WhatsApp Icon
15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah

KEHIDUPAN yang baik dan penuh berkah merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Kehidupan yang berkah juga tercermin dari hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Untuk mewujudkannya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, bekerja dengan jujur, menyayangi keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

Kebiasaan baik tersebut tidak harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Berikut 15 tips Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menjaga Salat Lima Waktu

Salat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang memenuhi ketentuan syariat. Menjaga salat tepat waktu menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasakan menunaikan salat ketika waktunya tiba. Jika memungkinkan, persiapkan diri lebih awal agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang dan khusyuk.

Selain menjaga pelaksanaannya, usahakan memahami bacaan dan menghayati maknanya. Dengan demikian, salat tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga pengingat untuk menjaga perilaku dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.

2. Membiasakan Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca, memahami, dan berusaha mengamalkan ajarannya dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang untuk mulai membaca Al-Qur'an. Sisihkan beberapa menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau sebelum tidur.

Bagi yang belum lancar membaca Al-Qur'an, belajarlah secara bertahap dengan bimbingan guru yang kompeten. Sementara itu, mereka yang sudah lancar dapat memperdalam pemahaman melalui terjemahan dan tafsir.

Konsistensi menjadi hal penting dalam membangun kebiasaan ini. Mulailah dengan target yang realistis agar membaca Al-Qur'an dapat menjadi bagian dari rutinitas harian.

3. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa dan zikir membantu seorang Muslim mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, doa menjadi sarana memohon pertolongan. Saat memperoleh kebahagiaan, zikir dan doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Kebiasaan ini dapat dimulai dengan membaca zikir pagi dan petang, beristigfar, berdoa setelah salat, serta membaca doa sebelum tidur.

Meski demikian, doa dan zikir perlu berjalan beriringan dengan usaha nyata. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, misalnya, seorang Muslim tetap perlu mencari solusi, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki cara bekerja sembari memohon pertolongan Allah SWT.

4. Membiasakan Diri Bersyukur

Bersyukur membantu seseorang menghargai nikmat yang telah dimiliki. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain secara berlebihan justru dapat membuat seseorang lupa terhadap berbagai kebaikan yang telah diterimanya.

Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya.

Syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat untuk tujuan yang baik. Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta membantu sesama, dan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Mulailah dengan menghargai hal-hal sederhana, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, makanan, dan tempat tinggal. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menghargai apa yang dimiliki sambil terus memperbaiki keadaan.

5. Mencari Rezeki yang Halal dan Baik

Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki melalui cara yang halal. Rezeki yang baik tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjaga kejujuran, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati hak orang lain. Hindari penipuan, kecurangan, dan tindakan yang merugikan pihak lain.

Bagi yang menjalankan usaha, sampaikan informasi produk atau jasa secara jujur. Sementara itu, dalam mengelola penghasilan, dahulukan kebutuhan pokok, hindari utang konsumtif yang tidak perlu, dan sisihkan sebagian harta untuk sedekah sesuai kemampuan.

Rezeki yang berkah tidak selalu berarti kekayaan berlimpah. Keberkahan juga dapat tercermin dari kecukupan, ketenangan dalam menggunakannya, serta manfaat yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat.

6. Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 23.

Berbakti dapat diwujudkan melalui perkataan yang sopan, kesediaan mendengarkan nasihat yang baik, membantu kebutuhan mereka, serta meluangkan waktu untuk menemani dan memperhatikan keadaan mereka.

Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi melalui telepon atau melakukan kunjungan secara berkala dapat menjadi bentuk perhatian.

Jika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik dengan mendoakan mereka, menjaga hubungan dengan kerabat, dan melakukan kebaikan yang dibenarkan dalam Islam.

Namun, berbakti tidak berarti harus memenuhi permintaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap perlu menjaga adab dan memperlakukan orang tua dengan baik.

7. Menjaga Silaturahmi dan Hubungan Baik dengan Sesama

Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang baik dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan sekaligus sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperlakukan sesama dengan baik. Karena itu, usahakan menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang tenang dan menghindari perkataan yang menyakiti.

Belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan orang lain ketika mereka berusaha memperbaiki diri. Menghormati perbedaan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial.

Dengan membangun komunikasi yang sehat, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan dipenuhi sikap saling menghormati.

8. Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama

Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyumbangkan pakaian yang layak, atau membagikan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kebaikan.

Sesuaikan sedekah dengan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga. Jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan.

Membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama dapat melatih kepedulian dan mengurangi sikap berlebihan dalam mencintai harta. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam juga dapat berkontribusi dalam membantu mustahik serta masyarakat yang membutuhkan.

9. Menjaga Lisan dan Akhlak

Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Biasakan berbicara jujur, menghindari perkataan kasar, tidak menghina, dan tidak menyebarkan fitnah. Sebelum berbicara, pertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Menjaga lisan juga berlaku ketika menggunakan media sosial. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menulis komentar yang merendahkan orang lain, atau terlibat dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.

Jika melakukan kesalahan, akui dan perbaiki. Meminta maaf merupakan bagian dari tanggung jawab atas perilaku sendiri sekaligus langkah untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

10. Menuntut Ilmu dan Terus Memperbaiki Diri

Menuntut ilmu membantu seorang Muslim memahami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Luangkan waktu untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dasar, dan akhlak. Selain ilmu agama, tingkatkan pula keterampilan yang relevan dengan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab masing-masing.

Pilih sumber belajar yang dapat dipercaya. Dalam urusan agama, pelajari penjelasan dari ulama dan lembaga keislaman yang kompeten agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.

Selain menambah pengetahuan, biasakan mengevaluasi diri. Periksa kembali apakah ibadah telah terjaga, pekerjaan dilakukan dengan jujur, dan hubungan dengan keluarga dipelihara dengan baik.

Perbaikan diri merupakan proses berkelanjutan. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan.

11. Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Amanah

Tubuh merupakan amanah yang perlu dijaga. Kondisi fisik dan mental yang baik membantu seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Terapkan kebiasaan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menjaga waktu tidur. Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan dan jangan mengabaikan keluhan yang membutuhkan pertolongan profesional.

Menjaga kesehatan juga berarti memahami batas kemampuan diri. Istirahat yang cukup bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kemampuan untuk menjalani aktivitas dengan baik.

Dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim dapat berusaha menjalankan berbagai amanah kehidupan secara lebih optimal.

12. Mengelola Waktu dengan Bijaksana

Waktu merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Karena itu, gunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, keluarga, maupun pengembangan diri.

Buatlah jadwal harian sederhana yang memprioritaskan kewajiban utama. Sisihkan waktu untuk salat, bekerja, belajar, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat berarti.

Namun, mengelola waktu bukan berarti harus selalu sibuk. Istirahat, berolahraga, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga juga merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.

13. Bersabar dan Bertawakal kepada Allah SWT

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Seseorang dapat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau ujian kesehatan.

Dalam keadaan tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menunggu pertolongan tanpa melakukan apa pun.

Seorang Muslim perlu berusaha mencari jalan keluar, berdoa kepada Allah SWT, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya. Ketika mengalami kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Jika menghadapi persoalan yang berat, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau tenaga profesional yang sesuai.

Setiap orang memiliki ujian dan proses kehidupan yang berbeda. Karena itu, hindari mengukur keberhasilan diri hanya dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain.

14. Membiasakan Istigfar dan Bertobat

Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa berusaha memperbaiki diri.

Membaca istigfar merupakan salah satu cara memohon ampun kepada Allah. Namun, istigfar hendaknya disertai kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki perilaku.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, upayakan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai keadaan.

Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, gunakan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dengan membiasakan istigfar dan bertobat, seorang Muslim belajar bersikap rendah hati serta menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan ampunan dan bimbingan Allah SWT.

15. Membiasakan Doa agar Hidup Penuh Berkah

Selain melakukan berbagai ikhtiar, seorang Muslim dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca sehari-hari.

“Ya Allah, berkahilah kehidupanku, keluargaku, pekerjaanku, dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku. Bimbinglah aku agar senantiasa berada di jalan yang benar. Jadikanlah aku hamba yang rajin beribadah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan ikhlas dalam melakukan kebaikan. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari keburukan, serta berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan langsung dari Al-Qur'an atau hadis. Seorang Muslim dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dengan tetap memperhatikan tuntunan syariat.

Biasakan berdoa bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga ketika keadaan sedang baik. Dengan demikian, doa menjadi bagian dari kebiasaan untuk memohon petunjuk sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT.

Contoh Rutinitas Islami dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar berbagai kebiasaan baik di atas lebih mudah diterapkan, mulailah dengan rutinitas sederhana yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Pagi hari:

  • Bangun dan menunaikan salat Subuh.

  • Membaca Al-Qur'an atau zikir pagi.

  • Berdoa sebelum memulai aktivitas.

  • Menentukan prioritas pekerjaan dan tanggung jawab hari itu.

Siang hingga sore:

  • Menjaga salat lima waktu.

  • Bekerja atau belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh.

  • Menjaga perkataan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

  • Menyempatkan diri membantu keluarga atau orang yang membutuhkan.

Malam hari:

  • Menunaikan salat Isya.

  • Meluangkan waktu bersama keluarga.

  • Mengevaluasi perilaku dan aktivitas sepanjang hari.

  • Membaca doa sebelum tidur serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Rutinitas tersebut bukan aturan wajib yang harus diikuti dengan susunan persis seperti di atas. Jadikanlah sebagai panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing.

Menjalani Hidup dengan Iman, Ikhtiar, dan Rasa Syukur

Kehidupan yang penuh berkah tidak selalu ditandai dengan kelimpahan materi atau terbebas dari berbagai ujian. Keberkahan juga dapat hadir melalui hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang saling mendukung, serta kesempatan untuk terus berbuat baik.

Menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersyukur, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, dan membantu sesama merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memperkuat kualitas kehidupan seorang Muslim.

Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah dilakukan, kemudian pertahankan secara konsisten dan tingkatkan secara bertahap.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!

MENJAGA hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita dan dapat menjadi pihak terdekat untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, hubungan bertetangga perlu dibangun atas dasar saling menghormati, kepedulian, dan sikap menjaga hak satu sama lain.

Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik. Ajaran tersebut mencakup menjaga perkataan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain, berbagi makanan, memberikan pertolongan, serta memelihara hubungan baik meskipun terdapat perbedaan atau kesalahpahaman.

Adab bertetangga juga tidak terbatas pada orang yang memiliki hubungan dekat atau seagama. Seorang Muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, latar belakang, maupun kebiasaan, selama tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam.

Lantas, apa saja adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut lima di antaranya.

1. Menghormati dan Berbuat Baik kepada Tetangga

Adab pertama adalah menghormati dan memperlakukan tetangga dengan baik. Islam menempatkan hubungan dengan tetangga sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, dan golongan lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya.

Ajaran tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa ketika berpapasan, berbicara dengan sopan, menghargai privasi, dan tidak mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa alasan yang tepat.

Ketika tetangga mengadakan acara keluarga, misalnya, kita dapat menunjukkan sikap saling menghormati dengan menjaga ketertiban dan membicarakan persoalan yang muncul melalui komunikasi yang baik.

Selain itu, hindari membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status ekonomi, kedudukan sosial, atau latar belakang seseorang. Dengan membiasakan sikap saling menghormati, hubungan bertetangga dapat terjalin lebih harmonis dan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman.

2. Tidak Mengganggu atau Menyakiti Tetangga

Adab berikutnya adalah menjaga diri agar tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Pesan ini menegaskan bahwa keimanan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya sendiri, tetapi juga perlu menjaga hak dan kenyamanan orang lain. Beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan bertetangga antara lain:

  • Memutar musik atau menghasilkan suara keras hingga mengganggu waktu istirahat.

  • Membiarkan sampah menumpuk atau menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah.

  • Memarkir kendaraan hingga menghalangi jalan atau akses rumah tetangga.

  • Membicarakan keburukan tetangga dan menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya.

  • Menggunakan atau mengambil barang milik tetangga tanpa izin.

  • Melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan lingkungan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Apabila tanpa sengaja menimbulkan gangguan, sebaiknya segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tindakan sederhana, seperti mengecilkan volume suara pada malam hari atau memastikan kendaraan tidak menghalangi akses rumah orang lain, merupakan bentuk kepedulian terhadap kenyamanan bersama.

Menjaga tetangga dari gangguan bukan hanya menciptakan lingkungan yang tertib, tetapi juga menjadi wujud nyata akhlak yang baik.

3. Berbagi Makanan dan Saling Memberi

Berbagi makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial dan tidak bersikap egois terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar agar memperbanyak kuah ketika memasak dan memperhatikan tetangganya dengan membagikan sebagian makanan tersebut.

Nasihat ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian yang besar. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana sesuai kemampuan masing-masing.

Ketika memasak dalam jumlah lebih, misalnya, kita dapat berbagi makanan dengan tetangga. Berbagi juga dapat dilakukan dengan memberikan buah dari kebun atau mengirimkan hidangan sederhana pada kesempatan tertentu.

Jika tetangga sedang sakit, kita bisa menawarkan bantuan untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sementara itu, ketika mereka mengalami musibah, perhatian dan dukungan sederhana dapat membantu meringankan beban yang dirasakan.

Meski demikian, berbagi tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga sendiri. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk memaksakan diri di luar kemampuannya.

Dengan membiasakan berbagi, hubungan bertetangga tidak sekadar terjalin karena tinggal berdekatan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang dilandasi kepedulian dan kebersamaan.

4. Menolong Tetangga Ketika Mengalami Kesulitan

Seorang Muslim hendaknya tidak bersikap acuh ketika mengetahui tetangganya membutuhkan pertolongan. Hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi sumber dukungan, terutama ketika seseorang menghadapi situasi sulit.

Pertolongan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan tenaga dan dukungan moral hingga bantuan materi sesuai kemampuan.

Ketika tetangga sedang sakit, misalnya, kita dapat menjenguk, menanyakan kebutuhannya, atau membantu mengurus keperluan mendesak. Saat terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir, kita dapat membantu proses evakuasi, menyediakan makanan, atau menghubungkan mereka dengan pihak yang mampu memberikan bantuan.

Perhatian juga dapat diberikan kepada tetangga lanjut usia yang tinggal sendiri. Menanyakan kabar atau membantu membawa barang belanjaan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Dalam memberikan pertolongan, penting untuk tetap menghormati privasi dan menjaga martabat orang yang dibantu. Bantuan sebaiknya diberikan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian atau mengungkit kebaikan pada kemudian hari.

Menolong tetangga menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memaafkan Kesalahan Tetangga

Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bertetangga. Perbedaan kebiasaan, persoalan batas tanah, kebisingan, atau masalah parkir dapat memicu perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan baik.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga komunikasi, bersikap sabar, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Kebiasaan menyapa, mengunjungi ketika diperlukan, serta menghindari permusuhan berkepanjangan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat hubungan dengan tetangga.

Pertama, menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang sopan. Jika ada tindakan yang mengganggu, sampaikan keberatan secara baik-baik tanpa menghina atau mempermalukan pihak lain.

Kedua, tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, cari penjelasan secara langsung dengan cara yang santun.

Ketiga, belajar memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Selama persoalan masih dapat diselesaikan secara wajar, sikap lapang dada dapat membantu mencegah konflik berkepanjangan.

Keempat, tidak memperbesar perselisihan. Hindari menyebarkan masalah kepada orang lain apabila hal tersebut justru memperburuk keadaan.

Meski demikian, menjaga hubungan baik tidak berarti membiarkan tindakan yang membahayakan atau melanggar hak. Jika terjadi ancaman, kekerasan, atau pelanggaran serius, kita tetap dapat meminta bantuan pihak berwenang melalui cara yang tepat.

Dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan tanpa harus merusak hubungan bertetangga.

Manfaat Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam

Menerapkan adab bertetangga memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sikap saling menghormati membantu mengurangi gangguan dan perselisihan.

  2. Mempererat hubungan sosial. Tetangga yang saling mengenal lebih mudah membangun komunikasi dan kerja sama.

  3. Menumbuhkan kepedulian. Kebiasaan saling membantu membuat masyarakat lebih siap menghadapi kesulitan bersama.

  4. Menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik membantu menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi perselisihan besar.

  5. Mengamalkan ajaran Islam. Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika setiap orang berusaha memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Kita tidak perlu menunggu semua tetangga bersikap baik terlebih dahulu untuk mulai menunjukkan akhlak terpuji.

Membangun Lingkungan yang Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri

Adab bertetangga bukan hanya tentang menghindari perselisihan, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati orang lain, menjaga perkataan, berbagi makanan, menolong ketika dibutuhkan, dan memaafkan kesalahan merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat kebersamaan.

Keteladanan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akhlak mulia perlu tercermin dalam hubungan dengan sesama, termasuk dengan orang-orang yang tinggal paling dekat dengan kita.

Karena itu, membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian dapat dimulai dari rumah masing-masing. Dengan menjaga hak tetangga dan membiasakan diri untuk berbuat baik, kita turut menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi

SETIAP orang tua Muslim tentu mendambakan anak yang saleh dan salehah, beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama. Anak bukan hanya anugerah yang membawa kebahagiaan dalam keluarga, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan orang tua adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT memberikan petunjuk, menguatkan keimanan, memudahkan anak dalam beribadah, serta membimbing mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa.

Al-Qur'an mengajarkan sejumlah doa untuk memohon keturunan yang baik. Beberapa di antaranya merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS, serta doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati.

Lantas, apa saja doa memohon anak saleh dan salehah yang dapat diamalkan? Berikut bacaan, arti, dan maknanya, beserta ikhtiar mendidik anak agar tumbuh dalam kebaikan.

1. Doa dalam Surah Al-Furqan Ayat 74

Salah satu doa yang dapat diamalkan untuk memohon keluarga dan keturunan yang baik terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk hati serta agar diri sendiri dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bacaan latin:

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Makna Doa

Doa ini mengandung harapan agar keluarga tumbuh dalam keimanan, ketaatan, dan akhlak yang baik. Anak yang menjadi penyejuk hati bukan semata-mata anak yang membanggakan orang tua, tetapi juga anak yang berusaha menjalankan ajaran agama dan menghadirkan kebaikan di lingkungannya.

Selain memohon keturunan yang baik, orang tua juga memohon agar dirinya menjadi teladan dalam ketakwaan. Artinya, harapan memiliki anak saleh dan salehah perlu disertai usaha memperbaiki diri, mulai dari menjaga salat, berkata jujur, bersikap sabar, hingga menghormati orang lain.

Doa ini dapat dibaca setelah salat atau ketika bermunajat kepada Allah SWT. Tidak ada keharusan menetapkan jumlah bacaan tertentu untuk mengamalkannya.

2. Doa Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa singkat untuk memohon keturunan yang termasuk golongan orang saleh. Doa ini terdapat dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Bacaan latin: Rabbi hab li minas salihin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100).

Makna Doa 

Doa ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan bukan satu-satunya harapan. Nabi Ibrahim AS juga memohon agar keturunannya menjadi bagian dari orang-orang yang saleh.

Kesalehan merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang saleh dan salehah diharapkan memiliki keimanan yang kuat, menjaga ibadah, berperilaku baik, serta mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah.

Bagi pasangan yang sedang menantikan kehadiran buah hati, doa ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keturunan kepada Allah SWT. Bagi orang tua yang telah memiliki anak, doa yang sama dapat diamalkan untuk memohon agar anak-anak senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.

Doa juga menjadi wujud penghambaan dan tawakal. Karena itu, orang tua hendaknya terus memohon kepada Allah SWT sembari melakukan ikhtiar yang baik dan tidak kehilangan harapan ketika keinginan belum terwujud sesuai waktu yang diharapkan.

3. Doa Nabi Zakaria AS 

Al-Qur'an juga mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika memohon keturunan yang baik. Doa tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 38.

Bacaan latin:

Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan tayyibatan innaka sami'ud du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Pelajaran dari doa Nabi Zakaria 

Kisah Nabi Zakaria AS mengajarkan tentang ketekunan dalam berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Beliau memohon keturunan yang baik, mengingatkan umat Islam bahwa Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya.

Keturunan yang baik tidak hanya diukur dari kesehatan fisik atau keberhasilan duniawi. Keimanan, akhlak, dan perilaku yang terpuji juga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang diharapkan orang tua.

Doa ini dapat diamalkan oleh pasangan yang mendambakan keturunan maupun orang tua yang memohon kebaikan bagi anak-anaknya. Permohonan juga dapat disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami, selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Doa Keturunan Rajin Mendirikan Salat

Anak yang saleh dan salehah diharapkan tidak hanya memiliki perilaku yang baik, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mendirikan salat.

Dalam Surah Ibrahim ayat 40, terdapat doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan salat.

Bacaan latin: Rabbij'alni muqimas salati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Mengapa doa ini penting?

Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. Dengan memohon agar diri sendiri dan keturunan senantiasa mendirikan salat, orang tua diingatkan bahwa pendidikan agama perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak untuk salat, tetapi juga memberikan contoh melalui kebiasaan beribadah secara konsisten. Ketika anak melihat orang tuanya menjaga salat, ia dapat belajar dari keteladanan yang nyata.

Selain itu, ajarkan salat secara bertahap sesuai usia anak. Pendekatan yang lembut, penjelasan yang mudah dipahami, dan suasana keluarga yang mendukung dapat membantu anak mengenal ibadah dengan lebih baik.

Doa ini sekaligus mengingatkan orang tua untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sendiri sebelum berharap anak mengikuti jalan kebaikan tersebut.

5. Doa agar Anak Saleh dan Mendapat Keberkahan

Selain mengamalkan doa-doa dari Al-Qur'an, orang tua dapat memohon kepada Allah SWT menggunakan kalimat yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, memohon agar anak diberikan kesehatan, dilindungi dari keburukan, dibimbing dalam ketaatan, dan dimudahkan untuk berbuat baik kepada sesama.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat diamalkan sebagai doa pribadi.

Bacaan doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang saleh dan salehah. Jadikanlah mereka hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga salat. Lindungilah mereka dari perbuatan buruk, pergaulan yang menyesatkan, serta segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari jalan-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati di dunia dan bekal kebaikan bagi kami di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis. Orang tua dapat menyesuaikan susunan kata dan menyebut nama anak dalam doanya.

Hal terpenting bukan panjangnya rangkaian kalimat, melainkan ketulusan hati, keyakinan kepada Allah SWT, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar yang baik.

6. Kapan Waktu Baik Membaca Doa Anak Saleh?

Pada dasarnya, doa untuk memohon kebaikan anak dapat dipanjatkan kapan saja. Tidak ada ketentuan bahwa doa memohon anak saleh dan salehah hanya boleh dibaca pada waktu tertentu.

Meski demikian, ada beberapa kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah salat wajib

Setelah menunaikan salat wajib, orang tua dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa. Selain memohon ampunan serta kebaikan dunia dan akhirat, orang tua dapat memohon agar anak-anak diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam.

Mendoakan anak secara rutin dapat menjadi pengingat bahwa mendidik mereka merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan pertolongan Allah SWT.

Saat salat malam

Salat malam, termasuk tahajud, dapat menjadi kesempatan untuk bermunajat dengan lebih khusyuk. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan keutamaan berdoa kepada Allah pada sepertiga malam terakhir.

Orang tua dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memohon kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan keteguhan iman bagi anak-anaknya.

Ketika sujud

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa.

Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon kebaikan bagi anak-anaknya dengan tetap memperhatikan ketentuan doa dalam salat sesuai tuntunan fikih yang diikuti.

Ketika anak menghadapi kesulitan

Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak sedang sehat, berprestasi, atau menunjukkan perilaku yang membanggakan. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, menghadapi masalah pergaulan, atau sedang berusaha memperbaiki diri, orang tua juga perlu mendoakannya.

Rasa kecewa hendaknya tidak membuat orang tua berhenti berharap kepada Allah SWT. Sebaliknya, doa dapat menjadi penguat kesabaran sekaligus dorongan untuk mencari cara terbaik dalam mendampingi anak.

7. Cara Mendidik Anak agar Tumbuh Saleh

Doa merupakan ikhtiar spiritual yang penting, tetapi perlu disertai pendidikan, keteladanan, dan usaha nyata. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, melainkan juga lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Islam.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.

1. Memberikan teladan yang baik

Anak banyak belajar melalui apa yang dilihat setiap hari. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam menjalankan ibadah, menjaga perkataan, bersikap jujur, dan menghormati orang lain.

Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menjaga salatnya sendiri. Jika ingin anak berkata jujur, biasakan kejujuran dalam keluarga. Keteladanan membantu anak memahami bahwa ajaran Islam bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup.

2. Mengenalkan Al-Qur'an dan ajaran Islam sejak dini

Orang tua dapat mengenalkan Al-Qur'an, doa sehari-hari, kisah para nabi, serta dasar-dasar akhlak Islam sesuai usia anak. Lakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan.

Seiring bertambahnya usia, ajak anak memahami makna ibadah, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

3. Membiasakan ibadah dalam keluarga

Keluarga dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan tertentu.

Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika mereka melakukan kesalahan.

4. Menanamkan akhlak mulia

Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dengan perilaku terhadap sesama manusia. Ajarkan anak menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata sopan, menepati janji, meminta maaf ketika bersalah, dan membantu orang yang membutuhkan.

5. Memperhatikan lingkungan pergaulan

Lingkungan dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak. Orang tua perlu mengenal teman-teman anak, memperhatikan aktivitasnya, dan membangun komunikasi yang terbuka.

Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang bertanggung jawab, bukan pengawasan berlebihan. Ajarkan anak memilih pergaulan yang baik serta berani menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.

6. Menasihati tanpa merendahkan

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan nasihat dan konsekuensi yang sesuai. Namun, hindari melabeli anak sebagai nakal, gagal, atau tidak berguna.

Tegurlah perilakunya tanpa merendahkan martabatnya. Terus doakan kebaikannya, termasuk ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

7. Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian

Orang tua dapat mengajarkan tanggung jawab melalui tugas sederhana, seperti merapikan barang, menjaga kebersihan, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membantu anggota keluarga.

Ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia memahami akibat perbuatannya dan memperbaikinya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengakui kesalahan serta bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.

8. Keutamaan Memiliki Anak Saleh

Anak yang saleh dan salehah merupakan salah satu karunia berharga dalam Islam. Kesalehan anak tidak hanya membawa harapan akan kebaikan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan manfaat yang dapat terus dirasakan orang tua setelah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mendidik anak agar mengenal Allah SWT, menjalankan ajaran agama, dan terbiasa mendoakan orang tuanya.

Meski demikian, kesalehan anak bukan sesuatu yang dapat dijamin hanya melalui satu doa. Anak tumbuh melalui berbagai proses, pengalaman, dan pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu terus memberikan pendidikan terbaik sembari memohon pertolongan Allah SWT.

Anak yang saleh dan salehah juga diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, membantu sesama, maupun menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, tujuan mendidik anak bukan semata-mata agar orang tua merasa bangga, tetapi agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

9. Pertanyaan Umum tentang Doa Anak Saleh

Apakah doa anak saleh boleh dibaca setiap hari?

Ya. Orang tua boleh mendoakan kebaikan anak setiap hari. Beberapa doa yang dapat diamalkan antara lain doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Surah Ali Imran ayat 38, Surah As-Saffat ayat 100, dan Surah Ibrahim ayat 40.

Tidak ada ketentuan umum bahwa doa-doa tersebut harus dibaca dengan jumlah tertentu agar permohonan dikabulkan.

Apakah ibu dan ayah sama-sama boleh mendoakan anak?

Tentu. Ibu dan ayah sama-sama dapat memohon agar anak menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan serta keteladanan yang baik.

Bolehkah berdoa agar anak menjadi penghafal Al-Qur'an?

Boleh. Orang tua dapat memohon agar anak mencintai Al-Qur'an, dimudahkan menghafalnya, memahami ajarannya, serta mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Permohonan tersebut hendaknya disertai pendampingan yang baik, pembelajaran sesuai kemampuan anak, dan penghargaan terhadap proses belajarnya.

Bagaimana jika anak belum menunjukkan perilaku saleh?

Jangan langsung berputus asa. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Orang tua dapat mengevaluasi pendekatan pendidikan, membuka komunikasi yang baik, memberikan nasihat secara bijaksana, dan terus mendoakan kebaikannya.

Jika masalah yang dihadapi cukup berat, orang tua juga dapat mencari bantuan dari guru, konselor, atau pembimbing agama yang kompeten.

Apakah pasangan yang belum memiliki anak boleh membaca doa memohon keturunan?

Boleh. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Zakaria AS dalam Surah Ali Imran ayat 38 atau doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Di samping berdoa, pasangan dapat melakukan ikhtiar yang sesuai, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Belum hadirnya keturunan bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa doa seseorang tidak diterima Allah SWT.

Doa Bagian dari Pendidikan Anak

Memohon anak yang saleh dan salehah merupakan harapan yang dapat terus dipanjatkan oleh setiap orang tua Muslim. Al-Qur'an telah mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan untuk memohon keturunan yang baik, keluarga yang menenteramkan, serta anak-anak yang senantiasa menjaga ibadah.

Namun, doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Keteladanan orang tua, pendidikan agama, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Semoga Allah SWT menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, menjadikan keluarga sebagai penyejuk hati, serta membimbing anak-anak agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Amin ya Rabbal alamin.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan

MENGELOLA keuangan bukan hanya soal memastikan pemasukan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan. Bagi seorang Muslim, harta merupakan amanah dari Allah SWT yang perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik.

Karena itu, kelola keuangan Islam tidak hanya memperhatikan jumlah pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga sumber rezeki, prioritas kebutuhan, kewajiban terhadap keluarga, serta kepedulian kepada sesama.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir dalam menggunakan hartanya. Prinsip ini dapat menjadi dasar dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

1. Pastikan Penghasilan Sumber Halal

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber penghasilan. Sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, seorang Muslim perlu memastikan bahwa pekerjaan, usaha, perdagangan, maupun investasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memperoleh makanan dari hasil usaha sendiri. Dalam Sunan Ibn Majah 2137 disebutkan bahwa makanan terbaik yang dikonsumsi seseorang adalah yang berasal dari hasil usahanya sendiri.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja perlu menjalankan tanggung jawab dengan amanah, sedangkan pelaku usaha harus menghindari penipuan, kecurangan, menyembunyikan cacat barang, maupun mengurangi timbangan.

Ketika menemukan transaksi yang meragukan, jangan terburu-buru mengejar keuntungan. Memahami akad, risiko, dan ketentuannya terlebih dahulu dapat membantu menjaga harta tetap berada dalam koridor yang baik.

2. Susun Anggaran dan Dahulukan Kebutuhan

Setelah memastikan sumber pendapatan, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaannya. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan.

Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan keluarga perlu menjadi prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah alokasi untuk keperluan lainnya disesuaikan dengan kemampuan.

Membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Membeli sesuatu karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda promosi atau ingin mengikuti tren.

Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Catatan di buku, spreadsheet, maupun aplikasi keuangan sudah cukup untuk membantu mengevaluasi pola pengeluaran dan menemukan pos yang dapat dikurangi.

3. Hindari Pemborosan dan Utang Konsumtif

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam menggunakan harta. Karena itu, pembelian impulsif dan gaya hidup berlebihan perlu dihindari.

Diskon atau promosi memang dapat menghemat pengeluaran jika barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, membeli sesuatu hanya karena harganya sedang murah tetap dapat membuat keuangan menjadi tidak sehat.

Penggunaan utang juga perlu dipertimbangkan dengan matang. Seorang Muslim perlu memahami akad dan konsekuensi finansial sebelum mengambil utang, terutama jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya berada di luar kemampuan.

Hidup sesuai kemampuan bukan berarti harus mengurangi seluruh kenyamanan. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, seseorang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih tenang tanpa terbebani pengeluaran yang tidak perlu.

4. Siapkan Tabungan dan Dana Darurat

Selain memenuhi kebutuhan hari ini, pengelolaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan di masa depan. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dapat membantu menghadapi berbagai keperluan yang sudah direncanakan.

Dana darurat juga penting untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendesak.

Perencanaan jangka panjang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, misalnya untuk pendidikan anak, tempat tinggal, maupun kebutuhan masa pensiun. Tidak perlu memulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.

5. Sisihkan Harta untuk Zakat, Infak, dan Sedekah

Harta dalam Islam tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban dan kepedulian sosial yang perlu diperhatikan, termasuk zakat bagi harta yang telah memenuhi ketentuannya.

Zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, nisab, haul, kadar, serta golongan penerima. Karena itu, perhitungannya perlu dilakukan sesuai ketentuan syariat.

Selain zakat, infak dan sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan sesuai kemampuan. Kebiasaan berbagi mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Dengan memasukkan zakat, infak, dan sedekah dalam perencanaan keuangan, pengelolaan harta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ibadah.

6. Bangun Komunikasi Keuangan dalam Keluarga

Pengelolaan keuangan juga berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami dan istri dapat membicarakan pemasukan, kebutuhan, kewajiban, tabungan, serta tujuan finansial keluarga secara terbuka.

Setiap keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tidak ada satu pola anggaran yang harus diterapkan oleh semua orang. Yang penting adalah menjaga prinsip halal, bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan.

Anak juga dapat dikenalkan dengan kebiasaan finansial sejak dini. Misalnya dengan mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta mengenalkan pentingnya berbagi.

Evaluasi sederhana setiap bulan dapat membantu keluarga mengetahui kondisi keuangannya. Periksa kembali pemasukan, pengeluaran terbesar, jumlah tabungan, kewajiban yang telah dibayarkan, dan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pada akhirnya, kelola keuangan Islam bukan semata-mata tentang bagaimana memiliki lebih banyak uang. Lebih dari itu, pengelolaan harta diarahkan agar kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara yang halal, keluarga tetap terjaga, dan sebagian rezeki dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Dengan mengatur pemasukan secara bijak, menghindari pemborosan, mempersiapkan masa depan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, harta dapat dikelola sebagai amanah sekaligus menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim

DALAM Islam, adab dan akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah kepada Allah SWT juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga masyarakat di sekitarnya.

Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam hal akhlak. Beliau mengajarkan kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang dalam berinteraksi dengan sesama. Karena itu, menjaga perilaku bukan sekadar menunjukkan kepribadian yang baik, tetapi juga bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Adab dan Akhlak dalam Islam

Menjaga adab berarti berusaha menempatkan perkataan, sikap, dan tindakan sesuai dengan tuntunan Islam. Hal tersebut dapat dimulai dari perkara sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak, serta membantu mereka yang membutuhkan.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang menjaga lisannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman untuk saling mengejek, mencela, maupun memanggil orang lain dengan gelar yang buruk.

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara. Perkataan yang kasar, hinaan, fitnah, atau ucapan yang menyakiti orang lain dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Menjaga adab juga berarti mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Saat marah atau berbeda pendapat, seseorang perlu berusaha menahan emosi agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Kedudukan Penting Akhlak Baik

Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang membiasakan perkataan keji.

Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara sederhana, melainkan memiliki nilai besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan rasa aman, bukan justru menimbulkan kerugian atau ketakutan bagi orang lain.

Dengan demikian, akhlak yang baik tidak cukup hanya terlihat dalam aktivitas ibadah. Nilainya perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

Menerapkan Adab dalam Kehidupan

Di lingkungan keluarga, menjaga adab dapat dimulai dengan menghormati orang tua, memperlakukan pasangan dan saudara dengan baik, serta membangun komunikasi tanpa penghinaan maupun kekerasan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak dapat diwujudkan dengan menghormati tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan menghargai perbedaan.

Begitu pula di tempat kerja atau sekolah. Bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, menjaga amanah, serta tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari penerapan akhlak Islam.

Adab juga berlaku di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Menjaga perilaku di media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak dalam kehidupan modern.

Membiasakan Diri Berakhlak Baik

Menjaga adab membutuhkan latihan dan konsistensi. Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki niat. Berbuat baik kepada orang lain seharusnya dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian.

Kebiasaan menjaga lisan juga perlu dilatih. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Mempelajari kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi cara lain untuk memahami bagaimana akhlak diterapkan dalam berbagai situasi. Keteladanan beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, maupun orang yang berbeda pendapat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi diri juga penting. Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Pada akhirnya, menjaga adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam perilaku nyata.

Meneladani Rasulullah SAW berarti terus berusaha menjadi pribadi yang jujur, sabar, lembut, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain. Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk menjaga lisan, memperbaiki perilaku, menghormati sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01

Artikel Terbaru

Tahun Baru Islam, Momentum Hijrah Menuju Pribadi Lebih Baik
Tahun Baru Islam, Momentum Hijrah Menuju Pribadi Lebih Baik
TAHUN Baru Islam 1448 H menjadi momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan refleksi diri dan memperbarui semangat dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar perpindahan angka dari satu tahun ke tahun berikutnya, melainkan sebuah pengingat akan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi tonggak sejarah peradaban Islam. Bagi seorang muslim, Tahun Baru Islam 1448 H merupakan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama satu tahun terakhir. Apakah ibadah semakin baik, akhlak semakin mulia, dan hubungan dengan sesama manusia semakin harmonis? Pertanyaan-pertanyaan tersebut layak menjadi bahan muhasabah agar tahun yang baru dapat dijalani dengan kualitas keimanan yang lebih tinggi. Momentum pergantian tahun Hijriah mengajarkan bahwa perubahan menuju kebaikan membutuhkan tekad, kesabaran, dan konsistensi. Sebagaimana Rasulullah SAW melakukan hijrah demi menjaga dan mengembangkan dakwah Islam, umat Islam masa kini juga dituntut untuk melakukan hijrah dalam berbagai aspek kehidupan menuju pribadi yang lebih bertakwa kepada Allah SWT. Makna Tahun Baru Islam dalam Sejarah Kalender Hijriah dimulai dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Penetapan kalender ini dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa besar yang mengubah perjalanan umat Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, tetapi juga simbol perjuangan, pengorbanan, dan transformasi menuju kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, setiap datangnya Tahun Baru Islam 1448 H, umat Islam diajak untuk mengingat kembali nilai-nilai perjuangan yang terkandung dalam peristiwa hijrah tersebut. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui." (QS. An-Nahl: 41) Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah merupakan langkah mulia yang dilakukan demi mendapatkan ridha Allah SWT. Mengapa Menjadi Momentum Muhasabah? Muhasabah atau introspeksi diri merupakan salah satu amalan penting dalam Islam. Pergantian tahun menjadi waktu yang tepat untuk menilai kembali berbagai aspek kehidupan. Pada Tahun Baru Islam 1448 H, umat Islam dapat melakukan evaluasi terhadap: 1. Kualitas Ibadah Apakah shalat lima waktu sudah dilaksanakan tepat waktu? Apakah bacaan Al-Qur'an semakin rutin? Apakah dzikir dan doa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari? Muhasabah dalam aspek ibadah membantu seorang muslim mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki pada tahun berikutnya. 2. Akhlak dan Perilaku Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Oleh karena itu, setiap muslim perlu mengevaluasi bagaimana sikapnya terhadap keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat. 3. Hubungan Sosial Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan membantu sesama. Pergantian tahun Hijriah menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang. 4. Tujuan Hidup Seorang muslim hendaknya memiliki tujuan hidup yang jelas, yaitu menggapai ridha Allah SWT. Muhasabah membantu memastikan bahwa setiap langkah kehidupan tetap berada dalam koridor syariat Islam. Hikmah Hijrah Relevan pada Tahun Baru Islam 1. Keberanian untuk Berubah Salah satu pelajaran terbesar dari hijrah Rasulullah SAW adalah keberanian untuk melakukan perubahan. Perubahan tidak selalu mudah karena sering kali menuntut pengorbanan dan keluar dari zona nyaman. Dalam konteks modern, hijrah dapat diwujudkan dengan meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang lebih baik, seperti: Meninggalkan kemalasan dalam beribadah. Mengurangi perbuatan maksiat. Memperbaiki cara berbicara dan bersikap. Meningkatkan kepedulian terhadap sesama. 2. Optimisme dalam Menghadapi Tantangan Perjalanan hijrah Rasulullah SAW penuh dengan tantangan dan ancaman. Namun, beliau tetap optimis karena yakin akan pertolongan Allah SWT. Semangat ini sangat relevan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern seperti tekanan ekonomi, masalah keluarga, maupun tantangan sosial. 3. Pentingnya Perencanaan yang Matang Hijrah Rasulullah SAW dilakukan dengan strategi yang terencana. Hal ini mengajarkan bahwa seorang muslim perlu memiliki perencanaan dalam setiap langkah kehidupannya. Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H, setiap muslim dapat membuat target-target positif seperti: Menyelesaikan bacaan Al-Qur'an secara rutin. Menambah hafalan surah pendek. Meningkatkan sedekah. Memperbaiki kualitas hubungan keluarga. Menambah ilmu agama. 4. Tawakal kepada Allah SWT Setelah berusaha secara maksimal, seorang muslim harus menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Inilah makna tawakal yang diajarkan dalam peristiwa hijrah. Amalan Dianjurkan Saat Tahun Baru Islam Walaupun tidak terdapat ibadah khusus yang diwajibkan pada pergantian tahun Hijriah, terdapat beberapa amalan baik yang dapat dilakukan. Memperbanyak Dzikir dan Doa Dzikir merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengawali tahun baru dengan memperbanyak dzikir menjadi langkah positif dalam memperkuat keimanan. Membaca Al-Qur'an Al-Qur'an adalah petunjuk hidup bagi umat Islam. Membiasakan membaca Al-Qur'an setiap hari dapat menjadi target utama pada Tahun Baru Islam 1448 H. Bersedekah Sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain membantu sesama, sedekah juga menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup. Menjalin Silaturahmi Silaturahmi memiliki banyak keutamaan, termasuk memperpanjang umur dan melapangkan rezeki sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW. Memperbanyak Istighfar Istighfar menjadi sarana memohon ampunan kepada Allah SWT atas berbagai kesalahan yang telah dilakukan selama setahun terakhir. Resolusi Islami di Tahun Baru Islam Banyak orang membuat resolusi ketika memasuki tahun baru. Dalam perspektif Islam, resolusi hendaknya diarahkan pada peningkatan kualitas diri dan keimanan. Beberapa contoh resolusi Islami yang dapat diterapkan antara lain: Menjaga Shalat Tepat Waktu Shalat adalah tiang agama. Menjadikan shalat tepat waktu sebagai prioritas utama merupakan langkah penting menuju pribadi yang lebih baik. Memperbanyak Tilawah Al-Qur'an Target membaca satu juz setiap hari atau beberapa halaman setiap selesai shalat dapat menjadi kebiasaan yang sangat bermanfaat. Mengurangi Penggunaan Media Sosial tak Bermanfaat Era digital menghadirkan banyak tantangan. Seorang muslim perlu bijak dalam menggunakan teknologi agar tidak melalaikan kewajiban kepada Allah SWT. Menambah Ilmu Agama Belajar agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Mengikuti kajian, membaca buku Islami, atau mendengarkan ceramah dapat menjadi bagian dari resolusi tahun baru. Memperbaiki Akhlak Akhlak yang baik merupakan cerminan keimanan yang kuat. Oleh karena itu, memperbaiki sikap dan perilaku harus menjadi prioritas dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 H. Peran Keluarga Menyambut Tahun Baru Islam Keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter seorang muslim. Momentum pergantian tahun Hijriah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama dalam keluarga. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan bersama keluarga antara lain: Mengadakan kajian keluarga. Membaca kisah hijrah Rasulullah SAW. Mengajak anak-anak memahami sejarah Islam. Membuat target ibadah keluarga. Melakukan kegiatan sosial bersama. Dengan demikian, Tahun Baru Islam 1448 H tidak hanya menjadi momen pribadi, tetapi juga menjadi sarana memperkuat keimanan seluruh anggota keluarga. Menjadikan Tahun Baru Islam sebagai Awal Perubahan Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Oleh karena itu, jangan menunggu kondisi sempurna untuk memulai perubahan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11) Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Semangat hijrah yang terkandung dalam Tahun Baru Islam 1448 H hendaknya menjadi motivasi untuk terus memperbaiki kualitas iman, ilmu, dan amal. Tahun Baru Islam 1448 H bukan sekadar pergantian kalender Hijriah, tetapi merupakan momentum berharga bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Peristiwa hijrah Rasulullah SAW mengajarkan nilai perjuangan, pengorbanan, perencanaan, serta tawakal yang relevan sepanjang zaman. Melalui semangat Tahun Baru Islam 1448 H, setiap muslim diharapkan mampu meninggalkan kebiasaan buruk, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta mempererat hubungan sosial dengan sesama. Dengan menjadikan hijrah sebagai inspirasi kehidupan, umat Islam dapat melangkah menuju masa depan yang lebih baik, penuh keberkahan, dan diridhai oleh Allah SWT. Semoga Tahun Baru Islam 1448 H menjadi titik awal lahirnya pribadi-pribadi muslim yang lebih bertakwa, lebih bermanfaat bagi sesama, dan semakin dekat dengan Allah SWT. Aamiin. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas BAZNAS RI
Prinsip-prinsip Dasar Perhitungan Zakat Perusahaan
Prinsip-prinsip Dasar Perhitungan Zakat Perusahaan
ZAKAT merupakan instrumen penting dalam sistem ekonomi Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai ibadah, tetapi juga sebagai sarana pemerataan kesejahteraan sosial dan pembangunan ekonomi umat. Dalam konteks perusahaan, zakat menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual atas harta yang berkembang melalui aktivitas usaha. Oleh karena itu, perhitungan zakat perusahaan perlu dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip syariah yang jelas, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Seiring berkembangnya praktik bisnis modern, para ulama dan lembaga zakat kemudian mengadopsi konsep fikih zakat klasik ke dalam pendekatan akuntansi dan pelaporan perusahaan. Tujuannya agar zakat perusahaan dapat dihitung secara profesional tanpa meninggalkan nilai-nilai syariah yang menjadi landasannya. Berikut beberapa prinsip dasar dalam perhitungan zakat perusahaan: Prinsip Tahunan (Haul) Salah satu syarat wajib zakat adalah kepemilikan harta selama satu tahun penuh atau yang dikenal dengan istilah haul. Dalam praktik perusahaan, penentuan haul menjadi penting karena berkaitan langsung dengan periode perhitungan zakat. Perusahaan perlu menetapkan awal dan akhir tahun zakat secara konsisten, baik menggunakan kalender hijriah maupun kalender masehi. Penentuan ini biasanya disesuaikan dengan periode laporan keuangan perusahaan agar memudahkan proses audit, evaluasi, dan pelaporan zakat. Penggunaan kalender hijriah lebih dekat dengan ketentuan syariah, namun penggunaan kalender masehi juga diperbolehkan selama dilakukan secara konsisten dan memperhatikan penyesuaian tarif perhitungan bila diperlukan. Prinsip haul ini menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban sesaat, melainkan kewajiban periodik yang menggambarkan kesinambungan pertumbuhan harta perusahaan. Independensi Tahun Zakat Dalam syariat Islam, setiap tahun zakat berdiri sendiri dan tidak bercampur dengan periode sebelumnya ataupun sesudahnya. Artinya, satu harta tidak boleh dikenakan zakat dua kali dalam tahun yang sama. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah: “Tidak ada dua kali pembayaran dalam zakat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Prinsip ini memberikan kepastian dan keadilan dalam pengelolaan zakat perusahaan. Setiap periode perhitungan memiliki titik awal dan titik akhir yang jelas, sehingga tidak terjadi penggandaan kewajiban zakat terhadap harta yang sama. Dalam praktik akuntansi zakat, independensi tahun zakat juga membantu perusahaan menyusun laporan zakat secara lebih tertib, transparan, dan mudah ditelusuri. Adanya Perkembangan Harta (An-Nama’) Harta wajib zakat haruslah harta yang berkembang secara riil atau diperkirakan bisa berkembang jika diberi peluang untuk dikelola dan diinvestasikan. Berdasarkan ini, maka aset tetap dan yang semisalnya tidak termasuk kepada zakat, karena ia sebatas digunakan untuk pemakaian pribadi dan bukan untuk investasi ataupun perdagangan. Hanya pertumbuhan (laba dan pendapatan) yang lahir dari modal yang dianggap sebagai harta wajib zakat. Nishab Zakat dengan Menggabungkan Seluruh Harta Zakat Nishab adalah batas minimum harta yang menyebabkan seseorang atau perusahaan wajib membayar zakat. Dalam zakat perusahaan, seluruh harta yang memiliki karakteristik wajib zakat digabungkan menjadi satu kesatuan perhitungan. Misalnya: kas dan setara kas piutang lancar persediaan barang dagangan investasi jangka pendek serta keuntungan usaha Semua komponen tersebut dihitung secara kolektif untuk menentukan apakah telah mencapai nishab atau belum. Prinsip penggabungan ini bertujuan mencerminkan kondisi ekonomi perusahaan secara menyeluruh. Dengan demikian, perusahaan tidak memisahkan setiap jenis harta untuk menghindari kewajiban zakat, melainkan melihat total kemampuan ekonominya secara utuh. Zakat Dihitung dari Harta Bersih Dalam perhitungan zakat perusahaan, yang menjadi dasar pengenaan zakat bukanlah total seluruh aset, melainkan harta bersih yang benar-benar dimiliki perusahaan setelah dikurangi kewajiban jangka pendek atau pengeluaran wajib. Kewajiban tersebut dapat berupa: utang dagang biaya operasional yang jatuh tempo kewajiban lancar (current liabilities) maupun kewajiban lain yang harus segera dibayarkan Selisih antara aset lancar dan kewajiban lancar inilah yang kemudian disebut sebagai dasar atau wi’a zakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Islam memberikan prinsip keadilan dalam kewajiban zakat. Perusahaan tidak dibebani zakat atas harta yang secara nyata masih menjadi tanggungan atau kewajiban kepada pihak lain. Dengan demikian, zakat dihitung berdasarkan kemampuan ekonomi riil yang dimiliki perusahaan. Pembebanan Zakat kepada Pemilik Modal atau Pemegang Saham Pada hakikatnya, zakat perusahaan merupakan representasi zakat atas kepemilikan para pemegang saham atau pemilik modal yang dihimpun dalam suatu entitas usaha. Karena itu, beban zakat pada akhirnya dikembalikan kepada para pemilik perusahaan sesuai dengan proporsi kepemilikan modal masing-masing. Dalam praktik modern, perusahaan dapat: membayarkan zakat langsung atas nama perusahaan, atau menghitung kewajiban zakat yang kemudian menjadi tanggungan para pemegang saham. Prinsip ini memperlihatkan bahwa perusahaan hanyalah media pengelolaan harta, sedangkan kepemilikan hakiki tetap berada pada para pemodal. Di sisi lain, pembayaran zakat perusahaan secara kolektif juga mencerminkan komitmen sosial perusahaan dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan penguatan ekonomi umat. Penutup Prinsip-prinsip dasar perhitungan zakat perusahaan menunjukkan bahwa zakat tidak hanya dipahami sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai sistem ekonomi yang memiliki metodologi, akuntabilitas, dan nilai keadilan. Melalui penerapan prinsip haul, perkembangan harta, nishab, perhitungan harta bersih, hingga pembebanan kepada pemilik modal, perusahaan dapat melaksanakan kewajiban zakat secara lebih tepat, profesional, dan sesuai syariat. Di tengah berkembangnya dunia usaha modern, pengelolaan zakat perusahaan yang baik diharapkan tidak hanya menjadi bentuk kepatuhan agama, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam menciptakan pemerataan ekonomi, keberlanjutan sosial, dan keberkahan usaha. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas BAZNAS RI
Cara Menyambut Muharram dengan Ibadah dan Semangat Hijrah
Cara Menyambut Muharram dengan Ibadah dan Semangat Hijrah
MUHARRAM merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa dalam kalender Islam. Bulan ini menjadi penanda awal tahun baru Hijriah sekaligus momentum bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki amal, dan memperkuat tekad dalam menjalani kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan agama. Oleh karena itu, memahami Cara Menyambut Muharram dengan benar sangat penting agar pergantian tahun Hijriah tidak hanya menjadi peristiwa seremonial, tetapi juga menjadi sarana peningkatan keimanan dan ketakwaan. Sebagai seorang muslim, datangnya Muharram seharusnya disambut dengan rasa syukur kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan hidup dan memperbanyak amal saleh. Semangat hijrah yang diwariskan dari peristiwa perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dapat menjadi inspirasi bagi setiap muslim untuk meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Artikel ini akan membahas secara lengkap Cara Menyambut Muharram dengan ibadah dan semangat hijrah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keutamaan Bulan Muharram dalam Islam Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Keutamaan Muharram juga terlihat dari berbagai hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Muharram. Hal ini menunjukkan betapa besarnya nilai ibadah yang dilakukan pada bulan tersebut. Selain itu, Muharram menjadi pengingat akan sejarah besar umat Islam, yaitu hijrah Rasulullah SAW yang menjadi titik awal perkembangan peradaban Islam hingga menyebar ke berbagai penjuru dunia. Mengapa Muharram Identik dengan Semangat Hijrah? Ketika membahas Cara Menyambut Muharram, kita tidak dapat melepaskan pembahasan tentang hijrah. Secara umum, hijrah berarti berpindah atau meninggalkan sesuatu menuju keadaan yang lebih baik. Dalam konteks kehidupan seorang muslim saat ini, hijrah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, antara lain: Meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Meninggalkan kemalasan menuju semangat beribadah. Meninggalkan perbuatan maksiat menuju ketaatan. Meninggalkan sikap negatif menuju akhlak yang lebih mulia. Semangat hijrah bukan sekadar perubahan penampilan luar, melainkan transformasi hati, pola pikir, dan perilaku agar semakin dekat kepada Allah SWT. Cara Menyambut Muharram Memperbanyak Muhasabah Salah satu Cara Menyambut Muharram yang sangat dianjurkan adalah melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Pergantian tahun Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk meninjau kembali perjalanan hidup selama setahun terakhir. Muhasabah dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri: Apakah kualitas salat sudah semakin baik? Apakah hubungan dengan keluarga sudah harmonis? Apakah masih ada kebiasaan buruk yang perlu ditinggalkan? Apakah target ibadah tahun lalu sudah tercapai? Melalui muhasabah, seorang muslim dapat mengetahui kekurangan yang masih perlu diperbaiki dan merancang langkah-langkah positif untuk masa depan. Memperbanyak Taubat kepada Allah SWT Muharram merupakan momen yang tepat untuk memperbarui taubat. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Karena itu, salah satu Cara Menyambut Muharram yang paling utama adalah memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Taubat yang sungguh-sungguh mencakup beberapa hal: Menyesali perbuatan dosa yang pernah dilakukan. Berhenti dari perbuatan tersebut. Bertekad tidak mengulanginya kembali. Mengembalikan hak orang lain jika berkaitan dengan sesama manusia. Dengan taubat yang tulus, seorang muslim dapat memasuki tahun baru Hijriah dengan hati yang lebih bersih dan penuh harapan. Memperbanyak Ibadah Sunnah Muharram merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah. Selain menjalankan ibadah wajib dengan baik, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amalan sunnah. Beberapa ibadah sunnah yang dapat dilakukan antara lain: 1. Puasa Sunnah Muharram Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak puasa sunnah pada bulan Muharram. Salah satu yang paling terkenal adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Selain itu, dianjurkan pula berpuasa pada tanggal 9 Muharram atau Tasua sebagai pembeda dari tradisi umat lain. 2. Membaca Al-Qur'an Muharram dapat menjadi momentum untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur'an. Misalnya dengan: Menambah target tilawah harian. Memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an. Menghafalkan surat-surat pendek. Mengikuti kajian tafsir. 3. Memperbanyak Zikir dan Doa Zikir membantu hati menjadi lebih tenang dan dekat dengan Allah SWT. Pergantian tahun Hijriah dapat dijadikan pengingat untuk lebih sering mengingat Allah dalam setiap aktivitas. Menyusun Target Kebaikan di Tahun Baru Hijriah Sebagian orang membuat resolusi ketika memasuki tahun baru Masehi. Demikian pula dalam Islam, Muharram dapat dijadikan momen untuk menetapkan target kebaikan. Dalam praktik Cara Menyambut Muharram, menyusun target ibadah sangat bermanfaat agar kehidupan menjadi lebih terarah. Contoh target yang bisa dibuat: Salat berjamaah lebih rutin. Menambah hafalan Al-Qur'an. Bersedekah secara konsisten setiap bulan. Mengikuti majelis ilmu secara berkala. Menjaga hubungan baik dengan keluarga. Target yang realistis dan terukur akan membantu seseorang lebih mudah mencapainya. Mempererat Silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyah Muharram juga menjadi waktu yang baik untuk memperbaiki hubungan dengan sesama. Tidak sedikit konflik yang berlangsung bertahun-tahun hanya karena kesalahpahaman kecil. Oleh sebab itu, salah satu Cara Menyambut Muharram yang bernilai besar adalah mempererat silaturahmi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Menghubungi keluarga yang lama tidak berkomunikasi. Meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan. Mengunjungi kerabat dan sahabat. Membantu sesama yang membutuhkan. Silaturahmi bukan hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga mendatangkan keberkahan dalam kehidupan. Menumbuhkan Semangat Hijrah Semangat hijrah harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Muharram tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga momentum perubahan diri. Berikut beberapa bentuk hijrah yang relevan saat ini: Hijrah dalam Ibadah Meningkatkan kualitas salat, memperbanyak doa, dan lebih disiplin menjalankan kewajiban agama. Hijrah dalam Akhlak Mengurangi amarah, menjaga lisan, menghormati orang tua, dan memperlakukan sesama dengan baik. Hijrah dalam Pergaulan Memilih lingkungan yang mendukung kebaikan dan menjauhkan diri dari pergaulan yang dapat merusak iman. Hijrah dalam Pemanfaatan Waktu Menggunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat seperti belajar, bekerja secara produktif, dan beribadah. Mengajarkan Makna Muharram kepada Keluarga Muharram juga dapat menjadi sarana pendidikan Islam dalam keluarga. Orang tua dapat mengenalkan nilai-nilai hijrah kepada anak-anak sejak dini. Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan bersama keluarga: Membaca kisah hijrah Rasulullah SAW. Mengadakan diskusi ringan tentang makna tahun baru Hijriah. Mengajak anak berpuasa sunnah sesuai kemampuannya. Membiasakan doa dan zikir bersama. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai Islam dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Hal-Hal yang Perlu Dihindari Saat Menyambut Muharram Dalam menjalankan Cara Menyambut Muharram, umat Islam juga perlu menghindari berbagai praktik yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam syariat. Beberapa hal yang perlu dihindari antara lain: Menganggap Muharram sebagai bulan sial. Melakukan ritual yang tidak memiliki landasan agama. Berlebihan dalam perayaan hingga melalaikan ibadah. Mempercayai mitos atau takhayul yang bertentangan dengan ajaran Islam. Muharram seharusnya diisi dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan dengan hal-hal yang dapat mengurangi nilai ibadah. Hikmah Menyambut Bulan Muharram Ada banyak hikmah yang dapat diperoleh ketika seorang muslim memahami Cara Menyambut Muharram dengan benar. Di antaranya adalah: Meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT. Menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri. Menambah semangat dalam menjalankan ibadah. Memperkuat hubungan dengan keluarga dan masyarakat. Menjadikan kehidupan lebih terarah dan bermakna. Muharram bukan hanya pergantian angka dalam kalender, tetapi kesempatan untuk membuka lembaran baru yang lebih baik. Pada akhirnya, Cara Menyambut Muharram tidak cukup hanya dengan mengucapkan selamat tahun baru Hijriah, tetapi harus diwujudkan melalui peningkatan ibadah, muhasabah diri, taubat yang tulus, serta semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Muharram adalah momentum yang sangat berharga bagi umat Islam untuk memperbarui niat, memperkuat keimanan, dan memperbanyak amal saleh. Dengan memahami dan menerapkan Cara Menyambut Muharram secara benar, setiap muslim dapat menjadikan awal tahun Hijriah sebagai titik awal perubahan positif yang berkelanjutan. Semoga Muharram menjadi bulan yang membawa keberkahan, meningkatkan ketakwaan, dan menguatkan semangat hijrah dalam setiap aspek kehidupan kita. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas BAZNAS RI
Amalan Sunnah Muharram yang Sayang Jika Dilewatkan
Amalan Sunnah Muharram yang Sayang Jika Dilewatkan
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, bulan ini memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Karena itu, memahami dan mengamalkan berbagai Amalan Sunnah Muharram menjadi langkah yang sangat baik untuk meningkatkan ketakwaan dan meraih pahala yang berlimpah. Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, menjauhi perbuatan maksiat, serta meningkatkan amal saleh. Sayangnya, masih banyak umat Islam yang belum mengetahui berbagai Amalan Sunnah Muharram yang dapat dilakukan untuk mengisi bulan penuh keberkahan ini. Artikel ini akan membahas secara lengkap berbagai amalan sunnah yang dianjurkan selama bulan Muharram, keutamaannya, serta dalil yang menjadi landasannya sehingga dapat menjadi panduan bagi kaum muslimin dalam menghidupkan bulan yang mulia ini. Keutamaan Bulan Muharram dalam Islam Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Keistimewaan bulan ini disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36 bahwa jumlah bulan menurut Allah ada dua belas bulan dan di antaranya terdapat empat bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa serta memperbanyak amal kebaikan. Bahkan, Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai "bulan Allah", sebuah penyebutan yang menunjukkan kemuliaan dan keistimewaannya dibandingkan bulan lainnya. Karena itulah, memperbanyak Amalan Sunnah Muharram menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengapa Umat Islam Dianjurkan Memperbanyak Amalan di Bulan Muharram? Setiap waktu memiliki keutamaan yang berbeda dalam Islam. Allah SWT memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memperbanyak pahala pada waktu-waktu tertentu, salah satunya adalah bulan Muharram. Amalan yang dilakukan pada bulan mulia ini memiliki nilai yang besar di sisi Allah. Selain itu, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk memulai tahun baru Hijriah dengan memperbaiki diri, memperkuat ibadah, dan memperbarui niat dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. Dengan menjalankan berbagai Amalan Sunnah Muharram, seorang muslim dapat menjadikan awal tahun Hijriah sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT. Amalan Sunnah Muharram yang Dianjurkan 1. Berpuasa di Bulan Muharram Salah satu Amalan Sunnah Muharram yang paling utama adalah berpuasa. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram." Hadis ini menunjukkan bahwa puasa sunnah di bulan Muharram memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Umat Islam dapat memperbanyak puasa sunnah sepanjang bulan Muharram sesuai kemampuan masing-masing. Puasa ini menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus memperoleh pahala yang besar dari Allah SWT. 2. Melaksanakan Puasa Asyura Puasa Asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharram dan merupakan salah satu amalan yang paling terkenal pada bulan ini. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu. Keutamaan yang luar biasa ini menjadikan puasa Asyura sebagai Amalan Sunnah Muharram yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Selain menghapus dosa, puasa Asyura juga menjadi bentuk syukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. 3. Melaksanakan Puasa Tasu'a Puasa Tasu'a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Rasulullah SAW berkeinginan untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus sebagai pembeda dari tradisi kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan puasa Tasu'a dan Asyura secara bersamaan. Kombinasi kedua puasa ini menjadi salah satu Amalan Sunnah Muharram yang memiliki banyak keutamaan dan sangat dianjurkan oleh para ulama. 4. Memperbanyak Sedekah Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan sepanjang waktu, termasuk pada bulan Muharram. Memberikan bantuan kepada fakir miskin, anak yatim, atau mereka yang membutuhkan menjadi salah satu bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah SWT. Melalui sedekah, seorang muslim tidak hanya membantu sesama tetapi juga membersihkan harta dan meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah. Oleh karena itu, memperbanyak sedekah termasuk Amalan Sunnah Muharram yang sangat baik untuk dilakukan. 5. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar Muharram adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak mengingat Allah SWT. Dzikir dan istighfar membantu seorang muslim membersihkan hati, memperkuat iman, serta mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, istighfar menjadi sarana memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan selama ini. Memanfaatkan bulan Muharram dengan memperbanyak dzikir dan istighfar merupakan bagian penting dari Amalan Sunnah Muharram yang dapat dilakukan oleh siapa saja. 6. Membaca dan Mempelajari Al-Qur'an Membaca Al-Qur'an merupakan ibadah yang mendatangkan banyak pahala. Pada bulan Muharram, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur'an, baik melalui tilawah, tadabbur, maupun mempelajari maknanya. Semakin sering seorang muslim membaca dan memahami Al-Qur'an, semakin besar pula manfaat yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, membaca Al-Qur'an menjadi salah satu Amalan Sunnah Muharram yang tidak boleh diabaikan. 7. Menyambung Silaturahmi Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, dan sesama muslim. Muharram dapat dijadikan momentum untuk mempererat tali persaudaraan, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan yang mungkin renggang. Menyambung silaturahmi termasuk amalan yang mendatangkan keberkahan usia dan rezeki. Oleh sebab itu, amalan ini termasuk dalam daftar Amalan Sunnah Muharram yang sangat dianjurkan. 8. Memperbanyak Doa dan Muhasabah Diri Awal tahun Hijriah merupakan waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri. Seorang muslim dapat merenungkan perjalanan hidupnya selama setahun terakhir, memperbaiki kekurangan, dan menyusun target ibadah yang lebih baik. Selain itu, memperbanyak doa agar diberikan kemudahan dalam menjalani tahun yang baru juga menjadi amalan yang sangat baik. Muhasabah dan doa merupakan bagian penting dari Amalan Sunnah Muharram yang dapat membantu meningkatkan kualitas kehidupan spiritual seorang muslim. Kesalahan yang Perlu Dihindari di Bulan Muharram Selain memperbanyak amalan, umat Islam juga perlu menghindari berbagai praktik yang tidak memiliki dasar syariat. Beberapa tradisi yang berkembang di masyarakat terkadang dikaitkan dengan Muharram tanpa adanya dalil yang kuat. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan yang jelas berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih. Fokus utama dalam menjalankan Amalan Sunnah Muharram adalah mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, bukan sekadar mengikuti kebiasaan yang tidak memiliki dasar yang kuat. Hikmah Menjalankan Amalan Sunnah Muharram Terdapat banyak hikmah yang dapat diperoleh dari pelaksanaan berbagai amalan sunnah pada bulan Muharram, antara lain: Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Menjadi sarana penghapus dosa-dosa kecil. Menumbuhkan semangat beribadah di awal tahun Hijriah. Melatih keikhlasan dan kesabaran. Mempererat hubungan dengan sesama muslim. Menambah pahala dan keberkahan hidup. Membantu membangun kebiasaan ibadah yang konsisten. Dengan memahami hikmah tersebut, umat Islam dapat lebih termotivasi untuk menghidupkan bulan Muharram dengan berbagai amal saleh yang bermanfaat. Bulan Muharram adalah bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, Muharram menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Berbagai Amalan Sunnah Muharram seperti puasa Muharram, puasa Tasu'a, puasa Asyura, sedekah, dzikir, membaca Al-Qur'an, menyambung silaturahmi, serta memperbanyak doa dan muhasabah diri merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Melalui pelaksanaan Amalan Sunnah Muharram, seorang muslim dapat memulai tahun baru Hijriah dengan semangat memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Jangan sampai kesempatan emas yang hadir setiap tahun ini berlalu begitu saja tanpa diisi dengan amal saleh yang bernilai pahala besar di sisi Allah SWT. Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas BAZNAS RI
Tahun Baru Hijriah: Saat Tepat Muhasabah dan Memulai Kebaikan
Tahun Baru Hijriah: Saat Tepat Muhasabah dan Memulai Kebaikan
TAHUN Baru Hijriah 2026 menjadi momentum yang sangat berharga bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar perubahan angka, melainkan pengingat akan pentingnya memperbaiki kualitas iman, ibadah, dan akhlak. Berbeda dengan perayaan pergantian tahun pada umumnya yang identik dengan hiburan dan kemeriahan, pergantian tahun dalam Islam lebih menekankan pada refleksi diri serta upaya memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Bagi kaum muslimin, Tahun Baru Hijriah 2026 merupakan kesempatan untuk membuka lembaran baru dengan niat yang lebih baik, semangat yang lebih kuat, serta komitmen yang lebih tinggi dalam menjalankan ajaran Islam. Momen ini mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan demi mempertahankan dan menyebarkan risalah Islam. Melalui artikel ini, kita akan membahas makna Tahun Baru Hijriah, sejarah penetapan kalender Hijriah, hikmah yang dapat diambil, serta amalan-amalan yang dapat dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Hijriah 2026 dengan penuh keberkahan. Sejarah Singkat Tahun Baru Hijriah Kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang digunakan umat Islam berdasarkan peredaran bulan. Penetapan kalender ini dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA sekitar tahun 638 Masehi. Awalnya, umat Islam belum memiliki sistem penanggalan resmi. Setelah berbagai pertimbangan, para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal kalender Islam. Peristiwa hijrah dipilih karena menjadi tonggak penting dalam perkembangan dakwah Islam dan pembentukan masyarakat muslim yang kuat. Dari sinilah lahir sistem penanggalan Hijriah yang hingga saat ini digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia untuk menentukan berbagai ibadah, seperti puasa Ramadan, haji, zakat, dan hari-hari besar Islam lainnya. Karena itu, Tahun Baru Hijriah 2026 bukan hanya peringatan pergantian tahun semata, tetapi juga pengingat terhadap semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW kepada umatnya. Makna Hijrah Perlu Dipahami Umat Islam Ketika mendengar kata hijrah, sebagian orang mungkin hanya memahami sebagai perpindahan tempat. Padahal makna hijrah dalam Islam jauh lebih luas. Hijrah mencakup perubahan menuju keadaan yang lebih baik, meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki akhlak, meningkatkan kualitas ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." Hadis ini menunjukkan bahwa hijrah sejati adalah transformasi diri menuju ketaatan. Oleh karena itu, Tahun Baru Hijriah 2026 menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi berbagai aspek kehidupan dan memperbaiki kekurangan yang masih ada. Hijrah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, antara lain: Meninggalkan kebiasaan maksiat. Memperbaiki kualitas shalat. Meningkatkan bacaan Al-Qur'an. Memperbanyak sedekah. Menjaga hubungan baik dengan sesama. Menuntut ilmu agama secara lebih serius. Memperbaiki etika dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa Muhasabah Penting di Tahun Baru Hijriah? Muhasabah merupakan proses evaluasi diri terhadap amal yang telah dilakukan. Dalam Islam, muhasabah memiliki kedudukan yang sangat penting karena membantu seseorang menyadari kekurangan dan kesalahan yang perlu diperbaiki. Saat memasuki Tahun Baru Hijriah 2026, umat Islam dianjurkan untuk melihat kembali perjalanan hidup selama satu tahun terakhir. Pertanyaan sederhana yang dapat diajukan kepada diri sendiri antara lain: Apakah ibadah saya semakin baik? Apakah hubungan saya dengan keluarga semakin harmonis? Apakah saya telah menjaga amanah dengan baik? Apakah saya telah memanfaatkan waktu secara produktif? Apakah saya telah memperbanyak amal saleh? Muhasabah bukan untuk menyesali masa lalu secara berlebihan, melainkan sebagai sarana memperbaiki masa depan. Dengan evaluasi yang jujur, seseorang dapat menyusun langkah-langkah nyata untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hikmah Diambil dari Tahun Baru Hijriah Ada banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari momentum Tahun Baru Hijriah 2026. 1. Mengingat Pentingnya Pengorbanan Hijrah Rasulullah SAW bukan perjalanan yang mudah. Beliau meninggalkan kampung halaman, harta benda, dan berbagai kenyamanan demi mempertahankan dakwah Islam. Hal ini mengajarkan bahwa setiap perubahan menuju kebaikan membutuhkan pengorbanan dan kesungguhan. 2. Menumbuhkan Optimisme Hijrah mengajarkan bahwa kesulitan bukan akhir dari segalanya. Setelah berbagai tekanan di Makkah, Allah SWT memberikan jalan keluar melalui hijrah ke Madinah. Umat Islam diajarkan untuk selalu optimis menghadapi tantangan hidup. 3. Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Setelah hijrah, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan tersebut menjadi fondasi kuat bagi perkembangan masyarakat Islam. Momentum Tahun Baru Hijriah 2026 dapat dimanfaatkan untuk mempererat hubungan dengan keluarga, tetangga, dan sesama muslim. 4. Menyadari Nilai Waktu Pergantian tahun menunjukkan bahwa umur manusia terus berkurang. Kesadaran ini seharusnya mendorong umat Islam untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Amalan yang Dianjurkan Menyambut Tahun Baru Hijriah Tidak terdapat ibadah khusus yang secara eksplisit diwajibkan untuk menyambut tahun baru Hijriah. Namun terdapat berbagai amalan yang dianjurkan karena memiliki nilai kebaikan dalam Islam. Memperbanyak Dzikir dan Doa Dzikir membantu hati menjadi lebih tenang dan dekat kepada Allah SWT. Memasuki tahun baru menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak doa memohon keberkahan dan petunjuk. Membaca Al-Qur'an Al-Qur'an merupakan pedoman hidup umat Islam. Menjadikan membaca Al-Qur'an sebagai kebiasaan harian merupakan bentuk hijrah yang sangat baik. Bersedekah Sedekah dapat menjadi pembuka keberkahan di tahun yang baru. Tidak harus dalam jumlah besar, yang terpenting adalah keikhlasan. Memperbaiki Hubungan dengan Orang Lain Memaafkan kesalahan orang lain dan memperbaiki hubungan yang renggang merupakan amalan mulia yang patut dilakukan saat menyambut Tahun Baru Hijriah 2026. Menyusun Target Kebaikan Umat Islam dapat membuat target ibadah dan amal saleh untuk satu tahun ke depan, seperti: Menyelesaikan khatam Al-Qur'an. Menjaga shalat berjamaah. Mengikuti kajian rutin. Menambah hafalan Al-Qur'an. Memperbanyak sedekah. Tahun Baru Hijriah Momentum Perubahan Diri Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap pergantian tahun hanya sebagai seremonial tanpa makna mendalam. Padahal, semangat utama Tahun Baru Hijriah 2026 adalah perubahan diri menuju kondisi yang lebih baik. Perubahan tersebut tidak harus dilakukan secara besar-besaran dalam waktu singkat. Islam mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Oleh karena itu, mulailah dari langkah sederhana seperti: Shalat tepat waktu. Membiasakan membaca Al-Qur'an setiap hari. Mengurangi perbuatan sia-sia. Menjaga lisan dari perkataan buruk. Menambah ilmu agama. Jika dilakukan secara istiqamah, perubahan kecil akan menghasilkan dampak besar dalam kehidupan seorang muslim. Peran Keluarga Menyambut Tahun Baru Hijriah Keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Islam kepada generasi muda. Momentum Tahun Baru Hijriah 2026 dapat dimanfaatkan untuk mengadakan kegiatan positif bersama keluarga. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain: Mengadakan kajian keluarga. Membaca kisah hijrah Rasulullah SAW. Berdiskusi tentang target ibadah keluarga. Mengajak anak-anak memahami sejarah Islam. Bersedekah bersama. Dengan demikian, pergantian tahun Hijriah tidak hanya menjadi peristiwa kalender, tetapi juga sarana pendidikan spiritual dalam keluarga. Jadikan Tahun Baru Hijriah Awal Lebih Baik Setiap manusia memiliki kekurangan dan kesalahan. Islam memberikan kesempatan bagi setiap hamba untuk terus memperbaiki diri melalui taubat dan amal saleh. Karena itu, Tahun Baru Hijriah 2026 hendaknya dijadikan sebagai titik awal untuk memperbarui niat, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kualitas kehidupan sebagai seorang muslim. Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Selama pintu taubat masih terbuka, setiap muslim memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Tahun Baru Hijriah 2026 merupakan momen istimewa yang mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW, sebuah perjalanan yang sarat dengan nilai perjuangan, pengorbanan, dan keimanan. Momentum ini bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Islam, melainkan kesempatan berharga untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan menyusun langkah-langkah kebaikan di masa depan. Melalui semangat hijrah, umat Islam diajak meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih dekat dengan Allah SWT. Dengan memperbanyak ibadah, meningkatkan akhlak, menjaga hubungan dengan sesama, dan memperkuat komitmen dalam menjalankan ajaran Islam, Tahun Baru Hijriah 2026 dapat menjadi awal perubahan yang membawa keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih bermanfaat bagi sesama di tahun Hijriah yang baru.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas BAZNAS RI
Tahun Baru Islam: Makna Mendalam di Balik Pergantian Tahun Hijriah
Tahun Baru Islam: Makna Mendalam di Balik Pergantian Tahun Hijriah
TAHUN Baru Islam menjadi salah satu momen penting yang dinantikan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar perubahan angka, melainkan momentum untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang identik dengan pesta dan hiburan, Tahun Baru Islam mengandung nilai spiritual yang mendalam dan mengajak setiap muslim untuk merenungkan perjalanan hidupnya selama satu tahun terakhir. Bagi umat Islam, datangnya Tahun Baru Islam 2026 merupakan pengingat tentang pentingnya hijrah dalam kehidupan. Hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga sebagai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, lebih taat, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Oleh karena itu, memahami makna di balik pergantian tahun Hijriah menjadi hal yang penting agar momentum ini tidak berlalu begitu saja tanpa memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari. Sejarah Penetapan Kalender Hijriah Kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang digunakan umat Islam berdasarkan peredaran bulan. Penetapan kalender ini dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Sebelum adanya kalender Hijriah, umat Islam belum memiliki sistem penanggalan resmi yang digunakan secara luas dalam administrasi pemerintahan maupun kehidupan sosial. Tahun pertama dalam kalender Hijriah dihitung berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa tersebut dipilih karena dianggap sebagai titik awal kebangkitan umat Islam dan terbentuknya masyarakat Islam yang kuat serta mandiri. Dalam kalender Hijriah, satu tahun terdiri dari 12 bulan, yaitu: Muharram Safar Rabiul Awal Rabiul Akhir Jumadil Awal Jumadil Akhir Rajab Syaban Ramadan Syawal Zulkaidah Zulhijah Bulan Muharram menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah dan menandai dimulainya Tahun Baru Islam 2026. Makna Hijrah jadi Dasar Tahun Baru Islam Ketika membahas Tahun Baru Islam 2026, tidak dapat dipisahkan dari makna hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam. Hijrah Nabi Muhammad SAW bukanlah sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan sebuah perjuangan besar dalam mempertahankan dan menyebarkan ajaran Islam. Peristiwa hijrah mengajarkan banyak nilai kehidupan, di antaranya: 1. Keberanian Menghadapi Perubahan Hijrah menunjukkan bahwa perubahan sering kali membutuhkan keberanian. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat meninggalkan kampung halaman mereka demi mempertahankan keimanan dan menjalankan perintah Allah SWT. 2. Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Perjalanan hijrah penuh dengan tantangan dan ancaman. Namun, dengan kesabaran dan keyakinan kepada Allah SWT, segala rintangan dapat dilalui dengan baik. 3. Optimisme Menyongsong Masa Depan Hijrah mengajarkan bahwa setiap kesulitan pasti memiliki jalan keluar. Setelah mengalami berbagai tekanan di Makkah, umat Islam akhirnya memperoleh kehidupan yang lebih baik di Madinah. Nilai-nilai tersebut tetap relevan hingga saat ini dan menjadi pelajaran penting dalam menyambut Tahun Baru Islam 2026. Keutamaan Bulan Muharram Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Bahkan, bulan ini termasuk dalam empat bulan haram yang memiliki keistimewaan khusus. Keutamaan bulan Muharram antara lain: Bulan yang Dimuliakan Allah SWT Muharram termasuk bulan yang dihormati dan diagungkan. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan maksiat. Waktu yang Tepat untuk Muhasabah Datangnya Tahun Baru Islam 2026 pada bulan Muharram menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri. Muhasabah atau introspeksi diri sangat penting agar seseorang dapat mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki. Anjuran Berpuasa Puasa sunnah di bulan Muharram, terutama pada tanggal 9 dan 10 Muharram, memiliki keutamaan yang besar. Ibadah ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Hikmah Tahun Baru Islam bagi Kehidupan Muslim Setiap pergantian tahun Hijriah membawa berbagai hikmah yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Memperkuat Keimanan Momentum Tahun Baru Islam 2026 dapat digunakan untuk memperbarui niat dalam beribadah dan meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT. Keimanan yang kuat akan menjadi fondasi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Menetapkan Target Kebaikan Sebagaimana banyak orang membuat resolusi pada awal tahun, umat Islam juga dapat menetapkan target-target ibadah dan kebaikan saat memasuki tahun Hijriah yang baru. Contohnya: Meningkatkan kualitas salat tepat waktu. Membiasakan membaca Al-Qur'an setiap hari. Memperbanyak sedekah. Menjaga silaturahmi. Memperdalam ilmu agama. Memperbaiki Akhlak Hijrah sejati juga mencakup perubahan akhlak menjadi lebih baik. Pergantian tahun menjadi kesempatan untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan perilaku yang lebih sesuai dengan ajaran Islam. Amalan yang Dianjurkan Saat Tahun Baru Islam Meskipun tidak terdapat ibadah khusus yang diwajibkan saat pergantian tahun Hijriah, terdapat berbagai amalan yang dapat dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Islam 2026. 1. Muhasabah Diri Evaluasi diri merupakan langkah awal menuju perubahan yang lebih baik. Renungkan berbagai pencapaian dan kekurangan selama satu tahun terakhir. 2. Memperbanyak Doa Berdoa agar diberikan keberkahan, kesehatan, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan pada tahun yang baru. 3. Memperbanyak Dzikir Dzikir membantu hati menjadi lebih tenang dan semakin dekat kepada Allah SWT. 4. Bersedekah Sedekah menjadi salah satu bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT selama ini. 5. Menjalin Silaturahmi Tahun baru dapat dijadikan momentum untuk mempererat hubungan dengan keluarga, sahabat, dan sesama muslim. Relevansi Tahun Baru Islam di Era Modern Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, makna Tahun Baru Islam 2026 tetap memiliki relevansi yang tinggi. Umat Islam menghadapi berbagai tantangan modern seperti perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta berbagai pengaruh budaya yang dapat memengaruhi nilai-nilai keislaman. Karena itu, semangat hijrah perlu diterapkan dalam kehidupan masa kini. Hijrah dapat diwujudkan melalui: Beralih dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Menggunakan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat. Menjaga etika dalam bermedia sosial. Meningkatkan literasi keislaman. Menjadi pribadi yang lebih produktif dan bermanfaat. Dengan demikian, Tahun Baru Islam 2026 tidak hanya menjadi peringatan historis, tetapi juga sarana pembentukan karakter muslim yang lebih baik. Menjadikan Tahun Baru Islam Momentum Perubahan Salah satu pesan terbesar dari pergantian tahun Hijriah adalah pentingnya perubahan. Setiap muslim hendaknya menjadikan Tahun Baru Islam 2026 sebagai titik awal untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Perubahan tidak harus dilakukan secara besar-besaran dalam waktu singkat. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru akan memberikan dampak yang lebih besar dalam jangka panjang. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain: Menambah waktu untuk membaca Al-Qur'an. Memperbaiki kualitas salat. Mengurangi aktivitas yang tidak bermanfaat. Memperbanyak amal sosial. Menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Dengan semangat hijrah yang terus hidup, umat Islam dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun ke tahun. Tahun Baru Islam 2026 bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah, tetapi merupakan momentum penting untuk melakukan refleksi, memperkuat keimanan, dan memperbaiki kualitas diri. Peristiwa hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam mengandung pelajaran berharga tentang keberanian, kesabaran, pengorbanan, dan optimisme dalam menghadapi kehidupan. Melalui pemahaman yang benar terhadap makna Tahun Baru Islam 2026, umat Islam dapat menjadikan pergantian tahun sebagai sarana untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah SWT, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Semoga tahun Hijriah yang baru membawa keberkahan, kedamaian, serta semangat baru untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas BAZNAS RI
1 Muharram 1448 H: Awal Tahun Penuh Harapan dan Keberkahan
1 Muharram 1448 H: Awal Tahun Penuh Harapan dan Keberkahan
1 Muharram 1448 H menjadi momen yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar perubahan angka, melainkan kesempatan untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat komitmen dalam menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam. Tahun baru Hijriah mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah yang menjadi titik awal kebangkitan dan perkembangan dakwah Islam. Dalam kehidupan seorang Muslim, datangnya 1 Muharram 1448 H seharusnya disambut dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Momentum ini dapat dijadikan sebagai sarana evaluasi terhadap perjalanan hidup selama satu tahun terakhir sekaligus menyusun harapan dan rencana yang lebih baik untuk masa depan. Oleh karena itu, memahami makna dan keutamaan bulan Muharram menjadi hal yang penting agar pergantian tahun Hijriah tidak berlalu begitu saja tanpa memberikan dampak positif dalam kehidupan. Mengenal Makna 1 Muharram Kalender Hijriah Kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang digunakan umat Islam berdasarkan peredaran bulan. Penetapan awal kalender ini dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab dengan menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal perhitungan tahun. Karena itu, 1 Muharram 1448 H bukan hanya menandai pergantian tahun baru Islam, tetapi juga mengingatkan umat Islam akan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan keimanan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Hijrah mengajarkan bahwa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik membutuhkan kesungguhan, keberanian, dan keteguhan hati. Semangat inilah yang seharusnya dihidupkan kembali setiap kali umat Islam memasuki tahun baru Hijriah. Muharram sebagai Bulan Dimuliakan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Keutamaan bulan Muharram menunjukkan bahwa 1 Muharram 1448 H adalah awal yang baik untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bulan ini menjadi kesempatan emas untuk memulai kebiasaan-kebiasaan positif yang dapat membawa keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bulan yang istimewa, Muharram juga dikenal sebagai bulan yang penuh rahmat. Banyak ulama menjelaskan bahwa amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah SWT. Makna Hijrah dalam Kehidupan Modern Ketika membahas 1 Muharram 1448 H, penting untuk memahami bahwa hijrah tidak hanya berarti berpindah tempat secara fisik. Dalam konteks kehidupan modern, hijrah dapat dimaknai sebagai perubahan menuju kondisi yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan. Hijrah dapat diwujudkan melalui: Meningkatkan kualitas salat dan ibadah harian. Memperbaiki hubungan dengan keluarga. Menjaga kejujuran dalam pekerjaan dan bisnis. Menghindari perilaku yang dilarang agama. Memperbanyak sedekah dan kepedulian sosial. Menuntut ilmu yang bermanfaat. Menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti orang lain. Melalui semangat hijrah, umat Islam dapat menjadikan 1 Muharram 1448 H sebagai titik awal perubahan yang lebih baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Amalan yang Dianjurkan pada 1 Muharram Meskipun tidak terdapat ibadah khusus yang diwajibkan pada malam atau hari pertama Muharram, terdapat berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan ini. 1. Memperbanyak Dzikir dan Doa Awal tahun Hijriah merupakan waktu yang tepat untuk memperbanyak dzikir dan doa. Umat Islam dapat memohon ampunan atas kesalahan di masa lalu sekaligus meminta petunjuk dan keberkahan untuk tahun yang akan datang. 2. Muhasabah atau Evaluasi Diri Momentum 1 Muharram 1448 H sangat tepat digunakan untuk melakukan introspeksi. Muhasabah membantu seseorang mengenali kekurangan yang perlu diperbaiki dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT. 3. Memperbanyak Puasa Sunnah Rasulullah SAW sangat menganjurkan puasa pada bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura. Puasa sunnah menjadi salah satu bentuk ibadah yang dapat meningkatkan ketakwaan seorang Muslim. 4. Memperbanyak Sedekah Sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan sepanjang waktu, termasuk pada bulan Muharram. Dengan berbagi kepada sesama, seorang Muslim dapat menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian sosial. 5. Menjalin Silaturahmi Tahun baru Islam juga menjadi kesempatan yang baik untuk mempererat hubungan dengan keluarga, kerabat, sahabat, dan masyarakat sekitar. Silaturahmi membawa banyak keberkahan dalam kehidupan. Harapan dan Resolusi di Tahun Baru Islam Setiap pergantian tahun selalu membawa harapan baru. Demikian pula dengan datangnya 1 Muharram 1448 H, umat Islam dapat menjadikannya sebagai momentum untuk menyusun resolusi yang lebih bernilai dan berorientasi pada kebaikan. Beberapa resolusi yang dapat dipertimbangkan antara lain: Meningkatkan Kualitas Ibadah Target ibadah yang lebih baik dapat menjadi prioritas utama. Misalnya dengan menjaga salat tepat waktu, memperbanyak membaca Al-Qur'an, dan meningkatkan kualitas doa. Menjadi Pribadi yang Lebih Bermanfaat Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, tahun baru Hijriah dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Memperbaiki Akhlak Akhlak yang baik merupakan cerminan keimanan seseorang. Menjadikan akhlak sebagai fokus perbaikan selama tahun ini merupakan langkah yang sangat penting. Meningkatkan Ilmu Pengetahuan Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Dengan ilmu yang benar, seseorang dapat menjalankan agama dengan lebih baik dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Hikmah yang Dapat Dipetik dari 1 Muharram Ada banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari datangnya 1 Muharram 1448 H. Beberapa hikmah tersebut antara lain: Pentingnya Perubahan Positif Hijrah mengajarkan bahwa perubahan merupakan bagian penting dari kehidupan. Tanpa keberanian untuk berubah, seseorang akan sulit berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Perjalanan hijrah Rasulullah SAW penuh dengan tantangan dan rintangan. Hal ini mengajarkan bahwa kesabaran merupakan kunci dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Optimisme Menyambut Masa Depan Pergantian tahun membawa harapan baru. Seorang Muslim diajarkan untuk selalu optimis dan berprasangka baik kepada Allah SWT dalam setiap keadaan. Pentingnya Perencanaan Hidup Momentum tahun baru Islam juga mengingatkan pentingnya memiliki tujuan hidup yang jelas. Perencanaan yang baik dapat membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih terarah. Cara Menyambut 1 Muharram Penuh Keberkahan Agar pergantian tahun Hijriah memberikan manfaat yang nyata, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan: Mengawali tahun dengan taubat yang tulus. Menyusun target ibadah selama satu tahun ke depan. Membaca dan memahami sejarah hijrah Rasulullah SAW. Mengikuti kajian keislaman yang bermanfaat. Memperbanyak amal sosial dan sedekah. Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan sesama Muslim. Menghindari kegiatan yang tidak bermanfaat. Memperbanyak doa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dengan langkah-langkah tersebut, 1 Muharram 1448 H dapat menjadi awal perjalanan yang penuh makna dan keberkahan. Peran Keluarga dalam Semangat Tahun Baru Islam Keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Islam kepada generasi muda. Momentum 1 Muharram 1448 H dapat dimanfaatkan orang tua untuk mengenalkan sejarah hijrah dan makna tahun baru Islam kepada anak-anak. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan bersama keluarga antara lain: Membaca kisah perjuangan Rasulullah SAW. Mengadakan diskusi ringan tentang makna hijrah. Menyusun target ibadah keluarga. Melakukan kegiatan sosial bersama. Mengajak anak untuk bersedekah. Dengan cara tersebut, semangat tahun baru Islam dapat tumbuh dalam lingkungan keluarga dan menjadi bagian dari pendidikan karakter Islami. Datangnya 1 Muharram 1448 H merupakan anugerah yang patut disyukuri oleh setiap Muslim. Tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian kalender, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperkuat semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Nilai-nilai perjuangan, kesabaran, dan optimisme yang terkandung dalam peristiwa hijrah menjadi inspirasi bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Semoga 1 Muharram 1448 H menjadi awal tahun yang penuh harapan, keberkahan, dan kebaikan bagi seluruh umat Islam. Dengan memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, setiap Muslim dapat menjadikan tahun baru Hijriah sebagai titik awal menuju kehidupan yang lebih bermakna, baik di dunia maupun di akhirat. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas BAZNAS RI
Tahun Baru Hijriah: Makna, Sejarah, dan Amalan
Tahun Baru Hijriah: Makna, Sejarah, dan Amalan
TAHUN Baru Hijriah 1448 merupakan momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar perubahan angka, melainkan kesempatan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Setiap datangnya Tahun Baru Hijriah 1448, umat Islam diajak untuk mengingat kembali perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menegakkan ajaran Islam melalui peristiwa hijrah yang menjadi tonggak awal penanggalan Islam. Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang sering diwarnai berbagai bentuk hiburan, Tahun Baru Hijriah 1448 memiliki makna spiritual yang mendalam. Momentum ini menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk mengisi pergantian tahun dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan memperbaiki kualitas ibadah. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai Tahun Baru Hijriah 1448, mulai dari sejarahnya, makna yang terkandung di dalamnya, hingga amalan-amalan yang dianjurkan untuk dilakukan oleh umat Islam. Sejarah Penetapan Kalender Hijriah Kalender Hijriah adalah sistem penanggalan yang digunakan umat Islam berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Kalender ini terdiri dari 12 bulan, yaitu Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syaban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Awal mula penetapan kalender Hijriah terjadi pada masa pemerintahan Khalifah kedua, yaitu Umar bin Khattab. Saat itu, kebutuhan akan sistem penanggalan yang teratur semakin mendesak karena semakin luasnya wilayah Islam dan meningkatnya aktivitas administrasi pemerintahan. Setelah melalui musyawarah bersama para sahabat, diputuskan bahwa peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dijadikan sebagai titik awal kalender Islam. Peristiwa hijrah tersebut dipilih karena menjadi momentum penting dalam sejarah perkembangan Islam, yaitu saat umat Islam mulai membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam secara lebih luas. Karena itulah, setiap kali umat Islam memperingati Tahun Baru Hijriah 1448, sesungguhnya mereka sedang mengenang semangat hijrah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Makna Tahun Baru Hijriah bagi Umat Islam 1. Momentum Muhasabah Diri Makna pertama dari Tahun Baru Hijriah 1448 adalah sebagai waktu untuk melakukan evaluasi diri. Umat Islam diajak untuk meninjau kembali perjalanan hidup selama satu tahun terakhir. Pertanyaan yang dapat diajukan kepada diri sendiri antara lain: Apakah ibadah sudah semakin baik? Apakah hubungan dengan sesama manusia semakin harmonis? Apakah waktu telah dimanfaatkan secara optimal? Apakah dosa-dosa yang pernah dilakukan sudah diiringi dengan taubat yang sungguh-sungguh? Muhasabah menjadi langkah awal menuju perubahan yang lebih baik. 2. Meneladani Semangat Hijrah Hijrah tidak hanya berarti berpindah tempat secara fisik. Dalam kehidupan modern, hijrah dapat dimaknai sebagai perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Melalui Tahun Baru Hijriah 1448, umat Islam didorong untuk: Berhijrah dari kemalasan menuju produktivitas. Berhijrah dari maksiat menuju ketaatan. Berhijrah dari kebiasaan buruk menuju akhlak yang lebih mulia. Berhijrah dari kelalaian menuju kesadaran spiritual. Semangat hijrah inilah yang menjadi inti dari peringatan tahun baru Islam. 3. Mengingat Pentingnya Waktu Islam mengajarkan bahwa waktu merupakan amanah yang sangat berharga. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Kedatangan Tahun Baru Hijriah 1448 menjadi pengingat bahwa usia manusia terus berkurang. Oleh sebab itu, setiap Muslim hendaknya memanfaatkan waktu untuk memperbanyak amal saleh dan kegiatan yang bermanfaat. Keutamaan Muharram dalam Tahun Baru Hijriah Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Keistimewaan bulan Muharram antara lain: Termasuk bulan haram atau bulan yang dimuliakan. Menjadi awal tahun dalam kalender Islam. Dianjurkan memperbanyak amal saleh. Dianjurkan melaksanakan puasa sunnah, terutama pada tanggal 9 dan 10 Muharram atau 10 dan 11 Muharram. Karena Tahun Baru Hijriah 1448 diawali dengan bulan Muharram, umat Islam memiliki kesempatan besar untuk memulai tahun dengan berbagai amal kebaikan. Amalan Dianjurkan pada Tahun Baru Hijriah 1. Memperbanyak Taubat Taubat merupakan salah satu amalan terbaik yang dapat dilakukan ketika memasuki Tahun Baru Hijriah 1448. Taubat yang benar mencakup: Menyesali dosa yang telah dilakukan. Berhenti dari perbuatan maksiat. Bertekad untuk tidak mengulanginya. Mengembalikan hak orang lain jika pernah melakukan kezaliman. Dengan taubat yang tulus, seorang Muslim dapat memulai tahun baru dengan hati yang lebih bersih. 2. Membaca Al-Qur'an Membaca Al-Qur'an merupakan ibadah yang sangat dianjurkan sepanjang waktu, termasuk saat menyambut Tahun Baru Hijriah 1448. Membiasakan diri membaca Al-Qur'an setiap hari dapat menjadi target hijrah yang sangat baik untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. 3. Memperbanyak Dzikir dan Doa Dzikir membantu hati menjadi lebih tenang dan dekat kepada Allah SWT. Beberapa bentuk dzikir yang dapat diamalkan antara lain: Tasbih Tahmid Tahlil Takbir Istighfar Selain itu, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak doa agar diberikan keberkahan, kesehatan, dan kemudahan dalam menjalani tahun yang baru. 4. Melaksanakan Puasa Sunnah Muharram Puasa sunnah di bulan Muharram memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharram. Puasa yang sering dianjurkan antara lain: Puasa Tasu'a (9 Muharram) Puasa Asyura (10 Muharram) Puasa 11 Muharram sebagai pembeda dengan tradisi kaum terdahulu Melaksanakan puasa sunnah dapat menjadi bagian dari semangat ibadah dalam menyambut Tahun Baru Hijriah 1448. 5. Bersedekah Sedekah merupakan amalan yang memiliki banyak keutamaan. Melalui sedekah, seorang Muslim dapat membantu sesama sekaligus membersihkan hartanya. Memulai Tahun Baru Hijriah 1448 dengan berbagi kepada orang yang membutuhkan merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. 6. Menyusun Target Kebaikan Sebagaimana banyak orang membuat resolusi pada awal tahun Masehi, umat Islam juga dapat menyusun target-target kebaikan ketika memasuki Tahun Baru Hijriah 1448. Contoh target yang dapat dibuat: Menambah hafalan Al-Qur'an. Menjaga shalat berjamaah. Mengurangi penggunaan media sosial yang tidak bermanfaat. Memperbanyak sedekah. Menjaga silaturahmi dengan keluarga. Target yang jelas akan membantu seseorang lebih fokus dalam memperbaiki diri. Cara Memaknai Tahun Baru Hijriah di Era Modern Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang sangat cepat, nilai-nilai hijrah tetap relevan untuk diterapkan. Beberapa cara memaknai Tahun Baru Hijriah 1448 di era modern antara lain: Menggunakan Teknologi untuk Kebaikan Media digital dapat dimanfaatkan untuk: Belajar ilmu agama. Menyebarkan konten positif. Mengikuti kajian Islam. Mempererat ukhuwah Islamiyah. Menjaga Akhlak di Dunia Digital Hijrah juga berarti memperbaiki perilaku di media sosial. Umat Islam perlu menghindari: Penyebaran hoaks. Ujaran kebencian. Fitnah. Perundungan daring. Menjadi Muslim yang Produktif Semangat hijrah mengajarkan pentingnya membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan, kerja keras, dan kontribusi positif bagi masyarakat. Karena itu, Tahun Baru Hijriah 1448 dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas diri dalam berbagai aspek kehidupan. Hikmah dari Tahun Baru Hijriah Ada banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari peringatan tahun baru Islam, di antaranya: Perubahan membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Kesuksesan lahir dari kesabaran dan ketekunan. Waktu adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kehidupan dunia bersifat sementara. Ketaatan kepada Allah SWT harus menjadi prioritas utama. Persatuan umat sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Nilai-nilai tersebut merupakan warisan dari peristiwa hijrah yang terus relevan hingga saat ini. Tahun Baru Hijriah 1448 bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam, tetapi merupakan momentum berharga untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Peristiwa hijrah yang menjadi dasar penanggalan Hijriah mengajarkan pentingnya perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, baik dalam aspek ibadah, akhlak, maupun hubungan sosial. Dengan memahami sejarah dan makna Tahun Baru Hijriah 1448, umat Islam dapat menjadikan momen ini sebagai titik awal untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Berbagai amalan seperti taubat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, berpuasa sunnah, bersedekah, dan menyusun target kebaikan dapat menjadi langkah nyata dalam menyambut tahun baru Islam. Semoga Tahun Baru Hijriah 1448 membawa keberkahan, kedamaian, dan semangat hijrah bagi seluruh umat Islam untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta lebih dekat kepada Allah SWT. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas BAZNAS RI
Tips Work Life Balance Saat WFH agar Hidup Tetap Seimbang
Tips Work Life Balance Saat WFH agar Hidup Tetap Seimbang
SEJAK sistem kerja jarak jauh atau Work From Home (WFH) semakin banyak diterapkan, banyak pekerja merasakan fleksibilitas yang lebih besar dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, di balik berbagai keuntungan tersebut, terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan, yaitu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Oleh karena itu, memahami tips work life balance saat wfh menjadi hal yang sangat penting agar seseorang tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan fisik, mental, maupun hubungan keluarga. Dalam perspektif Islam, keseimbangan hidup merupakan bagian dari ajaran yang sangat dianjurkan. Seorang muslim tidak hanya dituntut untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi juga menjaga ibadah, kesehatan, serta hubungan sosial dengan keluarga dan masyarakat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77) Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim perlu menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Karena itu, menerapkan tips work life balance saat wfh bukan hanya penting untuk karier, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjalani kehidupan yang lebih berkah dan harmonis. Mengapa Work Life Balance Saat WFH Sangat Penting? Bekerja dari rumah sering kali membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur. Tidak sedikit pekerja yang akhirnya bekerja lebih lama dibandingkan ketika berada di kantor. Akibatnya, waktu bersama keluarga berkurang, kualitas istirahat menurun, dan tingkat stres meningkat. Beberapa dampak buruk jika work life balance tidak terjaga antara lain: Kelelahan fisik dan mental. Menurunnya produktivitas kerja. Gangguan hubungan dengan pasangan dan keluarga. Sulit fokus dalam beribadah. Risiko burnout yang lebih tinggi. Karena itu, memahami dan menerapkan tips work life balance saat wfh merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas hidup secara menyeluruh. 1. Tetapkan Jadwal Kerja yang Jelas Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat WFH adalah bekerja tanpa batas waktu yang jelas. Banyak orang membuka laptop sejak pagi hingga malam karena merasa kantor berada di dalam rumah. Untuk menghindari hal tersebut: Tentukan jam mulai dan selesai bekerja. Gunakan kalender atau aplikasi pengingat. Hindari memeriksa email pekerjaan di luar jam kerja kecuali dalam kondisi mendesak. Sebagai muslim, disiplin waktu sebenarnya sudah diajarkan melalui jadwal salat lima waktu yang teratur setiap hari. Kebiasaan ini dapat membantu kita mengatur aktivitas secara lebih seimbang. 2. Siapkan Ruang Kerja Khusus Memiliki ruang kerja yang terpisah membantu otak membedakan antara waktu bekerja dan waktu beristirahat. Jika memungkinkan: Gunakan meja kerja khusus. Hindari bekerja di tempat tidur. Pastikan pencahayaan dan ventilasi cukup baik. Jaga kebersihan area kerja. Lingkungan kerja yang nyaman akan meningkatkan fokus sekaligus mengurangi stres selama bekerja dari rumah. 3. Prioritaskan Ibadah di Tengah Kesibukan Keuntungan besar dari WFH adalah fleksibilitas yang memungkinkan seorang muslim lebih mudah menjalankan ibadah tepat waktu. Beberapa hal yang dapat dilakukan: Hentikan pekerjaan ketika azan berkumandang. Jadikan waktu salat sebagai momen rehat dari pekerjaan. Sisihkan waktu membaca Al-Qur'an. Perbanyak dzikir di sela aktivitas. Ketika hubungan dengan Allah SWT terjaga, hati menjadi lebih tenang sehingga tekanan pekerjaan dapat dihadapi dengan lebih baik. Allah SWT berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) 4. Buat Daftar Prioritas Harian Pekerjaan yang menumpuk sering menjadi penyebab utama stres saat WFH. Oleh karena itu, buatlah daftar prioritas setiap hari. Gunakan metode sederhana: Prioritas Tinggi Tugas yang harus selesai hari ini. Prioritas Menengah Tugas penting tetapi masih memiliki tenggat waktu lebih panjang. Prioritas Rendah Pekerjaan yang dapat ditunda jika diperlukan. Dengan pengelolaan tugas yang baik, pekerjaan terasa lebih terstruktur dan tidak mengganggu kehidupan pribadi. 5. Luangkan Waktu Berkualitas Bersama Keluarga Salah satu tujuan utama menerapkan tips work life balance saat wfh adalah menjaga keharmonisan keluarga. Meskipun bekerja di rumah, bukan berarti seluruh waktu dihabiskan untuk pekerjaan. Jadwalkan waktu khusus untuk: Makan bersama keluarga. Bermain dengan anak. Berdiskusi dengan pasangan. Beribadah bersama. Rasulullah SAW memberikan teladan sebagai sosok yang sangat memperhatikan keluarganya meskipun memiliki tanggung jawab yang besar. Kehadiran secara fisik di rumah tidak akan berarti jika perhatian dan pikiran terus terfokus pada pekerjaan. 6. Istirahat Secara Teratur Tubuh dan pikiran membutuhkan jeda agar tetap optimal. Cobalah menerapkan pola: Istirahat 5–10 menit setiap 1 jam bekerja. Berdiri dan melakukan peregangan. Menghindari menatap layar secara terus-menerus. Mengonsumsi air putih yang cukup. Istirahat yang teratur dapat meningkatkan konsentrasi dan mencegah kelelahan berkepanjangan. 7. Hindari Kebiasaan Multitasking Berlebihan Banyak orang menganggap multitasking dapat meningkatkan produktivitas. Faktanya, terlalu banyak melakukan beberapa pekerjaan sekaligus justru menurunkan kualitas hasil kerja. Fokuslah pada satu tugas hingga selesai sebelum berpindah ke tugas berikutnya. Cara ini membantu: Mengurangi kesalahan kerja. Meningkatkan efisiensi. Menurunkan tingkat stres. Dalam Islam, bekerja dengan penuh kesungguhan termasuk bagian dari ihsan atau melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. 8. Jaga Kesehatan Fisik dan Mental Pada bagian penting mengenai tips work life balance saat wfh, kesehatan fisik dan mental tidak boleh diabaikan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan: Olahraga Rutin Minimal 20–30 menit setiap hari seperti: Jalan kaki. Bersepeda. Senam ringan. Jogging. Pola Makan Sehat Perbanyak sayur dan buah. Kurangi makanan cepat saji. Hindari konsumsi gula berlebihan. Tidur yang Cukup Usahakan tidur 7–8 jam setiap malam agar tubuh memiliki waktu untuk memulihkan energi. Kesehatan yang baik merupakan nikmat besar yang harus dijaga dan disyukuri. 9. Belajar Mengatakan Tidak Tidak semua permintaan harus diterima. Jika pekerjaan tambahan sudah melebihi kapasitas, komunikasikan dengan baik kepada atasan atau rekan kerja. Mengatakan tidak secara sopan bukan berarti tidak profesional, melainkan bentuk pengelolaan waktu dan energi yang bijak. Dengan demikian, keseimbangan hidup dapat tetap terjaga. 10. Evaluasi Rutinitas Secara Berkala Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda sehingga strategi work life balance juga dapat berbeda. Lakukan evaluasi mingguan dengan menanyakan: Apakah waktu kerja sudah sesuai? Apakah ibadah tetap terjaga? Apakah keluarga mendapatkan perhatian yang cukup? Apakah kesehatan masih terpelihara? Evaluasi ini membantu menemukan kebiasaan yang perlu diperbaiki agar kehidupan menjadi lebih seimbang. Kesalahan yang Harus Dihindari Saat WFH Beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan pekerja saat bekerja dari rumah antara lain: Bekerja tanpa jadwal. Tidak memiliki batas waktu kerja. Mengabaikan ibadah karena pekerjaan. Jarang bergerak dan berolahraga. Terlalu sering lembur. Mengabaikan kebutuhan keluarga. Tidak mengambil waktu istirahat. Menghindari kesalahan-kesalahan tersebut akan membuat penerapan tips work life balance saat wfh menjadi lebih efektif. Menerapkan tips work life balance saat wfh merupakan langkah penting untuk menjaga produktivitas sekaligus kualitas hidup. Seorang muslim tidak hanya dituntut untuk sukses dalam pekerjaan, tetapi juga menjaga hubungan dengan Allah SWT, keluarga, serta kesehatan diri sendiri. Dengan mengatur jadwal kerja yang jelas, memprioritaskan ibadah, menjaga kesehatan, dan menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga, kehidupan yang lebih seimbang dapat diwujudkan. Pada akhirnya, tips work life balance saat wfh bukan sekadar strategi manajemen waktu, melainkan bagian dari ikhtiar seorang muslim untuk menjalani kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan. Ketika pekerjaan, ibadah, kesehatan, dan keluarga berjalan secara seimbang, maka kebahagiaan dunia dan akhirat insyaAllah dapat diraih dengan lebih baik. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/06/2026 | PBL-02
Cara Disiplin Kerja dari Rumah Tanpa Harus Diawasi
Cara Disiplin Kerja dari Rumah Tanpa Harus Diawasi
DI era digital saat ini, bekerja dari rumah atau work from home (WFH) telah menjadi pilihan banyak perusahaan dan pekerja. Fleksibilitas yang ditawarkan memang memberikan banyak keuntungan, mulai dari penghematan waktu perjalanan hingga kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi, yaitu menjaga kedisiplinan tanpa pengawasan langsung dari atasan. Bagi seorang Muslim, disiplin bukan hanya berkaitan dengan produktivitas kerja, tetapi juga merupakan bagian dari amanah yang harus dijaga. Oleh karena itu, memahami cara disiplin kerja dari rumah menjadi hal yang sangat penting agar pekerjaan tetap berjalan optimal, target tercapai, dan keberkahan tetap menyertai setiap aktivitas yang dilakukan. Mengapa Kerja dari Rumah Sangat Penting? Ketika bekerja di kantor, lingkungan kerja biasanya sudah mendukung seseorang untuk tetap fokus. Ada aturan, jadwal, rekan kerja, dan pengawasan dari atasan yang membantu menjaga ritme pekerjaan. Namun saat bekerja dari rumah, semua kontrol tersebut berkurang sehingga seseorang harus mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dalam Islam, pengendalian diri merupakan salah satu bentuk ketakwaan. Allah SWT berfirman bahwa setiap amal manusia akan diperhitungkan. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi menjadi motivasi terbesar bagi seorang Muslim untuk tetap bekerja dengan jujur dan disiplin meskipun tidak ada manusia yang melihatnya. Disiplin juga membantu meningkatkan kualitas pekerjaan, mengurangi stres akibat pekerjaan yang menumpuk, dan menciptakan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. 1. Niatkan Bekerja Sebagai Bentuk Ibadah Langkah pertama dalam cara disiplin kerja dari rumah adalah meluruskan niat. Seorang Muslim hendaknya memandang pekerjaan sebagai bagian dari ibadah selama dilakukan dengan cara yang halal dan memberikan manfaat. Ketika niat bekerja karena Allah SWT, seseorang akan lebih termotivasi untuk menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh. Ia tidak akan mudah bermalas-malasan hanya karena tidak ada pengawasan langsung. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Oleh karena itu, mulailah hari kerja dengan niat yang baik dan doa agar diberikan kemudahan dalam menjalankan amanah pekerjaan. 2. Buat Jadwal Kerja yang Jelas Salah satu penyebab utama menurunnya produktivitas saat bekerja dari rumah adalah tidak adanya jadwal yang teratur. Tentukan jam mulai bekerja, waktu istirahat, waktu makan siang, dan jam selesai bekerja. Perlakukan jadwal tersebut seperti saat bekerja di kantor. Beberapa tips yang bisa diterapkan: Bangun pada jam yang sama setiap hari. Mandi dan berpakaian rapi sebelum mulai bekerja. Tentukan daftar tugas harian. Gunakan kalender atau aplikasi manajemen tugas. Dengan jadwal yang jelas, Anda akan lebih mudah menjaga fokus dan menghindari kebiasaan menunda pekerjaan. 3. Siapkan Ruang Kerja Khusus Lingkungan kerja sangat memengaruhi tingkat konsentrasi. Jika memungkinkan, sediakan ruang kerja khusus yang terpisah dari area santai atau tempat tidur. Ruang kerja yang baik tidak harus mewah. Yang terpenting adalah: Bersih dan rapi. Memiliki pencahayaan yang cukup. Bebas dari gangguan berlebihan. Mendukung kenyamanan saat bekerja. Ketika memiliki area kerja khusus, otak akan lebih mudah membedakan waktu bekerja dan waktu beristirahat. 4. Hindari Gangguan yang Tidak Perlu Bekerja dari rumah sering kali membuat seseorang tergoda untuk membuka media sosial, menonton video, atau melakukan aktivitas lain di luar pekerjaan. Untuk mengatasinya: Matikan notifikasi yang tidak penting. Gunakan aplikasi pemblokir media sosial jika diperlukan. Simpan ponsel di tempat yang tidak mudah dijangkau. Fokus pada satu tugas dalam satu waktu. Menghindari gangguan adalah salah satu bagian penting dari cara disiplin kerja dari rumah yang sering diabaikan banyak orang. 5. Terapkan Teknik Manajemen Waktu Manajemen waktu yang baik dapat membantu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efektif. Salah satu metode yang populer adalah Teknik Pomodoro: Bekerja fokus selama 25 menit. Istirahat selama 5 menit. Setelah empat sesi, ambil istirahat lebih panjang. Metode ini membantu menjaga konsentrasi dan mencegah kelelahan mental yang berlebihan. Selain itu, prioritaskan pekerjaan berdasarkan tingkat urgensi dan dampaknya. Selesaikan tugas yang paling penting terlebih dahulu sebelum mengerjakan pekerjaan yang lebih ringan. 6. Tetap Menjaga Shalat Tepat Waktu Bagi seorang Muslim, shalat bukan penghalang produktivitas, melainkan sumber energi spiritual yang membantu menjaga fokus dan ketenangan. Shalat tepat waktu memberikan jeda yang sehat di tengah aktivitas kerja. Selain itu, shalat juga melatih disiplin karena dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Ketika seseorang mampu disiplin dalam menjalankan shalat, biasanya ia juga lebih mudah disiplin dalam mengatur pekerjaannya. 7. Tetapkan Target Harian yang Realistis Target yang terlalu besar sering kali membuat seseorang merasa kewalahan. Sebaliknya, target yang realistis lebih mudah dicapai dan memberikan rasa pencapaian yang positif. Setiap pagi, buat daftar pekerjaan yang ingin diselesaikan pada hari tersebut. Setelah selesai, beri tanda centang sebagai bentuk evaluasi. Metode sederhana ini dapat meningkatkan motivasi dan membantu mengukur perkembangan pekerjaan secara lebih jelas. 8. Jaga Komunikasi dengan Tim Walaupun bekerja dari rumah, komunikasi dengan rekan kerja dan atasan harus tetap berjalan dengan baik. Pastikan untuk: Merespons pesan kerja dengan cepat. Mengikuti rapat daring tepat waktu. Memberikan laporan perkembangan pekerjaan secara berkala. Menyampaikan kendala yang dihadapi secara terbuka. Komunikasi yang baik menciptakan kepercayaan dan menunjukkan profesionalisme meskipun bekerja dari lokasi yang berbeda. 9. Evaluasi Diri Secara Berkala Pada bagian tengah pembahasan ini, penting untuk memahami bahwa cara disiplin kerja dari rumah tidak hanya tentang membuat jadwal atau menyusun target. Disiplin juga membutuhkan evaluasi yang konsisten. Luangkan waktu setiap akhir hari untuk meninjau: Tugas yang berhasil diselesaikan. Hambatan yang muncul. Waktu yang terbuang sia-sia. Hal-hal yang perlu diperbaiki esok hari. Evaluasi rutin akan membantu membangun kebiasaan positif dan meningkatkan kualitas kerja dari waktu ke waktu. 10. Jaga Keseimbangan Antara Kerja dan Keluarga Salah satu tantangan terbesar saat bekerja dari rumah adalah batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang sering kali menjadi kabur. Tetapkan aturan yang jelas: Hindari bekerja di luar jam kerja kecuali benar-benar diperlukan. Luangkan waktu berkualitas bersama keluarga. Istirahat yang cukup. Jaga kesehatan fisik dan mental. Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Oleh karena itu, jangan sampai pekerjaan membuat seseorang mengabaikan keluarga maupun ibadah. Kesadaran Allah sebagai Pengawas Utama Keunggulan seorang Muslim dalam bekerja adalah memiliki kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi setiap perbuatannya. Ketika seseorang bekerja hanya karena takut kepada atasan, maka kedisiplinannya bisa hilang saat tidak diawasi. Namun ketika ia bekerja karena Allah, maka integritasnya akan tetap terjaga di mana pun berada. Konsep ihsan dalam Islam mengajarkan agar seorang Muslim beribadah dan beramal seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak mampu maka yakinlah bahwa Allah melihat dirinya. Prinsip inilah yang menjadi fondasi terkuat dalam membangun etos kerja yang profesional dan penuh tanggung jawab. Bekerja dari rumah memberikan kebebasan yang besar, tetapi juga menuntut tanggung jawab yang lebih tinggi. Dengan menerapkan berbagai strategi seperti meluruskan niat, membuat jadwal yang teratur, menghindari gangguan, menjaga komunikasi, serta melakukan evaluasi secara rutin, seseorang dapat meningkatkan produktivitas tanpa harus diawasi secara langsung. Pada akhirnya, cara disiplin kerja dari rumah yang paling efektif bagi seorang Muslim adalah menjadikan Allah SWT sebagai pengawas utama dalam setiap aktivitas. Ketika kesadaran ini tertanam kuat, maka kedisiplinan tidak lagi bergantung pada pengawasan manusia, melainkan lahir dari keimanan dan rasa tanggung jawab yang mendalam. Dengan demikian, cara disiplin kerja dari rumah bukan hanya menghasilkan pekerjaan yang berkualitas, tetapi juga menghadirkan keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/06/2026 | PBL-02
Lima Keutamaan Muharram yang Perlu Diketahui Umat
Lima Keutamaan Muharram yang Perlu Diketahui Umat
BULAN Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa dalam kalender Hijriah. Sebagai bulan pertama dalam penanggalan Islam, Muharram memiliki banyak keutamaan yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah SAW. Memahami keutamaan bulan Muharram dapat membantu umat Islam untuk lebih memaksimalkan ibadah dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam tradisi Islam, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, menjaga diri dari perbuatan dosa, serta meningkatkan kualitas ibadah selama bulan yang penuh keberkahan ini. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai keutamaan bulan Muharram beserta dalil-dalil yang mendasarinya sehingga dapat menjadi panduan bagi umat Islam dalam mengisi bulan yang mulia ini. 1. Muharram Termasuk Bulan Dimuliakan Allah Salah satu keutamaan bulan Muharram yang paling utama adalah statusnya sebagai bulan haram. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36) Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam diperintahkan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa dan kemaksiatan. Para ulama menjelaskan bahwa amal kebaikan yang dilakukan pada bulan haram akan mendapatkan pahala yang lebih besar. Sebaliknya, dosa yang dilakukan juga memiliki konsekuensi yang lebih berat dibandingkan bulan lainnya. 2. Muharram sebagai Bulan Allah Keistimewaan berikutnya adalah Muharram mendapatkan penyebutan khusus sebagai "Bulan Allah". Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim). Penyandaran nama Muharram kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan tersebut. Tidak banyak waktu atau tempat yang secara khusus disandarkan kepada Allah SWT sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan. Karena itulah, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan bulan Muharram dengan memperbanyak ibadah seperti puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, dan melakukan berbagai amal kebajikan lainnya. 3. Puasa Muharram Merupakan Sunnah yang Utama Ketika membahas keutamaan bulan Muharram, tidak dapat dipisahkan dari ibadah puasa sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan ini. Rasulullah SAW secara khusus menganjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram. Puasa yang paling terkenal adalah puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram yang dikenal sebagai puasa Tasu’a. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan puasa Asyura. Dengan izin Allah SWT, dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu dapat dihapus melalui ibadah puasa tersebut. Banyak ulama juga menganjurkan untuk memperbanyak puasa pada hari-hari lain di bulan Muharram sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. 4. Hari Asyura Menjadi Hari Bersejarah bagi Umat Islam Salah satu keutamaan bulan Muharram yang sangat penting adalah adanya hari Asyura. Hari ini memiliki nilai sejarah yang besar dalam perjalanan para nabi. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa pada hari Asyura Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa AS. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari Asyura. Peristiwa ini menunjukkan bahwa hari Asyura merupakan momentum untuk mensyukuri nikmat dan pertolongan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. 5. Momentum Perbanyak Amal dan Muhasabah Diri Bulan Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri atau muhasabah. Sebagai awal tahun Hijriah, Muharram dapat dijadikan momentum untuk memperbaiki kualitas kehidupan spiritual seorang Muslim. Banyak ulama salaf memanfaatkan pergantian tahun Hijriah untuk memperbarui niat, memperbanyak taubat, dan menyusun target ibadah yang lebih baik. Hal ini menjadi bagian dari keutamaan bulan Muharram yang sering kali terlupakan oleh sebagian umat Islam. Beberapa amal yang dianjurkan selama bulan Muharram antara lain: Memperbanyak puasa sunnah. Membaca Al-Qur'an setiap hari. Memperbanyak istighfar dan dzikir. Bersedekah kepada yang membutuhkan. Menjalin silaturahmi. Meningkatkan kualitas shalat wajib dan sunnah. Memperbanyak doa dan taubat kepada Allah SWT. Dengan memanfaatkan bulan Muharram secara optimal, seorang Muslim dapat memulai tahun Hijriah dengan semangat ibadah yang lebih baik. Hikmah Besar di Balik Keutamaan Muharram Terdapat banyak hikmah yang dapat dipetik dari berbagai keutamaan bulan Muharram. Di antaranya adalah mengingatkan manusia tentang pentingnya ketaatan kepada Allah SWT, meningkatkan rasa syukur atas nikmat-Nya, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Muharram juga mengajarkan bahwa setiap awal yang baik harus dimulai dengan ibadah dan amal saleh. Sebagaimana umat Islam memulai hari dengan shalat Subuh, demikian pula tahun Hijriah sebaiknya dimulai dengan memperbanyak amal kebaikan. Selain itu, keberadaan puasa Asyura mengajarkan pentingnya rasa syukur dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Memahami keutamaan bulan Muharram merupakan langkah penting bagi setiap Muslim agar dapat mengisi bulan yang mulia ini dengan berbagai amal saleh. Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Hijriah, tetapi juga bulan yang dimuliakan Allah SWT, memiliki puasa sunnah yang sangat utama, serta menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan. Dengan mengetahui berbagai keutamaan bulan Muharram, semoga umat Islam semakin termotivasi untuk memperbanyak ibadah, menjauhi kemaksiatan, serta memanfaatkan setiap kesempatan yang Allah SWT berikan untuk meraih pahala dan keberkahan. Mari jadikan bulan Muharram sebagai awal yang baik untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan menapaki kehidupan yang lebih bertakwa. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/06/2026 | PBL-02
Ibadah yang Dianjurkan Menyambut Bulan Muharram
Ibadah yang Dianjurkan Menyambut Bulan Muharram
IBADAH Bulan Muharram merupakan salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (bulan-bulan yang dimuliakan), yang memiliki keutamaan besar dibandingkan bulan lainnya. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, menjauhi dosa, serta meningkatkan kualitas ibadah secara menyeluruh. Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai “bulan Allah”, yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan waktu tersebut. Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan Ibadah Bulan Muharram menjadi bagian penting dalam upaya seorang Muslim meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah. Keutamaan Bulan Muharram dalam Islam Bulan Muharram termasuk salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ada empat bulan haram yang dihormati, di mana berbuat dosa di dalamnya lebih berat dan beramal saleh memiliki pahala yang lebih besar. Para ulama menjelaskan bahwa keempat bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Rajab, dan Muharram. Dalam konteks ini, Ibadah Bulan Muharram menjadi sangat penting karena momentum ini adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas spiritual dan memperbanyak amal kebaikan. Selain itu, bulan ini juga menjadi momen refleksi diri bagi umat Islam untuk memperbaiki kehidupan, menjauhi maksiat, dan memperbanyak ibadah sunnah. Amalan Utama dalam Ibadah Bulan Muharram 1. Puasa Sunnah di Bulan Muharram Puasa sunnah di bulan Muharram merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW menyebut bahwa puasa terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram. Ini menunjukkan tingginya kedudukan amalan tersebut. Dalam pelaksanaan Ibadah Bulan Muharram, puasa menjadi amalan utama yang bisa dilakukan secara rutin, misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 Hijriah). 2. Puasa Asyura (10 Muharram) Puasa Asyura adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini memiliki keutamaan besar, yaitu dapat menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya, dengan izin Allah. Banyak ulama juga menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a) sebagai bentuk pembeda dari tradisi umat lain pada masa dahulu. 3. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar Dzikir dan istighfar merupakan bagian penting dari Ibadah Bulan Muharram. Dengan memperbanyak mengingat Allah, seorang Muslim dapat membersihkan hati, menenangkan jiwa, serta meningkatkan keimanan. Amalan ini bisa dilakukan kapan saja, baik setelah shalat, di waktu pagi dan petang, maupun di sela aktivitas harian. 4. Sedekah dan Amal Sosial Sedekah di bulan Muharram memiliki keutamaan yang besar. Memberikan bantuan kepada fakir miskin, anak yatim, atau orang yang membutuhkan merupakan bentuk kepedulian sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam. Hikmah Ibadah Bulan Muharram bagi Umat Islam 1. Meningkatkan Ketakwaan Melalui Ibadah Bulan Muharram, seorang Muslim dapat meningkatkan ketakwaannya kepada Allah dengan memperbanyak amal saleh dan menjauhi larangan-Nya. 2. Melatih Kesabaran dan Pengendalian Diri Puasa sunnah dalam bulan Muharram membantu seseorang melatih kesabaran, menahan hawa nafsu, dan meningkatkan kontrol diri dalam kehidupan sehari-hari. 3. Penghapus Dosa Kecil Puasa Asyura menjadi salah satu sarana pengampunan dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun sebelumnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis sahih. 4. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Sedekah dan amal kebaikan dalam Ibadah Bulan Muharram mengajarkan pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kurang mampu. Kesalahan yang Perlu Dihindari Menyambut Muharram Dalam menjalankan Ibadah Bulan Muharram, terdapat beberapa kesalahan yang perlu dihindari, antara lain: Menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial atau membawa kesialan Melakukan ritual yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan sunnah Mengkhususkan ibadah tertentu tanpa dalil yang jelas Mengabaikan amalan sunnah yang sebenarnya sangat dianjurkan Islam mengajarkan bahwa ibadah harus berdasarkan dalil yang jelas, bukan berdasarkan tradisi yang tidak memiliki dasar syariat. Panduan Menghidupkan Ibadah Muharram Sehari-hari 1. Menentukan Target Ibadah Seorang Muslim dapat menetapkan target sederhana seperti puasa beberapa hari dalam sebulan, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan rutin berdzikir. 2. Mengatur Waktu dengan Baik Manajemen waktu sangat penting agar ibadah tidak terganggu oleh kesibukan pekerjaan atau aktivitas duniawi. 3. Lingkungan yang Mendukung Berada di lingkungan yang baik akan membantu seseorang lebih mudah menjaga konsistensi dalam menjalankan Ibadah Bulan Muharram. 4. Menambah Ilmu Agama Memahami keutamaan Muharram dari sumber yang benar akan meningkatkan semangat seseorang dalam beribadah. Ibadah Bulan Muharram dalam Kehidupan Modern Di era modern, Ibadah Bulan Muharram tetap sangat relevan. Meskipun manusia semakin sibuk dengan pekerjaan dan teknologi, kewajiban untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak boleh ditinggalkan. Teknologi justru bisa membantu, misalnya dengan aplikasi pengingat waktu puasa, membaca Al-Qur’an digital, atau mengikuti kajian online tentang keutamaan bulan Muharram. Refleksi Spiritualitas Ibadah Bulan Muharram Ibadah Bulan Muharram bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga momentum penting untuk memperbaiki diri. Bulan ini menjadi waktu terbaik untuk introspeksi, memperbanyak amal, dan meninggalkan kebiasaan buruk. Seorang Muslim yang memahami makna Ibadah Bulan Muharram akan menjadikan setiap amal kecil sebagai peluang untuk mendapatkan pahala besar. Dengan demikian, bulan ini menjadi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik secara spiritual maupun sosial. Sebagai penutup, Ibadah Bulan Muharram merupakan kesempatan berharga yang diberikan Allah kepada umat Islam untuk meningkatkan kualitas iman dan amal. Bulan Muharram yang mulia ini harus diisi dengan berbagai ibadah seperti puasa sunnah, dzikir, sedekah, dan amal kebaikan lainnya. Muharram mengajarkan pentingnya hijrah spiritual menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan menjalankan Ibadah Bulan Muharram secara ikhlas dan konsisten, seorang Muslim diharapkan dapat meraih ridha Allah serta keberkahan dalam hidupnya. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menghidupkan Ibadah Bulan Muharram dengan sebaik-baiknya dan menjadikannya sebagai momentum perubahan menuju kebaikan yang berkelanjutan. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/06/2026 | PBL-02
Tantangan WFA dan Cara Mengatasinya agar Tetap Efisien
Tantangan WFA dan Cara Mengatasinya agar Tetap Efisien
DALAM beberapa tahun terakhir, konsep Work From Anywhere (WFA) semakin populer di berbagai kalangan pekerja profesional. Sistem kerja ini memberikan fleksibilitas tinggi karena seseorang dapat bekerja dari rumah, kafe, atau bahkan saat bepergian. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul berbagai tantangan yang tidak bisa diabaikan. Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk menjaga amanah, disiplin waktu, dan profesional dalam setiap pekerjaan. Karena itu, memahami tantangan WFA dan cara mengatasinya menjadi sangat penting agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengabaikan nilai-nilai Islam seperti kejujuran, tanggung jawab, dan menjaga hak orang lain dalam pekerjaan. Artikel ini akan membahas secara lengkap tantangan WFA dan cara mengatasinya dari sudut pandang seorang Muslim, sehingga kita dapat menjalani sistem kerja modern ini dengan tetap efisien, berkah, dan sesuai syariat. Apa Itu WFA dan Mengapa Semakin Populer? Work From Anywhere (WFA) adalah sistem kerja yang memungkinkan seseorang bekerja tanpa harus berada di kantor secara fisik. Selama memiliki koneksi internet, pekerjaan dapat dilakukan dari mana saja. Popularitas WFA meningkat karena beberapa faktor: Perkembangan teknologi digital Perubahan budaya kerja global Efisiensi biaya operasional perusahaan Kebutuhan fleksibilitas karyawan Namun, meskipun terdengar ideal, tantangan WFA dan cara mengatasinya menjadi topik penting yang harus dipahami oleh setiap pekerja Muslim agar tidak terjebak dalam kelalaian dan penurunan kualitas kerja. Tantangan WFA dan Cara Mengatasinya Berikut adalah beberapa tantangan utama dalam WFA yang sering dihadapi, beserta cara mengatasinya berdasarkan prinsip disiplin kerja dalam Islam. 1. Kurangnya Disiplin Waktu Salah satu masalah terbesar dalam WFA adalah sulitnya menjaga disiplin waktu. Tanpa pengawasan langsung, banyak orang cenderung menunda pekerjaan. Dalam Islam, waktu adalah amanah yang sangat berharga. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Asr bahwa manusia benar-benar berada dalam kerugian jika tidak menggunakan waktu dengan baik. Solusi untuk tantangan WFA dan cara mengatasinya: Buat jadwal kerja harian yang terstruktur Gunakan teknik manajemen waktu seperti Pomodoro Tetapkan waktu khusus untuk ibadah dan istirahat Niatkan bekerja sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Dengan cara ini, tantangan WFA dan cara mengatasinya dalam hal waktu dapat dikelola dengan lebih baik. 2. Gangguan Lingkungan Rumah Bekerja dari rumah sering kali tidak kondusif. Suara televisi, keluarga, atau aktivitas rumah tangga dapat mengganggu fokus. Dalam perspektif Islam, menjaga konsentrasi dalam bekerja termasuk bagian dari ihsan (melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya). Solusi untuk tantangan WFA dan cara mengatasinya: Sediakan ruang kerja khusus Gunakan headphone untuk mengurangi gangguan Komunikasikan jam kerja kepada keluarga Jaga adab bekerja meskipun di rumah Dengan pengaturan yang baik, tantangan WFA dan cara mengatasinya terkait lingkungan dapat diminimalisir. 3. Rasa Malas dan Menurunnya Motivasi Bekerja dari rumah sering menimbulkan rasa malas karena tidak adanya pengawasan langsung. Islam mengajarkan pentingnya mujahadah (bersungguh-sungguh) dalam setiap aktivitas. Solusi untuk tantangan WFA dan cara mengatasinya: Mulai hari dengan niat yang kuat karena Allah Lakukan shalat dhuha untuk meningkatkan semangat Bergaul dengan komunitas profesional secara online Tetapkan target harian yang realistis Dengan motivasi spiritual, tantangan WFA dan cara mengatasinya dalam hal semangat kerja dapat diatasi. 4. Batas antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi yang Kabur Salah satu tantangan WFA adalah sulitnya memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi. Dalam Islam, keseimbangan hidup sangat dianjurkan agar tidak berlebihan dalam satu aspek. Solusi untuk tantangan WFA dan cara mengatasinya: Tentukan jam kerja yang jelas Matikan notifikasi pekerjaan di luar jam kerja Buat rutinitas harian yang konsisten Beri waktu khusus untuk keluarga dan ibadah Dengan disiplin, tantangan WFA dan cara mengatasinya ini dapat diatasi tanpa mengorbankan kesehatan mental. 5. Kurangnya Komunikasi dengan Tim Dalam WFA, komunikasi sering kali menjadi tantangan karena tidak adanya interaksi langsung. Islam mengajarkan pentingnya tabayyun (klarifikasi) dalam setiap komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Solusi untuk tantangan WFA dan cara mengatasinya: Gunakan platform komunikasi seperti email atau chat profesional Lakukan meeting rutin secara online Pastikan pesan yang disampaikan jelas dan sopan Hindari menunda respon komunikasi penting Dengan komunikasi yang baik, tantangan WFA dan cara mengatasinya dapat diminimalkan secara signifikan. 6. Masalah Kesehatan Fisik dan Mental Duduk terlalu lama dan kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan masalah kesehatan. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga kesehatan sebagai amanah dari Allah. Solusi untuk tantangan WFA dan cara mengatasinya: Lakukan olahraga ringan secara rutin Istirahat setiap beberapa jam Atur posisi kerja ergonomis Jaga pola makan sehat Dengan menjaga tubuh, tantangan WFA dan cara mengatasinya dari sisi kesehatan dapat diatasi dengan lebih baik. Pandangan Islam dalam Menghadapi WFA Dalam Islam, bekerja bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga bentuk ibadah. Oleh karena itu, setiap Muslim harus menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab, jujur, dan profesional. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 105 bahwa setiap amal akan dilihat oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa kualitas kerja sangat penting. Dengan memahami nilai ini, tantangan WFA dan cara mengatasinya tidak hanya dilihat dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi spiritual. Strategi Agar Tetap Efisien dalam WFA Agar tetap efisien dalam sistem WFA, beberapa strategi berikut dapat diterapkan: Menjaga niat bekerja karena Allah Membuat to-do list harian Menghindari multitasking berlebihan Menjaga lingkungan kerja tetap bersih dan rapi Evaluasi pekerjaan setiap akhir pekan Dengan strategi ini, tantangan WFA dan cara mengatasinya dapat dikelola secara lebih efektif dan terukur. Tantangan WFA dan Cara agar Tetap Produktif Sebagai penutup, tantangan WFA dan cara mengatasinya merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam dunia kerja modern. Namun, dengan pendekatan yang tepat, baik secara teknis maupun spiritual, setiap Muslim dapat menjalani WFA dengan lebih baik. Kunci utama keberhasilan WFA adalah disiplin, manajemen waktu, komunikasi yang baik, serta menjaga niat ibadah dalam setiap pekerjaan. Dengan demikian, WFA tidak hanya menjadi sarana mencari penghasilan, tetapi juga ladang pahala jika dijalankan dengan benar. Semoga kita semua dapat memahami tantangan WFA dan cara mengatasinya dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh keberkahan. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/06/2026 | PBL-02
Cara Meningkatkan Produktivitas Kerja Jarak Jauh dengan Mudah
Cara Meningkatkan Produktivitas Kerja Jarak Jauh dengan Mudah
DI era digital saat ini, sistem kerja jarak jauh atau remote working semakin umum digunakan oleh perusahaan di seluruh dunia. Banyak muslim yang kini bekerja dari rumah atau lokasi lain yang tidak terikat kantor secara langsung. Hal ini tentu memberikan fleksibilitas, namun juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga fokus, disiplin, dan konsistensi kerja. Dalam perspektif Islam, bekerja merupakan bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal. Oleh karena itu, membahas cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh bukan hanya soal manajemen waktu, tetapi juga bagaimana seorang muslim menjaga amanah, tanggung jawab, dan kualitas amal dalam pekerjaannya. Artikel ini akan membahas secara lengkap cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh dengan pendekatan praktis dan nilai-nilai Islam yang mudah dipahami. Pengertian Kerja Jarak Jauh dalam Perspektif Islam Kerja jarak jauh adalah sistem kerja yang dilakukan tanpa harus berada di kantor secara fisik. Dalam Islam, konsep ini tidak bertentangan dengan syariat selama pekerjaan dilakukan dengan jujur, amanah, dan tidak melanggar aturan agama. Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu…” (QS. At-Taubah: 105) Ayat ini menunjukkan bahwa setiap pekerjaan, termasuk kerja jarak jauh, tetap diawasi oleh Allah SWT. Maka, produktivitas bukan hanya soal hasil duniawi, tetapi juga nilai ibadah. Tantangan dalam Produktivitas Kerja Jarak Jauh Sebelum membahas cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh, penting untuk memahami tantangannya: Mudah terdistraksi oleh lingkungan rumah Tidak ada pengawasan langsung dari atasan Manajemen waktu yang kurang disiplin Rasa malas atau menunda pekerjaan (prokrastinasi) Kurangnya interaksi sosial yang memotivasi Dalam Islam, sifat malas sangat tidak dianjurkan. Rasulullah SAW selalu mengajarkan umatnya untuk giat dalam bekerja dan tidak menunda-nunda kewajiban. Cara Meningkatkan Produktivitas Kerja Jarak Jauh Berikut adalah beberapa strategi praktis yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh sekaligus menjaga nilai-nilai Islami dalam bekerja. 1. Niatkan Bekerja sebagai Ibadah Langkah pertama dalam cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh adalah memperbaiki niat. Dalam Islam, setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dengan niat yang benar, pekerjaan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga ibadah yang bernilai pahala. Ini akan memberikan motivasi batin yang kuat untuk tetap produktif meskipun bekerja dari rumah. 2. Membuat Jadwal Kerja yang Terstruktur Manajemen waktu adalah kunci utama dalam cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh. Tanpa jadwal yang jelas, pekerjaan akan berantakan dan mudah tertunda. Tips yang dapat dilakukan: Tentukan jam kerja harian yang konsisten Buat to-do list sebelum memulai hari Prioritaskan pekerjaan yang paling penting Gunakan teknik time blocking Dalam Islam, waktu sangat dijaga. Bahkan Allah SWT bersumpah demi waktu dalam QS. Al-Asr, yang menunjukkan betapa berharganya waktu bagi manusia. 3. Menyediakan Ruang Kerja Khusus Lingkungan sangat mempengaruhi produktivitas. Salah satu cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh adalah dengan menciptakan ruang kerja yang nyaman dan bebas gangguan. Ruang kerja yang baik: Tenang dan minim distraksi Pencahayaan cukup Peralatan kerja lengkap Terpisah dari area istirahat Hal ini membantu otak untuk membedakan antara waktu kerja dan waktu santai sehingga fokus lebih terjaga. 4. Menghindari Gangguan Digital Smartphone dan media sosial sering menjadi penyebab utama turunnya produktivitas. Untuk menerapkan cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh, lakukan hal berikut: Matikan notifikasi yang tidak penting Gunakan aplikasi pemblokir distraksi Tentukan waktu khusus untuk media sosial Islam mengajarkan untuk menjaga pandangan dan waktu dari hal yang tidak bermanfaat. Ini sejalan dengan upaya menjaga fokus dalam bekerja. 5. Menjaga Shalat dan Ibadah Tepat Waktu Salah satu keunggulan bekerja jarak jauh adalah fleksibilitas waktu yang dapat dimanfaatkan untuk ibadah. Dalam cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh, shalat tepat waktu sangat penting karena: Menenangkan hati dan pikiran Mengembalikan fokus kerja Menghindari stres berlebihan Allah SWT berfirman: “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14) Dengan menjaga ibadah, produktivitas kerja akan meningkat secara alami karena hati menjadi lebih tenang. 6. Istirahat yang Cukup dan Teratur Produktivitas tidak berarti bekerja tanpa henti. Salah satu cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh yang sering diabaikan adalah istirahat yang cukup. Beberapa teknik yang bisa digunakan: Teknik Pomodoro (25 menit kerja, 5 menit istirahat) Tidur cukup 6–8 jam per hari Menghindari overworking Dalam Islam, tubuh memiliki hak untuk beristirahat. Rasulullah SAW juga mencontohkan keseimbangan antara ibadah, bekerja, dan istirahat. 7. Menjaga Komunikasi dengan Tim Walaupun bekerja dari jarak jauh, komunikasi tetap sangat penting. Dalam cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh, komunikasi efektif dapat dilakukan dengan: Menggunakan aplikasi chat atau meeting online Memberikan laporan kerja secara rutin Menyampaikan kendala dengan jelas Islam juga mengajarkan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) dan kerja sama dalam kebaikan. 8. Evaluasi Diri Secara Berkala Evaluasi adalah bagian penting dalam cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh. Tanpa evaluasi, seseorang tidak akan mengetahui apakah pekerjaannya efektif atau tidak. Langkah evaluasi: Meninjau hasil kerja setiap minggu Mengukur pencapaian target Memperbaiki kesalahan yang terjadi Allah SWT juga mengajarkan manusia untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Dalam menjalani kehidupan modern, cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki setiap muslim agar tetap profesional dan amanah dalam bekerja. Dengan menggabungkan manajemen waktu, disiplin diri, serta nilai-nilai Islam seperti niat yang lurus, menjaga ibadah, dan menjauhi kemalasan, maka seseorang dapat mencapai produktivitas yang optimal meskipun bekerja dari rumah atau lokasi yang berbeda. 9. Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Kesehatan adalah faktor penting dalam produktivitas. Tanpa tubuh yang sehat, pekerjaan tidak dapat dilakukan dengan maksimal. Tips: Rutin berolahraga ringan Mengonsumsi makanan halal dan sehat Menghindari stres berlebihan Dalam Islam, menjaga kesehatan adalah bagian dari amanah terhadap tubuh yang diberikan Allah SWT. 10. Konsisten dan Tidak Mudah Menyerah Konsistensi adalah kunci terakhir dalam cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak konsisten. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.” (HR. Bukhari) Dengan konsistensi, hasil kerja akan meningkat secara bertahap dan stabil. Menerapkan cara meningkatkan produktivitas kerja jarak jauh bukan hanya tentang teknik kerja modern, tetapi juga tentang bagaimana seorang muslim menjalani pekerjaannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Dengan niat yang benar, disiplin waktu, menjaga ibadah, serta mengelola diri dengan baik, kerja jarak jauh dapat menjadi sarana untuk meraih keberkahan rezeki dan ridha Allah. Produktivitas sejati bukan hanya diukur dari banyaknya pekerjaan yang diselesaikan, tetapi juga dari keberkahan dan kejujuran dalam setiap usaha yang dilakukan. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477 Bank Lampung: 3800003031093 BCA Syariah: 0660170101 Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL06/06/2026 | PBL-02
Saat Zakat Menjadi Jembatan Kebaikan
Saat Zakat Menjadi Jembatan Kebaikan
KETIKA mendengar kata zakat, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan kegiatan memberi sebagian harta kepada mereka yang membutuhkan. Padahal, makna zakat jauh lebih luas dari itu. Bagi seorang muslim, zakat bukan hanya soal mengeluarkan harta, tetapi juga tentang membersihkan diri. Saat seseorang menunaikan zakat dengan ikhlas, ia belajar untuk tidak terlalu melekat pada harta yang dimilikinya. Di saat yang sama, ia sedang menjalankan perintah Allah SWT dan menyempurnakan ibadahnya. Namun, zakat tidak berhenti pada hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Zakat juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial. Melalui zakat, mereka yang memiliki kelebihan rezeki dapat membantu saudara-saudaranya yang sedang menghadapi kesulitan. Dari sinilah lahir rasa peduli, kebersamaan, dan semangat saling menguatkan dalam masyarakat. Menariknya, pemanfaatan zakat saat ini tidak hanya dalam bentuk bantuan konsumsi. Jika dulu zakat lebih banyak diberikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini zakat juga dapat menjadi sarana pemberdayaan. Ada yang diwujudkan dalam bentuk beasiswa pendidikan, bantuan alat usaha, pelatihan keterampilan, hingga modal untuk mengembangkan usaha kecil. Cara pandang seperti ini menunjukkan bahwa zakat bukan hanya membantu seseorang bertahan hari ini, tetapi juga memberi peluang agar kehidupannya menjadi lebih baik di masa depan. Ketika zakat dikelola secara tepat, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan. Karena itu, zakat sesungguhnya memiliki dua kekuatan sekaligus. Ia menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus menjadi sarana menghadirkan manfaat bagi sesama. Dari zakat, lahir kepedulian. Dari kepedulian, tumbuh harapan. Dan dari harapan, terbuka jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera bagi banyak orang.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL05/06/2026 | Admin
Raih Pahala di Bulan Dzulhijjah Setelah Idul Adha
Raih Pahala di Bulan Dzulhijjah Setelah Idul Adha
BULAN Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa dalam kalender Islam. Banyak umat Islam berfokus pada ibadah di sepuluh hari pertama Dzulhijjah hingga pelaksanaan Idul Adha. Padahal, kesempatan untuk raih pahala dzulhijjah tidak berhenti setelah Hari Raya Idul Adha berlalu. Masih terdapat hari-hari yang penuh keberkahan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagai seorang muslim, kita perlu memahami bahwa setiap waktu yang Allah berikan adalah peluang untuk mengumpulkan pahala dan memperbaiki kualitas ibadah. Oleh karena itu, memahami cara raih pahala dzulhijjah setelah Idul Adha menjadi hal yang penting agar momentum spiritual yang telah dibangun selama hari-hari sebelumnya tidak terputus begitu saja. Keutamaan Dzulhijjah dalam Islam Bulan Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Dalam bulan ini terdapat berbagai ibadah besar seperti haji, kurban, takbir, dzikir, dan amal saleh lainnya yang memiliki nilai pahala yang besar. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram."(QS. At-Taubah: 36) Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan amal saleh pada hari-hari Dzulhijjah: "Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah."(HR. Bukhari) Walaupun hadits tersebut menyoroti sepuluh hari pertama, bukan berarti hari-hari setelah Idul Adha kehilangan keutamaannya. Seorang muslim tetap dapat mengoptimalkan berbagai ibadah untuk raih pahala dzulhijjah hingga akhir bulan. Memperbanyak Dzikir dan Takbir Salah satu amalan yang dianjurkan setelah Idul Adha adalah memperbanyak dzikir dan takbir, terutama selama hari-hari tasyrik yang berlangsung pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Hari tasyrik disebut oleh Rasulullah SAW sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ucapan: Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar Laa ilaaha illallah Dzikir yang dilakukan secara rutin dapat menjaga hati tetap dekat kepada Allah SWT dan menjadi salah satu cara mudah untuk raih pahala dzulhijjah meskipun aktivitas sehari-hari tetap berjalan seperti biasa. Menjaga Shalat Fardhu dan Sunnah Ibadah yang paling utama setelah syahadat adalah shalat. Banyak orang bersemangat beribadah menjelang Idul Adha, namun semangat tersebut mulai menurun setelah hari raya selesai. Padahal, menjaga shalat lima waktu secara berjamaah bagi laki-laki dan tepat waktu bagi seluruh muslim merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Menambahkan shalat sunnah seperti: Shalat Dhuha Shalat Tahajud Shalat Rawatib Shalat Witir akan semakin menambah timbangan amal kebaikan. Jika ingin benar-benar raih pahala dzulhijjah, maka menjaga kualitas dan konsistensi shalat menjadi langkah yang tidak boleh diabaikan. Memperbanyak Sedekah kepada Sesama Sedekah merupakan amalan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Setelah Idul Adha, masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan dan perhatian. Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Bentuk sedekah bisa berupa: Memberikan makanan kepada tetangga. Membantu fakir miskin. Menyumbang untuk pembangunan masjid. Membantu biaya pendidikan anak yatim. Memberikan senyuman dan bantuan tenaga. Semua bentuk kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan dicatat sebagai amal saleh. Inilah salah satu cara praktis untuk raih pahala dzulhijjah yang dapat dilakukan oleh siapa saja sesuai kemampuan masing-masing. Menjalin Silaturahmi dan Memperbaiki Hubungan Idul Adha sering menjadi momen berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Namun semangat silaturahmi sebaiknya tidak berhenti setelah hari raya selesai. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Bahkan, menyambung tali silaturahmi dapat menjadi sebab bertambahnya rezeki dan dipanjangkannya umur dalam keberkahan. Dalam upaya raih pahala dzulhijjah, memperbaiki hubungan yang renggang, meminta maaf, dan memaafkan kesalahan orang lain merupakan amal yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Memanfaatkan Hari Tasyrik dengan Optimal Raih Pahala Dzulhijjah Melalui Amalan Hari Tasyrik Paragraf tengah ini penting untuk mengingatkan bahwa kesempatan raih pahala dzulhijjah masih terbuka lebar pada hari-hari tasyrik. Hari tasyrik merupakan bagian dari rangkaian ibadah Dzulhijjah yang sering kurang diperhatikan oleh sebagian umat Islam. Beberapa amalan yang dapat dilakukan pada hari tasyrik antara lain: Memperbanyak takbir. Berdzikir kepada Allah SWT. Bersyukur atas nikmat yang diberikan. Menjaga shalat berjamaah. Memperbanyak membaca Al-Qur'an. Berbuat baik kepada sesama. Hari-hari tersebut adalah waktu yang penuh keberkahan dan tidak boleh disia-siakan oleh seorang muslim yang ingin mendapatkan ridha Allah SWT. Membaca dan Merenungkan Al-Qur'an Al-Qur'an adalah petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca Al-Qur'an secara rutin akan mendatangkan ketenangan hati dan pahala yang berlipat ganda. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur'an akan bernilai satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Oleh karena itu, setelah Idul Adha, umat Islam dapat membuat target harian seperti: Membaca satu juz setiap hari. Membaca beberapa halaman setelah shalat. Menghafal ayat-ayat pilihan. Mempelajari tafsir Al-Qur'an. Aktivitas ini menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kualitas keimanan sekaligus raih pahala dzulhijjah. Menjaga Keikhlasan dalam Beribadah Keikhlasan merupakan kunci diterimanya setiap amal oleh Allah SWT. Sebesar apa pun amal yang dilakukan, jika tidak dilandasi niat yang benar maka nilainya akan berkurang bahkan bisa tidak diterima. Karena itu, setiap ibadah yang dilakukan setelah Idul Adha hendaknya diniatkan semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan manusia. Muslim yang ikhlas akan terus beramal meskipun tidak dilihat orang lain karena tujuan utamanya adalah memperoleh ridha Allah SWT. Dzulhijjah Sebagai Awal Perubahan Momentum Dzulhijjah hendaknya tidak hanya menjadi rutinitas tahunan. Bulan ini dapat dijadikan sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Memperbaiki akhlak. Mengurangi maksiat. Menjaga lisan. Memperbanyak ibadah sunnah. Menambah ilmu agama. Aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah. Ketika perubahan baik tersebut dilakukan secara konsisten, maka pahala yang diperoleh akan terus mengalir dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Banyak umat Islam mengira bahwa keutamaan Dzulhijjah berakhir setelah Idul Adha. Padahal, kesempatan untuk raih pahala dzulhijjah masih terbuka melalui berbagai amalan seperti dzikir, sedekah, membaca Al-Qur'an, menjaga shalat, mempererat silaturahmi, dan memanfaatkan hari-hari tasyrik dengan sebaik-baiknya. Sebagai seorang muslim, kita hendaknya terus menjaga semangat ibadah yang telah dibangun selama Dzulhijjah dan tidak membatasinya hanya pada hari raya semata. Dengan istiqamah dalam amal saleh dan niat yang ikhlas karena Allah SWT, insya Allah kita dapat raih pahala dzulhijjah yang melimpah dan memperoleh keberkahan dalam kehidupan dunia serta keselamatan di akhirat kelak.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/06/2026 | Admin
Macam-macam Sedekah Dianjurkan untuk Keberkahan Hidup
Macam-macam Sedekah Dianjurkan untuk Keberkahan Hidup
SEDEKAH merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, sedekah juga menjadi sarana untuk membantu sesama dan mempererat tali persaudaraan. Banyak umat Islam memahami sedekah hanya sebatas memberikan uang kepada orang yang membutuhkan. Padahal, terdapat berbagai macam sedekah yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Islam mengajarkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat karena Allah SWT dapat bernilai sedekah. Oleh karena itu, memahami macam sedekah yang dianjurkan sangat penting agar seorang muslim dapat memperbanyak amal saleh dan memperoleh keberkahan hidup. Sedekah tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga membawa ketenangan hati, membuka pintu rezeki, dan mendatangkan pahala yang berlipat ganda bagi pemberinya. Dalam kehidupan modern saat ini, kesempatan untuk bersedekah semakin luas. Mulai dari membantu orang lain secara materi hingga memberikan senyuman dan nasihat yang baik. Semua bentuk kebaikan tersebut dapat menjadi bagian dari sedekah yang bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Pengertian Sedekah dalam Islam Secara bahasa, sedekah berasal dari kata "shadaqa" yang berarti benar atau jujur. Sedangkan secara istilah, sedekah adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain dengan mengharap ridha Allah SWT tanpa mengharapkan balasan duniawi. Sedekah memiliki makna yang lebih luas dibandingkan zakat. Jika zakat memiliki ketentuan tertentu terkait jumlah dan penerimanya, maka sedekah dapat dilakukan kapan saja, oleh siapa saja, dan dalam berbagai bentuk. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa orang-orang yang bersedekah akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Hal ini menunjukkan betapa besar keutamaan amalan tersebut dalam kehidupan seorang muslim. Macam Sedekah yang Dianjurkan dalam Islam Berikut beberapa macam sedekah yang dianjurkan untuk meraih keberkahan hidup: 1. Sedekah Harta Sedekah harta merupakan bentuk sedekah yang paling dikenal oleh masyarakat. Bentuknya dapat berupa uang, makanan, pakaian, atau kebutuhan lainnya yang diberikan kepada orang yang membutuhkan. Sedekah harta dapat dilakukan kepada fakir miskin, anak yatim, janda, korban bencana, atau lembaga sosial yang terpercaya. Semakin ikhlas seseorang dalam mengeluarkan hartanya, semakin besar pula pahala yang akan diperoleh. 2. Sedekah Makanan Memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan termasuk amalan yang sangat mulia. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memberi makan orang lain, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan. Sedekah makanan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti berbagi nasi kotak, menyediakan makanan untuk berbuka puasa, atau memberikan bahan makanan pokok kepada keluarga yang membutuhkan. 3. Sedekah Tenaga Tidak semua orang memiliki kelebihan harta, tetapi setiap muslim memiliki kesempatan untuk bersedekah melalui tenaga dan kemampuan yang dimilikinya. Contohnya adalah membantu tetangga memperbaiki rumah, ikut kerja bakti, membantu korban bencana, atau menjadi relawan dalam kegiatan sosial dan keagamaan. 4. Sedekah Ilmu Ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu bentuk sedekah yang pahalanya terus mengalir. Mengajarkan ilmu agama, berbagi pengetahuan, memberikan pelatihan, atau membantu orang lain memahami suatu pelajaran termasuk sedekah ilmu. Bahkan, membagikan informasi yang benar dan bermanfaat melalui media sosial juga dapat menjadi bentuk sedekah jika dilakukan dengan niat yang baik. 5. Sedekah Senyuman Rasulullah SAW mengajarkan bahwa senyum kepada saudara sesama muslim merupakan sedekah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai sikap ramah dan akhlak yang baik. Senyuman yang tulus dapat membuat orang lain merasa dihargai, nyaman, dan bahagia. Meskipun terlihat sederhana, amalan ini memiliki nilai besar di sisi Allah SWT. 6. Sedekah dengan Perkataan Baik Ucapan yang baik dapat menjadi sedekah. Memberikan motivasi, nasihat yang bermanfaat, menghibur orang yang sedang bersedih, serta berkata sopan dan santun termasuk bentuk sedekah yang mudah dilakukan. Perkataan yang baik dapat mempererat hubungan antar sesama dan menghindarkan seseorang dari pertengkaran maupun permusuhan. 7. Sedekah Menyingkirkan Gangguan dari Jalan Menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan termasuk bagian dari sedekah. Contohnya adalah membersihkan sampah, memindahkan batu yang dapat membahayakan pengguna jalan, atau menjaga kebersihan fasilitas umum demi kenyamanan bersama. 8. Sedekah Waktu Waktu merupakan nikmat yang sangat berharga. Menggunakan waktu untuk membantu orang lain juga dapat menjadi bentuk sedekah. Misalnya mendengarkan keluh kesah sahabat, menemani orang tua yang sedang sakit, atau meluangkan waktu untuk kegiatan sosial dan dakwah. 9. Sedekah Jariyah Sedekah jariyah adalah sedekah yang manfaatnya terus berlangsung dalam jangka panjang. Contohnya membangun masjid, membantu pembangunan sekolah Islam, menyediakan sumur air bersih, atau menyumbangkan Al-Qur'an. Pahala sedekah jariyah akan terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain. Keutamaan Macam Sedekah dalam Kehidupan Setelah memahami berbagai macam sedekah, penting untuk mengetahui keutamaan yang dijanjikan Allah SWT bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Mendatangkan Keberkahan Rezeki Banyak orang khawatir hartanya berkurang ketika bersedekah. Padahal, Islam mengajarkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, Allah SWT akan menggantinya dengan rezeki yang lebih baik dan penuh keberkahan. Menghapus Dosa Sedekah menjadi salah satu amalan yang dapat menghapus dosa-dosa kecil seorang muslim. Dengan memperbanyak sedekah, seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki kualitas ibadahnya. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Sedekah membantu membangun rasa empati terhadap sesama. Seorang muslim akan lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya dan terdorong untuk membantu mereka yang membutuhkan. Mendapatkan Naungan di Hari Kiamat Orang yang gemar bersedekah dengan ikhlas akan mendapatkan keutamaan besar di akhirat. Salah satunya adalah memperoleh naungan pada hari ketika tidak ada naungan selain dari Allah SWT. Memberikan Ketenangan Hati Banyak orang merasakan kebahagiaan dan ketenangan setelah membantu orang lain. Hal ini karena sedekah dapat membersihkan hati dari sifat kikir dan menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Cara agar Sedekah Lebih Bernilai Agar sedekah memberikan manfaat maksimal dan diterima oleh Allah SWT, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: Meluruskan niat hanya karena Allah SWT. Tidak mengungkit pemberian yang telah diberikan. Memberikan harta yang halal dan baik. Mengutamakan orang yang benar-benar membutuhkan. Melakukan sedekah secara rutin meskipun sedikit. Menjaga kerahasiaan sedekah jika memungkinkan. Menghindari riya atau pamer dalam bersedekah. Konsistensi dalam bersedekah lebih dicintai Allah SWT dibandingkan amalan besar yang dilakukan sesekali. Memahami berbagai macam sedekah membantu umat Islam menyadari bahwa kesempatan beramal tidak terbatas pada pemberian harta semata. Senyuman, tenaga, ilmu, waktu, hingga perkataan yang baik juga termasuk bentuk sedekah yang memiliki nilai pahala di sisi Allah SWT. Dengan mengamalkan berbagai macam sedekah dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim dapat memperoleh keberkahan hidup, mempererat hubungan sosial, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang gemar bersedekah dan mampu menjadikan berbagai macam sedekah sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Dengan demikian, kehidupan menjadi lebih berkah, hati lebih tenang, dan pahala terus mengalir hingga akhir hayat. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/06/2026 | PBL-02
Menjaga Hati dan Akhlak di Era Digital, Tantangan Muslim Masa Kini
Menjaga Hati dan Akhlak di Era Digital, Tantangan Muslim Masa Kini
KITA hidup di zaman yang penuh kemudahan. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi melalui teknologi. Namun di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar bagi umat Islam, yaitu menjaga hati, akhlak, dan keimanan di tengah derasnya arus informasi digital. Perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan kemajuan zaman. Akan tetapi, setiap kemajuan harus disertai dengan kebijaksanaan agar tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai yang diridhai Allah SWT. Era Digital dan Ujian Keimanan Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak manfaat yang dapat diperoleh, seperti menambah wawasan, memperluas silaturahmi, hingga menjadi sarana dakwah. Namun, media sosial juga dapat menjadi sumber fitnah apabila tidak digunakan dengan benar. Fenomena penyebaran hoaks, ujaran kebencian, ghibah, serta budaya pamer menjadi tantangan nyata. Sering kali seseorang lebih mudah menulis sesuatu di dunia maya daripada mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Sebelum membagikan informasi, memberikan komentar, atau membuat unggahan, seorang Muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah hal ini membawa manfaat atau justru menimbulkan mudarat? Menjaga Hati di Tengah Banjir Informasi Salah satu tantangan terbesar di era digital adalah menjaga hati dari penyakit seperti iri, dengki, dan riya. Banyak orang menampilkan sisi terbaik kehidupannya di media sosial sehingga dapat memunculkan perasaan tidak puas terhadap kehidupan sendiri. Islam mengajarkan rasa syukur sebagai kunci ketenangan hati. Allah SWT berfirman bahwa jika manusia bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat-Nya. Syukur bukan berarti berhenti berusaha, tetapi menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup dan ujian yang berbeda. Daripada membandingkan diri dengan orang lain, seorang Muslim dianjurkan untuk fokus pada perbaikan diri, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal saleh. Dakwah dan Kebaikan di Dunia Digital Era digital juga membuka peluang besar untuk menyebarkan kebaikan. Satu tulisan yang bermanfaat, satu video edukatif, atau satu nasihat yang tulus dapat menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Setiap Muslim memiliki kesempatan menjadi agen kebaikan sesuai kemampuan masing-masing. Tidak harus menjadi ulama atau dai terkenal. Membagikan ilmu yang benar, mengingatkan tentang waktu shalat, membantu sesama, atau menyebarkan pesan positif merupakan bentuk dakwah yang bernilai di sisi Allah SWT. Namun, penting untuk memastikan bahwa informasi keagamaan yang dibagikan berasal dari sumber yang terpercaya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami ajaran Islam. Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat Kesibukan modern sering membuat seseorang larut dalam pekerjaan, hiburan, dan aktivitas digital. Akibatnya, waktu untuk beribadah, membaca Al-Qur'an, atau berkumpul dengan keluarga menjadi berkurang. Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja dan berusaha, tetapi tidak melupakan tujuan hidup yang hakiki, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia mendekat kepada Allah, bukan justru menjauhkannya. Meluangkan waktu untuk shalat tepat waktu, membaca Al-Qur'an setiap hari, menghadiri majelis ilmu, dan memperbanyak dzikir dapat menjadi benteng spiritual di tengah kehidupan yang serba cepat. Era digital adalah anugerah sekaligus ujian. Teknologi dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah atau sebaliknya, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Oleh karena itu, umat Islam perlu membangun kesadaran untuk menjaga lisan dan jari-jari di dunia maya, memelihara hati dari penyakit spiritual, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana menebar manfaat. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu menghadapi perkembangan zaman dengan ilmu, iman, dan akhlak yang mulia, sehingga kemajuan dunia tidak membuat kita lalai terhadap persiapan menuju akhirat. Aamiin. *** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/06/2026 | PBL-02
Menikah di Bulan Dzulhijjah, Tradisi dan Hikmah di Baliknya
Menikah di Bulan Dzulhijjah, Tradisi dan Hikmah di Baliknya
MENIKAH di Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu pilihan yang sering diambil oleh sebagian umat Islam. Bulan Dzulhijjah dikenal sebagai salah satu bulan yang mulia dalam kalender Hijriah. Pada bulan ini terdapat berbagai ibadah besar seperti haji, kurban, dan berbagai amalan sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa. Tidak sedikit pasangan Muslim yang memilih melangsungkan akad nikah pada bulan ini dengan harapan memperoleh keberkahan dan kemuliaan yang terkandung di dalamnya. Dalam Islam, pernikahan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan. Pernikahan menjadi sarana untuk menjaga kehormatan diri, menyempurnakan separuh agama, serta membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Oleh karena itu, memilih waktu pernikahan sering kali menjadi perhatian bagi calon pengantin dan keluarga mereka. Meskipun tidak ada ketentuan khusus yang mewajibkan atau melarang pernikahan pada bulan tertentu, banyak umat Islam yang memandang bahwa bulan-bulan mulia seperti Dzulhijjah memiliki nilai spiritual yang dapat menjadi momentum baik untuk memulai kehidupan rumah tangga. Keutamaan Dzulhijjah dalam Islam Bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Hijriah. Bulan ini memiliki banyak keutamaan yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis Rasulullah. Salah satu keutamaan terbesar bulan Dzulhijjah adalah adanya sepuluh hari pertama yang sangat dicintai Allah SWT. Rasulullah bersabda: “Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari) Pada bulan ini juga terdapat Hari Arafah yang penuh keutamaan serta Hari Raya Iduladha yang menjadi momentum penyembelihan hewan kurban bagi umat Islam yang mampu. Karena kemuliaan tersebut, sebagian umat Islam menganggap bahwa memulai kehidupan rumah tangga pada bulan Dzulhijjah merupakan pilihan yang baik dan penuh harapan akan keberkahan dari Allah SWT. Tradisi Menikah di Dzulhijjah di Berbagai Daerah Tradisi Menikah di Bulan Dzulhijjah telah berkembang di berbagai daerah Muslim, termasuk di Indonesia. Meskipun tidak berasal dari syariat yang secara khusus menganjurkannya, tradisi ini lahir dari penghormatan masyarakat terhadap bulan yang penuh keberkahan. Di beberapa daerah, keluarga memandang bahwa akad nikah yang dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah akan membawa keberuntungan, ketenangan, dan keberkahan bagi pasangan yang menikah. Ada pula yang menghubungkannya dengan suasana religius yang lebih kuat karena masyarakat sedang menjalankan berbagai ibadah sunnah dan memperbanyak amal saleh. Selain itu, setelah perayaan Iduladha, banyak keluarga memiliki kesempatan untuk berkumpul sehingga lebih mudah menyelenggarakan acara pernikahan yang melibatkan kerabat dari berbagai daerah. Namun perlu dipahami bahwa keyakinan mengenai keberuntungan tertentu tidak boleh sampai mengarah pada anggapan bahwa bulan selain Dzulhijjah kurang baik untuk menikah. Islam mengajarkan bahwa semua bulan adalah ciptaan Allah dan keberkahan sejati berasal dari ketaatan kepada-Nya. Apakah Ada Larangan Menikah di Dzulhijjah? Sebagian masyarakat masih mempertanyakan apakah ada larangan menikah pada bulan Dzulhijjah, terutama saat musim haji berlangsung. Secara umum, tidak ada larangan dalam Islam untuk melangsungkan akad nikah pada bulan Dzulhijjah. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi seseorang yang sedang melaksanakan ihram dalam ibadah haji atau umrah. Rasulullah bersabda: “Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah, menikahkan, dan tidak boleh meminang.” (HR. Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa larangan berlaku bagi orang yang sedang berada dalam keadaan ihram, bukan bagi seluruh umat Islam pada bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, bagi pasangan yang tidak sedang berihram, akad nikah tetap diperbolehkan dan sah menurut syariat. Hikmah Menikah di Bulan Dzulhijjah 1. Memulai Rumah Tangga pada Bulan yang Mulia Salah satu hikmah Menikah di Bulan Dzulhijjah adalah kesempatan memulai perjalanan rumah tangga pada waktu yang penuh keberkahan. Momentum ini dapat menjadi pengingat bahwa keluarga yang dibangun harus berlandaskan ketakwaan kepada Allah SWT. 2. Meningkatkan Semangat Ibadah Bersama Bulan Dzulhijjah identik dengan berbagai amalan saleh seperti puasa sunnah, takbir, dzikir, sedekah, dan kurban. Pasangan yang menikah pada bulan ini dapat memulai kehidupan bersama dengan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan. Kebiasaan baik yang dibangun sejak awal pernikahan akan menjadi fondasi penting dalam membentuk keluarga Islami. 3. Mengingat Makna Pengorbanan Dzulhijjah juga mengajarkan nilai pengorbanan melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Pernikahan yang bahagia membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan keikhlasan dari kedua pasangan. Dengan memahami makna tersebut, pasangan suami istri dapat lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan rumah tangga. 4. Mempererat Hubungan Keluarga Momen Iduladha sering kali menjadi waktu berkumpulnya keluarga besar. Jika akad nikah dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah, kesempatan silaturahmi dengan kerabat dapat semakin luas dan mempererat hubungan kekeluargaan. 5. Menanamkan Nilai Ketakwaan Sejak Awal Pernikahan Bulan Dzulhijjah mengingatkan umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, pasangan yang menikah pada bulan ini memiliki momentum yang tepat untuk menanamkan visi keluarga yang berorientasi pada ibadah dan ketakwaan. Persiapan Menikah di Bulan Dzulhijjah Agar pernikahan berjalan lancar dan penuh keberkahan, terdapat beberapa hal yang perlu dipersiapkan: Persiapan Spiritual Calon pengantin hendaknya memperbanyak doa, istikharah, membaca Al-Qur'an, dan memperbaiki niat sebelum memasuki jenjang pernikahan. Persiapan Ilmu Rumah Tangga Memahami hak dan kewajiban suami istri sangat penting. Pernikahan bukan hanya acara seremonial, tetapi juga amanah yang harus dijalankan sesuai syariat Islam. Persiapan Finansial Islam mengajarkan keseimbangan dalam pengelolaan keuangan keluarga. Oleh karena itu, calon pasangan perlu merencanakan kondisi finansial dengan baik sejak sebelum menikah. Persiapan Mental dan Emosional Kehidupan rumah tangga membutuhkan kedewasaan dalam menyelesaikan masalah dan menghadapi perbedaan. Persiapan mental menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Pandangan Ulama Mengenai Menikah Mayoritas ulama sepakat bahwa tidak ada waktu khusus yang diwajibkan untuk menikah. Selama syarat dan rukun nikah terpenuhi, maka akad nikah dapat dilakukan kapan saja. Beberapa ulama menjelaskan bahwa memilih waktu yang dianggap baik boleh dilakukan selama tidak disertai keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam. Artinya, seseorang boleh memilih bulan Dzulhijjah karena alasan kemudahan, suasana religius, atau harapan keberkahan, namun tidak boleh meyakini bahwa bulan lain membawa kesialan. Keberkahan dalam rumah tangga berasal dari iman, takwa, akhlak yang baik, dan usaha menjaga hubungan sesuai tuntunan syariat. Menikah di Bulan Dzulhijjah merupakan pilihan yang diperbolehkan dalam Islam dan memiliki berbagai hikmah yang dapat menjadi inspirasi bagi pasangan Muslim. Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang penuh keberkahan, dipenuhi berbagai ibadah mulia, serta mengajarkan nilai pengorbanan, ketakwaan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Tradisi Menikah di Bulan Dzulhijjah yang berkembang di tengah masyarakat pada dasarnya merupakan bentuk penghormatan terhadap kemuliaan bulan tersebut. Namun, umat Islam perlu memahami bahwa keberkahan pernikahan tidak semata-mata ditentukan oleh waktu pelaksanaannya, melainkan oleh niat yang ikhlas, ketaatan kepada Allah SWT, dan komitmen pasangan dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Dengan persiapan yang matang dan landasan agama yang kuat, Menikah di Bulan Dzulhijjah dapat menjadi awal yang indah untuk membangun rumah tangga yang penuh cinta, keberkahan, dan kebahagiaan dunia serta akhirat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/06/2026 | PBL-02
Lima Keutamaan Dzulhijjah, Amalan yang Dianjurkan
Lima Keutamaan Dzulhijjah, Amalan yang Dianjurkan
BULAN Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, bulan ini tidak hanya identik dengan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga menjadi waktu yang penuh keberkahan untuk memperbanyak ibadah. Banyak ulama menjelaskan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah termasuk hari-hari terbaik sepanjang tahun untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, memahami berbagai amalan Bulan Dzulhijjah menjadi hal yang penting bagi setiap muslim. Dengan mengetahui keutamaannya, umat Islam dapat memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, dan meraih pahala yang berlipat ganda. Dalam Al-Qur'an dan hadis, terdapat banyak dalil yang menunjukkan kemuliaan bulan Dzulhijjah. Bahkan, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk beramal saleh dibandingkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. 1. Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah, Hari Terbaik Setahun Salah satu keutamaan terbesar bulan Dzulhijjah adalah kemuliaan sepuluh hari pertamanya. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).”(HR. Bukhari) Hadis ini menunjukkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, dan berbagai amalan Bulan Dzulhijjah lainnya. 2. Dzulhijjah jadi Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji Keutamaan berikutnya adalah karena pada bulan inilah ibadah haji dilaksanakan. Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan oleh muslim yang mampu secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji. Momentum ini menjadi simbol persatuan umat Islam sekaligus bentuk ketundukan kepada Allah SWT. Bagi mereka yang belum berkesempatan berhaji, tetap dapat memperoleh keberkahan bulan ini dengan memperbanyak amalan Bulan Dzulhijjah sesuai kemampuan masing-masing. 3. Terdapat Hari Arafah Penuh Keutamaan Tanggal 9 Dzulhijjah dikenal sebagai Hari Arafah. Hari ini memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Bagi jamaah haji, wukuf di Arafah merupakan rukun utama ibadah haji. Sementara bagi muslim yang tidak sedang berhaji, dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah. Rasulullah SAW bersabda: “Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”(HR. Muslim) Hadis tersebut menunjukkan betapa besar pahala yang Allah SWT sediakan bagi umat Islam yang menjalankan ibadah puasa pada Hari Arafah. Karena itu, puasa Arafah termasuk salah satu amalan Bulan Dzulhijjah yang sangat dianjurkan. 4. Hari Idul Adha Berada di Dzulhijjah Keutamaan lainnya adalah adanya Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah. Hari raya ini menjadi momentum penting untuk mengenang keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menaati perintah Allah SWT. Idul Adha mengajarkan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepatuhan kepada Allah. Pada hari tersebut umat Islam melaksanakan shalat Id dan memperbanyak takbir, tahmid, serta tahlil sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Momen Idul Adha juga menjadi bagian penting dari rangkaian amalan Bulan Dzulhijjah yang membawa banyak keberkahan. 5. Dzulhijjah jadi Waktu Ibadah Kurban Penyembelihan hewan kurban merupakan syariat yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu. Ibadah ini dilaksanakan mulai tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Allah SWT berfirman: "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah."(QS. Al-Kautsar: 2) Melalui ibadah kurban, seorang muslim belajar tentang keikhlasan dan kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan sehingga tercipta rasa persaudaraan dan kebersamaan di tengah umat. Amalan Dzulhijjah yang Dianjurkan Setelah memahami berbagai keutamaannya, berikut beberapa amalan Bulan Dzulhijjah yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh umat Islam. 1. Memperbanyak Dzikir Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak dzikir pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dzikir yang dianjurkan antara lain: Takbir (Allahu Akbar) Tahmid (Alhamdulillah) Tahlil (La ilaha illallah) Tasbih (Subhanallah) Dzikir menjadi sarana untuk senantiasa mengingat Allah SWT dan meningkatkan ketakwaan. 2. Berpuasa Sunnah Puasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, terutama puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, termasuk ibadah yang memiliki keutamaan besar. Selain mendapatkan pahala puasa, seorang muslim juga dapat melatih kesabaran dan meningkatkan kualitas spiritual selama bulan yang mulia ini. 3. Membaca Al-Qur'an Membaca dan mentadabburi Al-Qur'an termasuk ibadah yang sangat dianjurkan sepanjang waktu, terlebih pada bulan Dzulhijjah. Setiap huruf yang dibaca akan mendatangkan pahala dan keberkahan bagi kehidupan seorang muslim. 4. Bersedekah Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Pada bulan Dzulhijjah, pahala sedekah menjadi semakin besar karena dilakukan pada waktu yang mulia. Sedekah tidak selalu berupa harta. Membantu sesama, memberikan makanan, atau menolong orang yang membutuhkan juga termasuk bentuk sedekah. 5. Melaksanakan Kurban Bagi yang memiliki kemampuan finansial, berkurban menjadi salah satu amalan Bulan Dzulhijjah yang sangat dianjurkan. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, kurban juga memberikan manfaat sosial yang luas karena dapat membantu masyarakat yang membutuhkan. 6. Memperbanyak Doa dan Istighfar Bulan Dzulhijjah adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Setiap muslim hendaknya memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki diri, memohon keberkahan hidup, serta memohon ampun atas dosa-dosa yang telah lalu. Hikmah Amalan di Bulan Dzulhijjah Terdapat banyak hikmah yang dapat diperoleh dari pelaksanaan berbagai amalan Bulan Dzulhijjah. Di antaranya adalah meningkatnya keimanan, tumbuhnya rasa syukur, meningkatnya kepedulian sosial, serta semakin dekatnya hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Selain itu, bulan ini juga mengajarkan pentingnya pengorbanan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling mulia dalam Islam yang dipenuhi berbagai keutamaan dan kesempatan untuk meraih pahala yang berlimpah. Sepuluh hari pertama Dzulhijjah, Hari Arafah, Idul Adha, serta ibadah kurban menjadi momen istimewa yang tidak boleh dilewatkan oleh umat Islam. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya memanfaatkan waktu ini dengan memperbanyak amalan Bulan Dzulhijjah seperti berdzikir, berpuasa, membaca Al-Qur'an, bersedekah, berdoa, dan melaksanakan kurban. Dengan menjalankan berbagai amalan Bulan Dzulhijjah secara ikhlas, diharapkan kita dapat memperoleh rahmat, ampunan, dan keberkahan dari Allah SWT serta menjadi pribadi yang lebih bertakwa.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/06/2026 | Admin
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.

Lihat Daftar Rekening →