nyata, kita berharap dapat menjadi pribadi yang lebih bertakwa serta membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan umat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/07/2026 | MBL-01
Jumat Berkah: Waktu Terbaik Menebar Kebaikan Melalui Sedekah
Jumat Berkah: Waktu Terbaik Menebar Kebaikan Melalui Sedekah
HARI Jumat memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Selain menjadi hari berkumpulnya umat Islam untuk melaksanakan salat Jumat, hari yang dikenal sebagai penghulu segala hari ini juga menjadi momen yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, salah satunya dengan bersedekah. Berbagi di hari Jumat bukan sekadar memberikan sebagian harta, tetapi juga menjadi wujud syukur atas nikmat Allah SWT sekaligus sarana meraih keberkahan hidup. Sedekah yang dilakukan pada hari Jumat memiliki nilai istimewa karena bertepatan dengan waktu yang penuh kemuliaan. Melalui amalan ini, seorang Muslim tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga melatih kepedulian sosial, membersihkan harta, serta menumbuhkan sifat dermawan. Tak sedikit pula yang meyakini bahwa sedekah menjadi salah satu jalan datangnya rezeki dan keberkahan yang tidak terduga. Keutamaan Bersedekah di Hari Jumat Islam mendorong umatnya untuk memperbanyak amal kebaikan pada hari Jumat. Sedekah menjadi salah satu amalan yang mudah dilakukan oleh siapa saja, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Selain bernilai ibadah, sedekah juga mempererat ukhuwah, mengurangi kesenjangan sosial, dan menghadirkan manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkan. Lebih dari itu, sedekah mengingatkan bahwa di setiap harta yang dimiliki terdapat hak orang lain. Dengan berbagi, seorang Muslim belajar mensyukuri nikmat sekaligus menyucikan diri dari sifat kikir. Cara Bersedekah yang Dianjurkan Agar sedekah memberikan manfaat yang maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, luruskan niat semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT, bukan demi pujian atau pengakuan. Kedua, utamakan penerima yang benar-benar membutuhkan, seperti fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa, atau musafir yang kehabisan bekal. Sedekah juga dapat disalurkan melalui lembaga amil zakat yang amanah agar bantuan tepat sasaran. Selain uang, berbagi makanan kepada masyarakat, mendukung pembangunan masjid, hingga menyumbangkan Al-Qur'an dan fasilitas ibadah juga termasuk bentuk sedekah yang bernilai pahala. Sedekah Tidak Selalu Berupa Harta Dalam Islam, sedekah memiliki makna yang luas. Senyuman yang tulus, membantu orang tua, menolong tetangga, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, menyingkirkan benda berbahaya dari jalan, hingga menjadi relawan dalam kegiatan sosial juga termasuk sedekah apabila dilakukan dengan niat karena Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi, tanpa harus menunggu memiliki harta yang berlimpah. Hal yang Perlu Dihindari Agar pahala sedekah tetap terjaga, hindari mengungkit pemberian atau bersedekah karena ingin dipuji. Islam juga mengajarkan untuk memberikan harta yang baik dan layak, bukan barang yang sudah tidak bermanfaat. Selain itu, jangan menunda niat berbagi dengan alasan menunggu kaya, karena sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan, sekecil apa pun nilainya. Jadikan Sedekah sebagai Kebiasaan Membiasakan bersedekah setiap hari Jumat dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun karakter yang lebih peduli dan bersyukur. Sisihkan sebagian rezeki secara rutin, buat pengingat setiap hari Jumat, atau ajak keluarga untuk ikut berbagi agar budaya kebaikan tumbuh bersama. Pada akhirnya, sedekah bukan sekadar memberi, tetapi juga bentuk investasi amal yang manfaatnya akan kembali kepada pemberinya. Semoga semangat berbagi di hari Jumat menjadi kebiasaan yang terus terjaga, menghadirkan keberkahan dalam kehidupan, sekaligus menjadi bekal terbaik menuju akhirat. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/07/2026 | MBL-01
Zakat Mengubah Kehidupan: Manfaat Nyata bagi Masyarakat dan Ekonomi Umat
Zakat Mengubah Kehidupan: Manfaat Nyata bagi Masyarakat dan Ekonomi Umat
ZAKAT bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Melalui zakat, Islam mengajarkan bahwa di setiap harta yang dimiliki terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan. Karena itu, zakat tidak hanya bernilai ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi wujud kepedulian terhadap sesama. Jika dikelola secara optimal, zakat mampu memberikan dampak yang luas bagi masyarakat. Mulai dari membantu memenuhi kebutuhan dasar, mengurangi kesenjangan ekonomi, hingga mendorong pemberdayaan masyarakat agar lebih mandiri. Inilah yang menjadikan zakat sebagai salah satu solusi sosial yang relevan di berbagai zaman. Membantu Mengurangi Kemiskinan Salah satu manfaat paling nyata dari zakat adalah membantu masyarakat yang berada dalam kondisi ekonomi sulit. Dana zakat dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, tempat tinggal, pendidikan, maupun layanan kesehatan. Kini, pengelolaan zakat juga semakin berkembang melalui berbagai program pemberdayaan. Bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan bagi pelaku usaha kecil menjadi upaya agar mustahik tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga mampu meningkatkan taraf hidupnya secara berkelanjutan. Mengurangi Kesenjangan Sosial Perbedaan kondisi ekonomi sering kali memicu kesenjangan di tengah masyarakat. Zakat hadir sebagai mekanisme distribusi kekayaan yang telah diatur dalam syariat Islam, sehingga harta dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Melalui zakat, masyarakat yang memiliki kelebihan rezeki turut berkontribusi membantu mereka yang membutuhkan. Hal ini tidak hanya menciptakan keseimbangan sosial, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan di tengah kehidupan bermasyarakat. Menumbuhkan Kepedulian dan Solidaritas Berzakat juga membentuk karakter yang lebih peduli terhadap sesama. Kebiasaan berbagi menumbuhkan empati kepada fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa, hingga masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Semangat saling membantu inilah yang mempererat solidaritas sosial. Ketika kepedulian tumbuh, hubungan antarmasyarakat menjadi lebih harmonis, penuh rasa saling percaya, dan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan bersama. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Umat Pengelolaan zakat saat ini tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif. Dana zakat dimanfaatkan untuk mendukung usaha mikro, petani, nelayan, pedagang kecil, dan kelompok usaha lainnya agar mampu berkembang. Melalui program pemberdayaan tersebut, mustahik memiliki kesempatan meningkatkan pendapatan, membuka lapangan kerja, bahkan perlahan bertransformasi menjadi pribadi yang mandiri. Tidak sedikit penerima zakat yang pada akhirnya mampu menjadi muzakki dan ikut berbagi kepada sesama. Mendukung Pendidikan dan Layanan Kesehatan Zakat juga berperan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui sektor pendidikan dan kesehatan. Berbagai program beasiswa, bantuan perlengkapan sekolah, pelatihan keterampilan, hingga dukungan biaya pendidikan telah membuka kesempatan bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik. Di bidang kesehatan, dana zakat dimanfaatkan untuk membantu biaya pengobatan, layanan kesehatan gratis, ambulans, hingga penyediaan fasilitas kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Program-program tersebut menjadi bentuk nyata hadirnya zakat dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Hadir Saat Masyarakat Membutuhkan Selain untuk pemberdayaan, zakat juga menjadi salah satu sumber bantuan ketika terjadi bencana atau kondisi darurat. Penyaluran bantuan berupa makanan, pakaian, layanan kesehatan, hingga dukungan pemulihan pascabencana membantu masyarakat bangkit dan melanjutkan kehidupannya. Peran ini menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi sosial yang sangat penting dalam menghadirkan kepedulian dan mempercepat proses pemulihan bagi masyarakat yang terdampak musibah. Zakat sebagai Pilar Kesejahteraan Umat Sejarah Islam menunjukkan bahwa zakat merupakan salah satu pilar penting dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Ketika dikelola secara amanah, profesional, dan tepat sasaran, zakat mampu mengurangi kemiskinan, memperkuat perekonomian umat, serta menciptakan kehidupan sosial yang lebih harmonis. Oleh karena itu, menunaikan zakat bukan hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam membangun kesejahteraan bersama. Semakin banyak masyarakat yang menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat yang terpercaya, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh para mustahik dan masyarakat luas. Melalui pengelolaan yang profesional dan berorientasi pada pemberdayaan, zakat dapat terus menjadi solusi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup umat sekaligus memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial di Indonesia. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/07/2026 | MBL-01
Hijrah Rasulullah: Perjalanan Penuh Hikmah Jadi Tonggak Peradaban Islam
Hijrah Rasulullah: Perjalanan Penuh Hikmah Jadi Tonggak Peradaban Islam
HIJRAH Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan momentum penting yang mengubah arah dakwah Islam dan menjadi awal terbentuknya masyarakat Muslim yang mandiri. Bahkan, peristiwa ini kemudian dijadikan sebagai tonggak awal Kalender Hijriah karena sarat akan makna perjuangan, pengorbanan, dan perubahan menuju kebaikan. Latar Belakang Hijrah Rasulullah SAW Selama lebih dari sepuluh tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi berbagai bentuk tekanan dari kaum Quraisy. Penolakan terhadap ajaran Islam diwujudkan melalui penyiksaan, pemboikotan ekonomi, hingga ancaman pembunuhan terhadap kaum Muslim yang tetap teguh mempertahankan akidahnya. Harapan baru muncul ketika sejumlah penduduk Yatsrib (kini Madinah) menerima dakwah Islam dan menyatakan kesediaan melindungi Rasulullah SAW melalui Baiat Aqabah yang berlangsung dalam dua tahap. Kesepakatan tersebut menjadi awal bagi Rasulullah SAW untuk memerintahkan para sahabat berhijrah secara bertahap, sebelum akhirnya beliau sendiri berangkat bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Perjalanan Hijrah yang Sarat Ujian Hijrah menuju Madinah bukanlah perjalanan yang mudah. Kaum Quraisy bahkan menawarkan hadiah besar bagi siapa pun yang berhasil menangkap Rasulullah SAW, hidup ataupun mati. Sebelum meninggalkan Makkah, Rasulullah SAW meminta Ali bin Abi Thalib untuk tetap tinggal sementara waktu guna mengembalikan barang-barang titipan milik masyarakat. Sikap ini menunjukkan bahwa amanah tetap harus dijaga, bahkan dalam situasi yang penuh ancaman. Dalam perjalanan, Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Salah satu kisah yang paling dikenal adalah munculnya sarang laba-laba dan burung di mulut gua, sehingga para pengejar mengira tempat tersebut tidak mungkin dimasuki seseorang. Setelah keadaan lebih aman, perjalanan dilanjutkan melalui jalur yang tidak biasa dengan dipandu Abdullah bin Uraiqith hingga akhirnya Rasulullah SAW tiba di Madinah dan disambut dengan penuh suka cita oleh penduduk setempat. Awal Terbentuknya Masyarakat Islam di Madinah Kedatangan Rasulullah SAW di Madinah menandai dimulainya babak baru dalam perkembangan Islam. Berbagai langkah strategis dilakukan untuk membangun masyarakat yang kuat dan harmonis. Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai bentuk penguatan ukhuwah Islamiyah. Beliau juga mendirikan Masjid Nabawi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pemerintahan, dan kegiatan sosial. Selain itu, Rasulullah SAW menyusun Piagam Madinah, yaitu kesepakatan yang mengatur hubungan antarwarga dari berbagai suku dan agama demi menciptakan kehidupan yang damai dan tertib. Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi lahirnya pemerintahan Islam pertama yang terorganisasi. Hijrah Menjadi Awal Kalender Hijriah Meski hijrah terjadi pada masa Rasulullah SAW, penetapan peristiwa tersebut sebagai awal Kalender Hijriah baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Para sahabat memilih hijrah sebagai titik awal penanggalan Islam karena dianggap sebagai momen kebangkitan umat dan awal terbentuknya masyarakat Islam yang mandiri. Pilihan ini menunjukkan bahwa yang dijadikan tonggak sejarah bukan sekadar kelahiran atau wafat Rasulullah SAW, melainkan peristiwa yang membawa perubahan besar bagi perkembangan dakwah dan peradaban Islam. Pelajaran Berharga dari Peristiwa Hijrah Hijrah Rasulullah SAW menyimpan banyak hikmah yang tetap relevan bagi kehidupan umat Islam hingga saat ini. Kesabaran dan strategi dalam menghadapi ujian Rasulullah SAW menunjukkan bahwa menghadapi tantangan tidak cukup hanya dengan keberanian, tetapi juga memerlukan kesabaran, perencanaan yang matang, dan ikhtiar yang maksimal. Berpegang teguh pada prinsip Tekanan yang begitu besar tidak membuat Rasulullah SAW dan para sahabat mengorbankan keyakinan mereka. Hijrah menjadi bukti bahwa menjaga akidah adalah prioritas utama. Menjaga amanah dalam segala keadaan Permintaan Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengembalikan barang titipan mengajarkan bahwa amanah harus tetap ditunaikan, bahkan ketika berada dalam kondisi yang sulit. Memperkuat persaudaraan dan solidaritas Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar menjadi teladan tentang pentingnya saling membantu tanpa memandang latar belakang. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam membangun masyarakat Islam. Membangun peradaban melalui kebersamaan Hijrah mengajarkan bahwa perubahan tidak hanya dimulai dari individu, tetapi juga melalui terbentuknya komunitas yang saling mendukung, memiliki aturan yang adil, dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman kehidupan. Makna Hijrah bagi Kehidupan Masa Kini Saat ini, makna hijrah tidak lagi dipahami sebatas perpindahan tempat. Hijrah juga dimaknai sebagai proses meninggalkan kebiasaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah SWT. Semangat hijrah dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, menjaga amanah, mempererat persaudaraan, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal bagi setiap Muslim untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Peristiwa hijrah Rasulullah SAW membuktikan bahwa perubahan besar selalu diawali dengan keimanan, kesabaran, dan usaha yang sungguh-sungguh. Dengan meneladani semangat hijrah, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan sekaligus terus berkontribusi dalam membangun masyarakat yang penuh keberkahan, keadilan, dan kepedulian.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL02/07/2026 | MBL-01
Sejarah Kalender Hijriah: Jejak Kepemimpinan Umar bin Khattab Menyatukan Umat Islam
Sejarah Kalender Hijriah: Jejak Kepemimpinan Umar bin Khattab Menyatukan Umat Islam
KALENDER Hijriah merupakan sistem penanggalan yang menjadi pedoman umat Islam dalam menjalankan berbagai ibadah, seperti puasa Ramadan, Idulfitri, Iduladha, hingga pelaksanaan ibadah haji. Di balik penggunaannya, tersimpan sejarah penting tentang lahirnya kalender Islam yang ditetapkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Keputusan tersebut tidak hanya menjadi solusi bagi kebutuhan administrasi negara, tetapi juga menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan peradaban Islam.Latar Belakang Penetapan Kalender HijriahPada masa awal Islam, belum terdapat sistem penanggalan yang baku. Surat-surat resmi dan dokumen pemerintahan umumnya hanya mencantumkan nama bulan tanpa disertai tahun, sehingga kerap menimbulkan kebingungan, terutama ketika wilayah kekuasaan Islam semakin luas dan urusan pemerintahan semakin kompleks.Diriwayatkan bahwa salah seorang gubernur menyampaikan kepada Khalifah Umar bin Khattab mengenai kesulitan tersebut. Surat-surat yang diterima tidak memiliki penanda tahun sehingga menyulitkan proses administrasi. Masukan itu kemudian mendorong perlunya menetapkan sistem penanggalan resmi yang dapat digunakan secara seragam di seluruh wilayah Islam.Musyawarah Menentukan Awal Penanggalan IslamUntuk mencari solusi, Khalifah Umar mengumpulkan para sahabat Rasulullah SAW dalam sebuah musyawarah. Berbagai usulan pun muncul mengenai peristiwa yang layak dijadikan awal perhitungan tahun Islam, mulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, masa diangkatnya beliau sebagai rasul, tahun wafatnya Rasulullah SAW, hingga peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah.Setelah melalui pembahasan, para sahabat sepakat memilih peristiwa hijrah sebagai titik awal kalender Islam. Hijrah dinilai sebagai momentum yang menandai lahirnya masyarakat Islam yang mandiri sekaligus awal terbentuknya pemerintahan Islam di Madinah.Mengapa Disebut Kalender Hijriah?Istilah Hijriah berasal dari kata hijrah, yakni peristiwa perpindahan Rasulullah SAW bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi titik balik yang membuka jalan bagi berkembangnya dakwah Islam serta terbentuknya masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.Atas dasar itulah, sistem penanggalan umat Islam kemudian dikenal sebagai Kalender Hijriah.Alasan Muharram Menjadi Bulan PertamaMeski peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiulawal, para sahabat menetapkan Muharram sebagai awal tahun dalam kalender Hijriah.Keputusan tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan. Muharram datang setelah bulan Zulhijah, ketika rangkaian ibadah haji telah selesai dilaksanakan. Selain itu, setelah terjadinya Baiat Aqabah, kaum Muslim mulai mempersiapkan hijrah pada bulan Muharram. Karena itulah, bulan ini dipandang sebagai awal perjalanan menuju terbentuknya masyarakat Islam di Madinah.Peran Besar Khalifah Umar bin KhattabSebagai khalifah kedua, Umar bin Khattab berperan penting dalam menetapkan Kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi negara Islam. Kebijakan ini membawa banyak manfaat, baik dalam aspek pemerintahan maupun kehidupan umat.Dengan adanya kalender yang baku, administrasi negara menjadi lebih tertata, pencatatan dokumen dan surat-menyurat semakin mudah, serta penentuan waktu ibadah memiliki acuan yang jelas. Di sisi lain, Kalender Hijriah juga memperkuat identitas umat Islam karena berakar pada salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.Keputusan tersebut menunjukkan kepemimpinan Umar bin Khattab yang mengedepankan musyawarah, ketertiban administrasi, dan kemaslahatan umat.Kalender Hijriah sebagai Pedoman IbadahHingga kini, Kalender Hijriah tetap menjadi acuan dalam menentukan berbagai waktu ibadah dan hari-hari besar Islam. Penetapan awal Ramadan, Idulfitri, Iduladha, pelaksanaan ibadah haji, hingga datangnya bulan-bulan mulia seperti Muharram, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah seluruhnya mengacu pada sistem penanggalan ini.Lebih dari sekadar penunjuk waktu, Kalender Hijriah juga menjadi pengingat atas perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam membangun peradaban Islam yang kokoh.Warisan Berharga bagi Umat IslamPenetapan Kalender Hijriah oleh Khalifah Umar bin Khattab merupakan salah satu warisan penting dalam sejarah Islam yang manfaatnya terus dirasakan hingga saat ini. Melalui sistem penanggalan ini, umat Islam tidak hanya memiliki pedoman dalam menjalankan ibadah, tetapi juga diingatkan pada makna hijrah sebagai simbol perjuangan, pengorbanan, dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.Karena itu, setiap datangnya Tahun Baru Hijriah menjadi momentum untuk tidak sekadar menyambut pergantian kalender, tetapi juga melakukan muhasabah dan memperbarui tekad untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta semangat berhijrah menuju pribadi yang lebih baik.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL02/07/2026 | MBL-01
Kalender Hijriah dan Kiprah Umar: Awal Penanggalan Islam Bertahan Hingga Kini
Kalender Hijriah dan Kiprah Umar: Awal Penanggalan Islam Bertahan Hingga Kini
KALENDER Hijriah yang digunakan umat Islam saat ini merupakan salah satu warisan penting dalam sejarah peradaban Islam. Sistem penanggalan ini ditetapkan pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab sebagai solusi atas kebutuhan administrasi pemerintahan yang semakin berkembang. Lebih dari sekadar penanda waktu, Kalender Hijriah menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan berbagai ibadah dan memperkuat identitas keislaman hingga sekarang.Awal Mula Penetapan Kalender HijriahPada masa awal pemerintahan Islam, surat-surat resmi dan dokumen administrasi belum memiliki sistem penanggalan yang baku. Dokumen hanya mencantumkan nama bulan tanpa menyebutkan tahun, sehingga sering menimbulkan kebingungan, terutama ketika wilayah kekuasaan Islam semakin luas dan aktivitas pemerintahan semakin kompleks.Melihat kondisi tersebut, Khalifah Umar bin Khattab menginisiasi musyawarah bersama para sahabat untuk menetapkan sistem penanggalan resmi yang dapat digunakan secara seragam di seluruh wilayah Islam.Musyawarah yang Melahirkan Kalender IslamSekitar tahun ke-17 Hijriah, para sahabat berkumpul untuk menentukan peristiwa yang paling tepat dijadikan awal perhitungan tahun Islam. Berbagai usulan pun muncul, mulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, masa diangkatnya beliau sebagai rasul, hingga tahun wafatnya Rasulullah SAW.Setelah melalui pembahasan, para sahabat sepakat memilih peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal Kalender Hijriah. Hijrah dinilai sebagai momentum yang mengubah perjalanan dakwah Islam, karena sejak saat itu umat Islam mulai membangun masyarakat dan pemerintahan yang mandiri di Madinah.Sementara itu, bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Islam. Meski hijrah berlangsung pada bulan Rabiulawal, Muharram dipilih karena telah dikenal sebagai awal siklus tahun dalam tradisi Arab dan menjadi masa persiapan kaum Muslim sebelum melaksanakan hijrah.Mengapa Peristiwa Hijrah Dipilih?Hijrah memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perpindahan tempat. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya masyarakat Islam yang memiliki sistem sosial, pemerintahan, dan hukum yang berlandaskan ajaran Islam.Karena nilai strategis tersebut, Khalifah Umar bin Khattab bersama para sahabat menetapkan hijrah sebagai tonggak awal penanggalan Islam. Keputusan ini sekaligus mengabadikan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perkembangan dakwah Rasulullah SAW.Sistem Penanggalan HijriahKalender Hijriah menggunakan peredaran bulan (lunar calendar) sebagai dasar perhitungannya. Dalam satu tahun terdapat 12 bulan, yaitu Muharram, Safar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Syaban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah.Karena mengacu pada siklus bulan, jumlah hari dalam satu tahun Hijriah berkisar antara 354 hingga 355 hari, atau sekitar 10–11 hari lebih singkat dibandingkan kalender Masehi yang didasarkan pada peredaran matahari.Manfaat Kalender Hijriah bagi Umat IslamPenetapan Kalender Hijriah membawa dampak besar bagi kehidupan umat Islam. Dari sisi pemerintahan, sistem ini menciptakan administrasi yang lebih tertib karena setiap dokumen memiliki tanggal dan tahun yang jelas.Di sisi lain, Kalender Hijriah juga menjadi pedoman utama dalam menentukan waktu pelaksanaan berbagai ibadah, seperti puasa Ramadan, pembayaran zakat, Idulfitri, Iduladha, hingga ibadah haji. Hingga kini, kalender tersebut tetap digunakan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia sebagai acuan dalam menjalankan syariat.Warisan Kepemimpinan Umar bin KhattabKeputusan Khalifah Umar bin Khattab menetapkan Kalender Hijriah menunjukkan kepemimpinan yang visioner dan mengedepankan kemaslahatan umat. Kebijakan yang awalnya ditujukan untuk menyempurnakan sistem administrasi pemerintahan ternyata menjadi warisan besar yang terus digunakan lebih dari 14 abad kemudian.Setiap datangnya Tahun Baru Hijriah, umat Islam tidak hanya menyambut pergantian tahun, tetapi juga diingatkan pada makna hijrah sebagai simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat tersebut menjadi inspirasi untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari nilai-nilai Islam yang diwariskan Rasulullah SAW.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL02/07/2026 | MBL-01
Hijrah Rasulullah SAW: Jejak Perjuangan dan Teladan Perubahan bagi Umat Islam
Hijrah Rasulullah SAW: Jejak Perjuangan dan Teladan Perubahan bagi Umat Islam
PERISTIWA hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah merupakan salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi awal terbentuknya peradaban Islam yang lebih kuat dan terorganisasi. Atas pentingnya peristiwa tersebut, hijrah kemudian dijadikan sebagai awal penanggalan kalender Hijriah yang digunakan umat Islam hingga saat ini. Di balik perjalanan tersebut, tersimpan banyak hikmah yang tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hijrah mengajarkan tentang kesabaran, keteguhan iman, pentingnya persaudaraan, serta semangat untuk terus memperbaiki diri. Latar Belakang Hijrah Rasulullah SAW Hijrah terjadi pada tahun 622 Masehi setelah Rasulullah SAW selama lebih dari 13 tahun berdakwah di Makkah dan menghadapi berbagai bentuk penolakan dari kaum Quraisy. Kaum muslimin saat itu mengalami tekanan, penyiksaan, pemboikotan ekonomi, hingga ancaman pembunuhan karena mempertahankan keimanan mereka. Harapan baru muncul ketika sejumlah penduduk Yatsrib (Madinah) menyatakan keislamannya melalui Baiat Aqabah. Mereka mengundang Rasulullah SAW untuk berhijrah sekaligus berjanji melindungi beliau dan kaum muslimin. Atas dasar itulah Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat berhijrah secara bertahap sebelum akhirnya beliau berangkat bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Perjalanan Penuh Ikhtiar dan Tawakal Perjalanan hijrah bukanlah perjalanan yang mudah. Kaum Quraisy bahkan menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap Rasulullah SAW. Sebelum meninggalkan Makkah, Rasulullah SAW meminta Ali bin Abi Thalib untuk tetap tinggal sementara guna mengembalikan barang-barang titipan kepada para pemiliknya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa menjaga amanah tetap menjadi prioritas, bahkan di tengah situasi yang penuh ancaman. Dalam perjalanan menuju Madinah, Rasulullah SAW dan Abu Bakar sempat bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Setelah keadaan aman, keduanya melanjutkan perjalanan melalui jalur yang tidak biasa dengan dipandu Abdullah bin Uraiqith hingga akhirnya tiba di Madinah dan disambut hangat oleh penduduk setempat. Awal Peradaban Islam di Madinah Hijrah menjadi titik awal berkembangnya masyarakat Islam yang lebih kokoh. Setibanya di Madinah, Rasulullah SAW segera melakukan sejumlah langkah strategis, di antaranya mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, membangun Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah sekaligus aktivitas sosial, serta menyusun Piagam Madinah untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis. Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi terbentuknya masyarakat Islam yang menjunjung nilai persatuan, keadilan, dan kebersamaan. Mengapa Hijrah Menjadi Awal Kalender Hijriah? Penetapan hijrah sebagai awal kalender Islam dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Peristiwa hijrah dipilih karena menjadi simbol lahirnya babak baru perjuangan Islam, bukan hanya sebagai kisah perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai awal terbentuknya masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Hikmah Hijrah bagi Kehidupan Muslim Peristiwa hijrah menyimpan banyak pelajaran yang dapat menjadi pedoman bagi umat Islam hingga kini. 1. Kesabaran dan Perencanaan yang Matang Rasulullah SAW menunjukkan bahwa menghadapi ujian tidak cukup dengan keberanian, tetapi juga membutuhkan strategi, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT. 2. Teguh Memegang Prinsip Hijrah dilakukan untuk menjaga akidah dan kebebasan beribadah. Hal ini mengajarkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai kebenaran meski menghadapi berbagai tantangan. 3. Menjaga Amanah dalam Segala Keadaan Permintaan Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengembalikan barang titipan menjadi teladan bahwa amanah harus tetap dijaga, bahkan dalam kondisi yang sulit. 4. Memperkuat Persaudaraan Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar menunjukkan bahwa kepedulian, saling membantu, dan berbagi merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kuat. 5. Membangun Perubahan yang Lebih Baik Hijrah juga dimaknai sebagai proses meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat inilah yang dapat terus dihidupkan oleh setiap muslim, kapan pun dan di mana pun. Momentum Memperbaiki Diri Tahun Baru Hijriah menjadi pengingat bahwa hijrah bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga ajakan untuk terus melakukan perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa. Dengan meneladani perjuangan Rasulullah SAW, umat Islam diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran, menjaga amanah, mempererat persaudaraan, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Semangat hijrah pada akhirnya bukan hanya tentang berpindah tempat, melainkan tentang keberanian untuk meninggalkan keburukan, memperbaiki diri, dan menebarkan manfaat bagi sesama demi meraih ridha Allah SWT.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL01/07/2026 | MBL-01
Hijrah Nabi  SAW: Awal Peradaban Islam dan Inspirasi Hijrah Hidup Lebih Baik
Hijrah Nabi SAW: Awal Peradaban Islam dan Inspirasi Hijrah Hidup Lebih Baik
HIJRAH Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Islam. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, melainkan menjadi titik awal lahirnya masyarakat Islam yang mandiri, berlandaskan keadilan, persaudaraan, dan nilai-nilai syariat. Dari peristiwa inilah peradaban Islam mulai berkembang dan memberikan pengaruh besar hingga masa kini. Latar Belakang Hijrah Nabi Muhammad SAW Sebelum hijrah, Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi berbagai tekanan dari kaum Quraisy di Makkah. Dakwah Islam mendapat penolakan keras, mulai dari intimidasi, pemboikotan, hingga ancaman terhadap keselamatan kaum Muslimin. Di tengah kondisi tersebut, Allah SWT memberikan izin kepada Rasulullah SAW untuk berhijrah ke Madinah, yang saat itu masih dikenal sebagai Yatsrib. Penduduk Madinah yang telah memeluk Islam menyambut baik kedatangan beliau dan berkomitmen memberikan perlindungan kepada Rasulullah SAW beserta para sahabat. Hijrah pun menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan dakwah sekaligus membangun kehidupan masyarakat yang dapat menjalankan ajaran Islam secara lebih leluasa. Titik Awal Peradaban Islam Setibanya di Madinah, Rasulullah SAW segera membangun fondasi kehidupan umat. Salah satu langkah pertama yang dilakukan adalah mendirikan Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, dan berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Beliau juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai bentuk penguatan ukhuwah Islamiyah, sehingga tercipta masyarakat yang saling membantu tanpa membedakan asal-usul. Selain itu, Rasulullah SAW menyusun Piagam Madinah yang menjadi dasar kehidupan bersama bagi masyarakat yang beragam, dengan menjunjung tinggi keadilan, toleransi, serta kerja sama antarkelompok. Dari Madinah, dakwah Islam berkembang semakin luas hingga melahirkan peradaban yang memberi kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pemerintahan, dan kehidupan sosial. Peristiwa hijrah juga kemudian dijadikan sebagai titik awal penanggalan Kalender Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Hingga kini, kalender tersebut menjadi acuan umat Islam dalam menentukan waktu berbagai ibadah, seperti Ramadan, Idulfitri, Iduladha, pelaksanaan haji, hingga perhitungan haul zakat. Hikmah di Balik Peristiwa Hijrah Hijrah Rasulullah SAW mengandung banyak pelajaran yang tetap relevan dalam kehidupan saat ini. Peristiwa tersebut mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian, keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT, serta pentingnya ikhtiar yang disertai perencanaan yang matang. Hijrah juga menunjukkan bahwa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik memerlukan keberanian, pengorbanan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan. Selain itu, persaudaraan dan kepedulian sosial yang dibangun antara Muhajirin dan Anshar menjadi teladan bagi umat Islam dalam memperkuat solidaritas dan saling membantu. Meneladani Semangat Hijrah di Masa Kini Makna hijrah tidak hanya dipahami sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai proses memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat hijrah dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut adalah menunaikan zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud solidaritas sosial. Melalui kepedulian kepada mereka yang membutuhkan, setiap Muslim turut menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekaligus meneladani nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW. Momentum Tahun Baru Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap Muslim selalu memiliki kesempatan untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan meneladani perjuangan Rasulullah SAW, semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta menghadirkan manfaat bagi sesama melalui berbagai bentuk kepedulian dan kebaikan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL01/07/2026 | MBL-01
Muharram: Momentum Hijrah dan Memperbanyak Kebaikan
Muharram: Momentum Hijrah dan Memperbanyak Kebaikan
BULAN Muharram menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam untuk menyambut tahun baru Hijriah dengan semangat memperbaiki diri. Selain sebagai awal tahun dalam kalender Islam, Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang memiliki kedudukan mulia dalam syariat. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi perjalanan diri, serta menata kembali niat dan target kebaikan yang ingin dilakukan sepanjang tahun. Kedudukan Muharram dalam Islam Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk dalam empat bulan haram (asyhurul hurum), bersama Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36) Ayat tersebut mengingatkan umat Islam untuk menjaga diri dari perbuatan zalim dan memperbanyak ketaatan. Karena itu, Muharram dapat menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi diri sekaligus membangun kebiasaan baik yang dapat dipertahankan sepanjang tahun. Muharram sebagai Momentum Hijrah Pergantian tahun Hijriah tidak hanya tentang perubahan angka pada kalender. Lebih dari itu, momen ini dapat menjadi pengingat untuk terus melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat hijrah dapat diwujudkan dengan meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan perilaku yang lebih baik. Mulai dari memperbaiki ibadah, menjaga lisan, meninggalkan perbuatan yang dilarang agama, hingga meningkatkan kepedulian kepada sesama. Dengan begitu, semangat tahun baru tidak berhenti pada perayaan, tetapi diwujudkan melalui perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Memperbanyak Puasa Sunah Salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram adalah memperbanyak puasa sunah, khususnya puasa Asyura pada 10 Muharram dan Tasu'a pada 9 Muharram. Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim No. 1163) Puasa Muharram dapat menjadi sarana untuk melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, sekaligus meningkatkan kedisiplinan dalam beribadah. Mengingat Peristiwa Hari Asyura Tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura juga berkaitan dengan peristiwa diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Kisah tersebut mengajarkan pentingnya menjaga keimanan dan tetap meyakini pertolongan Allah dalam menghadapi berbagai ujian. Nilai tersebut dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk tetap teguh dalam kebaikan, sekalipun menghadapi situasi yang tidak mudah. Memperkuat Kepedulian kepada Sesama Muharram juga dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial. Menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu fakir miskin, anak yatim, maupun masyarakat yang membutuhkan merupakan bentuk nyata dari rasa syukur sekaligus kepedulian kepada sesama. Kebaikan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Berbagi makanan, membantu tetangga, bersedekah, atau memberikan dukungan kepada mereka yang sedang kesulitan juga dapat menjadi langkah sederhana untuk menghidupkan semangat kebaikan di bulan Muharram. Amalan yang Dapat Dilakukan Untuk mengisi Muharram dengan kegiatan yang bermanfaat, beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain: Memperbanyak puasa sunah, khususnya pada 9 dan 10 Muharram. Melakukan muhasabah, dengan mengevaluasi kesalahan dan memperbaiki diri. Memperbanyak istighfar dan zikir sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Membaca Al-Qur'an dan meningkatkan kualitas ibadah. Bersedekah dan membantu sesama, termasuk menyantuni anak yatim dan masyarakat yang membutuhkan. Menjaga silaturahmi dengan keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar. Meninggalkan kebiasaan buruk dan membangun kebiasaan yang lebih baik. Menjaga Kebaikan agar Tidak Berhenti di Muharram Memulai tahun dengan semangat memperbaiki diri tentu baik, tetapi tantangan sebenarnya adalah mempertahankannya. Jangan sampai semangat beribadah hanya meningkat di awal tahun, kemudian kembali berkurang setelah beberapa waktu. Salah satu cara menjaganya adalah dengan membuat target yang sederhana dan realistis. Misalnya, menetapkan waktu untuk membaca Al-Qur'an setiap hari, membiasakan bersedekah secara rutin, menjaga salat tepat waktu, atau menyediakan waktu untuk mengevaluasi diri. Kebaikan yang dilakukan secara konsisten, meskipun sederhana, akan lebih mudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan Muharram sebagai Awal Perubahan Muharram mengingatkan kita bahwa setiap pergantian tahun merupakan kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, kemudian menentukan arah yang lebih baik. Momentum ini dapat diisi dengan memperbanyak ibadah, meninggalkan kebiasaan buruk, memperkuat kepedulian sosial, dan meneladani nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Tahun baru Hijriah bukan sekadar perubahan tanggal. Ia dapat menjadi titik awal untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus memperluas kebermanfaatan bagi sesama. Semoga bulan Muharram menjadi awal dari langkah-langkah kebaikan yang terus terjaga sepanjang tahun, serta membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peduli, dan semakin dekat kepada Allah SWT.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL30/06/2026 | MBL-01
Kalkulator Zakat BAZNAS: Hitung Zakat Lebih Mudah dan Akurat!
Kalkulator Zakat BAZNAS: Hitung Zakat Lebih Mudah dan Akurat!
MENUNAIKAN zakat kini semakin mudah berkat pemanfaatan teknologi digital. Salah satu layanan yang dapat membantu umat Islam adalah Kalkulator Zakat BAZNAS, yang dirancang untuk memudahkan perhitungan zakat secara cepat, praktis, dan sesuai dengan ketentuan syariat. Bagi sebagian orang, menghitung zakat sering kali menjadi tantangan, terutama jika memiliki berbagai sumber penghasilan, tabungan, investasi, atau aset usaha. Melalui Kalkulator Zakat BAZNAS, masyarakat dapat mengetahui apakah hartanya telah mencapai nisab sekaligus menghitung besaran zakat yang wajib ditunaikan secara lebih akurat. Pentingnya Menghitung Zakat dengan Tepat Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga berperan dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang membutuhkan. Karena memiliki ketentuan khusus, perhitungan zakat perlu memperhatikan sejumlah aspek, seperti nisab, haul, jenis harta, nilai harta bersih, hingga kewajiban yang dapat mengurangi harta zakat. Perhitungan yang tepat akan membantu muzaki menunaikan kewajibannya sesuai syariat. Mengenal Kalkulator Zakat BAZNAS Kalkulator Zakat BAZNAS merupakan layanan digital yang membantu masyarakat menghitung berbagai jenis zakat berdasarkan ketentuan yang berlaku. Pengguna cukup memasukkan data sesuai jenis harta yang dimiliki, kemudian sistem akan menghitung besaran zakat secara otomatis. Layanan ini dapat digunakan untuk menghitung berbagai jenis zakat, di antaranya: Zakat penghasilan atau profesi. Zakat emas. Zakat tabungan. Zakat perdagangan. Zakat perusahaan. Untuk zakat penghasilan, misalnya, pengguna hanya perlu memasukkan jumlah pendapatan yang diterima. Sistem kemudian akan membandingkannya dengan nisab yang mengacu pada nilai setara 85 gram emas per tahun. Apabila telah memenuhi syarat, zakat yang wajib ditunaikan sebesar 2,5 persen dari penghasilan yang memenuhi ketentuan. Mengapa Menggunakan Kalkulator Zakat? Menggunakan Kalkulator Zakat BAZNAS memberikan sejumlah kemudahan bagi masyarakat, antara lain: Perhitungan lebih cepat dan praktis. Mengurangi risiko kesalahan dalam menghitung zakat. Mengacu pada ketentuan syariat dan standar yang digunakan BAZNAS. Membantu merencanakan pembayaran zakat secara rutin. Terintegrasi dengan layanan pembayaran zakat sehingga prosesnya menjadi lebih mudah. Dengan layanan ini, masyarakat tidak perlu lagi melakukan perhitungan secara manual yang berpotensi menimbulkan kekeliruan, terutama bagi mereka yang memiliki beberapa jenis aset atau sumber penghasilan. Pilih Layanan Zakat dari Lembaga Terpercaya Saat ini tersedia berbagai aplikasi maupun situs yang menyediakan layanan perhitungan zakat. Namun, penting bagi masyarakat untuk menggunakan layanan dari lembaga resmi agar perhitungan yang dilakukan mengacu pada ketentuan syariat dan regulasi yang berlaku. Melalui Kalkulator Zakat BAZNAS, data nisab selalu diperbarui mengikuti perkembangan harga emas, sehingga hasil perhitungan menjadi lebih akurat. Layanan ini juga terhubung dengan berbagai kanal pembayaran zakat yang memudahkan masyarakat menunaikan kewajibannya kapan saja dan di mana saja. Wujudkan Kemudahan Berzakat di Era Digital Perkembangan teknologi menghadirkan berbagai kemudahan dalam menjalankan ibadah, termasuk zakat. Kehadiran Kalkulator Zakat BAZNAS menjadi solusi bagi masyarakat untuk menghitung kewajiban zakat secara lebih praktis tanpa mengurangi nilai dan ketentuan syariat. Dengan memanfaatkan layanan ini, umat Islam dapat menunaikan zakat dengan lebih tenang, tepat, dan sesuai aturan. Mari hitung dan tunaikan zakat melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan serta menjadi bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan umat. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/06/2026 | MBL-01
Ini 10 Amalan Muharram Membuka Pintu Rezeki dan Mendatangkan Keberkahan
Ini 10 Amalan Muharram Membuka Pintu Rezeki dan Mendatangkan Keberkahan
MUHARRAM merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Sebagai pembuka tahun Hijriah, bulan ini menjadi momentum yang tepat bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperbanyak amal saleh. Selain menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Muharram juga dapat dimanfaatkan untuk memohon keberkahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kelapangan rezeki. Perlu dipahami bahwa dalam Islam, rezeki tidak hanya diartikan sebagai harta atau materi. Kesehatan, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, pekerjaan yang baik, hingga ketenangan hati juga merupakan bentuk rezeki yang patut disyukuri. Karena itu, memperbanyak amalan di bulan Muharram menjadi salah satu ikhtiar untuk meraih keberkahan hidup secara menyeluruh. Muharram, Bulan yang Penuh Keutamaan Muharram termasuk satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram sebagai salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar. Semangat awal tahun Hijriah menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk memulai kebiasaan baik yang diharapkan dapat terus dijaga sepanjang tahun. Semakin dekat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, semakin besar pula harapan memperoleh keberkahan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Mengapa Amalan Dapat Menjadi Jalan Datangnya Rezeki? Islam mengajarkan bahwa Allah SWT adalah pemberi segala rezeki. Namun, setiap Muslim juga diperintahkan untuk berikhtiar melalui amal saleh dan ketaatan kepada-Nya. Al-Qur'an maupun hadis menjelaskan bahwa ketakwaan, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk ibadah lainnya dapat menjadi sebab datangnya rahmat dan keberkahan Allah. Karena itu, mengamalkan berbagai ibadah di bulan Muharram bukanlah cara untuk mengejar kekayaan secara instan, melainkan bentuk ikhtiar agar Allah SWT melapangkan rezeki yang halal, berkah, dan bermanfaat. Amalan Muharram yang Dapat Dilakukan Setiap Hari 1. Memperbanyak Istighfar Istighfar merupakan amalan yang sederhana, tetapi memiliki keutamaan yang besar. Memohon ampun kepada Allah SWT dapat menjadi jalan untuk membersihkan diri dari dosa sekaligus memohon kelapangan rezeki. Jadikan istighfar sebagai kebiasaan setelah salat maupun di sela-sela aktivitas sehari-hari. 2. Menjaga Salat Lima Waktu Salat adalah ibadah utama yang menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim. Menunaikan salat tepat waktu tidak hanya menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana memohon pertolongan dan keberkahan dalam setiap urusan. 3. Membiasakan Membaca Al-Qur'an Meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an setiap hari akan menghadirkan ketenangan sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Tidak harus dalam jumlah yang banyak, yang terpenting adalah dilakukan secara rutin dan penuh penghayatan. 4. Bersedekah Secara Konsisten Sedekah menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan karena membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan rezeki. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari berbagi makanan, membantu sesama, hingga menyalurkan zakat, infak, maupun sedekah melalui lembaga yang amanah. 5. Menjalankan Puasa Sunnah di Bulan Muharram Puasa sunnah, khususnya Puasa Asyura pada 10 Muharram, memiliki keutamaan yang besar. Selain menjadi bentuk ibadah yang berpahala, puasa juga melatih kesabaran dan meningkatkan ketakwaan, yang merupakan salah satu kunci datangnya keberkahan hidup. 6. Menjalin Silaturahmi Menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, maupun sahabat termasuk amalan yang dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa silaturahmi dapat menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur dalam keberkahan. Momentum Muharram dapat dimanfaatkan untuk kembali mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang. 7. Memperbanyak Doa Selain berusaha dan beribadah, umat Islam juga dianjurkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Mohonlah rezeki yang halal, kesehatan, keberkahan hidup, serta kemudahan dalam setiap urusan. Doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan merupakan bentuk penghambaan kepada Allah SWT. 8. Membantu Sesama Memberikan pertolongan kepada orang lain merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Bantuan tidak selalu berupa materi, tetapi juga dapat berupa tenaga, waktu, ilmu, atau perhatian. Ketika seorang Muslim memudahkan urusan saudaranya, Allah SWT pun akan memberikan pertolongan kepadanya. 9. Menjaga Kejujuran dalam Bekerja Rezeki yang halal lahir dari usaha yang dilakukan dengan cara yang baik. Kejujuran dalam bekerja maupun berusaha menjadi salah satu nilai penting yang harus dijaga agar rezeki yang diperoleh membawa keberkahan. 10. Bertawakal kepada Allah SWT Setelah berusaha, beribadah, dan berdoa, seorang Muslim dianjurkan untuk bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Sikap ini akan menghadirkan ketenangan hati dalam menghadapi berbagai kondisi kehidupan. Agar Amalan Tetap Istikamah Memulai kebiasaan baik sering kali terasa lebih mudah dibandingkan menjaganya secara konsisten. Agar amalan di bulan Muharram dapat terus dilakukan, beberapa langkah sederhana dapat diterapkan, seperti memulai dari amalan yang ringan, menetapkan target harian yang realistis, membuat jadwal ibadah, bergabung dengan lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan, serta senantiasa berdoa agar diberikan keistiqamahan. Dalam Islam, amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sederhana, lebih dicintai Allah SWT daripada amalan yang besar tetapi hanya dilakukan sesekali. Mengutamakan Rezeki yang Berkah Islam mengajarkan bahwa keberkahan rezeki lebih bernilai daripada sekadar jumlahnya. Rezeki yang halal dan berkah akan membawa ketenangan, rasa syukur, serta manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, tujuan utama memperbanyak amalan di bulan Muharram bukan semata-mata mengejar kelimpahan materi, tetapi juga memohon agar setiap nikmat yang diberikan Allah SWT membawa keberkahan dalam kehidupan. Muharram menjadi waktu yang tepat untuk memulai kebiasaan-kebiasaan baik, seperti memperbanyak istighfar, menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, berpuasa sunnah, menjalin silaturahmi, memperbanyak doa, membantu sesama, menjaga kejujuran, dan bertawakal kepada Allah SWT. Dengan menjalankan amalan-amalan tersebut secara istiqamah, semoga Allah SWT melimpahkan rezeki yang halal, berkah, dan membawa manfaat bagi kehidupan di dunia maupun akhirat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/06/2026 | MBL-01
Muharam, Saat  Tepat Memulai Perubahan dari Akhlak Lebih Baik
Muharam, Saat Tepat Memulai Perubahan dari Akhlak Lebih Baik
BULAN Muharam menjadi salah satu momen istimewa dalam kalender Hijriah. Sebagai salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT, Muharam bukan hanya waktu untuk memperbanyak ibadah seperti puasa sunnah dan sedekah, tetapi juga kesempatan terbaik untuk memperbaiki diri, terutama dalam hal akhlak. Memasuki tahun baru Hijriah seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai pergantian waktu, tetapi juga menjadi awal untuk mengevaluasi perjalanan hidup. Sudahkah hubungan kita dengan Allah SWT semakin baik? Sudahkah kita memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang dan kejujuran? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi dasar untuk memulai perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Mengapa Menjadi Momentum Memperbaiki Akhlak? Setiap pergantian tahun membawa harapan baru. Dalam Islam, Muharam mengajarkan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri agar setiap Muslim dapat terus meningkatkan kualitas iman dan amal. Memperbaiki akhlak menjadi salah satu langkah yang paling penting. Sebab, kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari bagaimana ia bersikap kepada orang lain. Akhlak yang baik akan membawa ketenangan dalam keluarga, mempererat hubungan sosial, serta menciptakan lingkungan yang penuh kedamaian. Akhlak Mulia adalah Cerminan Keimanan Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Beliau menjadi teladan dalam kejujuran, kelembutan, kesabaran, serta kasih sayang kepada siapa pun tanpa membedakan latar belakang. Karena itu, memperbaiki akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan keimanan. Rajin beribadah akan semakin sempurna ketika diiringi dengan sikap jujur, amanah, rendah hati, serta mampu menjaga lisan dan perilaku. Perubahan Besar Berawal dari Kebiasaan Sederhana Memperbaiki akhlak tidak harus dimulai dengan sesuatu yang rumit. Justru perubahan yang dilakukan sedikit demi sedikit secara konsisten akan lebih mudah dipertahankan. Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat mulai diterapkan antara lain: 1. Membiasakan Berkata Jujur Kejujuran merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Bersikap jujur, baik dalam ucapan, pekerjaan, maupun saat menepati janji, akan menumbuhkan kepercayaan dan membawa keberkahan dalam kehidupan. 2. Menjaga Lisan Ucapan yang baik mampu membawa kebaikan, sementara lisan yang tidak dijaga dapat melukai banyak hati. Hindari gibah, fitnah, perkataan kasar, maupun menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Biasakan berbicara dengan sopan dan memberi manfaat bagi orang lain. 3. Murah Senyum Senyum adalah amalan sederhana yang memiliki nilai besar dalam Islam. Senyum yang tulus mampu menciptakan suasana hangat, mempererat hubungan, dan menghadirkan kenyamanan bagi orang-orang di sekitar. 4. Berbakti kepada Orang Tua Menghormati, membantu, dan mendoakan orang tua merupakan salah satu bentuk akhlak mulia yang sangat dianjurkan. Bagi yang orang tuanya telah wafat, bakti dapat terus diwujudkan melalui doa serta menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat mereka. 5. Menepati Janji Janji adalah amanah yang harus dijaga. Membiasakan diri datang tepat waktu, memenuhi komitmen, dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan merupakan bagian dari akhlak yang dicintai Allah SWT. Muhasabah, Kunci Memperbaiki Diri Muharam juga menjadi waktu yang tepat untuk membiasakan muhasabah. Luangkan waktu untuk mengevaluasi diri dengan bertanya, misalnya: Apakah saya sudah menjaga lisan dengan baik? Apakah saya pernah menyakiti hati orang lain? Apakah saya telah menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab? Apakah saya sudah memperlakukan keluarga dengan penuh kasih sayang? Muhasabah membantu kita menyadari kekurangan sekaligus menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Jadikan Muharam Awal Kebiasaan Baik Semangat memperbaiki akhlak tidak seharusnya berhenti setelah Muharam berlalu. Bulan ini dapat dijadikan titik awal untuk membangun kebiasaan positif yang terus dijaga sepanjang tahun. Mulailah dengan target yang sederhana, seperti mengurangi amarah, memperbanyak sedekah, menjaga silaturahmi, meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, atau membiasakan membantu sesama. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah akan membentuk karakter yang lebih baik. Tetap Istiqamah Meski Menghadapi Tantangan Perjalanan memperbaiki diri tentu tidak selalu mudah. Ada kalanya seseorang kembali melakukan kesalahan atau kehilangan semangat. Namun, Islam mengajarkan agar tidak mudah berputus asa. Setiap kekeliruan hendaknya dijadikan pelajaran untuk segera bertaubat dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Lingkungan yang positif juga memiliki peran penting. Berteman dengan orang-orang saleh, mengikuti kajian keislaman, dan memperbanyak membaca ilmu agama dapat membantu menjaga semangat dalam memperbaiki akhlak. Akhlak Baik Membawa Keberkahan Akhlak yang mulia memberikan banyak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hati menjadi lebih tenang, hubungan keluarga semakin harmonis, kepercayaan orang lain meningkat, dan kehidupan sosial menjadi lebih damai. Lebih dari itu, akhlak yang baik merupakan salah satu bentuk dakwah yang paling efektif. Perilaku yang santun, jujur, dan penuh kepedulian sering kali mampu menginspirasi orang lain untuk mengenal nilai-nilai Islam. Muharam adalah momentum terbaik untuk memulai perubahan tersebut. Tidak perlu menunggu langkah besar, karena perubahan yang berarti selalu berawal dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk terus memperbaiki akhlak, meningkatkan keimanan, serta menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL26/06/2026 | MBL-01
Zakat Buka Jalan Pendidikan Anak Dhuafa Menuju Masa Depan Lebih Cerah
Zakat Buka Jalan Pendidikan Anak Dhuafa Menuju Masa Depan Lebih Cerah
ZAKAT tidak hanya berfungsi untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang kurang mampu, tetapi juga menjadi sarana penting dalam mendukung pendidikan anak-anak dhuafa. Melalui pengelolaan dana zakat yang amanah dan profesional oleh BAZNAS, banyak anak dari keluarga prasejahtera memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan membangun masa depan yang lebih baik. Pendidikan sebagai Kunci Perubahan Hidup Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dengan memperoleh akses pendidikan yang layak, anak-anak dapat mengembangkan potensi diri, memperluas peluang kerja di masa depan, serta meningkatkan taraf hidup keluarga mereka. Bagi anak-anak dari keluarga dhuafa, pendidikan menjadi salah satu jalan utama untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini membatasi kesempatan mereka untuk berkembang. Membantu Mencegah Anak Putus Sekolah Kondisi ekonomi yang terbatas sering kali menjadi hambatan bagi keluarga kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Biaya sekolah, perlengkapan belajar, transportasi, hingga berbagai kebutuhan penunjang lainnya kerap menjadi tantangan yang sulit dihadapi. Melalui program pendidikan yang didukung dana zakat, berbagai kendala tersebut dapat diminimalkan sehingga anak-anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk tetap bersekolah dan menyelesaikan pendidikannya. Investasi untuk Generasi Berkualitas Dukungan terhadap pendidikan tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima bantuan, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat secara luas. Anak-anak yang mendapatkan pendidikan yang baik berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, produktif, dan mampu berkontribusi bagi lingkungan serta pembangunan bangsa. Beragam Dukungan Pendidikan dari Dana Zakat Pemanfaatan zakat di sektor pendidikan diwujudkan melalui berbagai program yang dirancang untuk membantu anak-anak dhuafa. Salah satunya adalah pemberian beasiswa bagi siswa dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu agar mereka dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya yang besar. Selain itu, dana zakat juga digunakan untuk menyediakan kebutuhan belajar seperti seragam sekolah, tas, buku, alat tulis, dan perlengkapan pendidikan lainnya. Bantuan tersebut membantu memastikan anak-anak memiliki sarana yang memadai dalam mengikuti proses pembelajaran. Tidak hanya itu, zakat juga dapat dimanfaatkan untuk membantu biaya pendidikan yang harus ditanggung keluarga mustahik, termasuk berbagai kebutuhan akademik yang menunjang keberlangsungan studi. Beberapa program bahkan dilengkapi dengan pembinaan karakter, pendampingan belajar, pelatihan keterampilan, dan pengembangan kapasitas diri agar para penerima manfaat dapat berkembang secara optimal, baik dari sisi akademik maupun personal. Dampak Nyata bagi Keluarga Mustahik Program pendidikan berbasis zakat memberikan manfaat langsung bagi keluarga penerima manfaat. Bantuan yang diberikan mampu meringankan beban pengeluaran pendidikan sehingga keluarga dapat lebih fokus memenuhi kebutuhan pokok lainnya. Di sisi lain, terpenuhinya kebutuhan pendidikan juga dapat meningkatkan semangat belajar anak. Dukungan yang mereka terima menjadi motivasi untuk terus berprestasi dan mengejar cita-cita yang diimpikan. Lebih dari itu, pendidikan membuka harapan baru bagi anak-anak dhuafa untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa depan. Kesempatan tersebut tidak hanya mengubah masa depan individu, tetapi juga berpotensi meningkatkan kondisi ekonomi keluarga secara keseluruhan. Memutus Mata Rantai Kemiskinan Salah satu manfaat terbesar dari program pendidikan yang didukung dana zakat adalah kemampuannya dalam membantu memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Anak-anak yang memperoleh pendidikan yang baik memiliki peluang lebih besar untuk mencapai kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya di masa mendatang. Zakat sebagai Investasi Masa Depan Umat Pemanfaatan zakat untuk pendidikan menunjukkan bahwa zakat memiliki peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Melalui program yang tepat sasaran, anak-anak dhuafa memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita mereka. Setiap zakat yang ditunaikan bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga menjadi investasi sosial jangka panjang yang memberikan manfaat berkelanjutan. Dengan mendukung pendidikan anak-anak dhuafa, zakat turut berkontribusi dalam menciptakan generasi yang lebih berdaya, mandiri, dan siap membangun Indonesia yang lebih sejahtera. Mari tunaikan zakat melalui BAZNAS dan bersama-sama membantu membuka jalan pendidikan bagi anak-anak dhuafa menuju masa depan yang lebih baik.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL25/06/2026 | MBL-01
Masih Bingung Soal Zakat? Simak Panduan Lengkap untuk Muzaki
Masih Bingung Soal Zakat? Simak Panduan Lengkap untuk Muzaki
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam mewujudkan kesejahteraan umat. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang memiliki pertanyaan seputar kewajiban zakat, mulai dari kapan zakat harus ditunaikan, bagaimana cara menghitungnya, hingga mekanisme pembayarannya. Memahami ketentuan zakat menjadi langkah penting agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan syariat sekaligus memberikan manfaat yang optimal bagi para penerima manfaat (mustahik). Kapan Seseorang Wajib Menunaikan Zakat? Kewajiban zakat muncul ketika harta atau penghasilan yang dimiliki telah memenuhi syarat tertentu sesuai jenis zakat yang dikenakan. Pada zakat maal, misalnya, harta yang dimiliki harus mencapai nisab dan telah dimiliki selama satu tahun hijriah atau haul. Nisab sendiri merupakan batas minimal harta yang mewajibkan seseorang untuk berzakat. Untuk zakat maal maupun zakat penghasilan, nisab umumnya mengacu pada nilai setara 85 gram emas. Sementara itu, haul adalah masa kepemilikan harta selama satu tahun hijriah. Ketentuan ini berlaku pada beberapa jenis zakat maal seperti tabungan, investasi tertentu, dan aset perdagangan yang telah memenuhi nisab. Bagi masyarakat yang memperoleh penghasilan rutin setiap bulan, zakat penghasilan juga menjadi kewajiban apabila pendapatan yang diterima telah mencapai nisab. Besaran zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen dari penghasilan yang diperoleh. Cara Menghitung Zakat dengan Mudah Menghitung zakat sebenarnya cukup sederhana. Untuk zakat penghasilan, perhitungannya dilakukan dengan mengalikan total pendapatan dengan tarif zakat sebesar 2,5 persen. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki penghasilan Rp10 juta per bulan dan telah memenuhi nisab dapat menunaikan zakat sebesar Rp250 ribu setiap bulan. Selain zakat penghasilan, zakat juga berlaku pada tabungan yang telah mencapai nisab dan tersimpan selama satu tahun hijriah. Besaran zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen dari total tabungan yang dimiliki. Sementara itu, zakat perdagangan dihitung berdasarkan aset usaha yang dimiliki setelah dikurangi kewajiban jangka pendek. Perhitungan tersebut mencakup kas, persediaan barang, serta piutang lancar yang kemudian dikurangi utang jangka pendek, lalu dikalikan dengan tarif zakat sebesar 2,5 persen. Untuk memudahkan perhitungan, BAZNAS menyediakan layanan kalkulator zakat yang dapat digunakan masyarakat guna mengetahui besaran zakat secara cepat dan akurat sesuai jenis harta yang dimiliki. Beragam Kemudahan dalam Membayar Zakat Seiring perkembangan teknologi, pembayaran zakat kini dapat dilakukan dengan lebih mudah. Selain melalui kantor layanan BAZNAS dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ), masyarakat juga dapat menunaikan zakat melalui berbagai kanal pembayaran digital yang tersedia. Layanan zakat online memungkinkan muzaki membayar zakat kapan saja dan dari mana saja tanpa harus datang langsung ke kantor layanan. Berbagai jenis zakat juga dapat ditunaikan melalui layanan tersebut, mulai dari zakat penghasilan, zakat maal, zakat perdagangan, zakat pertanian, zakat peternakan, hingga zakat fitrah pada waktu yang telah ditentukan. Dalam pengelolaannya, BAZNAS menerapkan prinsip aman syar'i, aman regulasi, dan aman NKRI. Dengan prinsip tersebut, dana zakat yang dihimpun dapat dikelola secara profesional, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apa yang Terjadi Setelah Zakat Dibayarkan? Setelah pembayaran zakat berhasil dilakukan, muzaki akan menerima bukti pembayaran sebagai dokumentasi transaksi. Bukti tersebut disarankan untuk disimpan sebagai arsip pribadi dan catatan pelaksanaan kewajiban zakat. Dana zakat yang dihimpun kemudian disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program yang mencakup bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, sosial kemanusiaan, serta penanggulangan bencana. Selain itu, BAZNAS secara berkala menyampaikan informasi mengenai berbagai program pemberdayaan dan penyaluran yang didukung oleh dana zakat. Dengan demikian, masyarakat dapat melihat secara langsung manfaat dan dampak dari zakat yang telah mereka tunaikan. Zakat untuk Kesejahteraan Umat Menunaikan zakat bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga wujud kepedulian sosial terhadap sesama. Melalui pengelolaan yang profesional dan amanah, zakat menjadi instrumen penting dalam membantu masyarakat yang membutuhkan sekaligus memperkuat kesejahteraan umat. Dengan memahami ketentuan, cara perhitungan, dan mekanisme pembayaran zakat, masyarakat dapat menunaikan kewajiban tersebut dengan lebih mudah, tepat, dan penuh ketenangan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL25/06/2026 | MBL-01
Memahami Dasar Syariah Zakat Penghasilan di Era Profesi Modern
Memahami Dasar Syariah Zakat Penghasilan di Era Profesi Modern
PERKEMBANGAN dunia kerja telah melahirkan berbagai profesi dan sumber pendapatan baru yang tidak dikenal pada masa lalu. Kondisi ini mendorong para ulama untuk mengkaji bagaimana kewajiban zakat diterapkan terhadap penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan dan profesi modern. Dari kajian tersebut lahirlah konsep zakat penghasilan atau zakat profesi yang kini menjadi salah satu bentuk zakat yang banyak ditunaikan oleh umat Islam. Pemahaman mengenai dasar syariah dan ketentuan zakat penghasilan menjadi penting agar pelaksanaannya sesuai dengan prinsip-prinsip Islam sekaligus sejalan dengan regulasi pengelolaan zakat yang berlaku di Indonesia. Menjawab Perkembangan Sumber Penghasilan Modern Pada masa Rasulullah SAW, mayoritas masyarakat memperoleh penghasilan dari sektor perdagangan, pertanian, peternakan, dan hasil tambang. Namun seiring perkembangan zaman, muncul berbagai profesi yang menghasilkan pendapatan secara rutin, seperti pegawai, tenaga pendidik, dokter, konsultan, aparatur sipil negara, hingga pekerja profesional di berbagai bidang. Perubahan pola ekonomi tersebut mendorong para ulama untuk melakukan kajian mengenai kewajiban zakat atas penghasilan yang diperoleh dari profesi. Melalui ijtihad yang berlandaskan Al-Qur'an, hadis, dan prinsip-prinsip syariat Islam, para ulama menyimpulkan bahwa penghasilan yang diperoleh secara halal juga termasuk harta yang memiliki kewajiban zakat apabila telah memenuhi syarat tertentu. Di Indonesia, zakat penghasilan telah menjadi salah satu instrumen zakat yang dikelola oleh BAZNAS sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan potensi zakat untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Landasan Syariah Zakat Penghasilan Salah satu dasar yang sering dijadikan rujukan mengenai zakat penghasilan terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 267, yang memerintahkan umat Islam untuk menginfakkan sebagian dari hasil usaha yang baik dan halal. Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap penghasilan yang diperoleh melalui usaha yang sah mengandung hak yang perlu ditunaikan untuk kepentingan sosial dan kemaslahatan umat. Selain itu, berbagai ayat Al-Qur'an juga menegaskan pentingnya zakat sebagai sarana penyucian harta dan jiwa bagi seorang muslim. Karena zakat profesi tidak dibahas secara spesifik dalam literatur zakat klasik, para ulama kontemporer kemudian melakukan pendekatan qiyas atau analogi terhadap jenis harta lain yang telah memiliki ketentuan zakat, seperti hasil pertanian dan harta yang berkembang. Melalui pendekatan tersebut, penghasilan dari profesi dipandang sebagai harta yang memiliki nilai ekonomi dan potensi berkembang, sehingga dapat menjadi objek zakat ketika telah memenuhi syarat yang ditetapkan syariat. Didukung Fatwa dan Ketentuan di Indonesia Kewajiban zakat penghasilan di Indonesia juga diperkuat melalui fatwa para ulama yang menyatakan bahwa setiap penghasilan halal yang telah mencapai nisab wajib dikeluarkan zakatnya. Ketentuan ini kemudian menjadi pedoman bagi BAZNAS dan lembaga pengelola zakat lainnya dalam menghimpun serta mengelola zakat penghasilan. Berdasarkan ketentuan yang digunakan BAZNAS, nisab zakat penghasilan disetarakan dengan nilai 85 gram emas dalam satu tahun. Apabila penghasilan seseorang telah mencapai batas tersebut, maka ia berkewajiban mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen. Pembayaran zakat dapat dilakukan setiap kali menerima penghasilan atau dikumpulkan terlebih dahulu dan dibayarkan secara berkala, selama tetap memperhatikan ketentuan nisab yang berlaku. Mendorong Kesadaran Berzakat di Kalangan Profesional Kehadiran zakat penghasilan memberikan kemudahan bagi para pekerja dan profesional untuk menunaikan kewajiban zakat sesuai dengan sumber pendapatan yang mereka miliki. Dengan demikian, kewajiban zakat tidak hanya berlaku bagi pemilik usaha atau sektor tertentu, tetapi juga mencakup berbagai profesi yang berkembang di era modern. Pemahaman yang baik mengenai dasar syariah zakat penghasilan juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa setiap harta yang memenuhi syarat memiliki hak bagi mereka yang membutuhkan. Kesadaran tersebut menjadi faktor penting dalam mendorong kepatuhan berzakat secara rutin dan berkelanjutan. Berkontribusi bagi Kesejahteraan Umat Semakin besar partisipasi masyarakat dalam menunaikan zakat penghasilan, semakin besar pula potensi dana zakat yang dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Dana tersebut dapat disalurkan melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, sosial kemanusiaan, hingga penanggulangan bencana. Saat ini, BAZNAS juga menyediakan berbagai layanan digital yang memudahkan masyarakat dalam menghitung dan menunaikan zakat penghasilan. Melalui kalkulator zakat dan kanal pembayaran online, muzaki dapat memastikan perhitungan zakat dilakukan secara tepat serta menunaikannya kapan saja dan di mana saja. Menunaikan Zakat dengan Lebih Yakin Zakat penghasilan menjadi bukti bahwa ajaran Islam mampu menjawab perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keadilan sosial yang menjadi ruh dari ibadah zakat. Melalui zakat penghasilan, umat Islam dapat menyucikan harta yang dimiliki sekaligus berbagi manfaat dengan masyarakat yang membutuhkan. Dengan memahami landasan syariah, ketentuan nisab, serta tata cara pelaksanaannya, setiap muslim dapat menunaikan zakat penghasilan dengan lebih yakin, tepat, dan sesuai syariat. Pada akhirnya, zakat tidak hanya menghadirkan keberkahan bagi pemilik harta, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam mewujudkan kesejahteraan umat. Mari tunaikan zakat penghasilan melalui BAZNAS dan bersama-sama menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi sesama.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL25/06/2026 | MBL-01
Sudah Wajib Zakat atau Belum? Kenali Nisab Penghasilan, Emas, dan Tabungan
Sudah Wajib Zakat atau Belum? Kenali Nisab Penghasilan, Emas, dan Tabungan
MENUNAIKAN zakat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat tertentu. Salah satu syarat utama yang perlu dipahami adalah nisab, yaitu batas minimum kepemilikan harta yang menjadi penentu apakah seseorang telah wajib mengeluarkan zakat atau belum. Karena setiap jenis harta memiliki ketentuan yang berbeda, pemahaman mengenai nisab menjadi penting agar perhitungan zakat dapat dilakukan secara tepat dan sesuai dengan syariat Islam. Beberapa jenis zakat yang paling umum ditunaikan masyarakat adalah zakat penghasilan, zakat emas, dan zakat tabungan. Memahami Pentingnya Nisab dalam Zakat Nisab berfungsi sebagai batas minimal harta yang menyebabkan seseorang memiliki kewajiban berzakat. Apabila jumlah harta yang dimiliki belum mencapai nisab, maka zakat belum diwajibkan. Sebaliknya, ketika harta telah mencapai atau melebihi nisab sesuai ketentuan yang berlaku, zakat wajib ditunaikan. Dalam praktiknya, nisab untuk beberapa jenis zakat mengacu pada nilai setara 85 gram emas. Oleh karena itu, perubahan harga emas akan memengaruhi nilai nisab yang digunakan dalam perhitungan zakat. Nisab Zakat Penghasilan Zakat penghasilan dikenakan pada pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau profesi, seperti gaji, honorarium, tunjangan, jasa profesional, maupun sumber penghasilan halal lainnya. Menurut ketentuan yang digunakan BAZNAS, nisab zakat penghasilan setara dengan nilai 85 gram emas dalam satu tahun. Apabila total penghasilan yang diterima selama satu tahun telah mencapai atau melampaui nilai tersebut, maka seseorang berkewajiban menunaikan zakat penghasilan. Besaran zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen dari penghasilan yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Karena nilai nisab mengikuti harga emas yang berlaku, penting bagi muzaki untuk memperbarui informasi harga emas secara berkala agar perhitungan dilakukan dengan tepat. Nisab Zakat Emas Selain penghasilan, emas juga termasuk harta yang wajib dizakati apabila telah memenuhi syarat nisab dan haul. Nisab zakat emas ditetapkan sebesar 85 gram emas yang dimiliki selama satu tahun hijriah. Ketentuan ini umumnya berlaku untuk emas yang disimpan sebagai investasi atau aset. Adapun perhiasan yang digunakan sehari-hari memiliki ketentuan tersendiri sesuai dengan pendapat para ulama. Jika kepemilikan emas telah mencapai nisab dan melewati masa kepemilikan satu tahun, maka zakat yang wajib dikeluarkan sebesar 2,5 persen dari total emas yang dimiliki atau nilai rupiahnya. Nisab Zakat Tabungan Tabungan juga termasuk harta yang memiliki kewajiban zakat apabila telah mencapai nisab yang setara dengan 85 gram emas dan tersimpan selama satu tahun hijriah. Yang termasuk dalam kategori tabungan antara lain saldo rekening, deposito syariah, maupun bentuk simpanan lain yang dimiliki secara penuh oleh pemiliknya. Apabila jumlah tabungan memenuhi ketentuan nisab dan haul, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah sebesar 2,5 persen dari total tabungan tersebut. Karena nisab tabungan mengikuti harga emas, pembaruan informasi harga emas menjadi hal yang penting untuk memastikan perhitungan zakat dilakukan secara akurat. Cek Nisab dengan Mudah Mengetahui apakah penghasilan, emas, atau tabungan yang dimiliki telah mencapai nisab merupakan langkah awal dalam menunaikan zakat dengan benar. Saat ini, masyarakat dapat memanfaatkan Kalkulator Zakat BAZNAS untuk membantu menghitung kewajiban zakat secara lebih mudah, cepat, dan akurat. Melalui perhitungan yang tepat, muzaki dapat menjalankan kewajiban zakat dengan lebih tenang dan sesuai syariat. Selain itu, zakat yang ditunaikan melalui BAZNAS akan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial kemanusiaan, dan kebencanaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menunaikan zakat bukan hanya bentuk kepatuhan terhadap perintah agama, tetapi juga wujud kepedulian sosial yang membantu menciptakan kesejahteraan dan keberkahan bagi umat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL25/06/2026 | MBL-01
Punya Emas? Kenali Ketentuan Zakat Emas agar Ibadah Makin Sempurna
Punya Emas? Kenali Ketentuan Zakat Emas agar Ibadah Makin Sempurna
EMAS tidak hanya dikenal sebagai perhiasan atau instrumen investasi yang memiliki nilai tinggi, tetapi juga termasuk salah satu jenis harta yang memiliki kewajiban zakat dalam Islam. Bagi umat Muslim yang memiliki emas dan telah memenuhi syarat tertentu, zakat emas menjadi kewajiban yang perlu ditunaikan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus sarana berbagi dengan sesama. Memahami ketentuan zakat emas menjadi penting agar pelaksanaannya sesuai dengan syariat dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat yang membutuhkan. Apa yang Dimaksud dengan Zakat Emas? Zakat emas merupakan bagian dari zakat mal, yaitu zakat yang dikenakan atas kepemilikan harta tertentu. Zakat ini berlaku untuk emas yang dimiliki secara penuh, baik dalam bentuk emas batangan, logam mulia, maupun emas yang disimpan sebagai aset atau investasi. Secara umum, zakat emas wajib dikeluarkan sebesar 2,5 persen dari total kepemilikan emas yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Kewajiban ini menjadi salah satu bentuk penyucian harta sekaligus wujud kepedulian sosial terhadap masyarakat yang membutuhkan. Siapa yang Wajib Menunaikan Zakat Emas? Kewajiban zakat emas berlaku bagi setiap Muslim yang memiliki emas secara sah dan halal, serta telah memenuhi ketentuan nisab dan haul. Nisab zakat emas ditetapkan sebesar 85 gram emas, sementara haul adalah masa kepemilikan selama satu tahun hijriah. Dengan demikian, apabila jumlah emas yang dimiliki telah mencapai atau melebihi 85 gram dan tersimpan selama satu tahun, maka pemiliknya berkewajiban menunaikan zakat sebesar 2,5 persen dari total kepemilikan tersebut. Pada praktiknya, kewajiban ini umumnya berlaku pada emas yang disimpan sebagai tabungan atau investasi. Sementara untuk perhiasan emas yang digunakan sehari-hari dalam batas kewajaran, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai kewajiban zakatnya. Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami ketentuan yang sesuai dengan kondisi kepemilikan emas yang dimiliki. Kapan Zakat Emas Harus Dibayarkan? Zakat emas ditunaikan setelah dua syarat utama terpenuhi, yaitu mencapai nisab sebesar 85 gram emas dan telah dimiliki selama satu tahun hijriah. Ketika kedua syarat tersebut telah terpenuhi, zakat yang wajib dikeluarkan adalah sebesar 2,5 persen dari total emas yang dimiliki atau dari nilai rupiah yang setara dengan harga emas pada saat zakat dibayarkan. Karena harga emas dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu, perhitungan zakat sebaiknya mengacu pada harga emas terkini agar hasilnya lebih akurat dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Zakat Emas untuk Keberkahan Harta Menunaikan zakat emas bukan hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menjadi sarana untuk menghadirkan keberkahan dalam harta yang dimiliki. Dana zakat yang dihimpun akan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial kemanusiaan, dan kebencanaan. Melalui zakat, kepemilikan harta tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang membutuhkan. Hitung dan Tunaikan Zakat Emas dengan Mudah Memahami syarat, nisab, dan waktu pembayaran zakat emas merupakan langkah awal untuk memastikan ibadah zakat dilaksanakan dengan benar. Untuk memudahkan perhitungan, masyarakat dapat memanfaatkan layanan informasi dan Kalkulator Zakat BAZNAS yang membantu menghitung kewajiban zakat secara cepat dan akurat. Dengan menunaikan zakat melalui BAZNAS, Anda tidak hanya menjalankan kewajiban syariat, tetapi juga turut berkontribusi dalam mendukung berbagai program pemberdayaan dan kemanusiaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL25/06/2026 | MBL-01
Memahami Hukum Zakat dalam Islam: Kewajiban, Syarat, dan Hikmah di Baliknya
Memahami Hukum Zakat dalam Islam: Kewajiban, Syarat, dan Hikmah di Baliknya
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim. Bersama syahadat, salat, puasa, dan haji, zakat menjadi bagian dari fondasi utama ajaran Islam yang wajib dijalankan oleh umat yang telah memenuhi syarat. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang belum memahami secara mendalam mengapa zakat diwajibkan, siapa saja yang berkewajiban menunaikannya, serta berbagai hikmah yang terkandung di balik ibadah tersebut. Padahal, zakat tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki peran besar dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial di tengah masyarakat. Zakat Memiliki Dasar Hukum yang Kuat Kewajiban zakat bukanlah sekadar ketentuan sosial, melainkan perintah yang secara tegas disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis Rasulullah SAW. Dalam Al-Qur'an, perintah menunaikan zakat disebutkan berkali-kali dan sering kali berdampingan dengan perintah mendirikan salat. Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 43 yang memerintahkan umat Islam untuk mendirikan salat dan menunaikan zakat. Selain itu, dalam Surah At-Taubah ayat 103 dijelaskan bahwa zakat berfungsi sebagai sarana untuk membersihkan dan menyucikan harta. Kedudukan zakat juga ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa zakat merupakan salah satu dari lima pilar utama Islam. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Para ulama sepanjang sejarah Islam juga telah bersepakat bahwa zakat hukumnya fardhu ain atau wajib bagi setiap individu yang memenuhi syarat. Oleh karena itu, kewajiban zakat tidak dapat diwakilkan ataupun digugurkan oleh orang lain. Siapa yang Wajib Menunaikan Zakat? Tidak semua muslim secara otomatis memiliki kewajiban zakat. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum seseorang diwajibkan menunaikan zakat. Secara umum, zakat diwajibkan kepada muslim yang memiliki harta secara sah dan telah mencapai batas minimal yang disebut nisab. Selain itu, untuk sebagian besar jenis zakat, kepemilikan harta tersebut juga harus telah berlangsung selama satu tahun hijriah atau haul. Harta yang menjadi objek zakat merupakan harta yang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi berkembang, seperti uang, emas, perak, hasil perdagangan, ternak, maupun hasil pertanian. Apabila syarat-syarat tersebut belum terpenuhi, maka seseorang belum memiliki kewajiban zakat, meskipun tetap dianjurkan untuk bersedekah dan berinfak sesuai kemampuannya. Hikmah Besar di Balik Kewajiban Zakat Zakat tidak hanya berkaitan dengan pengeluaran sebagian harta, tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual dan sosial yang sangat mendalam. Salah satu tujuan utama zakat adalah menyucikan harta dan jiwa. Dalam Islam, terdapat hak orang lain dalam sebagian harta yang dimiliki seseorang. Melalui zakat, hak tersebut disalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya sehingga harta menjadi lebih bersih dan berkah. Selain itu, zakat berfungsi sebagai instrumen untuk mengurangi kesenjangan sosial. Dana zakat yang disalurkan kepada para mustahik membantu memperkuat akses masyarakat kurang mampu terhadap kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi. Zakat juga berperan dalam menumbuhkan solidaritas dan kepedulian sosial. Melalui zakat, terjalin hubungan yang kuat antara muzaki dan mustahik sebagai bagian dari tanggung jawab bersama untuk saling membantu dan memperkuat kesejahteraan umat. Di sisi lain, zakat menjadi sarana untuk melatih diri agar tidak terjebak dalam sifat kikir dan kecintaan berlebihan terhadap harta. Dengan rutin berzakat, seorang muslim belajar menempatkan harta sebagai amanah yang harus dikelola dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Tidak kalah penting, zakat juga diyakini menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa zakat tidak mengurangi harta, melainkan menjadi sebab datangnya keberkahan dan ketenangan bagi pemiliknya. Zakat sebagai Wujud Kepedulian dan Ketaatan Memahami hukum dan ketentuan zakat merupakan langkah awal untuk menjalankan ibadah ini dengan benar sesuai syariat. Lebih dari sekadar kewajiban agama, zakat merupakan instrumen yang memperkuat kepedulian sosial, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan mendorong terciptanya kesejahteraan bersama. Melalui pengelolaan yang amanah dan profesional, zakat dapat memberikan manfaat yang luas bagi umat sekaligus menjadi sarana bagi setiap muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai jenis zakat, nisab, serta tata cara perhitungannya, masyarakat dapat memanfaatkan berbagai layanan edukasi dan panduan zakat yang disediakan oleh BAZNAS.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL25/06/2026 | MBL-01
Cara Menghitung Zakat Perdagangan UMKM agar Usaha Lebih Berkah
Cara Menghitung Zakat Perdagangan UMKM agar Usaha Lebih Berkah
ZAKAT perdagangan menjadi salah satu kewajiban yang perlu diperhatikan oleh pelaku usaha, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan memahami cara perhitungan yang benar, pelaku usaha dapat menunaikan zakat sesuai ketentuan syariat sekaligus berkontribusi dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Selain sebagai kewajiban ibadah, zakat perdagangan juga menjadi bentuk tanggung jawab sosial dalam menjalankan aktivitas bisnis yang lebih berkah dan berkelanjutan. Memahami Zakat Perdagangan Zakat perdagangan adalah zakat yang dikenakan atas harta yang digunakan dalam kegiatan jual beli dengan tujuan memperoleh keuntungan. Objek zakat ini mencakup berbagai aset usaha seperti barang dagangan, kas atau saldo usaha, piutang yang berpotensi tertagih, serta aset lancar lainnya yang berkaitan dengan operasional bisnis. Kewajiban zakat perdagangan berlaku apabila nilai total harta usaha telah mencapai nisab yang setara dengan 85 gram emas dan telah dimiliki selama satu tahun hijriah (haul). Ketentuan ini tidak hanya berlaku bagi perusahaan besar, tetapi juga mencakup pelaku UMKM selama usaha yang dijalankan telah memenuhi syarat tersebut. Rumus Dasar Perhitungan Zakat Perdagangan Secara umum, zakat perdagangan dihitung dari total aset lancar usaha pada akhir periode tertentu setelah dikurangi kewajiban jangka pendek yang harus dibayarkan. Adapun rumus perhitungannya adalah: Zakat Perdagangan = (Aset Lancar + Persediaan Barang + Piutang Lancar – Utang Jangka Pendek) × 2,5% Komponen yang dihitung meliputi: Kas dan saldo usaha, yaitu uang tunai atau saldo rekening yang digunakan untuk operasional bisnis. Persediaan barang dagangan, yakni seluruh stok barang yang siap dijual pada saat perhitungan zakat dilakukan. Piutang lancar, yaitu tagihan kepada pelanggan yang kemungkinan besar dapat tertagih. Utang jangka pendek, yaitu kewajiban usaha yang harus segera dibayarkan dan mengurangi dasar perhitungan zakat. Apabila hasil perhitungan harta bersih usaha telah mencapai nisab, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah sebesar 2,5 persen. Contoh Perhitungan Zakat UMKM Sebagai ilustrasi, seorang pelaku UMKM memiliki kondisi keuangan usaha sebagai berikut: Kas dan saldo usaha: Rp200.000.000 Persediaan barang: Rp50.000.000 Piutang usaha: Rp100.000.000 Utang jangka pendek: Rp10.000.000 Maka perhitungan harta bersih usaha adalah: Rp200.000.000 + Rp50.000.000 + Rp100.000.000 – Rp10.000.000 = Rp340.000.000 Apabila nilai tersebut telah mencapai nisab setara 85 gram emas dan telah memenuhi haul, maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah: Rp340.000.000 × 2,5% = Rp8.500.000 Dengan demikian, pelaku usaha berkewajiban menunaikan zakat perdagangan sesuai hasil perhitungan tersebut. Contoh pada UMKM Kuliner Sebagai contoh lain, seorang pemilik usaha makanan memiliki data keuangan sebagai berikut: Kas usaha: Rp15.000.000 Stok bahan dan produk: Rp25.000.000 Piutang pelanggan: Rp5.000.000 Utang usaha: Rp5.000.000 Perhitungan harta bersih usaha menjadi: Rp15.000.000 + Rp25.000.000 + Rp5.000.000 – Rp5.000.000 = Rp40.000.000 Jika nilai tersebut belum mencapai nisab, maka zakat perdagangan belum wajib ditunaikan. Namun demikian, pemilik usaha tetap dianjurkan untuk memperbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial. Pentingnya Zakat bagi Pelaku Usaha Zakat perdagangan tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai sarana untuk membersihkan harta dan menghadirkan keberkahan dalam usaha. Melalui zakat, sebagian keuntungan usaha dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, sehingga membantu mengurangi kesenjangan sosial dan memperkuat ekonomi umat. Bagi pelaku UMKM, kebiasaan menghitung dan menunaikan zakat juga menjadi bagian dari pengelolaan usaha yang sehat serta mencerminkan tanggung jawab sosial dalam menjalankan bisnis. Hitung Zakat dengan Lebih Mudah Untuk mempermudah proses perhitungan, pelaku usaha dapat memanfaatkan layanan Kalkulator Zakat BAZNAS. Dengan alat ini, perhitungan zakat dapat dilakukan secara lebih cepat, praktis, dan sesuai ketentuan syariat. Dengan memahami cara menghitung zakat perdagangan, pelaku UMKM dapat menjalankan usaha dengan lebih tenang, berkah, dan sekaligus berkontribusi dalam membantu masyarakat melalui pengelolaan zakat yang amanah dan profesional.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL25/06/2026 | MBL-01
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.

Lihat Daftar Rekening →