WhatsApp Icon
15 Tips Islami Menjalani Kehidupan Lebih Baik dan Penuh Berkah

KEHIDUPAN yang baik dan penuh berkah merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Kehidupan yang berkah juga tercermin dari hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Untuk mewujudkannya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, bekerja dengan jujur, menyayangi keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

Kebiasaan baik tersebut tidak harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Berikut 15 tips Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menjaga Salat Lima Waktu

Salat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang memenuhi ketentuan syariat. Menjaga salat tepat waktu menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasakan menunaikan salat ketika waktunya tiba. Jika memungkinkan, persiapkan diri lebih awal agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang dan khusyuk.

Selain menjaga pelaksanaannya, usahakan memahami bacaan dan menghayati maknanya. Dengan demikian, salat tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga pengingat untuk menjaga perilaku dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.

2. Membiasakan Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Membaca, memahami, dan berusaha mengamalkan ajarannya dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang untuk mulai membaca Al-Qur'an. Sisihkan beberapa menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau sebelum tidur.

Bagi yang belum lancar membaca Al-Qur'an, belajarlah secara bertahap dengan bimbingan guru yang kompeten. Sementara itu, mereka yang sudah lancar dapat memperdalam pemahaman melalui terjemahan dan tafsir.

Konsistensi menjadi hal penting dalam membangun kebiasaan ini. Mulailah dengan target yang realistis agar membaca Al-Qur'an dapat menjadi bagian dari rutinitas harian.

3. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa dan zikir membantu seorang Muslim mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, doa menjadi sarana memohon pertolongan. Saat memperoleh kebahagiaan, zikir dan doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Kebiasaan ini dapat dimulai dengan membaca zikir pagi dan petang, beristigfar, berdoa setelah salat, serta membaca doa sebelum tidur.

Meski demikian, doa dan zikir perlu berjalan beriringan dengan usaha nyata. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, misalnya, seorang Muslim tetap perlu mencari solusi, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki cara bekerja sembari memohon pertolongan Allah SWT.

4. Membiasakan Diri Bersyukur

Bersyukur membantu seseorang menghargai nikmat yang telah dimiliki. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain secara berlebihan justru dapat membuat seseorang lupa terhadap berbagai kebaikan yang telah diterimanya.

Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya.

Syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat untuk tujuan yang baik. Kesehatan dapat dimanfaatkan untuk beribadah dan bekerja, harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta membantu sesama, dan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Mulailah dengan menghargai hal-hal sederhana, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, makanan, dan tempat tinggal. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menghargai apa yang dimiliki sambil terus memperbaiki keadaan.

5. Mencari Rezeki yang Halal dan Baik

Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki melalui cara yang halal. Rezeki yang baik tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjaga kejujuran, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, serta menghormati hak orang lain. Hindari penipuan, kecurangan, dan tindakan yang merugikan pihak lain.

Bagi yang menjalankan usaha, sampaikan informasi produk atau jasa secara jujur. Sementara itu, dalam mengelola penghasilan, dahulukan kebutuhan pokok, hindari utang konsumtif yang tidak perlu, dan sisihkan sebagian harta untuk sedekah sesuai kemampuan.

Rezeki yang berkah tidak selalu berarti kekayaan berlimpah. Keberkahan juga dapat tercermin dari kecukupan, ketenangan dalam menggunakannya, serta manfaat yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat.

6. Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam Islam. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 23.

Berbakti dapat diwujudkan melalui perkataan yang sopan, kesediaan mendengarkan nasihat yang baik, membantu kebutuhan mereka, serta meluangkan waktu untuk menemani dan memperhatikan keadaan mereka.

Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi melalui telepon atau melakukan kunjungan secara berkala dapat menjadi bentuk perhatian.

Jika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik dengan mendoakan mereka, menjaga hubungan dengan kerabat, dan melakukan kebaikan yang dibenarkan dalam Islam.

Namun, berbakti tidak berarti harus memenuhi permintaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim tetap perlu menjaga adab dan memperlakukan orang tua dengan baik.

7. Menjaga Silaturahmi dan Hubungan Baik dengan Sesama

Keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan. Hubungan yang baik dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan sekaligus sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperlakukan sesama dengan baik. Karena itu, usahakan menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang tenang dan menghindari perkataan yang menyakiti.

Belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan orang lain ketika mereka berusaha memperbaiki diri. Menghormati perbedaan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial.

Dengan membangun komunikasi yang sehat, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan dipenuhi sikap saling menghormati.

8. Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama

Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang Muslim belajar untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, menyumbangkan pakaian yang layak, atau membagikan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kebaikan.

Sesuaikan sedekah dengan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga. Jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan.

Membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama dapat melatih kepedulian dan mengurangi sikap berlebihan dalam mencintai harta. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam juga dapat berkontribusi dalam membantu mustahik serta masyarakat yang membutuhkan.

9. Menjaga Lisan dan Akhlak

Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Biasakan berbicara jujur, menghindari perkataan kasar, tidak menghina, dan tidak menyebarkan fitnah. Sebelum berbicara, pertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Menjaga lisan juga berlaku ketika menggunakan media sosial. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menulis komentar yang merendahkan orang lain, atau terlibat dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.

Jika melakukan kesalahan, akui dan perbaiki. Meminta maaf merupakan bagian dari tanggung jawab atas perilaku sendiri sekaligus langkah untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

10. Menuntut Ilmu dan Terus Memperbaiki Diri

Menuntut ilmu membantu seorang Muslim memahami ajaran agama sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Luangkan waktu untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dasar, dan akhlak. Selain ilmu agama, tingkatkan pula keterampilan yang relevan dengan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab masing-masing.

Pilih sumber belajar yang dapat dipercaya. Dalam urusan agama, pelajari penjelasan dari ulama dan lembaga keislaman yang kompeten agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.

Selain menambah pengetahuan, biasakan mengevaluasi diri. Periksa kembali apakah ibadah telah terjaga, pekerjaan dilakukan dengan jujur, dan hubungan dengan keluarga dipelihara dengan baik.

Perbaikan diri merupakan proses berkelanjutan. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan.

11. Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Amanah

Tubuh merupakan amanah yang perlu dijaga. Kondisi fisik dan mental yang baik membantu seseorang menjalankan ibadah, bekerja, belajar, serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Terapkan kebiasaan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menjaga waktu tidur. Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan dan jangan mengabaikan keluhan yang membutuhkan pertolongan profesional.

Menjaga kesehatan juga berarti memahami batas kemampuan diri. Istirahat yang cukup bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kemampuan untuk menjalani aktivitas dengan baik.

Dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim dapat berusaha menjalankan berbagai amanah kehidupan secara lebih optimal.

12. Mengelola Waktu dengan Bijaksana

Waktu merupakan nikmat yang tidak dapat diulang. Karena itu, gunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, keluarga, maupun pengembangan diri.

Buatlah jadwal harian sederhana yang memprioritaskan kewajiban utama. Sisihkan waktu untuk salat, bekerja, belajar, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat berarti.

Namun, mengelola waktu bukan berarti harus selalu sibuk. Istirahat, berolahraga, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga juga merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup.

13. Bersabar dan Bertawakal kepada Allah SWT

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Seseorang dapat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau ujian kesehatan.

Dalam keadaan tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menunggu pertolongan tanpa melakukan apa pun.

Seorang Muslim perlu berusaha mencari jalan keluar, berdoa kepada Allah SWT, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya. Ketika mengalami kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Jika menghadapi persoalan yang berat, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau tenaga profesional yang sesuai.

Setiap orang memiliki ujian dan proses kehidupan yang berbeda. Karena itu, hindari mengukur keberhasilan diri hanya dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain.

14. Membiasakan Istigfar dan Bertobat

Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa berusaha memperbaiki diri.

Membaca istigfar merupakan salah satu cara memohon ampun kepada Allah. Namun, istigfar hendaknya disertai kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki perilaku.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, upayakan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai keadaan.

Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, gunakan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dengan membiasakan istigfar dan bertobat, seorang Muslim belajar bersikap rendah hati serta menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan ampunan dan bimbingan Allah SWT.

15. Membiasakan Doa agar Hidup Penuh Berkah

Selain melakukan berbagai ikhtiar, seorang Muslim dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca sehari-hari.

“Ya Allah, berkahilah kehidupanku, keluargaku, pekerjaanku, dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku. Bimbinglah aku agar senantiasa berada di jalan yang benar. Jadikanlah aku hamba yang rajin beribadah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan ikhlas dalam melakukan kebaikan. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari keburukan, serta berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan langsung dari Al-Qur'an atau hadis. Seorang Muslim dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dengan tetap memperhatikan tuntunan syariat.

Biasakan berdoa bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga ketika keadaan sedang baik. Dengan demikian, doa menjadi bagian dari kebiasaan untuk memohon petunjuk sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT.

Contoh Rutinitas Islami dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar berbagai kebiasaan baik di atas lebih mudah diterapkan, mulailah dengan rutinitas sederhana yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Pagi hari:

  • Bangun dan menunaikan salat Subuh.

  • Membaca Al-Qur'an atau zikir pagi.

  • Berdoa sebelum memulai aktivitas.

  • Menentukan prioritas pekerjaan dan tanggung jawab hari itu.

Siang hingga sore:

  • Menjaga salat lima waktu.

  • Bekerja atau belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh.

  • Menjaga perkataan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

  • Menyempatkan diri membantu keluarga atau orang yang membutuhkan.

Malam hari:

  • Menunaikan salat Isya.

  • Meluangkan waktu bersama keluarga.

  • Mengevaluasi perilaku dan aktivitas sepanjang hari.

  • Membaca doa sebelum tidur serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Rutinitas tersebut bukan aturan wajib yang harus diikuti dengan susunan persis seperti di atas. Jadikanlah sebagai panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing.

Menjalani Hidup dengan Iman, Ikhtiar, dan Rasa Syukur

Kehidupan yang penuh berkah tidak selalu ditandai dengan kelimpahan materi atau terbebas dari berbagai ujian. Keberkahan juga dapat hadir melalui hati yang tenang, rezeki yang halal, keluarga yang saling mendukung, serta kesempatan untuk terus berbuat baik.

Menjaga salat, membaca Al-Qur'an, bersyukur, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, dan membantu sesama merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memperkuat kualitas kehidupan seorang Muslim.

Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah dilakukan, kemudian pertahankan secara konsisten dan tingkatkan secara bertahap.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Lima Adab Bertetangga dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah SAW!

MENJAGA hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita dan dapat menjadi pihak terdekat untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, hubungan bertetangga perlu dibangun atas dasar saling menghormati, kepedulian, dan sikap menjaga hak satu sama lain.

Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik. Ajaran tersebut mencakup menjaga perkataan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain, berbagi makanan, memberikan pertolongan, serta memelihara hubungan baik meskipun terdapat perbedaan atau kesalahpahaman.

Adab bertetangga juga tidak terbatas pada orang yang memiliki hubungan dekat atau seagama. Seorang Muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, latar belakang, maupun kebiasaan, selama tetap berpegang pada prinsip ajaran Islam.

Lantas, apa saja adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut lima di antaranya.

1. Menghormati dan Berbuat Baik kepada Tetangga

Adab pertama adalah menghormati dan memperlakukan tetangga dengan baik. Islam menempatkan hubungan dengan tetangga sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, dan golongan lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya.

Ajaran tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa ketika berpapasan, berbicara dengan sopan, menghargai privasi, dan tidak mencampuri urusan pribadi tetangga tanpa alasan yang tepat.

Ketika tetangga mengadakan acara keluarga, misalnya, kita dapat menunjukkan sikap saling menghormati dengan menjaga ketertiban dan membicarakan persoalan yang muncul melalui komunikasi yang baik.

Selain itu, hindari membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status ekonomi, kedudukan sosial, atau latar belakang seseorang. Dengan membiasakan sikap saling menghormati, hubungan bertetangga dapat terjalin lebih harmonis dan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman.

2. Tidak Mengganggu atau Menyakiti Tetangga

Adab berikutnya adalah menjaga diri agar tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Pesan ini menegaskan bahwa keimanan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya sendiri, tetapi juga perlu menjaga hak dan kenyamanan orang lain. Beberapa perilaku yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan bertetangga antara lain:

  • Memutar musik atau menghasilkan suara keras hingga mengganggu waktu istirahat.

  • Membiarkan sampah menumpuk atau menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah.

  • Memarkir kendaraan hingga menghalangi jalan atau akses rumah tetangga.

  • Membicarakan keburukan tetangga dan menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya.

  • Menggunakan atau mengambil barang milik tetangga tanpa izin.

  • Melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan lingkungan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Apabila tanpa sengaja menimbulkan gangguan, sebaiknya segera meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tindakan sederhana, seperti mengecilkan volume suara pada malam hari atau memastikan kendaraan tidak menghalangi akses rumah orang lain, merupakan bentuk kepedulian terhadap kenyamanan bersama.

Menjaga tetangga dari gangguan bukan hanya menciptakan lingkungan yang tertib, tetapi juga menjadi wujud nyata akhlak yang baik.

3. Berbagi Makanan dan Saling Memberi

Berbagi makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial dan tidak bersikap egois terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar agar memperbanyak kuah ketika memasak dan memperhatikan tetangganya dengan membagikan sebagian makanan tersebut.

Nasihat ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian yang besar. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana sesuai kemampuan masing-masing.

Ketika memasak dalam jumlah lebih, misalnya, kita dapat berbagi makanan dengan tetangga. Berbagi juga dapat dilakukan dengan memberikan buah dari kebun atau mengirimkan hidangan sederhana pada kesempatan tertentu.

Jika tetangga sedang sakit, kita bisa menawarkan bantuan untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sementara itu, ketika mereka mengalami musibah, perhatian dan dukungan sederhana dapat membantu meringankan beban yang dirasakan.

Meski demikian, berbagi tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga sendiri. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk memaksakan diri di luar kemampuannya.

Dengan membiasakan berbagi, hubungan bertetangga tidak sekadar terjalin karena tinggal berdekatan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang dilandasi kepedulian dan kebersamaan.

4. Menolong Tetangga Ketika Mengalami Kesulitan

Seorang Muslim hendaknya tidak bersikap acuh ketika mengetahui tetangganya membutuhkan pertolongan. Hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi sumber dukungan, terutama ketika seseorang menghadapi situasi sulit.

Pertolongan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan tenaga dan dukungan moral hingga bantuan materi sesuai kemampuan.

Ketika tetangga sedang sakit, misalnya, kita dapat menjenguk, menanyakan kebutuhannya, atau membantu mengurus keperluan mendesak. Saat terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir, kita dapat membantu proses evakuasi, menyediakan makanan, atau menghubungkan mereka dengan pihak yang mampu memberikan bantuan.

Perhatian juga dapat diberikan kepada tetangga lanjut usia yang tinggal sendiri. Menanyakan kabar atau membantu membawa barang belanjaan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Dalam memberikan pertolongan, penting untuk tetap menghormati privasi dan menjaga martabat orang yang dibantu. Bantuan sebaiknya diberikan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian atau mengungkit kebaikan pada kemudian hari.

Menolong tetangga menjadi kesempatan untuk mengamalkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memaafkan Kesalahan Tetangga

Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bertetangga. Perbedaan kebiasaan, persoalan batas tanah, kebisingan, atau masalah parkir dapat memicu perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan baik.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga komunikasi, bersikap sabar, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Kebiasaan menyapa, mengunjungi ketika diperlukan, serta menghindari permusuhan berkepanjangan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat hubungan dengan tetangga.

Pertama, menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang sopan. Jika ada tindakan yang mengganggu, sampaikan keberatan secara baik-baik tanpa menghina atau mempermalukan pihak lain.

Kedua, tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, cari penjelasan secara langsung dengan cara yang santun.

Ketiga, belajar memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Selama persoalan masih dapat diselesaikan secara wajar, sikap lapang dada dapat membantu mencegah konflik berkepanjangan.

Keempat, tidak memperbesar perselisihan. Hindari menyebarkan masalah kepada orang lain apabila hal tersebut justru memperburuk keadaan.

Meski demikian, menjaga hubungan baik tidak berarti membiarkan tindakan yang membahayakan atau melanggar hak. Jika terjadi ancaman, kekerasan, atau pelanggaran serius, kita tetap dapat meminta bantuan pihak berwenang melalui cara yang tepat.

Dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan tanpa harus merusak hubungan bertetangga.

Manfaat Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam

Menerapkan adab bertetangga memberikan manfaat bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sikap saling menghormati membantu mengurangi gangguan dan perselisihan.

  2. Mempererat hubungan sosial. Tetangga yang saling mengenal lebih mudah membangun komunikasi dan kerja sama.

  3. Menumbuhkan kepedulian. Kebiasaan saling membantu membuat masyarakat lebih siap menghadapi kesulitan bersama.

  4. Menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik membantu menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi perselisihan besar.

  5. Mengamalkan ajaran Islam. Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika setiap orang berusaha memulai kebaikan dari dirinya sendiri. Kita tidak perlu menunggu semua tetangga bersikap baik terlebih dahulu untuk mulai menunjukkan akhlak terpuji.

Membangun Lingkungan yang Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri

Adab bertetangga bukan hanya tentang menghindari perselisihan, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati orang lain, menjaga perkataan, berbagi makanan, menolong ketika dibutuhkan, dan memaafkan kesalahan merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat kebersamaan.

Keteladanan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akhlak mulia perlu tercermin dalam hubungan dengan sesama, termasuk dengan orang-orang yang tinggal paling dekat dengan kita.

Karena itu, membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian dapat dimulai dari rumah masing-masing. Dengan menjaga hak tetangga dan membiasakan diri untuk berbuat baik, kita turut menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Ini Doa Memohon Anak Saleh dan Salehah, Dicontohkan Para Nabi

SETIAP orang tua Muslim tentu mendambakan anak yang saleh dan salehah, beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama. Anak bukan hanya anugerah yang membawa kebahagiaan dalam keluarga, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan orang tua adalah senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak. Melalui doa, orang tua memohon agar Allah SWT memberikan petunjuk, menguatkan keimanan, memudahkan anak dalam beribadah, serta membimbing mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa.

Al-Qur'an mengajarkan sejumlah doa untuk memohon keturunan yang baik. Beberapa di antaranya merupakan doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS, serta doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati.

Lantas, apa saja doa memohon anak saleh dan salehah yang dapat diamalkan? Berikut bacaan, arti, dan maknanya, beserta ikhtiar mendidik anak agar tumbuh dalam kebaikan.

1. Doa dalam Surah Al-Furqan Ayat 74

Salah satu doa yang dapat diamalkan untuk memohon keluarga dan keturunan yang baik terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk hati serta agar diri sendiri dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bacaan latin:

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Makna Doa

Doa ini mengandung harapan agar keluarga tumbuh dalam keimanan, ketaatan, dan akhlak yang baik. Anak yang menjadi penyejuk hati bukan semata-mata anak yang membanggakan orang tua, tetapi juga anak yang berusaha menjalankan ajaran agama dan menghadirkan kebaikan di lingkungannya.

Selain memohon keturunan yang baik, orang tua juga memohon agar dirinya menjadi teladan dalam ketakwaan. Artinya, harapan memiliki anak saleh dan salehah perlu disertai usaha memperbaiki diri, mulai dari menjaga salat, berkata jujur, bersikap sabar, hingga menghormati orang lain.

Doa ini dapat dibaca setelah salat atau ketika bermunajat kepada Allah SWT. Tidak ada keharusan menetapkan jumlah bacaan tertentu untuk mengamalkannya.

2. Doa Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa singkat untuk memohon keturunan yang termasuk golongan orang saleh. Doa ini terdapat dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Bacaan latin: Rabbi hab li minas salihin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100).

Makna Doa 

Doa ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan bukan satu-satunya harapan. Nabi Ibrahim AS juga memohon agar keturunannya menjadi bagian dari orang-orang yang saleh.

Kesalehan merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang saleh dan salehah diharapkan memiliki keimanan yang kuat, menjaga ibadah, berperilaku baik, serta mampu membedakan perbuatan yang benar dan salah.

Bagi pasangan yang sedang menantikan kehadiran buah hati, doa ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keturunan kepada Allah SWT. Bagi orang tua yang telah memiliki anak, doa yang sama dapat diamalkan untuk memohon agar anak-anak senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.

Doa juga menjadi wujud penghambaan dan tawakal. Karena itu, orang tua hendaknya terus memohon kepada Allah SWT sembari melakukan ikhtiar yang baik dan tidak kehilangan harapan ketika keinginan belum terwujud sesuai waktu yang diharapkan.

3. Doa Nabi Zakaria AS 

Al-Qur'an juga mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika memohon keturunan yang baik. Doa tersebut terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 38.

Bacaan latin:

Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan tayyibatan innaka sami'ud du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Pelajaran dari doa Nabi Zakaria 

Kisah Nabi Zakaria AS mengajarkan tentang ketekunan dalam berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Beliau memohon keturunan yang baik, mengingatkan umat Islam bahwa Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya.

Keturunan yang baik tidak hanya diukur dari kesehatan fisik atau keberhasilan duniawi. Keimanan, akhlak, dan perilaku yang terpuji juga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang diharapkan orang tua.

Doa ini dapat diamalkan oleh pasangan yang mendambakan keturunan maupun orang tua yang memohon kebaikan bagi anak-anaknya. Permohonan juga dapat disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami, selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Doa Keturunan Rajin Mendirikan Salat

Anak yang saleh dan salehah diharapkan tidak hanya memiliki perilaku yang baik, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mendirikan salat.

Dalam Surah Ibrahim ayat 40, terdapat doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan salat.

Bacaan latin: Rabbij'alni muqimas salati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du'a.

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Mengapa doa ini penting?

Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam. Dengan memohon agar diri sendiri dan keturunan senantiasa mendirikan salat, orang tua diingatkan bahwa pendidikan agama perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak untuk salat, tetapi juga memberikan contoh melalui kebiasaan beribadah secara konsisten. Ketika anak melihat orang tuanya menjaga salat, ia dapat belajar dari keteladanan yang nyata.

Selain itu, ajarkan salat secara bertahap sesuai usia anak. Pendekatan yang lembut, penjelasan yang mudah dipahami, dan suasana keluarga yang mendukung dapat membantu anak mengenal ibadah dengan lebih baik.

Doa ini sekaligus mengingatkan orang tua untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sendiri sebelum berharap anak mengikuti jalan kebaikan tersebut.

5. Doa agar Anak Saleh dan Mendapat Keberkahan

Selain mengamalkan doa-doa dari Al-Qur'an, orang tua dapat memohon kepada Allah SWT menggunakan kalimat yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, memohon agar anak diberikan kesehatan, dilindungi dari keburukan, dibimbing dalam ketaatan, dan dimudahkan untuk berbuat baik kepada sesama.

Berikut contoh doa dalam bahasa Indonesia yang dapat diamalkan sebagai doa pribadi.

Bacaan doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang saleh dan salehah. Jadikanlah mereka hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga salat. Lindungilah mereka dari perbuatan buruk, pergaulan yang menyesatkan, serta segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari jalan-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati di dunia dan bekal kebaikan bagi kami di akhirat. Amin.”

Doa tersebut merupakan contoh permohonan pribadi, bukan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis. Orang tua dapat menyesuaikan susunan kata dan menyebut nama anak dalam doanya.

Hal terpenting bukan panjangnya rangkaian kalimat, melainkan ketulusan hati, keyakinan kepada Allah SWT, dan kesungguhan menjalankan ikhtiar yang baik.

6. Kapan Waktu Baik Membaca Doa Anak Saleh?

Pada dasarnya, doa untuk memohon kebaikan anak dapat dipanjatkan kapan saja. Tidak ada ketentuan bahwa doa memohon anak saleh dan salehah hanya boleh dibaca pada waktu tertentu.

Meski demikian, ada beberapa kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah salat wajib

Setelah menunaikan salat wajib, orang tua dapat meluangkan waktu untuk berzikir dan berdoa. Selain memohon ampunan serta kebaikan dunia dan akhirat, orang tua dapat memohon agar anak-anak diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam.

Mendoakan anak secara rutin dapat menjadi pengingat bahwa mendidik mereka merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan pertolongan Allah SWT.

Saat salat malam

Salat malam, termasuk tahajud, dapat menjadi kesempatan untuk bermunajat dengan lebih khusyuk. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan keutamaan berdoa kepada Allah pada sepertiga malam terakhir.

Orang tua dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memohon kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, akhlak mulia, dan keteguhan iman bagi anak-anaknya.

Ketika sujud

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa.

Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon kebaikan bagi anak-anaknya dengan tetap memperhatikan ketentuan doa dalam salat sesuai tuntunan fikih yang diikuti.

Ketika anak menghadapi kesulitan

Doa tidak hanya dipanjatkan ketika anak sedang sehat, berprestasi, atau menunjukkan perilaku yang membanggakan. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, menghadapi masalah pergaulan, atau sedang berusaha memperbaiki diri, orang tua juga perlu mendoakannya.

Rasa kecewa hendaknya tidak membuat orang tua berhenti berharap kepada Allah SWT. Sebaliknya, doa dapat menjadi penguat kesabaran sekaligus dorongan untuk mencari cara terbaik dalam mendampingi anak.

7. Cara Mendidik Anak agar Tumbuh Saleh

Doa merupakan ikhtiar spiritual yang penting, tetapi perlu disertai pendidikan, keteladanan, dan usaha nyata. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, melainkan juga lingkungan yang membantu mereka mengenal dan mengamalkan nilai-nilai Islam.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.

1. Memberikan teladan yang baik

Anak banyak belajar melalui apa yang dilihat setiap hari. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam menjalankan ibadah, menjaga perkataan, bersikap jujur, dan menghormati orang lain.

Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menjaga salatnya sendiri. Jika ingin anak berkata jujur, biasakan kejujuran dalam keluarga. Keteladanan membantu anak memahami bahwa ajaran Islam bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup.

2. Mengenalkan Al-Qur'an dan ajaran Islam sejak dini

Orang tua dapat mengenalkan Al-Qur'an, doa sehari-hari, kisah para nabi, serta dasar-dasar akhlak Islam sesuai usia anak. Lakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan.

Seiring bertambahnya usia, ajak anak memahami makna ibadah, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

3. Membiasakan ibadah dalam keluarga

Keluarga dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan tertentu.

Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dibicarakan ketika mereka melakukan kesalahan.

4. Menanamkan akhlak mulia

Kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dengan perilaku terhadap sesama manusia. Ajarkan anak menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata sopan, menepati janji, meminta maaf ketika bersalah, dan membantu orang yang membutuhkan.

5. Memperhatikan lingkungan pergaulan

Lingkungan dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak. Orang tua perlu mengenal teman-teman anak, memperhatikan aktivitasnya, dan membangun komunikasi yang terbuka.

Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang bertanggung jawab, bukan pengawasan berlebihan. Ajarkan anak memilih pergaulan yang baik serta berani menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.

6. Menasihati tanpa merendahkan

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan nasihat dan konsekuensi yang sesuai. Namun, hindari melabeli anak sebagai nakal, gagal, atau tidak berguna.

Tegurlah perilakunya tanpa merendahkan martabatnya. Terus doakan kebaikannya, termasuk ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

7. Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian

Orang tua dapat mengajarkan tanggung jawab melalui tugas sederhana, seperti merapikan barang, menjaga kebersihan, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membantu anggota keluarga.

Ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia memahami akibat perbuatannya dan memperbaikinya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengakui kesalahan serta bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.

8. Keutamaan Memiliki Anak Saleh

Anak yang saleh dan salehah merupakan salah satu karunia berharga dalam Islam. Kesalehan anak tidak hanya membawa harapan akan kebaikan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan manfaat yang dapat terus dirasakan orang tua setelah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mendidik anak agar mengenal Allah SWT, menjalankan ajaran agama, dan terbiasa mendoakan orang tuanya.

Meski demikian, kesalehan anak bukan sesuatu yang dapat dijamin hanya melalui satu doa. Anak tumbuh melalui berbagai proses, pengalaman, dan pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu terus memberikan pendidikan terbaik sembari memohon pertolongan Allah SWT.

Anak yang saleh dan salehah juga diharapkan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, baik dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, membantu sesama, maupun menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, tujuan mendidik anak bukan semata-mata agar orang tua merasa bangga, tetapi agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

9. Pertanyaan Umum tentang Doa Anak Saleh

Apakah doa anak saleh boleh dibaca setiap hari?

Ya. Orang tua boleh mendoakan kebaikan anak setiap hari. Beberapa doa yang dapat diamalkan antara lain doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Surah Ali Imran ayat 38, Surah As-Saffat ayat 100, dan Surah Ibrahim ayat 40.

Tidak ada ketentuan umum bahwa doa-doa tersebut harus dibaca dengan jumlah tertentu agar permohonan dikabulkan.

Apakah ibu dan ayah sama-sama boleh mendoakan anak?

Tentu. Ibu dan ayah sama-sama dapat memohon agar anak menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan serta keteladanan yang baik.

Bolehkah berdoa agar anak menjadi penghafal Al-Qur'an?

Boleh. Orang tua dapat memohon agar anak mencintai Al-Qur'an, dimudahkan menghafalnya, memahami ajarannya, serta mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Permohonan tersebut hendaknya disertai pendampingan yang baik, pembelajaran sesuai kemampuan anak, dan penghargaan terhadap proses belajarnya.

Bagaimana jika anak belum menunjukkan perilaku saleh?

Jangan langsung berputus asa. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Orang tua dapat mengevaluasi pendekatan pendidikan, membuka komunikasi yang baik, memberikan nasihat secara bijaksana, dan terus mendoakan kebaikannya.

Jika masalah yang dihadapi cukup berat, orang tua juga dapat mencari bantuan dari guru, konselor, atau pembimbing agama yang kompeten.

Apakah pasangan yang belum memiliki anak boleh membaca doa memohon keturunan?

Boleh. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Zakaria AS dalam Surah Ali Imran ayat 38 atau doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100.

Di samping berdoa, pasangan dapat melakukan ikhtiar yang sesuai, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan. Belum hadirnya keturunan bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa doa seseorang tidak diterima Allah SWT.

Doa Bagian dari Pendidikan Anak

Memohon anak yang saleh dan salehah merupakan harapan yang dapat terus dipanjatkan oleh setiap orang tua Muslim. Al-Qur'an telah mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan untuk memohon keturunan yang baik, keluarga yang menenteramkan, serta anak-anak yang senantiasa menjaga ibadah.

Namun, doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Keteladanan orang tua, pendidikan agama, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Semoga Allah SWT menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, menjadikan keluarga sebagai penyejuk hati, serta membimbing anak-anak agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Amin ya Rabbal alamin.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

13/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Kelola Keuangan Sesuai Islam, Ini Enam Prinsip yang Perlu Diterapkan

MENGELOLA keuangan bukan hanya soal memastikan pemasukan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan. Bagi seorang Muslim, harta merupakan amanah dari Allah SWT yang perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik.

Karena itu, kelola keuangan Islam tidak hanya memperhatikan jumlah pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga sumber rezeki, prioritas kebutuhan, kewajiban terhadap keluarga, serta kepedulian kepada sesama.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir dalam menggunakan hartanya. Prinsip ini dapat menjadi dasar dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

1. Pastikan Penghasilan Sumber Halal

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber penghasilan. Sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, seorang Muslim perlu memastikan bahwa pekerjaan, usaha, perdagangan, maupun investasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya memperoleh makanan dari hasil usaha sendiri. Dalam Sunan Ibn Majah 2137 disebutkan bahwa makanan terbaik yang dikonsumsi seseorang adalah yang berasal dari hasil usahanya sendiri.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja perlu menjalankan tanggung jawab dengan amanah, sedangkan pelaku usaha harus menghindari penipuan, kecurangan, menyembunyikan cacat barang, maupun mengurangi timbangan.

Ketika menemukan transaksi yang meragukan, jangan terburu-buru mengejar keuntungan. Memahami akad, risiko, dan ketentuannya terlebih dahulu dapat membantu menjaga harta tetap berada dalam koridor yang baik.

2. Susun Anggaran dan Dahulukan Kebutuhan

Setelah memastikan sumber pendapatan, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaannya. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan.

Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan keluarga perlu menjadi prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah alokasi untuk keperluan lainnya disesuaikan dengan kemampuan.

Membedakan kebutuhan dan keinginan juga penting. Membeli sesuatu karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda promosi atau ingin mengikuti tren.

Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Catatan di buku, spreadsheet, maupun aplikasi keuangan sudah cukup untuk membantu mengevaluasi pola pengeluaran dan menemukan pos yang dapat dikurangi.

3. Hindari Pemborosan dan Utang Konsumtif

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam menggunakan harta. Karena itu, pembelian impulsif dan gaya hidup berlebihan perlu dihindari.

Diskon atau promosi memang dapat menghemat pengeluaran jika barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, membeli sesuatu hanya karena harganya sedang murah tetap dapat membuat keuangan menjadi tidak sehat.

Penggunaan utang juga perlu dipertimbangkan dengan matang. Seorang Muslim perlu memahami akad dan konsekuensi finansial sebelum mengambil utang, terutama jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya berada di luar kemampuan.

Hidup sesuai kemampuan bukan berarti harus mengurangi seluruh kenyamanan. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, seseorang dapat memenuhi kebutuhan secara lebih tenang tanpa terbebani pengeluaran yang tidak perlu.

4. Siapkan Tabungan dan Dana Darurat

Selain memenuhi kebutuhan hari ini, pengelolaan keuangan juga perlu memperhatikan kebutuhan di masa depan. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dapat membantu menghadapi berbagai keperluan yang sudah direncanakan.

Dana darurat juga penting untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendesak.

Perencanaan jangka panjang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, misalnya untuk pendidikan anak, tempat tinggal, maupun kebutuhan masa pensiun. Tidak perlu memulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.

5. Sisihkan Harta untuk Zakat, Infak, dan Sedekah

Harta dalam Islam tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban dan kepedulian sosial yang perlu diperhatikan, termasuk zakat bagi harta yang telah memenuhi ketentuannya.

Zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, nisab, haul, kadar, serta golongan penerima. Karena itu, perhitungannya perlu dilakukan sesuai ketentuan syariat.

Selain zakat, infak dan sedekah dapat menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan sesuai kemampuan. Kebiasaan berbagi mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Dengan memasukkan zakat, infak, dan sedekah dalam perencanaan keuangan, pengelolaan harta tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ibadah.

6. Bangun Komunikasi Keuangan dalam Keluarga

Pengelolaan keuangan juga berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami dan istri dapat membicarakan pemasukan, kebutuhan, kewajiban, tabungan, serta tujuan finansial keluarga secara terbuka.

Setiap keluarga tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tidak ada satu pola anggaran yang harus diterapkan oleh semua orang. Yang penting adalah menjaga prinsip halal, bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan.

Anak juga dapat dikenalkan dengan kebiasaan finansial sejak dini. Misalnya dengan mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta mengenalkan pentingnya berbagi.

Evaluasi sederhana setiap bulan dapat membantu keluarga mengetahui kondisi keuangannya. Periksa kembali pemasukan, pengeluaran terbesar, jumlah tabungan, kewajiban yang telah dibayarkan, dan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pada akhirnya, kelola keuangan Islam bukan semata-mata tentang bagaimana memiliki lebih banyak uang. Lebih dari itu, pengelolaan harta diarahkan agar kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara yang halal, keluarga tetap terjaga, dan sebagian rezeki dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Dengan mengatur pemasukan secara bijak, menghindari pemborosan, mempersiapkan masa depan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah, harta dapat dikelola sebagai amanah sekaligus menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01
Menjaga Adab dan Akhlak, Cerminan Kehidupan Seorang Muslim

DALAM Islam, adab dan akhlak tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah kepada Allah SWT juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, rekan kerja, hingga masyarakat di sekitarnya.

Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam hal akhlak. Beliau mengajarkan kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang dalam berinteraksi dengan sesama. Karena itu, menjaga perilaku bukan sekadar menunjukkan kepribadian yang baik, tetapi juga bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Adab dan Akhlak dalam Islam

Menjaga adab berarti berusaha menempatkan perkataan, sikap, dan tindakan sesuai dengan tuntunan Islam. Hal tersebut dapat dimulai dari perkara sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak, serta membantu mereka yang membutuhkan.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang menjaga lisannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman untuk saling mengejek, mencela, maupun memanggil orang lain dengan gelar yang buruk.

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati dalam berbicara. Perkataan yang kasar, hinaan, fitnah, atau ucapan yang menyakiti orang lain dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Menjaga adab juga berarti mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Saat marah atau berbeda pendapat, seseorang perlu berusaha menahan emosi agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Kedudukan Penting Akhlak Baik

Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang membiasakan perkataan keji.

Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara sederhana, melainkan memiliki nilai besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini mengajarkan bahwa keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan rasa aman, bukan justru menimbulkan kerugian atau ketakutan bagi orang lain.

Dengan demikian, akhlak yang baik tidak cukup hanya terlihat dalam aktivitas ibadah. Nilainya perlu hadir dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

Menerapkan Adab dalam Kehidupan

Di lingkungan keluarga, menjaga adab dapat dimulai dengan menghormati orang tua, memperlakukan pasangan dan saudara dengan baik, serta membangun komunikasi tanpa penghinaan maupun kekerasan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak dapat diwujudkan dengan menghormati tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan menghargai perbedaan.

Begitu pula di tempat kerja atau sekolah. Bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, menjaga amanah, serta tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari penerapan akhlak Islam.

Adab juga berlaku di ruang digital. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang bebas menghina, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Menjaga perilaku di media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak dalam kehidupan modern.

Membiasakan Diri Berakhlak Baik

Menjaga adab membutuhkan latihan dan konsistensi. Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki niat. Berbuat baik kepada orang lain seharusnya dilakukan karena mengharap rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian.

Kebiasaan menjaga lisan juga perlu dilatih. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, kita dapat mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Mempelajari kehidupan Rasulullah SAW dapat menjadi cara lain untuk memahami bagaimana akhlak diterapkan dalam berbagai situasi. Keteladanan beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, maupun orang yang berbeda pendapat dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi diri juga penting. Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Pada akhirnya, menjaga adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam perilaku nyata.

Meneladani Rasulullah SAW berarti terus berusaha menjadi pribadi yang jujur, sabar, lembut, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain. Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk menjaga lisan, memperbaiki perilaku, menghormati sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.***

Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut:

BSI: 7711664477
Bank Lampung: 3800003031093
BCA Syariah: 0660170101
Bank Syariah Nasional: 8171000036.

a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***

08/10/2026 | Kontributor: MBL-01

Artikel Terbaru

Zakat Anda, Harapan Baru bagi Sesama yang Membutuhkan
Zakat Anda, Harapan Baru bagi Sesama yang Membutuhkan
ZAKAT bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan setiap kali harta telah memenuhi syarat. Di balik setiap zakat yang dikeluarkan, ada harapan yang tumbuh bagi mereka yang tengah menghadapi berbagai keterbatasan hidup. Bagi sebagian orang, zakat mungkin hanya sejumlah angka yang dipotong dari penghasilan. Namun bagi mustahik, zakat bisa menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, melanjutkan pendidikan, hingga memulai kehidupan yang lebih baik. Melalui zakat, Islam mengajarkan bahwa harta yang dimiliki bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga memiliki hak yang harus disampaikan kepada mereka yang berhak menerimanya. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim tidak hanya menyempurnakan ibadahnya kepada Allah SWT, tetapi juga ikut menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Zakat, Kewajiban yang Sarat Makna Sebagai salah satu rukun Islam, zakat memiliki kedudukan yang sangat penting. Kewajiban ini menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus sarana membersihkan harta dan jiwa. Allah SWT memerintahkan setiap muslim yang telah memenuhi nisab untuk menunaikan zakat sebagai wujud syukur atas rezeki yang diberikan-Nya. Lebih dari itu, zakat menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan. Harta yang ditunaikan akan disalurkan kepada delapan golongan mustahik sesuai ketentuan syariat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan. Zakat Menghadirkan Harapan bagi Mustahik Dana zakat yang dikelola secara amanah mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat yang membutuhkan. Mulai dari keluarga prasejahtera yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, anak-anak dhuafa yang membutuhkan dukungan pendidikan, hingga masyarakat yang sedang menghadapi kondisi darurat akibat bencana atau musibah. Melalui berbagai program pemberdayaan, zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga membuka peluang agar mustahik dapat hidup lebih mandiri. Bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, beasiswa pendidikan, hingga layanan kesehatan menjadi bentuk nyata pemanfaatan dana zakat yang memberikan dampak berkelanjutan. Dampak Kecil yang Menghasilkan Perubahan Besar Besar kecilnya nominal zakat yang ditunaikan mungkin terasa sederhana bagi seorang muzaki. Namun ketika dihimpun bersama zakat dari banyak orang dan dikelola secara profesional, manfaatnya menjadi sangat luas. Dana zakat dapat membantu membiayai pendidikan anak-anak dhuafa, mendukung pelaku usaha kecil agar lebih mandiri, menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu, hingga menghadirkan berbagai program sosial dan kemanusiaan di seluruh Indonesia. Inilah bukti bahwa zakat bukan sekadar ibadah personal, tetapi juga menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan perubahan sosial secara nyata. Menunaikan Zakat Kini Semakin Mudah Perkembangan teknologi membuat proses pembayaran zakat menjadi semakin praktis. Melalui layanan digital BAZNAS, masyarakat dapat menghitung besaran zakat, memilih jenis zakat yang ingin ditunaikan, hingga melakukan pembayaran secara aman melalui berbagai metode, seperti transfer bank, dompet digital, maupun QRIS. Kemudahan ini diharapkan dapat mendorong semakin banyak masyarakat untuk menunaikan zakat tepat waktu, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh para mustahik yang membutuhkan. Jadikan Zakat sebagai Jalan Kebaikan Setiap zakat yang ditunaikan bukan hanya menyempurnakan kewajiban sebagai seorang muslim, tetapi juga menjadi ikhtiar menghadirkan harapan bagi sesama. Di balik setiap rupiah yang disalurkan, ada keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, anak-anak yang bisa terus mengenyam pendidikan, serta masyarakat yang memiliki kesempatan untuk bangkit menuju kehidupan yang lebih baik. Saatnya tunaikan zakat melalui BAZNAS agar amanah yang dititipkan dapat dikelola secara profesional, transparan, dan disalurkan kepada mereka yang benar-benar berhak menerima. Dengan zakat, kita tidak hanya berbagi rezeki, tetapi juga ikut membangun masa depan yang lebih baik bagi umat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL03/08/2026 | MBL-01
Bulan Safar Jadi Momentum Berbagi: Raih Keberkahan Menebar Kebaikan
Bulan Safar Jadi Momentum Berbagi: Raih Keberkahan Menebar Kebaikan
MASIH ada sebagian masyarakat yang mengaitkan bulan Safar dengan berbagai mitos, seperti datangnya kesialan atau musibah. Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa kesialan, termasuk bulan Safar. Sebaliknya, bulan Safar dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, salah satunya dengan berbagi kepada sesama. Berbagi tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga merupakan ibadah yang mendatangkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Memahami Bulan Safar dalam Perspektif Islam Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab meyakini bahwa Safar adalah bulan yang membawa nasib buruk. Namun, Islam datang untuk meluruskan anggapan tersebut. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada burung hantu pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa seorang Muslim tidak boleh mempercayai tahayul atau mengaitkan suatu waktu dengan kesialan. Semua yang terjadi berada dalam ketetapan Allah SWT. Karena itu, bulan Safar hendaknya diisi dengan berbagai amal kebaikan, seperti bersedekah, membantu sesama, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas ibadah. Berbagi sebagai Wujud Ketaatan kepada Allah SWT Berbagi merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Perintah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan berlaku sepanjang waktu, termasuk pada bulan Safar. Dengan memperbanyak sedekah dan membantu sesama, seorang Muslim menunjukkan keyakinannya bahwa keberkahan hidup datang dari Allah SWT, bukan dipengaruhi oleh mitos tentang waktu atau bulan tertentu. Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat tersebut mengajarkan bahwa setiap sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan memperoleh balasan yang berlipat ganda. Menghapus Mitos dengan Menebarkan Kebaikan Salah satu hikmah berbagi di bulan Safar adalah memperkuat keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang menentukan segala sesuatu. Ketika seseorang tetap bersedekah, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin, atau berbagi kepada mereka yang membutuhkan pada bulan Safar, ia sekaligus menunjukkan bahwa dirinya tidak mempercayai mitos kesialan yang berkembang di masyarakat. Semangat berbagi menjadi bukti bahwa seorang Muslim lebih memilih memperkuat tauhid melalui amal saleh daripada mempercayai keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam syariat. Berbagi kepada Mereka yang Membutuhkan Islam sangat menganjurkan umatnya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, terutama fakir miskin. Bantuan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari makanan, sembako, pakaian, hingga dukungan kebutuhan sehari-hari. Selain memberikan manfaat bagi penerima, berbagi juga menghadirkan ketenangan hati, menumbuhkan rasa syukur, serta mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat. Menyantuni Anak Yatim Anak yatim memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW bahkan menjanjikan kedekatan di surga bagi orang yang memelihara dan menyayangi mereka. Momentum bulan Safar dapat dimanfaatkan untuk memberikan santunan berupa kebutuhan sekolah, makanan, bantuan pendidikan, maupun kebutuhan lainnya. Kepedulian tersebut menjadi salah satu bentuk amal yang memberikan manfaat besar bagi kehidupan mereka. Mempererat Ukhuwah Islamiyah Berbagi tidak selalu harus berupa materi. Memberikan tenaga, ilmu, perhatian, maupun doa kepada sesama juga termasuk bentuk sedekah yang bernilai ibadah. Sikap saling membantu akan memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, sehingga saling menolong merupakan bagian dari ajaran Islam. Sedekah Membawa Keberkahan Rezeki Sebagian orang masih khawatir hartanya akan berkurang karena bersedekah. Padahal, Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, Allah SWT akan memberikan balasan berupa keberkahan, ketenangan hidup, kemudahan rezeki, maupun nikmat lainnya yang tidak selalu diukur dari bertambahnya jumlah harta. Menumbuhkan Rasa Syukur Berbagi juga mengajarkan seseorang untuk lebih bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Ketika melihat masih banyak saudara yang hidup dalam keterbatasan, seseorang akan semakin menyadari besarnya karunia yang dimilikinya. Rasa syukur inilah yang menjadi salah satu jalan datangnya tambahan nikmat dari Allah SWT. Bentuk Kebaikan yang Dapat Dilakukan di Bulan Safar Ada banyak cara untuk mengisi bulan Safar dengan amal saleh, di antaranya: Bersedekah kepada fakir miskin. Menyantuni anak yatim. Berbagi makanan kepada tetangga atau masyarakat yang membutuhkan. Membantu biaya pendidikan santri maupun pelajar. Berdonasi untuk pembangunan masjid. Mewakafkan Al-Qur'an. Membantu korban bencana. Menyalurkan paket sembako. Membantu keluarga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Memberikan bantuan kepada orang sakit atau lanjut usia. Seluruh amalan tersebut akan bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Adab Berbagi dalam Islam Agar sedekah dan bantuan yang diberikan semakin bernilai di sisi Allah SWT, seorang Muslim hendaknya memperhatikan beberapa adab, di antaranya: Meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT. Tidak mengungkit pemberian. Menjaga perasaan penerima bantuan. Memberikan harta yang halal dan baik. Bersikap ramah serta santun kepada penerima. Menjauhi sikap riya atau pamer. Bersyukur karena masih diberi kemampuan untuk membantu orang lain. Dengan menjaga adab tersebut, amal berbagi menjadi lebih sempurna dan membawa keberkahan bagi pemberi maupun penerima. Jadikan Bulan Safar sebagai Momentum Menebar Manfaat Bulan Safar bukanlah bulan yang harus ditakuti, melainkan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh dan memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Tidak ada keutamaan khusus berbagi yang hanya berlaku pada bulan Safar, tetapi menjadikannya sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama merupakan langkah yang baik. Dari isi bulan Safar dengan memperbanyak sedekah, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, mendukung program kemanusiaan, serta menebarkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan berbagi melalui BAZNAS, Anda turut menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan sekaligus meraih keberkahan dan pahala yang terus mengalir dari Allah SWT.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/07/2026 | MBL-01
Sedekah di Bulan Safar: Cara Berbagi Lebih Bermakna dan Penuh Berkah
Sedekah di Bulan Safar: Cara Berbagi Lebih Bermakna dan Penuh Berkah
BERSEDEKAH merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, sedekah juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama. Ibadah ini dapat dilakukan kapan saja, termasuk di bulan Safar, karena tidak ada larangan maupun anggapan khusus dalam syariat yang membatasi seseorang untuk berbuat baik pada bulan tersebut. Masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan bulan Safar dengan berbagai mitos tentang kesialan. Padahal, Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Oleh sebab itu, bulan Safar justru dapat dijadikan sebagai momentum untuk memperbanyak amal saleh, termasuk sedekah. Dengan memahami cara bersedekah yang tepat, setiap bantuan yang diberikan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang nyata bagi mereka yang membutuhkan. Bulan Safar Bukan Bulan Kesialan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab percaya bahwa bulan ini membawa kesialan dan musibah. Namun, Islam datang untuk meluruskan anggapan tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada bulan Safar. Seorang Muslim diajarkan untuk bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT, bukan kepada waktu, tempat, maupun benda tertentu. Karena itu, bulan Safar memiliki kedudukan yang sama dengan bulan-bulan lainnya, yaitu sebagai kesempatan untuk meningkatkan ibadah, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak amal kebaikan. Mengapa Bersedekah di Bulan Safar Tetap Dianjurkan? Islam mendorong umatnya untuk bersedekah sepanjang waktu. Tidak ada dalil yang melarang sedekah pada bulan Safar. Justru, memperbanyak amal baik pada bulan ini menjadi salah satu cara untuk menghilangkan keyakinan yang bertentangan dengan ajaran tauhid. Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda, tanpa dibatasi oleh waktu atau bulan tertentu. Cara Bersedekah agar Tepat Sasaran Sedekah bukan hanya tentang seberapa besar nilai yang diberikan, tetapi juga bagaimana bantuan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi penerimanya. Berikut beberapa hal yang dapat diperhatikan. 1. Awali dengan Niat yang Ikhlas Setiap amal bergantung pada niatnya. Bersedekahlah semata-mata karena mengharap rida Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Keikhlasan akan menjadikan sedekah lebih bernilai sekaligus menjaga hati dari sifat riya. 2. Prioritaskan Mereka yang Paling Membutuhkan Agar manfaat sedekah lebih optimal, utamakan penerima yang benar-benar membutuhkan, seperti: Fakir dan miskin. Anak yatim. Janda yang mengalami kesulitan ekonomi. Lansia yang hidup sebatang kara. Penyandang disabilitas. Korban bencana. Santri atau pelajar yang membutuhkan bantuan pendidikan. Dengan penyaluran yang tepat, sedekah dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi kehidupan penerima. 3. Pastikan Harta Berasal dari Sumber yang Halal Islam mengajarkan bahwa sedekah hendaknya berasal dari harta yang diperoleh dengan cara yang halal. Harta yang baik akan menghadirkan keberkahan, baik bagi pemberi maupun penerima. 4. Dahulukan Keluarga yang Membutuhkan Apabila terdapat kerabat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, membantu mereka menjadi salah satu bentuk sedekah yang sangat dianjurkan. Selain meringankan beban keluarga, hal ini juga mempererat tali silaturahmi. 5. Bersedekah Sesuai Kemampuan Sedekah tidak harus bernilai besar. Allah SWT tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Berbagi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti uang, makanan, pakaian, tenaga, ilmu, maupun waktu. Yang terpenting adalah dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Pilihan Sedekah yang Bisa Dilakukan di Bulan Safar Ada banyak cara untuk menebarkan kebaikan selama bulan Safar, di antaranya: Berbagi makanan kepada fakir miskin, tetangga, santri, atau musafir. Menyantuni anak yatim melalui bantuan pendidikan maupun kebutuhan sehari-hari. Berpartisipasi dalam pembangunan atau renovasi masjid. Mewakafkan Al-Qur'an ke masjid, musala, atau lembaga pendidikan Islam. Membantu korban bencana melalui bantuan logistik maupun dana kemanusiaan. Seluruh bentuk bantuan tersebut dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT apabila dilakukan dengan niat yang tulus. Hindari Hal-Hal yang Dapat Mengurangi Nilai Sedekah Agar sedekah semakin sempurna, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari, antara lain: Bersedekah karena ingin dipuji atau dilihat orang lain. Mengungkit bantuan yang telah diberikan. Memberikan barang yang sudah tidak layak pakai. Bersikap kasar atau merendahkan penerima bantuan. Islam mengajarkan bahwa sedekah hendaknya diberikan dengan penuh penghormatan dan menjaga martabat orang yang menerimanya. Hikmah Bersedekah di Bulan Safar Membiasakan diri untuk bersedekah pada bulan Safar akan menghadirkan banyak manfaat, di antaranya: Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT. Memperkuat kepedulian sosial. Meluruskan pemahaman bahwa bulan Safar bukan bulan kesialan. Meringankan beban saudara yang membutuhkan. Mempererat ukhuwah Islamiyah. Mendatangkan ketenangan hati. Membuka pintu rezeki yang penuh keberkahan. Menjadi bekal amal untuk kehidupan akhirat. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Semua hikmah tersebut dapat dirasakan apabila sedekah dilakukan dengan penuh keikhlasan dan mengikuti tuntunan syariat. Agar Sedekah Memberikan Manfaat yang Lebih Luas Supaya sedekah yang ditunaikan semakin tepat sasaran, ada beberapa hal yang dapat dilakukan: Pastikan bantuan diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Salurkan melalui lembaga zakat yang amanah apabila tidak dapat menyalurkannya secara langsung. Prioritaskan kebutuhan pokok seperti pangan, pendidikan, dan layanan kesehatan. Jadikan sedekah sebagai kebiasaan, meskipun jumlahnya tidak besar. Jaga kerahasiaan sedekah agar terhindar dari riya. Sertai sedekah dengan doa agar penerima memperoleh keberkahan dan kemudahan dalam hidupnya. Jadikan Bulan Safar sebagai Momentum Menebar Kebaikan Bulan Safar bukanlah bulan yang perlu ditakuti, melainkan kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amal saleh. Salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah bersedekah kepada sesama dengan cara yang tepat dan penuh keikhlasan. Mari manfaatkan bulan Safar untuk memperbanyak sedekah, membantu mereka yang membutuhkan, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Dengan menyalurkan sedekah melalui BAZNAS, Anda turut mendukung berbagai program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah, sehingga setiap kebaikan yang ditunaikan dapat menjadi jalan menuju keberkahan hidup dan bekal terbaik di akhirat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/07/2026 | MBL-01
Bulan Safar Bukan Bulan Sial, Ini Keutamaan Sedekah untuk Kehidupan Dunia dan Akhirat
Bulan Safar Bukan Bulan Sial, Ini Keutamaan Sedekah untuk Kehidupan Dunia dan Akhirat
SEDEKAH merupakan salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Selain menjadi wujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, sedekah juga mencerminkan kepedulian terhadap sesama sekaligus menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Amalan ini dapat dilakukan kapan saja, termasuk pada bulan Safar. Masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan bulan Safar dengan berbagai mitos tentang kesialan. Padahal, Islam telah menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa kesialan. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT yang dapat diisi dengan amal saleh dan berbagai kebaikan. Karena itu, bulan Safar dapat menjadi momentum untuk semakin meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah. Amalan ini bukan dilakukan karena keyakinan untuk menolak kesialan, melainkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT yang diharapkan membawa keberkahan, pahala, serta manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Memahami Bulan Safar dalam Pandangan Islam Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab meyakini bahwa bulan ini identik dengan musibah dan kesialan sehingga mereka menghindari berbagai aktivitas penting. Namun, Rasulullah SAW meluruskan keyakinan tersebut. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, beliau bersabda bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar. Hadis ini menjadi penegasan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena waktu atau bulan tertentu. Dengan demikian, bulan Safar memiliki kedudukan yang sama seperti bulan-bulan lainnya, yaitu sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah, mempererat silaturahmi, dan menebarkan manfaat kepada sesama. Sedekah Dianjurkan Sepanjang Waktu Islam mendorong umatnya untuk gemar bersedekah tanpa dibatasi waktu tertentu. Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya. Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan memperoleh pahala yang besar, termasuk ketika dilakukan pada bulan Safar. Manfaat Sedekah bagi Kehidupan Dunia 1. Membawa Keberkahan Rezeki Banyak orang khawatir bahwa sedekah akan mengurangi harta yang dimiliki. Padahal, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sedekah tidak akan mengurangi kekayaan seseorang. Sebaliknya, Allah SWT akan menggantinya dengan rezeki yang lebih baik, baik berupa harta, kesehatan, kemudahan, maupun keberkahan dalam kehidupan. 2. Menyucikan Harta dan Hati Sedekah menjadi salah satu cara untuk membersihkan harta sekaligus melatih diri agar terhindar dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Dengan berbagi kepada sesama, seorang Muslim menyadari bahwa setiap rezeki yang dimiliki merupakan titipan Allah SWT yang di dalamnya terdapat hak orang lain. 3. Memperkuat Kepedulian Sosial Sedekah tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga mempererat hubungan antarsesama. Bantuan kepada fakir miskin, anak yatim, maupun kaum dhuafa menjadi bentuk nyata kepedulian yang dapat memperkuat rasa persaudaraan dalam masyarakat. 4. Memberikan Ketenangan Hati Orang yang gemar berbagi umumnya memiliki hati yang lebih lapang. Mereka tidak mudah merasa takut kehilangan harta karena yakin bahwa segala rezeki berasal dari Allah SWT dan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. Ketenangan batin inilah yang menjadi salah satu nikmat paling berharga dalam kehidupan. 5. Menjadi Sebab Datangnya Perlindungan Allah SWT Dalam berbagai hadis dijelaskan bahwa sedekah dapat menjadi salah satu sebab datangnya pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Namun, perlu dipahami bahwa sedekah bukan dilakukan karena menganggap bulan Safar membawa kesialan. Sedekah merupakan amal saleh yang dianjurkan sepanjang waktu dan dapat menjadi jalan bagi seorang hamba untuk memperoleh rahmat serta perlindungan dari Allah SWT. Manfaat Sedekah sebagai Bekal Akhirat 1. Mendapatkan Pahala yang Berlipat Setiap sedekah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan dicatat sebagai amal kebaikan. Bahkan, sedekah jariyah akan terus mengalirkan pahala selama manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain. 2. Mendapat Naungan di Hari Kiamat Rasulullah SAW menjelaskan bahwa salah satu golongan yang memperoleh naungan Allah SWT pada Hari Kiamat adalah mereka yang bersedekah secara ikhlas hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya. Hal ini menunjukkan betapa besar keutamaan sedekah di sisi Allah SWT. 3. Menjadi Sebab Diampuninya Dosa Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa sedekah dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Meski demikian, penghapusan dosa ini berkaitan dengan dosa kepada Allah SWT, sedangkan kesalahan terhadap sesama manusia tetap harus diselesaikan dengan meminta maaf dan mengembalikan hak yang bersangkutan. 4. Menjadi Bekal Menuju Surga Sedekah merupakan investasi amal yang nilainya tidak akan pernah hilang. Allah SWT menjanjikan balasan terbaik bagi hamba-hamba yang gemar berinfak dan berbagi kepada sesama dengan penuh keikhlasan. Bentuk Sedekah yang Dapat Diamalkan Ada banyak cara untuk berbagi kepada sesama, di antaranya: Memberikan makanan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa. Menyantuni anak yatim. Membantu biaya pendidikan santri atau pelajar. Berpartisipasi dalam pembangunan masjid. Mewakafkan Al-Qur'an. Membantu korban bencana dan krisis kemanusiaan. Menyediakan air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan. Membagikan pakaian layak pakai. Membantu tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Seluruh bentuk kebaikan tersebut bernilai ibadah apabila dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Adab Bersedekah dalam Islam Agar sedekah semakin bernilai di sisi Allah SWT, beberapa adab berikut perlu diperhatikan: Meluruskan niat hanya karena Allah SWT. Memberikan harta yang diperoleh secara halal. Tidak mengungkit bantuan yang telah diberikan. Menjaga perasaan dan kehormatan penerima. Mendahulukan keluarga yang membutuhkan. Membiasakan diri bersedekah secara rutin, meskipun jumlahnya tidak besar. Dengan menjaga adab tersebut, sedekah tidak hanya menjadi amal yang berpahala, tetapi juga menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Meluruskan Pemahaman tentang Bulan Safar Masih ada anggapan bahwa bulan Safar identik dengan kesialan sehingga sebagian orang melakukan ritual tertentu untuk menghindari musibah. Dalam Islam, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar yang sahih. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada bulan Safar. Karena itu, seorang Muslim hendaknya mengisi bulan ini dengan memperbanyak doa, ibadah, dan amal saleh, termasuk sedekah, sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT. Jadikan Sedekah sebagai Kebiasaan Agar lebih istiqamah dalam berbagi, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, seperti menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin, menentukan target sedekah setiap pekan, mengajak keluarga untuk ikut berbagi, serta menyalurkan sedekah melalui lembaga yang amanah agar manfaatnya lebih tepat sasaran. Sedekah bukan sekadar membantu memenuhi kebutuhan sesama, tetapi juga menjadi investasi amal yang membawa keberkahan bagi kehidupan dunia dan akhirat. Mari Tebar Kebaikan di Bulan Safar Bulan Safar bukanlah bulan yang harus ditakuti, melainkan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh dan memperkuat kepedulian kepada sesama. Dengan bersedekah, seorang Muslim tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga membersihkan harta, memperoleh keberkahan rezeki, serta mempersiapkan bekal terbaik menuju akhirat. Salurkan sedekah Anda melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan. Bersama BAZNAS, setiap kebaikan yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah dan disalurkan melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan dakwah demi mewujudkan kesejahteraan umat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/07/2026 | MBL-01
Amalan Sunnah di Bulan Safar: Momentum Memperbanyak Ibadah dan Menepis Mitos
Amalan Sunnah di Bulan Safar: Momentum Memperbanyak Ibadah dan Menepis Mitos
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos, seperti anggapan sebagai bulan yang membawa kesialan. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa Safar adalah bulan yang harus ditakuti. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada bulan tertentu. Karena itu, Bulan Safar sepatutnya disikapi sebagaimana bulan-bulan lainnya, yaitu dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Meski tidak ada amalan khusus yang diwajibkan pada Bulan Safar, umat Islam dianjurkan untuk terus meningkatkan ibadah sunnah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Mengisi hari-hari di Bulan Safar dengan berbagai amal kebaikan menjadi cara terbaik untuk memperkuat keimanan sekaligus menjauhkan diri dari keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Memahami Bulan Safar dalam Islam Pada masa jahiliah, masyarakat Arab meyakini bahwa Bulan Safar identik dengan musibah sehingga mereka menghindari berbagai aktivitas penting, seperti bepergian, berdagang, maupun menikah. Islam kemudian meluruskan keyakinan tersebut melalui sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa tidak ada kesialan pada Bulan Safar. Hadis tersebut menjadi penegasan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh bulan atau waktu tertentu. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak perlu merasa khawatir memasuki Bulan Safar, melainkan menjadikannya sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh. Mengapa Perlu Memperbanyak Ibadah di Bulan Safar? Walaupun tidak memiliki ibadah yang dikhususkan, Bulan Safar tetap menjadi waktu yang baik untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT. Memperbanyak amalan sunnah dapat memberikan banyak manfaat, di antaranya: Menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Menghapus dosa-dosa kecil. Menenangkan hati dan pikiran. Memperbanyak pahala sebagai bekal di akhirat. Mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat. Amalan Sunnah yang Dianjurkan 1. Memperbanyak Sedekah Sedekah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan kapan pun, termasuk di Bulan Safar. Berbagi kepada fakir miskin, anak yatim, atau mereka yang membutuhkan menjadi wujud syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 bahwa orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Karena itu, jadikan sedekah sebagai kebiasaan, bukan karena menganggap Safar sebagai bulan penolak bala, melainkan sebagai bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. 2. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur'an Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi setiap muslim. Membiasakan membaca, memahami, dan mengamalkan isinya menjadi amalan yang sangat dianjurkan sepanjang tahun. Meluangkan waktu setiap hari untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an dapat meningkatkan keimanan sekaligus memberikan ketenangan hati. 3. Memperbanyak Zikir dan Istigfar Zikir dan istigfar menjadi amalan ringan, tetapi memiliki keutamaan yang besar. Membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, serta memohon ampun kepada Allah SWT dapat menjadi sarana membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah SAW sendiri senantiasa memperbanyak istigfar setiap hari sebagai teladan bagi umatnya. 4. Menjaga Salat Sunnah Selain salat wajib, umat Islam dianjurkan memperbanyak salat sunnah, seperti: Salat Tahajud. Salat Duha. Salat Rawatib. Salat Witir. Amalan-amalan tersebut menjadi pelengkap ibadah wajib sekaligus meningkatkan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. 5. Melaksanakan Puasa Sunnah Bulan Safar juga dapat diisi dengan berbagai puasa sunnah yang memang disyariatkan, seperti: Puasa Senin dan Kamis. Puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah apabila masih berada di Bulan Safar. Puasa Daud bagi yang mampu mengamalkannya. Puasa sunnah melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri. 6. Menjalin Silaturahmi Menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, maupun tetangga merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Silaturahmi tidak hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan rezeki dan umur sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW. 7. Membantu Sesama Berbuat baik kepada orang lain tidak selalu harus berupa materi. Memberikan tenaga, waktu, ilmu, perhatian, maupun dukungan kepada mereka yang membutuhkan juga termasuk amal saleh yang bernilai ibadah. Semakin banyak manfaat yang diberikan kepada sesama, semakin besar pula nilai kebaikan di sisi Allah SWT. 8. Menuntut Ilmu Agama Mengikuti kajian, membaca buku-buku keislaman, mempelajari tafsir Al-Qur'an, maupun mendengarkan ceramah menjadi cara yang baik untuk meningkatkan pemahaman agama. Ilmu yang dipelajari dan diamalkan akan menjadi bekal berharga dalam menjalani kehidupan. 9. Memperbanyak Doa Doa merupakan bentuk penghambaan seorang muslim kepada Allah SWT. Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk lebih banyak berdoa, memohon ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, serta keteguhan iman. Hikmah Memperbanyak Amalan Sunnah Membiasakan diri menjalankan amalan sunnah memberikan banyak manfaat, baik bagi kehidupan dunia maupun akhirat, antara lain: Meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT. Menambah pahala dan menghapus dosa. Membersihkan hati dari sifat iri, dengki, dan cinta dunia yang berlebihan. Membentuk akhlak yang lebih baik. Memberikan ketenangan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Meluruskan Anggapan tentang Bulan Safar Masih ada sebagian masyarakat yang menghindari berbagai aktivitas penting saat memasuki Bulan Safar karena menganggapnya sebagai bulan yang membawa kesialan. Dalam Islam, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar yang sahih. Seorang muslim tidak perlu menunda pernikahan, perjalanan, memulai usaha, maupun aktivitas lainnya hanya karena memasuki Bulan Safar. Yang lebih utama adalah memperkuat tawakal kepada Allah SWT dan mengisi waktu dengan amal saleh. Tips Agar Tetap Istikamah Beribadah Agar semangat beribadah tetap terjaga selama Bulan Safar maupun bulan-bulan berikutnya, beberapa langkah sederhana dapat diterapkan: Menyusun target ibadah harian. Menentukan waktu khusus untuk membaca Al-Qur'an. Membiasakan salat sunnah sebelum dan sesudah salat wajib. Menyisihkan sebagian rezeki untuk sedekah. Mengikuti kajian keislaman secara rutin. Mengajak keluarga beribadah bersama. Mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat. Memohon kepada Allah SWT agar diberikan keistiqamahan. Jadikan Safar sebagai Momentum Memperbanyak Amal Bulan Safar bukanlah bulan yang harus ditakuti, melainkan kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tidak ada amalan khusus yang diwajibkan, tetapi seluruh ibadah sunnah yang dianjurkan dalam Islam tetap dapat diamalkan untuk meningkatkan kualitas keimanan. Dengan memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, beristigfar, menjalankan salat dan puasa sunnah, mempererat silaturahmi, menuntut ilmu, serta membantu sesama, seorang muslim dapat mengisi Bulan Safar dengan berbagai kebaikan yang membawa keberkahan. Semoga setiap amal yang dilakukan menjadi bekal terbaik untuk meraih rida Allah SWT serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/07/2026 | MBL-01
Amalan Terbaik di Bulan Safar: Saatnya Memperbanyak Ibadah dan Menjemput Ridha Allah
Amalan Terbaik di Bulan Safar: Saatnya Memperbanyak Ibadah dan Menjemput Ridha Allah
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang masih sering dikaitkan dengan berbagai anggapan keliru di tengah masyarakat. Sebagian orang meyakini bahwa Safar identik dengan kesialan atau datangnya musibah. Padahal, Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa kesialan. Seluruh waktu yang Allah SWT ciptakan adalah kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada-Nya. Meski tidak ada ibadah khusus yang disyariatkan hanya pada Bulan Safar, umat Islam tetap dianjurkan memperbanyak berbagai amalan sunnah. Dengan mengisi hari-hari di Bulan Safar dengan ibadah dan kebaikan, seorang muslim dapat meningkatkan kualitas keimanan, meraih ketenangan hati, serta mengharapkan rida Allah SWT. Bulan Safar dalam Pandangan Islam Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalender Hijriah. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab menganggap Safar sebagai bulan yang membawa nasib buruk. Keyakinan tersebut membuat mereka menunda berbagai aktivitas penting, seperti bepergian, menikah, maupun berdagang. Islam kemudian meluruskan anggapan tersebut melalui sabda Rasulullah SAW: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial karena burung, tidak ada kesialan pada Bulan Safar, dan tidak ada hantu." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Karena itu, Bulan Safar tidak perlu disikapi dengan rasa takut, melainkan dijadikan momentum untuk memperbanyak amal saleh dan memperkuat ketakwaan. Mengapa Bulan Safar Layak Diisi dengan Amal Saleh? Setiap waktu adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Walaupun Bulan Safar tidak memiliki amalan khusus seperti Ramadan, memperbanyak ibadah pada bulan ini tetap menjadi pilihan yang sangat dianjurkan. Berbagai amalan sunnah yang dilakukan dengan ikhlas dapat memberikan banyak manfaat, di antaranya: meningkatkan keimanan dan ketakwaan; menambah pahala sebagai bekal akhirat; membersihkan hati dari sifat-sifat tercela; menghapus dosa-dosa kecil; mempererat hubungan dengan sesama; serta menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Amalan yang Dianjurkan Selama Bulan Safar 1. Memperbanyak Sedekah Sedekah merupakan salah satu amal yang paling dicintai Allah SWT. Selain membantu mereka yang membutuhkan, sedekah juga menjadi sarana menyucikan harta dan membersihkan hati dari sifat kikir. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 bahwa orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Karena itu, jadikan sedekah sebagai bentuk syukur dan kepedulian kepada sesama, bukan karena menganggap Bulan Safar sebagai bulan penolak bala. 2. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur'an Membaca Al-Qur'an setiap hari merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Tidak hanya membaca, memahami makna dan mengamalkan isi kandungannya juga menjadi bagian penting dalam membangun kualitas keimanan. Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup akan membawa ketenangan sekaligus petunjuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 3. Memperbanyak Zikir dan Istigfar Mengingat Allah SWT melalui zikir adalah amalan sederhana yang memiliki keutamaan besar. Bacaan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, maupun istigfar dapat diamalkan kapan saja. Istigfar juga menjadi sarana memohon ampun atas berbagai kesalahan. Rasulullah SAW sendiri senantiasa memperbanyak istigfar setiap hari sebagai teladan bagi umatnya. 4. Menjaga Salat Wajib dan Menambah Salat Sunnah Salat merupakan ibadah utama dalam Islam. Selain menjaga salat lima waktu, umat Islam juga dianjurkan membiasakan salat sunnah, seperti: Salat Tahajud; Salat Duha; Salat Rawatib; dan Salat Witir. Amalan-amalan tersebut menjadi pelengkap ibadah wajib sekaligus mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT. 5. Melaksanakan Puasa Sunnah Puasa sunnah juga dapat menjadi amalan yang mengisi Bulan Safar, di antaranya: Puasa Senin dan Kamis; Puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah apabila masih berada di Bulan Safar; serta Puasa Daud bagi yang mampu. Selain melatih kesabaran dan keikhlasan, puasa juga membantu membentuk pengendalian diri. 6. Menjalin Silaturahmi Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, tetangga, maupun sesama muslim. Silaturahmi menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan rezeki dan umur, sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah. 7. Membantu Sesama Berbuat baik tidak selalu harus berupa materi. Memberikan tenaga, waktu, ilmu, perhatian, maupun dukungan kepada orang lain juga termasuk amal saleh yang bernilai ibadah. Semakin banyak manfaat yang diberikan kepada sesama, semakin besar pula pahala yang diharapkan dari Allah SWT. 8. Menuntut Ilmu Agama Belajar agama merupakan kewajiban setiap muslim. Mengikuti kajian, membaca buku-buku keislaman, mempelajari tafsir Al-Qur'an, atau mendengarkan ceramah dapat menambah pemahaman sekaligus memperkuat keimanan. Ilmu yang benar akan membimbing seseorang dalam menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat. 9. Memperbanyak Doa Doa adalah bentuk penghambaan sekaligus wujud ketergantungan seorang hamba kepada Allah SWT. Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk lebih banyak memohon ampunan, kesehatan, kemudahan rezeki, keteguhan iman, serta keberkahan hidup. Hikmah Memperbanyak Amal Saleh Membiasakan diri melakukan berbagai amalan sunnah memberikan banyak manfaat, baik bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Di antaranya: semakin dekat dengan Allah SWT; memperoleh pahala yang berlimpah; membersihkan hati dari sifat iri, dengki, dan sombong; membentuk akhlak yang lebih baik; menghadirkan ketenangan batin; serta memperkuat rasa syukur atas setiap nikmat yang diberikan Allah SWT. Meluruskan Kesalahpahaman tentang Bulan Safar Sebagian masyarakat masih mengaitkan Bulan Safar dengan berbagai ritual penolak bala atau menghindari aktivitas tertentu karena takut tertimpa kesialan. Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Seorang muslim tidak perlu menunda pernikahan, perjalanan, memulai usaha, ataupun kegiatan baik lainnya hanya karena memasuki Bulan Safar. Yang dianjurkan justru memperbanyak ibadah, meningkatkan tawakal kepada Allah SWT, dan menjauhi keyakinan yang bertentangan dengan akidah. Tips Agar Tetap Istikamah Beribadah Agar semangat beribadah tetap terjaga selama Bulan Safar maupun bulan-bulan berikutnya, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan: membuat target ibadah harian; meluangkan waktu khusus untuk membaca Al-Qur'an; membiasakan salat sunnah setiap hari; menyisihkan sebagian rezeki untuk sedekah; mengikuti kajian keislaman secara rutin; mengajak keluarga beribadah bersama; memperbanyak doa memohon keistiqamahan; dan mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat. Jadikan Safar sebagai Awal Memperbaiki Diri Bulan Safar bukanlah bulan yang harus dihindari atau ditakuti. Sebaliknya, bulan ini menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amal saleh yang dianjurkan dalam Islam. Memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, beristigfar, menjaga salat, berpuasa sunnah, mempererat silaturahmi, membantu sesama, menuntut ilmu, dan memperbanyak doa merupakan amalan yang dapat dilakukan kapan saja, termasuk selama Bulan Safar. Semoga setiap amal yang kita lakukan menjadi jalan untuk meraih rida Allah SWT, menghadirkan keberkahan dalam kehidupan, serta menjadi bekal terbaik menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/07/2026 | MBL-01
Berbagi Rezeki di Bulan Safar: Amalan Mulia Mendatangkan Keberkahan
Berbagi Rezeki di Bulan Safar: Amalan Mulia Mendatangkan Keberkahan
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos, termasuk anggapan sebagai bulan yang membawa kesialan. Padahal, dalam ajaran Islam tidak terdapat dalil yang menyatakan bahwa Safar adalah bulan yang harus ditakuti. Rasulullah SAW justru menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada bulan tertentu. Karena itu, Bulan Safar hendaknya dijadikan sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, salah satunya dengan berbagi rezeki kepada sesama. Sedekah dan kepedulian sosial merupakan amalan yang dianjurkan sepanjang waktu serta menjadi bentuk syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Memahami Bulan Safar dalam Pandangan Islam Sebelum membahas keutamaan berbagi rezeki, penting untuk memahami kedudukan Bulan Safar dalam Islam. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab meyakini bahwa Safar adalah bulan yang membawa nasib buruk sehingga berbagai aktivitas penting sering ditunda. Islam datang meluruskan keyakinan tersebut. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tidak ada kesialan yang berasal dari Bulan Safar. Semua yang terjadi di dunia berlangsung atas kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh waktu atau bulan tertentu. Dengan pemahaman ini, umat Islam diajak mengisi Bulan Safar dengan amal ibadah, memperkuat silaturahmi, memperbanyak doa, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Mengapa Berbagi Rezeki Dianjurkan? Berbagi rezeki merupakan salah satu bentuk ibadah yang mencerminkan rasa syukur sekaligus kepedulian sosial. Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, ia tidak hanya meringankan beban sesama, tetapi juga membersihkan hartanya dari hak-hak yang harus ditunaikan. Semangat berbagi tidak dibatasi oleh waktu tertentu. Oleh karena itu, memperbanyak sedekah pada Bulan Safar bukan karena bulan tersebut memiliki keistimewaan khusus, melainkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT yang dapat dilakukan kapan saja. Keutamaan Berbagi Rezeki di Bulan Safar Berikut beberapa manfaat yang dapat dirasakan ketika membiasakan diri berbagi rezeki kepada sesama. 1. Mendapatkan Pahala yang Berlipat Allah SWT menjanjikan balasan yang besar bagi setiap hamba yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya. Berapa pun nilai sedekah yang diberikan, selama dilakukan dengan ikhlas, akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. 2. Membersihkan Hati dan Harta Berbagi rezeki menjadi sarana menyucikan harta sekaligus melatih diri agar terhindar dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Dengan menyadari bahwa harta hanyalah titipan, seseorang akan lebih mudah bersyukur atas nikmat yang dimilikinya. 3. Mendatangkan Keberkahan Rezeki Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, Allah SWT akan memberikan balasan berupa keberkahan, kemudahan, maupun rezeki yang lebih baik sesuai dengan kehendak-Nya. 4. Menumbuhkan Rasa Syukur Kebiasaan berbagi membuat seseorang lebih menyadari bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan. Kesadaran tersebut akan menumbuhkan rasa syukur sekaligus mendorong untuk terus memanfaatkan rezeki di jalan yang diridhai Allah SWT. 5. Mempererat Ukhuwah Islamiyah Sedekah juga menjadi sarana memperkuat hubungan antarsesama. Bantuan yang diberikan kepada keluarga, tetangga, maupun masyarakat yang membutuhkan dapat menumbuhkan rasa saling peduli dan mempererat persaudaraan. Bentuk Berbagi Rezeki yang Dapat Dilakukan Berbagi rezeki tidak selalu identik dengan memberikan uang. Ada banyak bentuk kebaikan yang dapat dilakukan, di antaranya: Menyediakan makanan bagi fakir miskin atau kaum dhuafa. Menyantuni anak yatim. Membantu biaya pendidikan bagi yang membutuhkan. Menyalurkan paket sembako kepada keluarga kurang mampu. Berdonasi untuk pembangunan masjid atau fasilitas ibadah. Membantu korban bencana dan krisis kemanusiaan. Memberikan ilmu atau keterampilan yang bermanfaat. Membantu tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Menyediakan air minum bagi musafir atau masyarakat. Menebarkan senyum, doa, dan ucapan yang baik sebagai bentuk sedekah nonmateri. Seluruh bentuk kebaikan tersebut memiliki nilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Meluruskan Mitos tentang Bulan Safar Sebagian masyarakat masih menghindari aktivitas tertentu pada Bulan Safar karena percaya akan membawa kesialan. Padahal, keyakinan seperti ini tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Seorang muslim tidak perlu menunda pernikahan, perjalanan, memulai usaha, ataupun aktivitas baik lainnya hanya karena memasuki Bulan Safar. Yang dianjurkan justru memperbanyak amal saleh, memperkuat tawakal kepada Allah SWT, serta menjauhkan diri dari keyakinan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Cara Membiasakan Diri Berbagi Rezeki Agar semangat berbagi terus terjaga, beberapa langkah berikut dapat diterapkan: Sisihkan sebagian penghasilan secara rutin untuk sedekah. Niatkan setiap pemberian semata-mata karena Allah SWT. Dahulukan keluarga atau kerabat yang membutuhkan. Salurkan bantuan melalui lembaga zakat yang amanah apabila tidak dapat menyalurkannya secara langsung. Jangan menunda kesempatan berbuat baik ketika mampu membantu. Jaga keikhlasan dan hindari sikap riya. Biasakan berbagi meskipun dengan nominal yang sederhana. Konsistensi dalam berbuat baik jauh lebih utama daripada amalan besar yang hanya dilakukan sesekali. Dampak Positif Berbagi bagi Kehidupan Sosial Selain menjadi ibadah, berbagi rezeki juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Bantuan yang disalurkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, meringankan beban fakir miskin dan anak yatim, mendukung akses pendidikan, serta memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Semakin banyak orang yang terbiasa berbagi, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh lingkungan sekitar. Jadikan Bulan Safar sebagai Momentum Menebar Kebaikan Bulan Safar bukanlah bulan yang identik dengan kesialan, melainkan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh dan memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan sebagai wujud syukur dan kepedulian sosial. Dengan membiasakan diri bersedekah, membantu sesama, dan menebarkan manfaat, seorang muslim tidak hanya memperoleh pahala dan keberkahan, tetapi juga ikut menghadirkan kebaikan yang dirasakan oleh masyarakat. Jadikan semangat berbagi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, tidak hanya pada Bulan Safar, tetapi sepanjang waktu demi meraih ridha Allah SWT.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/07/2026 | MBL-01
Peran Zakat Membantu Keluarga Prasejahtera Bangkit Menuju Kemandirian
Peran Zakat Membantu Keluarga Prasejahtera Bangkit Menuju Kemandirian
BAGI sebagian orang, pergantian bulan mungkin hanya berarti rutinitas baru. Namun, bagi banyak keluarga prasejahtera, awal bulan sering kali menjadi saat untuk menghitung kembali penghasilan yang terbatas dengan berbagai kebutuhan yang terus berdatangan. Kebutuhan pangan, biaya pendidikan anak, tagihan, hingga pengobatan harus dipenuhi dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu mencukupi. Di tengah situasi tersebut, zakat hadir sebagai salah satu instrumen yang memberikan harapan. Tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan mendesak, zakat juga membuka jalan bagi keluarga prasejahtera untuk bangkit dan membangun kehidupan yang lebih baik. Tantangan yang Dihadapi Keluarga Prasejahtera Keluarga yang termasuk dalam golongan mustahik umumnya menghadapi berbagai persoalan secara bersamaan. Kebutuhan sehari-hari sering kali belum terpenuhi secara optimal, sementara biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Di sisi lain, keterbatasan tabungan, minimnya akses terhadap pembiayaan yang layak, serta kurangnya modal maupun keterampilan membuat mereka sulit keluar dari kondisi tersebut. Bukan karena tidak memiliki kemauan untuk berusaha, tetapi karena kesempatan untuk memulai sering kali belum tersedia. Peran Zakat dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Zakat memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar memberikan bantuan sesaat. Pada tahap awal, zakat membantu memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, dan layanan kesehatan, sehingga keluarga mustahik dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Lebih dari itu, zakat juga menjadi sarana pemberdayaan yang mendorong kemandirian ekonomi. Bantuan modal usaha dapat membuka peluang bagi keluarga untuk memulai usaha kecil. Program beasiswa membantu anak-anak tetap memperoleh pendidikan yang layak, sementara pelatihan keterampilan memberikan bekal untuk meningkatkan kemampuan dan peluang kerja. Melalui pendekatan tersebut, zakat tidak hanya membantu mengatasi kesulitan saat ini, tetapi juga mendukung terciptanya perubahan yang berkelanjutan. Dampak Nyata bagi Keluarga Mustahik Manfaat zakat dapat dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan. Ada keluarga yang kini dapat mengakses layanan kesehatan tanpa harus terbebani utang. Ada anak-anak yang dapat melanjutkan pendidikan karena memperoleh bantuan biaya sekolah. Ada pula pelaku usaha kecil yang mampu mengembangkan usahanya setelah mendapatkan dukungan modal dan pendampingan. Perubahan-perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam waktu singkat. Namun, dengan penyaluran zakat yang tepat sasaran dan berkesinambungan, keluarga yang sebelumnya hanya mampu bertahan dapat mulai membangun kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera. Zakat sebagai Wujud Kepedulian Sosial Menunaikan zakat bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama. Setiap zakat yang ditunaikan berkontribusi dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, sekaligus mendukung berbagai program pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan umat. Melalui pengelolaan yang amanah, profesional, dan transparan, BAZNAS menyalurkan dana zakat kepada para mustahik melalui berbagai program di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan sosial. Dengan demikian, manfaat zakat dapat dirasakan secara lebih luas dan memberikan dampak yang berkelanjutan. Tunaikan Zakat, Hadirkan Harapan Baru Setiap zakat yang Anda tunaikan memiliki arti besar bagi keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar hingga program pemberdayaan ekonomi, zakat menjadi salah satu ikhtiar untuk menghadirkan harapan dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Melalui BAZNAS, zakat yang Anda percayakan akan disalurkan secara tepat sasaran kepada mereka yang berhak menerima. Satu langkah kebaikan hari ini dapat menjadi awal perubahan bagi keluarga prasejahtera untuk bertahan, bangkit, dan menatap masa depan dengan lebih optimistis.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/07/2026 | MBL-01
Zakat Membuka Jalan Pendidikan bagi Anak Dhuafa
Zakat Membuka Jalan Pendidikan bagi Anak Dhuafa
PENDIDIKAN merupakan hak setiap anak dan menjadi bekal penting untuk meraih masa depan yang lebih baik. Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan. Masih banyak anak dari keluarga dhuafa yang harus menghadapi berbagai keterbatasan hingga terancam putus sekolah. Dalam kondisi seperti inilah zakat hadir sebagai salah satu solusi yang membantu membuka akses pendidikan bagi mereka yang membutuhkan. Melalui pengelolaan zakat yang tepat sasaran, semakin banyak anak dhuafa dapat melanjutkan sekolah dan memiliki kesempatan untuk menggapai cita-citanya. Tantangan Pendidikan bagi Anak Dhuafa Bagi keluarga prasejahtera, memenuhi kebutuhan pendidikan anak sering kali menjadi tantangan yang tidak mudah. Biaya sekolah, perlengkapan belajar, seragam, hingga ongkos transportasi menjadi pengeluaran yang harus dipenuhi di tengah keterbatasan ekonomi. Selain persoalan biaya, anak-anak dhuafa juga kerap menghadapi lingkungan belajar yang kurang mendukung. Keterbatasan fasilitas, minimnya sarana belajar, hingga kondisi keluarga yang harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat memengaruhi semangat dan keberlangsungan pendidikan mereka. Tidak sedikit pula anak yang memilih berhenti sekolah karena merasa tidak ingin menambah beban orang tua. Padahal, mereka memiliki keinginan besar untuk terus belajar dan meraih masa depan yang lebih baik. Peran Zakat dalam Mendukung Pendidikan Zakat memiliki peran penting dalam membantu mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi anak-anak dhuafa. Melalui program pendidikan yang dikelola BAZNAS, dana zakat disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan, mulai dari beasiswa, perlengkapan sekolah, hingga dukungan biaya pendidikan lainnya. Selain bantuan finansial, program pendidikan juga dapat dilengkapi dengan pendampingan agar anak-anak mampu mengikuti proses belajar dengan lebih optimal. Upaya ini diharapkan tidak hanya membantu mereka tetap bersekolah, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan yang mereka terima. Bagi sebuah keluarga, hadirnya bantuan pendidikan dari zakat dapat mengurangi beban ekonomi sekaligus memberikan harapan baru agar anak-anak tetap memiliki kesempatan belajar. Dampak Jangka Panjang bagi Masa Depan Manfaat zakat di bidang pendidikan tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek. Anak yang memperoleh kesempatan untuk terus bersekolah memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan. Pendidikan membuka jalan menuju kesempatan kerja yang lebih baik, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta membantu memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Bahkan, bukan tidak mungkin anak-anak yang hari ini menerima manfaat zakat kelak tumbuh menjadi pribadi yang mampu membantu sesama melalui zakat yang mereka tunaikan. Dengan demikian, zakat untuk pendidikan memberikan dampak yang berkelanjutan, tidak hanya bagi penerima manfaat, tetapi juga bagi masyarakat secara luas. Salurkan Zakat Pendidikan Melalui BAZNAS Menunaikan zakat melalui BAZNAS merupakan salah satu cara untuk berkontribusi dalam mendukung pendidikan anak-anak dhuafa. Dana zakat yang dihimpun dikelola secara amanah, profesional, dan transparan, kemudian disalurkan kepada para penerima manfaat yang telah memenuhi ketentuan sebagai mustahik. Melalui berbagai program pendidikan, BAZNAS berupaya menghadirkan akses belajar yang lebih baik bagi anak-anak yang membutuhkan, sehingga mereka dapat terus menempuh pendidikan dan meraih masa depan yang lebih cerah. Jadikan Zakat sebagai Investasi Masa Depan Setiap zakat yang Anda tunaikan bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan pendidikan hari ini, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan generasi penerus bangsa. Kesempatan belajar yang diberikan melalui zakat dapat membuka jalan bagi lahirnya generasi yang lebih mandiri, berdaya, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Mari tunaikan zakat melalui BAZNAS dan bersama-sama membantu anak-anak dhuafa memperoleh hak mereka untuk belajar, tumbuh, dan menggapai cita-cita.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL29/07/2026 | MBL-01
Cara Menghitung Zakat Perdagangan dengan Benar, Apakah Berdasarkan Omzet atau Keuntungan?
Cara Menghitung Zakat Perdagangan dengan Benar, Apakah Berdasarkan Omzet atau Keuntungan?
MENJALANKAN usaha tidak hanya bertujuan memperoleh keuntungan, tetapi juga menjadi sarana untuk menunaikan kewajiban kepada Allah SWT melalui zakat. Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di kalangan pelaku usaha adalah, apakah zakat perdagangan dihitung dari omzet penjualan atau dari keuntungan usaha? Banyak yang masih mengira bahwa semakin besar omzet, semakin besar pula zakat yang harus dibayarkan. Padahal, dalam syariat Islam, perhitungan zakat perdagangan tidak didasarkan pada omzet maupun laba semata. Zakat dihitung berdasarkan nilai harta dagang bersih yang dimiliki setelah memenuhi ketentuan nisab dan haul. Apa Itu Zakat Perdagangan? Zakat perdagangan adalah zakat yang dikenakan atas harta yang digunakan untuk kegiatan usaha atau jual beli dengan tujuan memperoleh keuntungan. Kewajiban ini berlaku bagi setiap Muslim yang memiliki usaha, baik berskala kecil, menengah, maupun besar. Harta yang menjadi objek zakat meliputi seluruh aset usaha yang masih berputar dalam aktivitas perdagangan. Apabila nilai harta bersih tersebut telah mencapai nisab yang setara dengan 85 gram emas dan dimiliki selama satu tahun hijriah (haul), maka wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5 persen. Dengan demikian, yang menjadi dasar perhitungan bukanlah total penjualan ataupun keuntungan, melainkan kekayaan usaha yang dimiliki pada akhir periode perhitungan. Komponen Harta yang Dihitung dalam Zakat Perdagangan Untuk mengetahui besaran zakat yang harus ditunaikan, pelaku usaha perlu menghitung nilai harta dagang bersih. Beberapa komponen yang diperhitungkan meliputi: Kas dan Saldo Rekening Usaha Seluruh uang tunai maupun dana yang tersimpan dalam rekening khusus usaha termasuk sebagai aset yang wajib dihitung. Persediaan Barang Dagangan Barang yang masih tersedia di gudang atau toko dan siap dipasarkan juga menjadi bagian dari harta perdagangan. Piutang yang Berpotensi Tertagih Piutang kepada pelanggan yang diyakini dapat dibayarkan turut masuk dalam perhitungan zakat. Utang Jangka Pendek Kewajiban usaha yang harus segera dilunasi dapat dikurangkan dari total aset sebelum menentukan jumlah zakat yang wajib dibayarkan. Apakah Zakat Dihitung dari Omzet atau Keuntungan? Jawabannya, bukan keduanya. Omzet hanya menunjukkan total nilai penjualan, sedangkan keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dan biaya operasional. Keduanya bukan dasar utama dalam menghitung zakat perdagangan. Yang menjadi acuan adalah nilai harta bersih usaha pada akhir periode, yaitu seluruh aset usaha setelah dikurangi kewajiban jangka pendek. Rumus Menghitung Zakat Perdagangan Secara umum, zakat perdagangan dapat dihitung menggunakan rumus berikut: Zakat = (Kas + Persediaan Barang + Piutang yang Dapat Ditagih − Utang Jangka Pendek) × 2,5% Sebelum menghitung zakat, pastikan terlebih dahulu bahwa nilai harta bersih usaha telah mencapai nisab berdasarkan harga emas yang berlaku saat itu. Contoh Perhitungan Zakat Perdagangan Misalnya, seorang pelaku usaha kuliner memiliki kondisi keuangan sebagai berikut pada akhir tahun hijriah: Kas usaha: Rp25.000.000 Persediaan barang: Rp60.000.000 Piutang yang dapat ditagih: Rp15.000.000 Utang usaha jangka pendek: Rp20.000.000 Maka harta bersih usahanya adalah: Rp25.000.000 + Rp60.000.000 + Rp15.000.000 − Rp20.000.000 = Rp80.000.000 Apabila jumlah tersebut telah mencapai nisab, maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah: Rp80.000.000 × 2,5% = Rp2.000.000 Sebagai contoh lain, sebuah toko online mencatat omzet penjualan sebesar Rp500.000.000 dalam satu tahun. Namun setelah dihitung, nilai harta bersih usahanya hanya Rp90.000.000. Dalam kondisi ini, zakat tetap dihitung dari harta bersih sebesar Rp90.000.000, bukan dari omzet Rp500.000.000, selama telah memenuhi nisab dan haul. Mengapa Memahami Cara Perhitungan Zakat Itu Penting? Mengetahui cara menghitung zakat perdagangan sesuai syariat akan membantu pelaku usaha menunaikan kewajibannya dengan benar. Perhitungan yang tepat memastikan zakat yang dikeluarkan sesuai ketentuan Islam sekaligus memberikan manfaat yang optimal bagi para mustahik. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga menjadi instrumen pemerataan ekonomi, membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menghadirkan keberkahan dalam usaha yang dijalankan. Tunaikan Zakat Perdagangan Melalui BAZNAS Untuk memudahkan proses perhitungan, pelaku usaha dapat memanfaatkan Kalkulator Zakat yang tersedia di BAZNAS. Setelah mengetahui besaran zakat yang wajib ditunaikan, pembayaran dapat dilakukan secara mudah dan aman melalui layanan resmi BAZNAS. Zakat yang dihimpun akan dikelola secara profesional, transparan, dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah. Mari tunaikan zakat perdagangan melalui BAZNAS sebagai wujud kepatuhan kepada Allah SWT sekaligus kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan umat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL27/07/2026 | MBL-01
Cara Menghitung Zakat Usaha Online dan Toko Digital Sesuai Syariat
Cara Menghitung Zakat Usaha Online dan Toko Digital Sesuai Syariat
SEIRING pesatnya perkembangan teknologi, semakin banyak pelaku usaha yang menjalankan bisnis secara online melalui marketplace, media sosial, website, maupun aplikasi digital. Meskipun aktivitas jual beli dilakukan tanpa toko fisik, kewajiban zakat tetap berlaku apabila usaha telah memenuhi syarat yang ditetapkan dalam syariat Islam. Oleh karena itu, penting bagi para pelaku usaha digital untuk memahami cara menghitung zakat usaha dengan benar agar ibadah yang ditunaikan sesuai ketentuan syariat sekaligus menghadirkan keberkahan bagi bisnis yang dijalankan. Apakah Usaha Online Wajib Mengeluarkan Zakat? Ya. Pada dasarnya, usaha online memiliki ketentuan zakat yang sama dengan usaha perdagangan konvensional. Selama kegiatan utamanya adalah menjual barang atau jasa untuk memperoleh keuntungan, maka usaha tersebut termasuk objek zakat perdagangan. Menurut ketentuan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), zakat perdagangan wajib ditunaikan apabila nilai harta bersih usaha telah mencapai nisab setara dengan 85 gram emas dan dimiliki selama satu tahun hijriah (haul). Besaran zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen dari harta yang wajib dizakati. Baik bisnis yang dijalankan melalui marketplace, media sosial, website, maupun platform digital lainnya memiliki kewajiban yang sama apabila telah memenuhi syarat tersebut. Komponen yang Dihitung dalam Zakat Usaha Perhitungan zakat usaha online tidak didasarkan pada omzet penjualan, melainkan pada nilai harta bersih usaha di akhir periode perhitungan. Beberapa komponen yang perlu diperhitungkan antara lain: Kas dan Saldo Rekening Usaha Seluruh uang tunai maupun dana yang tersimpan dalam rekening khusus usaha menjadi bagian dari aset yang wajib dihitung. Persediaan Barang Barang dagangan yang masih tersedia dan siap dijual, baik yang berada di gudang maupun pusat distribusi, termasuk dalam harta usaha yang dikenai zakat. Piutang yang Dapat Ditagih Piutang kepada pelanggan yang diperkirakan dapat dibayarkan juga menjadi bagian dari aset yang diperhitungkan. Utang Jangka Pendek Kewajiban usaha yang harus segera dilunasi dapat dikurangkan dari total aset sebelum menghitung besaran zakat. Rumus Menghitung Zakat Usaha Secara umum, zakat usaha dapat dihitung menggunakan rumus berikut: Zakat Usaha = (Kas + Persediaan Barang + Piutang yang Dapat Ditagih − Utang Jangka Pendek) × 2,5% Sebelum menghitung zakat, pastikan terlebih dahulu bahwa nilai harta bersih usaha telah mencapai nisab sesuai harga emas yang berlaku. Contoh Perhitungan Zakat Usaha Online Sebagai contoh, seorang pemilik toko online memiliki kondisi keuangan pada akhir tahun hijriah sebagai berikut: Kas dan saldo rekening usaha: Rp40.000.000 Persediaan barang: Rp90.000.000 Piutang yang dapat ditagih: Rp20.000.000 Utang jangka pendek: Rp30.000.000 Maka harta bersih usaha adalah: Rp40.000.000 + Rp90.000.000 + Rp20.000.000 − Rp30.000.000 = Rp120.000.000 Apabila jumlah tersebut telah mencapai nisab, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah: Rp120.000.000 × 2,5% = Rp3.000.000 Sebagai contoh lain, seorang pelaku usaha yang berjualan melalui marketplace memiliki harta bersih sebesar Rp75.000.000. Jika jumlah tersebut belum mencapai nisab berdasarkan harga emas saat itu, maka zakat usaha belum diwajibkan. Namun demikian, ia tetap dianjurkan memperbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Cara Menunaikan Zakat Usaha Melalui BAZNAS Setelah mengetahui besaran zakat yang harus dibayarkan, pelaku usaha dapat menunaikannya melalui BAZNAS dengan langkah-langkah berikut: Hitung total harta bersih usaha pada akhir periode perhitungan. Pastikan nilai harta telah memenuhi nisab dan haul. Hitung zakat sebesar 2,5 persen dari harta yang wajib dizakati. Tunaikan zakat melalui kantor layanan BAZNAS atau kanal pembayaran digital yang tersedia. Simpan bukti pembayaran sebagai dokumentasi. Untuk mempermudah proses perhitungan, BAZNAS juga menyediakan Kalkulator Zakat yang dapat digunakan secara praktis sehingga hasil perhitungan lebih mudah dan sesuai ketentuan syariat. Zakat Usaha, Wujud Syukur dan Keberkahan Bisnis Menunaikan zakat usaha bukan hanya bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah SWT, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial seorang pelaku usaha. Melalui zakat, sebagian harta yang dimiliki disalurkan kepada para mustahik sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang membutuhkan. Bagi pemilik usaha online maupun toko digital, membiasakan diri menghitung dan menunaikan zakat secara rutin juga menjadi bagian dari pengelolaan bisnis yang sehat. Selain menyucikan harta, zakat diharapkan membawa keberkahan, memperkuat keberlangsungan usaha, serta mendukung berbagai program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah yang dikelola oleh BAZNAS.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL27/07/2026 | MBL-01
Zakat untuk Korban Bencana: Wujud Kepedulian yang Menguatkan Pemulihan Masyarakat
Zakat untuk Korban Bencana: Wujud Kepedulian yang Menguatkan Pemulihan Masyarakat
INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga berbagai krisis kemanusiaan lainnya. Dalam situasi seperti ini, kehadiran bantuan yang cepat dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat terdampak. Salah satu instrumen yang memiliki peran besar dalam membantu para penyintas adalah zakat. Dikelola secara amanah dan disalurkan sesuai syariat Islam, zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan darurat, tetapi juga mendukung proses pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana. Bagaimana Zakat Membantu Korban Bencana? Ketika bencana terjadi, banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, sumber penghasilan, bahkan akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan pendidikan. Kondisi tersebut membuat mereka membutuhkan dukungan agar dapat bangkit kembali. Melalui dana zakat yang disalurkan kepada mustahik sesuai ketentuan syariat, berbagai kebutuhan mendesak dapat dipenuhi. Bantuan tersebut dapat berupa penyediaan bahan pangan, layanan kesehatan, bantuan pendidikan bagi anak-anak terdampak, hingga dukungan pemulihan ekonomi bagi masyarakat yang kehilangan mata pencaharian. Dengan demikian, zakat menjadi salah satu solusi yang membantu mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat bencana sekaligus memberikan harapan bagi para penyintas untuk kembali menjalani kehidupan secara mandiri. Peran BAZNAS dalam Penanganan Bencana dan Krisis Kemanusiaan Sebagai Badan Amil Zakat Nasional, BAZNAS mengelola dana zakat secara profesional, transparan, dan akuntabel untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk korban bencana dan krisis kemanusiaan. Melalui berbagai program kemanusiaan, BAZNAS hadir sejak masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan. Bantuan yang diberikan meliputi distribusi kebutuhan pokok, layanan kesehatan, penyediaan hunian sementara, bantuan pendidikan, hingga program rehabilitasi dan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat terdampak. Pendekatan tersebut bertujuan agar bantuan yang diberikan tidak hanya menjawab kebutuhan sesaat, tetapi juga mampu mempercepat proses pemulihan dan meningkatkan kemandirian masyarakat dalam jangka panjang. Zakat sebagai Bentuk Kepedulian terhadap Sesama Pada hakikatnya, zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga wujud nyata kepedulian sosial. Melalui zakat, umat Islam diajak untuk berbagi rezeki dengan saudara-saudara yang sedang menghadapi kesulitan, termasuk mereka yang terdampak bencana maupun krisis kemanusiaan. Ketika dikelola secara optimal, zakat mampu menjadi salah satu sumber pendanaan yang mendukung berbagai aksi kemanusiaan, memperkuat ketahanan masyarakat, serta membantu mempercepat proses pemulihan setelah bencana. Semangat gotong royong dan kepedulian yang diwujudkan melalui zakat menjadi bukti bahwa setiap kontribusi memiliki arti besar bagi mereka yang sedang membutuhkan uluran tangan. Tunaikan Zakat, Hadirkan Harapan bagi Penyintas Menunaikan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS merupakan salah satu cara terbaik untuk memastikan bantuan tersalurkan secara tepat sasaran kepada para mustahik, termasuk masyarakat yang terdampak bencana dan krisis kemanusiaan. Dengan pengelolaan yang amanah, profesional, dan sesuai syariat, zakat yang Anda tunaikan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan darurat para penyintas, tetapi juga mendukung berbagai program pemulihan dan pemberdayaan agar mereka dapat bangkit kembali.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL27/07/2026 | MBL-01
Peran Zakat dalam Mengurangi Kemiskinan dan Meningkatkan Kesejahteraan Umat
Peran Zakat dalam Mengurangi Kemiskinan dan Meningkatkan Kesejahteraan Umat
KEMISKINAN masih menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi masyarakat. Selain berdampak pada kondisi ekonomi, kemiskinan juga memengaruhi akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, hingga kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup. Dalam Islam, zakat hadir sebagai salah satu solusi yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun kesejahteraan sosial. Melalui pengelolaan yang profesional dan tepat sasaran, zakat dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi agar para mustahik mampu hidup lebih mandiri. Zakat sebagai Instrumen Pengentasan Kemiskinan Zakat merupakan salah satu pilar ekonomi Islam yang bertujuan mendistribusikan sebagian harta dari muzaki kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik). Lebih dari sekadar bantuan sosial, zakat menjadi instrumen pemerataan ekonomi yang dapat mengurangi kesenjangan di tengah masyarakat. Dana zakat tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, tetapi juga dikembangkan melalui berbagai program pemberdayaan. Dengan pengelolaan yang baik, zakat mampu membantu mustahik meningkatkan taraf hidup hingga perlahan keluar dari lingkaran kemiskinan. Bagaimana Zakat Membantu Mengurangi Kemiskinan? Pengelolaan zakat yang optimal memberikan manfaat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Beberapa di antaranya meliputi: Memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, dan tempat tinggal bagi masyarakat yang membutuhkan. Meningkatkan akses pendidikan melalui beasiswa dan bantuan pendidikan sehingga anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat terus melanjutkan sekolah. Mendukung layanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan agar memperoleh akses pengobatan dan pelayanan kesehatan yang layak. Mendorong kemandirian ekonomi melalui bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, serta pendampingan bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Mengurangi kesenjangan sosial dengan mendorong distribusi kekayaan yang lebih merata sesuai prinsip keadilan dalam Islam. Melalui berbagai program tersebut, zakat tidak hanya membantu mengatasi kebutuhan mendesak, tetapi juga menjadi investasi sosial yang memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat. Komitmen BAZNAS dalam Memberdayakan Masyarakat Sebagai Badan Amil Zakat Nasional, BAZNAS mengelola dana zakat secara amanah, profesional, transparan, dan akuntabel agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh para mustahik. Dana zakat disalurkan melalui berbagai program di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dakwah, dan sosial. Berbagai program tersebut dirancang untuk membantu masyarakat tidak hanya bertahan menghadapi kesulitan, tetapi juga memiliki kesempatan membangun kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera. Dengan pendekatan pemberdayaan, BAZNAS berupaya menjadikan zakat sebagai solusi berkelanjutan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi umat. Tunaikan Zakat, Hadirkan Harapan bagi Sesama Setiap zakat yang ditunaikan memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga menjadi wujud kepedulian sosial yang mampu membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui BAZNAS, zakat yang Anda tunaikan akan dikelola secara profesional dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, manfaat zakat tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan perubahan yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL27/07/2026 | MBL-01
Menghitung Zakat Penghasilan Karyawan, ini Caranya!
Menghitung Zakat Penghasilan Karyawan, ini Caranya!
BAGI seorang Muslim, memperoleh penghasilan bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjalankan tanggung jawab atas rezeki yang diberikan Allah SWT. Salah satunya melalui zakat penghasilan bagi mereka yang telah memenuhi ketentuan. Namun, masih banyak yang belum memahami kapan penghasilan wajib dizakati, berapa nisabnya, dan bagaimana cara menghitung jumlah zakat yang harus dikeluarkan. Zakat penghasilan atau zakat profesi merupakan zakat atas pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau profesi yang halal. Penghasilan tersebut dapat berupa gaji, honorarium, upah, tunjangan, bonus, maupun pendapatan dari jasa profesional. Apa Itu Zakat Penghasilan? Zakat penghasilan merupakan bagian dari zakat mal yang dikenakan terhadap pendapatan halal yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Jenis penghasilan yang dapat menjadi objek zakat antara lain gaji karyawan, honorarium, upah, tunjangan, bonus, serta pendapatan dari pekerjaan atau jasa profesional seperti dokter, konsultan, pengacara, desainer, dan pekerja lepas. Dalam ketentuan BAZNAS, nisab zakat pendapatan dan jasa setara dengan 85 gram emas. Besaran nisab dalam rupiah dapat berubah mengikuti harga emas dan penetapan yang berlaku pada tahun berjalan. Sementara itu, kadar zakat penghasilan adalah 2,5 persen dari penghasilan yang menjadi dasar perhitungan setelah dipastikan memenuhi nisab. Kapan Penghasilan Wajib Dizakati? Sebelum menghitung zakat, hal pertama yang perlu diperiksa adalah apakah penghasilan telah mencapai nisab. Nisab zakat penghasilan mengacu pada nilai 85 gram emas. Karena harga emas dapat berubah, nominal nisab dalam rupiah juga dapat berbeda setiap tahun. Sebagai contoh, apabila seseorang memperoleh penghasilan Rp10 juta per bulan dan jumlah tersebut telah memenuhi nisab yang berlaku, maka ia dapat menunaikan zakat penghasilan sebesar 2,5 persen. Sebaliknya, apabila penghasilan belum mencapai nisab, seseorang belum memiliki kewajiban zakat penghasilan berdasarkan ketentuan tersebut. Meski demikian, tetap menyisihkan sebagian rezeki untuk infak dan sedekah merupakan bentuk kebaikan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan. Cara Menghitung Zakat Penghasilan Setelah memastikan penghasilan telah memenuhi nisab, perhitungannya cukup sederhana: Zakat = Penghasilan × 2,5% Misalnya, seorang karyawan menerima gaji Rp10.000.000 per bulan. Jika penghasilan tersebut telah memenuhi nisab, maka zakat yang perlu ditunaikan adalah: Rp10.000.000 × 2,5% = Rp250.000 Jadi, zakat penghasilan yang perlu dikeluarkan adalah Rp250.000 per bulan. Jika penghasilan tetap selama satu tahun, total zakat yang ditunaikan menjadi Rp3.000.000. Bagaimana dengan Bonus dan THR? Pendapatan seorang karyawan tidak selalu berasal dari gaji pokok. Ada pula tunjangan, bonus, THR, atau pendapatan tambahan lainnya. Pendapatan tambahan tersebut perlu diperhatikan dalam menghitung kewajiban zakat sesuai ketentuan yang digunakan. Karena kondisi setiap orang dapat berbeda, terutama terkait sumber pendapatan dan dasar perhitungan, masyarakat dapat menggunakan kalkulator zakat atau berkonsultasi dengan amil untuk memperoleh perhitungan yang lebih sesuai. Zakat Penghasilan Dibayar Setiap Bulan atau Setahun? Zakat penghasilan dapat ditunaikan secara rutin setiap bulan apabila penghasilan telah memenuhi nisab bulanan yang berlaku. Cara ini cukup praktis karena zakat dapat langsung disisihkan ketika menerima gaji. Misalnya, seorang karyawan menerima gaji setiap tanggal 25. Setelah menerima gaji, ia dapat langsung menghitung dan menyisihkan 2,5 persen untuk zakat. Bagi pekerja dengan penghasilan yang tidak tetap, seperti freelancer atau pekerja profesional dengan pendapatan berdasarkan proyek, pencatatan pemasukan secara berkala menjadi penting. Penghasilan dapat dievaluasi sesuai pendekatan nisab yang berlaku. Metode Bruto dan Netto Dalam praktiknya, terdapat perbedaan pendekatan mengenai dasar penghasilan yang digunakan untuk menghitung zakat. Salah satunya adalah menggunakan pendapatan bruto, yaitu menghitung 2,5 persen dari seluruh penghasilan sebelum dikurangi kebutuhan. Ada pula pendekatan yang memperhitungkan pengeluaran kebutuhan pokok terlebih dahulu sebelum menentukan jumlah yang menjadi dasar zakat. Karena terdapat perbedaan pendapat dan kondisi keuangan setiap orang tidak sama, masyarakat sebaiknya mengikuti ketentuan lembaga zakat atau berkonsultasi dengan amil yang terpercaya agar perhitungannya sesuai dengan ketentuan yang digunakan. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Sebagai contoh, Ahmad memperoleh gaji Rp12.000.000 setiap bulan. Jika penghasilan tersebut telah memenuhi nisab dan seluruh penghasilannya menjadi dasar perhitungan, maka: Rp12.000.000 × 2,5% = Rp300.000 Dengan demikian, zakat penghasilan Ahmad adalah Rp300.000 per bulan. Jika penghasilan tersebut diterima secara konsisten selama 12 bulan, zakat yang ditunaikan dalam satu tahun mencapai Rp3.600.000. Perhitungan dapat berbeda apabila seseorang memiliki beberapa sumber pendapatan atau menggunakan dasar perhitungan tertentu. Dalam kondisi tersebut, pencatatan seluruh pendapatan akan membantu menentukan kewajiban zakat secara lebih tepat. Jangan Lupa Periksa Nisab Terbaru Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika menghitung zakat penghasilan adalah nisab tidak selalu sama setiap tahun. Nilai tersebut mengikuti harga emas dan penetapan resmi yang berlaku. Karena itu, jangan menggunakan angka nisab dari tahun sebelumnya tanpa memeriksa ketentuan terbaru. BAZNAS menyediakan informasi dan layanan kalkulator zakat yang dapat membantu masyarakat mengetahui perkiraan kewajiban zakat berdasarkan ketentuan yang berlaku. Tunaikan Zakat dengan Tepat dan Ikhlas Menghitung zakat penghasilan sebenarnya tidak sulit. Kuncinya adalah mengetahui jumlah pendapatan, memastikan telah memenuhi nisab, kemudian menghitung 2,5 persen sesuai dasar perhitungan yang digunakan. Lebih dari sekadar kewajiban finansial, zakat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus kepedulian kepada sesama. Zakat yang ditunaikan melalui lembaga resmi dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik yang berhak menerimanya. Dengan memahami ketentuannya dan rutin mencatat penghasilan serta zakat yang telah ditunaikan, kita dapat menjalankan kewajiban dengan lebih tertib, tepat, dan penuh keikhlasan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.***
ARTIKEL27/07/2026 | MBL-01
Ini Golongan yang Berhak Menerima Zakat! Kenali Delapan Asnaf Sesuai Syariat Islam
Ini Golongan yang Berhak Menerima Zakat! Kenali Delapan Asnaf Sesuai Syariat Islam
ZAKAT merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran besar dalam mewujudkan kesejahteraan dan kepedulian sosial. Namun, dalam penyalurannya, zakat tidak dapat diberikan kepada sembarang orang. Islam telah menetapkan secara jelas siapa saja yang berhak menerima zakat melalui delapan golongan penerima yang dikenal sebagai 8 asnaf, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Memahami siapa saja yang termasuk dalam golongan penerima zakat sangat penting agar penyaluran zakat tepat sasaran, sesuai syariat, dan mampu memberikan manfaat yang optimal bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Mengenal Delapan Asnaf Penerima Zakat Ketentuan mengenai penerima zakat dijelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 60. Ayat tersebut menjadi pedoman utama dalam pengelolaan zakat sehingga dana yang dihimpun dapat disalurkan kepada pihak yang berhak menerimanya. Istilah asnaf berasal dari bahasa Arab yang berarti golongan atau kelompok. Dalam konteks zakat, 8 asnaf adalah delapan kelompok yang berhak menerima zakat sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Pembagian ini bertujuan menciptakan keadilan sosial, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta mendukung peningkatan kesejahteraan umat. Siapa Saja yang Berhak Menerima Zakat? Berikut delapan golongan yang termasuk dalam penerima zakat menurut syariat Islam. 1. Fakir Fakir adalah orang yang hampir tidak memiliki harta maupun sumber penghasilan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya. Golongan ini menjadi prioritas utama dalam penyaluran zakat karena berada dalam kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan. 2. Miskin Miskin adalah mereka yang memiliki pekerjaan atau penghasilan, tetapi jumlahnya belum mampu mencukupi kebutuhan dasar sehari-hari. Zakat diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraannya. 3. Amil Zakat Amil merupakan pihak yang diberi amanah untuk menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan dana zakat. Mereka berhak menerima bagian zakat sebagai bentuk penghargaan atas tugas yang dijalankan dalam pengelolaan zakat sesuai ketentuan syariat. 4. Mualaf Mualaf adalah orang yang baru memeluk agama Islam atau mereka yang perlu dikuatkan keimanannya. Bantuan zakat diharapkan dapat memberikan dukungan moral maupun material agar mereka semakin mantap menjalankan ajaran Islam. 5. Riqab Riqab pada masa Rasulullah SAW merujuk kepada hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya. Dalam konteks saat ini, sebagian ulama memaknai riqab sebagai mereka yang mengalami penindasan, kehilangan kebebasan, atau berada dalam kondisi yang membutuhkan bantuan untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak. 6. Gharimin Gharimin adalah orang yang memiliki utang karena kebutuhan yang dibenarkan oleh syariat dan tidak mampu melunasinya. Melalui zakat, mereka dibantu agar dapat terbebas dari beban utang tanpa harus terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih besar. 7. Fisabilillah Fisabilillah mencakup orang-orang yang berjuang di jalan Allah demi kemaslahatan umat, seperti kegiatan dakwah, pendidikan Islam, pelayanan sosial, maupun berbagai aktivitas lain yang bertujuan menegakkan nilai-nilai Islam sesuai ketentuan syariat. 8. Ibnu Sabil Ibnu sabil adalah musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat asalnya. Mereka berhak menerima zakat sebagai bentuk pertolongan atas kondisi yang dihadapi. Pentingnya Menyalurkan Zakat kepada yang Berhak Menunaikan zakat kepada delapan golongan yang telah ditetapkan merupakan bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah SWT. Penyaluran yang tepat sasaran tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan para mustahik, tetapi juga menjadi instrumen dalam mengurangi kemiskinan, memperkuat solidaritas sosial, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, penyaluran zakat yang tidak sesuai dengan ketentuan dapat mengurangi efektivitas dan tujuan utama zakat. Karena itu, setiap muzaki perlu memahami siapa saja yang berhak menerima zakat sebelum menunaikan kewajibannya. Peran BAZNAS dalam Penyaluran Zakat Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS berperan memastikan dana zakat disalurkan kepada delapan asnaf sesuai dengan ketentuan syariat. Melalui proses pendataan, verifikasi, hingga pendampingan kepada para penerima manfaat, zakat dapat dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel. Tidak hanya memberikan bantuan konsumtif, BAZNAS juga mengembangkan berbagai program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah. Pendekatan ini diharapkan mampu membantu mustahik menjadi lebih mandiri dan meningkatkan kualitas hidupnya secara berkelanjutan. Salurkan Zakat Melalui Lembaga Resmi Memahami siapa saja yang berhak menerima zakat merupakan langkah awal agar zakat yang ditunaikan benar-benar memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Dengan menyalurkan zakat melalui BAZNAS, masyarakat turut mendukung pengelolaan zakat yang amanah, profesional, dan tepat sasaran. Melalui zakat yang dikelola secara optimal, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh para mustahik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan kesejahteraan, mengurangi kesenjangan sosial, serta membangun kehidupan masyarakat yang lebih berdaya.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL24/07/2026 | MBL-01
Mengapa Menunaikan Zakat Melalui BAZNAS Lebih Aman? Ini Alasan Perlu Diketahui!
Mengapa Menunaikan Zakat Melalui BAZNAS Lebih Aman? Ini Alasan Perlu Diketahui!
MENUNAIKAN zakat melalui lembaga resmi merupakan langkah yang tepat untuk memastikan ibadah zakat terlaksana sesuai syariat sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Selain memudahkan proses pembayaran, lembaga pengelola zakat yang memiliki legalitas resmi juga menjamin dana zakat dikelola secara profesional, transparan, dan disalurkan kepada para mustahik yang berhak menerimanya. Dengan pengelolaan yang baik, zakat tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan yang mampu meningkatkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan. Mengapa Sebaiknya Membayar Zakat Melalui Lembaga Resmi? Menyalurkan zakat melalui lembaga resmi memberikan kepastian bahwa dana yang ditunaikan dikelola sesuai dengan ketentuan syariat Islam dan peraturan yang berlaku. Setiap tahapan, mulai dari penghimpunan, pencatatan, pengelolaan, hingga pendistribusian, dilakukan melalui sistem yang terstruktur sehingga zakat dapat disalurkan kepada delapan golongan (asnaf) yang telah ditetapkan dalam syariat. Selain itu, lembaga resmi menerapkan prinsip profesionalisme, akuntabilitas, dan transparansi sehingga masyarakat dapat menunaikan zakat dengan lebih tenang dan penuh kepercayaan. Legalitas Menjadi Jaminan Kepercayaan Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan saat memilih tempat menunaikan zakat adalah legalitas lembaganya. Lembaga zakat yang memperoleh izin resmi dari pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengelola dana zakat sesuai regulasi serta berada dalam mekanisme pengawasan yang berlaku. Dengan adanya legalitas tersebut, muzaki memperoleh kepastian bahwa zakat yang ditunaikan dikelola secara amanah, bertanggung jawab, dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Pengelolaan Transparan dan Tepat Sasaran Keunggulan lain dari lembaga zakat resmi adalah adanya transparansi dalam pengelolaan dana. Masyarakat dapat mengetahui bagaimana zakat dihimpun, dikelola, hingga disalurkan kepada para penerima manfaat melalui berbagai program yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sebelum disalurkan, calon penerima zakat melalui proses pendataan dan verifikasi sehingga bantuan benar-benar diterima oleh mereka yang berhak. Selain memenuhi kebutuhan dasar mustahik, dana zakat juga dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Pembayaran Zakat Kini Semakin Mudah Perkembangan teknologi membuat proses menunaikan zakat menjadi semakin praktis. Melalui layanan digital yang disediakan BAZNAS, masyarakat dapat membayar zakat kapan saja dan di mana saja tanpa harus datang langsung ke kantor layanan. Layanan ini juga memudahkan muzaki untuk menghitung besaran zakat, memilih jenis zakat yang akan ditunaikan, menentukan metode pembayaran, hingga memperoleh bukti pembayaran secara cepat dan aman. Cara Membayar Zakat di BAZNAS Bagi masyarakat yang ingin menunaikan zakat melalui BAZNAS, prosesnya dapat dilakukan dengan mudah melalui langkah-langkah berikut: Kunjungi website atau aplikasi resmi BAZNAS. Pilih jenis zakat yang akan ditunaikan. Masukkan nominal zakat atau gunakan Kalkulator Zakat untuk membantu menghitung kewajiban zakat. Lengkapi data diri sesuai kebutuhan. Pilih metode pembayaran yang tersedia, seperti transfer bank, dompet digital, atau kanal pembayaran lainnya. Selesaikan transaksi dan simpan bukti pembayaran sebagai dokumentasi. Tunaikan Zakat dengan Aman dan Penuh Kepercayaan Menunaikan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS bukan hanya memberikan kemudahan dalam beribadah, tetapi juga memastikan zakat dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran. Dana zakat yang dihimpun kemudian disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan memilih BAZNAS sebagai mitra dalam menunaikan zakat, setiap kontribusi yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat kepedulian sosial, mengurangi kesenjangan, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL24/07/2026 | MBL-01
Zakat untuk Pendidikan: Wujudkan Masa Depan Cerah Anak Dhuafa
Zakat untuk Pendidikan: Wujudkan Masa Depan Cerah Anak Dhuafa
PENDIDIKAN merupakan hak setiap anak sekaligus kunci untuk meraih masa depan yang lebih baik. Namun, bagi banyak keluarga dhuafa, keterbatasan ekonomi sering kali menjadi hambatan besar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Tidak sedikit anak yang harus menunda bahkan menghentikan sekolah karena orang tua kesulitan membiayai kebutuhan belajar mereka. Melalui zakat, umat Islam dapat berkontribusi membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan. Zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan mereka hari ini, tetapi juga menjadi investasi sosial yang mampu mengubah kehidupan mereka di masa depan. Mengapa Zakat Penting untuk Mendukung Pendidikan? Pendidikan memiliki peran besar dalam memutus rantai kemiskinan. Dengan memperoleh akses pendidikan yang layak, anak-anak memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan potensi, meningkatkan keterampilan, dan membangun kehidupan yang lebih sejahtera. Namun, bagi keluarga yang tergolong mustahik, berbagai kebutuhan pendidikan seperti seragam, buku, alat tulis, biaya transportasi, hingga kebutuhan sekolah lainnya sering kali menjadi beban yang sulit dipenuhi. Di sinilah zakat memiliki peran penting. Dana zakat yang dikelola secara amanah dapat membantu anak-anak dhuafa tetap melanjutkan pendidikan sehingga mereka memiliki peluang yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita. Bentuk Program Pendidikan dari Dana Zakat Melalui berbagai program pendidikan, BAZNAS menyalurkan dana zakat dalam bentuk bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan para penerima manfaat. Beberapa bentuk dukungan yang diberikan antara lain: Beasiswa pendidikan bagi siswa dan mahasiswa dari keluarga dhuafa untuk membantu biaya pendidikan di berbagai jenjang. Bantuan perlengkapan sekolah, seperti seragam, tas, buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar lainnya. Dukungan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah terpencil melalui pengembangan fasilitas belajar dan peningkatan layanan pendidikan. Program pendampingan pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik agar dapat belajar secara optimal dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Melalui program-program tersebut, BAZNAS berupaya memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Dampak Nyata bagi Anak Dhuafa Manfaat zakat untuk pendidikan tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga memberikan dampak yang berkelanjutan. Bantuan pendidikan memungkinkan anak-anak yang semula berisiko putus sekolah tetap melanjutkan pendidikannya. Mereka dapat belajar dengan lebih tenang, memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Dalam jangka panjang, pendidikan menjadi bekal penting bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan taraf hidup keluarga, serta berkontribusi bagi masyarakat. Dengan demikian, zakat menjadi salah satu instrumen pemberdayaan yang mampu membantu memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Bersama Zakat, Buka Jalan bagi Generasi Masa Depan Setiap zakat yang ditunaikan membawa harapan baru bagi anak-anak dhuafa untuk terus belajar dan meraih cita-cita. Melalui pendidikan, mereka memiliki kesempatan untuk keluar dari keterbatasan ekonomi dan membangun masa depan yang lebih baik. Mari salurkan zakat melalui BAZNAS dan turut berkontribusi menghadirkan akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak yang membutuhkan. Dengan zakat, kita tidak hanya membantu mereka tetap bersekolah, tetapi juga ikut menciptakan generasi yang lebih mandiri, berdaya, dan siap membangun masa depan bangsa.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL24/07/2026 | MBL-01
Safar Bukan Bulan Sial, Ini Amalan Pembuka Rezeki Dianjurkan dalam Islam
Safar Bukan Bulan Sial, Ini Amalan Pembuka Rezeki Dianjurkan dalam Islam
BULAN Safar kerap dikaitkan dengan berbagai mitos, termasuk anggapan sebagai bulan yang membawa kesialan atau kesempitan rezeki. Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Sebaliknya, setiap waktu yang Allah SWT ciptakan merupakan kesempatan bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada-Nya. Tidak ada ibadah khusus yang hanya diperuntukkan pada Bulan Safar sebagai pembuka rezeki. Namun, Rasulullah SAW mengajarkan berbagai amalan yang dapat dilakukan kapan saja, termasuk di Bulan Safar, sebagai bentuk ikhtiar untuk meraih rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan. Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan? Sebagian masyarakat masih mempercayai bahwa Bulan Safar identik dengan musibah atau nasib buruk. Padahal, Rasulullah SAW telah meluruskan anggapan tersebut melalui hadis sahih: "Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena burung, tidak ada kesialan pada Bulan Safar, dan tidak ada hantu." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut menegaskan bahwa Islam menolak segala bentuk keyakinan yang mengaitkan kesialan dengan waktu atau bulan tertentu. Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena Bulan Safar ataupun waktu lainnya. Karena itu, Bulan Safar sebaiknya diisi dengan berbagai amal kebaikan, bukan dengan rasa khawatir terhadap mitos yang tidak memiliki landasan syariat. Rezeki Datang dari Allah SWT Dalam Islam, rezeki sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah SWT. Setiap makhluk telah dijamin rezekinya, sebagaimana firman Allah SWT: "Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya." (QS. Hud: 6) Meski demikian, Islam juga mengajarkan agar setiap muslim terus berusaha, berdoa, dan bertawakal. Oleh sebab itu, amalan yang diyakini dapat membuka pintu rezeki bukanlah ritual tertentu, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah yang mendatangkan keberkahan dalam kehidupan. Amalan yang Dianjurkan untuk Memohon Kelapangan Rezeki Berikut beberapa amalan yang memiliki landasan dalam Al-Qur'an dan hadis serta dapat diamalkan di Bulan Safar maupun sepanjang tahun. 1. Memperbanyak Istighfar Istighfar menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan bahwa memohon ampun dapat menjadi sebab datangnya berbagai nikmat, termasuk kelapangan rezeki. Dalam Surah Nuh ayat 10–12, Allah SWT berfirman bahwa orang yang memperbanyak istighfar akan diberikan hujan, harta, dan keturunan sebagai bentuk karunia-Nya. 2. Memperbanyak Doa Doa merupakan bentuk penghambaan sekaligus ikhtiar seorang muslim. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk memohon kecukupan rezeki adalah: "Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu." (HR. Tirmidzi) Doa tersebut dapat dibaca setelah salat maupun pada waktu-waktu yang dianjurkan untuk berdoa. 3. Menjaga Salat Lima Waktu Salat merupakan ibadah utama sekaligus sumber keberkahan hidup. Allah SWT berfirman: "Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu." (QS. Taha: 132) Ayat ini mengingatkan bahwa rezeki berasal dari Allah SWT, sementara salat menjadi salah satu bentuk ketaatan yang mendekatkan seorang hamba kepada-Nya. 4. Memperbanyak Sedekah Sedekah tidak akan mengurangi harta, justru menjadi jalan datangnya keberkahan. Rasulullah SAW bersabda: "Harta tidak akan berkurang karena sedekah." (HR. Muslim) Selain membantu sesama, sedekah juga menjadi wujud rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. 5. Menjalin Silaturahmi Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat juga menjadi salah satu sebab dilapangkannya rezeki. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim) 6. Meningkatkan Ketakwaan Allah SWT menjanjikan jalan keluar dan rezeki yang tidak disangka-sangka bagi hamba-Nya yang bertakwa. "Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS. At-Talaq: 2–3) Ketakwaan menjadi fondasi utama dalam meraih keberkahan hidup, termasuk dalam urusan rezeki. 7. Berusaha dan Bertawakal Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Rasulullah SAW mengibaratkan burung yang setiap pagi keluar mencari makan, lalu pulang dalam keadaan kenyang karena bertawakal kepada Allah. Hadis tersebut mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan bersungguh-sungguh bekerja kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Hindari Mitos yang Tidak Berdasar Dalam mengisi Bulan Safar, umat Islam juga perlu menghindari berbagai keyakinan yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti: - Meyakini Bulan Safar membawa kesialan.- Menganggap ada ritual tertentu yang pasti mendatangkan rezeki tanpa dalil.- Mempercayai jimat atau benda tertentu sebagai penarik rezeki.- Mengamalkan tradisi atau hadis yang tidak memiliki dasar yang sahih. Islam mengajarkan agar setiap ibadah dan keyakinan berlandaskan Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Isi Bulan Safar dengan Amal Kebaikan Selain amalan di atas, Bulan Safar juga dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui berbagai kegiatan positif, seperti membaca Al-Qur'an, memperbanyak zikir pagi dan petang, melaksanakan salat sunnah, membantu sesama, berbakti kepada orang tua, menjaga kejujuran dalam bekerja, menunaikan zakat apabila telah memenuhi syarat, serta memperbanyak doa untuk keluarga dan kehidupan yang lebih berkah. Jadikan Bulan Safar sebagai Momentum Mendekatkan Diri kepada Allah Pada dasarnya, tidak ada amalan khusus yang hanya berlaku pada Bulan Safar untuk membuka pintu rezeki. Yang dianjurkan adalah memperbanyak amal saleh yang telah diajarkan Rasulullah SAW dan dapat diamalkan sepanjang tahun. Dengan memperbanyak istighfar, menjaga salat, gemar bersedekah, menyambung silaturahmi, meningkatkan ketakwaan, serta berusaha dan bertawakal kepada Allah SWT, seorang muslim berharap memperoleh rezeki yang halal, berkah, dan bermanfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Pada akhirnya, keberkahan rezeki tidak ditentukan oleh datangnya bulan tertentu, melainkan oleh kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Semoga Bulan Safar menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, serta meraih rezeki yang penuh keberkahan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL21/07/2026 | MBL-01
Amal Jariyah di Bulan Safar: Investasi Akhirat Pahalanya Terus Mengalir
Amal Jariyah di Bulan Safar: Investasi Akhirat Pahalanya Terus Mengalir
BULAN Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang sering dikaitkan dengan berbagai mitos, termasuk anggapan sebagai bulan yang membawa kesialan. Padahal, Islam tidak mengenal keyakinan tersebut. Rasulullah SAW telah meluruskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada bulan Safar. Karena itu, bulan ini sepatutnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh, salah satunya melalui amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meski pelakunya telah wafat. Amal jariyah adalah salah satu bentuk ibadah yang memiliki keistimewaan karena manfaat dan pahalanya tidak terputus selama masih dirasakan oleh orang lain. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim No. 1631). Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa setiap Muslim memiliki kesempatan menyiapkan bekal akhirat melalui amal yang manfaatnya berkelanjutan. Tidak Ada Kesialan di Bulan Safar Sebelum membahas lebih jauh tentang amal jariyah, penting untuk meluruskan pemahaman mengenai bulan Safar. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial, tidak ada burung pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220). Hadis tersebut menegaskan bahwa anggapan bulan Safar sebagai bulan sial merupakan kepercayaan masyarakat jahiliah yang tidak memiliki dasar dalam Islam. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan mengisi bulan ini dengan berbagai amal kebajikan sebagaimana bulan-bulan lainnya. Keutamaan Amal Jariyah Amal jariyah memiliki banyak keutamaan yang dapat menjadi motivasi bagi setiap Muslim untuk terus berbuat baik, di antaranya: Pahalanya terus mengalir, selama manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain. Menjadi investasi akhirat yang nilainya tidak terputus meski seseorang telah meninggal dunia. Mendatangkan keberkahan hidup, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta (HR. Muslim No. 2588). Menjadi bukti keimanan, karena menunjukkan kepedulian terhadap sesama dan semangat meninggalkan warisan kebaikan. Contoh Amal Jariyah yang Bisa Dilakukan Banyak bentuk amal jariyah yang dapat dilakukan kapan saja, termasuk di bulan Safar. Beberapa di antaranya adalah: Berpartisipasi dalam pembangunan atau renovasi masjid. Mewakafkan Al-Qur'an untuk masjid, pesantren, atau rumah tahfiz. Membantu pendidikan santri dan para pencari ilmu. Menyediakan sarana air bersih seperti sumur atau fasilitas sanitasi. Menanam pohon yang memberikan manfaat bagi manusia maupun lingkungan. Mendukung berbagai program sosial, dakwah, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Semakin luas manfaat yang diberikan kepada orang lain, semakin besar pula pahala yang terus mengalir kepada pelakunya. Jangan Menunda Berbuat Kebaikan Islam mengajarkan agar setiap kesempatan dimanfaatkan untuk beramal sebelum datang waktu yang tidak lagi memungkinkan seseorang berbuat kebaikan. Allah SWT berfirman: "...dan tidak seorang pun mengetahui di bumi mana dia akan mati." (QS. Luqman: 34). Karena itu, selama masih diberi kesehatan, usia, dan rezeki, setiap Muslim dianjurkan untuk segera memperbanyak amal jariyah tanpa harus menunggu waktu yang dianggap istimewa. Cara Memaksimalkan Amal Jariyah Agar amal jariyah semakin bernilai di sisi Allah SWT, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: Meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT. Memilih amal yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Mengajak keluarga untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan berbagi. Melakukan amal secara istiqamah, meskipun nilainya tidak besar. Rasulullah SAW bersabda: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR. Bukhari No. 6464 dan Muslim No. 783). Jadikan Safar Momentum Memperbanyak Kebaikan Pada dasarnya, tidak ada keutamaan khusus amal jariyah yang hanya berlaku pada bulan Safar. Namun, menjadikan bulan ini sebagai momentum untuk meningkatkan ibadah merupakan langkah yang baik selama tidak disertai keyakinan yang bertentangan dengan syariat. Setiap Muslim dapat mengisi bulan Safar dengan memperbanyak sedekah, wakaf, membantu sesama, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, serta mendukung berbagai program kemaslahatan umat. Melalui amal-amal tersebut, diharapkan lahir keberkahan dalam kehidupan sekaligus menjadi bekal yang terus mengalir hingga akhirat. Bagi yang ingin menyalurkan sedekah, infak, maupun wakaf secara amanah dan tepat sasaran, BAZNAS menyediakan berbagai program pemberdayaan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dakwah, dan kemanusiaan yang dapat menjadi sarana menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekaligus meraih pahala jariyah yang berkelanjutan.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL21/07/2026 | MBL-01
Bayar Zakat Maal Online di BAZNAS, Praktis, Aman, dan Tepat Sasaran
Bayar Zakat Maal Online di BAZNAS, Praktis, Aman, dan Tepat Sasaran
MENUNAIKAN zakat maal kini semakin mudah berkat layanan digital yang disediakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Melalui layanan pembayaran zakat secara online, masyarakat dapat menunaikan kewajiban zakat kapan saja dan dari mana saja tanpa perlu datang langsung ke kantor layanan. Prosesnya praktis, aman, serta tetap sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Selain memberikan kemudahan, pembayaran zakat melalui BAZNAS juga memastikan dana yang dititipkan dikelola secara profesional dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dakwah, dan kemanusiaan. Mengapa Memilih BAZNAS? Sebagai lembaga resmi yang dibentuk pemerintah untuk mengelola zakat nasional, BAZNAS berkomitmen menghadirkan layanan yang transparan, akuntabel, dan terpercaya. Dengan membayar zakat melalui BAZNAS, muzaki tidak hanya menunaikan kewajiban ibadah, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beberapa keunggulan layanan zakat online BAZNAS antara lain: Pembayaran dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tersedia berbagai metode pembayaran yang aman dan mudah digunakan. Dana zakat dikelola secara profesional serta disalurkan kepada mustahik melalui program-program yang tepat sasaran. Proses pembayaran lebih praktis tanpa harus datang ke kantor layanan. Cara Bayar Zakat Maal Secara Online Menunaikan zakat melalui BAZNAS sangat mudah. Berikut langkah-langkahnya: Hitung terlebih dahulu besaran zakat menggunakan Kalkulator Zakat BAZNAS. Masuk ke layanan pembayaran zakat di situs resmi BAZNAS. Masukkan nominal zakat sesuai hasil perhitungan. Lengkapi data diri yang diperlukan. Pilih metode pembayaran yang diinginkan, lalu selesaikan transaksi. Simpan bukti pembayaran sebagai arsip pribadi. Dengan proses yang sederhana, kewajiban zakat dapat ditunaikan dengan cepat tanpa mengurangi nilai ibadah yang terkandung di dalamnya. Segera Tunaikan Zakat Maal Anda Apabila harta yang dimiliki telah memenuhi syarat nisab dan haul, jangan menunda untuk menunaikan zakat maal. Semakin cepat zakat disalurkan, semakin cepat pula manfaatnya dirasakan oleh para mustahik yang membutuhkan. Melalui layanan zakat online BAZNAS, Anda dapat menunaikan zakat dengan lebih mudah, aman, dan terpercaya, sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan kesejahteraan umat melalui pengelolaan zakat yang profesional dan berdampak luas.*** Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan bagi mustahik. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Provinsi Lampung melalui rekening berikut: BSI: 7711664477Bank Lampung: 3800003031093BCA Syariah: 0660170101Bank Syariah Nasional: 8171000036. a.n. Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Lampung, atau melalui laman resmi lampung.baznas.go.id dan nantinya akan menerima Bukti Setor Zakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat. ***
ARTIKEL21/07/2026 | MBL-01
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Lampung.

Lihat Daftar Rekening →